Amerika Serikat Seharusnya Menekan Tiongkok Terkait Falun Gong

Oleh  Katrina Lantos Swett & Mary Ann Glendon for CNN (Kutipan) | 09-06-2017

Catatan Editor: Katrina Lantos Swett adalah ketua Komisi Amerika Serikat untuk Kebebasan Beragama Internasional (USCIRF). Mary Ann Glendon adalah wakil ketua USCIRF. Pandangan yang disampaikan adalah milik mereka sendiri.

Pada 20 Juli, Falun Gong – sebuah gerakan damai yang didirikan pada tahun 1992 dan memiliki ciri khas latihan meditasi serta ajaran moral – memperingati 14 tahun sejak dimulainya kampanye pemerintah untuk melawan mereka. Sudah waktunya bagi Washington dan dunia untuk memperhatikan penderitaan mereka.

Upaya Beijing melawan Falun Gong, yang bermula dari kekhawatiran atas pertumbuhannya yang pesat sebagai kelompok berpikiran independen yang berkembang di luar ideologi dan kendali Komunis, sungguh luar biasa. Pemerintah telah mengerahkan seluruh lapisan masyarakat Tiongkok – mulai dari media hingga polisi, dari pendidikan hingga kejaksaan – secara khusus untuk melawan para anggotanya. Kampanye propaganda yang gencar melabeli para praktisi sebagai orang yang “terobsesi”, “jahat”, “tidak seimbang”, dan ancaman seperti sekte terhadap negara. Pemerintah diduga telah membentuk pasukan polisi di luar hukum, yang disebut Kantor 6-10, yang memburu, menangkap, dan menahan mereka tanpa pengadilan di pusat-pusat “re-edukasi melalui kerja paksa”, di mana mereka disiksa dan dianiaya, dan mereka diperkirakan mencakup setengah dari jumlah tahanan. Para praktisi juga dikirim ke rumah sakit jiwa di mana mereka dilaporkan dipaksa menjalani pemberian obat-obatan, sengatan listrik, dan pemukulan.

Mereka yang dibawa ke pengadilan melihat pengacara mereka dicabut izin praktiknya atau dipenjarakan. Salah satu tahanan politik paling terkenal di Tiongkok, Gao Zhisheng, telah menanggung sepuluh tahun penyiksaan dan pemenjaraan sebagian karena “kejahatan” melakukan pekerjaan hukum untuk membela mereka.

Ada bukti mengerikan yang menunjukkan bahwa bisnis transplantasi organ yang sangat besar dan produktif dilakukan dengan menggunakan organ yang diambil tanpa persetujuan dari praktisi Falun Gong dan tahanan lainnya, yang menguntungkan industri wisata organ di Tiongkok. Faktanya, pejabat Tiongkok telah mengakui bahwa pengambilan organ dari para tahanan adalah sebuah masalah dan berjanji untuk menanganinya. Namun, karena kurangnya transparansi di Tiongkok, mustahil untuk menentukan apakah langkah-langkah nyata telah benar-benar diambil untuk menghentikan pelanggaran hak asasi manusia yang mengerikan ini.

Kebanyakan warga Amerika tidak tahu banyak tentang serangan Tiongkok terhadap Falun Gong. Kita lebih tahu tentang umat Buddha Tibet dan kelompok Kristen yang tidak terdaftar, atau pendukung demokrasi dan kebebasan berbicara seperti Liu Xiaobo dan Ai Weiwei. Terkait Falun Gong, kasus mereka adalah sebuah penganiayaan tersembunyi yang sudah berlangsung terlalu lama di depan mata kita semua.

Penganiayaan Tiongkok terhadap Falun Gong juga menunjukkan kegagalan total dalam menghormati supremasi hukum. Presiden Xi Jinping harus ditekan untuk memenuhi janjinya dalam menegakkan hukum dengan membubarkan organisasi seperti Kantor 6-10 dan pusat-pusat re-edukasi, serta segera menghentikan praktik keji pengambilan organ tanpa persetujuan dari praktisi Falun Gong dan tahanan lainnya. Selain itu, pemerintah harus berhenti mengintimidasi pengacara yang membela kasus Falun Gong dan kasus politik sensitif lainnya.

Terakhir, penindasan kejam terhadap Falun Gong menyoroti upaya berkelanjutan Tiongkok dalam melakukan sensor internet. Materi dan situs web Falun Gong adalah konten yang paling banyak diblokir di Tiongkok. Amerika Serikat harus mendukung peningkatan ketersediaan teknologi penembus sensor (firewall) yang sudah teruji bagi individu dan bisnis yang beroperasi di Tiongkok. Internet yang terbuka adalah salah satu cara krusial untuk memajukan hak asasi manusia dan demokrasi, sekaligus mempromosikan kebebasan beragama dan berkeyakinan. Hal ini juga menjadi kebutuhan vital bagi jutaan bisnis di Tiongkok.

Pada akhirnya, kisah Falun Gong adalah kisah tentang ketergantungan Partai Komunis Tiongkok (PKT) pada tembok-tembok untuk memperkuat kekuasaan mereka dan melindungi diri dari para pengeritik. Mulai dari tembok penjara, tembok diskriminasi hukum, hingga tembok api (firewall) internet, para pemimpin Tiongkok takut akan keterbukaan dan kebebasan saat mereka berusaha meningkatkan status Tiongkok sebagai kekuatan besar. Namun, bersembunyi dari kebebasan bukanlah cara berperilaku sebuah kekuatan besar. Amerika Serikat harus menekan Tiongkok untuk membiarkan kebebasan berkeyakinan dan berpendapat berkembang, dimulai dari para praktisi Falun Gong.

Ini adalah kutipan dari CNN. Artikel aslinya dapat ditemukan di sini. 

Share