Minghui Wang
Minghui Wang (tengah) bersama orang tuanya dalam sebuah acara nyala lilin untuk memperingati 20 tahun perlawanan damai Falun Dafa terhadap penganiayaan rezim Komunis Tiongkok, 20 Juli 2019, La Jolla, California.
Minghui Wang adalah mahasiswa tingkat akhir di UC Berkeley. Ia memiliki kisah luar biasa yang, jika Minghui ungkapkan dengan lantang di Tiongkok, ia bisa dibunuh karenanya.
Berikut adalah kesaksian pribadi yang ditulis oleh Minghui pada tahun 2019. Setelah ayahnya ditangkap pada tahun 2007, ia dijatuhi hukuman penjara, menanggung berbagai macam penyiksaan, yang meninggalkan bekas luka di sekujur tubuhnya. Pihak berwenang juga mengawasi Minghui dan ibunya, membuat takut atasan ibunya dan menyebabkannya dipecat. Setelah ayah Minghui dibebaskan dengan tekanan darah tinggi yang sangat berbahaya pada tahun 2011, keluarga tersebut melarikan diri ke Thailand dan diberikan suaka di A.S. pada tahun 2013.
“Beberapa hari yang lalu, iPhone saya memberi peringatan bahwa kemungkinan ada peretas di Kunming, Provinsi Yunnan, Tiongkok yang mencoba mengakses akun saya. Hati saya menciut dan saya panik, bukan karena ponsel saya penuh dengan rahasia besar. Nama Kunming-lah yang seketika memberi saya perasaan tertekan. Dan begitu saja, saya teringat kembali kenangan mengerikan hampir satu dekade lalu, ketika keluarga saya menyeberang perbatasan dari Tiongkok ke Myanmar dalam pelarian yang berani, dan di mana saya disuruh menikmati pemandangan Tiongkok yang menakjubkan untuk terakhir kalinya, selagi saya bisa.
Orang tua saya dan saya berlatih Falun Dafa, sebuah latihan meditasi kuno Tiongkok yang menarik lebih dari 70 juta pengikut di Tiongkok pada tahun 1990-an. Prinsip dari Falun Dafa adalah Sejati, Baik, Sabar, sehingga keluarga kami selalu hidup dalam harmoni.
Namun, suasana di Tiongkok tidaklah begitu damai. Perintah untuk memberantas keyakinan kami yang baik hati dikeluarkan pada tahun 1999, setahun sebelum saya lahir, dan otoritas komunis menggunakan segala cara untuk melakukannya. Media Tiongkok melabeli Falun Dafa sebagai “Aliran sesat” dan polisi menangkap siapa pun yang menyampaikan fakta kepada orang-orang. Terlebih lagi, praktisi Falun Dafa yang tak terhitung jumlahnya yang menolak melepaskan keyakinan mereka dikirim ke penjara dan kamp kerja paksa.
Namun, sebagian besar praktisi, termasuk orang tua saya, tetap teguh berkomitmen. Selama bertahun-tahun, mereka ditahan di kamp cuci otak beberapa kali karena kegigihan mereka dalam mempraktikkan Falun Dafa.
Sejauh yang saya ingat dari kenangan masa kecil saya, kenangan itu selalu pahit.”
Ayah Ditangkap
“Suatu hari pada tahun 2007, saya pulang dan mendapati ruang tamu berantakan, dengan kertas dan buku berserakan di lantai. Seorang tetangga memberi tahu saya bahwa ayah saya dibawa pulang hari itu dengan tangan diborgol, diikuti oleh empat petugas yang mengambil kuncinya, memasuki rumah, dan mencari serta menyita semua materi Falun Dafa tanpa persetujuan ayah saya.
Saya sering mendengar berita tentang sesama praktisi di seluruh Tiongkok yang meninggal secara misterius di penjara. Jadi saya mengerti apa yang mungkin kini dihadapi ayah saya. Saya baru berusia tujuh tahun saat itu. Sementara gadis-gadis seusia saya bermain dengan boneka Barbie mereka, saya hidup di bawah tekanan konstan dan khawatir setiap hari tentang nyawa ayah saya. Tetapi setidaknya kami tahu di mana ayah saya ditahan. Dalam banyak kasus, keluarga tidak diberi tahu.
Tidak lama setelah penangkapan ayah saya, saya mulai menulis surat kepadanya. Saya akan menceritakan hal-hal ringan seperti karyawisata sekolah dan memasak hidangan biasa tanpa pengawasan ibu saya. Ia akan membalas dengan segera dengan cerita yang paling menarik dan nasihat yang paling bijaksana. Dan itulah satu-satunya cara baginya untuk menjalankan perannya sebagai seorang ayah dalam keadaan seperti itu. Saat-saat membaca surat ayah saya begitu mengharukan bagi saya. Tetapi saya juga tahu bahwa ayah saya mungkin menulis surat-surat itu di malam hari setelah seharian bekerja paksa, atau selama jam “santai” di sela-sela berbagai jenis penyiksaan yang tidak manusiawi.
Saya memang benar. Hanya saja ayah saya menanggung jauh lebih banyak dari yang pernah saya bayangkan. Ia memberi tahu kami kemudian bahwa penjaga penjara sangat kreatif menyiksanya dalam upaya agar dia melepaskan keyakinannya. Mereka menggunakan berbagai jenis penyiksaan yang terlalu menyakitkan baginya untuk dijelaskan, tetapi semuanya terbukti dari bekas luka yang mereka tinggalkan di sekujur tubuhnya. Orang biasa tidak akan mampu bertahan dalam situasi itu selama lebih dari sehari, namun ia harus menanggungnya selama satu setengah tahun.
Kemudian, ia memberi tahu ibu saya bahwa surat-surat saya, bersama dengan keyakinannya pada Falun Dafa, adalah satu-satunya hal yang mencegahnya dari keruntuhan fisik dan mental.
Saya tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan pekerjaan, kesehatan, reputasi, dan kebebasan anda, semuanya pada usia 42 tahun hanya karena anda mengikuti keyakinan pada ajaran Sejati, Baik, Sabar. Tetapi ayah saya telah mengalami semuanya di bawah rezim Tiongkok yang jahat.”
Pengawasan, Kemiskinan, dan Propaganda
“Hidup juga tidak sepenuhnya tanpa beban bagi para praktisi Falun Dafa di luar sel penjara. Sementara ayah saya ditahan secara ilegal, ibu saya harus bekerja dua pekerjaan untuk membesarkan saya. Ia akan bangun jam lima pagi dan tidur sekitar jam dua belas, hanya agar ia punya cukup waktu untuk menyelesaikan pekerjaannya. Walaupun demikian, ia masih memberi banyak waktunya untuk saya. Ia akan mengoreksi pekerjaan rumah saya setiap hari dan memastikan bahwa saya berhasil di sekolah. Ia akan menghadiri setiap pertemuan orang tua dan pergi ke setiap acara makan bersama kelas. Ibu saya sangat bergantung pada sedikit uang yang ia hasilkan, ia tidak pernah menyadari betapa mudahnya uang itu bisa diambil darinya.
Sejak ayah saya ditangkap, dua pria disewa oleh kantor polisi setempat untuk memantau setiap kegiatan ibu saya. Mereka akan tetap berada di luar tempat kerjanya dan membuatnya sangat jelas bahwa mereka mengawasinya dan siap menangkapnya kapan saja. Manajer ibu saya panik dan memecatnya beberapa bulan setelah bekerja.
Kini tanpa karier yang stabil, ia selalu harus terburu-buru melintasi kota mengajar les anak-anak yang berbeda dan akibatnya sering terlambat menjemput saya. Saya akan menangis di ruang tunggu sekolah, khawatir ia mungkin telah dimasukkan ke penjara.
Biasanya orang mengaitkan hilangnya kebebasan dengan pemenjaraan, tetapi di Daratan Tiongkok, seluruh masyarakat adalah penjara besar. Bahkan ponsel dan aktivitas Internet kami diawasi. Setiap kali ada kendaraan polisi terlihat, saya khawatir kendaraan itu datang untuk ibu saya.
Institusi Negara yang tidak normal ini bahkan merampas kemampuan dan hak anak-anak untuk berpikir dan memilih. Setiap siswa kelas satu dipaksa bergabung dengan “Pionir Muda” dari Partai Komunis dan harus bersumpah untuk membela Partai dengan nyawa mereka. Saya memberi tahu ibu saya bahwa saya tidak ingin menjadi bagian dari Partai yang menyakiti dan membunuh praktisi Falun Dafa. Tetapi ketika ibu saya berbicara dengan pejabat sekolah, ia diberi tahu bahwa saya tidak akan menerima penghargaan atau pengakuan apa pun jika saya bukan anggota Partai. Ibu saya memberi tahu para pejabat bahwa saya harus menerima semua yang pantas saya dapatkan, dan tidak boleh ada unsur politik yang didalamnya.
Ibu saya membela hak-hak saya, tetapi ia sendiri hampir tidak bisa membela haknya sendiri, juga tidak bisa mengeluarkan ayah saya dari penjara, terlepas dari seberapa keras ia berusaha.
Suatu hari, kepala sekolah saya menarik saya keluar dari kelas dan mencoba menekan saya untuk melaporkan ibu saya sendiri karena “Mengganggu Ketertiban Sosial.” Saya terkejut, tetapi saya juga tahu bahwa ia terlalu bingung oleh propaganda dan cuci otak dari semua media milik Negara untuk memahami apa yang dilakukan ibu saya.
Dan juga, kami hidup di bawah pengawasan dan pelecehan yang tidak masuk akal sebagai keluarga yang hancur dan dilanda kemiskinan.
Akhirnya, kamp tersebut membebaskan ayah saya karena tekanan darahnya naik, dan mereka tidak ingin bertanggung jawab jika ia tiba-tiba meninggal. Saat itulah ibu saya memutuskan kami harus meninggalkan Tiongkok. Pada bulan April 2011, karena tahu kami telah masuk daftar hitam oleh Bea Cukai Tiongkok dan tidak bisa keluar dari negara itu secara legal, kami naik bus ke kota Kunming dan membayar seseorang untuk membawa kami keluar dari Tiongkok ke Myanmar.”
Melarikan Diri ke Thailand
“Seorang pria yang lebih tua mengawal kami. Kami menyeberang perbatasan dengan berjalan di samping rawa, tanpa rambu jalan dan tanpa tanda jalan masuk yang memadai . Pengawal kami menyuruh kami berpisah agar kami tidak terlalu mencolok. Pada satu titik, saya secara tidak sengaja membawa ibu saya ke jalur masuk yang salah. Ketika kami akhirnya bertemu dengan ayah saya, wajahnya merah padam karena cemas. Saya belum pernah melihatnya begitu takut, bahkan ketika ia dihadapkan oleh petugas polisi yang tidak bersahabat.
Ia punya alasan kuat untuk takut karena keluarga kami bisa saja terpisah selamanya.
Kami membutuhkan waktu sekitar tujuh hari dari Tiongkok ke Bangkok, Thailand dengan berjalan kaki, mobil, dan perahu. Itu adalah perjalanan yang sangat cepat bagi kami, mengingat banyak orang benar-benar menghabiskan waktu berminggu-minggu menanggung banyak kesulitan fisik di sepanjang jalan. Berkat banyak orang baik hati dan Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi, kami dapat memasuki Amerika Serikat pada tahun 2013 dengan status legal.
Kami mempertaruhkan nyawa kami untuk keluar dari Tiongkok, agar kami tidak menjalani sisa hidup kami di bawah penindasan ideologi jahat Partai Komunis, dan agar bisa memiliki kebebasan berkeyakinan.
Saya menulis narasi ini untuk meningkatkan kesadaran tentang penganiayaan yang terus berlangsung terhadap praktisi Falun Dafa di Daratan Tiongkok. Saya menulisnya untuk memperingatkan dunia agar kita dapat belajar dari pelajaran sejarah dan tidak mengulangi Holocaust. Saya menulis, dan akan terus menulis, untuk anak-anak seusia saya, atau bahkan lebih muda, banyak dari mereka menjadi yatim piatu karena penganiayaan, yang menderita dari semua yang telah saya jelaskan, dan semua yang tak terlukiskan. Akhirnya, saya menulis atas nama jutaan individu yang ingin melihat berakhirnya penganiayaan serta berjuang untuk menyuarakan penindasan yang dilakukan di bawah rezim komunis Tiongkok.”










