Zhenni Zhang
Zhenni Zhang berpidato dalam sebuah rapat umum di San Francisco, memperingati 22 tahun penganiayaan di Tiongkok.
Seluruh keluarga Zhenni Zhang dianiaya karena berlatih Falun Gong (juga disebut Falun Dafa). Selama 11 tahun, keluarga Zhang hidup dalam pengungsian—keadaan di mana “setiap saat dihabiskan dalam tekanan dan ketakutan yang luar biasa,” sebab hampir semua praktisi Falun Dafa yang mereka kenal telah dilecehkan, diculik, dan ditahan.
Zhenni Zhang mulai berlatih Falun Dafa di Tiongkok pada 1994. Setelah saudara perempuan dan orang tuanya berlatih selama beberapa bulan, penyakit kronis mereka pun menghilang.
Falun Dafa juga meningkatkan kehidupan spiritual mereka, memberikan pegangan moral untuk Zhenni:
“Saya sudah mendalami prinsip Sejati-Baik-Sabar sejak kecil, maka saya tidak pernah kehilangan arah,” katanya.
Ibunya Zhang adalah seorang profesor di sebuah universitas. Beliau diculik sebanyak tiga kali karena berlatih Falun Dafa, disiksa, dan kemudian dipaksa pensiun tanpa menerima uang pensiunnya. Ayahnya adalah seorang peneliti di sebuah institut. Beliau juga diculik, dan rekening banknya dibekukan. Sementara saudara perempuannya dipecat dari tempat kerjanya.
Melihat bagaimana Partai Komunis Tiongkok (PKT) memfitnah Falun Dafa dan menggunakan media untuk terus-menerus menyebarkan rumor dan propaganda, Zhang memutuskan pergi ke Beijing untuk mengajukan permohonan banding. Dia mengirim surat kepada para pemimpin Partai untuk memberi tahu mereka tentang bagaimana keluarganya mendapat manfaat dari berlatih Dafa.
“Akibatnya, saya diborgol dan dikurung di pusat penahanan. Saya mogok makan selama enam hari. Setelah dibebaskan, saya dikeluarkan dari sekolah dan tidak dapat menyelesaikan pendidikan perguruan tinggi saya,” tuturnya.
Saat itu, hampir setiap praktisi Falun Dafa yang dia kenal dilecehkan, diculik, dan ditahan. Dia mengetahui bahwa dua profesor universitas yang dikenalnya telah disiksa hingga meninggal. Salah satunya adalah seorang profesor matematika, dan suaminya telah dijatuhi hukuman 12 tahun penjara. Putri mereka yang berusia empat tahun pun menjadi yatim piatu.
“Itu jelas merupakan masa tergelap dalam hidup saya,” kata Zhang. Dia mengatakan bahwa polisi PKT terus melecehkan keluarganya dan mengancam akan menculik mereka serta membawa mereka ke pusat pencucian otak.
“Kami terpaksa meninggalkan rumah,” katanya. “Selama 11 tahun pengungsian itu, setiap saat dihabiskan dalam tekanan dan ketakutan yang luar biasa. Kami tidak tahu apa yang akan dilakukan polisi kepada kami jika mereka menemukan kami. Kami khawatir suatu hari nanti kami akan ditangkap lagi dan akan ‘menghilang.’”
Meskipun menghadapi cobaan yang luar biasa, Zhang mengatakan bahwa apa yang dialaminya sama sekali tidaklah istimewa. Dia mencatat bahwa banyak praktisi lain di California (negara bagian tempat dia tinggal) memiliki kerabat yang disiksa sampai meninggal di Tiongkok. Beberapa disiksa, dan beberapa lainnya hampir diambil organ tubuhnya. Dia menyerukan kepada lebih banyak orang untuk bekerja sama menghentikan penganiayaan yang dilakukan PKT.
Dikutip dari Minghui.org:










