Mengapa Saya Belum Pernah Mendengar Hal Ini?

Jika 100 juta orang menjadi sasaran dalam kampanye kekerasan yang terdiri dari penculikan ilegal, pemenjaraan, penyiksaan, dan pembunuhan, kita pasti akan mengetahuinya, bukan? Terutama di dunia modern yang saling terhubung dengan video ponsel yang tak ada habisnya dan pesan instan, tentu saja bukti dari kampanye semacam itu akan menjadi berita utama di seluruh dunia.

Tragisnya, jawabannya adalah tidak untuk kasus ini, dan kisah keheningan yang terjadi melibatkan tirani garis keras yang telah memaksa serta memanipulasi berbagai kalangan masyarakat dan institusi di seluruh Asia dan Barat ke dalam upaya peredaman.

Tetapi keadaannya tidak selalu demikian…

Pelaporan Kualitas di Masa Awal

Ketika Partai Komunis Tiongkok (PKT) pertama kali meluncurkan kampanye untuk memusnahkan Falun Gong, hal tersebut sempat menjadi berita utama di seluruh dunia. Pada tahun 1999 saja, Falun Gong dimuat di sampul depan New York Times sebanyak enam kali, termasuk berita utama tentang konferensi pers rahasia yang diadakan oleh para praktisi Falun Gong di pinggiran kota Beijing. Pelaporan awal ini memang belum mendalam, mungkin disebabkan oleh fakta bahwa latihan spiritual tersebut masih asing bagi sebagian besar jurnalis Barat, namun isu ini seringdiberitakan.

Namun, selama tahun berikutnya, pelaporan berkualitas tinggi mulai muncul dari beberapa media Barat.

Sepanjang tahun 2000, Wall Street Journal menerbitkan serangkaian artikel investigasi yang mengungkap bagaimana para praktisi Falun Gong secara rutin dipenjarakan dan disiksa, bahkan terkadang hingga tewas, di seluruh Tiongkok. Artikel-artikel tersebut berhasil membawa Journal memenangkan penghargaan Pulitzer untuk kategori jurnalisme investigasi.

Pada tahun 2001, Washington Post menjadi media utama pertama yang mengungkapkan bahwa para pejabat Tiongkok telah menerima perintah eksplisit untuk menyiksa dan mencuci otak para praktisi Falun Gong yang tidak mau melepaskan keyakinan mereka.

Awal tahun itu, Phillip Pan dari Washington Post menulis sebuah eksposé krusial mengenai dua peserta dalam “insiden bakar diri,” sebuah “protes” palsu yang direkayasa oleh rezim komunis di Lapangan Tiananmen pada Januari 2001. Insiden tersebut disusun skenarionya oleh PKT dengan tujuan memfitnah para praktisi Falun Gong di mata publik Tiongkok. Pan adalah orang pertama yang mengungkap bukti bahwa orang-orang yang membakar diri tersebut bukanlah praktisi latihan Falun Gong.

Juga pada tahun 2001, Willy Lam, yang saat itu menjabat sebagai analis senior untuk CNN, menerbitkan sebuah tulisan investigasi yang secara akurat mengidentifikasi pemimpin PKT saat itu, Jiang Zemin, sebagai kekuatan pendorong di balik kampanye penganiayaan tersebut. Ia mengungkap bagaimana Jiang menggunakan kampanye ini untuk membangun basis kekuasaannya sendiri. Dengan kata lain, ia memaparkan bagaimana seluruh kampanye ini merupakan upaya perebutan kekuasaan politik oleh Jiang.

Namun, mulai tahun 2002, pelaporan media tersebut menurun drastis seolah jatuh dari tebing, tetapi hal itu bukan karena kurangnya bukti.

Bukti yang Berlimpah

Selama lebih dari 20 tahun, fakta bahwa jutaan praktisi Falun Gong telah dilecehkan, ditahan, dipenjarakan, disiksa, atau dibunuh oleh otoritas Tiongkok telah didokumentasikan secara rutin dalam laporan tahunan oleh kelompok-kelompok hak asasi manusia dan pemerintah di seluruh dunia.

Freedom House yang berbasis di Washington DC, sebuah lembaga terkemuka global dalam pelaporan dan advokasi hak asasi manusia, telah mendokumentasikan dan menyuarakan tentang penganiayaan terhadap Falun Gong selama 22 tahun. Pelanggaran terhadap Falun Gong tidak hanya didokumentasikan dalam laporan tahunan Freedom in the World, tetapi Freedom House juga telah menerbitkan beberapa laporan khusus yang memuat rincian penganiayaan Falun Gong di Tiongkok, termasuk laporan tahun 2017 berjudul Falun Gong: Religious Freedom in China dan laporan tahun 2021 berjudul China: Transnational Repression Case Study.

Pada bulan Juli 2021, Direktur Advokasi Freedom House berbicara dalam sebuah rapat umum Falun Gong di Washington DC, dengan menyatakan, “Hari ini Freedom House berdiri dalam solidaritas bersama para praktisi Falun Gong dan semua pihak yang menjadi korban penganiayaan oleh PKT. Kami berterima kasih atas keberanian Anda, dan kami menantikan hari di mana semua orang di Tiongkok dapat secara bebas menjalankan hak-hak dasar mereka, termasuk hak atas kebebasan beragama dan berkeyakinan.”

Selama lebih dari 20 tahun, laporan tahunan Amnesty International telah mendokumentasikan perlakuan brutal yang terus berlanjut terhadap Falun Gong di seluruh Tiongkok. Sepanjang periode ini, Amnesty juga telah mengeluarkan rilis berita dan aksi mendesak untuk mengadvokasi masing-masing praktisi Falun Gong, termasuk sebuah Aksi Mendesak pada tahun 2019 untuk menyerukan pembebasan seorang guru SMA yang melakukan latihan Falun Gong, yang ditahan secara tidak sah, dan berisiko mengalami penyiksaan.

Departemen Luar Negeri AS telah mencantumkan pelanggaran hak asasi manusia terhadap Falun Gong dalam laporan hak asasi manusia tahunannya kepada Kongres, sebagaimana yang juga dilakukan oleh Komisi Kebebasan Beragama Internasional AS (USCIRF).

Kongres AS sendiri telah mengeluarkan lima resolusi yang mengkarakterisasi penganiayaan terhadap Falun Gong sebagai sebuah kampanye yang “dijalankan oleh pejabat pemerintah dan polisi di semua tingkatan, serta telah merambah ke setiap segmen masyarakat.”

Dokumentasi dan pernyataan serupa juga telah dilakukan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Uni Eropa, pemerintah Kanada, dan banyak pemerintah negara lain di seluruh dunia.

Namun, terlepas dari dokumentasi yang konsisten ini, mulai tahun 2002, pelaporan yang akurat dan bermakna mengenai Falun Gong di Tiongkok sebagian besar menghilang.

Apa yang terjadi?

Membungkam Berita

Pada tahun 2001, penerbit New York Times, Arthur Sulzberger, melakukan perjalanan ke Tiongkok untuk bertemu dengan pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT) saat itu, Jiang Zemin, yang memprakarsai penganiayaan terhadap Falun Gong. Dalam hitungan hari, situs nytimes.com tidak lagi diblokir di Tiongkok (dan tetap demikian untuk beberapa waktu), dan sebuah tim dibentuk untuk membangun New York Times edisi bahasa Mandarin. Selama dua dekade berikutnya, New York Times secara mencurigakan bungkam mengenai Falun Gong, bahkan ketika media pesaing masih terus memberitakan isu tersebut setidaknya selama satu atau dua tahun lagi.

Saksikan seluruh wawancara tersebut di Faluninfo.TV

Hingga baru-baru ini pada tahun 2019, orang-orang dalam di New York Times telah melaporkan bahwa berita-berita mengenai Falun Gong terus ditekan.

Kesaksian mantan koresponden New York Times di Beijing, Didi Kirsten Tatlow, di hadapan China Tribunal (Tribunal Tiongkok) membahas bagaimana pengambilan organ secara paksa dari para praktisi Falun Gong benar-benar terjadi di Tiongkok, dan hal tersebut merupakan rahasia umum di kalangan ahli bedah transplantasi. Namun, ia memberikan kesaksian bahwa para editornya di New York Times secara aktif melarangnya untuk melaporkan fakta ini, dan pada akhirnya, menghalanginya untuk melanjutkan investigasi lebih lanjut.

New York Times tidak sendirian dalam hal ini.

Pada tahun 2001, majalah TIME ditarik dari seluruh rak di Tiongkok setelah menerbitkan sebuah artikel mengenai keberadaan Falun Gong di Hong Kong.

Pada tahun 2007, lembaga penyiaran publik nasional Kanada, CBC, membatalkan jadwal penayangan sebuah film dokumenter tentang Falun Gong setelah mendapat tekanan dari kedutaan besar Tiongkok (saat itu CBC memegang hak siar untuk Olimpiade Beijing 2008).

Pada tahun 2010, penulis Peter Manseau sedang mengerjakan sebuah artikel mengenai Falun Gong untuk majalah hari Minggu Washington Post. Editor-editornya pada awalnya sangat menyukai ide tersebut, bahkan menyarankan agar artikel itu menjadi berita sampul. Namun, sepuluh hari setelah meminta komentar dari Kedutaan Besar Tiongkok, editor Post membatalkan berita tersebut. Manseau dibayar penuh untuk artikelnya, bukan 30% yang merupakan standar biaya pembatalan untuk berita yang tidak jadi ditayangkan. Selama periode yang sama, Post sedang melobi pemerintah Tiongkok untuk mendapatkan visa bagi salah satu reporternya, yang mana pejabat Tiongkok enggan memberikan izin masuk karena pekerjaan yang pernah dilakukan reporter tersebut beberapa tahun sebelumnya.

Pada tahun 2014, sebuah cerita fiksi dalam majalah Reader’s Digest edisi Australia menampilkan seorang pengungsi Falun Gong sebagai karakter pendukung. Perusahaan percetakan Tiongkok menolak untuk mencetak majalah tersebut sampai cerita itu disensor, dan pihak majalah akhirnya melakukannya.

Pada tahun 2018, stasiun televisi Australia ABC membatalkan wawancara dengan mantan Miss World, Anastasia Lin, karena “afiliasi”-nya. Anastasia Lin adalah seorang aktivis hak asasi manusia terkemuka di Tiongkok, dan sangat vokal menyuarakan penolakan terhadap penganiayaan terhadap Falun Gong. Ketika didesak, seorang produser memberi tahu Lin bahwa keputusan tersebut datang dari “atasan.”

Jelas sekali, terdapat pola tekanan Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang menghasilkan pembungkaman di media Barat, namun apa yang membuat hal ini mungkin terjadi? Bagaimana bisa sebuah rezim asing menggunakan pengaruh yang begitu besar?

Ikuti Aliran Dananya

Seperti yang diilustrasikan oleh contoh Washington Post dan CBC di atas, memiliki akses media ke Tiongkok, terutama di sekitar peristiwa penting seperti Olimpiade atau kunjungan kepala negara asing, sangatlah vital bagi media Barat. Namun, mengingat cakupan dan skala sensor yang telah berhasil dicapai oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) di Barat terkait topik Falun Gong, instrumen kekuasaan mereka kemungkinan besar jauh melampaui sekadar masalah akses ke Tiongkok.

Sayangnya, ikatan finansiallah yang menjadi konflik kepentingan yang lebih besar dalam banyak kasus. Setelah Tiongkok masuk ke dalam WTO pada Desember 2001, perusahaan-perusahaan Barat berbondong-bondong datang ke sana. Selama dekade berikutnya, Tiongkok mengalami arus masuk modal dan pertumbuhan ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang memberikan Partai Komunis Tiongkok (PKT) lebih banyak daya tawar untuk memengaruhi institusi-institusi Barat.

Enam korporasi besar mengendalikan 90% gerai media di Amerika Serikat, sebagian besar adalah jaringan TV dan kabel, dan perusahaan-perusahaan ini memiliki kepentingan bisnis yang masif di Tiongkok. Sebagai contoh, Disney, yang memiliki ABC dan beberapa studio film, telah membuka taman hiburan di Tiongkok. Menurut J.P. Morgan, pendapatan tahunan hanya dari taman hiburan di Shanghai saja (sebelum COVID-19) melampaui 1 miliar dolar AS. Menurut laporan dalam New York Times, Ketua Disney, Bob Iger, bertemu dengan menteri propaganda utama Tiongkok pada tahun 2010 dan berjanji untuk menggunakan platform global Disney guna menyebarkan propaganda Partai Komunis Tiongkok (PKT), yang pada dasarnya menjadikannya agen kekuatan lunak (soft power) PKT di seluruh dunia.

Perusahaan induk CNN memiliki kemitraan senilai 50 juta dolar dengan sebuah perusahaan Tiongkok yang diawasi oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT). Liputan yang berat sebelah dari CNN sangat banyak ditemukan. Sebagai contoh, terdapat banyak contoh di mana CNN memuji-muji cara Tiongkok dalam menangani virus corona.

Perusahaan induk MSNBC dan NBC, yaitu NBC Universal, telah menandatangani kesepakatan dengan kantor berita milik pemerintah Tiongkok, Xinhua, dan raksasa teknologi terkemuka Tiongkok, Baidu. NBC Universal juga memiliki saham dalam usaha media di Tiongkok senilai 3,8 miliar dolar AS.

Pilar-pilar media cetak kita pun sama-sama terkompromi. Boston Globe, New York Times, L.A. Times, Wall Street Journal, Washington Post, dan media lainnya memiliki pemilik mayoritas miliarder dengan kepentingan bisnis yang sangat besar yang dikendalikan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT). Sebagai contoh, miliarder Meksiko Carlos Slim adalah pemegang saham terbesar New York Times. Usaha patungan Slim dengan perusahaan-perusahaan Tiongkok mencakup industri otomotif dan teknologi tinggi, serta merupakan bagian signifikan dari kekayaannya.

PKT menghabiskan $10 miliar setiap tahun untuk propaganda luar negerinya kepada audiens di seluruh dunia. Berbagai surat kabar utama di Amerika dan negara-negara Barat lainnya menerima jutaan dolar biaya iklan dari PKT untuk sisipan China Daily di surat kabar tersebut.

Terdapat puluhan kasus di mana PKT telah menjamu para jurnalis, editor, dan penerbit Barat dalam perjalanan mewah ke Tiongkok, yang semuanya dibiayai oleh PKT. Sebuah laporan tahun 2020 oleh Federasi Jurnalis Internasional mengutip beberapa contoh reporter dari media asing yang kemudian “memproduksi berita yang secara setia menggaungkan posisi Beijing” terkait berbagai isu sensitif setelah perjalanan tersebut.

Pada tahun 2018, Associated Press dan kantor berita corong PKT, Xinhua, menandatangani nota kesepahaman (MOU) untuk memperluas kerja sama di berbagai bidang, termasuk media baru, penerapan kecerdasan buatan (AI), dan informasi ekonomi. Hal tersebut memicu kekhawatiran di Kongres, di mana para anggota dari kedua partai kini semakin waspada terhadap operasi pengaruh asing Tiongkok di dalam Amerika Serikat.

Singkatnya, sebagian besar, jika bukan mayoritas, pendapatan yang dihasilkan oleh beberapa media AS berasal dari Tiongkok, dan oleh karena itu, tunduk pada aturan otoriter di sana. Setidaknya, hal ini merupakan konflik kepentingan yang signifikan bagi perusahaan-perusahaan media tersebut.

Serangan Diplomatik

Meminggirkan dan membungkam Falun Gong di seluruh dunia melalui misi-misi diplomatik telah menjadi prioritas utama PKT selama lebih dari 20 tahun.

Tekanan ini diterapkan pada tingkat yang paling tinggi.

Diplomat senior Tiongkok, Chen Yonglin (C), membelot ke Australia dan memberikan kesaksian bahwa Partai Komunis Tiongkok (PKT) menempatkan staf di misi-misi diplomatik di seluruh dunia yang secara khusus ditugaskan untuk memantau, meminggirkan, dan menyerang Falun Gong di negara tempat mereka bertugas.

Dalam pertemuan puncak selama satu jam dengan Presiden AS saat itu, Bill Clinton, dalam pertemuan APEC tahun 1999, Jiang Zemin mempertegas kepentingannya agar AS menunjukkan sikap yang “benar” terkait isu Falun Gong. Di antara berbagai isu penting yang dibahas, hanya isu Falun Gong yang diangkat langsung oleh Jiang Zemin sekaligus didokumentasikan dalam sebuah buku yang diberikan Jiang kepada Presiden Clinton sendiri. Associated Press melaporkan: “Saat Tiongkok dan Amerika Serikat berupaya memperbaiki hubungan yang baru-baru ini rusak, Presiden Jiang Zemin memberikan hadiah yang tidak biasa kepada Presiden Clinton: sebuah buku yang membela pelarangan Tiongkok terhadap sebuah sekte meditasi populer [Falun Gong]… buku setebal 150 halaman dalam bahasa Inggris tersebut merupakan rentetan propaganda tanpa henti dari media Tiongkok yang sepenuhnya dikelola negara.”

Beberapa hari setelah Condoleezza Rice menjabat sebagai Penasihat Keamanan Nasional pada tahun 2001, sebuah pertemuan dengan rekan sejawatnya dari Tiongkok segera menjadi tidak terkendali. Alih-alih membahas topik keamanan yang penting sebagaimana yang diharapkan, Rice dan timnya justru dihujani dengan pidato persiapan selama 30 menit yang menjelek-jelekkan Falun Gong. Merasa frustrasi, tim Rice akhirnya meminta para pejabat tersebut untuk meninggalkan kantor mereka.

Di seluruh dunia demokratis, dapat ditemukan para pejabat terpilih, pengusaha, profesor, dan jurnalis yang telah terlibat dalam menjaga pembungkaman terhadap apa yang oleh beberapa pakar hukum disebut sebagai “genosida Falun Gong”. Di saat yang sama, banyak individu yang merasa geram oleh taktik tekanan tersebut dan sebagai hasilnya justru menjadi lebih vokal dalam mendukung Falun Gong.

PKT telah menjalankan taktik tekanan ini terutama melalui saluran diplomatik, diaspora Tionghoa, hubungan kota kembar (sister city), serta para sarjana dan pebisnis Barat tentang Tiongkok yang memiliki kepentingan pribadi dalam akses ke daratan Tiongkok.

Politisi Barat yang mengekspresikan bentuk dukungan apa pun bagi Falun Gong menjadi target utama dari manuver Partai Komunis.

Anggota Kongres AS serta Anggota Parlemen Kanada dan Eropa juga menjadi sasaran rentetan propaganda yang serupa. Para anggota Kongres secara rutin melaporkan telah menerima panggilan telepon, surat, majalah, dan DVD dari para pejabat kedutaan yang berkeliling di Washington; semua ini terkadang disertai dengan undangan kunjungan resmi mewah ke Beijing.

Bersamaan dengan panggilan telepon standar, surat, dan kunjungan pribadi yang bertujuan untuk menjelek-jelekkan Falun Gong, taktik tekanan yang terdokumentasi mencakup ancaman tindakan terhadap perdagangan, program pertukaran budaya atau akademis, atau pemutusan hubungan kota kembar jika tuntutan PKT tidak dipenuhi. Menulis di Wall Street Journal, Claudia Rosett memberikan gambaran tentang seberapa banyak pihak yang telah dipaksa atau ditekan terkait Falun Gong (artikel).

Bahkan para pejabat di kota kecil pun tidak luput dari sasaran. Wali Kota Randy Voepel dari Santee, California Selatan, menerima surat dari konsul jenderal Partai tersebut di Los Angeles yang menjelek-jelekkan Falun Gong. Voepel membalas surat tersebut:

“‘Surat Anda secara pribadi membuat saya sangat merinding. Saya terkejut bahwa sebuah Negara Komunis mau bersusah payah untuk menekan apa yang sudah biasa diterima di negara ini. . . Saya menaruh hormat yang setinggi-tingginya kepada rakyat Tiongkok di negara Anda dan di mana pun di seluruh dunia, namun saya harus jujur mengenai kekhawatiran saya terhadap penindasan hak asasi manusia oleh pemerintah Anda sebagaimana dibuktikan oleh permintaan Anda ini.’ Pak Voepel kemudian mengeluarkan proklamasi wali kota yang memuji Falun Gong.” — Wali Kota AS Randy Voepelsion of human rights by your government as evidenced by your request.’ Mr. Voepel then issued a mayoral proclamation commending the Falun Gong.”

— U.S. Mayor Randy Voepel

Fokus terhadap Falun Gong juga terlihat jelas di dunia maya.

Dari sepuluh situs web yang paling sering diblokir di Tiongkok, empat di antaranya secara luas melaporkan tentang penganiayaan terhadap Falun Gong. Situs lainnya termasuk Voice of America dan Radio Free Asia.

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Berkman Center for Internet and Society di Harvard, pencarian kata kunci terkait Falun Gong juga termasuk di antara yang paling ketat diblokir pada filter Tiongkok (lihat laporan Berkman Center)

Mengapa kisah Falun Gong berbeda?

Laporan terbaru oleh New York Times, Washington Post, dan banyak media lainnya telah mengungkap pelanggaran hak asasi manusia yang mengerikan terhadap Muslim Uyghur dan penduduk Hong Kong, di antara banyak lainnya. Dalam bidang-bidang ini, banyak outlet media AS tampaknya tidak menyensor liputan mereka meskipun hal itu mengungkap penyalahgunaan kekuasaan yang mengerikan oleh PKT.

Mengapa kisah Falun Gong berbeda?

“PKT membungkam dan memarjinalkan Falun Gong lebih dari kelompok mana pun justru karena Falun Gong mengungkap kejahatan PKT lebih dari kelompok mana pun. Sesederhana itu.” — Levi Browde, Direktur Eksekutif Falun Dafa Information Center

Berbeda dengan Uyghur, Hong Kong, atau Tibet, Falun Gong tidak terbatas pada batas wilayah atau etnis tertentu. Sebelum penganiayaan dimulai di Tiongkok, praktisi Falun Gong ada di mana-mana. Anda dapat menemukan mereka di hampir setiap taman di kota besar, kota kecil, bahkan desa-desa kecil di seluruh negeri. Mereka datang dari semua lapisan masyarakat, mulai dari pemimpin militer senior hingga ibu rumah tangga; mulai dari profesor universitas hingga petani pedesaan. Tua maupun muda… mustahil untuk memisahkan rakyat Tiongkok dari latihan Falun Gong.

Sementara itu, sebagai sebuah latihan spiritual yang berakar pada budaya tradisional Tiongkok, upaya para praktisi Falun Gong untuk menghidupkan kembali nilai-nilai dan budaya tradisional juga mengungkap jati diri PKT yang sebenarnya – sebuah ideologi komunis asing yang telah menghancurkan budaya tradisional Tiongkok dan melakukan penganiayaan terhadap rakyat Tiongkok demi mempertahankan kekuasaan. Hal tersebut mempertanyakan legitimasi PKT dalam mewakili budaya dan rakyat Tiongkok.

Lebih jauh lagi, seiring dengan berlanjutnya kampanye kekerasan terhadap Falun Gong, para praktisi mengerahkan upaya akar rumput di seluruh Tiongkok untuk mengungkap kebohongan dan kejahatan mengerikan PKT. Dalam perjalanannya, mereka menemukan banyak orang yang begitu memercayai propaganda PKT, sehingga mereka tidak mau mendengarkan apa pun selain narasi resmi. Oleh karena itu, Falun Gong memulai misi yang lebih luas untuk secara sistematis mengungkap asal-usul, sejarah, serta mendokumentasikan banyak kebohongan besar dan kekejaman PKT, baik di masa sekarang maupun masa lalu, agar akhirnya sesama warga negara mereka dapat memahami sepenuhnya cakupan propaganda dan tirani yang telah menekan mereka selama lebih dari 70 tahun.

Selama dua dekade terakhir, jutaan praktisi Falun Gong di seluruh Tiongkok mendirikan operasi percetakan kecil di rumah mereka, membuat dan mengantarkan pamflet ke setiap sudut Tiongkok. Upaya penyebaran berita bawah tanah ini melawan media yang dikelola negara, dan membuka mata rakyat Tiongkok terhadap tipu daya serta tirani sepenuhnya dari rezim yang berkuasa.

Upaya serupa telah berkembang di luar Tiongkok, di mana para praktisi Falun Gong telah berperan penting dalam menciptakan perangkat lunak untuk menembus sensor internet (firewall) di Tiongkok, mendirikan outlet media berbahasa Mandarin yang menyiarkan ke Tiongkok melalui satelit dan radio gelombang pendek, serta membangun proyek-proyek hak asasi manusia yang terhubung ke jaringan informasi terbesar di seluruh Tiongkok.

Singkatnya, Falun Gong telah menjadi pengungkap fakta terbesar terkait kejahatan PKT, dan hal itu menjadikannya target nomor satu dari penindasan PKT di seluruh Tiongkok maupun di seluruh dunia.

Inilah sebabnya mengapa selama hampir 20 tahun, kisah yang sebenarnya tentang Falun Gong dan apa yang sebenarnya terjadi di dalam Tiongkok sebagian besar tetap berada di luar jangkauan media, meskipun ketika pelanggaran hak asasi manusia terhadap kelompok lain diliput dalam berita.


Memecah Keheningan, Memutarbalikkan Cerita

Dalam beberapa tahun terakhir, keheningan tersebut telah digantikan oleh arus informasi yang menyesatkan (misinformasi) dan propaganda yang terus-menerus… di Barat.

Mulai tahun 2019, Falun Gong diberitakan dalam beberapa laporan media utama. Namun, dalam banyak kasus, laporan-laporan ini sangat mendistorsi ajaran dan keyakinan Falun Gong. Selain itu, laporan-laporan tersebut meniru dengan kemiripan yang mengejutkan terhadap propaganda penuh kebencian yang menonjol di Tiongkok komunis, yang memicu penganiayaan mengerikan terhadap orang-orang yang melakukan latihan Falun Gong di sana.

Dan penganiayaan terhadap 100 juta orang selama 22 tahun terakhir? Laporan-laporan Barat ini sebagian besar mengabaikannya.

Alasan bagi tren salah penafsiran terhadap Falun Gong yang lebih baru ini sebagian besar berasal dari pengaruh PKT yang sama, yang menyebabkan keheningan selama dua dekade terakhir. Namun, yang turut tercampur di dalamnya adalah kondisi politik AS yang beracun, dan bagaimana banyak pihak di media telah menggunakan Falun Gong sebagai bidak untuk mendiskreditkan pelaporan yang dilakukan oleh Epoch Times.

Share

BACA BERIKUTNYA