Ketidakpatuhan Sipil
Selama lebih dua dekade terakhir, gerakan akar rumput yang diikuti puluhan juta orang di seluruh Tiongkok – secara damai menentang kampanye kebencian dan kekerasan yang dilancarkan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT). Orang-orang ini mempertaruhkan segalanya – termasuk hidup mereka- untuk mengungkap tabir kebohongan dan propaganda kebencian yang disebarkan oleh media milik partai komunis tersebut.
Ini adalah gerakan ketidakpatuhan sipil terbesar di dunia, namun sebagian besar masyarakat di Barat tidak tahu hal tentang ini.
Kegiatan kelompok ini meliputi pembuatan dan penyebaran brosur serta DVD, melaporkan pelanggaran HAM yang terjadi di daratan Tiongkok kepada sukarelawan di luar negeri, serta mengajukan petisi dan pengaduan hukum yang belum pernah terjadi sebelumnya di daratan Tiongkok.
Mendokumentasikan Penganiayaan dan Pelanggaran

Sumber pihak ketiga memperkirakan bahwa ada sekitar 20 hingga 40 juta warga Tiongkok yang tetap menjalankan latihan Falun Gong di dalam negeri. Setelah penganiayaan dimulai pada tahun 1999, para pengikut ini dengan niat baik berupaya membongkar propaganda pemerintah terhadap metode meditasi ini. Mereka secara sukarela ikut serta dalam kampanye hak asasi manusia dari tingkat akar rumput untuk mengungkap penganiayaan terhadap keyakinan mereka. Skala perlawanan sipil ini berada pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah.
Para praktisi Falun Gong di seluruh Tiongkok secara rutin terus mengirimkan laporan rinci mengenai penganiayaan yang mereka atau rekan sejawat mereka alami ke dunia luar melalui Minghui.org, sebuah situs web yang khusus melaporkan berita tentang komunitas Falun Gong di seluruh dunia. Meskipun ada sensor ketat dan risiko hukuman, Minghui dan jaringan kontaknya berhasil membangun sistem yang relatif aman dan kuat untuk mendokumentasikan pelanggaran serta mengirimkan informasi terbaru dari dalam Tiongkok ke luar negeri.
Dari Januari 2020 hingga Maret 2022 saja, sekitar 3.000 laporan tangan pertama mengenai penganiayaan diterbitkan di Minghui. Laporan-laporan ini mencakup berbagai kasus, namun tidak hanya terbatas pada penahanan, dakwaan, vonis penjara, pelecehan, kematian, penyiksaan, cuci otak, pemerasan, dan penggeledahan tanpa izin.
Melakukan Edukasi Masyarakat di Tingkat Akar Rumput

Setelah penganiayaan dimulai pada tahun 1999, para pengikut ini, dengan niat baik murni untuk membongkar propaganda buatan negara terhadap metode meditasi ini, membangun 200.000 tempat percetakan bawah tanah. Tempat-tempat ini digunakan untuk memproduksi massal materi yang mengungkap kebenaran.
Tempat-tempat percetakan ini tersebar di seluruh Tiongkok. Para sukarelawan praktisi Falun Gong setiap hari memproduksi selebaran, DVD, dan materi lainnya untuk mengungkap penganiayaan serta membantah propaganda anti-Falun Gong milik pemerintah. Tempat-tempat ini dioperasikan oleh rakyat biasa di berbagai wilayah, biasanya bertempat di ruang belakang rumah pribadi. Setiap lokasi menyediakan materi untuk hingga 1.000 praktisi, kemudian dibagikan kepada masyarakat di lingkungan mereka.
Selain kampanye tersebut, para praktisi di dalam Tiongkok juga menciptakan cara-cara cerdas untuk menyebarkan informasi selain lewat selebaran biasa. Di beberapa provinsi, mereka menggunakan stempel bertulisan “Falun Gong Baik” pada uang kertas yang beredar. Di wilayah perkotaan, mereka memanfaatkan fitur AirDrop dan Bluetooth untuk mengirimkan file PDF dan gambar berkualitas tinggi kepada para penumpang transportasi umum. Ini untuk menjelaskan fakta sebenarnya di balik propaganda pemerintah terhadap Falun Gong.





Tanpa rasa takut meskipun diperlakukan tidak adil oleh otoritas Tiongkok, para praktisi Falun Gong yang ditahan terus memberikan informasi mengenai latihan dan penganiayaan ini kepada sesama narapidana, penjaga penjara, kepala penjara, polisi, pengacara, dokter, direktur Kantor 610, hakim, hingga pejabat pemerintah lainnya. Hal ini dilakukan untuk membongkar propaganda PKT yang selama ini digunakan sebagai alasan untuk menindas keyakinan tersebut. Dalam beberapa kasus, para praktisi dan pengacara mereka melaporkan bahwa sejumlah petugas keamanan mulai merasa simpati dan bahkan mengambil langkah-langkah untuk mengurangi tekanan yang dihadapi para praktisi di bawah wewenang mereka.
Tuntutan Pidana yang Diajukan Terhadap Jiang Zemin
Pada 1 Mei 2015, pedoman baru dari Mahkamah Agung Rakyat mulai berlaku, mewajibkan otoritas peradilan untuk menerima tuntutan pidana yang diajukan oleh warga negara; sebelumnya, mereka bisa menolak tuntutan tersebut. Setelah sejumlah artikel di Minghui menyebarkan informasi tentang perubahan ini, banyak sekali penyintas penyiksaan Falun Gong mulai mengajukan tuntutan pidana. Mereka menyebut mantan pemimpin PKT, Jiang Zemin, sebagai orang yang bertanggung jawab atas penganiayaan tersebut dan menuntut agar dia diperiksa.
Hingga Desember 2015, lebih dari 200.000 praktisi di Tiongkok telah mengajukan tuntutan pidana terhadap Jiang Zemin dengan menggunakan nama asli mereka atas kejahatan kemanusiaan. Di Provinsi Shandong saja, ratusan praktisi Dafa aktif berpartisipasi dalam kampanye ini. Banyak praktisi bahkan berinisiatif mengumpulkan tanda tangan petisi di lingkungan mereka untuk menuntut Jiang. Namun, gerakan ini menghadapi tekanan dan aksi balasan. Dalam satu kasus mencolok, dua wanita di Kota Chaoyang dijatuhi hukuman penjara karena mengajukan tuntutan pidana terhadap Jiang Zemin. Keduanya dinyatakan meninggal dunia pada tahun 2020. Salah satunya meninggal enam bulan setelah dibebaskan dengan status parole medis (kondisi medis), sementara yang lainnya meninggal tiga hari setelah dipulangkan dalam kondisi tidak sadar.
Gerakan “Tuidang” (atau “Keluar dari Partai”)

Pada tahun 2004, penyebaran buku “Sembilan Komentar Mengenai Partai Komunis” oleh para praktisi Falun Gong memicu gerakan Tuidang (atau “Keluar dari Partai”). Penerbit buku tersebut mendorong warga Tiongkok untuk membuat pernyataan keluar dari Partai, Liga Pemuda Komunis, dan Pionir Muda (kebanyakan orang Tiongkok pernah bergabung dengan setidaknya salah satu organisasi tersebut dalam hidup mereka). Laporan langsung dari para pengungsi Falun Gong menunjukkan bahwa gerakan ini telah menjadi inti dari upaya akar rumput komunitas tersebut.
Sebuah studi akademik tahun 2011 menyimpulkan bahwa gerakan Tuidang bukanlah upaya untuk menggulingkan Partai, melainkan sebuah usaha untuk memberi kesempatan bagi rakyat Tiongkok untuk mengecam kekerasan PKT. Hal ini dilakukan agar mereka bisa menjauhkan diri dari rezim otoriter sebagai cara untuk membersihkan hati nurani dan berkomitmen pada masa depan tanpa kekerasan. Banyak orang yang membuat pernyataan Tuidang menggunakan nama samaran karena adanya risiko pembalasan, meskipun beberapa aktivis hak asasi manusia terkemuka dan warga lainnya melakukannya dengan nama asli mereka.
Para praktisi di Tiongkok dan di seluruh dunia membantu warga Tiongkok serta masyarakat perantauan untuk keluar dari Partai dan organisasi afiliasinya dengan cara mengumpulkan pernyataan pengunduran diri mereka dan mengirimkannya ke sebuah situs web di luar Tiongkok. Sejak awal berdirinya hingga Maret 2022, situs web Global Tuidang telah mencatat 393.744.844 pernyataan dari orang-orang yang telah keluar dari PKT atau organisasi afiliasinya. Meskipun angka ini tidak dapat diverifikasi secara independen, dokumen pengadilan Tiongkok dari awal tahun 2016 menunjukkan banyak kasus di mana praktisi Falun Gong dijatuhi hukuman penjara karena memiliki literatur Tuidang. Hal ini menunjukkan bahwa PKT menanggapi gerakan ini dengan sangat serius.
Banyak dari mereka yang melepaskan keanggotaan dari PKT dalam pernyataan mengatakan bahwa mereka pernah menyaksikan atau ikut serta dalam kekejaman di masa lalu. Sebagai contoh, Hu Shuyue dari Provinsi Liaoning menyaksikan pembantaian 4 Juni pada tahun 1989. Dalam pernyataannya untuk keluar dari PKT dan organisasi afiliasinya pada 8 Januari 2020, ia menyampaikan hal berikut:
“Setelah tentara menghancurkan para mahasiswa yang berdemo dan menolak meninggalkan Lapangan Tiananmen dengan tank, tanah penuh dengan mayat dan barang-barang milik mereka. Para tentara menggunakan truk untuk mengangkut barang-barang tersebut dan helikopter untuk membawa sisa-sisa jenazah. Kemudian, puluhan mobil pemadam kebakaran datang untuk membilas darah dari Lapangan Tiananmen, dan pihak berwenang melarang siapa pun menceritakan kebenaran tersebut. Di bawah hukum militer, siapa pun yang bicara akan dihukum berat. Sekarang, setelah saya pensiun dari militer selama puluhan tahun, saya berani mengungkapkan sedikit kebenaran kepada praktisi Falun Gong hari ini. Saya percaya apa yang dikatakan seorang praktisi Falun Gong kepada saya mengenai penganiayaan terhadap keyakinannya, dan saya mengikuti sarannya untuk keluar dari Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan organisasinya. Semoga Tuhan memberkati hidup kita dengan kedamaian, keberuntungan, dan keselamatan di masa sulit.”
Dukungan dari Non-Praktisi di Tiongkok

Selama hampir seperempat abad, warga Tiongkok telah melawan narasi PKT tentang Falun Gong. Warga biasa yang tidak berlatih Falun Gong telah melangkah maju dan mempertaruhkan mata pencaharian mereka untuk membela para praktisi yang tidak bersalah di lingkungan mereka. Pengacara hak asasi manusia terus mewakili kasus-kasus Falun Gong, warga desa mengumpulkan ratusan tanda tangan untuk membebaskan tetangga mereka yang berlatih Falun Gong, polisi membebaskan atau secara diam-diam melindungi praktisi yang ditangkap, pemilik usaha menolak perintah pemerintah untuk mendiskriminasi karyawan yang berlatih Falun Gong, anggota keluarga menyebarkan kesadaran tentang perlakuan tidak adil terhadap kerabat mereka, dan masih banyak lagi.
Anggota Keluarga yang Mendukung
Komunitas praktisi mendapat dukungan dari masyarakat luas di sekitar mereka. Dukungan paling kuat datang dari rumah. Satu keluarga besar yang mencakup empat generasi, termasuk kakek nenek buyut yang berusia 90 tahun, melawan kampanye “Zero-Out” (Pembersihan Total) sejak Desember 2020. Mereka berani menentang otoritas setempat yang berkali-kali mendatangi rumah mereka untuk memaksa nenek dan kakek buyut mereka melepaskan keyakinannya.
Warga Setempat Mendukung Tetangga yang Berlatih Falun Gong
Pada Agustus 2020, sebanyak 415 warga desa di Kota Zhangjiakou, Provinsi Hebei, menandatangani surat pernyataan untuk mendukung Yang Jianlu, seorang praktisi Falun Gong yang ditangkap dan dijatuhi hukuman delapan tahun penjara karena keyakinannya. Dalam pernyataan tersebut, warga desa mengatakan:
“Kami semua terkejut mendengar kabar penangkapan Yang Jianlu. Orang-orang di desa-desa sekitar semua tahu bahwa dia berlatih Falun Gong dan merupakan orang yang baik. Siapa pun yang butuh bantuan, dia selalu bersedia membantu. Kami tidak terlalu paham tentang prinsip-prinsip Falun Gong yang rumit itu, tapi kami tahu bahwa dia tidak melakukan kesalahan apa pun dengan menjadi orang baik. Dia telah ditahan selama hampir delapan bulan. Tolong bebaskan dia. Biarkan dia berkumpul kembali dengan keluarganya.”
Surat pernyataan serupa dari komunitas yang menuntut pembebasan praktisi secara individu juga telah ditandatangani oleh 205 warga desa di Provinsi Shandong, 1.670 penduduk di Provinsi Hunan, lebih dari 3.000 warga di Kota Qinhuangdao, dan 5.145 orang di Kota Tianjin. Meskipun niat mereka baik, petisi dukungan oleh pemerintah sering kali dibalas dengan tindakan keras untuk membungkam perbedaan pendapat tersebut. Polisi Kota Benxi memeriksa hampir setiap rumah untuk mengancam warga agar menarik kembali tanda tangan mereka. Namun, sebagian besar warga desa tetap mempertahankan dukungan mereka kepada penganut Falun Gong yang ditahan. Salah satu tetangga bahkan berkata, “Jika Anda butuh tanda tangan lagi, seluruh keluarga saya akan menandatangani!”
Pengacara hak asasi manusia terus mewakili klien Falun Gong.
Sejak tahun 2003, para pengacara hak asasi manusia di Tiongkok telah membela Falun Gong. Banyak dari mereka yang paling vokal, seperti Gao Zhisheng, Wang Quanzhang, atau Jiang Tianyong, telah ditahan, disiksa, dan dihilangkan secara paksa. Banyak pengacara kehilangan izin praktik mereka karena menangani kasus Falun Gong dan kasus hak asasi manusia lainnya. Pada tahun 2020, sebuah panduan dikeluarkan bagi para pengacara di Provinsi Jilin yang secara eksplisit melarang mereka mewakili Falun Gong. Namun demikian, selama dua tahun terakhir, pengacara-pengacara lain tetap melanjutkan upaya ini meskipun ada penindasan hukum terhadap pembelaan kasus Falun Gong.
Para pengacara di seluruh negeri masih terus berjuang untuk melindungi mata pencaharian, keselamatan, dan hak sipil para praktisi Falun Gong yang membutuhkan. Satu kasus yang mencolok terjadi di Kota Nanchang, Provinsi Jiangxi, di mana seorang pensiunan perawat bernama Xiong Meiyong ditahan karena menyebarkan materi informasi tentang Falun Gong. Setelah Xiong Meiyong dibebaskan pada tahun 2020, penglihatannya memburuk akibat penyiksaan yang ia alami selama dalam tahanan. Rumahnya telah roboh saat ia berada di penjara dan semua barang berharganya telah dicuri. Pemerintah juga menghentikan uang pensiunnya, sehingga ia tidak memiliki penghasilan. Pada 22 Oktober 2021, Xiong pergi ke pengadilan untuk menuntut kembali uang pensiunnya, dan pengacaranya membela hak konstitusionalnya sebagai pensiunan. Hakim akhirnya memutuskan untuk memenangkan Xiong, dan ia pun bisa menerima kembali uang pensiunnya.
Tren dan insiden baru-baru ini sesuai dengan dokumentasi sebelumnya dari Freedom House, Bitter Winter, serta laporan dari para pengacara hak asasi manusia dan kesaksian para pengungsi.
Polisi Membantu Secara Diam-diam
Beberapa petugas polisi di Tiongkok juga menunjukkan dukungan mereka dengan secara diam-diam membantu praktisi Falun Gong yang sedang dalam bahaya. Pada akhir tahun 2021, seorang praktisi wanita berusia 70 tahun pergi ke sebuah supermarket untuk membagikan selebaran informasi, namun ia dilaporkan ke polisi oleh siswa sekolah menengah dan kerumunan orang segera berkumpul untuk melihat kejadian itu. Namun, ketika polisi tiba, mereka justru mengawalnya keluar dari kerumunan dan menenangkannya dengan berkata, “Ikutlah dengan kami sebentar, lalu setelah itu Anda bisa berbelok di tikungan dan langsung pulang ke rumah.”
Masih di tahun 2021, ketika tiga praktisi ditangkap oleh polisi setempat di Provinsi Shandong, seorang petugas membujuk direktur polisinya untuk membebaskan mereka alih-alih menginterogasi atau menahan mereka. Bahkan ada kisah-kisah tentang seluruh kantor polisi di berbagai wilayah di Tiongkok, mulai dari direktur biro hingga petugas polisi individu, yang menolak untuk menangkap atau menekan praktisi Falun Gong.
Falun Gong Diaspora
Selama lebih dari dua dekade, komunitas Falun Gong dan para pendukungnya di puluhan negara juga telah mengerahkan upaya untuk mengungkap penganiayaan yang terjadi di Tiongkok. Upaya-upaya tersebut terus berlanjut dalam jumlah yang lebih besar selama dua tahun terakhir. Anda dapat menemukan informasi lebih lanjut di bawah ini:


