Pria Berjaket Bendera Tiongkok Mengancam akan Menembak Praktisi Falun Gong di Luar Konsulat Toronto

Seorang pria berbahasa Mandarin mengancam akan membunuh seorang praktisi Falun Gong di luar Konsulat Tiongkok di Toronto sambil merobek-robek spanduk milik praktisi tersebut. (Nora Geng)

Seorang pria berbahasa Mandarin mengancam akan membunuh seorang praktisi Falun Gong di luar Konsulat Tiongkok di Toronto sambil merobek-robek spanduk milik praktisi tersebut. (Nora Geng)

Pada pagi hari tanggal 22 September 2026, seorang pria yang mengenakan jaket berlogo merah Republik Rakyat Tiongkok merobek spanduk dan papan pameran Falun Gong di luar Konsulat Tiongkok di Toronto. Ia mendorong seorang praktisi berusia 62 tahun yang mencoba menghentikannya, lalu mengancam akan menyuruh orang untuk menembaknya. Pria tersebut menyatakan dalam bahasa Mandarin bahwa trotoar umum di luar konsulat yang beralamat di 240 St. George Street adalah wilayah Tiongkok. Akibat kejadian ini, bagian dagu praktisi tersebut mengalami luka berdarah. Setelah selesai merusak, pria itu menyeberang jalan dan menelepon seseorang; tidak lama kemudian, sebuah mobil datang menjemput dan membawanya pergi sebelum polisi tiba di lokasi.

Kepolisian Toronto membenarkan telah menerima laporan kegaduhan di alamat tersebut sekitar pukul 09.35 pagi dan menyatakan bahwa mereka sedang menyelidiki kasus ini. Hingga tanggal 6 Oktober, identitas tersangka belum diumumkan kepada publik dan belum ada tuntutan yang dijatuhkan.

Konfrontasi ini menunjukkan ciri khas penindasan lintas negara oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT): bentuk intimidasi di wilayah asing terhadap warga yang berunjuk rasa secara damai guna membongkar pelanggaran hak asasi manusia oleh PKT, yang dilakukan dengan terang-terangan menyepelekan hukum setempat. Hal yang membedakan kejadian ini dari aksi gangguan sebelumnya di lokasi tersebut adalah keberaniannya yang begitu lancang. Pria itu tidak berusaha menyembunyikan wajahnya. Ia bertahan di sana selama beberapa menit, bahkan menantang agar dirinya direkam.

Para praktisi Falun Gong telah mempertahankan stan informasi damai di luar Konsulat Toronto selama kurang lebih 27 tahun.

Ancaman Pembunuhan di Trotoar

Falun Dafa Information Center telah mewawancarai kedua praktisi yang berada di lokasi pada pagi itu.

Na Li, 62 tahun, menceritakan bahwa ia dan seorang praktisi lainnya baru saja selesai memasang papan informasi yang biasa mereka gunakan sekitar pukul 09.15 pagi, ketika seorang pria menyeberang jalan dan mulai merobek spanduk-spanduk tersebut. Saat mencoba menghentikan aksi pria itu, pergelutan pun tak terhindarkan hingga membuat dagu Li tersayat. Ia mengaku baru menyadari dagunya berdarah setelah mengusap wajahnya beberapa saat kemudian.

Insiden tersebut sempat direkam oleh Nora Geng, seorang praktisi Falun Gong yang juga berada di lokasi. Geng membenarkan bahwa ia mengabadikan rekaman itu di luar Konsulat Jenderal Tiongkok di 240 St. George Street dan telah mengizinkan akun @WhatisonToronto untuk mengunggahnya. Video tersebut diunggah ke platform X pada Selasa malam, 22 September, lengkap dengan teks terjemahan bahasa Inggris untuk mengartikan percakapan berbahasa Mandarin di dalamnya.

Rekaman video tersebut mengabadikan rangkaian kejadian selanjutnya. Pria yang mengenakan jaket berbendera Tiongkok itu tampak merobek spanduk-spanduk sambil bersikeras bahwa tanah yang sedang dipijaknya adalah wilayah Tiongkok. Ia mengutip Undang-Undang Anti-Separatisme—aturan yang biasa dipakai Beijing untuk menindak apa yang mereka cap sebagai gerakan pemisahan diri—serta menuduh para praktisi sedang memecah belah negara. Ia mengancam Li bahwa ia akan menyuruh orang untuk menembaknya, bahkan mengancam akan menghantamnya hingga tewas. Pada satu momen, pria itu sempat berteriak memanggil seseorang di luar jangkauan kamera untuk membantunya merekam.

Na Li, 62 tahun, dengan luka tersayat di dagunya di luar Konsulat Tiongkok di Toronto pada 22 September 2026, tak lama setelah seorang pria merobek papan informasi Falun Gong dan mengancam akan menyuruh orang untuk menembaknya. (Nora Geng)

Li mengaku tidak merasa takut saat kejadian berlangsung, namun merasa sangat terguncang setelahnya. Ia mendesak pemerintah Kanada untuk menangani insiden ini secara serius dan tidak membiarkannya berlalu begitu saja.

Geng, yang merekam seluruh kejadian tersebut, menceritakan bahwa pria berjaket bendera Tiongkok itu sempat mencoba menendangnya, namun luput karena Geng berhasil menghindar. Seorang pria lain berdiri di dekat mereka sambil merekam konfrontasi tersebut; menurut Geng, pria kedua itu tidak melakukan tindakan apa pun selain mengambil video. Setelah puas merusak papan informasi, pria berjaket bendera Tiongkok itu menyeberang jalan lalu menelepon seseorang. Tak lama kemudian, sebuah mobil datang menjemput dan membawanya pergi. Dua orang pejalan kaki sempat turun tangan saat percekcokan terjadi, di mana salah seorang di antaranya menegaskan kepada pria itu bahwa ia sedang berada di Kanada. Kedua pejalan kaki tersebut juga bersedia memberikan kesaksian kepada pihak kepolisian.

Sebuah papan pameran yang bengkok akibat aksi penyerangan pada 22 September 2026 masih berdiri di pintu gerbang Konsulat Tiongkok di Toronto, 240 St. George Street. (Nora Geng)
Mobil Honda CR-V hitam yang menjemput pria tersebut usai penyerangan, terpotret pada pukul 09.27 pagi tanggal 22 September 2026 di Bernard Avenue dekat Konsulat Tiongkok di Toronto. Para praktisi menceritakan bahwa pria itu menyeberang jalan, melakukan panggilan telepon, lalu dijemput tidak lama kemudian. Pelat nomor kendaraan dalam foto telah disamarkan; adapun salinan foto asli tanpa sensor telah diserahkan kepada kepolisian. (Nora Geng)

Jeff Li, seorang penghubung komunitas Falun Gong di Toronto, mengungkapkan bahwa aksi gangguan di lokasi tersebut biasanya dilakukan oleh pelaku yang menutup wajahnya dan hanya berlangsung selama beberapa detik. Ia menyebut peristiwa kali ini sebagai insiden terang-terangan di ruang publik yang paling parah dalam kurun waktu hampir tiga dekade.

Insiden penyerangan ini telah dilaporkan ke Divisi 53 Kepolisian Toronto dengan nomor laporan kejadian 26-1996235. Li menambahkan bahwa dalam kapasitasnya sebagai penghubung komunitas, ia juga melaporkan kejadian ini ke Kepolisian Kerajaan Kanada (RCMP). Namun hingga saat ini, belum ada informasi lanjutan yang disampaikan oleh kedua pihak kepolisian kepada para praktisi.

Respon dari Berbagai Wilayah Kanada

Reaksi di Kanada muncul dengan cepat dan datang dari kalangan yang jauh lebih luas di luar komunitas Falun Gong.

24 September—Konferensi pers, Toronto. Asosiasi Falun Dafa Toronto menggelar konferensi pers tepat di trotoar lokasi penyerangan. Na Li memberikan pernyataan dengan bekas luka yang masih tampak jelas di dagunya, didampingi oleh perwakilan dari sejumlah organisasi demokrasi dan hak asasi manusia Tionghoa-Kanada. Mereka mendesak agar identitas pelaku segera diungkap dan diproses hukum.

28 September—Aksi unjuk rasa di Global Affairs Canada, Ottawa. Lebih dari 100 praktisi berkumpul di depan kantor Kementerian Luar Negeri Kanada (Global Affairs Canada). Mereka mendesak pemerintah federal untuk mengecam aksi penyerangan tersebut, menekan Beijing melalui jalur diplomatik, serta menyelidiki kemungkinan adanya campur tangan asing. Grace Wollensak, koordinator nasional Asosiasi Falun Dafa Kanada, menyerahkan surat berisi tuntutan tersebut kepada para pejabat Kanada. Pada bulan April lalu, Wollensak juga sempat bersaksi di hadapan subkomite hak asasi manusia DPR Kanada (House of Commons) mengenai apa yang disebut oleh asosiasi sebagai kampanye luar negeri yang terorganisasi untuk menyerang para praktisi.

29 September dan 1 Oktober—Truk papan iklan, Toronto. Sebuah truk yang dilengkapi papan iklan digital menayangkan rekaman video penyerangan dan meminta bantuan masyarakat untuk mengidentifikasi pelaku. Truk tersebut terlihat beroperasi di luar konsulat dan kembali lagi pada 1 Oktober. Sebuah petisi yang digalang oleh Rebel News mendesak Perdana Menteri untuk memastikan pelaku dijatuhi dakwaan, mengusir diplomat mana pun yang terbukti terlibat, serta menutup fasilitas yang disebut sebagai kantor polisi PKT di Kanada. Hingga saat ini, belum ditemukan adanya hubungan resmi antara pelaku dengan pihak konsulat.

1 Oktober—Aksi unjuk rasa gabungan, Toronto. Memperingati Hari Nasional Tiongkok, para demonstran dari komunitas Hong Kong, Tibet, Uighur, penggerak demokrasi Tiongkok, serta Falun Gong berkumpul bersama di luar konsulat. Mereka menegaskan bahwa serangan pada 22 September lalu merupakan bagian dari pola penindasan yang juga ancaman bagi seluruh komunitas tersebut.

Bantahan dari Pihak Konsulat

Setelah video insiden tersebut beredar, Konsulat Jenderal Tiongkok di Toronto menyatakan kepada Rebel News bahwa pria dalam video tidak memiliki kaitan apa pun dengan pihak perwakilan diplomatik. Pihak konsulat menolak keras apa yang mereka sebut sebagai giringan opini jahat atau tuduhan palsu yang dirancang untuk merusak nama baik Tiongkok serta konsulatnya.

Meski demikian, klaim bantahan tersebut belum teruji. Identitas pria itu belum diungkap ke publik, dan sejauh ini belum ada bukti resmi yang menunjukkan siapa dirinya atau apakah ada pihak yang mengarahkannya. Pertanyaan-pertanyaan inilah yang justru mendesak untuk diungkap oleh penyidik Kanada, sebagaimana dituntut oleh komunitas Falun Gong dan organisasi-organisasi Tionghoa-Kanada yang mendampinginya.

Otoritas Tiongkok sendiri secara konsisten selalu membantah tuduhan mengenai penganiayaan agama dan keyakinan maupun praktik campur tangan asing.

Pola yang Berulang

Insiden di Toronto ini juga terjadi hanya beberapa hari sebelum peristiwa terpisah di Washington, tempat seorang praktisi Falun Gong mengaku menjadi korban penganiayaan fisik saat mengikuti unjuk rasa menyambut kunjungan kenegaraan Xi Jinping ke Amerika Serikat.

Falun Dafa Information Center telah mendokumentasikan berbagai aksi penyerangan fisik terhadap para praktisi di stan-stan informasi di London, New York, Pulau Jeju, dan sejumlah kota lainnya. Aksi-aksi tersebut berjalan beriringan dengan intimidasi, pemantauan, serta kampanye tekanan yang menyasar para praktisi yang bermukim di luar negeri.

Ketika mengumumkan sanksi terhadap para pejabat Tiongkok pada tahun 2024, Kementerian Luar Negeri Kanada (Global Affairs Canada) menegaskan bahwa otoritas Tiongkok telah melakukan penahanan sewenang-wenang, kerja paksa, dan penyiksaan terhadap para praktisi sejak penindasan tersebut dimulai.

Seruan Bertindak

Falun Dafa Information Center menyerukan kepada:

  • Pihak Kepolisian Toronto untuk segera mengidentifikasi pria tersebut tanpa menunda-nunda lagi dan menjatuhkan pasal dakwaan yang sesuai dengan bukti-bukti yang ada. Ancaman untuk menyuruh orang menembak seseorang, yang terekam jelas oleh kamera di trotoar umum, tidak boleh dibiarkan begitu saja tanpa kejelasan hukum setelah dua minggu berlalu.

  • RCMP dan CSIS untuk memeriksa apakah Undang-Undang Penanggulangan Campur Tangan Asing (Countering Foreign Interference Act)—undang-undang Kanada tahun 2024 yang mengatur tindakan intimidasi, ancaman, dan kekerasan yang dilakukan atas perintah, demi kepentingan, atau berasosiasi dengan entitas asing—dapat diterapkan pada kasus ini, serta menentukan apakah peristiwa ini merupakan aksi tunggal yang terisolasi atau berkaitan dengan kampanye intimidasi yang lebih luas.

  • Kementerian Luar Negeri Kanada (Global Affairs Canada) untuk mengecam aksi penyerangan ini secara terbuka dan menyampaikannya secara langsung kepada pihak Beijing, sekaligus menegaskan bahwa jalanan Kanada bukanlah perpanjangan dari wilayah hukum Tiongkok.

  • Masyarakat luas dan media massa untuk menyuarakan insiden ini serta memberikan dukungan kepada para praktisi yang mendapat ancaman hanya karena menyuarakan kebenaran.

Share