Seorang Wanita Ancam Laporkan Praktisi Falun Gong ke Kedubes Tiongkok Saat Aksi Damai di Athena

Seorang wanita asal Tiongkok berteriak dan mengancam Teng, serta mengaku telah mengambil foto-foto Teng dan mengirimkannya ke Kedutaan Besar Tiongkok. (Teng)

Seorang wanita asal Tiongkok berteriak dan mengancam Teng, serta mengaku telah mengambil foto-foto Teng dan mengirimkannya ke Kedutaan Besar Tiongkok. (Teng)

Seorang wanita Tiongkok berulang kali mengambil foto seorang praktisi Falun Gong saat aksi damai di pusat kota Athena pada 9 Oktober 2026, lalu mengancam akan mengirimkan foto-foto tersebut ke Kedutaan Besar Tiongkok. Ia juga memperingatkan praktisi bernama Teng tersebut—seorang wanita warga Tiongkok yang bermukim di Jerman dan datang ke Athena khusus untuk acara tersebut—bahwa ia tidak akan pernah bisa pulang ke Tiongkok.

Petugas kepolisian Yunani yang bertugas di lokasi langsung bertindak dan meminta wanita tersebut menghapus foto-foto yang diambilnya. Wanita itu menolak, meski akhirnya pergi meninggalkan lokasi. Laporan ini disusun berdasarkan kesaksian Teng serta rekaman video yang diambilnya saat kejadian.

Falun Dafa Information Center menyampaikan apresiasi kepada kepolisian Yunani karena telah melindungi hak para praktisi untuk berkumpul secara damai dan menyampaikan pendapat secara bebas. Ancaman untuk melaporkan seseorang ke Kedutaan Besar Tiongkok maupun peringatan akan dampak buruk di Tiongkok merupakan bentuk upaya mengekspor penganiayaan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT). Tindakan semacam ini tidak semestinya terjadi di jalanan Eropa atau di bagian dunia mana pun.

Ancaman di Depan Para Wisatawan

Teng, yang saat itu mengenakan kaus bertuliskan “Falun Dafa Baik”, tengah mengobrol dengan dua orang wisatawan asal Tiongkok ketika wanita tersebut mendadak menyela. Wanita itu mulai berteriak dan mengancam para praktisi, mengaku akan memotret mereka dan mengirimkan foto-fotonya ke Kedutaan Besar Tiongkok.

Para praktisi memberitahunya bahwa ia bebas merekam suasana aksi damai dan seluruh rangkaian acara publik tersebut. Namun, wanita itu justru terus menerus memotret Teng seorang diri dan memperingatkannya bahwa Teng tidak akan pernah bisa kembali ke Tiongkok.

Beberapa praktisi dari negara Barat juga berusaha memberikan pengertian kepadanya. Salah seorang dari mereka mengatakan bahwa wanita tersebut sempat menuduh praktisi Falun Gong selalu menyebut Tiongkok buruk dan membenci Tiongkok. “Itu tidak benar, kami mencintai Tiongkok, tetapi kami tidak menyukai PKT,” tegas praktisi tersebut. “Semua warga Tiongkok di sini sebenarnya ingin kembali ke tanah airnya, tetapi PKT terus menganiaya mereka.”

Bagi seorang praktisi asal Tiongkok yang bermukim di luar negeri, ancaman seperti ini sangat berdampak nyata. Sebagaimana didokumentasikan di bawah ini, otoritas Tiongkok kerap memanfaatkan anggota keluarga di dalam negeri untuk menekan mereka yang berada di luar negeri.

Dua Wisatawan Lain Turut Mendengarkan

Seorang petugas polisi Yunani langsung bertindak dan meminta wanita tersebut menghapus foto-foto yang diambilnya. Wanita itu menolak, meski akhirnya pergi meninggalkan lokasi. Dalam rekaman video milik Teng, wanita tersebut terdengar mengaku memiliki izin tinggal (green card) di Yunani.

Aksi kemarahan wanita tersebut sama sekali tidak menyurutkan langkah Ibu Teng untuk terus berinteraksi dengan para pengunjung. Begitu wanita itu pergi, Teng bertemu dengan dua wisatawan Tiongkok lainnya di lokasi acara.

Ia menceritakan kepada mereka bahwa Falun Gong tadinya sangat populer di Tiongkok karena terbukti meningkatkan kesehatan sekaligus moralitas masyarakat. Namun seiring pesatnya pertumbuhan jumlah praktisi, PKT justru melarang latihan ini dan mulai menganiaya para pengikutnya. Teng menyampaikan bahwa penganiayaan ini kelak pasti akan dituntut pertanggungjawabannya, dan ia berharap warga Tiongkok yang sudah memahami kebenaran tidak akan ikut terseret.

Mendengar penjelasan itu, kedua wisatawan muda tersebut akhirnya sepakat untuk mundur dari organisasi PKT dan Liga Pemuda Komunis menggunakan nama samaran. Langkah ini menjadi bentuk pelepasan atas sumpah yang pernah mereka ucapkan saat bergabung untuk menyerahkan seluruh hidup mereka kepada komunisme.

Praktisi Falun Dafa menggelar parade dan aksi damai pada 9 dan 10 Oktober di Athena untuk menyuarakan kesadaran tentang penganiayaan yang terjadi di Tiongkok. (Minghui.org)

Insiden ini terjadi dalam rangkaian acara selama dua hari, di mana para praktisi dari seluruh Eropa bergabung dengan Marching Band Tian Guo menggelar empat kali parade di pusat kota Athena untuk menyerukan penghentian penganiayaan Falun Gong oleh PKT.

Pola yang Terus Berulang

Insiden di Athena ini merupakan kejadian terbaru dari rangkaian konfrontasi yang menargetkan para praktisi Falun Gong saat menyuarakan fakta penganiayaan di ruang publik luar negeri.

Pada akhir Februari 2026, dua praktisi wanita diserang di stan informasi di Kota New York dan London hanya dalam rentang waktu empat hari. Menanggapi insiden serangan di luar British Museum, London tersebut, Menteri Keamanan Inggris Dan Jarvis menegaskan dalam suratnya bahwa “kejahatan apa pun di wilayah Inggris yang dikendalikan oleh negara asing terhadap seorang individu tidak akan pernah ditoleransi.” Selain itu, pada 22 September, seorang pria mengancam akan merobek papan informasi dan menembak seorang praktisi di luar Konsulat Tiongkok di Toronto.

Berdasarkan kesaksian tertulis kepada Komisi Eksekutif Kongres AS untuk Tiongkok, Falun Dafa Information Center mencatat ada 388 insiden penindasan lintas negara terhadap Falun Gong di 25 negara sepanjang Maret 2024 hingga Mei 2026.

Melalui investigasi China Targets pada tahun 2025, International Consortium of Investigative Journalists menemukan fakta bahwa separuh dari 105 target yang diwawancarai mengaku kerabat mereka di Tiongkok diintimidasi serta diinterogasi oleh polisi atau aparat keamanan negara. Beberapa di antaranya bahkan mengungkapkan bahwa intimidasi tersebut terjadi hanya beberapa jam setelah mereka ikut serta dalam aksi protes atau acara publik di luar negeri. Bentuk tekanan psikologis inilah yang menjadi kekuatan nyata di balik ancaman untuk melaporkan seseorang ke kedutaan.

Seruan Bertindak

Falun Dafa Information Center menyerukan kepada:

  • Kepolisian Yunani untuk mendokumentasikan insiden pada 9 Oktober tersebut, menyimpan seluruh catatan identitas wanita bersangkutan beserta bukti foto-fotonya, serta terus mengawal hak para praktisi untuk berkumpul dan menyampaikan pendapat secara bebas.

  • Kementerian Luar Negeri Yunani untuk menegaskan kepada Kedutaan Besar Tiongkok di Athena bahwa segala bentuk intimidasi di wilayah Yunani, termasuk ancaman pelaporan ke otoritas Tiongkok, sama sekali tidak akan ditoleransi.

  • Uni Eropa beserta negara-negara anggotanya untuk mengategorikan ancaman semacam ini sebagai bentuk penindasan lintas negara dan meningkatkan perlindungan bagi mereka yang menjadi sasaran.

  • Masyarakat luas dan media untuk menyebarluaskan pemberitaan mengenai insiden ini serta bersolidaritas bersama para praktisi yang mendapat ancaman karena berani bersuara menentang penganiayaan.

Share