Artikel di American Journal of Transplantation Menyalahkan Dokter-Dokter Tiongkok dalam Eksekusi
Pada tanggal 2 April, American Journal of Transplantation menerbitkan sebuah artikel tentang pengambilan organ di Tiongkok yang berjudul “Execution by organ procurement: Breaching the dead donor rule in China.”
Artikel ini mendokumentasikan 71 kasus pelanggaran aturan donor mati (DDR) yang dijelaskan dalam artikel penelitian Tiongkok tentang transplantasi organ. DDR adalah pedoman etika yang diakui secara internasional yang menetapkan bahwa donor organ harus dinyatakan mati otak sebelum organ dapat diambil, dan bahwa pengambilan organ tidak boleh menyebabkan kematian donor.
“Dalam kasus-kasus ini, pengambilan jantung selama pengadaan organ pasti merupakan penyebab langsung kematian donor. Karena donor organ ini pastilah para tahanan, temuan kami sangat menunjukkan bahwa dokter di Republik Rakyat Tiongkok telah berpartisipasi dalam eksekusi dengan pengambilan organ,” tulis para penulis, Matthew P. Robertson dari Universitas Nasional Australia dan Jacob Lavee dari Pusat Medis Sheba di Universitas Tel Aviv.
Temuan ini mendukung bukti yang ada tentang pengambilan organ secara paksa dari praktisi Falun Gong yang telah terungkap dalam dua dekade terakhir.
Melanggar Aturan Donor yang Meninggal
Para penulis menganalisis basis data yang berisi 124.770 publikasi transplantasi berbahasa Mandarin dan menyaring publikasi tentang transplantasi jantung dan paru-paru setelah tahun 1980. Menggunakan algoritma komputer, mereka mengidentifikasi 310 makalah dengan deklarasi kematian otak yang bermasalah untuk ditinjau secara manual. Para peneliti menyimpulkan, “Kami menemukan bukti dalam 71 laporan ini, yang tersebar di seluruh negeri, bahwa kematian otak tidak dapat dideklarasikan dengan benar.”
“71 makalah yang kami identifikasi hampir pasti melibatkan pelanggaran DDR (aturan donor mati) karena dalam setiap kasus, pembedahan yang dijelaskan tidak memungkinkan adanya penentuan kematian otak yang sah. Padahal, bagian esensial dari penentuan tersebut adalah pelaksanaan tes apnea, yang mana membutuhkan pasien dalam kondisi diintubasi (dipasang alat bantu napas) dan menggunakan ventilator,” sebut studi tersebut. “Dalam kasus-kasus di mana masker wajah digunakan sebagai pengganti intubasi—atau tindakan trakeotomi cepat yang langsung diikuti dengan intubasi, atau di mana intubasi baru dilakukan setelah sayatan dada saat dokter bedah memeriksa jantung yang masih berdetak—tiadanya penentuan kematian otak terlebih dahulu menjadi jauh lebih jelas.”
Narapidana sebagai “Donor”
Literatur medis antara tahun 1980 dan 2015 menunjukkan bahwa Tiongkok adalah negara transplantasi terbesar kedua di dunia berdasarkan volume transplantasi absolut, sementara para peneliti hak asasi manusia menemukan bahwa angka transplantasi organ sebenarnya di Tiongkok jauh lebih tinggi. “Rumah sakit di RRT terus mengiklankan waktu tunggu transplantasi selama beberapa minggu, sedangkan waktu tunggu di Amerika Serikat diukur dalam hitungan bulan dan tahun,” tulis para penulis. Iklan wisata organ ini muncul di situs web dalam bahasa Inggris, Rusia, Arab, dan bahasa lainnya.
Yang memperparah situasi membingungkan ini adalah kurangnya sistem donasi sukarela dan sangat sedikitnya donor sukarela di Tiongkok. Artikel tersebut menyatakan bahwa menurut tiga sumber resmi, termasuk pemimpin sektor transplantasi saat ini, jumlah donor organ sukarela (yaitu, bukan narapidana) di Tiongkok secara kumulatif hingga tahun 2009 hanya sekitar 0,3% dari 120.000 organ yang secara resmi dilaporkan telah ditransplantasikan selama periode yang sama.
Selain itu, pemimpin sektor transplantasi Tiongkok menulis pada tahun 2007 bahwa 95% dari semua transplantasi organ berasal dari narapidana. Jika digabungkan, “secara logis dapat disimpulkan bahwa hampir semua transplantasi organ dalam makalah yang kita pertimbangkan pasti berasal dari narapidana. Kemungkinan ini termasuk narapidana hukuman mati dan tahanan politik,” tulis artikel tersebut.
Laporan Media
Beberapa media massa memberitakan publikasi artikel ini. Berikut beberapa kutipan dari publikasi tersebut.
“Tiongkok telah berulang kali dituduh membunuh Falun Gong dan tahanan politik lainnya untuk diambil organnya. Kini, sebuah makalah yang baru saja diterbitkan di American Journal of Transplantation — salah satu jurnal medis paling ter respected di dunia — menyajikan bukti yang meyakinkan bahwa dokter-dokter Tiongkok tidak hanya mengambil organ dari tahanan yang dieksekusi, tetapi pengambilan organ seringkali menjadi cara eksekusi,” tulis sebuah artikel National Review pada 4 April berjudul “Study: Chinese Doctors Executed Prisoners by Organ Removal.”
“Kami menemukan bahwa para dokter menjadi algojo atas nama negara, dan metode eksekusinya adalah dengan mencabut jantung,” ujar salah satu penulis, Robertson, menurut sebuah artikel di Australian Financial Review yang berjudul “Surgeons executed Chinese prisoners for organs, says ANU study.”
“Operasi-operasi ini sangat menguntungkan bagi dokter dan rumah sakit yang terlibat di dalamnya,” jelasnya, “Mungkin masih banyak lagi yang tersembunyi. Ini diambil dari sampel kecil.”
“Para ahli bedah Tiongkok mengambil jantung para narapidana hukuman mati sebelum mereka dipastikan meninggal, menurut sebuah studi transplantasi organ di Australia,” lapor Times dalam sebuah artikel tanggal 5 April dengan judul“Chinese surgeons removed hearts of death-row inmates who were still alive, study suggests.”
“Para peneliti di Universitas Nasional Australia (ANU) memeriksa ribuan makalah medis Tiongkok dan menyimpulkan bahwa para ahli bedah membunuh beberapa tahanan selama operasi, termasuk beberapa ‘tahanan hati nurani’ yang belum dinyatakan mati otak,” tulis artikel tersebut, “Para penulis studi mengatakan bahwa pemodelan komputer mereka membuktikan klaim Tiongkok bahwa semua tahanan mati otak sebelum organ mereka ‘diambil’ itu salah.”










