Penindasan Lintas Negara

Penindasan Lintas Negara (Represi transnasional) adalah alat kuat yang digunakan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) untuk mengancam kebebasan dan hak demokrasi para penentangnya. Saat ini, PKT menjalankan kampanye penindasan lintas negara yang paling kejam, menyeluruh, dan paling tertarget di dunia terhadap para praktisi latihan Falun Gong.

Berdasarkan dokumen PKT yang bocor, kesaksian mantan diplomat Tiongkok di kongres, dan hasil investigasi pihak ketiga, PKT telah melakukan berbagai operasi di seluruh dunia untuk membungkam dan menekan Falun Gong sejak penganiayaan dimulai pada tahun 1999

Dalam dua tahun terakhir, PKT semakin terang-terangan menjalankan kampanye untuk menindas komunitas Falun Gong di berbagai negara. Hal ini terlihat jelas dari adanya kekerasan di jalanan, upaya memengaruhi opini publik secara halus, serta serangan terhadap media dan organisasi yang didirikan oleh para praktisi latihan Falun Gong. Hingga saat ini, operasi-operasi tersebut masih terus berlangsung.

Arahan Rezim Tiongkok

  • Arahan di bawah ini menjelaskan secara rinci strategi rezim Tiongkok untuk memfitnah, membungkam, dan menekan Falun Gong di luar negeri. “Jadikan negara dan wilayah yang memiliki banyak aktivitas ‘Falun Gong’—seperti Amerika Serikat—sebagai medan tempur utama,” perintah Meng Jianzhu, yang saat itu menjabat sebagai anggota Komite Pusat PKT sekaligus kepala Komite Urusan Politik dan Hukum (PLAC).
    Unduh: Human Rights Law Foundation: Operasi Pengaruh Luar Negeri PKT

Tindakan terhadap Falun Gong di luar negeri meliputi:

  • Serangan fisik
  • Pemantauan dan pengawasan daring (online)
  • Serangan siber, pengumpulan basis data, dan daftar hitam untuk bepergian ke Tiongkok
  • Tekanan diplomatik dan propaganda
  • Penghambatan dan pengucilan praktisi Falun Gong di lingkungan komunitas mereka
  • Ancaman terhadap bisnis asing yang berhubungan atau bersikap baik kepada Falun Gong
  • Manipulasi dan paksaan terhadap media untuk menerbitkan tulisan-tulisan anti-Falun Gong
  • Tekanan dan ancaman terhadap tokoh hak asasi manusia, penyelenggara acara, dan saksi penganiayaan
  • Ancaman dan pelecehan terhadap anggota keluarga para aktivis
  • Aktivitas “United Front” (Front Persatuan) dan pertukaran budaya
  • Gangguan terhadap acara dan klub Falun Gong di lingkungan sekolah serta universitas
  • dan lain-lain
“Di setiap kantor perwakilan Tiongkok di luar negeri, setidaknya harus ada satu pejabat yang khusus menangani urusan Falun Gong. Kepala dan wakil kepala perwakilan tersebut bertanggung jawab penuh atas urusan ini. Saya mengetahui ada lebih dari 1.000 agen rahasia dan pemberi informasi Tiongkok yang tinggal di Australia, dan mereka telah ikut serta dalam upaya untuk melakukan penganiayaan terhadap Falun Gong. Jumlah mereka di Amerika Serikat seharusnya jauh lebih tinggi.” — Kesaksian mantan konsul Tiongkok, Chen Yonglin, di hadapan Kongres

Mata-mata Agresif di Berbagai Negara

Di seluruh dunia, para praktisi Falun Gong menjadi sasaran PKT hanya karena keyakinan mereka. Hal ini tidak hanya menimpa para pengungsi yang melarikan diri dari Tiongkok, tetapi juga berdampak pada warga negara lain. Berbagai bentuk penindasan dan intimidasi yang dialami para pengungsi Falun Gong untuk menghindari penganiayaan ini antara lain:

1. Ancaman – Tindakan pemerintah yang melintasi batas negara untuk membungkam orang-orang yang kritis di pengasingan atau komunitas luar negeri.

2. Kekerasan Fisik – Serangan langsung dan pemukulan terhadap praktisi Falun Gong di luar Tiongkok, termasuk perusakan barang-barang milik mereka.

3. Mata-mata terhadap Pengungsi – Upaya pemerintah untuk memata-matai dan mengendalikan kehidupan orang-orang yang tinggal di luar negeri.

CATATAN: Daftar di bawah ini hanyalah sebagian kecil dari contoh kasus paling parah yang tercatat selama 23 tahun terakhir.

Amerika Serikat

Warga negara dan penduduk AS yang berlatih Falun Gong telah menghadapi pelecehan, gangguan, ancaman pembunuhan, hingga kekerasan fisik. Tindakan ini sering dilakukan oleh orang-orang bayaran yang memiliki hubungan dengan “asosiasi-asosiasi” pro-Beijing. Pejabat pemerintah AS, mulai dari wali kota di kota kecil hingga anggota Kongres dan pejabat Gedung Putih, juga menerima tekanan dan terkadang ancaman dari diplomat Tiongkok yang menuntut agar mereka tidak mendukung Falun Gong.

Berikut adalah beberapa contoh kasus. Anda dapat melihat daftar kejadian tahun 2024 di sini.

Februari 2023: Seorang relawan stan informasi, David Fang, dianiaya hingga berdarah oleh Zhongping Qi yang berusia 77 tahun. Qi diketahui memiliki riwayat sering mencaci relawan di stan Falun Gong. Kejadian pada bulan Februari ini hanyalah yang terbaru dari serangkaian serangan yang dilakukan Qi terhadap para praktisi. Ia sering mengumpat dan melontarkan hinaan tanpa alasan kepada para relawan. Kepolisian New York (NYPD) telah menangkap dan mendakwa Qi dengan pasal penganiayaan tingkat ketiga atas kejadian tersebut.

Februari 2022: Seorang pendukung PKT bernama Zheng Buqiu (32 tahun), mulai merusak stan Falun Gong di luar Queens Public Library. Ia merobek sebuah poster sebelum akhirnya dihentikan oleh para relawan. Selama satu minggu berturut-turut, Zheng menghancurkan berbagai stan di wilayah Flushing dengan cara memukul dan menendang papan pajangan, menggulingkan meja-meja berisi buku panduan informasi, serta menginjak-injak pengeras suara portabel hingga rusak. Serangan tersebut terus berlanjut di tiga lokasi stan informasi yang berbeda sampai akhirnya petugas kepolisian (NYPD) menangkap Zheng pada 15 Februari. Polisi mendakwanya atas pengrusakan barang milik orang lain dan kejahatan atas dasar kebencian (hate crime), yang masing-masing dapat membuatnya dipenjara hingga satu tahun. Seorang relawan stan mengatakan bahwa Zheng terlihat bersama Li Huahong, ketua kelompok “anti-aliran sesat” yang memiliki hubungan dengan Kantor 610. Li sendiri telah ditangkap empat kali oleh NYPD sejak tahun 2008 karena merusak stan Falun Gong, hal ini mengindikasikan bahwa Zheng tidak bekerja sendirian..

Zheng terekam video sedang merusak stan informasi relawan di New York.

Mei 2008: Selama beberapa hari, massa pro-Beijing mengganggu dan menyerang secara fisik para praktisi Falun Gong di jalanan Flushing, New York City. Konsul Jenderal Tiongkok di New York saat itu, Peng Keyu, belakangan terekam dalam sebuah rekaman suara yang mengakui bahwa ia secara diam-diam memerintahkan kelompok-kelompok “masyarakat” Tiongkok untuk melakukan serangan tersebut. Sebanyak 16 pelaku penyerangan akhirnya ditangkap.

Februari 2006: Peter Yuan Li diserang dan dirampok oleh sekelompok pria Asia bersenjata di rumahnya di Atlanta. Li adalah seorang ahli teknologi informasi yang telah aktif dalam advokasi hak asasi manusia Falun Gong selama lebih dari enam tahun. Sekitar tengah hari, seorang pria Asia muncul di depan pintu rumah Li dengan berpura-pura mengantarkan air.
Sebelum Li menyadarinya, dua pria memaksa masuk, mengeluarkan pistol dan pisau, lalu membungkusnya dengan selimut dalam upaya untuk membuatnya sesak napas. Mereka kemudian menggunakan lakban untuk menutup mulut, mata, dan telinganya, serta menggunakan kabel penyambung untuk mengikat tangan dan kakinya. Li mengatakan bahwa orang-orang tersebut memukulinya dengan sangat parah di bagian kepala dan wajah, kemungkinan menggunakan gagang pistol. Ia pun mengalami pendarahan yang sangat hebat.
Beberapa saat kemudian, ia mendengar satu atau dua pria lainnya masuk ke rumahnya, dan salah satu dari mereka berbicara dalam bahasa Mandarin. Setengah jam kemudian, mereka pergi. Li mengatakan bahwa mereka telah mengacak-acak lemari arsipnya dan mencuri dua buah laptop serta kemungkinan dokumen penting lainnya, namun tidak ada barang berharga yang diambil. Luka-luka di wajah Li membutuhkan 15 jahitan.

Setelah majalah Forbes menerbitkan berita tentang keberhasilan para praktisi dalam menembus blokade internet Tiongkok, tiga orang bayaran mendobrak masuk ke rumah Li Yuan, yang merupakan salah satu teknisi kunci dalam upaya tersebut.

Kanada

Sama seperti AS, Kanada menjadi tempat tinggal bagi banyak warga negara dan penduduk keturunan Tiongkok yang menjalankan latihan Falun Gong. Begitu pula di wilayah ini, PKT berusaha untuk mengendalikan dan menindas komunitas-komunitas tersebut.

“Penindasan terhadap Falun Gong meluas hingga ke tanah Kanada…”

— Ketty Nivyabandi, Sekretaris Jenderal Amnesty International Kanada

Berikut adalah beberapa contoh kasus…

Juni 2019: Saat seorang praktisi Falun Gong, Gerry Smith, menghadiri Festival Perahu Naga tahunan di sebuah taman umum di Ottawa, CEO festival tersebut memerintahkannya untuk melepas kaus yang bertuliskan ‘Falun Dafa’ (nama lain untuk Falun Gong) dan prinsip-prinsip spiritualnya: ‘Sejati, Baik, Sabar.’ CEO acara tersebut beralasan bahwa Kedutaan Besar Tiongkok adalah sponsor acara mereka, sehingga kaus yang dikenakan Smith dianggap sebagai “pernyataan politik yang tidak pantas.” CEO tersebut juga meminta tujuh hingga delapan praktisi Falun Gong lainnya yang sedang melakukan latihan meditasi di taman yang sama untuk pergi dari lokasi tersebut.

Sebuah artikel berbahasa Mandarin mengenai insiden tersebut dimuat di berbagai situs web di dalam Tiongkok. Artikel itu melabeli latihan Falun Gong sebagai kegiatan politik yang tidak diterima dalam sebuah acara di Kanada. Laporan-laporan tersebut mengutip pernyataan CEO Festival dan mengulang kembali propaganda anti-Falun Gong.

Gerry Smith sedang melakukan meditasi di taman.

Agustus 1999: William Wang, seorang insinyur desain pesawat terbang, pergi ke Beijing untuk ketiga kalinya bersama beberapa praktisi lain guna memprotes penganiayaan terhadap Falun Gong yang dilakukan oleh PKT. Beberapa hari kemudian, mereka dilaporkan lalu diculik oleh petugas dari Departemen Kepolisian Distrik Fengtai, Beijing. Tangan mereka diborgol sepanjang perjalanan saat dibawa kembali ke kampung halaman mereka.

Wang mengatakan bahwa bahkan setelah pindah ke Kanada, ia masih merasakan tekanan dari penganiayaan tersebut. Tak lama setelah ia tiba di Kanada, polisi PKT menelepon dan mengancam ayah Wang. Mereka mengatakan bahwa Wang akan kehilangan pekerjaan dan tidak akan punya karier jika ia kembali ke Tiongkok, atau jika ia terus melakukan latihan Falun Gong di Kanada. Taktik penekanan seperti ini adalah bentuk pembalasan yang umum dan luas dialami oleh para praktisi Falun Gong di seluruh dunia.

Australia

Pengaruh Beijing di Australia bukanlah hal baru. Selama bertahun-tahun, para ahli dan pembuat hukum telah memberikan peringatan tentang semakin kuatnya keberadaan PKT di wilayah tersebut. Sejalan dengan hal itu, upaya rezim Tiongkok untuk menindas komunitas Falun Gong di Australia juga menjadi semakin berani.

Konsulat Tiongkok di Australia Barat telah berulang kali menghubungi pemerintah kota Perth, mencoba membujuk para pejabat agar berhenti mengeluarkan izin kegiatan dan demonstrasi bagi para praktisi Falun Gong.

Menurut laporan surat kabar lokal WAtoday pada Februari 2020, Konsulat Tiongkok sering menghubungi tim manajemen eksekutif kota tersebut untuk mengeluhkan acara-acara Falun Gong, namun para pejabat selalu menolak permintaan tersebut. Pemerintah kota Perth terus mengeluarkan izin untuk aktivitas praktisi Falun Gong karena mereka selalu mematuhi hukum yang berlaku.

Pada tahun 2018, Konsulat Tiongkok kembali mencoba melarang Falun Gong ikut serta dalam parade Natal di Perth, namun upaya ini dibongkar oleh media Australia. Meskipun praktisi Falun Gong selalu ikut serta dalam parade tahunan sejak 2008, untuk pertama kalinya mereka dilarang memakai pakaian apa pun yang menunjukkan identitas sebagai “Falun Gong”. Setelah kejadian ini, pada Desember 2021, komunitas Falun Gong di Perth dilarang sepenuhnya untuk berpartisipasi dalam Perth Christmas Pageant. Padahal, penyelenggara (Seven West Media milik miliarder Kerry Stokes) awalnya sudah mengundang mereka, namun izin partisipasi tersebut dibatalkan secara sepihak sepuluh hari kemudian.

Pihak penyelenggara kabarnya memberi tahu kelompok tersebut bahwa acara ini bersifat apolitis, dan kehadiran Falun Gong dikhawatirkan dapat memicu “munculnya isu politik internasional.” Pesan tersebut berbunyi: “Acara ini bukan wadah bagi mereka yang terlibat dalam isu-isu tersebut, dan hal ini dapat menimbulkan potensi konflik serta masalah keamanan bagi acara kami.” Dengan membatasi keikutsertaan praktisi Falun Gong menggunakan alasan palsu bahwa meditasi dan pakaian tradisional Tiongkok adalah hal yang bersifat “politik,” penyelenggara secara nyata telah melakukan diskriminasi terhadap kelompok minoritas agama yang sedang mengalami penganiayaan, serta membungkam suara mereka di luar Tiongkok. Upaya Konsulat Tiongkok untuk memengaruhi politik Australia dan membungkam suara-suara kritis dalam komunitas Tiongkok lokal merupakan bagian dari pola yang lebih besar di negara tersebut, yang telah didokumentasikan dengan baik dalam beberapa tahun terakhir.

Afrika Selatan

Berikut adalah peristiwa yang secara luas dianggap sebagai tindakan penindasan negara Tiongkok yang paling kejam dan biadab terhadap praktisi Falun Gong di Afrika sejak tahun 1999. Kejadian keji ini mengirimkan pesan yang terus bergema hingga hari ini—bahwa PKT akan melakukan kejahatan apa pun dalam upayanya untuk membungkam Falun Gong.

Juni 2004: Saat kunjungan Wakil Presiden Tiongkok Zeng Qinghong dan Menteri Perdagangan Bo Xilai ke Afrika Selatan, sembilan praktisi Falun Gong dari Australia, termasuk David Liang, terbang ke Afrika Selatan. Mereka datang untuk membantu praktisi setempat mengadakan konferensi pers guna mengungkap kejahatan kedua pejabat tersebut kepada rakyat dan media Afrika Selatan, serta untuk menyampaikan gugatan hukum terhadap mereka.

Saat dalam perjalanan dari bandara Johannesburg menuju Pretoria sekitar pukul 20.30 pada 28 Juni 2004, sebuah mobil putih berpenumpang tiga orang menyalip mobil David dan melepaskan sedikitnya lima tembakan dengan senapan AK-47 ke arah kendaraan mereka. David Liang, sang pengemudi, dilarikan ke rumah sakit karena luka tembak dan mobilnya rusak parah dalam insiden tersebut. Ia membutuhkan waktu hampir satu tahun untuk bisa berjalan kembali.

Serangan yang tidak biasa ini diduga didalangi oleh para pejabat PKT yang sedang berkunjung tersebut – Zeng dan Bo dikenal sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pembunuhan dan penyiksaan praktisi Falun Gong di Tiongkok. Informasi lebih lanjut dapat ditemukan pada artikel di bawah ini.

Inggris

Inggris merupakan tempat tinggal bagi banyak praktisi dan pengungsi Falun Gong yang pemberani. Secara khusus, para praktisi di London dikenal karena aksi damai mereka di depan kedutaan besar Tiongkok, yang telah mereka lakukan tanpa henti, 24 jam sehari selama 7 hari seminggu, sejak tahun 2002.

Sepanjang bulan April dan Mei 2021, seorang pria bernama He Renyong datang ke stan Falun Gong di Chinatown, London, bersama beberapa orang lainnya. Ia mengancam akan membunuh dan memukuli para relawan praktisi, bahkan ia juga meludahi mereka. Dalam satu kejadian, ia melemparkan kaleng minuman soda ke arah seorang praktisi bernama Peng dan mengenai betisnya. Warga di sekitar lokasi yang menyaksikan perilaku kekerasan He Renyong kemudian menelepon polisi. Saat polisi tiba, orang-orang yang ikut memicu keributan bersama He melarikan diri, sehingga hanya He yang akhirnya diborgol dan dibawa pergi sendirian dengan mobil polisi.

Kasus ini disidangkan di pengadilan lokal Westminster pada 3 Februari 2022. He Renyong membantah tuduhan tersebut dan mengaku bahwa ia dihasut oleh orang lain. Polisi menghadirkan dua orang praktisi untuk memberikan kesaksian dan memutar rekaman video penyerangan He di Chinatown. Pengadilan Westminster di Inggris menjatuhkan hukuman 16 minggu penjara kepada He Renyong karena telah menganiaya dan melecehkan para praktisi Falun Dafa di Chinatown. Ia didakwa atas tindakan dan ucapan yang menghina, mengancam, melecehkan, serta melakukan pemukulan dan penganiayaan.

Prancis

Pada 23 Agustus 2022, saat para praktisi Falun Gong mengadakan kegiatan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang penganiayaan (dengan izin resmi dari kepolisian Paris) di sebuah jalan di Chinatown, wilayah Arondisemen ke-3, Paris, seorang pria etnis Tiongkok mengganggu acara tersebut dengan kasar. Ia merobek spanduk milik praktisi Falun Gong dan memindahkan tempat sampah untuk menutupi spanduk-spanduk lainnya. Ia berteriak: “Kalian tidak boleh di sini. Kedutaan Besar Tiongkok ada di sini.”

Finlandia

Yleisradio (Yle), perusahaan radio nasional Finlandia, menerbitkan sebuah artikel pada 21 Mei 2020 yang merinci beberapa cara PKT memata-matai para ekspatriat Tiongkok di Finlandia. Artikel tersebut berjudul “Di Bawah Mata Pengawasan Tiongkok” (Kiinan Valvonvan Silmän). Kegiatan mata-mata oleh kekuatan asing terhadap mantan warga negara atau warga negaranya yang sekarang disebut sebagai “espionase pengungsi.” Dinas Intelijen dan Keamanan Finlandia (SUPO) telah mendokumentasikan berbagai insiden di mana mata-mata Tiongkok memantau dan melecehkan praktisi Falun Gong, pendukung demonstrasi Hong Kong, warga Tibet, dan Uyghur yang tinggal di Finlandia.

Salah satu korbannya adalah Jin Zhaoyu, seorang praktisi Falun Gong yang telah tinggal di Lapland, Finlandia utara, sejak tahun 2008. Selama bertahun-tahun, ia melakukan kampanye di Finlandia untuk menentang pelanggaran HAM di Tiongkok, terutama saat ibunya dipenjara di Tiongkok karena melakukan latihan Falun Gong. Akibat kegiatan damainya tersebut, ia menjadi sasaran pelecehan oleh orang-orang yang berafiliasi dengan Kedutaan Besar Tiongkok di Finlandia. Yle menyatakan bahwa upaya Jin untuk menyelamatkan ibunya dan praktisi lain yang ditahan telah menarik perhatian media. Kisahnya dimuat di Helsingin Sanomat, surat kabar langganan terbesar di Finlandia. Amnesty International juga memberikan dukungan bagi upaya penyelamatan yang dilakukan Jin dan menganggap ibunya sebagai tahanan hati nurani.

Setelah ibunda Jin dibebaskan pada tahun 2015, ia akhirnya bisa berkumpul kembali dengan anak-anak perempuannya di Finlandia berkat bantuan Amnesty International. Meskipun lima tahun telah berlalu sejak ibunya dibebaskan, Jin masih terus dilecehkan. Perusahaan pariwisatanya, yang menawarkan pengalaman alam seperti wisata Cahaya Utara (Aurora) dan safari anjing, telah diserang secara daring oleh karyawan dari perusahaan-perusahaan Tiongkok daratan. Dari perusahaan-perusahaan tersebut, yang terbesar adalah Arctic China.

Yle menghubungi CEO Arctic China, Tang Chao, mengenai dugaan pencemaran nama baik terhadap bisnis milik Jin. Tang mengaku tidak mengenal Jin dan langsung memutus sambungan telepon. Laporan Yle menyebutkan bahwa menurut Kedutaan Besar Tiongkok di Finlandia, Tang telah menjadi orang penghubung bagi Konsulat Tiongkok di Rovaniemi sejak tahun 2017. Arctic China juga merupakan perwakilan di Finlandia bagi Kweichow Moutai, sebuah perusahaan alkohol Tiongkok yang sebagian sahamnya dimiliki oleh negara.

Rusia

Seiring dengan semakin eratnya hubungan antara Moskow dan PKT selama bertahun-tahun, pemerintah Rusia telah melakukan berbagai cara untuk membatasi kegiatan warga setempat yang menjalankan latihan Falun Gong. Tindakan ini termasuk melarang buku-buku ajaran mereka dan mencoba memberi label Falun Gong sebagai kelompok “ekstremis”. Mereka menggunakan undang-undang setempat yang sering dikritik karena dipakai untuk menindas kelompok masyarakat. Pada 8 Juli 2021, sebuah pengadilan di wilayah Siberia, Khakassia, menetapkan Falun Gong sebagai kelompok “ekstremis” dan membubarkan kelompok praktisi di sana. Departemen Luar Negeri AS segera mengecam keputusan tersebut. Mereka menyatakan bahwa tindakan itu sebenarnya bertujuan untuk “menjadikan latihan damai atas keyakinan agama sebagai tindak kejahatan. Pemerintah Rusia mengganggu, mendenda, dan memenjarakan para praktisi Falun Gong hanya karena hal-hal sepele, seperti bermeditasi atau memiliki buku-buku spiritual.”

Departemen Luar Negeri AS menambahkan bahwa keputusan pengadilan terhadap Falun Gong tersebut adalah contoh nyata bagaimana pemerintah Rusia memberi cap “ekstremis”, “teroris”, atau “tidak diinginkan” kepada kelompok-kelompok damai. Tujuannya hanya untuk memberikan nama buruk kepada para pengikutnya, mencari alasan untuk menindas mereka, serta membatasi kegiatan agama dan sosial yang sebenarnya tidak berbahaya. Pemerintah Rusia telah melakukan hal serupa kepada banyak kelompok lain, di mana para anggotanya harus mengalami penggeledahan rumah, ditahan dalam waktu lama, dihukum penjara yang sangat berat, dan diganggu hanya karena menjalankan agama mereka dengan damai.

Pihak Amerika Serikat mencatat bahwa ini adalah pola berulang di mana Rusia menyalahgunakan label “ekstremis” untuk merampas hak asasi dan kebebasan dasar manusia: “Kami terus meminta Rusia untuk menghormati hak kebebasan beragama bagi siapa pun, termasuk para praktisi Falun Gong dan kelompok agama minoritas lainnya di Rusia yang hanya ingin menjalankan keyakinan mereka dengan tenang.”

Hong Kong

Karena hubungan politik yang rumit antara Hong Kong dan Beijing, para praktisi Falun Gong di sana sekarang semakin sulit untuk menyuarakan pendapat atau mengadakan aksi damai tanpa mendapat gangguan. Para relawan, yang kebanyakan adalah orang lansia yang membagikan selebaran di jalan, sering kali menjadi korban kekerasan. Selain itu, wartawan independen mendapatkan ancaman pembunuhan, dan kantor percetakan surat kabar The Epoch Times sudah beberapa kali dibakar oleh orang-orang yang diduga suruhan PKT.

Tahun 2021: Pada 11 Mei 2021, Sarah Liang diserang oleh pria misterius menggunakan pemukul sofbol aluminium. Akibatnya, kaki beliau mengalami luka lebam yang cukup parah. Liang bercerita kepada media bahwa pria yang sama juga sempat mencoba menyerangnya beberapa hari sebelumnya di depan rumahnya. Liang adalah wartawati senior di The Epoch Times, salah satu dari sedikit media bebas yang masih bertahan di sana selain Apple Daily. Kejadian ini merupakan bagian dari rangkaian serangan terhadap fasilitas dan wartawan The Epoch Times di Hong Kong. Semua serangan ini diduga kuat direncanakan oleh rezim Tiongkok untuk membungkam berita-berita jujur yang mendukung demokrasi. Asosiasi Jurnalis Hong Kong (HKJA) melalui pernyataan di Facebook mengecam keras kekerasan terhadap Liang dan meminta polisi segera menangkap serta menghukum pelakunya.

2020: Pada tanggal 13, 19, dan 20 Desember 2020, seorang pria berusia 47 tahun bernama Hu Aimin menyerang secara fisik tiga praktisi Falun Gong yang sedang membuka stan di jalanan Hong Kong secara resmi. Ia menghancurkan stan-stan tersebut dan merusak komputer milik para korban. Pada 24 Desember 2020, ia akhirnya ditangkap. Selama persidangan di tahun 2022, PKT menggunakan berbagai taktik hukum dan propaganda untuk memaksa pengadilan menyatakan bahwa tindakan Hu merusak stan-stan tersebut bukanlah sebuah kejahatan. Keputusan hukum terhadap Hu Aimin ini menjadi sangat penting; hasilnya bisa memberikan harapan atau justru menjadi kabar buruk bagi hukum di Hong Kong dalam menangani kasus-kasus gangguan terhadap Falun Gong di masa depan.

2019: Pada 24 September 2019, praktisi wanita Liao Qiulan bersama dua praktisi Falun Gong lainnya mengunjungi kantor polisi Cheung Sha Wan untuk membahas rencana parade tanggal 1 Oktober. Saat mereka meninggalkan kantor polisi, dua orang pria bermasker dan berpakaian hitam menyerang Liao. Satu orang memukul kepalanya, dan yang lainnya memukul tubuhnya. Liao mengalami luka lebam yang parah dan luka robek di kepala yang mengeluarkan banyak darah. Setelah dibawa ke rumah sakit, ia harus menerima lima jahitan untuk menutup luka robek sepanjang dua inci di kepalanya. Pada 26 Januari 2022, seorang pria bernama Ke Yanzhan dijatuhi hukuman dua tahun sembilan bulan penjara karena bertugas mengawasi situasi saat serangan terjadi. Dua orang lainnya yang diduga sebagai pelaku utama yang dibantu oleh Ke telah didakwa, namun hingga kini belum dijatuhi hukuman.

2008: Pada bulan Maret, sesaat sebelum api Olimpiade tiba, beberapa praktisi Falun Gong asal Taiwan dilarang masuk ke Hong Kong. Menurut juru bicara Asosiasi Falun Dafa Hong Kong, Kan Hung-cheung, saat itu mereka berniat untuk bergabung dalam acara Estafet Obor Hak Asasi Manusia.

Taiwan

Taiwan dan Tiongkok memiliki bahasa, etnis, dan warisan budaya yang sama. Namun di Taiwan, latihan Falun Gong dijalankan dengan bebas. Karena perbedaan yang mencolok ini, rezim Tiongkok melakukan berbagai cara mulai dari premanisme, intimidasi, gangguan, hingga penculikan untuk menargetkan komunitas Falun Gong di Taiwan.

2015: Orang-orang bayaran seperti Zhang Xiuye, Gao Shumei, dan Yu Gangsheng dari organisasi pro-PKT bernama Concentric Patriotism Association menghina dan menyerang secara fisik para praktisi Falun Gong serta petugas polisi Taiwan. Zhang bahkan berteriak di depan gedung Taipei 101 pada 19 Januari 2015: “Saya adalah preman utusan PKT. Memangnya kenapa?”

Juni 2012: Seorang pria berwarga negara Taiwan berusia 53 tahun, Chung Ting-pang, diculik oleh agen keamanan Tiongkok saat ia bersiap naik pesawat di bandara Ganzhou, Tiongkok selatan, setelah mengunjungi kerabatnya selama tiga hari. Sumber-sumber di Tiongkok menunjukkan bahwa Zhou Yongkang, pejabat tertinggi PKT yang memimpin kampanye melawan Falun Gong, kemungkinan besar memerintahkan sendiri penangkapan Chung. “Kerabatnya mengantarnya ke bandara dan melihatnya berjalan masuk ke area khusus penumpang, tetapi ia tidak pernah sampai di bandara di Taiwan,” ujar istri Chung dalam konferensi pers di parlemen Taiwan pada 22 Juni. “Kami segera menghubungi kerabat di Tiongkok; mereka pergi mengecek dan memberi tahu kami bahwa ia dibawa dari bandara untuk ‘membantu penyelidikan terkait aktivitas Falun Gong’.”

Ini hanyalah beberapa contoh kasus penting dari upaya penindasan lintas negara yang dilakukan Beijing terhadap orang-orang yang berseberangan dengan mereka. Kasus-kasus yang ditampilkan di sini belum mencakup seluruh kejadian, dan tidak bisa menggambarkan semua penderitaan tak terhitung yang telah dan masih terus terjadi secara global.

Tekanan Diplomatik di Berbagai Negara

Partai Komunis Tiongkok menggunakan tekanan diplomatik dan berbagai jalur kebijakan luar negerinya untuk membatasi atau melarang Falun Gong di negara lain. Hal ini dilakukan karena Beijing berusaha mencari pembenaran atas perlakuan buruk dan penganiayaan kejam yang mereka lakukan terhadap praktisi Falun Gong di dalam negeri Tiongkok.

Amerika Serikat

Melalui kedutaan besar dan konsulat, Institut Konghucu, serta berbagai inisiatif dari Departemen Kerja Front Persatuan, PKT telah mencoba memberikan tekanan diplomatik dan ancaman kepada para pejabat Amerika Serikat terkait Falun Gong.

Mei 2019: Konsul Jenderal Tiongkok di Houston, Li Qiangmin, mengirim surat kepada Wali Kota Plano di Texas. Dalam surat tersebut, ia mengulang kembali propaganda anti-Falun Gong dan menyatakan keberatannya atas deklarasi “Hari Falun Dafa” yang dikeluarkan Kota Plano beberapa hari sebelumnya. Setelah menerima surat ini, seorang pejabat Dewan Kota Plano memberi tahu praktisi Falun Gong setempat bahwa mereka tidak akan lagi mengeluarkan deklarasi apa pun terkait Falun Gong di masa depan, dan hanya akan mengeluarkan deklarasi untuk masalah-masalah lokal saja.

Februari 2018: Sebelum Dewan Perwakilan Rakyat Negara Bagian Arizona memberikan suara pada resolusi HCM2004, yang mengutuk perampasan organ paksa di Tiongkok, beberapa praktisi Falun Gong setempat mengadakan sebuah acara agar para ahli dan korban dapat mempresentasikan bukti perampasan organ dari praktisi Falun Gong di Tiongkok. Mereka mengundang seluruh senator dan perwakilan negara bagian. Salah satu perwakilan negara bagian yang hadir dalam acara tersebut memberi tahu penyelenggara bahwa beberapa rekannya tidak bisa datang karena mereka menerima telepon dari konsulat PKT di LA, yang menekan mereka agar tidak menghadiri acara tersebut.

September 2017: Senat Negara Bagian California menunda resolusi Falun Gong setelah menerima surat penolakan dari konsulat PKT di San Francisco.

Mei 2016: Konsulat PKT di Chicago menekan badan legislatif negara bagian Minnesota agar tidak meloloskan dua resolusi yang mendukung latihan Falun Gong melalui kunjungan pribadi ke kantor-kantor anggota legislatif dan mengirimkan surat kepada mereka. Kedua resolusi tersebut akhirnya tetap diloloskan meskipun ada penolakan dari konsulat tersebut.

Maret 2015: Direktur Program Dual Language Immersion (DLI) Mandarin Utah dari Kantor Pendidikan Negara Bagian Utah mengirimkan surat ke seluruh sekolah DLI, yang memfitnah Falun Gong dan meminta mereka untuk tidak terlibat atau mendukung Shen Yun. Di akhir surat tersebut, ia menyertakan kontak perwakilan Institut Konfusius dan Han Ban untuk dihubungi oleh pihak sekolah.

2015: Staf ketua komite senat negara bagian Missouri memberi tahu praktisi Falun Gong yang berkunjung ke kantor mereka bahwa konsulat PKT di Chicago menekan mereka untuk tidak melakukan apa pun terkait Falun Gong dan Taiwan—dua isu yang dianggap paling sensitif dan tidak dapat ditoleransi oleh pemerintah Tiongkok. Senat negara bagian Missouri akhirnya meloloskan resolusi SCR28 pada tahun 2018 untuk mengutuk penganiayaan terhadap Falun Gong dan perampasan organ secara paksa di Tiongkok. DPR Missouri juga meloloskan resolusi serupa, HCR7, pada tahun 2017.

2012: Konsul Jenderal dari Konsulat Tiongkok di San Francisco mengirim surat kepada Nick Licata, seorang anggota dewan di Seattle. Isi surat itu memfitnah Falun Gong dan Shen Yun, dengan maksud agar Nick Licata tidak memberikan penghargaan atau surat ucapan selamat kepada Shen Yun.

Di tahun yang sama, staf seorang perwakilan rakyat di Missouri menerima email dari seseorang yang berpura-pura menjadi praktisi Falun Gong. Orang tersebut menulis berbagai macam hal yang aneh, tidak masuk akal, dan bernada ancaman kepada staf tersebut.

2008: Selama bertahun-tahun, banyak pejabat pemerintah daerah di California dan seluruh Amerika Serikat menerima surat, telepon, bahkan kunjungan langsung dari pejabat diplomatik Tiongkok. Mereka diperingatkan untuk tidak memberikan dukungan apa pun kepada Falun Gong—seperti memberikan surat penghargaan atau mengizinkan mereka ikut parade—dengan alasan hal itu bisa merusak hubungan antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

2007: Sesaat sebelum pertunjukan pembuka Holiday Wonders oleh NTDTV dimulai, Michael Benjamin, seorang anggota parlemen New York, menerima surat dari Konsulat Jenderal PKT di New York. Surat fitnah tersebut menggunakan cara-cara lama PKT untuk menjelek-jelekkan Falun Gong. Mereka menekan Benjamin dengan alasan “hubungan diplomatik” agar ia tidak mendukung acara Holiday Wonders atau Chinese New Year Spectacular. Salah satu bagian dari pertunjukan Holiday Wonders memang menampilkan kisah tentang penganiayaan terhadap Falun Gong.

2002: Hanya beberapa hari setelah Condoleezza Rice menjabat sebagai Penasihat Keamanan Nasional pada tahun 2001, sebuah pertemuan dengan pejabat Tiongkok mendadak kacau. Rice dan timnya berharap bisa membahas topik keamanan yang penting, namun mereka malah dicecar dengan pidato selama 30 menit yang isinya menjelek-jelekkan Falun Gong. Akhirnya, tim Rice terpaksa meminta para pejabat tersebut untuk meninggalkan kantor mereka.

Oktober 1999: Sehari setelah Walikota San Antonio, Texas, mengeluarkan surat pernyataan dukungan untuk Falun Gong, dua pejabat Konsulat Tiongkok mendatangi kantornya. Mereka menuduh walikota telah membuat masalah dan menuntut agar surat dukungan itu ditarik kembali. Mereka juga menyampaikan berbagai fitnah tentang Falun Gong.

September 1999: Pemimpin PKT saat itu, Jiang Zemin, secara pribadi memberikan tumpukan buku kecil kepada Presiden AS Bill Clinton. Buku-buku yang dibuat oleh departemen propaganda PKT tersebut berisi fitnah terhadap Falun Gong sebagai upaya untuk membenarkan penindasan atau penganiayaan yang baru saja dimulai terhadap latihan tersebut.

Islandia

Di bawah tekanan PKT, kedutaan-kedutaan Denmark di seluruh dunia menolak pengunjung etnis Tionghoa dan Taiwan selama periode kunjungan Jiang Zemin ke Islandia pada 12-16 Juni 2002. PKT juga memberikan “daftar hitam” kepada bandara-bandara di AS, Eropa, dan Australia untuk menghalangi praktisi Falun Gong naik ke pesawat menuju Islandia. Maskapai IcelandAir melarang penumpang naik ke pesawat jika nama mereka cocok dengan daftar hitam tersebut.

Italy

Agustus 2022: Pada 24 Agustus, majalah mingguan Italia Panorama menerbitkan artikel yang mengecam praktik biadab perampasan organ yang dilakukan Tiongkok dalam skala besar. Pada 28 Agustus, Kedubes RRT di Italia menerbitkan tanggapan di situs web mereka sendiri. Pihak Kedutaan menuduh Panorama melakukan pencemaran nama baik serta plagiarisme, dan menyampaikan “kecaman keras” mereka.

Mereka mengklaim bahwa Tiongkok adalah negara hukum, dan hukum Tiongkok melarang penjualan organ manusia serta melakukan transplantasi ilegal. Mereka menambahkan bahwa semua operasi semacam itu didasarkan pada donor organ sukarela. Pihak Kedutaan melanjutkan bahwa pengambilan organ manusia secara paksa hanyalah “rumor” yang “dibuat-buat oleh kelompok Falun Gong dan kekuatan anti-Tiongkok lainnya” untuk “menciptakan ketakutan terhadap Tiongkok (Sinofobia) dan menipu masyarakat internasional.” Pihak Kedutaan juga menambahkan, “Seperti yang diketahui semua orang, Falun Gong adalah kelompok anti-manusia dan anti-sosial, yang telah menghancurkan banyak keluarga dan sudah lama dilarang oleh pemerintah Tiongkok sesuai hukum yang berlaku.” (Sumber)


Rusia

Di Rusia, hubungan dekat dengan para pemimpin PKT telah menyebabkan penurunan drastis pada hak-hak para praktisi latihan Falun Gong di sana. Pada tahun 2008, pengadilan daerah menyatakan beberapa materi yang berkaitan dengan Falun Gong sebagai “literatur ekstremis”. Mahkamah Agung kemudian menolak banding pada tahun 2012 untuk menghapus buku Zhuan Falun dari daftar materi terlarang. Materi yang dilarang ini meliputi buku Zhuan Falun, laporan penelitian penting mengenai perampasan organ dari praktisi Falun Gong, serta selebaran “Pawai Obor HAM Global”—sebuah inisiatif untuk memprotes penindasan menjelang Olimpiade Beijing.

Setelah keputusan Mahkamah Agung tersebut, empat praktisi latihan Falun Gong ditahan di sebuah percetakan lokal di Vladivostok saat mereka sedang mengambil selebaran yang mengungkap penganiayaan terhadap Falun Gong di Tiongkok. Satu salinan teks utama Falun Gong (Zhuan Falun) dan semua selebaran disita, dengan alasan keputusan pengadilan tersebut sebagai penyebab utamanya.

Oseania

Selandia Baru

Pada 5 Mei 2015, Menteri Luar Negeri Murray McCully memberi tahu para anggota parlemen agar tidak menghadiri perayaan Hari Falun Dafa Sedunia (13 Mei) demi menyenangkan pihak Kedutaan Tiongkok.

“Kedutaan Tiongkok kemungkinan besar akan memantau kehadiran di acara-acara tersebut, dan diperkirakan akan melayangkan protes resmi jika para menteri, Anggota Parlemen, atau pejabat lainnya hadir. Media juga mungkin akan tertarik dengan kehadiran para Menteri. Mengingat sensitivitas acara ini, saran dari Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan (MFAT) adalah agar para Menteri dan Anggota Parlemen tidak menghadiri acara Hari Falun Dafa Sedunia.”

— Menteri Luar Negeri McCully dalam emailnya yang bocor kepada para Anggota Parlemen

Direktur Eksekutif Amnesty International, Grant Bayldon, mengkritik keras pemerintah karena telah “melakukan sensor diri terhadap para anggota parlemennya demi mencoba menyenangkan Tiongkok.”

Asia

Hong Kong

Dari tahun 2001 hingga 2007, lebih dari 400 praktisi Falun Gong masuk dalam daftar hitam dan dilarang masuk ke Hong Kong. Terutama sebelum adanya protes demokrasi pada Juli 2007, otoritas imigrasi Hong Kong menghalangi lebih dari 140 praktisi Falun Gong asal Taiwan untuk masuk ke wilayah tersebut. Selama periode itu, Falun Dafa Information Center mendapatkan salinan faks yang dikirim oleh otoritas imigrasi Hong Kong kepada sebuah maskapai penerbangan di Hong Kong. Dalam faks tersebut tertulis bahwa hingga tanggal 1 Juli, “pengikut Falun Gong akan dianggap sebagai pelancong yang tidak diinginkan di Hong Kong.” Otoritas imigrasi berjanji untuk memberikan daftar hitam nama-nama praktisi Falun Gong asal Taiwan kepada maskapai tersebut, yang akan ditolak masuk setibanya di Hong Kong. Pihak berwenang meminta agar orang-orang ini dicegah naik ke pesawat mereka dari Taiwan.

Ini adalah beberapa contoh kasus tekanan diplomatik yang menonjol terhadap sejumlah pemerintah tersebut. Studi kasus yang disajikan di sini tidak mewakili seluruhnya atau mencakup semua keluhan yang tak terhitung jumlahnya, yang telah dan terus terjadi di seluruh dunia.

Propaganda dan Bungkamnya Media

Pelaporan Awal yang Beragam

Ketika PKT pertama kali meluncurkan kampanye untuk memusnahkan Falun Gong, peristiwa ini sempat menjadi berita utama di seluruh dunia. Pada tahun 1999 saja, Falun Gong muncul di sampul depan New York Times sebanyak enam kali, termasuk berita besar mengenai konferensi pers rahasia yang diadakan para praktisi Falun Gong di pinggiran kota Beijing.

Sepanjang tahun 2000, Wall Street Journal juga menerbitkan rangkaian artikel investigasi yang membongkar bagaimana para praktisi Falun Gong secara rutin dipenjara dan disiksa, bahkan hingga tewas, di berbagai wilayah Tiongkok. Berkat rangkaian artikel ini, Wall Street Journal berhasil memenangkan penghargaan Pulitzer kategori jurnalisme investigasi.

Namun, laporan mendalam dari Journal tersebut hanyalah sebuah pengecualian. Sebagian besar berita di masa awal tidaklah mendalam, kemungkinan karena para jurnalis Barat saat itu belum mengenal latihan spiritual ini. Selain itu, banyak laporan yang hanya mengandalkan pernyataan dari pejabat PKT dan propaganda dari media pemerintah Tiongkok. Akibatnya, banyak media Barat secara tidak langsung ikut menyebarkan kebohongan dan narasi palsu yang dibuat PKT mengenai Falun Gong.

Namun, mulai tahun 2002, pemberitaan mengenai hal ini menurun drastis secara tiba-tiba.

Keheningan yang Memekakkan Telinga

Selama 20 tahun terakhir, isu mengenai penganiayaan Falun Gong di Tiongkok seolah menghilang dari pemberitaan. Selain satu tulisan di New York Times pada tahun 2008 dan beberapa artikel dalam beberapa tahun terakhir mengenai kekejaman perampasan organ paksa, praktis tidak ada satu pun artikel besar di lima media utama Amerika Serikat yang mengangkat topik penganiayaan ini. Kebungkaman media ini terus terjadi, padahal laporan tahunan dari berbagai lembaga HAM dan pemerintah di seluruh dunia telah mencatat ada jutaan praktisi Falun Gong yang ditahan, dipenjara, disiksa, hingga dibunuh oleh otoritas Tiongkok.

Pada saat yang sama, Falun Dafa Information Center (FDIC) telah mendokumentasikan banyak kasus di mana perusahaan media membatalkan berita tentang Falun Gong atau membatalkan wawancara yang sudah dijadwalkan. Selain itu, ditemukan juga adanya pertemuan-pertemuan mencurigakan antara pejabat PKT dengan para pemimpin serta penerbit media-media besar. (pelajari selengkapnya di: Mengapa Saya Tidak Pernah Mendengar ini?)

Dokumen PKT Mengatur Manipulasi Media Barat

Sebuah dokumen tahun 2017 bocor dari Kantor 610, yang secara jelas menguraikan strategi PKT untuk mengerahkan jurnalis asing dan media internasional agar memberitakan Falun Gong dengan cara yang lebih sejalan dengan narasi penyesatan yang dibuat Beijing:

“Dengan… membina kekuatan non-pemerintah, kita dapat melawan ajaran sesat seperti ‘Falun Gong,’ dengan cara mengerahkan tokoh-tokoh berpengaruh dan simpatisan seperti para ahli, cendekiawan, jurnalis, serta pemimpin komunitas Tionghoa di luar negeri untuk menyuarakan pandangan kita. Kita harus berupaya agar media asing menggunakan nada yang lebih menguntungkan bagi kita [terkait Falun Gong].”

Dalam beberapa tahun terakhir, penerapan arahan ini tampak berdampak nyata pada laporan-laporan media Barat yang menggemakan propaganda PKT terhadap Falun Gong. Istilah yang sama persis, kata-kata cacian, dan bahasa fitnah yang digunakan oleh media milik pemerintah Tiongkok telah muncul dalam beberapa laporan media Barat. Sama seperti media pemerintah Tiongkok, laporan-laporan tersebut sangat mengabaikan kenyataan yang ada. Sebagai contoh, dalam sebuah artikel New York Times tanggal 24 Oktober 2020, penulisnya menyebarkan klaim palsu bahwa keyakinan Falun Gong “melarang pernikahan beda ras.” Padahal, penelusuran paling mendasar sekalipun terhadap komunitas Falun Gong di seluruh Amerika Serikat, dan bahkan di seluruh dunia, membuktikan bahwa hal tersebut salah. Sebaliknya, pernikahan dan keluarga beda ras sangatlah umum ditemukan.

Sumber dari misinformasi semacam itu kemungkinan besar berasal dari situs web pemerintah Tiongkok berbahasa Inggris dan sumber resmi lainnya, yang menyesuaikan pesan anti-Falun Gong mereka sesuai dengan narasi yang paling berpeluang memancing reaksi di negara tuan rumah. Seiring dengan meningkatnya ketegangan rasial di Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir, situs-situs web pemerintah Tiongkok ini menempatkan tuduhan “diskriminasi rasial” di urutan teratas halaman propaganda anti-Falun Gong mereka.

Penting juga untuk dicatat bahwa banyak perusahaan media Barat memiliki pemilik mayoritas atau perusahaan induk yang memiliki hubungan bisnis signifikan dengan Tiongkok. Setidaknya, hal ini menunjukkan adanya konflik kepentingan yang besar antara keuntungan perusahaan dengan pelaporan yang jujur dan adil mengenai krisis HAM Falun Gong.

Merusak Kebebasan Akademik

Institut Konfusius (Confucius Institutes) dan Asosiasi Mahasiswa dan Cendekiawan Tiongkok (Chinese Students Scholars Association) adalah dua organisasi yang digunakan oleh Departemen Kerja Front Persatuan PKT untuk memengaruhi kampus-kampus di seluruh dunia. Melalui organisasi-organisasi ini, PKT memanfaatkan mahasiswa dan staf pengajar untuk mengintimidasi serta melecehkan mahasiswa Amerika yang mendukung Falun Gong, meskipun mahasiswa tersebut mungkin tidak melakukan latihan itu sendiri.

Di Amerika Serikat, beberapa universitas yang memiliki klub Falun Gong—seperti Columbia, UPenn, Stanford, Harvard, University of Texas, University of Arizona, dan lainnya—juga mengalami penentangan ideologis yang sangat besar serta tindakan intimidasi yang invasif. Penelitian mengenai hal ini masih terus berlangsung hingga 28 Desember 2022.

Gangguan terhadap Shen Yun

Target lain dari PKT adalah Shen Yun Performing Arts, sebuah perusahaan seni pertunjukan yang sangat dikagumi karena pementasan tari dan musik klasik Tiongkok kelas dunianya. Puluhan kasus yang telah tercatat di mana PKT dan “misi diplomatik”-nya berupaya mencelakai para pemain, mengintimidasi pengelola gedung atau pemerintah setempat agar membatalkan acara, serta mengganggu pertunjukan Shen Yun di seluruh dunia dengan berbagai cara.

Banyak seniman Shen Yun yang pernah mengalami langsung penganiayaan keyakinan di bawah rezim komunis di Tiongkok sebelum mereka pindah ke New York. Misalnya, ayah dari penari utama Steven Wang pernah dipenjara di Tiongkok karena berlatih Falun Gong dan disiksa hingga nyaris tewas; ia meninggal dunia tak lama setelah dibebaskan. Ibu Steven Wang saat ini juga sedang ditahan di penjara Tiongkok karena keyakinan yang dianutnya. (Diperbarui September 2022)

Dragon Springs, yang merupakan kampus dan fasilitas pelatihan Shen Yun, juga menghadapi penentangan dari beberapa penduduk lokal New York yang diketahui memiliki hubungan dengan Tiongkok, termasuk di sektor bisnis. Salah satu sosok utama adalah Alex Scilla, seorang warga Amerika berusia 39 tahun yang menjalankan organisasi nirlaba bernama NYEnvironcom. Ia sebelumnya pernah tinggal di Tianjin selama 15 tahun, dan latar belakangnya tercantum dalam situs web Kamar Dagang Amerika di Tiongkok (AmCham China). Dalam beberapa tahun terakhir, hampir seluruh kegiatan advokasi organisasi nirlaba milik Scilla berfokus pada kampus Shen Yun dan beberapa proyek real estate lainnya yang terkait dengan komunitas ekspatriat Tiongkok di Deerpark. Salah satu dokumen di situs tersebut bahkan menyebut proyek-proyek itu sebagai “pembangunan satelit” dari kampus tersebut. Selain itu, belakangan ini penggunaan drone pengintai, aksi masuk tanpa izin, serta tindakan agresif lainnya juga semakin sering terjadi.

Selain upaya untuk mengganggu fasilitas pelatihan tersebut, metode intimidasi lainnya juga menargetkan gedung pertunjukan dan pejabat publik. Teater di seluruh dunia telah menerima surat ancaman dari kedutaan dan konsulat Tiongkok, yang memperingatkan mereka agar tidak menyelenggarakan Shen Yun jika tidak ingin memusuhi PKT. Pejabat publik, seperti senator dan perwakilan negara bagian, juga menerima surat serupa yang memfitnah Shen Yun dan mendesak mereka agar tidak menghadiri pertunjukan tersebut.

Serangan lainnya secara fisik telah membahayakan para penampil Shen Yun. Pada tahun 2009, ban bus Shen Yun yang membawa puluhan penari dari Phoenix, Arizona, menuju pertunjukan berikutnya di California, meledak di tengah jalan. Saat sopir membawa bus tersebut ke bengkel, teknisi memberi tahu bahwa ban yang pecah itu memiliki tanda yang tidak lazim. Tampaknya, seseorang telah menggunakan bor untuk melubangi separuh bagian karet—tidak cukup dalam untuk membuatnya kempes seketika, tetapi cukup untuk membuatnya meledak saat berada di jalan raya. Beberapa bulan kemudian, ditemukan dua sayatan pada ban bus milik perusahaan lainnya yang jelas-jelas dibuat dengan pisau. Dalam minggu yang sama, ban bus lain juga meledak saat menempuh perjalanan dari Memphis menuju Little Rock di jalan tol I-40 Barat. Dua hari setelah kejadian itu, ditemukan lagi sayatan pada salah satu ban bus yang sama. Dalam kasus lainnya, seseorang menyiramkan cairan kimia korosif ke kabel rem dan pedal gas pada minivan promosi milik Shen Yun. Akibat rangkaian kejadian ini, perusahaan akhirnya harus menerapkan pengamanan ketat 24 jam untuk seluruh kendaraan mereka.

Bahkan informasi pribadi, seperti identitas dan anggota keluarga para penampil, ikut dimanfaatkan oleh rezim tersebut untuk menekan mereka. Orang tua dari salah satu pembawa acara (MC) Shen Yun hampir setiap akhir pekan didatangi oleh petugas berwenang di Tiongkok. Dalam kasus lain, suami dari seorang pemain musik solo diawasi ketat dan dipenjarakan di Tiongkok. Taktik intimidasi ini juga menjangkau Amerika Serikat. Pada Agustus 2013, rumah koreografer sekaligus manajer Shen Yun, Chen Yung-chia, dibobol pencuri. “Para penyusup itu tampaknya profesional karena tidak meninggalkan sidik jari sama sekali. Mereka punya motif lain [selain perampokan biasa],” ujar Chen. “Mereka datang karena mengira bisa mendapatkan informasi sensitif tentang Shen Yun.” Barang-barang berharga seperti uang tunai, perhiasan emas, dan jam tangan mewah sama sekali tidak disentuh. Sebaliknya, yang dicuri justru empat unit laptop dan sebuah pemutar DVD.

Baru-baru ini, tepatnya pada 8 Juli 2022 di minggu terakhir tur dunia Shen Yun, sekelompok demonstran pro-Beijing berkumpul di luar gedung sebelum pertunjukan dimulai. Mereka mengganggu para penonton yang akan memasuki National Dr. Sun Yat-sen Memorial Hall di Taipei, Taiwan. Selain itu, pada Juni 2022, seorang kru teater di wilayah Midwest, Amerika Serikat, memberi tahu tim produksi Shen Yun bahwa setiap kali Shen Yun selesai menggelar pertunjukan, pihak teater pasti akan menerima surat dari konsulat Tiongkok. Bagi para karyawan teater di sana, hal tersebut kini sudah dianggap sebagai kejadian biasa.

Penelitian Pihak Ketiga

Para praktisi di luar negeri menjadi sasaran dari jangkauan panjang Kantor 610. PKT dan agen-agennya memantau, melecehkan, bahkan menyerang secara fisik para penganut Falun Gong yang berada di pengasingan maupun warga lokal non-Tionghoa yang melakukan latihan Falun Gong. Kasus-kasus represi transnasional ini telah didokumentasikan dengan baik oleh organisasi hak asasi manusia dan komunitas Falun Gong di Amerika Serikat, Republik Ceko, Taiwan, Brasil, Argentina, dan negara lainnya.

Freedom House

Sejak tahun 1999, Freedom House telah menjadi salah satu suara internasional yang paling konsisten dalam mendukung hak para praktisi Falun Gong untuk menjalankan keyakinan mereka tanpa rasa takut akan penganiayaan. Pada tahun 2021, Freedom House menerbitkan laporan berjudul “Out of Sight, Not Out of Reach: The Global Scale and Scope on Transnational Repression” (Tak Terlihat, Namun Terjangkau: Skala dan Cakupan Global Penindasan Lintas Negara). Dalam bab mengenai Tiongkok, Freedom House merinci bagaimana PKT melakukan penganiayaan terhadap Falun Gong melalui represi transnasional di luar negeri.

Freedom House menemukan bahwa rezim Tiongkok terlibat dalam “kampanye penindasan lintas negara yang paling canggih, mendunia, dan menyeluruh di dunia”, dan salah satu target utamanya adalah para praktisi Falun Gong.

“Aktivitas anti-Falun Gong dipimpin oleh Kantor 610—sebuah lembaga keamanan di luar jalur hukum yang bertugas menindas kelompok agama yang dilarang—serta Kementerian Keamanan Publik (MPS). Namun, pejabat lokal dari berbagai daerah juga ikut terlibat dalam memantau warga mereka yang berada di pengasingan karena berlatih Falun Gong. Selain itu, peretas dari Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) menjalankan kampanye perangkat lunak mata-mata (spyware) langsung dari dalam Tiongkok.”

Bentuk serangan ini mencakup gangguan yang sering terjadi dan terkadang serangan fisik oleh anggota delegasi Tiongkok yang sedang berkunjung atau perpanjangan tangan pro-Beijing saat aksi protes di luar negeri. Kasus-kasus seperti ini telah terjadi sejak tahun 2014 di Amerika Serikat, Republik Ceko, Taiwan, Brasil, dan Argentina. Media dan inisiatif budaya yang terkait dengan Falun Gong juga melaporkan adanya pembobolan mencurigakan untuk mencari informasi sensitif, perusakan kendaraan, serta tekanan dari otoritas Tiongkok terhadap bisnis lokal agar memutuskan kontrak iklan atau kewajiban kerja sama lainnya.

Laporan Freedom House juga mencatat bahwa para praktisi di Thailand pernah ditahan, “termasuk seorang pria asal Taiwan yang terlibat dalam siaran radio tanpa sensor ke Tiongkok, serta beberapa pengungsi asal Tiongkok yang statusnya telah diakui secara resmi oleh Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR).” Selain Thailand, negara-negara lain di mana hal serupa terjadi meliputi India, Serbia, Malaysia, Mesir, Kazakhstan, Uni Emirat Arab, Turki, dan Nepal.

“Pada Oktober 2017, seorang praktisi Falun Gong yang berhasil selamat dari kamp kerja paksa di Tiongkok meninggal dunia secara mendadak akibat gagal ginjal di Indonesia. Sosok ini merupakan informan penting yang mengungkap kekejaman PKT; ia pernah menyelundupkan surat minta tolong ke dalam kemasan hiasan Halloween saat masih ditahan, dan belakangan berhasil membuat film dokumenter menggunakan rekaman rahasia. Meski beberapa rekannya menganggap kematiannya mencurigakan, tidak ada tindakan autopsi yang dilakukan pada saat itu.”

IRSEM

Pada Oktober 2021, Lembaga Riset Strategis dari Kementerian Angkatan Bersenjata Prancis (Institute for Strategic Research of the French Ministry for the Armed Forces – IRSEM) menerbitkan sebuah laporan setebal 646 halaman berjudul “Chinese Influence Operations: A Machiavellian Moment” (Operasi Pengaruh Tiongkok: Sebuah Momen Machiavellian). Studi ini merinci penyusupan dan pengaruh PKT terhadap pemerintah internasional di berbagai sektor, termasuk media, diplomasi, ekonomi, politik, pendidikan, lembaga pemikir (think tank), dan budaya.

Menurut IRSEM, tujuan utama PKT adalah membungkam komunitas Tionghoa di luar negeri, terutama para aktivis yang berbeda pandangan, etnis Tionghoa yang besar di negara demokrasi, serta kelompok minoritas agama dan etnis seperti Falun Gong, Uyghur, dan Tibet. Dalam pelaksanaannya, PKT memantau organisasi dan individu ini tanpa memandang kewarganegaraan mereka—selama mereka adalah keturunan Tionghoa. Taktik yang digunakan beragam, mulai dari pengumpulan informasi, penyusupan, penindasan, ancaman, intimidasi, pelecehan, hingga kekerasan langsung.

Laporan tersebut menyoroti 79 contoh penganiayaan PKT terhadap Falun Gong di luar Tiongkok. Ini termasuk contoh nyata bagaimana PKT menyuap media Tionghoa di luar negeri dan organisasi-organisasi Tionghoa untuk menyebarkan informasi palsu yang memfitnah Falun Gong dan menghasut kebencian. Sebagai contoh, PKT mengancam dan mengintimidasi para praktisi Falun Gong melalui Asosiasi Mahasiswa dan Cendekiawan Tiongkok (CSSA)—yang sering kali memiliki hubungan dengan kedutaan dan konsulat Tiongkok setempat—serta melalui mahasiswa Tiongkok yang belajar di luar negeri dan para perundung daring (troll).

Bitter Winter

Pada 9 Juli 2021, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) mengecam keputusan Rusia yang menetapkan cabang regional Falun Gong di Khakassia sebagai kelompok “ekstremis”. Keputusan hakim tersebut dianggap telah mengkriminalisasi warga yang menjalankan keyakinan spiritual secara damai. Pihak berwenang Rusia melecehkan, mendenda, hingga memenjarakan para praktisi Falun Gong hanya karena hal-hal sederhana seperti bermeditasi atau memiliki buku-buku spiritual. Keputusan ini menyusul semakin eratnya hubungan antara Moskow dan Beijing, terutama setelah kedua rezim tersebut secara aneh sama-sama mendapatkan kursi di Dewan Hak Asasi Manusia PBB pada Oktober sebelumnya.

Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa vonis pengadilan terhadap Falun Gong ini merupakan contoh lain dari cara otoritas Rusia memberi label “ekstremis”, “teroris”, atau “tidak diinginkan” kepada kelompok-kelompok damai. Hal ini dilakukan hanya untuk memberikan citra buruk kepada para pengikutnya, membenarkan tindakan sewenang-wenang terhadap mereka, serta membatasi kegiatan beragama dan sosial yang damai. Pemerintah Rusia telah melakukan hal serupa kepada banyak kelompok lain, di mana para anggotanya harus mengalami penggerebekan rumah, penahanan dalam waktu lama, hukuman penjara yang sangat berat, hingga intimidasi karena menjalankan ibadah mereka dengan damai.

Pihak Departemen Luar Negeri AS mencatat bahwa Rusia sering menyalahgunakan label “ekstremis” sebagai alat untuk membatasi hak asasi manusia dan kebebasan mendasar: “Kami terus mendesak Rusia untuk menghormati hak kebebasan beragama bagi semua orang, termasuk para praktisi Falun Gong dan anggota kelompok minoritas agama lainnya di Rusia yang hanya ingin menjalankan keyakinan mereka dengan damai.”

Safeguard Defenders

Pada 13 September 2022, lembaga Safeguard Defenders melaporkan bahwa kepolisian Tiongkok saat ini mengoperasikan sedikitnya 54 “kantor layanan polisi luar negeri” di berbagai negara. Beberapa dari kantor tersebut bekerja sama dengan aparat keamanan di Tiongkok untuk menjalankan operasi di wilayah negara lain. Rezim Tiongkok melakukan operasi kepolisian lintas negara yang ilegal ini di lima benua. Target mereka adalah para pengkritik PKT yang tinggal di luar negeri. Mereka ditekan melalui pelecehan, ancaman terhadap keluarga yang masih berada di Tiongkok, hingga taktik “persuasi” yang memaksa mereka untuk segera pulang.

Share