Bagaimana New York Times Mendistorsi Fakta Mengenai Falun Gong 

Kegagalan Media "Rujukan" dalam Meliput Kekejaman terhadap Falun Gong: Bagaimana Propaganda PKT Justru Diperkuat dengan Dampak yang Fatal

Kantor pusat New York Times (stock.adobe.com)

Diterbitkan: 21 Maret 2024

Temuan Utama

Kampanye kekerasan Partai Komunis Tiongkkok (PKT) untuk memberantas kelompok spiritual Falun Gong merupakan salah satu krisis kemanusiaan paling parah di Tiongkok yang berdampak pada puluhan juta orang serta menghabiskan biaya yang sangat besar. Sayangnya, isu ini jarang diangkat oleh media, sementara para korbannya justru disingkirkan dan difitnah. Menjelang 25 tahun tragedi ini, Falun Dafa Information Center menelaah pemberitaan mengenai Falun Gong di The New York Times —surat kabar yang menjadi barometer media dunia—dan menemukan hasil yang sangat memprihatinkan.

  • Pemutarbalikan Fakta secara Masif: Pemberitaan New York Times (NYT) telah mendistorsi fakta mengenai Falun Gong secara tidak bertanggung jawab, baik terkait hakikat ajaran maupun skala penganiayaan yang dialami praktisinya. Laporan ini mengungkap kegagalan jurnalistik internasional terbesar dalam 25 tahun terakhir, yang berdampak buruk bagi masyarakat di Tiongkok maupun dunia internasional.

  • Sarat Kesalahan Faktual: Liputan NYT mengenai Falun Gong dipenuhi kekeliruan data, mulai dari pernyataan yang menyesatkan hingga pemberian label negatif yang memicu kebencian terhadap kelompok ini. Deskripsi media tersebut mengenai ajaran Falun Gong cenderung tidak akurat dan bias, karena sering kali mengekor pada narasi propaganda PKT. Gambaran Falun Gong dalam berita mereka sangat jauh berbeda dengan kenyataan yang dialami para praktisi maupun hasil penelitian para ahli religi Tiongkok.

  • Menelan Mentah-Mentah Narasi PKT Terkait Penganiayaan: Sejak awal kampanye kekerasan rezim pada Juli 1999, pemberitaan NYT lebih condong pada sumber-sumber pemerintah Tiongkok. Media ini secara membabi buta mengulangi dan seolah-olah mengamini cara pandang rezim dalam membingkai penindasan tersebut. Sikap ini terus bertahan meskipun fakta di lapangan bertentangan dengan laporan awal mereka sendiri maupun temuan terbaru dari berbagai lembaga HAM.

  • Bungkam Atas Fakta Penganiayaan Falun Gong: Dalam dua dekade terakhir, NYT terkesan menutup mata terhadap kekejaman yang dialami praktisi Falun Gong, termasuk isu perampasan organ paksa dari tahanan hati nurani. Sangat ironis bahwa sejak 2016, NYT tidak pernah lagi menerbitkan berita yang fokus mengulas pelanggaran HAM terhadap Falun Gong di Tiongkok, padahal penganiayaan masif masih terus terjadi. Mereka mengabaikan laporan penting dari organisasi internasional dan hasil keputusan China Tribunal London 2019 terkait perampasan organ, serta kasus-kasus kematian dalam penjara yang melibatkan tokoh-tokoh penting. Bahkan, seorang mantan jurnalis NYT mengaku pernah dilarang oleh editornya sendiri saat ingin menginvestigasi skandal transplantasi organ ilegal ini.

  • Berbeda Jauh dengan Media Pesaing: Pada masa awal penindasan, pemberitaan NYT sangat kontras dengan surat kabar ternama lainnya. Ketika NYT justru sibuk memutarbalikkan ajaran Falun Gong dan menjaga hubungan baik dengan pemimpin PKT, media seperti Wall Street Journal dan Washington Post justru meraih penghargaan melalui investigasi mendalam mereka. Mereka membongkar fakta mengenai jatuhnya korban jiwa, struktur kampanye penindasan, hingga kebohongan propaganda rezim. Bahkan di tahun 2019, saat The Guardian dan Reuters gencar memberitakan hasil temuan China Tribunal, NYT justru memilih untuk bungkam.

  • Ketimpangan Liputan Dibanding Isu Uyghur dan Tibet: Sikap diam NYT terhadap Falun Gong terasa kian ganjil jika dibandingkan dengan intensitas mereka dalam meliput isu Uyghur dan Tibet, padahal populasi kedua kelompok tersebut jauh lebih kecil dibanding komunitas Falun Gong di Tiongkok. Sejak 2009, media ini telah merilis ratusan artikel investigasi serta profil para tahanan Uyghur dan Tibet yang menyentuh hati, ditambah puluhan kolom opini dari para ahli. Namun untuk Falun Gong, mereka hanya memublikasikan 7 artikel mengenai penganiayaan tersebut dan tidak pernah memberikan ruang opini bagi satu pun praktisi Falun Gong.

  • Distorsi yang Semakin Parah: Belakangan ini, pemberitaan NYT justru kian bermasalah. Selain mengabaikan fakta pelanggaran HAM terhadap praktisi Falun Gong, beberapa artikel yang mereka rilis justru menunjukkan sikap permusuhan terbuka dengan menyerang organisasi-organisasi yang dikelola praktisi. Tulisan-tulisan negatif tersebut mengulang kekeliruan lama, menambahkan klaim-klaim baru yang salah, dan pada akhirnya justru menguntungkan agenda PKT untuk memfitnah Falun Gong serta membungkam para pengkritik rezim itu.

  • Hilangnya Nyawa dan Hilangnya Akses Informasi Penting: Dampak dari berita yang diputarbalikkan serta sikap tidak bertanggung jawab NYT yang memposisikan praktisi Falun Gong sebagai “korban yang tidak berarti” telah memberi ruang bagi para pelaku untuk terus bebas dari jeratan hukum. Hal ini merampas dukungan internasional yang sangat dibutuhkan para korban, sehingga secara langsung memicu penderitaan yang lebih hebat dan hilangnya banyak nyawa di seluruh Tiongkok. Mengingat eratnya kaitan antara penindasan terhadap Falun Gong dengan isu-isu sentral di Tiongkok—seperti sensor internet, pengawasan massa, kerja paksa, dan lemahnya hukum—sikap diam NYT membuat para pengambil kebijakan dan pelaku usaha kehilangan informasi krusial untuk memahami situasi Tiongkok yang sebenarnya.

  • Pihak yang Diuntungkan oleh Distorsi NYT: Sebaliknya, rezim Tiongkok sangat diuntungkan oleh pemberitaan NYT. Hal ini memperkuat agenda mereka untuk menyisihkan Falun Gong dan menutupi fakta penindasan yang terjadi, sekaligus memberikan legitimasi pada propaganda anti-Falun Gong baik di tingkat domestik maupun internasional. Di sisi lain, dengan memilih untuk tidak mengusik laporan mengenai kampanye sistematis PKT dalam penganiayaan agama terhadap Falun Gong, NYT berhasil menghindari sanksi berat dari rezim Tiongkok (dan bahkan mungkin memperoleh perlakuan khusus).

1. Mengapa Laporan Ini Dibuat?

Seorang pemuda berusia 30 tahun tewas di penjara Tiongkok hanya karena membagikan selebaran; kabar kematiannya viral di Twitter (X) setelah diunggah kawan lamanya. Di tempat lain, sebuah perusahaan teknologi menyisipkan fitur “alarm” pada alat pengintai milik polisi Tiongkok untuk mendeteksi anggota kelompok agama yang sedang ditindas. Di sebuah kota, aparat melakukan penggerebekan massal dan menangkapi puluhan aktivis yang secara damai melawan sensor PKT serta penganiayaan agama. Sementara itu, para penyintas kamp kerja paksa terus melaporkan bahwa mereka dipaksa memproduksi barang ekspor seperti mainan dan alat makan. [1]

Bagi pembaca berita pada umumnya, peristiwa-peristiwa ini jelas merupakan informasi penting yang bernilai kemanusiaan sekaligus relevan bagi dunia bisnis dan politik. Faktanya, untuk kasus yang menimpa pengacara HAM, warga Uyghur, atau Tibet, NYT memberikan porsi pemberitaan yang besar dan mendalam.

Namun, standar berbeda diterapkan jika korbannya adalah warga Tiongkok yang menjalani latihan Falun Gong. Alih-alih mendapatkan simpati, penderitaan mereka lebih sering diabaikan. Bahkan ketika diberitakan, artikel yang muncul justru sarat akan distorsi, kekeliruan, hingga sikap memusuhi, yang menunjukkan betapa buruknya profesionalisme dan bias media tersebut dalam menangani isu ini.

Mungkin terdengar mengejutkan jika media sekelas “surat kabar rujukan” dituding berperilaku tidak bertanggung jawab dan tidak beretika. Namun, bagi Falun Dafa Information Center (InfoCenter)—yang mengemban misi mendokumentasikan pelanggaran HAM terhadap praktisi Falun Gong di Tiongkok—kekecewaan ini telah menumpuk selama dua dekade. Kami melihat betapa penggambaran NYT mengenai Falun Gong dan penganiayaan yang terjadi sangatlah menyimpang dari kenyataan pahit yang dihadapi komunitas kami di lapangan.

Mengingat peringatan 25 tahun penindasan PKT akan jatuh pada Juli 2024, ditambah dengan narasi NYT yang belakangan ini kian memusuhi dan meresahkan, InfoCenter merasa inilah saat yang tepat untuk membedah liputan mereka secara sistematis.

Laporan ini memaparkan secara rinci bagaimana sebuah media besar menutup mata dan memutarbalikkan fakta tentang salah satu krisis kemanusiaan terbesar saat ini. Dampaknya sangat fatal: para korban kehilangan dukungan internasional yang bisa menyelamatkan nyawa mereka, sementara publik kehilangan informasi penting yang seharusnya menjadi dasar dalam mengambil keputusan politik maupun investasi bisnis di Tiongkok.

Pola-pola yang dijabarkan di bawah ini memang tidak hanya terjadi di NYT, namun cara mereka memberikan laporan yang bermasalah—serta sikap diam yang sering ditunjukkan—terasa jauh lebih mencolok dibanding media pesaing. Dampaknya pun lebih luas, sebab NYT memiliki peran kunci sebagai penentu arah opini publik di Amerika Serikat dan dunia; sebuah posisi yang menuntut tanggung jawab besar untuk menyajikan berita secara akurat dan menjunjung tinggi standar jurnalistik.

Kami di InfoCenter tidak sembarangan dalam memutuskan untuk merilis laporan ini. Sebagaimana warga Amerika pada umumnya, kami pun dahulu menganggap NYT sebagai rujukan berita yang andal. Namun, setiap kali mereka mengulas tentang komunitas kami, kami terus-menerus dibuat sangat kecewa. Penelitian versi awal sebenarnya sudah disusun sejak 2008 dan disampaikan secara tertutup kepada ombudsman NYT, namun tidak pernah dipublikasikan.

Setelah lebih dari 15 tahun, kami memperbarui temuan tersebut dan memutuskan untuk mengungkapnya ke publik demi meluruskan sejarah. Langkah ini kami ambil di tengah meningkatnya kritik dari berbagai pihak—termasuk mantan staf NYT sendiri—mengenai masalah etika dan politik di internal redaksi mereka, serta munculnya tren pelaporan baru yang secara terang-terangan menyerang Falun Gong.

Selagi Anda menyimak halaman-halaman berikut, kami hanya meminta Anda untuk membuka hati dan pikiran. Cobalah bayangkan sejenak—jika saudari, ibu, atau putra Anda sendiri yang harus menderita di penjara Tiongkok, menghadapi berbagai kengerian yang tak terbayangkan hanya karena melakukan latihan meditasi yang menyehatkan, atau karena menyebarkan selebaran demi mengungkap penyiksaan terhadap warga tak bersalah—bagaimana perasaan Anda melihat cara NYT menggambarkan sosok mereka serta penderitaan yang mereka lalui?

Metodologi Penelitian

Dalam mengumpulkan data untuk laporan ini, InfoCenter menggunakan basis data artikel NYT yang ditarik langsung dari situs resmi mereka menggunakan API Pencarian Artikel NYT untuk periode 1999 hingga 2024. Data yang diambil mencakup judul, paragraf utama, abstrak, tanggal terbit, rubrik, halaman, nama penulis, URL, hingga isi teks secara utuh.

Seluruh artikel tersebut disimpan dalam basis data SQLite. Para peneliti kemudian menyaring data tersebut berdasarkan kata kunci tertentu, melakukan verifikasi manual untuk membuang artikel ganda, lalu menganalisis dan mengelompokkannya. Ditemukan subset utama sebanyak 159 artikel yang berfokus pada Falun Gong, yang diidentifikasi melalui penyebutan nama tersebut pada judul atau bagian pembuka berita. Untuk setiap data yang disajikan, InfoCenter menyertakan penjelasan mengenai metodologi khusus yang digunakan dalam proses penyaringannya dari kumpulan data besar tersebut.

Latar Belakang Penting

Tempat latihan Falun Gong di Beijing, 1998

Falun Gong, atau Falun Dafa, merupakan sebuah disiplin spiritual berakar dari tradisi Buddha yang memadukan meditasi dan gerakan qigong lembut dengan filosofi moral berlandaskan prinsip Sejati, Baik, dan Sabar (Zhen 真, Shan 善, Ren 忍). Para praktisi berupaya menerapkan nilai-nilai ini dalam keseharian mereka. Latihan ini tidak memiliki struktur organisasi formal, tempat ibadah, ataupun pemuka agama; bagi banyak orang, ini adalah perjalanan spiritual yang bersifat pribadi. Mereka bisa belajar sendiri dari buku dan melakukan gerakan secara mandiri, atau berkumpul bersama kelompok kecil.

Setelah diperkenalkan oleh Master Li Hongzhi pada tahun 1992 di Tiongkok, Falun Gong berkembang sangat pesat dan bahkan sempat mendapat apresiasi dari pemerintah serta media negara di sana. Namun, pada tahun 1999, saat jumlah praktisi diperkirakan mencapai 70 juta orang—melampaui jumlah anggota PKT—pemimpin komunis Jiang Zemin merasa terancam oleh popularitas dan kemandirian komunitas ini. Ia kemudian memerintahkan agar Falun Gong “diberantas” habis pada musim panas 1999. Untuk menjalankan ambisinya, Jiang membentuk satuan keamanan khusus bernama Kantor 610 dengan wewenang tak terbatas untuk menindas Falun Gong dengan cara apa pun.

Pada 20 Juli 1999, rezim memulai penindasan total demi memberantas Falun Gong, yang ditandai dengan pembakaran buku secara massal, penangkapan para praktisi dan koordinator, serta penyebaran fitnah melalui media negara untuk menjelekkan ajaran ini beserta pendirinya. Selama 24 tahun terakhir, jutaan praktisi di Tiongkok mengalami penculikan oleh aparat, dipenjara, disiksa, hingga tewas dalam tahanan. Tercatat lebih dari 5.000 kasus kematian praktisi yang telah didokumentasikan akibat penganiayaan ini. Tak hanya itu, banyak nyawa lainnya (diperkirakan mencapai ratusan ribu orang menurut China Tribunal) tewas akibat perampasan organ secara paksa demi bisnis transplantasi organ miliaran dolar di Tiongkok.[2] Banyak pihak menilai tindakan pemerintah Tiongkok ini sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan, bahkan sejumlah ahli hukum HAM menyebutnya sebagai genosida.[3]

Meski dihantui kengerian tersebut, puluhan juta orang di Tiongkok tetap teguh menjalani latihan Falun Gong karena manfaat kesehatan fisik dan mental yang mereka rasakan. Jejak mereka juga diikuti oleh ratusan ribu orang di lebih dari 100 negara, tanpa memandang perbedaan budaya, bahasa, maupun latar belakang etnis.

Untuk mendalami lebih jauh tentang Falun Gong dan kekejaman yang dialami praktisinya, silakan merujuk pada artikel “Apa Itu Falun Gong?” dan “Penindasan dengan Kekerasan terhadap 100 Juta Orang.

2. Permulaan yang Buruk

Pada masa awal krisis kemanusiaan Falun Gong, NYT seolah lebih sibuk memutarbalikkan fakta ajaran Falun Gong dan menjilat pimpinan PKT. Hal ini sangat kontras dengan media seperti Wall Street Journal dan Washington Post yang justru menghasilkan karya jurnalistik inovatif dan meraih penghargaan atas liputan mereka mengenai penindasan tersebut.

Dunia Barat sempat terperanjat saat lebih dari sepuluh ribu praktisi Falun Gong berkumpul secara damai di luar kompleks kepemimpinan Zhongnanhai pada April 1999. Aksi tersebut merupakan respons atas meningkatnya gangguan serta penangkapan terhadap 40 praktisi di kota tetangga.[4] Kala itu, publik Barat masih sangat awam dengan latihan spiritual ini, meskipun Falun Gong telah berkembang pesat di tengah masyarakat Tiongkok selama tujuh tahun terakhir.

Ketika situasi memburuk dan berujung pada pecahnya penganiayaan secara nasional pada Juli 1999, laporan media Barat awalnya masih dangkal—hanya menyajikan pernyataan resmi pemerintah Tiongkok dibumbui fakta-fakta permukaan. Seiring berjalannya waktu di paruh kedua tahun 1999, investigasi media Barat mulai menajam karena para jurnalis di lapangan mulai memahami duduk perkara krisis tersebut.

Akan tetapi, dalam tiga tahun setelahnya, muncul jurang perbedaan yang sangat kontras dan meresahkan antara kualitas pemberitaan NYT dengan media-media arus utama lainnya.

Laporan Investigasi dan Pembongkaran Propaganda PKT oleh Media Besar Lainnya

Sejak akhir 1999, Wall Street Journal melakukan investigasi mendalam terhadap krisis kemanusiaan yang menimpa Falun Gong. Seri laporan mereka yang terdiri dari 10 artikel berhasil memenangkan Pulitzer pada tahun 2000 karena keberaniannya mengungkap fakta penahanan massal, penyiksaan, hingga kematian praktisi dalam penjara.[5] Media ini juga menjadi pionir dalam membongkar kampanye penindasan lintas negara yang dilakukan PKT terhadap praktisi di Amerika Serikat.[6]

Senada dengan itu, Washington Post juga memberikan liputan yang sangat tajam. Melalui artikel “Cracks in China’s Crackdown” (12 November 1999), mereka menjadi salah satu media internasional pertama yang menunjuk Jiang Zemin, pemimpin PKT kala itu, sebagai dalang tunggal di balik penindasan ini dan sosok yang memerintahkan pemberian label “aliran sesat” pada Falun Gong.”[7] Laporan investigasi mereka yang fenomenal pada 6 Februari 2001, “Human Fire Ignites Chinese Mystery”, menjadi satu-satunya laporan media Barat yang membongkar kejanggalan insiden bakar diri di Lapangan Tiananmen. PKT menggunakan tragedi itu untuk memfitnah Falun Gong, namun investigasi Washington Post membuktikan bahwa para pelakunya ternyata bukan praktisi Falun Gong.[8] Terakhir, pada 5 Agustus 2001, media ini membongkar dokumen rahasia Beijing yang secara terang-terangan memerintahkan penggunaan penyiksaan untuk menghancurkan semangat para praktisi, serta dampaknya yang mengerikan bagi warga di seluruh pelosok negeri.[9]

Pelaporan Dangkal dan Penggambaran Negatif Falun Gong oleh NYT

Jika dibandingkan pada periode yang sama, pemberitaan NYT mengenai Falun Gong cenderung sangat dangkal dan minim riset lapangan. Mereka hampir sepenuhnya mengekor pada pernyataan resmi pemerintah Tiongkok atau hanya meliput aksi protes yang terlihat di permukaan saja. Akibatnya, berita mereka didominasi oleh sudut pandang negatif dan keliru mengenai ajaran Falun Gong. Contoh nyatanya adalah artikel Craig Smith (30 April 2000) yang berjudul “Rooting out Falun Gong; China Makes War on Mysticism”. Meski judulnya seolah mengulas kampanye penindasan rezim, isinya justru lebih banyak berupa opini pribadi Smith yang sinis dan sarat salah tafsir terhadap keyakinan Falun Gong.

Hal ini bukan sekadar kasus tunggal. Antara tahun 1999 hingga 2002, dari total 58 artikel berita NYT mengenai Falun Gong di Tiongkok, sebanyak 44 di antaranya menyudutkan praktisi dengan informasi yang tidak akurat. Hanya ada 9 artikel yang bersifat netral atau positif, sementara 5 lainnya tidak memberikan ulasan yang mendalam.

Dilihat dari isinya, hanya ada 2 dari 58 artikel yang benar-benar murni hasil riset dan investigasi lapangan (bukan sekadar merespons pernyataan pihak lain). Artikel pertama adalah “A Movement in Hiding” karya Craig Smith (5 Juli 2001). Meski mewawancarai seorang praktisi bernama “Lloyd Zhao,” tulisan ini sarat akan kekeliruan dalam menggambarkan prinsip Falun Gong. Artikel kedua, “Beijing in Battle With Sect: ‘A Giant Fighting a Ghost'” (26 Januari 2001) karya Elisabeth Rosenthal, sebenarnya adalah laporan paling informatif dari NYT dalam tiga tahun tersebut. Sayangnya, judulnya menggunakan label “sekte” yang menghina, dan isinya menelan mentah-mentah klaim bahwa lima praktisi telah melakukan aksi bakar diri di Tiananmen. Padahal, hanya sepuluh hari berselang, investigasi mandiri Washington Post berhasil mematahkan narasi tersebut dan membuktikan kebohongannya.[10]

Sejak awal, NYT memang terkesan menerima mentah-mentah propaganda media pemerintah Tiongkok terkait insiden bakar diri tersebut—menggambarkan para pelaku sebagai kelompok fanatik yang menyiksa diri—lalu menyebarkannya kepada publik luas.[11] Mereka mengabaikan fakta dasar bahwa ajaran Falun Gong dengan tegas melarang bunuh diri, serta fakta bahwa orang-orang dalam video tersebut melakukan gerakan meditasi secara keliru.[12] Distorsi informasi oleh NYT ini terus berlanjut, bahkan berbulan-bulan setelah The Washington Post merilis temuan bahwa tokoh kunci dalam insiden itu sebenarnya bukan seorang praktisi Falun Gong.[13]

Pertemuan Tertutup dengan Jiang Zemin, Sang Dalang Penganiayaan

Peristiwa paling mengejutkan selama periode ini bukanlah isi berita yang diterbitkan NYT, melainkan pertemuan pada Agustus 2001 antara delegasi pimpinan media tersebut (termasuk pemiliknya, Arthur Sulzberger Jr.) dengan Jiang Zemin[14]—Padahal, Jiang Zemin adalah sosok yang telah diungkap oleh Washington Post setahun sebelumnya sebagai otak utama di balik penindasan kejam tersebut.[15] Berdasarkan laporan Smith tahun 2017, pertemuan itu bertujuan untuk menjajaki peluang bisnis, termasuk pembuatan New York Times versi bahasa Mandarin. Dalam kesempatan itu, pihak NYT juga mengeluhkan pemblokiran situs mereka di Tiongkok. Secara ajaib, hanya beberapa hari setelah pertemuan tersebut, akses ke nytimes.com dibuka kembali dan bertahan selama sepuluh tahun ke depan. NYT kemudian memublikasikan hasil wawancara eksklusif mereka dengan Jiang.[16]

Pertemuan antara penerbit New York Times, Arthur Sulzberger, dengan mantan pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT), Jiang Zemin, pada tahun 2001 

Maka, ketika Wall Street Journal dan Washington Post tengah meraih Penghargaan Pulitzer melalui investigasi mereka yang tajam, pencapaian terbesar NYT di periode yang sama justru hanyalah memperluas sayap bisnis mereka di Tiongkok. Di saat yang sama, mereka terus menyuguhkan pemberitaan mengenai Falun Gong yang sarat akan distorsi dan stigma negatif.

Permulaan yang buruk ini menjadi titik awal bagi praktik jurnalisme bermasalah selama dua dekade berikutnya. NYT kian terperosok dalam narasi yang menyudutkan ajaran Falun Gong, sembari menutup mata terhadap berbagai pelanggaran HAM berat yang dialami para praktisinya, meskipun bukti-bukti yang ada sudah sangat jelas dan terdokumentasi.

3. Fitnah dan Pemutarbalikan Fakta Mengenai Falun Gong

Cara NYT menggambarkan ajaran dan kepercayaan Falun Gong terus-menerus tidak akurat dan cenderung negatif. Mereka sering kali hanya mengekor pada sudut pandang yang dibuat oleh PKT.

Segera setelah PKT melarang Falun Gong dan melancarkan aksi penindasan, rezim tersebut menghadapi kecaman dunia dan keraguan dari rakyatnya sendiri. Hal ini dikarenakan serangan mereka yang mendadak dan brutal terhadap puluhan juta warga biasa yang hanya bermeditasi di taman-taman. Untuk membenarkan tindakan keji tersebut, mereka meluncurkan kampanye propaganda besar-besaran guna menghasut opini publik agar memusuhi Falun Gong. Propaganda ini menyebarkan klaim palsu—bahkan fitnah—bahwa Falun Gong itu berbahaya dan merupakan “aliran sesat yang jahat.”

Padahal kenyataannya, Falun Gong adalah sebuah latihan spiritual dan meditasi damai yang bertujuan meningkatkan kualitas diri serta kesehatan. Banyak pakar agama Tiongkok telah berulang kali menegaskan bahwa Falun Gong sama sekali tidak memiliki ciri-ciri aliran sesat. Mereka menilai pemberian label negatif oleh rezim tersebut hanyalah taktik “pengalihan isu” sejak awal”[17]

Namun, jika kita membaca berita di The Times, kebenaran ini tidak akan terlihat. Sebaliknya, pembaca justru sering digiring untuk memercayai hal yang sebaliknya. Hasil pemeriksaan terhadap 159 artikel The Times sejak 1999 menunjukkan bahwa media ini lebih sering menggunakan label-label buruk yang disukai PKT, daripada menyajikan penilaian para ahli atau pengalaman nyata dari para praktisinya sendiri.

Dominasi Narasi Negatif dan Keliru

Analisis terhadap 159 artikel NYT yang terbit antara tahun 1999 sampai 2023 mengenai Falun Gong menunjukkan sebuah ketimpangan. Sebanyak 91 artikel menggunakan istilah-istilah yang salah atau menyudutkan, sedangkan hanya 40 artikel yang memberikan gambaran netral atau positif. Sisanya, sekitar 28 artikel, hanya menyebutkan nama kelompok tersebut secara singkat tanpa penjelasan tambahan yang berarti.[18]

Lebih Mengutamakan Istilah PKT daripada Prinsip Inti Falun Gong

Saat orang-orang ingin tahu tentang gerakan religius baru yang masih asing, pembaca NYT biasanya bergantung pada penjelasan surat kabar tersebut untuk memahami siapa sebenarnya Falun Gong dan mengapa PKT melakukan penindasan yang begitu kejam terhadap mereka. Harusnya, poin-poin utama dalam latihan ini—yang sudah sangat dipahami oleh para pengikut dan sering dikutip oleh para ahli—menjadi sumber utama dalam menjelaskan kelompok tersebut

Namun nyatanya, ajaran inti dari Falun Gong yaitu Zhen-Shan-Ren (dengan berbagai variasi terjemahannya) hampir tidak pernah muncul dalam berita. Kalimat yang bisa diterjemahkan sebagai “Sejati, Baik, Sabar” ini adalah rangkuman paling dasar dari nilai-nilai Falun Gong. Di setiap acara Falun Gong, ketiga kata ini selalu ada di spanduk atau poster; kata-kata ini juga sangat menonjol di brosur informasi mereka, dan muncul ribuan kali dalam tulisan maupun kisah hidup para pengikutnya. Bahkan dalam buku utama Falun Gong yang berjudul Zhuan Falun, istilah ini muncul setidaknya 30 kali. Tidak ada konsep atau kalimat lain yang lebih penting bagi identitas maupun latihan Falun Gong selain prinsip ini; inilah pedoman keyakinan bagi semua pengikutnya. Karena itulah, sangat aneh melihat istilah Zhen-Shan-Ren hanya muncul di 5 artikel saja dari 159 artikel NYT yang diteliti. Itu pun hanya muncul sebagai kutipan langsung dari pernyataan pengikutnya; tidak pernah sekalipun wartawan tersebut menjelaskan nilai atau ajaran ini sebagai bagian dari identitas latihan itu sendiri.

Sebaliknya, istilah dan kata sifat yang berasal dari PKT justru mendominasi penyebutan tentang Falun Gong dan muncul dalam 72 artikel. Istilah-istilah tersebut di antaranya: “jahat” (di 61 artikel), “berbahaya” (15 artikel), “tertutup” (11 artikel), dan “menipu” (1 artikel). Kata-kata kasar yang paling sering muncul—dan menjadi inti propaganda anti-Falun Gong milik pemerintah—adalah “aliran sesat” (atau “sekte jahat”), yang sebenarnya merupakan hasil manipulasi terjemahan dari istilah Mandarin xiejiao. Istilah ini muncul dalam 40 artikel. Sering kali, istilah seperti “aliran sesat” atau “berbahaya” disajikan sebagai klaim pemerintah Tiongkok terhadap Falun Gong. Namun, biasanya pembaca tidak diberi informasi tambahan tentang mengapa tuduhan tersebut bisa jadi tidak benar. Di sisi lain, kata-kata seperti “samar” dan “tertutup” justru dipakai oleh penulis NYT itu sendiri, bahkan di judul utama maupun subjudul berita.

Istilah seperti “aliran sesat” dan “berbahaya” bukanlah kata-kata yang netral. Itu adalah kata-kata bermuatan negatif, tajam, dan menghakimi yang sengaja dipilih oleh aparat propaganda PKT untuk menjalankan agenda politik mereka yang penuh penindasan. Tujuannya adalah untuk mengucilkan dan merendahkan martabat manusia. Menurut Amnesty International, “kampanye resmi untuk mencemarkan nama baik Falun Gong di media pemerintah Tiongkok telah menciptakan suasana kebencian terhadap para praktisi, yang berpotensi memicu tindakan kekerasan terhadap mereka.”[19] Dalam konteks ini, entah sengaja atau tidak, NYT pada praktiknya ikut memperluas penindasan negara Tiongkok dengan menyebarkan dan mengutamakan istilah-istilah merendahkan tersebut kepada masyarakat di seluruh dunia.

Perlu diketahui bahwa meskipun istilah yang cukup netral seperti “gerakan spiritual” atau “kelompok spiritual” muncul di 101 artikel, setidaknya 55 di antaranya tetap menyisipkan sebutan yang keliru atau merendahkan seperti kata “sekte”. Parahnya lagi, label negatif ini muncul di 48 judul berita, yang tentu lebih menarik perhatian pembaca daripada isi laporannya. Secara tidak langsung, hal ini merusak pandangan objektif pembaca dan justru memperkuat kesan negatif terhadap latihan ini.

Penggunaan Istilah “Sekte” yang Tidak Akurat secara Berulang.

Salah satu kekeliruan yang paling sering muncul dalam pemberitaan Times adalah penggunaan istilah “sekte” untuk menggambarkan Falun Gong. Istilah ini muncul di lebih dari sepertiga seluruh artikel Times mengenai Falun Gong (61 dari 159 artikel), padahal penerapannya sangat bermasalah dalam beberapa hal.

Jika merujuk pada Oxford English Dictionary, definisi “sekte” adalah: 

  • A branch or subdivision of a larger religious group, typically distinguished by differences in doctrine and observance (Cabang dari kelompok agama besar yang memiliki perbedaan doktrin.)
  • merendahkan. A religious denomination or group characterized as heretical or departing from orthodox tradition in doctrine and observance, or as dissenting, separatist, or schismatic (Kelompok agama yang dianggap sesat atau menyimpang dari tradisi arus utama.)
  • a group pursuing a particular political ideology, typically when regarded as extreme or dangerous (Kelompok dengan ideologi politik tertentu yang dianggap ekstrem atau berbahaya).

Ketiga definisi di atas tidak ada yang sesuai untuk Falun Gong. Perlu digarisbawahi bahwa Falun Gong bukanlah sebuah cabang yang memisahkan diri dari agama besar yang sudah ada. Saat menggunakan istilah “sekte”, NYT juga tidak pernah mencoba menjelaskan kelompok induk mana yang dimaksud. Justru, pernyataan surat kabar tersebut yang sering menyebut bahwa latihan ini “menggabungkan elemen Buddha dan Tao” secara tidak langsung menunjukkan bahwa Falun Gong bukanlah poin A maupun B, melainkan sebuah ajaran baru yang berdiri sendiri.

Masalah utamanya adalah konotasi negatif dari kata “sekte”. Istilah ini sering merujuk pada kelompok “ekstrem atau berbahaya”. Padahal, meski menghadapi penganiayaan yang sangat kejam dari PKT, Falun Gong tetap teguh pada prinsip tanpa kekerasan. Penggunaan istilah ini secara berulang menunjukkan bahwa media tersebut telah mengikuti pola pikir PKT yang membingkai Falun Gong sebagai kelompok jahat.

Sentimen negatif ini disalurkan kepada pembaca sejak dari judul berita. Penggunaan kata “sekte” oleh NYT begitu dominan hingga muncul di 48 judul berita, meski istilah itu tidak dipakai di dalam isi berita. Ini mengindikasikan bahwa penggunaan kata tersebut sudah menjadi pedoman resmi atau tidak resmi di redaksi, yang memperkuat bias institusional terhadap Falun Gong.

Penggunaan istilah “sekte” bertolak belakang dengan temuan pakar seperti David Ownby, penulis buku Falun Gong and the Future of China, yang menyatakan:

Penelitian saya menyimpulkan bahwa Falun Gong harus dipahami sebagai bentuk qigong—istilah umum yang berarti “latihan energi vital”, yang menggambarkan serangkaian disiplin fisik dan mental yang longgar didasarkan pada latihan kesehatan dan spiritual tradisional Tiongkok, dan kadang dipimpin oleh seorang guru karismatik yang mengajarkan para pengikutnya teknik-teknik khusus serta prinsip-prinsip moral umum, dengan tujuan mewujudkan transformasi fisik dan moral para pengikutnya[21].

Meskipun NYT terkadang menggunakan istilah qigong untuk menyebut Falun Gong, penggunaannya tidak konsisten dan sering kali dibarengi dengan kata “sekte”. Istilah qigong bahkan tidak pernah muncul dalam judul berita manapu pun [yang terkait Falun Gong].

InfoCenter telah berulang kali memprotes penggunaan kata “sekte” yang tidak tepat ini kepada NYT, namun tidak ada tanggapan maupun perubahan. Hingga kini, media tersebut telah menyebut Falun Gong sebagai “sekte” sebanyak 61 kali, dan tetap menggunakan istilah itu meskipun istilah itu bersifat merendahkan dan tidak akurat.[22]

Kesalahan Informasi Lainnya

Meski tidak sesering penggunaan istilah “sekte”, beberapa kesalahan informasi lain terkait Falun Gong muncul berulang kali dalam laporan NYT.

Salah satunya adalah penyebutan bahwa Falun Gong terdiri dari “latihan pernapasan” atau “pernapasan dalam“. Metode ini umum di banyak jenis qigong, namun tidak ada dalam gerakan lambat latihan Falun Gong. Selain itu, NYT berulang kali menggambarkan bahwa Falun Gong mengolah qi melalui gerakannya; pendekatan qigong umum lainnya yang sebenarnya tidak digunakan dalam Falun Gong. Kesalahan dasar ini muncul di setidaknya 12 artikel. Meski terlihat sepele, kesalahan ini menunjukkan pemahaman yang dangkal tentang Falun Gong dan minimnya komunikasi dengan praktisi asli. Hal ini pun memicu pertanyaan soal keandalan seluruh laporan media tersebut mengenai Falun Gong.

Gambaran keliru lainnya jauh lebih merusak, seperti penyebutan latihan ini sebagai “penuh rahasia“—yang kembali menyiratkan perilaku seperti kultus. Kata sifat ini pertama kali muncul dalam sebuah artikel pada Juli 1999 dan sempat tidak disebutkan selama bertahun-tahun. Namun, istilah ini muncul lagi dalam beberapa artikel tahun 2020. Di sana, Falun Gong disebut “penuh rahasia” sebanyak empat kali tanpa penjelasan bagaimana penulis mengambil kesimpulan tersebut. Secara khusus, artikel NYT tanggal 24 Oktober 2020 menyebut Falun Gong sebagai “penuh rahasia dan relatif tidak dikenal,” lalu di artikel yang sama menyebutnya “sangat tertutup.” Padahal, deskripsi tersebut bertolak belakang dengan fakta bahwa tempat latihan Falun Gong tidak dipungut biaya (dikelola oleh relawan) dan terbuka untuk siapa saja di seluruh dunia dengan informasi kontak yang tersedia secara daring. Semua ajaran Falun Gong tersedia gratis di situs webnya (www.falundafa.org), dan ada puluhan ribu kesaksian pribadi tentang pengalaman latihan ini yang dipublikasikan secara daring oleh orang-orang dari enam benua. Ini jelas bukan ciri-ciri dari latihan spiritual yang “penuh rahasia.”

Penyimpangan Makna dan Sensasionalisme

Deskripsi lainnya mengenai Falun Gong di NYT mengandung penyimpangan yang lebih halus. Misalnya, memutarbalikkan ajaran untuk memberi kesan salah bahwa kelompok ini rasis, atau membesar-besarkan hal-hal kecil demi menggambarkan latihan ini sebagai sesuatu yang aneh.

Contohnya, staf NYT terlihat sangat terobsesi dengan topik makhluk luar angkasa. Sedikitnya dalam lima artikel, mereka menegaskan bahwa “alien” adalah bagian dari sistem kepercayaan Falun Gong. Padahal, dalam ajaran dan latihan sehari-hari, ini adalah topik pinggiran yang hampir tidak pernah dibahas oleh para praktisi. Topik ini pun hanya disebut sepintas sebanyak dua kali dalam buku utama Zhuan Falun. Hal ini sangat kontras dengan prinsip utama Zhen-Shan-Ren yang justru jarang disebut, padahal alien diberi porsi pembahasan yang sama banyaknya oleh NYT.

Masalah serupa juga muncul dari cara jurnalis NYT, seperti Craig Smith yang menulis di masa awal penganiayaan, dalam memilih-milih kutipan agar Falun Gong terlihat aneh atau menyimpang. Pada Oktober 2000, Smith menulis bahwa ajaran Falun Gong menggambarkan adanya berbagai dimensi, alien, peristiwa kiamat, dan surga yang terpisah bagi tiap ras.[24] Poin terakhir ini seolah menyiratkan bahwa Falun Gong mendukung pemisahan ras dan menentang pernikahan beda ras.

Namun, tafsiran itu sepenuhnya salah. Praktisi Falun Gong di Tiongkok maupun di negara lain sangat beragam rasnya. Pernikahan beda etnis dan keluarga dengan anak campuran sangatlah umum di kalangan mereka. Beberapa praktisi bahkan sudah menjelaskan hal ini langsung kepada Smith, namun ia tetap tidak mau mencocokkan pemahamannya yang sempit dengan kenyataan praktis di lapangan.

Klaim keliru ini muncul kembali dalam artikel terbaru. Contohnya, artikel tahun 2020 oleh Kevin Roose mengutip klaim yang keliru bahwa Falun Gong “melarang pernikahan beda ras”. Ini adalah narasi palsu yang disebarkan oleh PKT hanya untuk masyarakat Barat karena rasisme adalah isu sensitif di sana. Anehnya, tuduhan ini tidak pernah ada dalam propaganda domestik PKT di dalam negeri Tiongkok.

Mengadopsi Terminologi dan Sudut Pandang PKT terhadap Falun Gong

Penyimpangan dalam menggambarkan Falun Gong dan keyakinannya ini tampaknya bukan sebuah ketidaksengajaan. Mengingat frekuensinya yang tinggi dan terus berlanjut meski para praktisi serta lembaga seperti InfoCenter telah menyampaikan keberatan, hal ini menunjukkan sesuatu yang lebih dalam. Referensi-referensi tersebut mengindikasikan bahwa sejak awal, NYT telah mengadopsi terminologi dan cara PKT dalam mencirikan Falun Gong.

Bahkan sejak Oktober 1999, NYT menggunakan judul berita “Tiongkok Memberlakukan Undang-Undang Tegas Untuk Melawan Aliran Sesat yang Dilarang.” Judul ini menelan mentah-mentah label buruk yang dibuat oleh rezim tersebut untuk membenarkan penindasan terhadap Falun Gong. Beberapa bulan kemudian, tepatnya April 2000, Craig Smith dari NYT menulis bahwa, “aspek-aspek dari gerakan, atau aliran sesat tersebut, menunjukkan bahwa…,” yang artinya ia secara langsung menggunakan sebutan dari pemerintah Tiongkok dalam tulisannya sendiri.

Penggunaan istilah tersebut mengabaikan temuan para ahli, seperti David Ownby, yang menulis: “Seluruh isu mengenai tuduhan bahwa Falun Gong adalah aliran sesat hanyalah pengalihan isu sejak awal. Hal ini dimanfaatkan secara cerdik oleh pemerintah Tiongkok untuk merusak citra Falun Gong dan menghambat efektivitas kegiatan mereka di luar Tiongkok.”[25] Hal ini juga bertentangan dengan penilaian wartawan dari media lain seperti Ian Johnson dari Wall Street Journal:

Kelompok tersebut [Falun Gong] tidak memenuhi banyak definisi umum tentang aliran sesat: para anggotanya menikah dengan orang di luar kelompok, memiliki teman dari lingkungan luar, memiliki pekerjaan normal, tidak hidup terisolasi dari masyarakat, tidak percaya bahwa kiamat sudah dekat, dan tidak memberikan uang dalam jumlah besar kepada organisasi. Yang paling penting, bunuh diri tidak diterima, begitu pula kekerasan fisik…. [Falun Gong] pada dasarnya adalah sebuah disiplin yang apolitis dan berorientasi ke dalam diri, yang bertujuan untuk membersihkan spiritualitas dan meningkatkan kesehatan seseorang.[26]

Prasangka NYT terhadap Falun Gong tampaknya telah meresap ke seluruh bagian surat kabar tersebut. Bertahun-tahun kemudian, saat mempersiapkan konferensi pers di New York City, direktur eksekutif InfoCenter, Levi Browde, ingat pernah melihat rangkaian email dari seorang wartawan NYT yang meremehkan acara tersebut, sambil menambahkan “semua orang di sini tahu bahwa mereka [Falun Gong] adalah aliran sesat.” “Ini terjadi sekitar tahun 2008 atau 2009,” kenang Browde, yang mengatakan bahwa seorang profesional PR telah menunjukkan rangkaian email tersebut di laptopnya, yang melibatkan banyak staf NYT di dalamnya.

Pada tahun 2019, sikap negatif terhadap Falun Gong ini kembali mencuat melalui pernyataan Didi Kirsten Tatlow, seorang mantan jurnalis NYT. Dalam kesaksian tertulis yang diajukan kepada China Tribunal di London, Tatlow menceritakan bahwa para editornya di NYT memberikan “argumen yang biasa digunakan” untuk menyudutkan Falun Gong. Mereka menuduh bahwa para praktisi adalah orang-orang yang “tidak rasional” dan “tidak bisa diandalkan”. Alasan inilah yang dipakai pihak redaksi untuk melarang Tatlow melanjutkan investigasi lebih dalam mengenai skandal perampasan organ secara paksa dan penindasan yang menimpa para tahanan nurani Falun Gong.[27]

Dampak yang Ditimbulkan

Apa pun alasan di balik fenomena ini, penggambaran Falun Gong oleh NYT yang tidak akurat, keliru, dan penuh sensasi memiliki konsekuensi yang sangat besar. Citra pengikut Falun Gong yang dibangun media tersebut terus berubah menjadi sosok yang sangat asing, sering kali meresahkan, dan sangat jauh dari kenyataan hidup para praktisi yang sebenarnya maupun temuan para ahli yang telah berinteraksi langsung dengan komunitas tersebut.

Sosok pengikut Falun Gong yang muncul dari pemberitaan NYT adalah seseorang yang, di atas segalanya, dianggap berbeda dari Anda atau saya. Mereka mungkin dicitrakan sebagai sosok yang kurang manusiawi karena dianggap memiliki kumpulan keyakinan yang aneh, sehingga muncul kesan bahwa mereka layak menerima perlakuan kejam dari pemerintah Tiongkok. Singkatnya, mereka diposisikan sebagai “korban yang tidak layak dibela.”

4. Meremehkan Skala dan Tingkat Keparahan Penganiayaan

Karena sering mengikuti pola pikir PKT, pemberitaan NYT tentang data dan gambaran penindasan di Tiongkok banyak yang keliru dan menyimpang.

Laporan NYT mengenai jumlah komunitas Falun Gong, serta sifat maupun keberadaan penindasan itu sendiri di Tiongkok, sering kali hanya mengikuti narasi atau poin-poin pembicaraan dari PKT. Dalam beberapa kasus, kesalahan data dari PKT bahkan ditulis ulang mentah-mentah tanpa menyebutkan sumbernya. Hal ini menunjukkan bahwa sentimen anti-Falun Gong benar-benar telah meresap ke dalam cara kerja internal NYT.

Memangkas Jumlah Praktisi Falun Gong Tanpa Sikap Kritis

Dalam beberapa laporan berita dari Desember 1998 hingga Mei 1999, media Barat—termasuk NYT—sempat mempublikasikan perkiraan bahwa ada 70 hingga 100 juta orang yang melakukan latihan Falun Gong di Tiongkok. Angka tersebut mereka kutip dari sumber resmi pemerintah pada saat itu.

A Falun Gong practice site in Guangzhou, 1998

Sebagai contoh, salah satu penyebutan pertama mengenai angka ini muncul dalam program berita di televisi pemerintah Tiongkok sendiri. Saat itu, pembawa beritanya memberi tahu penonton bahwa “ada lebih dari 100 juta orang yang berlatih Falun Gong.”[28] Tak lama kemudian, pada 14 Februari 1999, seorang pejabat dari Komisi Olahraga Nasional Tiongkok menyatakan kepada U.S. News & World Report bahwa jumlah pengikutnya mungkin mencapai 100 juta orang.[29] Pejabat tersebut bahkan menekankan betapa latihan ini telah menghemat banyak biaya bagi sistem kesehatan nasional, seraya berujar, “Perdana Menteri Zhu Rongji sangat senang akan hal itu.” Kemudian di tahun yang sama, tepatnya tanggal 26 April 1999—setelah aksi permohonan publik di Beijing yang menarik perhatian dunia—kantor berita Associated Press merilis artikel yang menyebutkan bahwa “dengan jumlah pengikut yang melebihi anggota Partai Komunis—setidaknya 70 juta orang menurut Administrasi Olahraga Negara—Falun juga menjadi sebuah jaringan sosial yang sangat besar…[30]

Keesokan harinya, NYT menerbitkan berita karya Seth Faison dengan judul “In Beijing: A Roar of Silent Protestors”, yang menyebutkan: “…perkiraan pemerintah sebanyak 70 juta pengikut merupakan jumlah yang besar di negara berpenduduk 1,2 miliar jiwa.” Pada hari yang sama, tulisan lain dari Joseph Kahn berjudul “Notoriety Now for Movement’s Leader” menyatakan:

… Mr. Li telah menjadi guru dari sebuah gerakan yang bahkan menurut perkiraan Pemerintah Tiongkok memiliki jumlah anggota yang lebih banyak daripada Partai Komunis. Beijing menetapkan jumlah pengikutnya sebanyak 70 juta orang. Para praktisi mengatakan mereka tidak membantah angka tersebut, namun mereka mengaku tidak punya cara untuk memastikannya, salah satunya karena mereka tidak memiliki daftar keanggotaan pusat..[32]

Namun, begitu PKT resmi melarang Falun Gong pada Juli 1999, rezim Tiongkok secara drastis memangkas angka perkiraan mereka menjadi hanya 2 juta orang saja. Hal ini jelas merupakan bagian dari kampanye propaganda untuk mencitrakan Falun Gong sebagai kelompok kecil yang tidak berarti, sekaligus untuk menutupi skala penindasan yang dialami oleh para pengikutnya.

Segera dan tanpa penjelasan apa pun, New York Times ikut melakukan hal yang sama dengan mengurangi angka perkiraan resmi mereka. Akibatnya, sebuah artikel pada Oktober 1999 menyatakan bahwa “pemerintah menetapkan jumlahnya sebanyak dua juta orang.” Laporan-laporan NYT  berikutnya terus mengulang poin pembicaraan PKT ini, sekali lagi, tanpa pernah mengakui adanya perubahan tersebut maupun menjelaskan mengapa angka itu berbeda dari laporan NYT sendiri sebelumnya.

Pada saat yang sama, NYT mengubah status angka 70 juta yang semula dianggap akurat menjadi seolah-olah hanya klaim tanpa dasar dari pihak Falun Gong. Pada Oktober 1999, Erik Eckholm menulis: “…puluhan juta yang diklaim oleh para pendukungnya, angka-angka yang tidak dapat diverifikasi.” Lebih jauh lagi, Craig Smith dari NYT menulis pada 5 Januari 2001: “Jumlah pengikut tersebut mustahil untuk diperkirakan. Otoritas Tiongkok mengatakan jumlahnya di bawah dua juta—jauh lebih sedikit daripada 20 juta yang diperkirakan oleh salah satu lembaga pemerintah pada puncak popularitas latihan ini di akhir 1990-an. Sementara itu, Mr. Li terus mengklaim ada 100 juta pengikut di seluruh dunia, yang sebagian besar berada di Tiongkok.” Sangat mengejutkan bahwa deskripsi Smith mengandung kesalahan fakta yang fatal—perkiraan pemerintah Tiongkok pada akhir 1990-an (seperti yang dijelaskan sebelumnya) bukanlah 20 juta orang, melainkan 70 hingga 100 juta. Angka besar tersebut kini ia sebut seolah-olah hanya berasal dari klaim Mr. Li, padahal hal ini bertolak belakang dengan laporan NYT sendiri pada tahun 1999.

Belakangan pada tahun yang sama, tepatnya 5 Juli 2001, Smith kembali melaporkan: “Mr. Li mengatakan ada 70 juta praktisi di Tiongkok dan 100 juta pengikut di seluruh dunia, meskipun ia tidak pernah memberikan bukti untuk mendukung hal itu. Pemeriksaan yang lebih mendalam menunjukkan bahwa gerakan di Tiongkok tidak pernah berjumlah lebih dari beberapa juta orang.” Padahal, pemeriksaan yang benar-benar mendalam justru mengungkapkan hal sebaliknya: banyak sumber—termasuk lembaga pemerintah Tiongkok sendiri—pernah melaporkan adanya puluhan juta pengikut. Hal ini juga membuktikan bahwa Smith bahkan tidak memeriksa arsip perusahaan beritanya sendiri, padahal informasi tersebut sangat mudah ditemukan di sana.

Sikap yang tidak kritis dalam mengikuti “fakta” PKT yang berubah-ubah ini menunjukkan adanya kelalaian besar dalam praktik dasar jurnalistik, rasa percaya yang meresahkan terhadap rezim Tiongkok, atau keinginan untuk sekadar mengikuti poin-poin pembicaraan PKT—atau mungkin gabungan dari ketiganya.

Menyebarkan Narasi Palsu Bahwa Falun Gong Telah “Dihancurkan”

Ketika rezim Tiongkok melancarkan penindasan terhadap Falun Gong pada Juli 1999, Jiang Zemin—pemimpin PKT saat itu—diyakini memiliki ambisi untuk melenyapkan Falun Gong hanya dalam waktu tiga bulan. Target ini didasarkan pada pidatonya tanggal 19 Juli 1999 yang menjadi pertanda dimulainya penganiayaan terhadap kelompok tersebut. Ini adalah tujuan yang sangat gegabah, mengingat ada puluhan juta orang yang melakukan latihan ini di Tiongkok pada masa itu.

Tidak diketahui pasti sejauh mana para pejabat Tiongkok percaya bahwa target itu bisa tercapai. Namun yang jelas, selama dua tahun berikutnya, NYT berulang kali menyampaikan narasi palsu kepada dunia bahwa Falun Gong tidak berdaya menghadapi serangan rezim dan telah “dihancurkan” di Tiongkok. Artikel pertama yang memuat narasi ini muncul pada 23 Juli 1999, hanya tiga hari setelah Falun Gong resmi dilarang. NYT menerbitkan tulisan Craig Smith dengan judul: “Falun Gong Manages Skimpy Rally; Is Sect Fading?” (Falun Gong Mengadakan Aksi yang Kecil; Apakah Sekte Ini Mulai Memudar?).”[33]

Tak lama kemudian, dalam sebuah artikel pada Agustus 1999 mengenai rencana persidangan bagi para koordinator Falun Gong di Tiongkok, NYT memprediksi:

Dengan pengumuman hari ini, kampanye tersebut jelas telah memasuki tahap ketiga dan terakhir… Tahap akhir kampanye ini diharapkan dapat memublikasikan hukuman bagi para pemimpin gerakan sebagai peringatan bagi siapa pun yang berniat menantang otoritas Partai Komunis. Hal ini kemungkinan besar akan dituntaskan dalam beberapa minggu ke depan, sebelum tanggal 1 Oktober, saat partai merencanakan perayaan besar-besaran 50 tahun kekuasaannya.[34]

Penilaian ini tentu saja sangat meleset. Dua puluh lima tahun kemudian, kampanye penganiayaan ternyata masih terus berlanjut—termasuk vonis penjara jangka panjang yang rutin dijatuhkan kepada para praktisi Falun Gong.

Meskipun begitu, sepanjang tahun 2001 dan 2002, tanpa adanya bukti yang menunjukkan para praktisi meninggalkan Falun Gong secara massal, laporan-laporan Times lainnya justru seolah menyatakan bahwa Falun Gong telah “dihancurkan” di Tiongkok:

  • 17 Agustus 2001: Erik Eckholm menulis bahwa di Tiongkok daratan, Falun Gong hanya tersisa sebagai “sisa-sisa yang terisolasi dan putus asa.”
  • 5 April 2002: Elisabeth Rosenthal menyebutkan bahwa latihan ini “sekarang sebagian besar berbasis di Amerika Serikat.”
  • 9 Juli 2002: Erik Eckholm kembali menyatakan, “Falun Gong sebagian besar telah dihancurkan di dalam Tiongkok selama dua tahun terakhir.”
  • 19 Desember 2002: Daniel Wakin menyatakan dalam sebuah artikel bahwa Falun Gong “telah dihancurkan di Tiongkok.”

Sumber-sumber terpercaya menunjukkan bahwa semua pernyataan NYT tersebut sepenuhnya tidak akurat. Hal ini menunjukkan kegagalan yang nyata, atau ketidakinginan media tersebut, untuk memahami keberadaan dan arti penting dari sebuah komunitas beranggotakan puluhan juta orang di seluruh Tiongkok. Terlebih lagi, komunitas ini—seperti yang ditulis oleh pakar Andrew Junker dalam sebuah buku tahun 2019: “mungkin merupakan gerakan protes akar rumput Tiongkok yang paling terorganisir dan gigih yang pernah menantang PKT.”[35]

Pada Mei 2009, Minghui.org—situs web utama Falun Gong dalam bahasa Mandarin—melaporkan adanya sekitar 200.000 “titik materi” bawah tanah di seluruh Tiongkok. Titik materi merupakan tempat para praktisi mencetak pamflet, membuat DVD, atau konten lainnya untuk mengungkap penganiayaan dan membongkar propaganda anti-Falun Gong. Tempat-tempat ini dioperasikan oleh masyarakat akar rumput dan biasanya berada di rumah pribadi. Setiap titik materi melayani 100 hingga 200 praktisi, yang kemudian menyebarkan informasi tersebut di daerah masing-masing. Angka ini menunjukkan bahwa ada sekitar 20-40 juta praktisi yang aktif bergerak untuk mengungkap penindasan luas di Tiongkok. Jumlah ini bahkan belum termasuk mereka yang melakukan latihan Falun Gong namun tidak terlibat dalam aksi perlawanan damai tersebut.

Pada tahun 2015, dua orang pakar menerbitkan artikel di jurnal akademik China Quarterly yang menjelaskan betapa tidak efektifnya kampanye PKT untuk menghapus Falun Gong. Penelitian mereka—yang sebagian didasarkan pada dokumen resmi pemerintah Tiongkok sendiri—menyimpulkan bahwa rezim tersebut merasa perlu terus melanjutkan penindasan karena gerakan ini tidak kunjung padam. Kemudian pada 2017, Freedom House merilis salah satu laporan pihak ketiga yang paling mendalam mengenai Falun Gong. Di antara temuan utamanya adalah:

Meskipun Partai Komunis Tiongkok (PKT) telah melancarkan kampanye selama 17 tahun untuk melenyapkan kelompok spiritual ini, jutaan orang di Tiongkok tetap melanjutkan latihan Falun Gong, termasuk banyak individu yang baru mulai menekuninya setelah penindasan dimulai. Hal ini mencerminkan kegagalan yang mencolok dari aparat keamanan PKT.

Dengan menggunakan pendekatan metodologi yang berbeda dari Minghui.org, Freedom House memperkirakan terdapat 7 hingga 20 juta praktisi di Tiongkok—sebuah rentang angka yang kemudian dikutip oleh Departemen Luar Negeri AS dan berbagai lembaga pemerintah lainnya.

Dengan demikian, tepat 13 hingga 15 tahun setelah NYT menyatakan sebagai “fakta” bahwa Falun Gong telah musnah di Tiongkok, pihak ketiga yang kredibel justru menyimpulkan bahwa puluhan juta orang masih terus melakukan latihan di seluruh penjuru Tiongkok. Hal ini membuktikan bahwa kampanye PKT untuk menghancurkan Falun Gong sebenarnya telah gagal.

A Chinese citizen in Jiamusi, Heilongjiang Province, reads a banner hung by Falun Gong practitioners in 2018 that reads “Kidnapped by Authorities” detailing persecution cases in the area (Credit: Minghui.org)

Seorang warga negara Tiongkok di Jiamusi, Provinsi Heilongjiang, sedang membaca spanduk yang dipasang oleh para praktisi Falun Gong pada tahun 2018. Spanduk tersebut bertuliskan “Diculik oleh Otoritas”, yang memaparkan rincian kasus-kasus penganiayaan di wilayah tersebut (Kredit: Minghui.org).

Melabeli Pelanggaran Hak Asasi Manusia Sebagai Sekadar “Konflik”

Pada awal kampanye PKT melawan Falun Gong di Tiongkok, sebagian besar pemberitaan NYT—seperti dalam tajuk rencana 28 Juli 1999—mengecam pelarangan tersebut dengan istilah tegas seperti “penganiayaan,” “kampanye politik,” “penindasan,” “kekerasan,” “tindakan keras,” dan “propaganda.”[38] Namun sebaliknya, pemberitaan di kemudian hari justru membingkai penganiayaan tersebut sebagai sebuah “pertempuran” yang seimbang atau “perang” hubungan masyarakat (humas). Sudut pandang ini seolah-olah menciptakan kesan adanya arena bermain yang setara antara rezim komunis terbesar di dunia dengan sekelompok orang yang bermeditasi secara damai. Yang lebih parah, narasi tersebut seolah menganggap bahwa yang sedang dipertaruhkan hanyalah citra publik, bukan masalah pemenjaraan massal, penyiksaan, dan pembunuhan orang-orang tak bersalah.[39] Kekhawatiran Falun Gong terhadap pelanggaran hak asasi yang terus berlanjut pun semakin sering dianggap sebagai bagian dari “kampanye humas” kelompok tersebut, tanpa pernah mempertimbangkan atau menyelidiki kebenaran klaim mereka secara mendalam.[40]

Tren ini terus berlanjut dalam pemberitaan NYT tentang Falun Gong, dan bahkan menjadi lebih nyata dalam laporan-laporan terbaru. Pada 24 Oktober 2020, NYT menggambarkan upaya praktisi Falun Gong untuk mengungkap penganiayaan yang mereka hadapi serta pelanggaran HAM yang dilakukan oleh PKT secara luas sebagai “pertarungan bumi hangus melawan Partai Komunis yang berkuasa di Tiongkok.”[41]

Untuk memperjelas, NYT melabeli upaya damai dan gigih dari praktisi Falun Gong untuk menyuarakan peringatan tentang pelanggaran HAM berat yang mereka alami, serta pengungkapan kekejaman yang mendominasi kekuasaan PKT di Tiongkok—yang semuanya sama sekali tidak melibatkan kekerasan maupun seruan kekerasan—sebagai tindakan “bumi hangus”? Sebaliknya, pelanggaran HAM berat selama 20 tahun yang mencakup penahanan jutaan orang, penyiksaan yang merajalela, hingga pembunuhan orang-orang tak bersalah demi pengambilan organ tubuh, hanya digambarkan di bagian lain artikel tersebut sebagai “laporan penganiayaan yang keras” dan “tuduhan”. Tidak ada satu pun kata sifat yang digunakan untuk menggambarkan betapa kejamnya pelanggaran HAM yang dilakukan oleh PKT, dan tentu saja tidak ada istilah yang mendekati implikasi agresif dan menakutkan seperti kata “bumi hangus”.

Karena menolak menandatangani dokumen untuk melepaskan Falun Gong saat berada di kamp kerja paksa Tiongkok, para penjaga di sana membakar Mr. Tan Yongjie dengan besi panas sebanyak tiga belas kali. Mereka kemudian membiarkannya begitu saja karena mengira ia akan tewas akibat luka-lukanya yang sangat parah. Mr. Tan berhasil melarikan diri dari Tiongkok dan mencapai Amerika Serikat. Foto ini diambil di sebuah rumah sakit di Houston pada tahun 2001.

Uji Fakta: Poin-Poin Keliru Mengenai Falun Gong dalam Berita NYT

Pemberitaan New York Times mengenai Falun Gong telah dipenuhi dengan berbagai ketidakakuratan, mulai dari deskripsi mengenai metode latihan dan keyakinannya, hingga situasi nyata yang terjadi di Tiongkok. Berikut adalah beberapa contoh distorsi yang paling sering muncul dan paling fatal, beserta penjelasan mengenai penyimpangannya.

New York Times
Cek Fakta

Label “Kultus” (Cult) yang Keliru:
Istilah penghinaan yang paling umum—yang menjadi pusat propaganda anti-Falun Gong oleh negara-partai—adalah “kultus sesat” (xiejiao dalam bahasa Mandarin). Istilah ini tercatat muncul dalam 40 artikel NYT.

Cek Fakta: Banyak akademisi dan pakar agama Tiongkok telah menegaskan bahwa Falun Gong tidak memiliki ciri-ciri sebuah kultus. Terlebih lagi, pemberian label yang menjelekkan tersebut oleh rezim Tiongkok sejak awal hanyalah sebuah “pengalihan isu” (red herring). Menurut laporan Washington Post: “Jiang [mantan pemimpin PKT] sendirilah yang memerintahkan agar Falun Gong dilabeli sebagai ‘kultus’, dan kemudian menuntut agar undang-undang yang melarang kultus segera disahkan.”

Label “Sekte” (Sekte) yang Salah:
NYT telah secara tidak akurat melabeli Falun Gong sebagai sebuah “sekte” lebih dari 60 kali. Istilah ini bahkan digunakan dalam 48 judul berita, seperti: “Protes Beijing Oleh Sekte Falun Mengakibatkan Ratusan Orang Ditangkap.”

Cek Fakta: Istilah “sekte” merupakan sebutan merendahkan yang sering kali merujuk pada suatu kelompok yang dianggap “ekstrem atau berbahaya”. Istilah ini juga menyiratkan bahwa suatu keyakinan hanyalah bagian atau cabang dari agama yang sudah ada. Padahal, Falun Gong tetap sepenuhnya damai meskipun menghadapi kekerasan yang merajalela di Tiongkok. Selain itu, Falun Gong adalah sebuah latihan spiritual independen yang terpisah dari agama lain, meskipun ajarannya merujuk pada prinsip-prinsip dari Buddhisme dan Taoisme.

Label “Rasis” yang Tidak Benar:
Beberapa artikel secara keliru mengeklaim atau menyiratkan bahwa Falun Gong “melarang pernikahan beda ras.”

Cek Fakta: Falun Gong tidak melarang pernikahan beda ras. Faktanya, pernikahan beda ras dan keluarga multiras sangat umum ditemukan di dalam komunitas Falun Gong, termasuk di antara staf dan pimpinan Falun Dafa Information Center sendiri.

Penggambaran Gerakan Latihan yang Keliru:
Beberapa artikel mendeskripsikan gerakan Falun Gong sebagai latihan “napas dalam” (deep breathing).

Cek Fakta: Meskipun ini merupakan ketidakakuratan yang relatif ringan, melakukan latihan Falun Gong sebenarnya tidak melibatkan teknik “napas dalam”. Kesalahan ini menunjukkan bahwa penulis artikel tersebut memiliki sedikit atau bahkan tidak ada pemahaman sama sekali mengenai Falun Gong itu sendiri.

Angka yang Keliru::
Artikel-artikel NYT secara tidak akurat menyajikan jumlah praktisi Falun Gong di Tiongkok hanya sebanyak 2 juta orang, atau mengeklaim bahwa perkiraan pemerintah Tiongkok pada akhir 1990-an adalah 20 juta orang.

Cek Fakta: Berbagai sumber pemerintah Tiongkok pada akhir 1990-an menegaskan bahwa ada 70 hingga 100 juta orang yang melakukan latihan Falun Gong. Pada awalnya, NYT mengutip angka-angka ini dengan tepat, namun laporan-laporan selanjutnya justru menggunakan angka 2 juta orang—angka yang dipangkas secara drastis oleh pemerintah—tanpa mengakui adanya perubahan dari laporan NYT sendiri sebelumnya. Selain itu, NYT kemudian secara keliru menyebut bahwa angka perkiraan 70 juta tersebut hanya berasal dari pihak Falun Gong semata.

Falun Gong sudah “Dihancurkan” di Tiongkok:
NYT berulang kali menggambarkan bahwa Falun Gong telah “dihancurkan” oleh PKT, dan belakangan menyatakan bahwa kelompok ini “sebagian besar berbasis di Amerika Serikat.”

Cek Fakta: Kenyataannya, meski telah dilarang oleh PKT selama hampir 25 tahun, Falun Gong masih tetap eksis di Tiongkok. Justru di sanalah mayoritas praktisi berada. Laporan Freedom House tahun 2017 memperkirakan masih ada sekitar 7 sampai 20 juta orang yang aktif berlatih di daratan Tiongkok. Fakta ini menjadi bukti “kegagalan total” dari upaya rezim untuk melenyapkan kelompok tersebut. Sementara itu, jumlah praktisi yang menetap di Amerika Serikat diperkirakan hanya sekitar 10.000 orang—angka yang sangat kecil jika dibandingkan dengan jumlah praktisi yang bertahan di dalam negeri.

Fact-checks on
New York Times’
Inaccuracies

False “cult” label:
The most common derogatory phrase—central to the Party-state’s anti-Falun Gong propaganda—is “evil cult” (xiejiao in Chinese). This term appeared in 40 Times articles.

Fact-check: Numerous scholars and other experts on Chinese religions have repeatedly affirmed that Falun Gong does not bear the characteristics of a cult. Moreover, that the application of such a demonizing label by the regime has been a “red herring from the very beginning.”[42]

False ‘sect’ label:
The New York Times has inaccurately labeled Falun Gong a “sect” over 60 times. This term was used in 48 headlines, such as “Beijing Protest By Falun Sect Brings Arrest Of Hundreds.”

Fact-check: The term “sect” implies that a faith is part of or an offshoot of an existing religion. Falun Gong is an independent spiritual practice, though its teachings refer to principles from Buddhism and Daoism.

False ‘racist’ label:
Several articles falsely claim or imply that Falun Gong “forbids interracial marriage.”

Fact-check: Falun Gong does not forbid interracial marriage. In fact, interracial marriages and multi-racial families are extremely common in the Falun Gong community.

Erroneous depictions of exercises:
Multiple articles describe Falun Gong exercises as “deep breathing” practices.

Fact-check: Though a relatively benign inaccuracy, practicing Falun Gong does not involve “deep breathing.”

Faulty figures:
New York Times articles inaccurately represent the number of Falun Gong practitioners in China as being 2 million or claim Chinese government estimates had been 20 million in the late 1990s.

Fact-check: Multiple Chinese government sources in the late 1990s asserted that 70 to 100 million people were practicing Falun Gong. Initially, the Times appropriately cited these figures, but subsequent reports adopted the government’s sharply reduced figure of 2 million, while erroneously attributing the 70 million estimate solely to Falun Gong.

“Crushed”:
The Times repeatedly portrayed Falun Gong as having been “crushed” by the CCP, later stating that it was “based largely in the United States.”

Fact-check: 24 years after the CCP banned Falun Gong, the practice survives in China, where the largest proportion of believers live. In a 2017 report from Freedom House, researchers estimated that 7-20 million continued to practice in the country, representing a “striking failure” of the regime’s security apparatus. Only an estimated 10,000 reside in the United States.

5. Kebungkaman yang Memekakkan Telinga

The New York Times secara mengejutkan membisu terhadap kekejaman yang menimpa para praktisi Falun Gong, termasuk masalah perampasan organ secara paksa dari tahanan hati nurani. Berbeda dengan kelompok minoritas agama atau etnis lain di Tiongkok yang mendapat sorotan, Falun Gong seolah-olah sengaja diabaikan.

Chinese police arrest a woman for protesting in Tiananmen square for the right to practice Falun Gong, 2000. (Chien-min Chung, Associated Press)

Media ini tidak hanya mengulang narasi PKT bahwa penindasan telah sukses, tetapi juga tampak menjadikan asumsi tersebut sebagai panduan editorial mereka. Dampaknya, mereka mengabaikan kenyataan bahwa Falun Gong tetap eksis dan terus mengalami pelanggaran HAM yang sangat keji. Jika kita menilik kembali arsip berita NYT sejak 1999, terlihat ada penurunan jumlah laporan yang sangat tajam setelah akhir 2001. Padahal, di periode tersebut, data menunjukkan adanya lonjakan kasus penyiksaan dan kematian praktisi di tangan aparat. Dalam sepuluh tahun terakhir, NYT hampir tidak pernah lagi mengulas penganiayaan terhadap Falun Gong, sebuah kontras yang tajam jika dibandingkan dengan laporan mendalam mereka mengenai tindakan represif PKT terhadap warga Uighur dan Tibet.

Penurunan Liputan di Tengah Meningkatnya Laporan Kematian

Laporan awal mengenai penindasan yang dilakukan pemerintah Tiongkok terhadap Falun Gong awalnya cukup banyak muncul (meskipun pemberitaan pada masa itu menunjukkan kurangnya pemahaman tentang komunitas, keyakinan, dan metode latihan Falun Gong). Namun, liputan NYT mengenai krisis HAM Falun Gong di Tiongkok anjlok pada tahun 2002 dan tetap sangat minim hingga sekarang, padahal penindasan yang kejam masih terus berlanjut. Sementara itu, dokumentasi mengenai berbagai pelanggaran hak asasi—termasuk kerja paksa, penyiksaan, kematian dalam tahanan, dan belakangan perampasan organ secara paksa—terus meningkat, namun sebagian besar justru diabaikan oleh NYT.

Grafik yang menggambarkan jumlah kematian Falun Gong yang terdokumentasi dibandingkan dengan jumlah artikel yang diterbitkan oleh The New York Times mengenai pelanggaran hak asasi terhadap praktisi Falun Gong.

Kesenjangan dalam Pemberitaan

Salah satu celah yang paling mencolok dalam pemberitaan NYTadalah tidak adanya artikel mengenai laporan tentang Falun Gong yang diterbitkan oleh lembaga-lembaga hak asasi manusia terkemuka di berbagai periode waktu. Meskipun beberapa berita awal bersumber dari sebuah LSM kecil di Hong Kong yang melaporkan tentang protes dan penangkapan praktisi, studi yang jauh lebih komprehensif oleh LSM internasional di kemudian hari justru tidak menghasilkan satu pun artikel. Studi-studi tersebut meliputi laporan tahun 2002 oleh Human Rights Watch yang menyoroti “kedok supremasi hukum” palsu yang digunakan rezim PKT untuk membenarkan pelarangan Falun Gong secara surut.[43] Selain itu, terdapat laporan tahun 2013 oleh Amnesty International yang mendokumentasikan penyiksaan yang dialami oleh praktisi dan tahanan lainnya dalam sistem “kamp kerja paksa melalui pendidikan ulang,” serta penahanan berkelanjutan terhadap banyak orang di berbagai fasilitas ilegal, bahkan setelah jaringan kamp tersebut dianggap telah dihapuskan.[44] Dan yang lebih baru adalah laporan Freedom House yang disebutkan sebelumnya, yang mencakup: verifikasi terhadap lebih dari 900 kasus praktisi Falun Gong yang dijatuhi hukuman penjara berdasarkan vonis pemerintah Tiongkok, perkiraan anggaran terkait pasukan keamanan yang menargetkan Falun Gong berdasarkan situs web pemerintah Tiongkok, serta wawancara dengan pengacara hak asasi manusia yang melihat langsung penganiayaan keji yang diderita oleh klien Falun Gong mereka.[45]

Tak satu pun dari laporan-laporan ini diliput oleh NYT, padahal media internasional utama lainnya memberitakan temuan-temuan tersebut.

Mengubur Isu Perampasan Organ Paksa

Satu lagi berita besar yang diabaikan oleh Times adalah laporan awal maupun dokumentasi di kemudian hari mengenai praktik penyalahgunaan transplantasi organ yang dilakukan oleh rezim terhadap praktisi Falun Gong dan tahanan hati nurani lainnya. Pada tahun 2006, berbagai laporan dan bukti mulai muncul yang mengindikasikan bahwa tidak hanya narapidana hukuman mati, tetapi juga tahanan hati nurani—terutama praktisi Falun Gong—sedang menjalani pemeriksaan medis secara khusus, dibunuh, dan dijadikan sumber transplantasi organ di Tiongkok.[46] Meskipun awalnya tuduhan ini disambut dengan skeptisisme, beberapa tokoh seperti pengacara Kanada David Matas, mantan pejabat Kanada David Kilgour, dan jurnalis Amerika Ethan Gutmann melakukan investigasi independen, bersamaan dengan laporan tambahan dari para peneliti di komunitas Falun Gong. Pada tahun 2006, Matas dan Kilgour menyusun laporan pertama mereka yang menyimpulkan bahwa pengambilan organ secara paksa dari orang-orang yang melakukan latihan Falun Gong memang benar-benar terjadi.[47] Pada tahun 2014, Gutmann menerbitkan buku berjudul The Slaughter, yang menguraikan temuannya termasuk kasus-kasus pembunuhan tahanan Muslim Uighur.[48] Namun, New York Times merasa tidak perlu meliput temuan-temuan tersebut ataupun menyelidiki situasinya atas inisiatif sendiri. Faktanya, butuh waktu sepuluh tahun sebelum sebuah artikel yang menyebutkan bentuk penganiayaan ini diterbitkan—yakni pada Agustus 2016—namun judul dan isinya justru lebih menekankan pada bantahan dari pejabat Tiongkok serta kelompok “anti-sekte” yang berafiliasi dengan PKT, daripada memberikan pertimbangan objektif terhadap fakta yang ada.[49]

Khususnya, pada tahun 2019, China Tribunal—sebuah panel independen yang terdiri dari para pakar hukum internasional dan pakar tentang Tiongkok yang sangat dihormati—melakukan tinjauan luas terhadap bukti-bukti pengambilan organ secara paksa. Mereka mendengarkan kesaksian dari lebih dari 50 saksi, termasuk jurnalis, peneliti, dokter, dan mantan tahanan Tiongkok. Panel tersebut menerbitkan putusan lengkapnya pada Maret 2020, dengan kesimpulan bahwa: “pengambilan organ secara paksa telah dilakukan selama bertahun-tahun di seluruh Tiongkok dalam skala yang signifikan dan bahwa praktisi Falun Gong telah menjadi salah satu—dan kemungkinan besar sumber utama—pasokan organ.” Kerja keras yang teliti dari tribunal ini beserta kesimpulannya yang meyakinkan menarik perhatian luas dari berbagai media, termasuk laporan di Guardian, Reuters, Sky News, New York Post, U.S. News and World Report, Sydney Morning Herald, dan puluhan media lainnya.[50] Namun, New York Times (NYT) tetap bungkam.

Faktanya, NYT sebenarnya memiliki kesempatan untuk menjadi pemimpin dalam pemberitaan isu perampasan organ ini, karena reporternya, Didi Kirsten Tatlow, sangat bersemangat untuk mendalaminya dan telah menginvestasikan waktu dalam investigasi awal pada tahun 2015. Namun, pengalamannya menunjukkan bahwa sikap diam surat kabar tersebut bukan karena kurangnya perhatian, melainkan, setidaknya dalam beberapa kasus, merupakan keputusan editorial yang disengaja. Dalam kesaksian tertulis yang diberikan Tatlow kepada China Tribunal, ia mencatat:

“Saya ingin menyampaikan kesan saya bahwa New York Times, perusahaan tempat saya bekerja saat itu, tidak senang karena saya mengejar berita-berita ini [tentang penyalahgunaan transplantasi organ]. Setelah awalnya menoleransi upaya saya, mereka kemudian membuat saya tidak mungkin untuk melanjutkannya.”

Ia melanjutkan dengan menceritakan bagaimana para editor meremehkan kekhawatiran yang sah bahwa organ-organ telah diambil dari tahanan hati nurani. Padahal, Ibu Tatlow sendiri pernah mendengar percakapan antara dua dokter Tiongkok yang mengindikasikan bahwa hal ini memang terjadi, bahwa hal tersebut tampaknya merupakan rahasia umum di kalangan spesialis medis tertentu, dan bahwa laporan mengenai pelarangan praktik tersebut sebenarnya tidak banyak diketahui. Ketika ia mencoba memperluas investigasinya ke arah ini, para editornya menolak. Mereka tampaknya lebih memercayai pernyataan pemerintah Tiongkok yang mengeklaim bahwa “masalah donasi organ di Tiongkok telah diselesaikan dengan pengakuan negara bahwa mereka pernah menggunakan organ tahanan dan janji mereka pada 14 Desember bahwa mereka tidak lagi melakukannya.” Tatlow diberitahu bahwa “tidak ada yang baru” dari berita tersebut, sementara seorang editor berkomentar bahwa orang-orang yang percaya hal ini terjadi berada di “kelompok pinggiran yang ekstrem,” atau dengan kata lain, “tidak rasional.” Ia lebih lanjut menyampaikan kecurigaannya bahwa rangkaian artikel ini menjadi penyebab keputusan pada Februari 2017 untuk tidak memberikan promosi jabatan kepadanya, padahal para editor regional telah memberikan rekomendasi.

Pemberitaan yang dimuat dalam The New York Times selama periode 15 tahun, mulai dari Januari 2009 hingga Desember 2023, mencakup laporan terfokus pada masing-masing komunitas (yakni disebutkan dalam judul berita atau paragraf utama), termasuk mengenai pelanggaran hak asasi manusia, protes atau kerusuhan, tindakan diplomatik, atau peristiwa lainnya.

Berita-berita yang dimuat dalam The New York Times selama periode 15 tahun dari 2009 hingga 2023, yang menyertakan referensi mengenai pemenjaraan, penahanan, atau penangkapan pada judul berita atau paragraf utama terkait masing-masing komunitas.

Selain perbedaan mencolok dalam skala pemberitaan, tinjauan terhadap artikel-artikel yang diterbitkan sejak 2009 mengenai warga Uighur dan Tibet memberikan studi kasus yang relevan untuk membandingkan bagaimana NYT melakukan pendekatan pelaporan terhadap minoritas yang juga mengalami penganiayaan dan fitnah tersebut.

Tiga aspek pemberitaan berikut ini menunjukkan perbedaan yang sangat nyata jika dibandingkan dengan liputan terhadap Falun Gong:

  • Banyaknya artikel mengenai penderitaan individu anggota minoritas:
    NYT telah berulang kali, dan dengan alasan yang kuat, menerbitkan artikel yang menyoroti penahanan, persidangan, dan pemenjaraan individu warga Uighur dan Tibet. Mereka meliput tokoh-tokoh terkemuka maupun individu yang profilnya tidak terlalu menonjol. Liputan semacam ini biasanya sangat simpatik terhadap korban, termasuk menyertakan wawancara dan kutipan dari kerabat, pembuat kebijakan yang mendukung, atau pembela hak asasi manusia. Salah satu contoh menonjol adalah Ilham Tohti, seorang cendekiawan Uighur dan administrator situs web yang ditahan pada Januari 2014 dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup delapan bulan kemudian setelah proses hukum yang jelas-jelas dipolitisasi dan penuh sandiwara. Putri Tohti tinggal di Amerika Serikat. Antara tahun 2009 dan 2016, NYT menerbitkan setidaknya 20 artikel tentang penderitaannya, termasuk penahanan-penahanan sebelumnya. Mereka mengikuti kasusnya dengan cermat mulai dari penangkapan terakhirnya, hingga proses persidangan, pembacaan vonis, banding, kecaman internasional, dan penghargaan HAM yang ia terima, serta sebuah kolom opini yang ditulis oleh putrinya mengenai kasus ini.[51] Kasus serupa dialami oleh pengusaha dan aktivis bahasa Tibet, Tashi Wangchuk, yang dipenjara selama lima tahun, sebagian sebagai pembalasan karena memberikan wawancara kepada NYT. Kasusnya juga diikuti secara saksama oleh surat kabar tersebut dengan setidaknya 10 artikel.[52]

    Meskipun Tohti dan Tashi adalah tokoh yang sangat menonjol dan kasus mereka mendapatkan perhatian yang luar biasa tinggi—bahkan jika dibandingkan dengan pemberitaan mengenai pelanggaran yang menimpa warga Uighur dan Tibet lainnya—individu lain yang kurang dikenal pun tetap mendapatkan artikel khusus di NYT yang didedikasikan untuk kasus mereka. Hal ini mencakup artikel tahun 2010 mengenai tiga warga Uighur yang dihukum karena mengelola sebuah situs web,[53] seorang jurnalis Uighur yang dipenjara 15 tahun karena menyebarkan informasi tentang bentrokan di Urumqi,[54] serta sejumlah penyair dan individu Uighur lainnya yang hilang.[55] Terkait warga Tibet, pemberitaan Times mencakup sedikitnya empat artikel tentang kematian dalam tahanan seorang kepala biara Buddha Tibet terkemuka, Tenzin Delek Rinpoche pada tahun 2015,[56] berbagai artikel mengenai individu biksu,[57] pemimpin agama,[58] pembuat film, atau musisi[59] serta lebih dari 83 artikel mengenai berbagai kasus warga Tibet yang melakukan aksi bakar diri sebagai bentuk protes terhadap penindasan PKT. Banyak artikel juga memberikan profil positif terhadap tindakan perlawanan akar rumput seperti memfotokopi materi protes,[61] aktivitas blogger Tibet,[62] atau berbagai inisiatif untuk menyelamatkan budaya Tibet.[63]

    Semua kisah tersebut bisa dibilang memang layak mendapatkan liputan dan perhatian internasional, meskipun hal itu mengandung risiko bagi wartawan NYT maupun narasumbernya. Namun, dari sudut pandang ini, perbedaan dengan pemberitaan surat kabar tersebut mengenai Falun Gong sangatlah kontras. Bahkan ketika NYT melaporkan tentang penganiayaan terhadap Falun Gong, laporan tersebut biasanya kurang memiliki fokus personal yang memanusiakan sebagaimana terlihat dalam contoh-contoh di atas. Beberapa artikel pada tahun-tahun awal penganiayaan memang melaporkan tentang persidangan publik terhadap para koordinator Falun Gong, namun sering kali menggunakan informasi dari pemerintah Tiongkok sebagai sumber utama dan tidak ada laporan tindak lanjut. Hanya ada dua artikel dari mantan koresponden Tiongkok, Andrew Jacobs, pada tahun 2009 dan 2013, yang menyoroti penderitaan sejumlah kecil tahanan Falun Gong dan penyintas penyiksaan pasca Olimpiade Beijing[64] serta sebuah catatan dari tahanan kamp kerja paksa yang ditemukan dalam produk Kmart.[65] Namun, laporan-laporan ini secara keseluruhan hanyalah sebuah pengecualian dan tidak ada tulisan serupa yang diterbitkan sejak saat itu. Mengingat skala pemenjaraan praktisi Falun Gong yang terus berlanjut di seluruh Tiongkok, banyaknya kasus kematian dalam tahanan, adanya dokumentasi independen atas pelanggaran tersebut, serta tersedianya narasumber untuk diwawancarai di luar Tiongkok, perbedaan dengan liputan mengenai warga Uighur dan Tibet terlihat sangat mencolok.

 
  • Meskipun kisah-kisah korban secara individu membantu memberikan sisi kemanusiaan pada penderitaan yang jauh, investigasi terhadap struktur kampanye represif oleh PKT bisa menjadi jauh lebih penting. Hal ini memungkinkan audiens internasional untuk memahami cakupan penuh dari penganiayaan tersebut, serta menggerakkan tindakan nyata untuk melawannya. Dalam hal ini pun, pemberitaan Times, terutama mengenai kondisi yang dihadapi warga Uighur sejak 2017, menunjukkan tingkat keahlian, dedikasi, dan kecerdikan sumber daya yang tidak ada dalam pelaporan mengenai krisis Falun Gong. Contoh-contoh yang menonjol meliputi laporan tahun 2018 tentang penahanan massal dan “transformasi” warga Uighur;[66] laporan tahun 2019 tentang penjatuhan hukuman penjara skala besar terhadap warga Uighur;[67] serta investigasi tahun 2020 mengenai penggunaan kerja paksa yang terkait dengan rantai pasok masker wajah dan baterai.[68] Investigasi lain terhadap krisis di Xinjiang—termasuk yang menghubungkan kekejaman dengan para pemimpin Tiongkok—mengandalkan sumber-sumber seperti “situs web pemerintah yang tersembunyi,”[69] dokumen internal yang bocor,[70] dan video yang direkam secara diam-diam.[71] Terkait Tibet, Times memberikan liputan yang kuat terhadap laporan investigasi oleh kelompok-kelompok seperti Human Rights Watch mengenai topik-topik seperti pengeluaran keamanan,[72] imbalan uang bagi warga yang melapor ke polisi tentang tindakan perlawanan,[73] serta relokasi massal.[74]

    Banyak dari sumber-sumber yang sama ini sebenarnya telah tersedia secara luas terkait dengan penganiayaan terhadap Falun Gong. Faktanya, taktik seperti “transformasi” telah menjadi inti dari kampanye anti-Falun Gong oleh rezim jauh sebelum taktik tersebut diterapkan terhadap warga Uighur. Selain itu, praktik pemberian imbalan uang untuk memicu masyarakat umum agar melaporkan praktisi Falun Gong juga telah didokumentasikan dengan baik.[75] Selain dipublikasikan oleh entitas seperti InfoCenter,[76] taktik dan sumber-sumber ini juga telah ditemukan secara independen serta dirujuk dalam laporan-laporan oleh para peneliti HAM,[77] pakar,[78] pembuat film dokumenter,[79] dan lembaga penelitian kebijakan seperti Komisi Eksekutif-Kongres AS untuk Tiongkok.[80] Namun, materi asli yang dapat diverifikasi ini, hasil penelitian yang diterbitkan setelahnya, serta sumber informasi serupa lainnya yang mudah diakses, telah sepenuhnya diabaikan oleh NYT jika hal tersebut berkaitan dengan Falun Gong

 
  • Kolom Opini, Kolom Penulis, dan Tajuk Rencana Mengenai Pelanggaran Hak Asasi:
    Area kontras lainnya yang mencolok terlihat pada bagian opini di NYT. Sejak tahun 2009, Times telah menerbitkan 27 kolom opini atau tajuk rencana tentang krisis hak asasi manusia yang dihadapi warga Uighur. Jumlah tersebut mencakup 10 tulisan yang disusun oleh staf NYT (enam tajuk rencana dan empat kolom) serta 12 tulisan oleh pakar asing atau pembela hak asasi manusia. Mereka juga memberikan ruang sebanyak lima kali bagi warga Uighur sendiri untuk berbagi kisah penderitaan di tanah air mereka serta nasib orang tua mereka yang ditahan atau hilang. Demikian pula, NYT telah menerbitkan 16 kolom opini, tajuk rencana, atau surat kepada redaksi mengenai penderitaan warga Tibet di Tiongkok. Ini pun mencakup tiga tulisan karya staf surat kabar tersebut, sembilan oleh pakar, pembela hak asasi, atau pendukung (termasuk tiga oleh aktivis Tiongkok), dan empat oleh warga Tibet sendiri. Banyaknya artikel yang ditulis oleh staf surat kabar—terutama tajuk rencana—menunjukkan posisi jelas media tersebut dalam mendukung hak-hak komunitas ini dan mengutuk penindasan kejam yang mereka hadapi. Berbagai artikel yang ditulis langsung oleh anggota komunitas ini memberikan penguatan penting bagi suara mereka agar dapat menjangkau audiens internasional.

    Namun, selama periode yang sama, Times tercatat menerbitkan nol tajuk rencana, kolom opini, ataupun surat kepada redaksi mengenai penderitaan praktisi Falun Gong dan keluarga mereka di Tiongkok. Hanya ada satu kolom yang diterbitkan pada tahun 2009 oleh kolumnis Nick Kristof, itu pun isinya menyoroti kemahiran teknologi praktisi Falun Gong di luar negeri dan bagaimana perangkat mereka untuk menembus Great Firewall Tiongkok telah membantu pengunjuk rasa anti-pemerintah di Iran. Kelangkaan yang ekstrem ini tidak serta-merta disebabkan oleh kurangnya upaya pengiriman tulisan dari pihak luar, meskipun tajuk rencana dan kolom opini sebenarnya tidak harus bergantung pada kontributor luar.

    Bahkan selama dekade pertama penganiayaan Falun Gong (1999–2008)—saat penindasan tersebut mungkin masih segar dalam ingatan publik—perbedaan ruang yang diberikan dibandingkan dengan warga Uighur dan Tibet tetap terlihat sangat nyata. Selama periode tersebut, terdapat 14 tajuk rencana, opini, atau surat kepada redaksi mengenai penganiayaan yang dihadapi praktisi Falun Gong di Tiongkok. Dari jumlah tersebut, kelompok terbesar adalah surat kepada redaksi (lima buah), alih-alih artikel lengkap yang mendalam. Hanya dua tajuk rencana yang diterbitkan untuk mengutuk penganiayaan terhadap penganut Falun Gong di Tiongkok: satu pada Juli 1999 sesaat setelah dimulainya penganiayaan[81] dan satu lagi pada 2001 ketika penelitian menunjukkan rezim mengirim praktisi yang sehat ke rumah sakit jiwa.[82] Empat kolom opini diterbitkan oleh para pakar atau aktivis Tiongkok yang mengecam penganiayaan tersebut. Namun, yang perlu dicatat adalah adanya dua opini lainnya—satu oleh seorang pakar dan satu lagi oleh mantan koresponden NYT—yang justru mengambil posisi yang tampak membela tindakan keras Beijing. Nama terakhir bahkan menyebut Falun Gong sebagai “sekte” dan menyimpulkan bahwa “tidak heran jika Beijing merasa tidak aman.”[83] Hal yang paling menonjol adalah tidak adanya opini atau surat yang diterbitkan oleh praktisi Falun Gong etnis Tionghoa. Hanya satu surat kepada redaksi oleh seorang praktisi kulit putih asal Inggris yang diterbitkan pada November 1999.[84] Tidak ada ruang opini bagi penyintas penyiksaan maupun bagi sekian banyak kerabat praktisi Falun Gong yang dipenjara yang tinggal di luar negeri. Berdasarkan upaya InfoCenter sendiri dan wawancara dengan anggota komunitas, hal ini terjadi bukan karena tidak adanya upaya pengiriman tulisan ke redaksi.

Pemberitaan di bagian Opini—termasuk kolom opini (op-eds), tajuk rencana (editorials), dan kolom penulis (columns)—dari tahun 2009 hingga 2023 yang berkaitan dengan masing-masing dari ketiga krisis hak asasi manusia tersebut.

Liputan Dibandingkan dengan Ukuran Komunitas dan Lokasi di Tiongkok

Liputan yang lebih luas, lebih akurat, dan lebih simpatik terhadap penindasan yang dihadapi warga Tibet dan Uighur dibandingkan dengan praktisi Falun Gong terlihat semakin mencolok jika mempertimbangkan ukuran relatif dari masing-masing komunitas tersebut. Menurut laporan Freedom House tahun 2017, terdapat 6–8 juta umat Buddha Tibet di Tiongkok, sekitar 10 juta Muslim Uighur, dan 7–20 juta praktisi Falun Gong. Perkiraan ini mengindikasikan bahwa komunitas Falun Gong di Tiongkok setidaknya sama besarnya—jika tidak lebih besar—daripada kedua minoritas lain yang juga mengalami penganiayaan tersebut. Perkiraan dari situs web Minghui bahkan menempatkan jumlah praktisi di Tiongkok pada angka 20–40 juta dan, sebagaimana dicatat sebelumnya, sebelum penganiayaan dimulai, jumlah praktisi mencapai sedikitnya 70 juta orang, bahkan menurut laporan NYT sendiri.

Terlebih lagi, Falun Gong adalah komunitas berkeyakinan yang tersebar di seluruh Tiongkok dan, hingga baru-baru ini, dikenal luas sebagai kelompok tahanan hati nurani terbesar di negara tersebut, serta salah satu kelompok yang menerima perlakuan paling brutal. Sebagai contoh, laporan Departemen Luar Negeri AS tahun 2009 menyampaikan bahwa: “Beberapa pengamat asing memperkirakan bahwa pengikut Falun Gong mencakup setidaknya setengah dari 250.000 narapidana yang tercatat secara resmi di kamp RTL [re-education through labor/pendidikan ulang melalui kerja paksa], sementara sumber Falun Gong di luar negeri menempatkan jumlah tersebut bahkan lebih tinggi lagi.” Baru-baru ini, pakar Andrew Junker merefleksikan hal tersebut dalam bukunya tahun 2019:

“Tanpa keraguan sedikit pun, Falun Gong tergolong sebagai salah satu kelompok—dan dalam beberapa ukuran mungkin yang paling—teraniaya secara kejam di era reformasi. Terlebih lagi, berbagai sumber pihak ketiga telah menyatakan bahwa PKT secara konsisten menargetkan Falun Gong dengan tingkat kekerasan negara dan paksaan yang luar biasa.

Ketika menimpa Falun Gong dan terjadi di seluruh Tiongkok, pelanggaran seperti pengawasan, penahanan sewenang-wenang, penyiksaan, kerja paksa, dan kematian dalam tahanan secara argumen memiliki implikasi yang bahkan lebih besar terhadap supremasi hukum, kebebasan bagi mayoritas warga negara, serta potensi keterlibatan bisnis asing, dibandingkan dengan pelanggaran yang terisolasi di wilayah yang relatif berpenduduk jarang seperti Tibet dan Xinjiang.

Dari perspektif ini, jika NYT mengikuti standar etika jurnalistik dan nilai berita yang sama untuk ketiga komunitas tersebut, orang akan berharap untuk melihat setidaknya jumlah laporan yang sama banyaknya mengenai Falun Gong dibandingkan dengan dua kelompok lainnya—bukan justru jauh lebih sedikit.”

Mengapa Perlakuannya Berbeda?

Perbandingan di atas menimbulkan pertanyaan besar: mengapa liputan mengenai warga Uighur dan Tibet sangat berbeda dengan liputan mengenai Falun Gong? Tanpa mengetahui seluk-beluk internal NYT, sulit untuk menentukan penyebab pasti dari perbedaan ini, meskipun terdapat kemiripan nyata dalam penderitaan yang mereka hadapi di Tiongkok. Namun demikian, ada beberapa faktor yang masuk akal untuk dipertimbangkan—termasuk prasangka internal surat kabar tersebut, upaya rezim untuk menjadikan Falun Gong sebagai tabu yang mutlak, serta bias sekuler yang tertanam—yang menciptakan hambatan tambahan bagi pelaporan Falun Gong dibandingkan dengan liputan warga Uighur dan Tibet.

Pertama, sebagaimana disampaikan pada bagian sebelumnya, NYT tampaknya telah menginternalisasi berbagai ketidakakuratan dan bias negatif terhadap Falun Gong. Hal ini mencakup anggapan bahwa para praktisi adalah “korban yang tidak layak dibela” dan bahwa PKT telah berhasil menumpas Falun Gong pada tahun-tahun awal kampanye tersebut. Salah persepsi ini hampir dipastikan berkontribusi pada berkurangnya liputan di kemudian hari, termasuk selama 15 tahun terakhir. Sebaliknya, hambatan semacam ini tidak ditemukan dalam kasus warga Uighur dan Tibet, sehingga memudahkan munculnya laporan yang lebih akurat, rutin, dan simpatik mengenai penderitaan mereka.

Kedua, penting untuk mencatat prioritas dan sumber daya yang dikerahkan oleh PKT untuk mengubur berita tentang Falun Gong dan mencegah munculnya simpati dunia. Pada akhir 1999, saat menghadiri KTT APEC bersama para pemimpin dunia, Jiang Zemin bahkan bertindak sejauh membagikan “sebuah buku yang menyerang kelompok tersebut [Falun Gong] kepada banyak peserta pertemuan, termasuk Presiden Clinton,” menurut laporan dari Washington Post.[86]

Prioritas ini tidak berubah setelah lebih dari dua dekade penganiayaan, dan dalam beberapa hal justru semakin intensif karena praktisi Falun Gong telah membuktikan ketangguhan mereka. Falun Gong telah muncul sebagai jaringan perlawanan akar rumput berskala nasional dan jaringan anti-sensor di Tiongkok, serta menjadi kekuatan berpengaruh yang kritis terhadap PKT dan menantang dominasi partai tersebut atas diaspora Tiongkok di seluruh dunia.[87] Sebuah analisis terhadap situs web dan pidato pemerintah Tiongkok sejak 2017 yang diterbitkan oleh InfoCenter pada Desember 2023 menemukan bahwa “kampanye kekerasan untuk membasmi Falun Gong dipandang di dalam internal partai sebagai komponen utama dari upaya rezim untuk mengendalikan populasi, mempertahankan kekuasaan politik, dan menjaga supremasi ideologi.”[88] Dalam beberapa kasus, termasuk konferensi pers tahun 2021 oleh Kementerian Keamanan Publik, Falun Gong terdaftar sebagai prioritas keamanan nasional di atas warga Uighur dan Tibet.[89] Oleh karena itu, melaporkan tentang Falun Gong bahkan lebih mungkin memicu kemarahan rezim dibandingkan liputan tentang pelanggaran terhadap komunitas teraniaya lainnya di Tiongkok.

Terakhir, pemberitaan NYT turut memicu sekaligus mencerminkan kebungkaman dan pengabaian yang lebih luas terhadap Falun Gong di antara banyak pakar, ahli, dan institusi elit. Dalam sebuah artikel mendalam tahun 2021 berjudul “Why Did Liberal Elites Ignore a 21st-Century Genocide?”, analis Caylan Ford mengeksplorasi fenomena ini, dengan mencatat bahwa “Hilangnya kisah Falun Gong adalah bukti keberhasilan Partai Komunis dalam menekan dan mengelola diskursus global tentang subjek-subjek ‘sensitif’.”[90] Ia mengaitkan keberhasilan ini dengan kombinasi dari tindakan balasan agresif PKT terhadap pihak-pihak yang berpotensi menjadi pendukung Falun Gong, serta fakta bahwa bagi institusi budaya yang semakin progresif di Barat, “keyakinan teistik biasanya tidak selaras dengan gagasan liberal-progresif tentang kemajuan sosial.”

Menyatukan faktor-faktor tersebut, dalam bukunya tahun 2019 yang berjudul Becoming Activists in Global China: Social Movements in the Chinese Diaspora, pakar Andrew Junker mencatat adanya insentif yang digunakan oleh PKT untuk menekan pelaporan tentang Falun Gong sekaligus bias sekuler yang telah membutakan banyak pengamat Tiongkok terhadap pentingnya isu ini:

“Falun Gong dan gerakan demokrasi adalah dua subjek yang paling tabu di Tiongkok. Dalam melakukan penelitian serius mengenai keduanya, peneliti Tiongkok maupun non-Tiongkok harus menanggung banyak risiko, termasuk kehilangan kesempatan kerja dan akses ke Tiongkok. Kedua, adanya bias sekularistik dalam ilmu sosial modern membuat para pakar cenderung melihat Falun Gong hanya sebagai pertunjukan sampingan yang aneh di tengah kekuatan sejarah yang sebenarnya. Hasil gabungan dari kedua faktor ini adalah semacam kebutaan. Saat kita mencoba berdiri di luar episode sejarah Falun Gong dan menatap ke dalam, seolah-olah salah satu mata kita telah dicolok oleh negara Tiongkok, sementara kita menutupi mata yang satunya lagi dengan tangan kita sendiri.”

Sayangnya, pola pemberitaan NYT dalam hal Falun Gong hanya memperburuk kondisi kebutaan tersebut.

6. Mulai Melancarkan Serangan Terbuka

Sejak tahun 2016, pemberitaan NYT mengenai Falun Gong mulai memburuk, bahkan terkadang menunjukkan sikap bermusuhan secara terbuka.

Meskipun media tersebut tidak memuat satu pun berita sejak 2016 tentang penganiayaan kejam yang masih dialami para praktisi Falun Gong di Tiongkok—maupun tentang penindasan lintas negara terhadap mereka yang telah mengungsi—surat kabar ini tetap menerbitkan beberapa artikel (6 artikel) yang cukup banyak membahas tentang latihan ini.[91] Sayangnya, artikel-artikel tersebut hanya fokus pada kegiatan yang dilakukan oleh komunitas di luar negeri, yang sebagian besar disajikan dengan sudut pandang negatif akibat pengaruh situasi politik di Amerika Serikat. Tulisan-tulisan itu justru mengulang dan memperkuat kekeliruan informasi yang pernah ada sebelumnya. Secara gaya penulisan, mereka juga memberikan porsi dan kepercayaan yang lebih besar kepada para pengkritik Falun Gong daripada kepada para praktisinya sendiri, padahal para pengkritik tersebut terbukti memiliki hubungan dengan PKT. Ada empat aspek dari pemberitaan baru-baru ini yang sangat menonjol dan mencemaskan:

Memberikan Panggung bagi Pengkritik Falun Gong

Salah satu contoh yang sangat mencolok adalah artikel tahun 2016 mengenai kejadian di daerah Flushing, New York. Di sana, kelompok-kelompok pendukung PKT berkali-kali menyerang secara fisik dan mengganggu para praktisi Falun Gong yang sedang menjaga stan informasi.[92] Anehnya, artikel tersebut justru menggambarkan kedua belah pihak seolah-olah sama-sama bersalah. Artikel itu malah lebih mengutamakan pernyataan dari pengacara yang mewakili pihak penyerang—termasuk ejekan yang menyebut keyakinan Falun Gong sebagai sesuatu yang “aneh”—sambil meragukan kenyataan bahwa para praktisi Falun Gong adalah korban kekerasan.

Hal yang sangat fatal adalah artikel tersebut sama sekali tidak menyebutkan siapa sebenarnya tokoh utama yang mengkritik Falun Gong, yaitu pria bernama Michael Chu. Ia memiliki jabatan di organisasi seperti New York Association for the Peaceful Reunification of China, yang sudah dikenal luas sebagai organisasi proksi Front Persatuan milik PKT untuk mengendalikan warga diaspora Tiongkok. Artikel itu juga tidak menjelaskan bahwa organisasi lain yang ia ikuti, Chinese Anti-Cult Alliance, merupakan bagian dari jaringan luas yang terkait erat dengan PKT dan “Kantor 6-10″—sebuah lembaga ilegal yang dibentuk khusus untuk memulai penganiayaan terhadap Falun Gong.[93] Singkatnya, laporan NYT menelan mentah-mentah dan bahkan mengangkat opini tentang Falun Gong dari orang-orang yang jelas-jelas berhubungan dengan PKT. Tanpa mengungkap adanya hubungan tersebut, media ini seolah-olah meyakinkan pembaca bahwa mereka adalah narasumber yang netral dan objektif.

Menghidupkan Kembali Gambaran Keliru tentang Keyakinan Falun Gong

Antara tahun 2017 hingga 2018, surat kabar tersebut sama sekali tidak memberitakan tentang Falun Gong. Namun, mulai tahun 2019, kualitas pemberitaannya semakin memburuk. Pada tahun-tahun sebelumnya, laporan NYT masih mencampurkan gambaran yang benar dan yang salah tentang Falun Gong. Bahkan, sempat ada masa di mana istilah-istilah yang netral dan akurat lebih sering digunakan, terutama saat jurnalis seperti Andrew Jacobs melapor langsung dari Tiongkok. Namun, sejak tahun 2019, hampir semua artikel di surat kabar tersebut justru menggunakan penjelasan yang negatif dan tidak akurat dalam menggambarkan latihan ini.

Penyebutan tentang Falun Gong dalam artikel-artikel tersebut penuh dengan ketidakakuratan dan pemutarbalikan fakta. Banyak kesalahan data dan gambaran keliru dari masa awal penganiayaan muncul kembali dalam laporan-laporan terbaru mereka. Istilah seperti “tertutup” atau “berbahaya” digunakan berulang kali. Selain itu, penyebutan tentang orang-orang yang ingin dirahasiakan identitasnya karena “takut dibalas” secara tidak langsung menuduh adanya ancaman kekerasan dari para praktisi. Padahal, selama hampir 25 tahun menghadapi penganiayaan kejam di Tiongkok dan melakukan aksi protes di seluruh dunia, Falun Gong terbukti sangat memegang teguh prinsip tanpa kekerasan. Hal-hal seperti kepercayaan tentang alien atau surga yang terpisah untuk ras yang berbeda—yang sebenarnya hanyalah bagian kecil dan tidak utama dalam ajaran Falun Gong—justru diangkat seolah-olah menjadi inti dari latihan ini. Padahal, fokus utama harian para praktisi adalah refleksi diri, perbaikan moral, dan ketenangan jiwa. Keyakinan Falun Gong juga disebut “ekstrem” dan dituduh melarang pernikahan beda ras. Tuduhan ini jelas salah karena kenyataannya ada banyak keluarga beda ras di dalam komunitas Falun Gong.

Meremehkan Skala Penganiayaan dan Bukti Independen

Beberapa penjelasan mengenai penganiayaan dalam artikel tersebut meremehkan skala kejadian yang sebenarnya. Sebagai contoh, mereka hanya menyebutkan ada “puluhan ribu” orang yang dikirim ke kamp kerja paksa “pada masa awal penindasan”. Padahal kenyataannya, ada ratusan ribu hingga jutaan orang yang ditahan pada tahun-tahun awal itu. Bahkan hingga saat ini, masih ada puluhan ribu orang yang ditahan dan ratusan orang lainnya dijatuhi hukuman penjara baru setiap tahunnya. Laporan tentang penyiksaan dan perampasan organ pun hanya dianggap sebagai “tuduhan” sepihak dari praktisi Falun Gong atau disebut sebagai “klaim yang berlebihan”.[94] Mereka sengaja mengabaikan banyaknya laporan independen dan bukti dari pihak ketiga yang membenarkan adanya pelanggaran tersebut. Selain itu, laporan ini kembali memakai sudut pandang keliru milik PKT yang mengeklaim bahwa Falun Gong sudah berhasil dihancurkan di Tiongkok, dengan menyatakan bahwa “keberadaan kelompok tersebut di sana sekarang sudah jauh berkurang.”[95]

Sebagai contoh, artikel NYT pada 24 Oktober 2020 menyederhanakan seluruh pelanggaran HAM terhadap Falun Gong di Tiongkok seolah-olah itu hanyalah tuduhan sepihak dari mereka sendiri. Artikel itu menulis: “Kelompok tersebut… menuduh [PKT] telah menyiksa praktisi Falun Gong dan mengambil organ dari mereka yang dieksekusi.” Gambaran seperti ini sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan. Bukan hanya pihak Falun Gong yang mendokumentasikan penindasan keji terhadap para praktisi yang damai di Tiongkok, bukti-bukti tersebut juga tercatat dalam laporan tahunan berbagai lembaga internasional, seperti PBB, Amnesty International, Freedom House, dan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat.[96] Salah satu contohnya, laporan Freedom House tahun 2017 menemukan bahwa “para praktisi Falun Gong di seluruh Tiongkok menjadi sasaran pengawasan ketat, penahanan sewenang-wenang, pemenjaraan, dan penyiksaan, serta menghadapi risiko besar dieksekusi tanpa melalui proses hukum.”[97]

Tetapi, pembaca NYT tidak akan pernah tahu kenyataan yang sebenarnya. Mereka justru akan percaya bahwa penderitaan nyata yang dialami jutaan orang di Tiongkok hanyalah sebuah “tuduhan” belaka.

Menyudutkan Para Korban

Gambaran keliru tersebut biasanya hanya berupa kutipan pendek di dalam artikel panjang, di mana NYT justru menggunakan kemampuan investigasinya untuk menyerang para korban. Mereka melukiskan Falun Gong sebagai kelompok yang mencurigakan, tertutup, berbahaya, dan berpihak pada salah satu kubu politik di Amerika Serikat. Salah satu artikel yang sangat bermasalah pada tahun 2020 berfokus pada The Epoch Times, sebuah surat kabar yang didirikan oleh beberapa praktisi Falun Gong, meskipun stafnya terdiri dari orang-orang dengan berbagai latar belakang.

InfoCenter tidak mengetahui urusan internal The Epoch Times dan tidak bisa berkomentar mengenai benar atau tidaknya klaim tentang operasional bisnis mereka. Namun, yang menjadi sorotan adalah bagaimana jurnalis NYT berulang kali menyamakan opini politik staf The Epoch Times dengan keyakinan spiritual komunitas Falun Gong secara luas. Karena The Epoch Times dianggap mendukung mantan Presiden Donald Trump—yang jelas-jelas tidak disukai oleh NYT—mereka menyebut koran tersebut sebagai media yang “didukung oleh Falun Gong.”

Gambaran salah ini seolah-olah menjadikan pandangan segelintir orang di Amerika Serikat sebagai wakil dari seluruh kelompok keyakinan ini, padahal mayoritas praktisi berada di Tiongkok dan di lebih dari 100 negara lainnya. Hal ini juga memberi kesan seolah-olah Falun Gong adalah sebuah organisasi birokrasi raksasa, padahal kenyataannya Falun Gong adalah sistem keyakinan pribadi yang tidak terpusat, tidak punya sistem kependetaan, dan tidak mengumpulkan dana. Jika cara menyamakan sesuatu yang bersifat konspiratif dan menyesatkan ini ditujukan kepada komunitas agama lain—seperti Yahudi atau Muslim—pasti akan dianggap sebagai tindakan diskriminatif yang tidak bisa diterima. Namun, karena Falun Gong kurang begitu dikenal, banyak pembaca yang percaya begitu saja pada laporan NYT, sehingga informasi yang salah ini akhirnya tertanam di pikiran mereka.

Selain itu, gaya pemberitaan tersebut—serta waktu penerbitannya—sangat cocok dengan tujuan dan taktik yang direncanakan oleh pejabat PKT, sebagaimana terungkap dalam dokumen-dokumen yang bocor. Salah satu yang paling nyata adalah serangkaian instruksi penting dari komite Partai di provinsi Henan pada tahun 2017. Dokumen itu merinci berbagai cara untuk “secara efektif menekan aktivitas ‘Falun Gong’ di luar Tiongkok”.[98] Arahan tersebut secara tegas memerintahkan untuk:

Membina kekuatan non-pemerintah untuk melawan [kelompok yang dilarang] seperti Falun Gong, serta menggerakkan orang-orang yang bersahabat dengan Tiongkok—seperti jurnalis yang punya pengaruh besar di Amerika Serikat dan negara-negara Barat—agar mau berbicara demi kepentingan kita, dan berusaha supaya media asing lebih banyak menerbitkan laporan yang menguntungkan kita.

Meskipun hal ini mungkin tidak dilakukan secara sengaja atau bukan karena manipulasi langsung oleh PKT, namun laporan-laporan NYT sejak tahun 2017 jelas terlihat mengikuti pola tersebut. Dampaknya, pemberitaan mereka justru membantu rezim tersebut dalam mencapai tujuannya untuk memfitnah dan mengucilkan Falun Gong.

7. Kesimpulan: Peluang yang Hilang, Nyawa yang Melayang

Pendekatan NYT terhadap Falun Gong merupakan kegagalan besar dalam jurnalisme internasional selama 25 tahun terakhir, dan hal ini membawa dampak yang sangat luas.

“Tujuan utama jurnalisme adalah menyediakan informasi yang akurat dan tepercaya yang dibutuhkan masyarakat agar bisa berfungsi dalam sebuah masyarakat yang bebas. Kewajiban utama jurnalisme adalah pada kebenaran.”

— “Prinsip-Prinsip Jurnalisme,” Project for Excellence in Journalism

Tanggung Jawab Media sebagai Penentu Agenda

Media memikul tanggung jawab untuk menjadi “mata dan telinga” bagi para pembacanya. Mereka harus melaporkan kejadian di dunia secara akurat dan memperingatkan masyarakat tentang adanya krisis yang bisa memengaruhi kehidupan serta sudut pandang mereka. Sikap jujur dan adil dalam menyampaikan berita menjadi jauh lebih penting ketika terjadi pelanggaran HAM besar-besaran, terutama jika pelakunya punya kekuatan besar untuk mengatur narasi atau opini publik.

Di dunia saat ini, luasnya liputan dan cara sebuah media membawakan berita tentang krisis kemanusiaan sangat berpengaruh pada tindakan para pembuat kebijakan dan masyarakat dunia. Hal ini menentukan apakah pelaku kejahatan akan dimintai pertanggungjawaban, dan seberapa besar perlindungan yang akan diterima para korban. Pilihan media untuk bungkam atau memberikan perhatian bisa memberikan hasil yang sangat berbeda, dan berdampak nyata pada keselamatan nyawa manusia.

Surat kabar internasional besar dan penentu agenda berita seperti NYT memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar untuk melaporkan krisis HAM yang berdampak global secara akurat dan tepat waktu. Sebagai gambaran betapa kuatnya pengaruh keputusan redaksi NYT, James W. Dearing dan Everett M. Rogers dalam buku mereka yang berjudul Agenda-Setting (1996) menyatakan:

Ketika para produser dan editor di stasiun televisi, radio, surat kabar, maupun majalah berita menentukan berita mana yang akan diberi waktu paling lama, posisi terbaik, dan judul utama terbesar hari itu, mereka biasanya akan mengecek terlebih dahulu keputusan apa yang diambil oleh editor The New York Times untuk isu yang sama.

Di era internet, keputusan-keputusan ini memiliki dampak yang lebih luas lagi. Sebuah artikel dapat dibaca dan dibagikan oleh jutaan pengguna media sosial hanya dalam hitungan jam setelah terbit. Artikel tersebut kemudian memicu pembuatan tulisan di blog serta menjadi rujukan di halaman Wikipedia yang dilihat oleh jutaan orang lainnya. Hal ini berlaku bagi berita apa pun, namun pengaruhnya jauh lebih besar jika berita tersebut berasal dari The New York Times (NYT).

Endnotes

[1] Yang Feng, “Death of a Radio Host: Falun Gong Practitioner Pang Xun Beaten to Death in Jail,” Bitter Winter, February 23, 2023,  https://bitterwinter.org/falun-gong-practitioner-pang-xun-beaten-to-death/; Johana Bhuiyan, “Police in China can track protests by enabling ‘alarms’ on Hikvision software,” The Guardian, December 29, 2022, https://www.theguardian.com/world/2022/dec/29/china-surveillance-protests-alarms-cameras-hikvision; Leeshai Lemish, “China’s other world,” The New Statesman, August 20, 2008, https://www.newstatesman.com/politics/2008/08/falun-gong-practitioners-china. Bu Dongwei, “Blog: My life inside a Chinese labor camp,” Amnesty International, December 7, 2009, https://www.amnesty.org/en/latest/news/2009/12/blog-my-life-inside-chinese-labor-camp-20091207/.

[2] “A Quarter Century of Persecution, Over 5,000 Confirmed Deaths of Falun Gong Practitioners,” Minghui, December 18, 2023, https://en.minghui.org/html/articles/2023/12/18/213382.html; “Statistics and Evidence,” Falun Dafa Information Center, accessed March 18, 2024, https://id.faluninfo.net/key-statistics-related-to-falun-gong/; Emma Batha, “U.N. urged to investigate organ harvesting in China,” Reuters, September 24, 2019, https://www.reuters.com/article/us-china-rights-organ-harvesting/un-urged-to-investigate-organ-harvesting-in-china-idUSKBN1W92FL/.

[3] Maria Cheung, Torsten Trey, David Matas, Richard An, “Cold Genocide: Falun Gong in China,” Genocide Studies and Prevention: An International Journal, Volume 12 Issue 1, 2018, https://digitalcommons.usf.edu/gsp/vol12/iss1/6/; Nina Shea, “The CCP Wages a Second Genocide—against Falun Gong,” National Review, February 4, 2022, https://www.nationalreview.com/2022/02/the-ccp-wages-a-second-genocide-against-falun-gong/.  

[4] Falun Dafa Information Center, “Behind the April 25 Incident,” April 8, 2001, https://id.faluninfo.net/behind-the-april-25-incident/.

[5] “Ian Johnson of The Wall Street Journal,” The Pulitzer Prizes, 2001, https://www.pulitzer.org/winners/ian-johnson.

[6] Claudia Rosett, “Will Chinese Repression Play in Peoria?,” The Wall Street Journal, February 21, 2002, https://id.faluninfo.net/wall-street-journal-will-chinese-repression-play-in-peoria/.

[7] John Pomfret, “Cracks in China’s Crackdown,” The Washington Post, November 12, 1999, https://www.washingtonpost.com/wp-srv/WPcap/1999-11/12/062r-111299-idx.html.

[8] Philip P. Pan. “Human Fire Ignites Chinese Mystery,” The Washington Post, February 4, 2001, https://www.washingtonpost.com/archive/politics/2001/02/04/human-fire-ignites-chinese-mystery/e27303e3-6117-4ec3-b6cf-58f03cdb4773/.

[9] John Pomfret and Philip Pan, “Torture Is Breaking Falun Gong,” The Washington Post, August 5, 2001, https://id.faluninfo.net/washington-post-torture-is-breaking-falun-gong/.

[10] Philip P. Pan. “Human Fire Ignites Chinese Mystery,” The Washington Post, February 4, 2001, https://www.washingtonpost.com/archive/politics/2001/02/04/human-fire-ignites-chinese-mystery/e27303e3-6117-4ec3-b6cf-58f03cdb4773/.

[11] Elisabeth Rosenthal, “Sect Members Immolate Selves in Tiananmen Square,” The New York Times, January 23, 2001, https://web.archive.org/web/20221128015409/https://www.nytimes.com/2001/01/23/world/sect-members-immolate-selves-in-tiananmen-square.html; Erik Eckholm, “To Fight Sect, China Publicizes a Public Burning,” The New York Times, January 30, 2001, https://web.archive.org/web/20221217022136/https://www.nytimes.com/2001/01/30/world/to-fight-sect-china-publicizes-a-public-burning.html.

[12] “False Fire: China’s Tragic New Standard in State Deception,” NTD, 2001, https://tv.faluninfo.net/false-fire-chinas-tragic-new-standard-in-state-deception/.  

[13] Elizabeth Rosenthal, “Falun Gong Members Mark ’99 Sit-In With New Protests,” The New York Times, April 25, 2001, https://web.archive.org/web/20231011201021/https://www.nytimes.com/2001/04/25/world/falun-gong-members-mark-99-sitin-with-new-protests.html.

[14] Craig Smith, “The New York Times vs. the ‘Great Firewall’ of China,” The New York Times, March 31, 2017, https://web.archive.org/web/20221207100555/https://www.nytimes.com/2017/03/31/insider/the-new-york-times-vs-the-great-firewall-of-china.html.

[15] John Pomfret, “Cracks in China’s Crackdown,” The Washington Post, November 12, 1999, https://www.washingtonpost.com/wp-srv/WPcap/1999-11/12/062r-111299-idx.html.

[16] “In Jiang’s Words: ‘I Hope the Western World Can Understand China Better’,” editorial, The New York Times, August 9, 2001,  https://web.archive.org/web/20210507033938/https://www.nytimes.com/2001/08/09/international/asia/in-jiangs-words-i-hope-the-western-world-can-understand.html.

[17] Falun Dafa Information Center, “CCP Lies: an ‘Evil Cult’?,” https://id.faluninfo.net/misconceptions-an-evil-cult/.

[18] Descriptions and terms related to Falun Gong were extracted from each article and evaluated. If an article contained inaccuracies related to the practice (such as use of the term ‘sect’ in the headline)’ it was coded as ‘inaccurate.’ If it contained a description whose tone was predominantly negative, disparaging, or used inaccurate or loaded terms like ‘secretive’ it was coded as negative. These were combined into the category of ‘negative/inaccurate.’ If an article’s description of Falun Gong was predominantly neutral or positive and was largely accurate, it was coded as neutral-positive. If the description was minimal, such as simply referring to Falun Gong as ‘spiritual movement’ it was coded as such. The 159 articles coded in this way were mostly hard news stories but also included a small number of opinion pieces, letters to the editor, or movie and book reviews.

[20] Sect. 2024. In Oxford English Dictionary. Accessed March 18. https://www.oed.com/dictionary/sect_n1?tl=true.

[21] David Ownby, “Qigong, Falun Gong, and the Body Politic in Contemporary China,” in China’s Transformations: The Stories Beyond the Headlines. (New York: Rowman & Littlefield, 2007), p.92.

[22] As in Ian Austen’s November 9, 2007, story, “Chinese Calls Prompt CBC to Pull Show”. Ian Austen, “Chinese Calls Prompt CBC to Pull Show,” The New York Times, November 9, 2007, https://web.archive.org/web/20230409165458/https://www.nytimes.com/2007/11/09/business/worldbusiness/09broadcast.html.

[23] July 11, 1999 Seth Faison’s article was titled “Secretive Chinese Spiritual Group Holds Protest and Wins a Retraction From Beijing.” Seth Faison, “Secretive Chinese Spiritual Group Holds Protest and Wins a Retraction From Beijing,” July 11, 1999, https://web.archive.org/web/20170913201454/https://www.nytimes.com/1999/07/11/world/secretive-chinese-spiritual-group-holds-protest-wins-retraction-beijing.html.

[24] Craig Smith, “Beijing Protest By Falun Sect Brings Arrest Of Hundreds,” The New York Times, October 2, 2000, https://web.archive.org/web/20150527131005/https://www.nytimes.com/2000/10/02/world/beijing-protest-by-falun-sect-brings-arrest-of-hundreds.html.

[25] David Ownby, Falun Gong and the Future of China, (New York: Oxford University Press, 2008).

[26] Ian Johnson, Wild Grass: Three Stories of Change in Modern China, (United Kingdom: Vintage, 2005).

[27] Didi Tatlow. 2019. Testimony submitted to the China Tribunal, London, United Kingdom, 2019.  https://chinatribunal.com/wp-content/uploads/2019/06/DidiKirstenTatlow_Submission.pdf.

[28] Shanghai TV: 100 Million Around the World Are Learning Falun Dafa, Shanghai TV, 1998, https://tv.faluninfo.net/shanghai-tv-100-million-around-the-world-are-learning-falun-dafa/.

[29] Bay Fang, “An Opiate of the Masses,” U.S. News & World Report, February 14, 1999, http://web.archive.org/web/20120509002028/http:/www.usnews.com/usnews/news/articles/990222/archive_000322_2.htm.

[30] “Statistik dan Bukti,” Falun Dafa Information Center, diakses 18 Maret 2024, https://id.faluninfo.net/statistik-utama-terkait-falun-gong/

[31] Seth Faison, “In Beijing: A Roar of Silent Protestors,” The New York Times, Aprl 27, 1999, http://web.archive.org/web/20240119010923/https://archive.nytimes.com/www.nytimes.com/library/world/asia/042799china-protest.html.

[32] Joseph Kahn, “Notoriety Now for Movement’s Leader,” The New York Times, April 27, 1999, http://web.archive.org/web/20231002163253/https://www.nytimes.com/1999/04/27/world/notoriety-now-for-movement-s-leader.html.

[33] Craig Smith, “Falun Gong Manages Skimpy Rally; Is Sect Fading?,” The New York Times, July 23, 2001, https://web.archive.org/web/20150527172009/https://www.nytimes.com/2001/07/23/world/falun-gong-manages-skimpy-rally-is-sect-fading.html.

[34] Seth Faison, “Subversion Trials Due for Leaders of Sect in China,” The New York Times, August 25, 1999, http://web.archive.org/web/20210302032938/https://www.nytimes.com/1999/08/25/world/subversion-trials-due-for-leaders-of-sect-in-china.html.

[35] Andrew Junker. Becoming Activists in Global China: Social Movements in the Chinese Diaspora. (Cambridge: Cambridge University Press, 2019.)

[36] “Statistik dan Bukti,” Falun Dafa Information Center, diakses 18 Maret 2024, https://id.faluninfo.net/statistik-utama-terkait-falun-gong/

[37] Noakes, Stephen, and Caylan Ford. “Managing Political Opposition Groups in China: Explaining the Continuing Anti-Falun Gong Campaign.” The China Quarterly 223 (2015): 658–79. https://doi.org/10.1017/S0305741015000788.

[38] “China’s Repressive Reflex,” editorial, The New York Times, July 28, 1999, https://web.archive.org/web/20170918032620/https://www.nytimes.com/1999/07/28/opinion/china-s-repressive-reflex.html.

[39]  Elisabeth Rosenthal, “Beijing in Battle With Sect: ‘A Giant Fighting a Ghost,’” The New York Times,  January 26, 2001, https://web.archive.org/web/20210323200112/https://www.nytimes.com/2001/01/26/world/beijing-in-battle-with-sect-a-giant-fighting-a-ghost.html; Elisabeth Rosenthal, “Former Falun Gong Followers Enlisted in China’s War on Sect,” The New York Times, April 5, 2002, https://web.archive.org/web/20230617080717/https://www.nytimes.com/2002/04/05/world/former-falun-gong-followers-enlisted-in-china-s-war-on-sect.html.

[40] Daniel Wakin, “Followers of Falun Gong In Public Relations Battle” The New York Times, December 19, 2002, https://web.archive.org/web/20150527213633/https://www.nytimes.com/2002/12/19/nyregion/followers-of-falun-gong-in-public-relations-battle.html; Elisabeth Rosenthal, “Former Falun Gong Followers Enlisted in China’s War on Sect,” The New York Times, April 5, 2002, https://web.archive.org/web/20230617080717/https://www.nytimes.com/2002/04/05/world/former-falun-gong-followers-enlisted-in-china-s-war-on-sect.html.

[41] Kevin Roose, “How The Epoch Times Created a Giant Influence Machine,” The New York Times, October 24, 2020, last modified March 9, 2021, https://web.archive.org/web/20240308162118/https://www.nytimes.com/2020/10/24/technology/epoch-times-influence-falun-gong.html.

[42] Falun Dafa Information Center, “CCP Lies: an ‘Evil Cult’?,” https://id.faluninfo.net/misconceptions-an-evil-cult/.

[43] “Dangerous Meditation: China’s Campaign Against Falungong,” Human Rights Watch, January 2002, https://www.hrw.org/reports/2002/china/.

[44] “‘Changing the soup but not the medicine?’: Abolishing re-education through labor in China,” Amnesty International, December 17, 2013, https://www.amnesty.org/en/documents/asa17/042/2013/en/.

[45] Sarah Cook, “Falun Gong, The Battle for China’s Spirit,” Freedom House, 2017, https://freedomhouse.org/report/2017/battle-china-spirit-falun-gong-religious-freedom.

[46] “Overview,” International Coalition to End Transplant Abuse in China, Accessed March 18, 2024. https://endtransplantabuse.org/introduction/?#introduction.

[47] David Matas and David Kilgour, Report into Allegations of Organ Harvesting of Falun Gong Practitioners in China, July 6, 2006, https://cja.org/wp-content/uploads/downloads/Kilgour-Matas-organ-harvesting-rpt-July6-eng.pdf.

[48] Ethan Gutmann, The Slaughter: Mass Killings, Organ Harvesting, and China’s Secret Solution to its Dissident Problem, (New York: Prometheus Books, 2014).

[49] Didi Tatlow, “Angry Claims and Furious Denials Over Organ Transplants in China,” The New York Times, August 24, 2016, https://web.archive.org/web/20240224094311/https://www.nytimes.com/2016/08/25/world/asia/china-organ-transplants.html.

[50] “Media Coverage on the Final Judgement” China Tribunal, Accessed March 18, 2024, https://press.chinatribunal.com/press/#2.

[51] Edward Wong, “Intellectuals Call for Release of Uigur Economist,” The New York Times, July 14, 2009, https://web.archive.org/web/20230620211453/https://www.nytimes.com/2009/07/15/world/asia/15china.htmll; Andrew Jacobs, “Uighur Intellectual Who Won’t Back Down in China,” The New York Times, August 20, 2010, https://web.archive.org/web/20240311164937/https://www.nytimes.com/2010/08/21/world/asia/21china.html; Edward Wong, “China: Uighur Scholar Monitored,” The New York Times, February 8, 2013, https://web.archive.org/web/20220617014757/https://www.nytimes.com/2013/02/09/world/asia/china-uighur-scholar-monitored.html; Andrew Jacobs, “Uighur Scholar in Ugly Confrontation With Security Agents,” The New York Times, November 4, 2013, https://web.archive.org/web/20230818104431/https://archive.nytimes.com/sinosphere.blogs.nytimes.com/2013/11/04/uighur-scholar-ilham-tohti-in-ugly-confrontation-with-security-agents/; The New York Times, “Outspoken Uighur Scholar Detained in Beijing,” The New York Times, January 16, 2014,  https://web.archive.org/web/20221128080522/https://archive.nytimes.com/sinosphere.blogs.nytimes.com/2014/01/16/outspoken-uighur-scholar-detained-in-beijing/; Andrew Jacobs, “Advocate for Uighurs Seems to Have Foretold Detention,” The New York Times, February 20, 2014,  https://web.archive.org/web/20230717212306/https://archive.nytimes.com/sinosphere.blogs.nytimes.com/2014/02/20/advocate-for-uighurs-seems-to-have-foretold-detention/; Andrew Jacobs, “China Charges Scholar With Inciting Separatism,” The New York Times, February 27, 2014, https://web.archive.org/web/20230727173422/https://www.nytimes.com/2014/02/27/world/asia/ilham-tohti.html; Jewher Ilham, “A Uighur Father’s Brave Fight,” The New York Times,  May 4, 2014, https://web.archive.org/web/20221206081834/http://www.nytimes.com/2014/05/05/opinion/a-uighur-fathers-brave-fight.html; Chris Buckley, “Uighur Scholar Will Fight Charges of Separatism in China, Lawyer Says,” The New York Times, June 26, 2014, https://web.archive.org/web/20231213090541/https://www.nytimes.com/2014/06/27/world/asia/uighur-scholar-will-fight-charges-of-separatism-in-china-lawyer-says.html; Andrew Jacobs, “China Charges leading Uighur Scholar With Separatism,” The New York Time, July 30, 2014, https://web.archive.org/web/20220616222502/https://www.nytimes.com/2014/07/31/world/asia/china-ilham-tohti-uighurs-xinjiang.html; Andrew Jacobs, “Jailed Uighur Scholar Rejects China’s Separatism Charges as ‘Distorted’,” The New York Times, August 6, 2014, https://web.archive.org/web/20221225201117/https://www.nytimes.com/2014/08/07/world/asia/jailed-uighur-scholar-rejects-chinas-separatism-charges-as-distorted.html; Edward Wong, “Uighur Scholar Ilham Tohti Goes on Trial In China on Separatist Charges,” September 17, 2014, https://web.archive.org/web/20220901231239/http://www.nytimes.com/2014/09/18/world/asia/separatism-trial-of-ilham-tohti-uighur-scholar-begins-in-china.html; Edward Wong, “Trial of Uighur Scholar Ends in China,” The New York Times,  September 18, 2014, https://web.archive.org/web/20240318162634/https://www.nytimes.com/2014/09/19/world/asia/trial-of-uighur-scholar-ilham-tohti-ends-in-china.html; Edward Wong, “China Sentences Uighur Scholar to Life,” The New York Times, September 23, 2014, https://web.archive.org/web/20240312181940/https://www.nytimes.com/2014/09/24/world/asia/china-court-sentences-uighur-scholar-to-life-in-separatism-case.html; Austin Ramzy, “Western Governments Criticize Uighur Scholar’s Punishment,” The New York Times,  September 24, 2014, https://sinosphere.blogs.nytimes.com/2014/09/23/the-uighur-scholar-ilham-tohti-on-life-under-scrutiny-in-china/https://web.archive.org/web/20221226054828/https://archive.nytimes.com/sinosphere.blogs.nytimes.com/2014/09/24/western-governments-fault-prison-for-uighur-scholar/; Andrew Jacobs, “Uighur Scholar’s Sentence Is Seen as Reining in Debate on Minorities in China,” September 24, 2014,  https://web.archive.org/web/20210814110444/https://www.nytimes.com/2014/09/25/world/asia/uighurs-sentence-seen-as-a-sign-of-narrowing-ethnic-debate.html; Chris Buckley, “Xinhua Details charges in Case Against ilham Tohti,” The New York Times, September 25, 2014,  https://web.archive.org/web/20220930080938/https://archive.nytimes.com/sinosphere.blogs.nytimes.com/2014/09/25/xinhua-details-charges-in-case-against-ilham-tohti/; Nicholas Bequelin, “The Price of China’s Uighur Repression,” The New York Times, September 25, 2014,  https://web.archive.org/web/20230106204947/https://www.nytimes.com/2014/09/26/opinion/nicholas-bequelin-china-jailing-of-ilham-tohti-will-radicalize-more-uighurs.html; Edward Wong, “3 Chinese Students, Missing for Months, Surface to Denounce Uighur Scholar,” The New York Times, September 26, 2014,  https://web.archive.org/web/20230423231002/https://www.nytimes.com/2014/09/27/world/asia/3-Missing-Chinese-Students-Surface-to-Denounce-Uighur-Tohti.html; Andrew Chow, “Vigil is Planned for Uighur Writer,” The New York Times, September 28, 2014, https://web.archive.org/web/20230914201138/https://www.nytimes.com/2014/09/29/books/vigil-is-planned-for-uighur-writer.html;  James Millward, “China’s Fruitless Repression of the Uighurs,” The New York Times, September 28, 2014, https://web.archive.org/web/20231013084330/https://www.nytimes.com/2014/09/29/opinion/chinas-fruitless-repression-of-the-uighurs.html; “China Punishes a Scholar,” editorial, The New York Times,  October 7, 2014,  https://web.archive.org/web/20170916203344/https://www.nytimes.com/2014/10/08/opinion/china-punishes-a-scholar.html; Nick Cumming-Bruce, “Ilham Tohti, Uighur Scholar in Chinese Prison, Is Given Human Rights Award,” The New York Times, October 11, 2016, https://web.archive.org/web/20240311164937/https://www.nytimes.com/2016/10/12/world/europe/ilham-tohti-uighur-human-rights-award.html.

[52] Edward Wong, “Tibetans Fight to Salvage Fading Culture in China,” The New York Times, November 28, 2015,  https://web.archive.org/web/20240317203304/https://www.nytimes.com/2015/11/29/world/asia/china-tibet-language-education.html; Jonah M. Kessel, Tashi Wangchuk: A Tibetan’s Journey for Justice, documentary, produced by The New York Times, 2015, https://web.archive.org/web/20240317203307/https://www.nytimes.com/video/world/asia/100000004031427/a-tibetans-journey-for-justice.html; Edward Wong, “Tibetan Entrepreneur Has Been Illegally Detained, Family Says,” The New York Times,  March 10, 2016, https://web.archive.org/web/20230916232824/https://www.nytimes.com/2016/03/11/world/asia/china-tibet-tashi-wangchuk.html; Edward Wong, “China Charges Tibetan Education Advocate With Inciting Separatism,” The New York Times, March 30, 2016, https://web.archive.org/web/20230916111429/https://www.nytimes.com/2016/03/31/world/asia/china-tibet-tashi-wangchuk.html; Edward Wong, “Police in China Push for Trial of Tibetan Education Advocate,” The New York Times, August 20, 2016, https://web.archive.org/web/20240315184916/https://www.nytimes.com/2016/08/31/world/asia/china-tibet-tashi-wangchuk.html; Edward Wong, “Chinese Prosecutors Ask Court for More Time in Detained Tibetan’s Case,” The New York Times, December 28, 2016 https://web.archive.org/web/20231110120015/https://www.nytimes.com/2016/12/28/world/asia/tashi-wangchuk-tibet-china.html; Edward Wong, “Rights Groups Ask China to Free Tibetan Education Advocate,” The New York Times, January 18, 2017, https://web.archive.org/web/20230326183445/https://www.nytimes.com/2017/01/18/world/asia/china-tibetan-education-advocate.html; Edward Wong, “China to Try Tibetan Education Advocate Detained for 2 Years,” The New York Times,  December 30, 2017, https://web.archive.org/web/20231110115958/https://www.nytimes.com/2017/12/30/world/asia/tashi-wangchuck-trial-tibet.html; Chris Buckley, “Tibetan Businessman Battles Separatism Charges in Chinese Court,” The New York Times, January 4, 2018,  https://web.archive.org/web/20231219232708/https://www.nytimes.com/2018/01/04/world/asia/tibet-china-language-separatism-tashi.html; Chris Buckley, “A Tibetan Tried to Save His Language. China Handed Him 5 Years in Prison.” The New York Times, March 22, 2018, https://web.archive.org/web/20231108072040/https://www.nytimes.com/2018/05/22/world/asia/tibetan-activist-tashi-wangchuk-sentenced.html; Edward Wong, “Tibetan Advocate’s Prison Term in China Is Condemned,” The New York Times, June 7, 2018,  https://web.archive.org/web/20231107214228/https://www.nytimes.com/2018/06/07/world/asia/china-tashi-wangchuk.html; Chris Buckley, “Tibetan Who Spoke Out for Language Rights Is Freed From Chinese Prison,” The New York Times,  January 29, 2021,  https://web.archive.org/web/20240317203311/https://www.nytimes.com/2021/01/29/world/asia/tibet-china-tashi-wangchuk.html.

[53] Andrew Jacobs, “China Imprisons 3 Men Who Maintained Uighur Web Sites,” The New York Times, July 30, 2010,  https://web.archive.org/web/20220617101519/https://www.nytimes.com/2010/07/31/world/asia/31china.html.

[54] Edward Wong, “China Faces Criticism for Sentence of Journalist,” The New York Times, July 24, 2010,  https://www.nytimes.com/2010/07/25/world/asia/25china.html.

[55] Andrew Jacobs, “A Devotion to Language Proves Risky,” The New York Times, May 11, 2014,  https://web.archive.org/web/20231030220308/https://www.nytimes.com/2014/05/12/world/asia/a-devotion-to-language-proves-risky.html; Austin Ramzy, “After U.S-Based Reporters Exposed Abuses, China Seized Their Relatives,” The New York Times, March 1, 2018, https://web.archive.org/web/20240125184829/https://www.nytimes.com/2018/03/01/world/asia/china-xinjiang-rfa.html; Chris Buckley and Austin Ramzy, “Star Scholar Disappears as Crackdown Engulfs Western China,” The New York Times, August 10, 2018, https://web.archive.org/web/20240117231531/https://www.nytimes.com/2018/08/10/world/asia/china-xinjiang-rahile-dawut.html.

[56] Patrick Boehler, “Tenzin Delek Rinpoche, Tibetan Religious Leader, Dies in Chinese Custody,“ The New York Times, July 13, 2015, https://web.archive.org/web/20240315185003/https://www.nytimes.com/2015/07/14/world/asia/tenzin-delek-rinpoche-tibetan-religious-leader-dies-in-chinese-custody.html; Andrew Jacobs, “Chinese Cremate Body of Revered Tibetan Monk, Ignoring Pleas,” The New York Times, July 16, 2015,  https://web.archive.org/web/20220616140159/https://www.nytimes.com/2015/07/17/world/asia/china-cremates-body-of-revered-tibetan-monk-tenzin-delek-rinpoche.html; Andrew Jacobs, “Relatives of Tenzin Delek Rinpoche, Tibetan Monk Who Died in Jail, Are Detained,” The New York Times, July 18, 2015, https://web.archive.org/web/20221225212415/http://www.nytimes.com/2015/07/19/world/asia/relatives-of-tenzin-delek-rinpoche-tibetan-monk-who-died-in-jail-are-detained.html; Dan Levin, “Chinese Police Are Said to Seize Ashes of Tibetan Monk Tenzin Delek Rinpoche,” The New York Times, July 21, 2015, https://web.archive.org/web/20220616140002/https://www.nytimes.com/2015/07/22/world/asia/chinese-police-are-said-to-seize-ashes-of-tibetan-monk-tenzin-delek-rinpoche.html.

[57] Edward Wong, “China: 2 Tibetan Monks Sentenced to Prison,” The New York Times, May 11, 2011,  https://web.archive.org/web/20110517090417/http://www.nytimes.com/2011/05/12/world/asia/12briefs-China.html.

[58] Edward Wong, “Khenpo Kartse, Tibetan Religious Leader, Is Said to Be Sentenced in China,” The New York Times, October 23, 2014, https://web.archive.org/web/20220619202448/https://www.nytimes.com/2014/10/24/world/asia/khenpo-kartse-tibetan-religious-leader-is-said-to-be-sentenced-in-china.html.

[59] Edward Wong, “Prison Sentence for 2 Musicians Who Released Album of Protest Songs,” The New York Times, June 14, 2013, https://web.archive.org/web/20220617004338/https://www.nytimes.com/2013/06/15/world/asia/prison-sentence-for-2-musicians-who-released-album-of-protest-songs.html.  

[60] Andrew Jacobs, “China Frees Frail Tibetan in Prison for Activism,” The New York Times, April 2, 2013,  https://web.archive.org/web/20221224183952/http://www.nytimes.com/2013/04/03/world/asia/tibetan-activist-jigme-gyatso-freed-in-china.html.

[61] Sharon LaFraniere, “China Aims to Stifle Tibet’s Photocopiers,” The New York Times, May 20, 2010,  https://web.archive.org/web/20220617103839/https://www.nytimes.com/2010/05/21/world/asia/21tibet.html.

[62] Andrew Jacobs, “A Tibetan Blogger, Always Under Close Watch, Struggles for Visibility,” The New York Times, April 24, 2009, https://web.archive.org/web/20221104052256/https://www.nytimes.com/2009/04/25/world/asia/25woeser.html.

[63] Edward Wong, “Tibetans Fight to Salvage Fading Culture in China,” The New York Times,  November 28, 2015, https://web.archive.org/web/20240317203304/https://www.nytimes.com/2015/11/29/world/asia/china-tibet-language-education.html; Dan Levin, “Teaching Tibetan Ways, a School in China Is an Unlikely Wonder,” The New York Times, January 27, 2012, https://web.archive.org/web/20220628195852/http://www.nytimes.com/2012/01/28/world/asia/teaching-tibetan-ways-school-in-china-is-unlikely-wonder.html.

[64] Andrew Jacobs, “China Still Presses Crusade Against Falun Gong,” The New York Times, April 27, 1999,  https://web.archive.org/web/20231208212257/https://www.nytimes.com/2009/04/28/world/asia/28china.html.

[65] Andrew Jacobs, “Behind Cry for Help From China Labor Camp,” The New York Times, June 11, 2013, https://web.archive.org/web/20240219115629/https://www.nytimes.com/2013/06/12/world/asia/man-details-risks-in-exposing-chinas-forced-labor.html.  

[66] Chris Buckley, “China Is Detaining Muslims in Vast Numbers. The Goal: ‘Transformation.’,” The New York Times, September 8, 2018, https://web.archive.org/web/20240223225635/https://www.nytimes.com/2018/09/08/world/asia/china-uighur-muslim-detention-camp.html.

[67] Chris Buckley, “China’s Prisons Swell After Deluge of Arrests Engulfs Muslims,” The New York Times, August 31, 2019,  https://web.archive.org/web/20240124043434/https://www.nytimes.com/2019/08/31/world/asia/xinjiang-china-uighurs-prisons.html.

[68] Muyi Xiao, Haley Willis, Christoph Koetti, Natalie Reneau, and Drew Jordan, “China Is Using Uighur Labor to Produce Face Masks,” The New York Times, July 19, 2020, https://web.archive.org/web/20240317210707/https://www.nytimes.com/2020/07/19/world/asia/china-mask-forced-labor.html.  Ana Swanson and Chris Buckley, “Red Flags for Forced Labor Found in China’s Car Battery Supply Chain,” The New York Times, November 4, 2022, https://web.archive.org/web/20240318001003/https://www.nytimes.com/2022/06/20/business/economy/forced-labor-china-supply-chain.html

[69] Chris Buckley, “The Leaders Who Unleashed China’s Mass Detention of Muslims,” The New York Times, October 13, 2018,https://web.archive.org/web/20231107232931/https://www.nytimes.com/2018/10/13/world/asia/china-muslim-detainment-xinjang-camps.html

[70] Austin Ramzy, “5 Takeaways From the Leaked Files on China’s Mass Detention of Muslims,” The New York Times, November 16, 2019, https://web.archive.org/web/20230805064533/https://www.nytimes.com/2019/11/16/world/asia/china-muslims-detention.html.

[71] Muyi Xiao, Christoph Koetti, Natalie Reneau, and Drew Jordan, “Secret Video Offers Rare Look Inside Chinese Labor Program,” The New York Times, December 30, 2019, https://web.archive.org/web/20231226012246/https://www.nytimes.com/video/world/asia/100000006874372/chinese-labor-uighurs.html.

[72] Edward Wong, “Study Points to Heavy-Handed Repression of Tibetan Area in China,” The New York Times, October 12, 2011, https://web.archive.org/web/20221006201420/http://www.nytimes.com/2011/10/13/world/asia/study-points-to-heavy-handed-repression-of-tibetan-area-in-china.html

[73] Andrew Jacobs, “China: Police Offer Rewards for Leads on Self-Immolations,” The New York Times, October 25, 2012,  https://web.archive.org/web/20180130210715/http://www.nytimes.com/2012/10/26/world/asia/china-police-ask-for-leads-on-self-immolations.html

[74] Andrew Jacobs, “Rights Report Faults Mass Relocation of Tibetans,” The New York Times, June 27, 2013, https://web.archive.org/web/20231002004016/https://www.nytimes.com/2013/06/28/world/asia/rights-report-faults-mass-relocation-of-tibetans.html

[75] Sarah Cook, “Falun Gong, The Battle for China’s Spirit,” Freedom House, 2017, https://freedomhouse.org/report/2017/battle-china-spirit-falun-gong-religious-freedom.

[76] “Transformsi Paksa,” Falun Dafa Information Center, accessed March 18, 2024, https://id.faluninfo.net/indoktrinasi-dan-cuci-otak/.

[77] Sarah Cook, “The Learning Curve: How Communist Party Officials are Applying Lessons from Prior “Transformation” Campaigns to Repression in Xinjiang,” China Brief, The Jamestown Foundation, February 1, 2019, https://jamestown.org/program/the-learning-curve-how-communist-party-officials-are-applying-lessons-from-prior-transformation-campaigns-to-repression-in-xinjiang/; The 2017 Freedom House report cited above makes widespread use of such sources to shed light on the scale of persecution, including for hundreds of verdicts of jailed practitioners and budget estimates from the 610 office.

[78] Noakes, Stephen, and Caylan Ford. “Managing Political Opposition Groups in China: Explaining the Continuing Anti-Falun Gong Campaign.” The China Quarterly 223 (2015): 658–79. https://doi.org/10.1017/S0305741015000788;  Caylan Ford, “Tradition and Dissent in China: The Tuidang Movement and its Challenge to the Communist Party“ (Master’s thesis, The Elliott School of International Affairs of The George Washington University, 2008) https://www.allmystery.de/dateien/79056%2C1337890746%2CFord_Caylan2011Tradition_and_Dissent_in_China-_The_Tuidang_Movement_and_its_Challenge_to_the_CP_MA-Thesis.pdf; Maria Cheung, Torsten Trey, David Matas, Richard An, “Cold Genocide: Falun Gong in China,” Genocide Studies and Prevention: An International Journal, Volume 12 Issue 1, 2018, https://digitalcommons.usf.edu/gsp/vol12/iss1/6/.

[80] Congressional-Executive Commission on China, 2008 Annual Report, last modified 2008, https://www.cecc.gov/publications/annual-reports/2008-annual-report; Congressional-Executive Commission on China, 2021 Annual Report, last modified 2021, https://www.cecc.gov/publications/annual-reports/cecc-annual-report-2021; “Communist Party Calls for Increased Efforts to ‘Transform’ Falun Gong Practitioners as Part of Three-Year Campaign,” Congressional-Executive Commission on China, March 22, 2011, https://www.cecc.gov/publications/commission-analysis/communist-party-calls-for-increased-efforts-to-transform-falun-gong.

[81] “China’s Repressive Reflex,” editorial, The New York Times, July 28, 1999, https://web.archive.org/web/20170918032620/https://www.nytimes.com/1999/07/28/opinion/china-s-repressive-reflex.html.

[82] “Contortions of Psychiatry in China,” editorial, The New York Times, March 25, 2001,  https://web.archive.org/web/20231217123716/https://www.nytimes.com/2001/03/25/opinion/contortions-of-psychiatry-in-china.html.

[83] Robert Elegant “China: Contrarian Ferment in a Badly Mismanaged Country,” The New York Times, July 31, 1999, https://web.archive.org/web/20240318235445/https://www.nytimes.com/1999/07/31/opinion/IHT-chinacontrarian-ferment-in-a-badly-mismanaged-country.html.

[84] Simon Veazy, “Falun Gong: LETTERS TO THE EDITOR,” The New York Times, November 4, 1999, https://web.archive.org/web/20240319000712/https://www.nytimes.com/1999/11/04/opinion/IHT-falun-gong-letters-to-the-editor.html.  

[85] Bureau of Democracy, Human Rights, and Labor, “China,” 2008 Country Reports on Human Rights Practices, United States Department of State, February 25, 2009, https://2009-2017.state.gov/j/drl/rls/hrrpt/2008/eap/119037.htm.

[86] John Pomfret, “Cracks in China’s Crackdown,” The Washington Post, November 12, 1999, https://www.washingtonpost.com/wp-srv/WPcap/1999-11/12/062r-111299-idx.html.

[87] “Falun Gong’s Peacful Resistance,” Falun Dafa Information Center, April 26, 2010, https://id.faluninfo.net/falun-gongs-peaceful-resistance/.

[88] “Top Chinese Officials Cite Falun Gong Crackdown as Central to Maintaining Regime Security,” Falun Dafa Information Center, December 6, 2023, https://id.faluninfo.net/new-research-top-chinese-officials-cite-falun-gong-crackdown-as-central-to-maintaining-regime-security/.

[89] “公安部新闻发布会通报全国公安机关全力维护国家安全和社会大局稳定工作实效 [The press conference of the Ministry of Public Security reported on the effectiveness of public security agencies across the country in fully safeguarding national security and overall social stability],” Ministry of Public Security, April 16, 2021,  https://web.archive.org/web/20230820105546/https:/www.gov.cn/xinwen/2021-04/16/content_5599924.htm

[90] Caylan Ford, “Why Did Liberal Elites Ignore a 21st-Century Genocide,” February 4, 2021, https://archive.ph/Uf8K0#selection-1027.214-1027.306

[91] There was one movie review published in October 2022 about Eternal Spring, a film about the persecution in China. Given the focus here on the Times’ news coverage of Falun Gong, it has been excluded from the count.

[92] Corey Kilgannon, “Born on a Queens Street, a Battle Over Falun Gong Goes to Court,” The New York Times, June 28, 2016, https://web.archive.org/web/20231212133743/https://www.nytimes.com/2016/06/29/nyregion/falun-gong-queens-federal-lawsuit.html.

[93] HRLF Staff, Overseas Influence Operations of the Chinese Communist Party: Furthering the Crackdown on Falun Gong in the United States, Human Rights Law Foundation, September 12, 2022, https://hrlf.net/wp-content/uploads/2022/09/2022-Overseas-Influence-Operations-of-the-Chinese-Communist-Party-Furthering-the-Crackdown-on-Falun-Gong-in-the-United-States.pdf.

[94] Didi Tatlow, “Angry Claims and Furious Denials Over Organ Transplants in China,” The New York Times, August 24, 2016,  https://web.archive.org/web/20240224094311/https://www.nytimes.com/2016/08/25/world/asia/china-organ-transplants.html.

[95] Kevin Roose, “How The Epoch Times Created a Giant Influence Machine,” The New York Times, October 24, 2020, last modified March 9, 2021, https://web.archive.org/web/20240308162118/https://www.nytimes.com/2020/10/24/technology/epoch-times-influence-falun-gong.html.

[96] “United Nations,” Falun Dafa Information Center, accessed March 19, 2024, https://id.faluninfo.net/united-nations/; “Amnesty International,” Falun Dafa Information Center, accessed March 19, 2024, https://id.faluninfo.net/amnesty-international/; “Freedom House,” Falun Dafa Information Center, accessed March 19, 2024, https://id.faluninfo.net/freedom-house/; “U.S. Government,” Falun Dafa Information Center, accessed March 19, 2024, https://id.faluninfo.net/united-states-government/.

[97] Sarah Cook, “Falun Gong, The Battle for China’s Spirit,” Freedom House, 2017, https://freedomhouse.org/report/2017/battle-china-spirit-falun-gong-religious-freedom.

[98] “(河南) 省委防范和处理邪教问题领导小组 2017年工作要点 [Key Points in the 2017 Work of Leading Group for Prevention and Handling of Xie Jiao-related Issues of CCP (Henan) Provincial Committee],” Leading Group for Prevention and Handling of Xie Jiao-related Issues of CCP (Henan) Provincial Committee, 2017, https://www.adhrrf.org/wp-content/uploads/2017/12/henan-20170405.pdf.

[99] David Folkenflik, “‘The New York Times’ can’t shake the cloud over a 90-year-old Pulitzer Prize,” NPR, May 8, 2022, https://www.npr.org/2022/05/08/1097097620/new-york-times-pulitzer-ukraine-walter-duranty; Laurel Leff, Buried by the Times: The Holocaust and America’s Most Important Newspaper (Cambridge: Cambridge University Press, 2005).

Share