Weiyu Wang

Penyintas Penyiksaan Mengingat Pengalaman Mengerikan di KTT Kebebasan Beragama Internasional

Dikenal sebagai mahasiswa berprestasi yang rajin dan berkarakter baik, Wang Weiyu dipaksa untuk melepaskan studi S3 (Ph.D.) dan dianiaya secara berat karena berlatih Falun Gong.

Pada 13 Juli 2021, Wang menceritakan pengalamannya yang mengerikan saat bertahan hidup dari penganiayaan selama hampir satu dekade dalam tahanan, dalam sebuah panel di KTT Kebebasan Beragama Internasional (IRF Summit) di Washington D.C.

Tentang Wang

Wang Weiyu, foto tanpa tanggal.

Wang mulai berlatih Falun Gong pada tahun 1997, saat ia menjadi kandidat Ph.D. di bidang teknik optik di Universitas Tsinghua yang bergengsi di Beijing. Wang ingat begitu terpikat oleh ajaran moral dalam buku pengantar Falun Gong, sehingga ia selesai membacanya hanya dalam beberapa jam.

Saat Wang mulai berlatih, Falun Gong sangat populer di kampusnya. Terdapat sebelas tempat latihan kelompok Falun Gong di universitas, yang dihadiri oleh lebih dari 500 mahasiswa dan dosen.

Insiden Awal di Universitas Tsinghua

Setelah penganiayaan dimulai pada tahun 1999, Wang ditekan untuk melepaskan keyakinannya.

Wang mengenang sebuah insiden mengejutkan di kampusnya, di mana Wakil Sekretaris Partai Komunis Tiongkok (PKT) di Tsinghua memaksa teman-teman sekelasnya untuk mengecamnya selama lebih dari dua jam.

“Saya tiba-tiba dibawa untuk berdiri di hadapan puluhan dari mereka, tanpa daya, dan dipaksa mendengarkan. Saya masih tidak bisa melupakan wajah teman dekat saya, yang berdiri dan mengancam saya, ‘Jika kamu tetap percaya pada Falun Gong, saya akan menikammu sampai mati.’”

Ancaman dari teman kuliah Wang menunjukkan dampak propaganda yang meresap di masyarakat Tiongkok. Dalam sebuah artikel yang dimuat di Minghui.org, seorang teman lama menulis bahwa Wang adalah seorang yang rajin, jujur, dan berprestasi secara akademis. Wang dikenal karena ketulusan, belas kasih, sikap tidak mementingkan diri sendiri, dan toleransinya, sehingga orang-orang senang bergaul dengannya.

Selama waktu ini, Wang diskors dua kali oleh pihak universitas dan akhirnya dipaksa melepaskan gelar doktoralnya pada tahun 2002.

Penculikan dan Penyiksaan yang Menyusul

Pada Agustus 2002, Wang diculik.

Sekelompok petugas polisi berpakaian preman menyerangnya saat ia sedang berjalan di jalan. Mereka memukul hingga kacamatanya terlepas, menginjak kepalanya, sebelum melemparkannya ke dalam mobil polisi.

Ia kemudian dikirim ke sebuah tempat, secara resmi disebut “pusat pelatihan hukum,” yang terkenal kejam dan dibuat khusus untuk menahan praktisi Falun Gong.

Pada hari pertama di sana, empat atau lima “pelatih” menyetrumnya dengan tongkat listrik dari jam 6 sore hingga jam 5 pagi keesokan harinya. Salah satu penjaga, seorang pria dengan tinggi sekitar 195 cm, akan menekan tongkat listrik di satu titik terus menerus hingga baterainya habis. Saat baterainya habis, tongkat itu dicolokkan ke stopkontak dan penyetruman terus dilanjutkan.

Mereka menyetrum seluruh bagian tubuhnya, termasuk ujung jarinya. Mereka juga menekan dua elektroda ke punggungnya.

Wang kemudian dikurung di sel isolasi selama enam bulan. Selama di dalam sel, Wang dilarang berbicara, tidak boleh tahu tanggal atau waktu, dan dibatasi menggunakan toilet. Untuk pergi ke toilet, ia harus mengajukan izin, dan hampir semua permintaannya ditolak.

Selama enam bulan berikutnya, ia ditempatkan di sel tunggal di mana ia diawasi dengan ketat. Siang hari, ia dipaksa duduk tak bergerak di atas bangku kecil yang sempit.

Pengalaman itu terukir dalam ingatannya:

“Kondisi yang parah menyebabkan tubuh saya atrofi (penyusutan otot). Saya sering tertidur diiringi suara tajam cambukan dan jeritan mengerikan para wanita yang sedang disiksa. Selama periode ini, orang tua saya tidak diizinkan mengetahui lokasi atau kondisi saya, dan hari-hari mengerikan ini bahkan tidak dianggap sebagai masa penahanan resmi oleh pemerintah PKT.”

Wang kemudian ditahan di berbagai pusat penahanan dan penjara. Ia teringat pusat penahanan Fengtai dan Chaoyang di Beijing:

“Pusat-pusat [penahanan] ini membuat praktisi Falun Gong berada di ambang kelaparan. Bahkan para sipir penjara pun berkata, ‘tidak ada hak asasi manusia di sini’, tetapi hakim pengadilan hanya mengabaikan keluhan tersebut dan menjawab, ‘putusan ini bukan dibuat oleh saya dan saya hanya mengikuti perintah.’”

Di Pusat Penahanan Chaoyang di Beijing, Wang pernah mendengar para dokter mendiskusikan metode penyiksaan cekok paksa—sebuah prosedur yang sering digunakan pada tahanan yang mogok makan, di mana selang dimasukkan melalui hidung seseorang ke lambung. Seorang perawat, yang tampaknya berusia 20-an, bertanya kepada seorang dokter bagaimana cara memasukkan selang agar menimbulkan lebih banyak rasa sakit pada praktisi.

Wang juga memperhatikan bahwa beberapa sipir di pusat penahanan itu sedang mempelajari buku-buku tentang pasien penyakit jiwa. Namun, tujuan mereka bukanlah untuk menyembuhkan para tahanan, melainkan untuk mencari cara “membuat Anda menjadi gila,” katanya.

Saat dipenjara di Penjara Tianjing, semua narapidana dipaksa kerja paksa. Mereka menanam lobak, membungkus permen, membuat cangkir kue kertas, dan bola olahraga. Teman Wang, ketika sedang menjahit panel bola olahraga, secara tidak sengaja menusuk matanya sendiri dan kehilangan penglihatannya secara permanen. 

Wang mengatakan para tahanan pada dasarnya adalah “budak modern.” Namun, kepala penjara membual, “Jika ada kelompok internasional yang datang, yang bisa mereka lihat hanyalah penjara yang indah dan yang bisa mereka dengar hanyalah pujian.”

Selama tur inspeksi yang langka, seorang inspektur wanita mencoba mendekati Wang, tetapi seorang sipir dengan kasar berlari ke arah mereka dan menghalanginya.

Melarikan Diri dan Imigrasi ke AS

Wang melarikan diri dari Tiongkok pada tahun 2011 dan berimigrasi ke AS pada tahun 2013. Ia sekarang tinggal di Michigan bersama keluarganya dan bekerja sebagai seorang insinyur perangkat lunak.

Wang Weiyu sedang melakukan latihan Falun Gong di taman umum di Michigan pada Mei 2021. (Foto milik Wang Weiyu)

Di luar Tiongkok, Wang melihat kesempatan untuk membuat perbedaan.

“[Saat ditahan,] Salah satu sipir berkata kepada saya, “Beri tahu teman-temanmu di luar negeri, jangan kirimi saya surat lagi”. [Saat itu saya sadar,] Ternyata mereka takut pada sesuatu: suara keadilan. Jadi, suara Anda sangat berarti. Kegelapan selalu takut terungkap pada cahaya.”


Share