Propaganda Tiongkok di Barat

Serangan Beijing menargetkan hati nurani para pejabat publik, organisasi, dan pendukung di Barat, semuanya dengan tujuan meminggirkan Falun Gong di seluruh dunia.

Ketika Partai Komunis Tiongkok (PKT) memulai kampanye penganiayaan terhadap Falun Gong pada Juli 1999, otoritas Tiongkok dengan cepat memperjelas bahwa praktisi Falun Gong tidak aman di mana pun. Gail Rachlin (wanita) adalah juru bicara sukarelawan Falun Gong di Amerika Serikat. Mulai tahun 1999, agen-agen Tiongkok membobol apartemen Rachlin di New York City sebanyak lima kali—fakta yang didokumentasikan oleh Dewan Perwakilan Rakyat AS.

Namun, upaya PKT untuk menghentikan Falun Gong di luar Tiongkok tidak terbatas pada praktisi Falun Gong saja.

Otoritas Tiongkok telah menggunakan kedutaan dan konsulat mereka untuk melancarkan kampanye tekanan sistematis terhadap pejabat pemerintah, organisasi, dan bahkan individu biasa yang menyatakan dukungan kepada praktisi Falun Gong. Tidak ada target yang terlalu besar atau terlalu kecil.

Front Persatuan menggunakan diaspora Tionghoa di luar negeri, termasuk mahasiswa, pengusaha, media, dan kelompok-kelompok yang disebut komunitas Tionghoa untuk memengaruhi, memanipulasi, dan menekan warga negara asing, politisi, dan pemimpin bisnis agar mengikuti garis Partai terkait Falun Gong. —Chen Yonglin, mantan diplomat Tiongkok yang membelot pada tahun 2005

Pada November 2000, Walikota Stan Bogosian dari Saratoga, California, mengeluarkan proklamasi untuk menghormati kontribusi Falun Gong kepada masyarakat. Konsulat Tiongkok menulis surat kepada Walikota Bogosian dan mendesaknya untuk mencabut resolusi tersebut. Pejabat lokal di seluruh Amerika Serikat telah melaporkan taktik tekanan serupa dari diplomat Tiongkok.. 

Tujuan dari tindakan PKT jelas: untuk mengekspor penganiayaan mereka terhadap Falun Gong ke luar negeri, mereka harus meyakinkan para pejabat dan organisasi asing untuk mematuhi kebijakan represif mereka. Pada saat demokrasi Barat mulai menyadari kampanye propaganda PKT di dalam perbatasan mereka sendiri, sangat penting untuk meneliti bagaimana rezim Tiongkok telah berulang kali melanggar norma diplomatik untuk menargetkan praktisi Falun Gong dan pendukung mereka di negara lain.

Diplomat Tiongkok Membongkar Konspirasi Global Melawan Falun Gong

Chen Yonglin (pria), mantan sekretaris pertama Konsulat Tiongkok di Sydney, Australia, adalah orang pertama yang mengungkapkan sepenuhnya cakupan tindakan PKT. Chen membelot ke Australia pada tahun 2005. Ia bersaksi di hadapan Kongres AS bahwa prioritas utama harian setiap konsulat dan kedutaan besar Tiongkok di seluruh dunia adalah untuk secara sistematis “melancarkan perang” terhadap Falun Gong di luar Tiongkok.

Chen bersaksi bahwa setiap konsulat dan kedutaan memiliki “Kelompok Kerja Khusus Anti-Falun Gong” yang bekerja sama erat dengan Departemen Kerja Front Persatuan, sebuah organisasi di bawah PKT. Front Persatuan menggunakan diaspora Tionghoa di luar negeri, termasuk mahasiswa, pengusaha, media, dan apa yang disebut “kelompok komunitas Tionghoa” untuk memengaruhi, memanipulasi, dan menekan warga negara asing, politisi, dan pemimpin bisnis agar mengikuti garis partai terkait Falun Gong.

Chen mencatat bahwa setiap konsulat atau kedutaan besar Tiongkok menerapkan banyak taktik untuk menghalangi dukungan terhadap Falun Gong, termasuk:

  • MENYEBARKAN SECARA LUAS propaganda kebencian anti-Falun Gong di negara-negara tempat mereka tinggal untuk menjelekkan Falun Gong;
  • MENDANAI DAN MENGONTROL publikasi berbahasa Mandarin di dalam komunitas Tionghoa setempat;
  • MENGGUNAKAN IMIGRAN dan mahasiswa Tionghoa untuk memantau dan melaporkan kegiatan Falun Gong di komunitas lokal dan di kampus;
  • MENEKAN PEJABAT LOKAL dan membuat mereka terancam atau dikenai insentif ekonomi. Ini termasuk menulis surat yang menuntut agar para pejabat tidak mendukung Falun Gong dan mengecualikan konstituen mereka yang mempraktikkan Falun Gong dari semua kegiatan sipil, termasuk parade, perayaan hari raya, konferensi pers, dan acara akademik.Y SPREADING anti-Falun Gong hate propaganda in host countries to demonize Falun Gong;
Presiden CASRECH (Kamar Supermarket dan Restoran Swalayan milik warga Tionghoa di Argentina) mengancam seorang praktisi Falun Gong di Buenos Aires, Argentina, pada 19 Juli 2014. Anggota asosiasi Tionghoa setempat menyerang praktisi Falun Gong yang memprotes kunjungan kepala negara Tiongkok, Xi Jinping.

Berikut ini hanyalah beberapa dari sekian banyak kasus yang terjadi di seluruh dunia selama 20 tahun terakhir.

Anggota Dewan Kota Dipantau dan Diancam

John Hugh, seorang anggota dewan kota keturunan Tionghoa-Australia di Parramatta, pinggiran kota Sydney, dijadwalkan melakukan perjalanan ke Tiongkok pada tahun 2014 sebagai bagian dari delegasi pemerintah. Namun, seperti yang dilaporkan di The Australian, sebelum perjalanannya, Hugh diundang ke Konsulat Tiongkok dan ditanya tentang hubungannya yang bersahabat dengan Falun Gong. Para pejabat Tiongkok kemudian menuntut agar ia tidak menghadiri pertunjukan Shen Yun Performing Arts yang akan datang, sebuah pertunjukan tari klasik Tiongkok yang dipersembahkan oleh praktisi Falun Gong setempat. Hugh menolak.

Para pejabat konsulat kemudian mengunjungi kantor walikota Parramatta untuk menyampaikan kekhawatiran mereka tentang Hugh. Mereka menunjukkan dokumen yang membuktikan bahwa mereka telah memantau Hugh di acara-acara Falun Gong dan menuntut agar beliau dikeluarkan dari delegasi. Walikota menolak untuk mematuhi permintaan tersebut.

Kemudian, Hugh dipanggil ke konsulat untuk kedua kalinya dan diminta menandatangani pernyataan bahwa ia tidak akan mendukung Falun Gong, tidak akan menonton Shen Yun, dan tidak akan menghadiri acara yang mempublikasikan bagaimana PKT mengambil organ dari korban Falun Gong di Tiongkok. Hugh kembali menolak. Pada akhirnya, Hugh menerima visa dan delegasi tersebut melanjutkan perjalanan tanpa insiden.. 

Resolusi Negara Bagian California Dikembalikan Setelah Ancaman

Menurut laporan Freedom House, pada 29 Agustus 2017, komite yudisial senat negara bagian California dengan suara bulat menyetujui resolusi yang mengutuk penganiayaan Falun Gong oleh PKT. Namun pada 1 September, senat negara bagian secara tak terduga memilih untuk mengembalikan resolusi tersebut ke komite peraturan, yang pada dasarnya menghalangi resolusi tersebut untuk sampai ke tahap pemungutan suara. 

Penundaan tersebut terkait dengan serangkaian surat yang dikirim oleh Konsulat Tiongkok di San Francisco kepada anggota legislatif negara bagian yang mengancam bahwa pengesahan resolusi tersebut “dapat sangat merusak hubungan kerja sama antara negara bagian California dan Tiongkok” dan “menyabotase persahabatan… antara California dan Tiongkok.”

Wali Kota Kanada Mengubah Pendiriannya Setelah Kunjungan ke Tiongkok

Pada Mei 2010, The Ottawa Citizen melaporkan bahwa Walikota Ottawa, Larry O’Brien, sekembalinya dari perjalanan bisnis ke Tiongkok, menolak untuk mengeluarkan proklamasi untuk mengakui Hari Falun Dafa seperti yang telah dilakukannya pada tahun-tahun sebelumnya karena ia mengatakan bahwa ia telah “membuat komitmen”.

Perwakilan kelompok Falun Gong setempat kemudian mengetahui bahwa O’Brien telah membuat komitmen tersebut karena permintaan dari Walikota Beijing selama kunjungannya ke Tiongkok. Dewan Kota Ottawa kemudian mengabaikan walikota dan mengeluarkan proklamasi untuk Hari Falun Dafa.

Para pejabat pemerintah di Selandia Baru, Australia, Kanada, Amerika Serikat, dan Eropa telah menyatakan keprihatinan atas campur tangan pejabat Tiongkok di negara mereka.

Kongres AS Menyerukan Beijing untuk Menghentikan Campur Tangan di Wilayah Asing

Pada tahun 2004, Resolusi Bersama Dewan Perwakilan Rakyat AS Nomor 304 (H.CON.RES.304) disahkan secara bulat. Resolusi tersebut menyatakan bahwa afiliasi PKT telah “menekan para pejabat terpilih setempat di Amerika Serikat untuk menolak atau menarik dukungan terhadap kelompok spiritual Falun Gong.”

Resolusi tersebut menyerukan kepada pemerintah Tiongkok untuk “menghentikan campur tangan dalam pelaksanaan kebebasan beragama dan politik di Amerika Serikat, seperti hak untuk mempraktikkan Falun Gong; menghentikan penggunaan misi diplomatik di Amerika Serikat untuk menyebarkan kebohongan tentang Falun Gong; membebaskan tahanan hati nurani; [dan] mengakhiri pelecehan, penahanan, penganiayaan fisik, dan pemenjaraan individu.”

Pejabat Tiongkok Menargetkan Teater di AS, Eropa, dan Negara Lainnya

Menurut The Epoch Times, pada Januari 2019 Duta Besar Tiongkok untuk Spanyol, Lu Fan, mengakui dalam sebuah rekaman panggilan telepon bahwa ia melakukan kunjungan pribadi ke manajer umum Teater Kerajaan di Madrid untuk menekannya agar membatalkan pertunjukan mendatang dari Shen Yun Performing Arts, atau menghadapi risiko kehilangan bisnis dari Tiongkok. Lu membual bahwa ia yang merancang rencana tersebut agar teater menggunakan “alasan teknis” sebagai kedok mereka. Teater tersebut membatalkan pertunjukan meskipun kontrak telah ditandatangani.

Pada tahun 2016, KBS Hall di Seoul, Korea Selatan, membatalkan empat pertunjukan Shen Yun. Penyelenggara lokal pertunjukan Shen Yun membawa masalah ini ke Pengadilan Distrik Selatan Seoul. Hakim mempertimbangkan kasus tersebut dan memutuskan bahwa argumen untuk membatalkan Shen Yun tidak beralasan dan Shen Yun harus diizinkan untuk tampil. 

Namun, hanya dua hari sebelum pertunjukan, hakim yang sama membatalkan keputusan sebelumnya dan mengeluarkan putusan yang membatalkan pertunjukan tersebut. Putusan baru tersebut mengutip ancaman dari Kedutaan Besar Tiongkok kepada Korea Broadcasting System (KBS), pemilik teater tersebut. Pengadilan mengatakan bahwa jika Tiongkok membalas dengan tidak mengizinkan KBS menayangkan drama Korea mereka di Tiongkok, KBS akan mengalami kerugian finansial yang besar.

Di bawah tekanan rezim komunis Tiongkok, independensi peradilan, supremasi hukum, dan demokrasi Korea Selatan kini telah tercoreng.

Teater-teater di berbagai negara di seluruh dunia, termasuk Australia, Jerman, Yunani, Denmark, Swedia, Finlandia, Brussels, Italia, Inggris Raya, Irlandia, Belanda, Rusia, Ukraina, Rumania, Republik Ceko, Israel, Selandia Baru, Moldova, Argentina, Hong Kong, Thailand, Vietnam, Kanada, dan kota-kota di seluruh Amerika Serikat telah melaporkan upaya serupa oleh pejabat Tiongkok yang mencoba menghentikan Shen Yun tampil di teater-teater lokal.

Para diplomat Tiongkok juga telah menulis surat kepada pejabat pemerintah dan organisasi lokal untuk menekan mereka agar tidak menghadiri pertunjukan Shen Yun.

Email Palsu Menargetkan Pejabat Barat

Untuk semakin memperkuat kampanye fitnah terhadap Falun Gong, PKT kemudian melancarkan kampanye email yang rumit untuk memanipulasi pejabat Barat di seluruh dunia. Para pejabat ini telah menerima email-email aneh, menyinggung, dan terkadang mengancam dari individu-individu tak dikenal yang menyamar sebagai praktisi Falun Gong dalam upaya nyata untuk mendiskreditkan Falun Gong. Email-email sebelumnya telah dilacak ke alamat IP yang berasal dari Tiongkok.

Sebuah email yang dikirim ke kantor seorang senator AS mengaku berasal dari juru bicara Falun Gong pada Januari 2011. Setelah pengantar singkat yang mengucapkan terima kasih kepada senator atas dukungannya di masa lalu, email tersebut kemudian mengajukan serangkaian tuntutan yang tidak biasa, termasuk agar senator dan keluarganya secara terbuka berlatih Falun Gong. Kemudian diakhiri dengan ancaman bahwa jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi, praktisi Falun Gong akan dimobilisasi untuk memastikan senator tersebut tidak memenangkan pemilihan kembali. Email tersebut dilacak ke alamat IP di provinsi Hubei, Tiongkok.. 

Setelah gempa bumi Christchurch pada tahun 2011, para wakil rakyat di Selandia Baru menerima email dari seseorang yang menyamar sebagai praktisi Falun Gong. Email tersebut menyatakan bahwa 159 orang yang diketahui meninggal “mendapatkan apa yang pantas mereka dapatkan.” Dr. Cathy Casey, seorang anggota dewan kota Auckland yang menyadari bahwa email tersebut adalah tipuan, menyebut email tersebut “mengejutkan” dan “tercela.”

John Hugh, seorang Anggota Dewan Kota di Parramatta, Australia, menerima email mencurigakan dari “Amanda Chin,” yang mengaku sebagai praktisi Falun Gong dan memintanya untuk menghadiri sebuah acara. Ketika ia menjawab bahwa ia tidak dapat hadir, Amanda membalas, “BODOH! Ini adalah kesempatan terakhirmu untuk diselamatkan. Menunggumu adalah PEMBUNUHAN TOTAL!”

Di Kanada, setiap tahun, serangkaian email serupa dikirimkan kepada Anggota Parlemen menjelang perayaan Falun Dafa tahunan. Email-email tersebut tampaknya mengundang Anggota Parlemen untuk menghadiri acara, tetapi kemudian berubah menjadi ancaman yang aneh.

Judy Sgro, salah satu ketua Canadian Parliamentary Friends of Falun Gong, adalah salah satu dari banyak anggota parlemen yang berulang kali menerima pesan-pesan semacam ini. Dalam salah satu email tersebut pada tahun 2018, pengirim membingkai foto Sgro dengan latar belakang yang tidak pantas dan menyatakan bahwa foto itu akan diposting di mana-mana untuk menunjukkan bahwa ia mendukung Falun Gong. “Ini benar-benar upaya untuk merendahkan pengikut Falun Gong,” kata Sgro.

Serangan Kekerasan terhadap Falun Gong di New York

Warga Flushing, Edmond Erh, diserang oleh massa saat menjadi sukarelawan di sebuah meja untuk Pusat Layanan Global untuk Meninggalkan Partai Komunis Tiongkok di Flushing, New York, pada 10 Juli 2008. Selama musim semi dan musim panas tahun itu, praktisi Falun Gong berulang kali diserang oleh warga Tiongkok pro-PKT di lingkungan yang sebagian besar dihuni warga Tiongkok di Queens.

Pada musim semi dan musim panas tahun 2008, praktisi Falun Gong di Kota New York menjadi sasaran kekerasan berkelanjutan di lingkungan Flushing, Queens, yang sebagian besar dihuni oleh warga Tionghoa. Sekelompok massa Tionghoa dilaporkan mengepung, mencaci maki, memukul, menyerang, dan melempari praktisi Falun Gong dengan batu, yang menyebabkan beberapa penangkapan.

Peng Keyu, konsul jenderal Tiongkok di New York, secara diam-diam terekam mengatakan bahwa ia “mendorong” organisasi-organisasi komunitas Tionghoa yang beroperasi di bawah Departemen Kerja Front Persatuan Partai Komunis Tiongkok untuk menyerang praktisi Falun Gong. Para anggota parlemen AS menyebut serangan-serangan ini sebagai pelanggaran nyata terhadap hak kebebasan beragama di Amerika Serikat.

Hingga hari ini, para praktisi Falun Gong di Flushing masih mengalami diskriminasi, pelecehan, ancaman kematian, dan kekerasan setiap hari ketika mereka mencoba untuk sekadar menjalankan kebebasan berkeyakinan dan berbicara.

Pada tahun 2015, sebuah gugatan diajukan terhadap sebuah organisasi di Queens, New York, yang bernama “Chinese Anti-Cult World Alliance” (CACWA) karena mengintimidasi dan membuat ancaman kematian terhadap praktisi Falun Gong di Kota New York. Gugatan tersebut merinci bagaimana CACWA pada dasarnya adalah cabang luar negeri dari organisasi Partai Komunis Tiongkok yang serupa, yang bekerja sama erat dengan Kantor 6-10, sebuah cabang keamanan mirip Gestapo yang dibentuk dengan mandat untuk melenyapkan Falun Gong.

Serangan terhadap praktisi Falun Gong juga terjadi di kota dan negara lain.

Kelompok Komunitas Tionghoa: Senjata Ajaib

Pada tahun 2017, Profesor Anne-Marie Brady dari Selandia Baru menerbitkan sebuah laporan berjudul, “Magic Weapons: China’s political influence activities under Xi Jinping,,” yang secara rinci menjelaskan bagaimana kelompok-kelompok komunitas Tionghoa lokal dengan kedok organisasi “persahabatan” atau “Tionghoa Perantauan” sebenarnya bekerja sebagai agen PKT di bawah Departemen Kerja Front Persatuan dan memainkan peran penting dalam urusan luar negeri dan pertahanan Tiongkok. Ia menulis bahwa, kecuali organisasi yang dibentuk oleh penentang PKT, seperti Falun Gong, Tibet, kelompok-kelompok demokratis, dll., hampir semua asosiasi Tionghoa perantauan dikendalikan oleh PKT untuk memengaruhi kebijakan Tiongkok di negara lain.

“Mahasiswa dan Cendekiawan” di Inggris Berupaya Membungkam Miss World Kanada

Menurut mantan diplomat Tiongkok, Yonglin Chen (pria) , tugas utama Departemen Pendidikan misi diplomatik Tiongkok adalah untuk mengontrol dan mengelola mahasiswa di luar negeri guna membantu konsulat menekan organisasi dan individu yang menjadi sasaran rezim Tiongkok. Ia menambahkan bahwa kelompok-kelompok seperti Asosiasi Mahasiswa dan Cendekiawan Tiongkok (CSSA) khususnya merupakan perpanjangan tangan dari badan-badan Partai Komunis Tiongkok di luar negeri.

Di Universitas Durham pada awal tahun 2017, CSSA memberi tahu Kedutaan Besar Tiongkok tentang penampilan mendatang oleh aktivis hak asasi manusia Tionghoa-Kanada dan Miss World Canada, Anastasia Lin. Miss Lin berbicara secara terbuka tentang pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi pada praktisi Falun Gong di Tiongkok. 

Kedutaan Besar Tiongkok memperingatkan sebuah perkumpulan debat mahasiswa di Durham agar tidak memberikan platform kepada Lin, seorang kritikus vokal terhadap Beijing, karena hal itu akan mengancam hubungan Inggris-Tiongkok.

CSSA juga mengajukan pengaduan kepada organisasi mahasiswa tersebut bahwa Lin telah “melanggar keyakinan dan perasaan mahasiswa Tionghoa.”

Meskipun ada upaya dari mahasiswa Tiongkok untuk menghalangi akses ke tempat acara, debat tetap berlangsung sesuai rencana, dan Lin dapat berpartisipasi.

Pada tahun 2010, Epoch Times menerbitkan sebuah rekaman yang menunjukkan para pejabat Kedutaan Besar Tiongkok di Ottawa memberikan instruksi kepada para mahasiswa tentang bagaimana mempersiapkan diri untuk “pertempuran” guna menghalangi para demonstran hak asasi manusia, termasuk praktisi Falun Gong, sebagai persiapan kunjungan pemimpin Tiongkok saat itu, Hu Jintao, ke Kanada. Rekaman tersebut menyatakan bahwa semua biaya untuk para mahasiswa akan ditanggung. Selama protes tersebut, dilaporkan terjadi kasus-kasus pelecehan dan penyerangan terhadap praktisi Falun Gong.

Memata-matai Falun Gong di Seluruh Dunia

Menurut Chen Yonglin, salah satu fungsi dari setiap Kelompok Kerja Khusus Anti-Falun Gong adalah untuk menyusun daftar lengkap semua praktisi Falun Gong di daerah setempat dan mengumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang mereka sehingga konsulat atau kedutaan dapat menugaskan mahasiswa Tiongkok dan pendukung PKT di komunitas bisnis Tiongkok setempat untuk melakukan pengawasan terhadap pergerakan mereka. 

Chen bersaksi bahwa konsulat dan kedutaan besar Tiongkok di seluruh dunia memata-matai praktisi Falun Gong.

Profesor Clive Hamilton, penulis buku Silent Invasion, China’s Influence in Australia, menceritakan kisah seorang pengusaha pensiunan yang melihat seorang praktisi Falun Gong mengumpulkan tanda tangan untuk sebuah petisi saat berjalan bersama salah satu mahasiswi Tionghoa yang tinggal bersamanya. Mahasiswi itu memohon agar pengusaha tersebut tidak berinteraksi dengan praktisi Falun Gong, dan pergi menjauh sementara pengusaha itu menandatangani petisi. Dua minggu kemudian, Kementerian Keamanan Negara menghubungi orang tua mahasiswi tersebut di Tiongkok dan memperingatkan mereka bahwa putri mereka menimbulkan masalah di Australia.

Profesor Hamilton menulis, “Coba pikirkan itu. Otoritas Tiongkok di Australia memantau praktisi Falun Gong di jalanan Sydney dan Melbourne, memotret siapa pun yang berinteraksi dengan mereka. Mereka dapat mengidentifikasi siapa pun yang beretnis Tionghoa dan memasukkannya ke dalam daftar pantauan.”

Agen Tiongkok Dinyatakan Bersalah karena Spionase

Pada tahun 2011, agen Tiongkok John Zhou dihukum dan dijatuhi hukuman karena memata-matai praktisi Falun Gong di Jerman. Investigasi menemukan bahwa ia telah bekerja sama dengan pejabat konsuler Tiongkok di Berlin dan juga dengan Kantor 6-10, sebuah gugus tugas rahasia dengan kekuasaan luas yang dibentuk oleh PKT untuk menganiaya Falun Gong.

Dalam kasus lain pada tahun 2006, Wang Pengfei, seorang sekretaris kedua di Kedutaan Besar Tiongkok di Ottawa, visa diplomatiknya ditolak perpanjangannya setelah ia menghasut mahasiswa Tiongkok untuk mengumpulkan informasi tentang praktisi Falun Gong Kanada, menurut berbagai laporan media.

Islandia Meminta Maaf Karena Mematuhi Kebijakan Partai Komunis Tiongkok

Pada Juni 2001, atas permintaan pejabat Tiongkok, otoritas Islandia menolak masuknya praktisi Falun Gong yang datang ke Islandia untuk memprotes kunjungan pemimpin PKT Jiang Zemin. Dengan menggunakan daftar hitam yang diberikan oleh PKT, maskapai penerbangan nasional menolak ratusan praktisi Falun Gong di bandara-bandara di seluruh dunia. Mereka yang berhasil sampai ke Islandia ditahan oleh pemerintah. Tindakan pemerintah tersebut menimbulkan reaksi keras di Islandia, dengan warga Islandia dan anggota parlemen melakukan protes di jalanan.

Pada tahun 2011, menteri luar negeri Islandia mengeluarkan permintaan maaf karena melanggar kebebasan berekspresi dan bergerak para praktisi Falun Gong selama insiden tersebut.

(Kiri) Warga Islandia menutup mulut mereka dengan kain hitam untuk memprotes larangan pemerintah Islandia terhadap praktisi Falun Gong yang memasuki negara tersebut dan pembatasan kebebasan berbicara yang menyertainya. (Kanan) 450 anggota parlemen dan tokoh masyarakat terkemuka bertindak bersama dan menerbitkan empat iklan halaman penuh di surat kabar terbesar di Islandia, Morgunbladid, untuk meminta maaf kepada praktisi Falun Gong.

Konvensi Wina Melarang Tindakan-Tindakan Ini

Ini hanyalah beberapa contoh bagaimana rezim Tiongkok mengancam nilai-nilai dan prinsip-prinsip demokrasi di berbagai negara di dunia. Penggunaan kedutaan dan konsulat oleh rezim Tiongkok untuk menyebarkan kebijakan represif mereka di luar negeri tidak dapat diabaikan. Konvensi Wina tentang Hubungan Diplomatik menyatakan bahwa pejabat diplomatik yang berkunjung memiliki kewajiban untuk tidak mencampuri urusan internal di negara tuan rumah.

Tindakan berkelanjutan PKT di negara-negara tuan rumah terhadap Falun Gong merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap Konvensi Wina dan penyalahgunaan hak istimewa diplomatik, dan para diplomat yang memicu kegiatan tersebut harus diusir. Namun, meskipun PKT telah berhasil menekan beberapa pejabat, organisasi, dan warga biasa untuk menutup mata terhadap kekejaman hak asasi manusia di Tiongkok dan di luar negeri, banyak yang masih tetap teguh dan mempertahankan integritas mereka.

Pemerintah di seluruh dunia harus mengamati lebih dekat tindakan PKT di negara mereka sendiri dan menghentikan penyalahgunaan ini. PKT tidak boleh dibiarkan memanfaatkan kebebasan demokrasi untuk mencapai tujuan mereka sendiri.

Share

BACA BERIKUTNYA