Suami Meninggal 7 Tahun Setelah Menjadi Gila Saat Ditahan, Istri Terus Berjuang Mencari Keadilan

Minghui.org

Oleh  Seorang koresponden Minghui di Kota Tianjin. | 06-10-2018

Seorang tahanan hati nurani Ren Dongsheng, menderita akibat tangannya dibakar dengan korek api, wajahnya ditampar, dan jari kakinya diinjak hingga kuku-kukunya terlepas. Ia dipaksa memakan makanan yang dibuang ke tanah, dan saat tangan serta kakinya dibelenggu, makanan sengaja diletakkan di luar jangkauannya.

Ketika masa hukuman penjara lima tahunnya berakhir, ia langsung dikirim ke pusat pencucian otak, di mana ia ditipu untuk mengonsumsi bubuk putih yang tidak dikenal. Pada saat ia dibebaskan seminggu kemudian, keluarganya menyadari bahwa ia bukan lagi orang yang sama seperti yang mereka ingat. Ibunya, yang berusia 80-an, sangat trauma melihat putranya kehilangan kewarasan setelah penantian selama lima tahun hingga ia jatuh pingsan.

Penderitaan Ren dimulai pada 8 Maret 2006, ketika dia ditangkap karena menolak melepaskan Falun Gong, sebuah disiplin spiritual yang dianiaya oleh rezim komunis Tiongkok. Dia dijatuhi hukuman lima tahun dan menderita penyiksaan yang tak terbayangkan di Penjara Gangbei di Kota Tianjin.

Istri Ren, Zhang Liqin, juga berlatih Falun Gong. Dia dipecat dari pekerjaannya satu bulan setelah penangkapan suaminya. Dia sendiri ditangkap pada 12 Februari 2009, dan dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara. Ketika dia dibebaskan pada 11 Februari 2016, yang menyambutnya di rumah adalah seorang suami yang psikotik serta perabotan dan jendela yang hancur.

Ren Dongsheng, setelah dia menjadi gila

Zhang mengajukan pengaduan pada Oktober 2016 terhadap delapan penjaga yang paling bertanggung jawab atas penyiksaan suaminya dan gangguan mental yang diakibatkannya. Dia kemudian ditahan selama 35 hari dan harus tinggal jauh dari rumah untuk jangka waktu tertentu guna menghindari pelecehan oleh pihak berwenang. Meskipun demikian, dia melanjutkan usahanya untuk mencari keadilan dan kompensasi bagi suaminya

Dia menerima pemeriksaan oleh Pengadilan Tinggi Kota Tianjin pada 4 September 2018, dan merinci bagaimana suaminya disiksa di penjara.

Sambil menunggu keputusan dari pengadilan tinggi, Ibu Zhang sangat terpukul karena kehilangan suaminya delapan hari kemudian.

Ren meninggal pada pukul 02.00 dini hari tanggal 12 September 2018, dua minggu sebelum Festival Pertengahan Musim Gugur, salah satu hari libur terpenting di Tiongkok.

Beban Hidup yang Tak Tertanggungkan

Ren dibesarkan di Distrik Jinghai, tempat yang terkenal dengan produksi cukanya. Dia pandai memasak, dan orang-orang menyukai masakannya. Bersama istrinya, ia membuka restoran yang sukses.

Ren didiagnosis menderita radang sendi (rheumatoid arthritis) pada usia 25 tahun. Dengan kedua lutut dan pergelangan kaki bengkak parah, dia tidak dapat menangani pekerjaan berat. Lebih buruk lagi, penyakit jantung rematik menyerangnya pada usia 36 tahun, seringkali membuatnya muntah darah. Dia kehilangan kemampuan untuk bekerja dan harus tinggal di rumah. Dia mencoba segalanya mulai dari pengobatan Tiongkok hingga pengobatan Barat, tetapi tidak ada yang berhasil.

Beban merawatnya ditanggung istrinya, Zhang, yang harus menghidupi seluruh keluarga, merawat suami dan putranya, serta melakukan pekerjaan rumah tangga. Dia menderita leukemia, masalah leher, dan penyakit jantung. Dia harus mengantongi obat setiap saat dan perlu istirahat bahkan setelah berjalan beberapa meter. Frustrasi dan kecewa, pasangan itu menggantungkan semua harapan mereka pada putra mereka, Jianfeng, seorang siswa sekolah menengah dan salah satu siswa terbaik di kelasnya.

Sayangnya, perubahan hidup yang tiba-tiba ini juga memengaruhi Jianfeng. Dia berbicara lebih sedikit, menjadi lelah belajar, dan kemudian memutuskan untuk berhenti sekolah. Ren berkata kepada istrinya suatu hari dalam keputusasaan, “Saya berpikir untuk membeli sebungkus racun untuk kita bertiga, karena siapa pun di antara kita yang tertinggal akan menghadapi penderitaan yang tiada akhir.” Dengan kata-kata itu, keluarga yang beranggotakan tiga orang itu berpelukan dan menangis.

Titik Balik

Ren dan istrinya melanjutkan latihan Falun Gong mereka pada tahun 2003 (mereka telah berlatih sebelumnya tetapi berhenti karena takut setelah penganiayaan dimulai pada tahun 1999). Kesehatan mereka pulih, dan penyakit mereka hilang. Jianfeng menjadi anak yang bahagia lagi. Dia tidak lagi menarik diri dari pergaulan dan mendapat nilai lebih baik di sekolah.

Mengikuti prinsip Sejati-Baik-Sabar. Ren dan istrinya selalu berusaha menjadi warga negara yang baik dan orang yang lebih baik. Ketika rumah mereka sedang direnovasi, kontraktor mereka tidak  memenuhi persyaratan yang telah mereka sepakati. Dia tidak hanya berbohong kepada pasangan itu tetapi juga menuntut mereka. Perseteruan berlanjut sampai setelah pasangan itu mulai berlatih Falun Gong. Ren mendatangi kontraktor dan menawarkan rekonsiliasi atas kerugiannya sendiri. Terharu oleh ketulusannya, kontraktor itu berterima kasih padanya dan memujinya di depan orang lain.

Ditangkap karena Keyakinannya

Kebahagiaan keluarga tidak berlangsung lama. Ren ditangkap pada 8 Maret 2006, setelah dilaporkan karena memberi tahu orang-orang pengalaman positifnya setelah berlatih Falun Gong. Enam bulan kemudian, dia dijatuhi hukuman lima tahun di Penjara Gangbei (kemudian dikenal sebagai Penjara Binhai).

Karena dia menolak untuk melepaskan keyakinannya, para penjaga penjara menyiksa Ren dengan berbagai cara. Dia diikat dengan jangkar lantai (floor anchors) sebanyak enam kali; kakinya direntangkan dan dibelenggu ke jangkar lantai, sementara tubuhnya membungkuk dengan pergelangan tangan diborgol ke satu pergelangan kaki. Setiap kali setelah dia dilepaskan dari jangkar, dia tidak dapat berdiri, dan akan memakan waktu lama baginya untuk kembali normal.

Ilustrasi penyiksaan: Jangkar lantai

Ren berulang kali dipukuli dan jari-jarinya dibakar. Dia dipaksa memakan makanan yang dibuang ke tanah. Dia juga ingat diberi obat-obatan yang tidak dikenal.

Beberapa deskripsi di atas diceritakan kepada keluarganya ketika Ren sesekali berpikiran jernih setelah dia dibebaskan dari penjara. Kisah-kisah penganiayaan lain terhadapnya diberikan oleh praktisi lain yang telah dipenjara bersamanya dan kemudian dibebaskan.

Suami dan Istri Dipenjara

Setelah penangkapan Ren, istrinya, Zhang, juga terkena dampaknya. Majikannya, sebuah perusahaan penagihan jalan tol, memecatnya. Putra mereka, Jianfeng, yang sudah diterima di perguruan tinggi, harus putus kuliah karena kesulitan keuangan. Dia dan ibunya bekerja serabutan untuk mencari nafkah.

Zhang tidak diizinkan mengunjungi suaminya di pusat penahanan setempat karena dia juga seorang praktisi Falun Gong. Secara hukum, setiap anggota keluarga dapat mengunjungi narapidana.

Zhang ditangkap pada 22 Oktober 2009, dan dijatuhi hukuman 7 tahun di Penjara Wanita Tianjin. Dia pernah dipaksa berdiri selama 8 hari berturut-turut, menyebabkan tekanan darahnya melonjak ke tingkat yang sangat berbahaya. Tungkai dan lengannya juga menjadi bengkak.

Setidaknya tujuh narapidana ditugaskan untuk mengawasinya setiap hari. Kemudian dia dipaksa duduk diam di “bangku kecil untuk waktu yang lama, menyebabkan rasa sakit di sekujur tubuhnya.

Suatu hari Zhang menangis ketika memikirkan bagaimana dia dan praktisi lain menderita karena keyakinan mereka. Seorang narapidana yang ditugaskan untuk mengawasinya melihat ini dan juga menangis. Dia bertanya, “Kami berakhir di sini karena uang, keluarga, atau perkelahian. Kenapa kamu di sini?” Zhang menjawab, “Karena saya mencoba menjadi orang yang lebih baik dengan mengikuti prinsip Sejati-Baik-Sabar.”

Perjuangan Sang Putra

Karena kedua orang tuanya dipenjara, Jianfeng hidup sebatang kara. Dia bekerja keras tetapi hampir tidak punya uang tersisa setelah memasukkan uang ke rekening kantin (commissary) orang tuanya.

Pada hari-hari puncak musim dingin , Jianfeng harus menahan hawa dingin yang menusuk dan bahkan tidak bisa memasak karena tidak punya air akibat pipa-pipa yang membeku. “Air mata saya terus mengalir, dan kemudian saya tertidur sambil menangis. Dan saya tidak lagi merasa lapar…” kenang Jianfeng.

Untuk menghemat uang, dia terutama makan mie instan. Di tempat kerja, dia memilih shift malam karena pabriknya memiliki pengatur suhu dan membuatnya lebih mudah melewati malam yang panjang dan dingin.

Jianfeng juga harus menahan cemoohan orang. Beberapa orang menertawakannya atau mendiskriminasinya karena penahanan orang tuanya.

Menjadi Gila

Pada Juli 2010, sekitar 8 bulan sebelum pembebasan Ren, keluarganya ditolak mengunjunginya di penjara. Atas permintaan berulang dari ibunya, petugas menunjukkan video Ren, di mana dia gelisah dan berperilaku tidak normal.

Ren dijadwalkan akan dibebaskan pada 7 Maret 2011. Ibunya, yang sudah berusia 80-an, dan putranya Jianfeng tidak dapat menemuinya pada hari itu. Tujuh hari kemudian, mereka disuruh menjemputnya di pusat pencucian otak.

Jianfeng terkejut melihat ayahnya bukan lagi pria kuat dan penyayang yang diingatnya. Ren terus bergumam dan menunjukkan perilaku aneh. Ibunya sangat sedih sehingga dia menangis dan pingsan

Ren tetap dalam kondisi psikotik hampir sepanjang waktu setelah dia kembali ke rumah. Dia menolak rambutnya dipotong dan menghancurkan semua yang dilihatnya. Dia berlari keluar sambil berteriak pada hari-hari hujan. Kadang-kadang, dia meninggalkan rumah di tengah malam dan kembali berhari-hari kemudian dengan tubuh berselimut kotoran.

Setiap kali seseorang menyebut polisi, Ren akan bergumam bahwa dia harus lari atau polisi akan menangkapnya. Dia akan lari ke luar dan kemudian tidur di pinggir jalan.

Terkadang dia tiba-tiba bangun di tengah malam, berteriak, “Aku tidak takut padamu.” Dia sering menganiaya ibunya dan memukuli putranya. Suatu kali, dia mengusir ibunya ke luar rumah pada Malam Tahun Baru, meninggalkan wanita tua itu berdiri sendirian di jalan. Di lain waktu, dia memukuli putranya karena pergi memeluk neneknya dan menangis..

Ada sangat sedikit momen ketika Ren berpikiran jernih. Dia berkata, “Jika saya tidak melepaskan keyakinan saya, mereka [penjaga dan narapidana] akan memukuli saya sampai mati.”

Meskipun kondisi mental Ren demikian, personel dari kepolisian Distrik Jinghai dan Kantor 610 sering datang mengganggunya..

Perjalanan Panjang Mencari Keadilan

Empat hari setelah Tahun Baru Imlek 2016, Zhang dibebaskan setelah 7 tahun dipenjara. Setibanya di rumah, dia melihat pecahan kaca, perabotan rusak, atap bocor, dan yang paling memilukan — suami yang mengalami disorientasi mental

Zhang memperbaiki pintu, jendela, dan perabotan, hanya untuk melihatnya dihancurkan lagi oleh suaminya. Terkadang, suaminya mengejarnya dan putra mereka dengan tongkat atau pisau dapur di tangan. Dia memutuskan untuk mencari tahu apa yang terjadi pada suaminya saat di penjara yang mengakibatkan kegilaannya.

Melalui berbagai sumber, dia menemukan bahwa delapan penjaga di Penjara Binhai adalah yang paling bertanggung jawab atas penyiksaan suaminya. Ketika tim inspeksi dari pemerintah pusat mengunjungi Tianjin pada Oktober 2016, dia mengajukan pengaduan awal terhadap para penjaga, yang menyebabkan penahanannya selama 35 hari.

Pada April 2017, Zhang memperoleh hasil pemeriksaan kondisi suaminya dari Rumah Sakit Jiwa Zhengzhou, hasil pemeriksaan tersebut akan digunakan sebagai bukti untuk menggugat para pelaku.

Untuk menghentikannya, polisi dari Distrik Jinghai, kantor polisi setempat, dan departemen kehakiman terus mengganggunya di rumahnya. Ini memperburuk gangguan mental suaminya. Dia harus tinggal jauh dari rumah untuk jangka waktu tertentu.

Pada 22 Juni 2017, dia secara resmi mengajukan pengaduan pidana ke berbagai lembaga pemerintah, termasuk Kejaksaan Agung (Supreme People’s Procuratorate), dan kantor kejaksaan setempat. Selain itu, dia menyerahkan dokumen ke Penjara Binhai untuk meminta kompensasi uang. Sebagian besar Lembaga tersebut mengabaikannya, sementara yang lain menolak kasusnya.

Sambil memperjuangkan keadilan untuk suaminya, dia harus menanggung derita karena kondisi suaminya. Suaminya terkadang mengusir nya keluar di tengah malam, membuatnya tidak punya tempat tujuan. Trauma dengan penderitaan menantu mereka, ayah Zhang dirawat di rumah sakit sampai lima kali dan ibunya dua kali.

Zhang terkadang harus melewatkan makan untuk menghemat uang guna bepergian ke berbagai tempat mencari keadilan bagi suaminya. Saat hujan, dia memastikan untuk membungkus dokumen gugatan dengan kantong plastik dan memeluknya erat di dada.

Pada 9 Mei 2018, Pengadilan Menengah Pertama Tianjin menyetujui permintaan Zhang untuk mengajukan kasusnya. Dia menjelaskan kepada Pengadilan Tinggi Kota Tianjin pada 4 September mengapa dia mencari kompensasi. Mengingat apa yang telah terjadi pada suami dan keluarganya membuatnya menangis.

Delapan hari kemudian, pada 12 September, suaminya meninggal dunia. Putranya berkata, “Saya telah merasakan sakit yang luar biasa akibat penganiayaan ini kepada keluarga saya sejak saya masih kecil. Namun dalam lingkup yang lebih besar, kerugian yang ditimbulkan oleh penganiayaan ini terhadap bangsa dan masyarakat kita tidak terukur.”

Baca artikel aslinya di sinihttp://en.minghui.org/html/articles/2018/9/22/172022.html   

Share