Yin Liping
Penyiksaan psikiatri, pemerkosaan beramai-ramai, dan pekerjaan melelahkan di kamp kerja paksa paling terkenal di Tiongkok
MENGINGAT KEMBALI KEKEJAMAN • Yin Liping memberikan kesaksian di hadapan Komisi Eksekutif Kongres untuk Tiongkok, 14 April 2016, mengenai "Penggunaan Penyiksaan yang Merata di Tiongkok." Yin adalah seorang praktisi Falun Gong yang selamat dari penyiksaan, kerja paksa, dan kekerasan seksual di Masanjia serta kamp kerja paksa lainnya di Tiongkok.
Yin Liping nyaris tidak selamat. Ia tidak hanya disiksa hingga di ambang kematian beberapa kali saat dipenjara di Tiongkok, tetapi ia juga menjadi sasaran kekerasan seksual yang brutal, dipaksa melakukan kerja paksa, dan disuntik dengan obat-obatan psikiatris dalam dosis beracun—suatu bentuk penyiksaan yang digunakan secara rutin dalam sistem penjara Tiongkok, yang sering kali menimbulkan dampak jangka panjang yang menghancurkan.
Setelah ditahan di berbagai kamp kerja paksa, Yin, seorang praktisi Falun Gong dari Provinsi Liaoning, dikirim ke kamp kerja paksa Masanjia yang terkenal kejam pada bulan September 2000 karena ia menolak untuk “diubah,” sebuah istilah untuk memaksa pengikut Falun Gong melepaskan latihan dan keyakinan mereka.
Di situlah beberapa pelecehan terburuk terjadi.
“Saya diborgol ke tempat tidur dan disuntik dengan obat-obatan tak dikenal selama lebih dari dua bulan. Ini menyebabkan saya kehilangan penglihatan untuk sementara waktu. … Mereka menyuntikkan dua atau tiga botol setiap hari. Akibatnya, saya menderita gangguan endokrin, inkontinensia (tidak bisa menahan kencing), dan ada darah dalam urin saya. Selain itu, cekok paksa dengan kekerasan yang sering mereka lakukan hampir membuat saya tercekik,” ungkap Yin dalam sebuah dengar pendapat untuk Komisi Eksekutif Kongres tentang Tiongkok di Washington, D.C., pada 14 April 2016.
Yin, yang diberikan status pengungsi di Amerika Serikat pada tahun 2015, juga bersaksi bahwa suatu hari di bulan April 2001, ia dan delapan praktisi Falun Gong lainnya dibawa dari Masanjia ke sebuah tempat yang disebut ‘penjara hitam’. Di sana, mereka diperkosa beramai-ramai oleh para narapidana pria.
“Empat atau lima narapidana pria melemparkan saya ke tempat tidur. Beberapa memegangi lengan saya, beberapa memegangi kaki saya. Seorang pria yang lebih muda duduk di atas saya dan memukuli saya. Saya menjadi pusing dan pingsan. Ketika saya sadar, tiga pria terbaring di samping saya. Saya sadar bahwa saya telah direkam video ketika saya diserang secara seksual dan dipermalukan oleh para narapidana berandal ini,” katanya.
Yin juga ditahan selama sembilan bulan di kamp kerja paksa Liaoyang. Selama waktu itu, rambutnya memutih dan siklus menstruasinya berhenti karena kerja paksa yang melelahkan, yang mencakup membantu memuat delapan ton batangan baja ke truk di siang hari dan merangkai bunga buatan di malam hari hingga pukul 2 pagi.
Air mata mengalir di wajahnya saat ia berbicara. Ia mengatakan 30 praktisi yang ia kenal secara pribadi menderita gangguan mental akibat penyiksaan, dan 10 orang meninggal dunia, baik di dalam penjara atau setelah mereka dibebaskan.
“Wang Jie adalah salah satu dari mereka,” katanya sambil memegang foto temannya. “Dia meninggal dalam pelukan saya pada 21 April 2012.”










