Warga Amerika Menjadi Target Beijing
Hasil Survei Nasional tentang Bagaimana PKT Menyerang dan Membungkam Falun Gong di Amerika Serikat
Falun Dafa Information Center | Juni 2026
“Ada perasaan yang sangat kuat di antara orang-orang Tiongkok di komunitas kami: ‘Tunggu dulu. Saya sudah keluar dari Tiongkok, tapi sekarang hal yang sama malah terjadi di sini, di Amerika? Saya tidak habis pikir.’ Mereka benar-benar bingung dan seolah tidak percaya.”
— Guru SMA Amerika dari New York
Poin-Poin Penting
Partai Komunis Tiongkok (PKT) merupakan pelaku utama penindasan lintas negara di dunia, yang melancarkan pengawasan, serangan fisik, serta berbagai taktik lainnya terhadap sasaran mereka di Amerika Serikat dan di seluruh dunia.1 Selama lebih dari 26 tahun, PKT telah mengincar warga Amerika yang melakukan latihan spiritual Falun Gong. Di saat jutaan orang yang melakukan latihan Falun Gong di Tiongkok menghadapi penganiayaan kejam hanya karena mempertahankan keyakinan dan melakukan latihan meditasi mereka, rekan-rekan mereka di Amerika ternyata juga mengalami penindasan oleh rezim tersebut di luar wilayah Tiongkok. Sejak tahun 2023, terjadi peningkatan nyata dalam laporan mengenai pelecehan, ancaman kekerasan, serta bentuk-bentuk penindasan lintas negara lainnya yang menyasar para praktisi di Amerika.
Untuk lebih memahami situasi saat ini beserta dampaknya terhadap komunitas, Falun Dafa Information Center mengadakan survei online bagi para praktisi Falun Gong di Amerika Serikat. Dari September 2025 hingga Maret 2026, Falun Dafa Information Center menerima 1.080 tanggapan dari seluruh penjuru negeri. Laporan ini mendokumentasikan hasil survei tersebut dengan tujuan meningkatkan kesadaran masyarakat serta memberikan masukan bagi kebijakan pemerintah dalam merespon masalah hak asasi manusia dan keamanan nasional yang mendesak ini. Temuan-temuan utamanya meliputi:
Daftar Isi
1. Konteks dan Metodologi
2. Tiga Temuan Utama
3. Taktik Utama yang Dikerahkan
4. Narasi yang Diputarbalikkan Berdampak di Dunia Nyata
5. Siapa yang Mengincar Warga Amerika?
6. Bukti Ketangguhan dan Tantangan di Masa Depan
7. Kesimpulan
8. Rekomendasi
Catatan Akhir
Lampiran A: Metodologi dan Kuesioner Survei
Lampiran B: Langkah yang Harus Dilakukan jika Anda Menjadi Korban Penindasan Lintas Negara
Ucapan Terima Kasih
Laporan ini disusun oleh Mark Yang, Alex Zhang, dan Cynthia Sun. Levi Browde, Dr. Larry Liu, serta Dr. James Yu bertindak sebagai peninjau yang memberikan masukan untuk laporan ini. Seluruh temuan yang ada digali dari pengalaman orang-orang pemberani yang bersedia mengisi survei kami serta membagikan kisah mereka—yang sering kali menyisakan trauma. Melalui kesaksian tersebut, mereka telah ikut andil dalam membela kebebasan dan hak asasi manusia di Amerika. Suara mereka sangat krusial demi melindungi prinsip-prinsip mendasar seperti kebebasan, keamanan, dan masyarakat terbuka yang menjadi identitas Amerika Serikat.
Tentang Gambar Utama
Foto tersebut menampilkan sekelompok penari pria muda dari Shen Yun Performing Arts, yang merupakan target utama penindasan transnasional PKT yang didokumentasikan dalam laporan ini. Kredit: Komunitas Shen Yun.
Bab 1
Konteks dan Metodologi
Bab ini mengupas tiga elemen krusial untuk memahami temuan-temuan berikutnya: (A) pengenalan singkat mengenai Falun Gong serta penganiayaan yang dialami para praktisinya di Tiongkok selama lebih dari dua dekade; (B) bukti-bukti dari sumber internal PKT terkait kampanye terencana yang kian gencar untuk memperluas penindasan hingga ke luar wilayah Tiongkok, di mana pergerakannya dikomandoi langsung dari tingkatan tertinggi rezim; serta (C) gambaran umum tentang metodologi yang digunakan dalam menyelenggarakan dan menganalisis survei ini.
Apa itu Falun Gong?
Falun Gong (juga dikenal sebagai Falun Dafa) adalah sebuah latihan spiritual kuno berakar dari tradisi Buddha. Latihan ini memadukan meditasi dan gerakan latihan yang lembut (serupa dengan yoga atau tai chi) dengan filosofi moral yang berlandaskan pada Sejati, Baik, dan Sabar (Zhen 真, Shan 善, Ren 忍). Latihan ini pertama kali diperkenalkan ke publik pada awal tahun 1990-an. Menurut perkiraan pemerintah Tiongkok sendiri, menjelang akhir dekade tersebut, jumlah orang yang ikut melakukan latihan ini di Tiongkok telah mencapai 70 juta hingga 100 juta orang. Falun Gong kemudian menyebar luas ke luar Tiongkok, dan kini dijalankan oleh masyarakat di lebih dari 100 negara.2

Pada tanggal 20 Juli 1999, PKT meluncurkan upaya menyeluruh untuk melenyapkan Falun Gong karena mengkhawatirkan popularitasnya serta dorongannya terhadap kebebasan berpikir. Sejak saat itu, ratusan ribu praktisi di Tiongkok telah ditahan, dipenjara, dan disiksa.3 Terdapat lebih dari 5.300 kasus kematian akibat penyiksaan yang telah terdokumentasi dengan baik, dengan perkiraan angka kematian yang jauh lebih tinggi akibat praktik pengambilan organ secara paksa yang direstui oleh negara.4
Selama bertahun-tahun, para praktisi Falun Gong terus melancarkan aksi damai tanpa kekerasan untuk menentang penganiayaan, membangun kesadaran masyarakat, dan mengedukasi publik. Upaya-upaya ini mencakup advokasi akar rumput, pawai, diskusi publik, aksi unjuk rasa, hingga pendekatan kepada para pejabat pemerintah.5 Di antara berbagai inisiatif tersebut, Shen Yun Performing Arts menjadi salah satu yang paling menonjol.
Didirikan di New York oleh para praktisi Falun Gong, Shen Yun merupakan sebuah grup musik dan tari klasik Tiongkok yang bertujuan untuk menghidupkan kembali budaya tradisional Tiongkok yang murni dari pengaruh komunis. Meskipun sebagian besar dari sekitar 17 hingga 20 babak yang ditampilkan dalam setiap pertunjukan mengangkat kisah legenda, sejarah dinasti, dan cerita rakyat, satu atau dua babak di antaranya menggambarkan penganiayaan terhadap Falun Gong di Tiongkok secara artistik demi menggugah kesadaran dunia terhadap pelanggaran hak asasi manusia tersebut.
Setelah lebih dari 26 tahun berlalu, penganiayaan ini masih terus berlangsung dalam skala besar hingga hari ini. Dalam beberapa tahun terakhir, rezim tersebut semakin gencar melakukan upaya untuk “mengubah” (memaksa melepas keyakinan) para praktisi di Tiongkok—serta mengawasi, melecehkan, membungkam, dan memfitnah para penganutnya di seluruh dunia.6 Melalui kampanye yang kian intensif ini, para praktisi di Amerika Serikat menjadi sorotan khusus dari aparat keamanan rezim, dan Shen Yun secara otomatis menjadi target utama. Fokus utama PKT yang tiada hentinya dalam kampanye melenyapkan Falun Gong, baik di dalam negeri maupun secara global, mempertegas mengapa memahami isu Falun Gong tetap menjadi hal yang krusial untuk membaca situasi Tiongkok kontemporer saat ini.
Perkembangan Utama
Arahan petinggi PKT memicu gencarnya kampanye penindasan lintas negara.
Bocoran informasi dari informan internal PKT mengungkap adanya sebuah pertemuan pada tahun 2022, di mana Xi Jinping secara pribadi memerintahkan dinas keamanan Tiongkok untuk membungkam dan mengintimidasi para praktisi Falun Gong di seluruh dunia.7 Rencana lintas instansi ini sejalan dengan pemberitaan di media The Diplomat serta kesaksian dari seorang aktivis Tiongkok di luar negeri yang memiliki jaringan kuat di Tiongkok.8 Xi dilaporkan menginstruksikan penggunaan dua taktik: lawfare—yaitu melayangkan gugatan hukum tak berdasar untuk membebani dan menjatuhkan reputasi sasaran—serta disinformasi. Ia kabarnya mendesak pemanfaatan akun-akun media sosial dan media arus utama yang tidak memiliki keterkaitan yang dapat dilacak ke PKT. Bocoran informasi berikutnya dari Kementerian Keamanan Publik mengungkap taktik dan instruksi lanjutan yang dikerahkan untuk mewujudkan target tersebut, termasuk arahan tegas untuk mencoba membalikkan opini publik Amerika dan pemerintah AS agar menentang komunitas Falun Gong. Rencana ini juga menetapkan Shen Yun Performing Arts yang berbasis di New York—sebuah perusahaan tari klasik Tiongkok yang didirikan oleh para praktisi Falun Gong—sebagai target utama untuk disabotase dan dijatuhkan reputasinya.9

Mata-mata Tiongkok yang divonis bersalah, John Chen (kiri), mengaku telah bertemu dengan “Paman Xi [Jinping]” sebanyak tiga kali dalam satu dekade, menurut catatan pengadilan Departemen Kehakiman AS. Chen dijatuhi hukuman 20 bulan penjara setelah mencoba menyuap seorang oknum yang dikira pejabat AS untuk mencabut status pajak nirlaba Shen Yun. (Kredit foto: Departemen Kehakiman AS)12
Kantor Penanggulangan Falun Gong di Amerika Utara
Pada tanggal 29 Juni 2021, sebuah surat pengangkatan resmi yang bocor—yang diterbitkan bersama oleh Kementerian Keamanan Publik dan Kementerian Keamanan Negara PKT—dipublikasikan oleh Organisasi Dunia untuk Menyelidiki Penganiayaan terhadap Falun Gong, sebuah LSM berbasis di AS yang berdedikasi untuk melacak penindasan PKT terhadap para praktisi Falun Gong.
Dokumen tersebut mengonfirmasi pengangkatan Wu Xiuhua sebagai direktur “Kantor Bersama Penanggulangan Falun Gong di Amerika Utara,” yang menyingkap keberadaan aparatur lintas instansi yang terorganisasi demi melancarkan penindasan lintas negara. Surat ini memberikan dua poin penting: pertama, membuktikan adanya operasi administratif terselubung PKT di dalam wilayah kedaulatan asing yang menyasar kelompok keyakinan tertentu; kedua, mendokumentasikan peningkatan resmi dari misi luar negeri PKT, di mana kantor tersebut dinaikkan statusnya menjadi “tingkat deputi biro” untuk mengintensifkan penindasan terhadap komunitas Falun Gong dan secara efektif merongrong kedaulatan negara-negara di Amerika Utara. 15

Dokumen bocoran yang diperoleh World Organization to Investigate the Persecution of Falun Gong (WOIPFG).
Panduan Operasi Penindasan di Luar Negeri.
Falun Dafa Information Center telah memantau kampanye yang belum pernah terjadi sebelumnya ini sejak tahun 2023, setelah mendeteksi lonjakan drastis dalam disinformasi daring maupun ancaman luring. Sebagai contoh, antara Maret 2024 hingga Mei 2026, terdapat lebih dari 298 ancaman pembunuhan yang ditujukan kepada para praktisi Falun Gong, keluarga mereka (termasuk anak-anak), serta para pendukungnya.13 Rentetan kasus ini mempertegas bahwa aparatur PKT tunduk pada arahan Xi dan menghalalkan segala cara untuk memfitnah sekaligus membungkam warga negara dan penduduk AS yang menjalankan latihan Falun Gong. Taktik yang dikerahkan begitu masif dan menyeluruh, meliputi: serangan fisik, ancaman kekerasan, spionase, upaya memengaruhi instansi pemerintah AS, penyamaran identitas, lawfare, disinformasi media sosial, hingga manipulasi media. Pelakunya sendiri terdiri dari aktor resmi negara maupun perpanjangan tangan (proksi) mereka.14
Pemberitaan yang Menyesatkan dan Bias di Media AS Gaungkan Narasi Beijing.
Sejak Agustus 2024, The New York Times (NYT) telah menerbitkan serangkaian artikel mengenai Shen Yun Performing Arts—yang didirikan oleh para seniman kelas dunia yang menjalankan latihan Falun Gong—serta mengenai keyakinan itu sendiri. Konten tersebut secara keliru menggambarkan Shen Yun sebagai tempat yang penuh kekerasan dan komunitas keyakinan ini sebagai kelompok fanatik yang tertipu.16 Berbagai kejanggalan tampak menonjol dalam pemberitaan tersebut: (a) bergantung pada segelintir sumber, yang beberapa di antaranya memiliki keterkaitan dengan akademi tari milik pemerintah Tiongkok; (b) gagal mengungkap keterkaitan tersebut kepada pembaca; (c) mengabaikan iktikad baik pihak lain yang menyodorkan informasi pembanding; (d) mengabaikan argumen para pakar medis dan ahli di bidangnya; (e) menyembunyikan konteks krusial tentang bagaimana sekolah seni dan sekolah asrama lain pada umumnya beroperasi; serta (f) melanjutkan pola editorial jangka panjang yang mendistorsi keyakinan Falun Gong dan skala penganiayaan yang terjadi, seperti mengeklaim bahwa tidak ada bukti mengenai praktik pengambilan organ secara paksa yang sistematis di Tiongkok, padahal investigasi independen selama dua dekade telah membuktikan bahwa kekejaman tersebut nyata terjadi.17 Pemberitaan ini memicu kekhawatiran serius terkait etika jurnalistik serta dampak buruk yang tak dapat dipulihkan terhadap kelompok minoritas keyakinan yang sedang dianiaya ini. Analisis lengkap mengenai kegagalan jurnalisme ini berada di luar cakupan laporan ini, tetapi dapat diakses di situs web www.faluninfo.net.
Sebagai media terkemuka, liputan bias dari The New York Times ini dengan cepat memengaruhi media-media lain di seluruh dunia untuk ikut menyebarkan pernyataan tidak akurat mengenai Falun Gong dan Shen Yun. Lebih jauh lagi, sejumlah situs web resmi pemerintah Tiongkok19 serta ribuan akun bot20 di media sosial turut menggoreng konten The New York Times tersebut, sebagai upaya nyata untuk melegitimasi pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh rezim mereka..
“Falun Gong dan pemimpinnya … merupakan target abadi dari operasi pengaruh yang didukung RRT dan penindasan lintas negara.”
—Graphika, Januari 202621
Metodologi
Temuan dalam laporan ini didasarkan pada survei online yang diadakan oleh Falun Dafa Information Center terhadap para praktisi Falun Gong yang menetap di Amerika Serikat, mulai dari September 2025 hingga Maret 2026. Laporan ini menggunakan metode analisis campuran yang memadukan data kuantitatif dengan data kualitatif pilihan serta studi kasus, yang diambil langsung dari pernyataan para responden dan narasumber.
Desain dan Penyebaran Survei
Survei ini berisi 43 pertanyaan yang terdiri dari kombinasi pilihan ganda, pertanyaan ya/tidak, dan pertanyaan terbuka. Kuesioner disebarkan dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Mandarin agar lebih mudah dipahami dan mendapat lebih banyak tanggapan dari komunitas Falun Gong yang menguasai dua bahasa tersebut. Topik yang dibahas meliputi demografi responden, sejarah penganiayaan di Tiongkok, pengalaman langsung terkait penindasan lintas negara di Amerika Serikat, serta bagaimana rasa aman dan nyaman para praktisi saat melakukan latihan Falun Gong. Kuesioner lengkap beserta rincian metodologi yang lebih mendalam dapat dilihat pada bagian Lampiran.
Pada halaman pengantar, sebelum memulai survei, para peserta diberikan penjelasan mengenai tujuan survei, sifatnya yang sukarela, risiko yang mungkin timbul terkait topik sensitif ini, serta langkah-langkah perlindungan data. Persetujuan peserta dianggap sah ketika mereka memilih untuk melanjutkan survei. Pada dasarnya survei ini bersifat anonim, namun para responden diberikan pilihan di bagian akhir untuk mencantumkan informasi kontak jika bersedia dihubungi untuk pertanyaan lanjutan.
Kuesioner online ini disebarkan melalui bantuan asosiasi Falun Dafa setempat di seluruh Amerika Serikat. Asosiasi-asosiasi ini merupakan organisasi nirlaba yang dijalankan oleh sukarelawan, yang berfungsi mengajarkan dan mengenalkan latihan ini kepada masyarakat, serta mengoordinasikan kegiatan membaca kitab suci dan acara berbagi pengalaman bagi para praktisi Falun Gong setempat.22 Jalur penyebaran ini memastikan bahwa responden yang mengisi benar-benar praktisi Falun Gong, sekaligus memanfaatkan hubungan saling percaya yang sudah lama terbangun antara pihak asosiasi, Falun Dafa Information Center, dan komunitas praktisi.
Pendekatan ini menghasilkan sampel sebanyak 1.080 tanggapan yang valid, yang mewakili sekitar 10 persen dari perkiraan jumlah keseluruhan populasi praktisi Falun Gong di Amerika Serikat.23
Analisis Data
Semua tanggapan diperiksa secara teliti oleh tim peneliti Falun Dafa Information Center. Tanggapan yang ganda atau tidak lengkap disisihkan demi menjaga keakuratan data. Hanya laporan yang jelas, spesifik, dan tepercaya yang digunakan dalam analisis. Untuk data kuantitatif, tim menyusunnya dalam bentuk tabel guna melihat pola dan tingkat kejadian yang ada. Sementara untuk tanggapan kualitatif, analisis dilakukan berdasarkan tema-tema tertentu, di mana setiap dasar keputusan dan aturan pengodean dicatat dengan rapi. Proses pengodean dan analisis ini juga ditinjau oleh setidaknya dua peneliti serta penasihat demi menjamin konsistensi dan ketepatan hasil.
Peneliti juga mengirimkan email lanjutan opsional atau melakukan wawancara dengan 31 peserta yang menyatakan bersedia untuk dihubungi. Percakapan ini membantu peneliti untuk memperjelas rincian serta mendapatkan konteks tambahan mengenai peristiwa-peristiwa tertentu. Semua kutipan yang muncul dalam laporan ini diambil dari hasil wawancara tersebut atau dari jawaban tertulis dalam survei.
Mengingat topiknya yang sensitif, partisipasi dalam survei ini sepenuhnya bersifat sukarela. Oleh karena itu, ada kemungkinan terjadinya bias seleksi mandiri (self-selection bias), di mana orang-orang yang memiliki perhatian besar terhadap masalah ini cenderung lebih terdorong untuk mengisi survei. Namun, partisipasi sukarela ini sangat penting, baik demi alasan etika maupun untuk mendapatkan jawaban yang jujur. Dengan mengajak seluruh anggota komunitas praktisi Falun Gong untuk ikut serta secara aktif (bukan hanya mereka yang pernah menjadi sasaran), tim peneliti berupaya meminimalkan hasil yang berat sebelah.
Kami meyakini bahwa kombinasi antara perekrutan praktisi yang terverifikasi, perlindungan privasi yang ketat, metode yang transparan, serta analisis yang cermat, membuat hasil survei ini memiliki validitas yang kuat. Hal ini menjadikannya sebagai sumber acuan yang tepercaya untuk memahami komunitas Falun Gong di Amerika Serikat beserta penindasan lintas negara yang mereka hadapi.
Bab 2
Tiga Temuan Utama
Bab ini mengupas tiga dimensi utama dari hasil survei. Bagian pertama membahas tentang siapa sebenarnya yang menjadi sasaran: para praktisi Falun Gong di Amerika Serikat merupakan sebuah komunitas yang tersebar di berbagai wilayah, memiliki tingkat pendidikan yang tinggi, serta latar belakang yang beragam. Bagian kedua menyoroti skala dan arah perkembangan penindasan yang mereka hadapi, yang melonjak sangat tajam dalam beberapa tahun terakhir. Bagian ketiga mengulas tentang munculnya Shen Yun Performing Arts sebagai sasaran utama dari kampanye PKT, di mana lembaga budaya ini secara terang-terangan dijadikan target oleh Beijing untuk disabotase dan dijatuhkan nama baiknya.
1. Komunitas Falun Gong di Amerika Tersebar di Seluruh Negeri dan Beragam


Praktisi Falun Dafa di New York, termasuk dari Falun Dafa Club of Columbia, sedang melakukan latihan meditasi.
“Saya ditangkap saat masih berusia 15 tahun … saya diancam oleh polisi. Rumah saya diobrak-abrik. Ibu saya … meninggal dunia di Tiongkok dan tidak pernah sempat keluar dari sana.”
—Warga negara AS yang kini tinggal di Georgia
“Saya masih kelas 5 SD ketika seorang petugas pemerintah mendatangi setiap ruang kelas. Dia bertanya kepada semua murid apakah kami dan keluarga kami melakukan latihan Falun Gong, dengan nada bicara yang sangat mengancam. Jika jawabannya ya, akan ada konsekuensi yang sangat serius … Ibu saya dianiaya secara kejam dan dipenjara sebanyak enam kali. Setiap kali pulang ke rumah, kondisinya selalu sekarat dan tinggal kulit membungkus tulang. Keajaibannya adalah, setiap kali pulang, beliau selalu kembali sehat [setelah melanjutkan kembali] latihan Falun Gong.”
—Praktisi Falun Gong paruh baya yang kini tinggal di California
“Sejak penganiayaan dimulai pada tahun 1999, saya tidak pernah bisa kembali ke Tiongkok dengan aman. Saya terpaksa mengambil keputusan yang menyakitkan untuk tetap tinggal jauh dari sana, karena kehadiran saya bisa membuat kerabat saya terancam pelecehan atau aksi balas dendam. Beberapa anggota keluarga sangat takut menjadi sasaran penindasan, hingga kami benar-benar berhenti saling menghubungi—bukan karena kami tidak saling menyayangi, melainkan karena rasa takut membuat panggilan telepon biasa pun menjadi sangat berbahaya. Ketika nenek yang membesarkan saya sedang sekarat, saya tidak bisa pulang. Saya tidak bisa menggenggam tangannya. Saya tidak bisa mengucapkan selamat tinggal, bahkan tidak bisa menghadiri pemakamannya. Seperti itulah rupa penganiayaan dalam kehidupan nyata. Hal itu memisahkan keluarga, dan memaksa orang-orang dihadapkan pada pilihan yang mustahil antara kasih sayang dan keselamatan.”
—Dirigen Shen Yun yang telah tinggal di Amerika Serikat selama lebih dari 30 tahun
Studi kasus: Cheng Peiming—korban selamat dari perampasan organ paksa yang menjadi sasaran di tanah AS
Cheng Peiming adalah penyintas pertama yang diketahui dari aksi pengambilan organ secara paksa oleh PKT. Karena melakukan latihan Falun Gong, ia dipenjara di Tiongkok dan sebagian dari organ hati serta parunya diangkat melalui operasi—sebuah fakta yang kemudian diperkuat oleh hasil pemeriksaan medis independen. Setelah berhasil melarikan diri ke Amerika Serikat, Cheng mulai berbicara terbuka mengenai pengalamannya, serta memberikan kesaksian dalam berbagai diskusi panel dan pemutaran film dokumenter di seluruh negeri.26
Keberaniannya tersebut harus dibayar mahal. Bocoran catatan dari orang dalam Biro Keamanan Publik mengungkapkan adanya tiga strategi PKT untuk menargetkan Cheng, termasuk merekayasa kematiannya agar terlihat seperti bunuh diri. Media pemerintah Tiongkok juga menerbitkan berbagai artikel yang mencoba menyudutkan dan mendiskreditkan kesaksiannya.
Bahkan, sejak akhir tahun 2024, Cheng berulang kali mengalami serangkaian insiden mencurigakan di New York: rumahnya dibobol pada malam hari pada November 2024; mobilnya berulang kali digores dengan benda tajam dan bannya ditancapi paku—bahkan salah satunya sampai menyebabkan ban pecah saat ia sedang berkendara; dan pada Juni 2025, rekaman kamera pengawas (CCTV) menangkap sesosok pria yang menyembunyikan wajahnya sedang mendekati mobil Cheng sebelum akhirnya melarikan diri.27
Cheng dan istrinya merupakan bagian dari responden dalam survei ini. Akibat berbagai serangan dan pengawasan yang terus membayangi, keduanya mengaku merasa sangat terancam—baik secara fisik maupun psikologis. Rasa tidak aman ini juga membuat mereka mencemaskan keselamatan keluarga mereka di Tiongkok, yang dipaksa untuk mengecam Cheng di depan umum. Mereka juga menceritakan bagaimana mereka terpaksa melepaskan pekerjaan mereka pada Mei 2024. Keputusan itu diambil setelah ban mobil mereka disayat dan lima kendaraan tiba-tiba mengepung mereka di area parkir tempat kerja, hingga akhirnya sesama praktisi Falun Gong datang memberikan pertolongan.
“PKT ingin menghabisi saya,” tutur Cheng kepada seorang reporter. “Sebab, saya adalah satu-satunya saksi hidup dari aksi perampasan organ secara paksa yang dilakukan oleh PKT.”28
2. Penindasan lintas negara melonjak tajam


3. Shen Yun menjadi target utama

Studi kasus: Ancaman penembakan massal yang terkoordinasi di Atlanta dan San Jose
Pada pagi hari tanggal 11 Desember 2024, sebuah email berisi ancaman penembakan massal dikirim kepada Himpunan Falun Dafa Atlanta, selaku penyelenggara lokal untuk pertunjukan Shen Yun di Atlanta Symphony Hall yang dijadwalkan pada pekan Natal mendatang. Pengirim email tersebut menulis dalam bahasa Mandarin bahwa mereka akan “pergi ke Atlanta Symphony Hall dan menembaki semua orang di sana jika gedung tersebut nekat menyelenggarakan pertunjukan Shen Yun!”
Salah seorang responden survei menceritakan bahwa “pesan teror itu memicu kekhawatiran besar di kalangan manajemen teater, staf kami, hingga para penonton… Kami segera melaporkan insiden tersebut ke lembaga penegak hukum, termasuk FBI, Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS), dan kepolisian setempat. Penyelidikan resmi pun langsung dibuka.”
Ancaman serupa juga dikirimkan pada hari yang sama ke sebuah teater di San Jose, California. Dalam kedua kasus ini, aparat tidak menemukan bukti adanya bahaya langsung ataupun rencana serangan fisik yang nyata, namun rangkaian insiden tersebut sempat menyita perhatian media.32

Tangkapan layar dari sebuah email ancaman yang menargetkan pertunjukan Shen Yun yang diterima oleh sebuah teater di California. Ancaman serupa juga dikirimkan ke sebuah teater di Atlanta pada hari yang sama..
“Kendaraan tur kami telah disabotase berkali-kali, sampai-sampai kami harus memberlakukan penjagaan keamanan 24 jam demi menjamin keselamatan para seniman dan staf kami. Selain itu, pejabat kedutaan dan konsulat Tiongkok juga telah menghubungi atau mendatangi langsung pihak teater serta pejabat pemerintah daerah di kota-kota tempat kami dijadwalkan tampil, untuk menekan mereka agar membatalkan pertunjukan kami. Sudah ada puluhan insiden gangguan semacam ini yang berhasil didokumentasikan.”
—Dirigen Shen Yun yang telah tinggal di Amerika Serikat selama lebih dari 30 tahun
“Tahun lalu, kami menerima beberapa kali ancaman bom yang menargetkan pertunjukan kami, meski semuanya ternyata palsu dan hanya untuk menakut-nakuti. [Teror tersebut] benar-benar memberikan tekanan mental yang berat bagi seluruh pekerja dan pemain. Kami bahkan selalu membuang botol air minum yang tersisa dari hari sebelumnya; bukan sekadar karena masalah kebersihan, melainkan juga karena rasa takut akan diracuni.”
—Pemain Shen Yun keturunan Tionghoa yang lahir di Amerika Serikat
“Dalam beberapa tahun terakhir, … media-media [Amerika] mencoba menjatuhkan reputasi Shen Yun dengan mewawancarai mantan anggota, yang secara langsung menyasar Falun Gong agar orang-orang percaya bahwa kami adalah aliran sesat yang jahat. Mengapa tidak mewawancarai anggota yang masih aktif saat ini? Sebagai anggota yang bergabung sejak awal berdirinya Shen Yun pada tahun 2006, saya melihat banyak dari pernyataan tersebut tidak benar atau sengaja diputarbalikkan dari konteks aslinya. Saya pribadi berada di sana untuk menyaksikan peristiwa-peristiwa yang disebut dalam laporan negatif itu, dan melihat kejadiannya dari sudut pandang yang jauh lebih positif. … Namun kakak saya, misalnya, telanjur membaca berita-berita ini dan [sekarang] memiliki kesan yang buruk tentang Shen Yun.”
—Pemain Shen Yun wanita keturunan Tionghoa-Amerika
Bab 3
Taktik Utama yang Dikerahkan
Praktisi Falun Gong di Amerika Serikat terus-menerus menghadapi berbagai bentuk pelecehan serta intimidasi serius. Hal ini berkaitan erat dengan upaya PKT untuk membungkam suara dan merusak reputasi mereka. Antara tahun 2020 hingga 2025, para responden survei berhasil mendokumentasikan lima taktik utama yang sering digunakan: serangan fisik yang ditargetkan dan perusakan fasilitas pribadi, pelecehan verbal secara luas di acara-acara publik, ancaman kekerasan secara langsung, intimidasi terhadap anggota keluarga yang berada di Tiongkok, serta pengawasan yang merajalela. Secara keseluruhan, kombinasi dari taktik-taktik ini telah menciptakan atmosfer ketakutan dan rasa tidak aman, yang sekaligus memperluas cengkeraman penindasan pemerintah otoriter ini hingga ke tanah Amerika..
1. Penyerangan fisik dan penganiayaan
Data survei dan wawancara lanjutan berhasil mengidentifikasi 92 kasus nyata terkait penyerangan fisik serta pengrusakan fasilitas yang menyasar praktisi Falun Gong di Amerika Serikat antara tahun 2020 dan 2025. Para korban dipukuli secara brutal, diludahi, kendaraan mereka dirusak, serta materi-materi informasi mereka dihancurkan. Kasus-kasus ini terjadi di 15 negara bagian, dengan mayoritas insiden berlangsung di California dan New York.
Studi kasus: Penyerangan dalam pawai di Brooklyn (2024)
In 2024, Falun Gong practitioners held a parade in Brooklyn to raise awareness for human rights abuses in China and resistance to the persecution. Multiple participants reported being assaulted during or after the parade. The participants were identified as Falun Gong practitioners from their yellow shirts and jackets that read “Falun Dafa.”
“[D]i Eighth Ave, seorang penyerang menerobos masuk ke dalam barisan pawai dan menyerang saya dua kali.”
—Seorang wanita profesional di bidang pemasaran
“Setelah pawai selesai… dada saya tiba-tiba dihantam dengan keras oleh seorang pria Tiongkok berpostur tinggi menggunakan bahu kanannya. Benturan itu membuat saya syok, dan seluruh sisi kiri tubuh saya langsung mati rasa.”
—Seorang pria Tiongkok lanjut usia
Dua hari setelah pawai, seseorang mengirimkan email yang mengaku bertanggung jawab atas serangan-serangan tersebut. Insiden ini dikategorikan sebagai kejahatan rasial oleh aparat penegak hukum setempat; namun, hingga saat ini belum ada perkembangan lebih lanjut ataupun penangkapan yang dilaporkan.

Sebuah tangkapan layar video yang memperlihatkan seorang penyerang (tengah) memukul seorang praktisi wanita (kiri) pada tanggal 14 September 2024, dalam sebuah pawai di Brooklyn, New York.
Studi kasus: Kendaraan berulang kali dirusak dengan label-label yang menjelekkan (2022–2024)
Seorang wanita dari San Gabriel, California, mengikuti pawai mobil dari tahun 2021 hingga 2024 dengan kendaraannya yang secara mencolok menampilkan pesan: “Falun Dafa Baik. Sejati, Baik, Sabar adalah Baik. Akhiri PKT. Tuhan Memberkati Amerika.” Namun, mobilnya dirusak sebanyak empat kali antara tahun 2022 dan 2024 dalam rentetan insiden yang dapat dikategorikan sebagai kejahatan rasial berdasarkan hukum California karena menyasar latihan spiritualnya. Setelah papan tanda di atap mobilnya dipotong dan dicuri pada serangan pertama, ia tidak pernah memasangnya lagi. Setelah itu, coretan grafiti yang kasar, seperti “Falun Gong = kultus rasis,” berulang kali dicat di bagian lain mobilnya.
Penggunaan label palsu “kultus” serta tuduhan bahwa Falun Gong itu “rasis” menunjukkan bagaimana propaganda PKT yang menyesatkan dan penuh kebencian telah merasuki pemikiran sebagian warga Amerika.
Istilah “kultus” merupakan manipulasi terjemahan dari istilah berbahasa Mandarin yang diterapkan PKT secara surut kepada Falun Gong setelah penganiayaan dimulai. Istilah ini digunakan untuk membenarkan perlakuan kejam terhadap para praktisinya. Baik pengamat Barat maupun kelompok hak asasi manusia telah menyimpulkan bahwa Falun Gong bukanlah sebuah kultus. Ian Johnson, mantan jurnalis yang memenangkan Penghargaan Pulitzer atas liputannya tentang Falun Gong, menulis dalam bukunya Wild Grass: “Kelompok ini [Falun Gong] tidak memenuhi berbagai definisi umum tentang kultus… pada dasarnya ini adalah sebuah disiplin yang apolitis dan berorientasi ke dalam diri, yang bertujuan untuk membersihkan spiritual serta meningkatkan kesehatan seseorang.” Pakar asal Kanada, David Ownby, menyebut penerapan label kultus pada Falun Gong sebagai “pengalihan isu” yang dimanfaatkan oleh rezim Tiongkok.34
Klaim bahwa Falun Gong itu rasis sama sekali tidak berdasar, namun tuduhan tersebut sempat beredar luas karena beberapa jurnalis dan propagandis PKT memotong konteks ajaran latihan ini serta salah menafsirkannya sebagai larangan pernikahan antarras. Faktanya, pernikahan antarras dan anak-anak berdarah campuran sangat lazim ditemui dalam komunitas global Falun Gong, sebagaimana yang terlihat jelas dalam setiap pawai Falun Gong.
Kemunculan kedua istilah yang tidak akurat ini dalam insiden tersebut menunjukkan betapa kuatnya pengaruh rezim tersebut, yang berhasil membajak terminologi sensitif serta kepekaan budaya untuk menyulut kebencian terhadap para praktisi Falun Gong di Amerika.

Foto kerusakan kendaraan pada tanggal 14 Februari 2022. Pesan grafiti profan dicat pada badan mobil sementara papan tanda di atap mobil dipotong dan dicuri.
2. Pelecehan dan intimidasi verbal
Sebagai taktik yang paling banyak dilaporkan, responden survei mencatat 158 kasus nyata terkait pelecehan fisik maupun verbal di 12 negara bagian, di mana mayoritas insiden terjadi saat pawai, acara, serta stan informasi Falun Gong. Kasus-kasus ini mencakup tindakan seperti mengendarai kendaraan secara agresif di sekitar aksi duduk damai, pejalan kaki yang meneriakkan kata-kata kasar, hingga perorangan atau kelompok yang memutar musik PKT melalui pengeras suara untuk mengganggu jalannya meditasi.
Sebagai contoh, pada tanggal 30 Agustus 2025, dalam sebuah rapat umum damai di Pennsylvania untuk memperingati penganiayaan terhadap Falun Gong, seorang profesional di bidang TI menuturkan bahwa seorang pria Tiongkok “berulang kali mengitari blok menggunakan sepeda motor sambil meneriakkan kata-kata buruk kepada kami. Ia kemudian sengaja menggeber mesin motornya hingga menimbulkan suara bising yang menenggelamkan suara dari pengeras suara kami. Ia terus berputar-putar berkali-kali untuk mengintimidasi kelompok kami.”
Dari keseluruhan kasus yang dilaporkan, para pelaku utamanya adalah warga lokal (66%), dengan mayoritas besar di antaranya (72%) merupakan etnis Tiongkok. Pelaku lainnya meliputi pengunjuk rasa tandingan yang digerakkan oleh kaki tangan PKT, seperti Aliansi Dunia Anti-Kultus Tiongkok (CACWA), serta pelecehan langsung oleh badan pemerintah Tiongkok melalui panggilan telepon dari Tiongkok atau perwakilan diplomatik di Amerika Serikat (lihat contoh selengkapnya di Bab 5).
Studi kasus: Pria muda Tiongkok mencaci dan menendang stan informasi Falun Gong
Seorang responden menceritakan sebuah insiden yang terjadi di Flushing, New York. Pada hari Selasa, 29 April 2025, saat menjadi sukarelawan di stan informasi untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap penganiayaan di Tiongkok, ia melihat seorang pria muda Tiongkok yang “secara tiba-tiba, tanpa peringatan apa pun, menendang keras tiang penyangga stan dan menghantam meja secara brutal. Hal ini menyebabkan rak dan meja stan menjadi miring serta berantakan, bahkan hampir membuat jatuh seorang rekan praktisi yang sedang berdiri di belakang meja untuk melakukan latihan.”
Ketika responden menegur pelaku, pria Tiongkok tersebut hanya menjawab: “Saya tidak suka melihat kalian, jadi saya tendang saja stan kalian.” Setelah melontarkan beberapa ucapan provokatif lainnya, pelaku menerima sebuah panggilan telepon lalu pergi meninggalkan lokasi.

Pria Tiongkok tersebut meneriakkan ancaman dan makian kepada para praktisi di sekitar stan. (Kredit foto: The Global Tuidang Center)

Stan informasi dan meja terlihat bergeser serta berantakan akibat serangkaian tendangan keras dari pria Tiongkok tersebut. (Kredit foto: The Global Tuidang Center)
3. Ancaman kekerasan
Responden mengalami peningkatan yang signifikan terkait ancaman kekerasan pada tahun 2025 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, meskipun intensitas ancaman tersebut sebenarnya sudah mulai meningkat sejak awal tahun 2024. Setidaknya 86 kasus ancaman kekerasan—seperti ancaman bom, penembakan massal, pembakaran, atau ancaman pembunuhan—telah berdampak pada 80 individu. Dalam hampir 11 persen dari kasus-kasus ini, warga lokal melontarkan ancaman tersebut secara langsung, baik melalui ucapan maupun gerak tubuh yang menunjukkan niat jelas untuk mencelakai praktisi Falun Gong. Selebihnya sebagian besar berasal dari email anonim yang diduga dikirim oleh kaki tangan PKT atau provokator daring (troll) pro-Beijing. Lebih dari separuh kasus ancaman kekerasan yang dilaporkan terjadi pada tahun 2025 (57%). Selain dari hasil survei ini, Falun Dafa Information Center dari sumber-sumber lain juga telah mendokumentasikan 298 ancaman kekerasan yang menyasar Falun Gong, Shen Yun, serta para pendukungnya sejak Maret 2024.35
Seorang responden menceritakan situasi pada bulan Agustus 2025 ketika ia sedang meningkatkan kepedulian masyarakat di sebuah stan informasi di Flushing, New York: “Seorang pria, tampaknya berusia tiga puluhan, mengejek dan memprovokasi saya. Ia juga menghentikan pejalan kaki dan bersama mereka menyerang Falun Gong secara verbal. Ia mencoba merampas brosur dalam jumlah banyak, tetapi hanya berhasil mengambil satu setelah saya dan dua rekan praktisi lainnya turun tangan. Ia kemudian merobek brosur tersebut sambil berjalan memutar dan berteriak-teriak di dekat kami. Setelah itu, ia pergi sebentar lalu kembali lagi, mencoba menyulut tenda kami dengan korek api. Setelah saya memperingatkannya bahwa saya akan memanggil polisi jika ia terus melanjutkannya, ia dengan menantang berkata, ‘Silakan, laporkan saya!’ sambil menyeberang jalan, masuk ke kursi penumpang sebuah mobil hitam, lalu bergegas pergi dari lokasi kejadian.”
Studi kasus: Ancaman pembunuhan dikirimkan kepada staf Falun Dafa Information Center
Pada tanggal 1 Agustus 2024, seseorang yang menggunakan nama Tiongkok mengirimkan email kepada Levi Browde, direktur eksekutif Falun Dafa Information Center, berisi ancaman pembunuhan terhadap anggota staf yang terdaftar di situs web organisasi tersebut beserta keluarga mereka. Email tersebut menyertakan foto-foto selongsong peluru dan sebuah senapan laras panjang yang telah terisi.
Pengirim tersebut juga terindikasi menyamar sebagai pembangkang terkemuka asal Tiongkok, Jie Lijian, yang selama ini secara terbuka mendukung Falun Gong dan mengecam penganiayaan. Hal ini menunjukkan adanya kemungkinan upaya yang tidak hanya bertujuan untuk mengintimidasi organisasi tersebut, tetapi juga untuk mengadu domba antara praktisi Falun Gong dengan aktivis Tiongkok lainnya.36
“Kalian akan mati. Anda, dan… juga anggota keluarga, semuanya akan dibunuh. Saya tidak main-main!”

Ancaman pembunuhan yang menargetkan anggota staf FDIC pada 1 Agustus 2024.
4. Pembalasan terhadap kerabat di Tiongkok
Lebih dari sepertiga responden yang memiliki keluarga di Tiongkok mendapati bahwa kerabat mereka dijadikan sasaran akibat aktivitas mereka di Amerika Serikat. Dalam 87 kasus spesifik, anggota keluarga mereka di Tiongkok telah diincar oleh aparat keamanan Tiongkok atau otoritas pemerintah setempat melalui kunjungan langsung, panggilan telepon, atau keduanya. Mereka sering kali menuntut informasi tentang para praktisi di AS, mencoba membujuk mereka agar kembali ke Tiongkok, atau meminta kerabat mereka menyampaikan pesan ancaman demi membungkam aktivitas mereka di AS. Keluarga dari seorang wanita di Liaoning bahkan menerima begitu banyak kunjungan dari otoritas setempat hingga “keluarganya kesulitan tidur” dan memintanya untuk “berhati-hati dan jangan menghadiri acara-acara Falun Gong.”
“Selama bertahun-tahun, kakek-nenek saya (dari pihak ayah) terus-menerus didatangi oleh polisi setempat yang menekan mereka agar meminta putranya kembali ke Tiongkok dan berhenti melakukan latihan Falun Gong. Sementara kakek-nenek dari pihak ibu, telepon mereka selalu disadap, sehingga ibu saya tidak bisa berkomunikasi dengan bebas tanpa memicu dampak buruk. Jika ibu saya berbicara tentang apa pun yang berkaitan dengan Falun Gong, penganiayaan yang menimpa kami, atau masalah Tiongkok pada umumnya, polisi setempat akan langsung datang dan mendatangi kakek-nenek saya.”
—Etnis Tionghoa, wanita pemain Shen Yun kelahiran Amerika Serikat
5. Pengawasan yang canggih
Lebih dari 60 persen responden (662 orang) merasa “agak tidak aman” atau “sangat tidak aman” terhadap pengawasan Tiongkok, khususnya melalui telepon dan internet. Setidaknya ada tujuh responden yang menyatakan bahwa PKT telah mengancam mereka dengan menggunakan detail spesifik mengenai informasi pribadi, aktivitas, atau rencana liburan mereka. Ancaman ini datang melalui panggilan telepon langsung dari aparat keamanan rezim tersebut maupun lewat pesan yang disampaikan oleh kerabat.
Sebagai contoh, seorang praktisi yang tinggal di New York dan bekerja di bidang media menceritakan bahwa pada tahun 2023, sesaat setelah ia membagikan rencana liburannya ke Taiwan kepada beberapa teman, kerabatnya dipaksa menyampaikan pesan dari Kementerian Keamanan Negara. Pesan tersebut berbunyi “akan lebih baik kembali ke Tiongkok daratan daripada pergi ke Taiwan.” Hal ini memperkuat kecurigaannya bahwa “beberapa pergerakan saya dipantau dan diketahui oleh PKT.”
Dalam kasus lainnya, seorang responden teringat akan panggilan telepon ke nomor rumahnya di New York. Seorang perwakilan Kementerian Keamanan Negara dari Beijing meneleponnya langsung dengan menyebut namanya, lalu mengancam agar ia menghentikan aktivitasnya, serta menuduh tindakan tersebut sebagai upaya “untuk menghasut subversi kekuasaan negara.”
Studi kasus: Ponsel diretas dan dipantau
Seorang responden dari Ohio—seorang pensiunan guru berusia di atas 65 tahun bergelar Ph.D.—menceritakan insiden mencemaskan pada 15 Mei 2025. Ia mengirim pesan kepada senatornya untuk menyampaikan kekhawatiran terkait penganiayaan PKT terhadap Falun Gong dan pengambilan organ secara paksa. Beberapa menit kemudian, istrinya mengirim pesan untuk menanyakan perihal tersebut. Seketika itu juga, sang istri justru menerima beberapa pesan balasan dalam bahasa Mandarin dari nomor telepon suaminya. Pesan-pesan tersebut berisi hinaan terhadap sang istri dan senator AS, serta menyertakan gambar Ketua PKT Mao. Hal ini mengindikasikan bahwa ponsel pensiunan guru tersebut telah diretas dan dipantau oleh pelaku siber Tiongkok. Pasangan ini sudah menghubungi pihak produsen ponsel dan operator seluler mereka, namun mereka tidak dapat memberikan bantuan maupun penjelasan apa pun.

Bab 4
Narasi yang Diputarbalikkan Berdampak di Dunia Nyata
Penindasan lintas negara tidak hanya berupa ancaman atau serangan fisik. Terkadang penindasan ini mewujud dalam bentuk artikel berita, unggahan media sosial, atau kampanye hitam dari mulut ke mulut, namun dampak kerusakan yang ditimbulkan bisa sama-sama permanen. Bab ini mengulas bagaimana narasi yang menyimpang tentang Falun Gong—yang diamplifikasi oleh pemberitaan media yang menyesatkan serta disinformasi daring yang terkoordinasi—membawa dampak nyata yang terukur pada kehidupan para praktisi: merenggangkan hubungan keluarga, memicu diskriminasi, memuluskan sensor, dan mengikis simpati dari lembaga-lembaga yang dulunya mendukung komunitas ini. Orang-orang yang terdampak adalah warga Amerika biasa—mulai dari pendidik, seniman, hingga profesional—yang dijadikan sasaran hanya karena keyakinan mereka..
Pemberitaan media AS sejak 2022 turut memicu stigma sosial
Mayoritas mutlak responden (90%, 972 orang) mengaku melihat adanya peningkatan pemberitaan negatif dan komentar media sosial tentang Falun Gong sejak tahun 2022. Banyak di antaranya menyoroti serangkaian laporan tidak akurat dan menyesatkan yang diterbitkan oleh The New York Times pada tahun 2024 dan 2025. Sebagian lainnya juga menyebutkan adanya narasi negatif dan menyesatkan tentang Falun Gong yang beredar di platform media sosial. Narasi ini disebarkan oleh provokator daring (troll) dan warganet yang termakan salah informasi, yang ikut menggemakan propaganda puluhan tahun PKT serta distorsi dalam laporan-laporan NYT tersebut..
“PKT telah bergerak agresif demi menyebarkan misinformasi tentang Falun Gong ke seluruh dunia untuk membenarkan penganiayaan yang mereka lakukan. Narasi palsu itu membentuk persepsi keliru, memicu kecurigaan, dan mengikis pemahaman masyarakat tentang siapa kami sebenarnya. Begitu propaganda ini berhasil, akan makin mudah bagi mereka untuk memarjinalkan dan merendahkan martabat orang-orang yang berkeyakinan.”
—Konduktor Shen Yun yang telah tinggal di Amerika Serikat selama lebih dari 30 tahun
Kampanye media sosial yang terkoordinasi digunakan untuk memfitnah Falun Gong
Beberapa responden survei mencatat adanya peningkatan misinformasi dan disinformasi anti-Falun Gong di media sosial sejak tahun 2023, yang sering kali muncul secara terorganisasi. Sebagai contoh, seorang profesional TI dari Maryland menulis:
Pada tahun 2023 dan 2024, saya menemukan banyak sekali video yang menyerang Falun Gong dan Shen Yun di YouTube, Reddit, X, dan berbagai platform lainnya. Metode yang mereka gunakan sangat konsisten, dan materi yang mereka pakai juga sangat mirip. Mereka… mengklaim bahwa suatu hari mereka melihat materi Shen Yun lalu mendapati bahwa kelompok ini aneh dan merupakan sebuah kultus, kemudian mereka menyajikan materi dari PKT serta materi dari The New York Times—semuanya dirangkai tanpa logika namun dirancang untuk memberikan kesan negatif. Setelah itu, banyak komentator bayaran yang ikut menimpali dengan unggahan-unggahan yang mendukung.
Persepsi ini sejalan dengan informasi lain yang bermunculan dalam beberapa tahun terakhir mengenai upaya jaringan Tiongkok dalam menyebarkan informasi palsu tentang Falun Gong di media sosial, termasuk melalui pembayaran kepada pemengaruh (influencer) Barat dan jaringan situs web palsu. Pada tahun 2025, YouTuber Tim Pool, yang memiliki jutaan pengikut, mengungkapkan bahwa dirinya sempat ditawari uang sebesar $200 untuk mengunggah sebuah video yang memfitnah Falun Gong sebagai kelompok yang aneh dan berbahaya.38 Meski ia menolaknya, kisah tersebut mengindikasikan adanya upaya PKT yang lebih luas dalam memanfaatkan para pemengaruh media sosial Barat demi menyebarkan propaganda palsu dan penuh kebencian. Di waktu yang hampir bersamaan, platform media sosial X menghapus ribuan akun robot (bot) yang secara aktif menyasar Falun Gong dengan cara mengamplifikasi narasi negatif dan laporan media.39
Pada awal tahun 2026, sebuah laporan dari perusahaan analisis jaringan sosial terkemuka, Graphika, mengungkap keberadaan jaringan yang terdiri dari 43 domain dan 37 subdomain yang digunakan untuk menyebarkan pesan-pesan pro-Beijing sambil menyamar sebagai media arus utama Barat, termasuk The New York Times, The Guardian, The Wall Street Journal, dan lainnya. Falun Gong, Shen Yun, dan pendiri Falun Gong menjadi sasaran utama dari operasi pengaruh serta penindasan lintas negara oleh jaringan ini. Sebagai contoh dari kampanye tersebut, para peneliti Graphika mengidentifikasi sekumpulan akun media sosial yang “menggunakan nama pengguna yang kemungkinan besar dibuat secara acak dan foto profil bawaan (stock), hampir tidak memiliki pengikut maupun mengikuti akun lain, terus mengkritik Falun Gong dan Shen Yun, serta mengunggah konten yang identik secara bersamaan.”40

Menurut laporan Graphika, “Contoh dari dua akun yang kemungkinan besar terkait dengan Spamouflage yang membagikan tautan ke sebuah artikel yang menyasar Falun Gong dan Shen Yun yang diunggah di weeklytimesnet[.]com, salah satu outlet media arus utama palsu.” (Kredit: Graphika)
Pemberitaan yang menyimpang memicu tekanan mental dan merenggangkan hubungan sosial
Responden menggunakan kata-kata seperti “mencemaskan”, “tidak aman”, “diskriminasi”, “kebencian”, dan “isolasi sosial” untuk menggambarkan situasi yang kian dipenuhi stereotipe, intoleransi keagamaan, kesalahpahaman, serta keengganan—bahkan di antara anggota keluarga sendiri—untuk berdialog dengan iktikad baik. Mayoritas responden (64% atau 691 orang) mengaku terdampak secara negatif oleh narasi-narasi tersebut. Di antara mereka, hampir 64 persen (442 orang) mengalami tekanan emosional; hampir 45 persen (309 orang) merasakan ketegangan dalam keluarga atau hubungan sosial; jumlah yang hampir sama melaporkan pernah mengalami pelecehan verbal di tempat umum maupun secara daring (307 orang); dan lebih dari sepertiga (35%, 240 orang) merasa didiskriminasi di tempat kerja, sekolah, atau di lingkungan komunitas karena keyakinan mereka.
“Setiap kali artikel-artikel itu terbit, dampaknya pasti langsung terasa pada saya. Anda berjalan di luar sambil bertanya-tanya, ‘Oh, apakah orang ini sudah membacanya? Apakah orang itu juga sudah membacanya? Apakah mereka sekarang memandang saya dengan cara yang berbeda?’ Anda merasa tidak nyaman, karena Anda tahu bahwa rekan kerja, teman, dan keluarga Anda membaca The New York Times, dan ada kemungkinan mereka telah melihat artikel yang sangat penuh kebencian ini. Artikel tersebut memang dirancang untuk membuat saya kelihatan aneh, dan membuat siapa pun yang berhubungan dengan Falun Gong [tampak] aneh.”
—Ayah dari seorang pemain Shen Yun
“Meningkatnya misinformasi dan propaganda yang dimuat dalam artikel berita, siaran TV, serta media sosial telah menimbulkan tekanan mental dan emosional. Saya merasa… makin kurang nyaman untuk membahas keyakinan saya secara terbuka dengan teman-teman yang tidak melakukan latihan ini maupun kenalan baru. Saya khawatir mereka akan mencari tahu tentang latihan ini, lalu termakan informasi palsu yang tampaknya mendominasi lanskap digital, hingga akhirnya membentuk kesalahpahaman yang tidak dapat saya luruskan dengan cepat atau mudah.”
—Pendidik muda Tionghoa-Amerika di New York
Misinformasi dan disinformasi memuluskan sensor dalam acara publik dan ruang warga
Warga Amerika di 18 negara bagian menceritakan bagaimana mereka dikucilkan dari berbagai acara publik akibat identitas mereka sebagai praktisi Falun Gong. Secara keseluruhan, 84 individu melaporkan 92 insiden pengucilan, di mana mereka dilarang ikut serta dalam pawai, acara komunitas, hingga konferensi nasional. Beberapa kesaksian menunjuk pada keterlibatan individu maupun organisasi Tiongkok—termasuk bisnis lokal Tiongkok dan Kamar Dagang Tiongkok—dalam memuluskan atau menerapkan larangan tersebut. Responden lainnya melaporkan bahwa pejabat lokal maupun pelaku bisnis yang dulunya bersimpati, belakangan ini justru menjauhi Falun Gong. Beberapa penolakan secara terang-terangan mengutip pemberitaan The New York Times sebagai alasannya, sementara yang lain tampak takut akan adanya reaksi negatif dari para pelanggan yang termakan salah informasi jika mereka kedapatan mengadakan acara yang berkaitan dengan Falun Gong.

Tianguo Marching Band saat tampil di Washington, DC pada tahun 2018. Kelompok marching band serupa hampir didepak dari sebuah pawai di San Francisco pada tahun 2025. (Kredit foto: Tianguo Marching Band)41
Studi kasus: Dikucilkan dari pawai di California
Para praktisi Falun Gong di California telah menjadi peserta rutin dalam sebuah pawai besar di San Francisco selama lebih dari 15 tahun. Biasanya, mereka ikut memeriahkan acara dengan menampilkan tim genderang pinggang Tiongkok, mobil hias, peragaan latihan Falun Gong, serta kelompok marching band yang besar. Namun, pada tahun 2025, beberapa responden survei mencatat bahwa kontingen Falun Gong tidak lagi diizinkan mengikuti pawai tersebut tanpa diberikan penjelasan yang jelas atas pelarangan mereka. Setelah melalui proses komunikasi yang panjang, Tianguo Marching Band akhirnya diizinkan untuk bergabung, tetapi mereka dilarang keras membagikan materi apa pun yang berkaitan dengan Falun Gong. Sementara itu, praktisi Falun Gong lainnya tetap didepak dari acara yang telah mereka ikuti selama lebih dari satu dekade tersebut.
Gedung teater di AS berada di bawah tekanan yang sangat kuat
Lebih dari 25 responden mencatat bahwa gedung-gedung teater setempat menunjukkan tanda-tanda jelas bahwa mereka merasa tertekan untuk tidak memperpanjang kontrak pada tahun 2025, terlepas dari kemitraan sukses yang telah terjalin bertahun-tahun dengan Shen Yun. Walaupun penyebabnya tidak selalu terlihat secara langsung, beberapa responden survei menunjuk pada narasi-narasi negatif yang beredar serta adanya ancaman bom anonim dan ancaman penembakan massal yang menyasar gedung teater.
Meskipun ancaman dan pemberitaan media yang negatif kemungkinan turut andil, dalam setidaknya satu kasus, pembatalan kontrak berkorelasi langsung dengan membaiknya hubungan teater tersebut dengan Beijing Dance Academy (BDA) yang dikelola oleh pemerintah Tiongkok. Menurut artikel bulan Desember 2025 di China Brief milik Jamestown Foundation, pada tahun 2024, Purchase College Performing Arts Center di State University of New York membatalkan kontrak dengan Shen Yun untuk musim pertunjukan 2025 setelah menjalin kemitraan dengan BDA Tiongkok di awal tahun tersebut. Kesepakatan itu memuat persyaratan eksplisit mengenai kepatuhan ideologis dan kriteria seleksi politik bagi mahasiswa yang berpartisipasi. Menurut sang penulis, hal ini memicu “kekhawatiran bahwa kemitraan BDA dapat digunakan untuk menekan lembaga-lembaga asing agar memberangus pertunjukan yang mengkritik PKT, yang pada akhirnya memperluas kriteria sensor domestik mereka ke dalam ruang budaya global.”42

Kiri: Selama musim pertunjukan 2024, Shen Yun tampil di Purchase College dengan tiket yang habis terjual selama sepuluh tahun berturut-turut. (Foto: Shen Yun) Kanan: Setelah Purchase College menandatangani kemitraan pertukaran tari dengan Beijing Dance Academy, kontrak Shen Yun untuk tahun 2025 dibatalkan. (Tangkapan layar: SUNY Purchase)
Sejumlah kecil pejabat lokal mulai menjaga jarak
Banyak pejabat federal dan lokal yang memahami konstituen Falun Gong mereka tetap rutin mengeluarkan proklamasi serta pernyataan dukungan bagi Falun Gong. Namun, beberapa responden dari Philadelphia, New York, dan Washington mencatat bahwa para pejabat terpilih beserta staf mereka yang dulunya ramah, berubah menjadi lebih dingin dan menjaga jarak sepanjang tahun lalu. Dalam beberapa kasus, membuat janji temu pun menjadi jauh lebih sulit.
Sebagai contoh, salah satu kantor instansi di Philadelphia tidak lagi bersedia mengeluarkan piagam penghargaan untuk Shen Yun dan Falun Gong, dengan dalih artikel-artikel The New York Times. Sementara itu, sebuah kantor instansi di New York, meskipun menyatakan simpatinya kepada komunitas tersebut, berujar kepada seorang responden: “Lalu, apa yang Anda ingin saya lakukan? Saya tidak akan berani menentang The New York Times.”
Bab 5
Siapa yang Mengincar Warga Amerika?
Di balik berbagai insiden yang didokumentasikan dalam laporan ini, terdapat PKT sebagai dalangnya, namun tidak semua pelaku bertindak atas perintah langsung dari Beijing. Bab ini memetakan seluruh spektrum pihak yang terlibat: mulai dari badan pemerintah Tiongkok dan proksi PKT yang telah dikenal, hingga anggota diaspora yang teperdaya oleh propaganda selama puluhan tahun, serta lembaga-lembaga Amerika yang tanpa sadar turut menyukseskan agenda Beijing..

1. Pejabat Tiongkok
Dalam 138 kasus, setidaknya ada satu entitas pemerintah Tiongkok atau PKT yang terlibat langsung dalam tindakan menekan aktivitas Falun Gong atau mengintimidasi para praktisi di Amerika Serikat. Instansi yang paling banyak dilaporkan adalah Kementerian Keamanan Publik (66 laporan), diikuti oleh Kementerian Keamanan Negara (28 laporan), dan Kementerian Luar Negeri (17 laporan). Kasus-kasus lainnya menyebutkan pejabat lokal Tiongkok lainnya atau tidak merinci instansi secara spesifik (31 laporan).
Banyak dari insiden ini melibatkan agen keamanan Tiongkok yang mengintimidasi anggota keluarga di Tiongkok, termasuk keluarga besar.
“Kakak ipar perempuan saya didekati oleh MSS [Kementerian Keamanan Negara] beberapa kali di Beijing. Kadang-kadang itu terjadi di tempat kerjanya dan kadang-kadang mereka menghentikan mobilnya di jalan tol. Mereka berusaha mengorek informasi tentang kami yang berada di AS.”
—Seorang profesor di New York yang memiliki saluran YouTube kritis terhadap PKT
Namun, sedikitnya ada 25 kasus yang menyasar langsung para praktisi di Amerika Serikat. Kasus-kasus tersebut mencakup panggilan telepon dari instansi keamanan di Tiongkok untuk mengintimidasi praktisi Falun Gong di Amerika Serikat, serta aksi pelecehan oleh staf konsulat Tiongkok terhadap para praktisi—misalnya dengan menyalakan pipa penyiram air untuk menyemprot praktisi Falun Gong yang sedang menggelar aksi damai, atau dengan menekan gedung-gedung teater agar membatalkan pertunjukan Shen Yun.
“Setiap tahun, nenek saya kerap kali diganggu oleh polisi dan ditanyai apakah dia masih akan melakukan latihan Falun Dafa atau tidak. Pengawasan bakal diperketat, terutama menjelang hari-hari besar seperti Tahun Baru. Bahkan setelah nenek saya pindah ke Amerika Serikat, polisi tetap menyuruhnya mengirimkan foto-foto dirinya ke Tiongkok lewat WeChat, melalui paman saya yang masih berada di Tiongkok. Terakhir kali hal ini terjadi adalah sekitar Februari atau Maret 2025.”
—Seorang pemain Shen Yun berusia 20-an
2. Proksi PKT yang telah dikenal
Sedikitnya ada 181 insiden yang melibatkan proksi PKT dalam aksi pelecehan, ancaman, atau tindakan penindasan lainnya. Ini termasuk Asosiasi Pelajar dan Cendekiawan Tiongkok (CSSA), yang mengambil langkah-langkah untuk menekan pihak universitas agar tidak mengizinkan dosen dan mahasiswa Falun Gong menyelenggarakan acara yang bertujuan meningkatkan kesadaran tentang penganiayaan di Tiongkok. Para demonstran tandingan juga kerap melecehkan serta mengancam praktisi Falun Gong di berbagai acara publik, atau sengaja menutupi spanduk mereka dengan bendera RRT.
Studi kasus: China Anti-Cult World Association (CACWA)
CACWA yang berbasis di Queens merupakan proksi PKT paling menonjol yang terlibat dalam aksi pelecehan dan ancaman terhadap para praktisi Falun Gong di Amerika Serikat. Dalam berbagai laporan dan berkas persidangan, CACWA digambarkan sebagai cabang luar negeri atau kelompok garis depan dari aparat anti-Falun Gong Tiongkok. Kelompok ini ditengarai memiliki hubungan operasional dengan Kantor 610 milik PKT melalui propaganda yang terkoordinasi, pengakuan dari entitas yang berafiliasi dengan PKT, serta potensi pendanaan maupun arahan.44 Sejak organisasi ini didirikan pada tahun 2008, ketuanya, Li Huahong, telah berulang kali digugat, ditangkap, dan dijerat dakwaan pidana karena melakukan serangan fisik serta pelecehan verbal terhadap praktisi Falun Gong. Pada tahun 2013, Li dijatuhi dakwaan pidana oleh Pengadilan Kriminal Queens atas kasus penganiayaan karena mendorong, memukul, dan merusak properti.
“Li Huahong… selalu mengumpat Falun Gong [secara daring] setiap hari… Dia bahkan mengancam saya, mengatakan bakal ‘memberi saya pelajaran’ dan menunjukkan ‘apa yang layak saya terima.’”
—Seorang wanita keturunan Tionghoa-Amerika dari Maryland
Salah satu sekutunya, Michael Chu (alias Zhu Lichuang), memegang berbagai posisi di organisasi-organisasi yang berafiliasi dengan PKT dan terbukti membayar para pengunjuk rasa di Flushing dan Midtown Manhattan untuk membagikan materi anti-Falun Gong dan anti-Shen Yun. Lebih dari satu responden survei mencatat pertemuan spesifik mereka dengan kedua individu ini beserta pihak lain yang terkait dengan mereka, bahkan terkadang menyebut Chu sebagai “agen PKT”..
“Agen PKT Michael Chu… berteriak-teriak di jalanan, menghina keyakinan saya dan saya secara pribadi, serta menggunakan ponsel untuk memotret saya, yang melanggar hak-hak pribadi saya… Hal ini menyebabkan tekanan mental yang berat bagi saya.”
—Seorang wanita muda Tiongkok yang bekerja di media
Sejumlah responden juga melaporkan bahwa Li Huahong dan orang-orang lain yang terkait dengan CACWA telah melecehkan praktisi Falun Gong selama kunjungan Xi Jinping ke San Francisco pada November 2023. Seorang praktisi lansia berusia di atas 65 tahun dari California mengenang: “Pada saat itu, orang-orang yang disewa oleh PKT menghalangi papan tanda kami dan berteriak dengan lantang, mencoba menghalangi dan mengalihkan perhatian orang-orang yang ingin mencari kebenaran.” Seorang responden yang bertugas sebagai jurnalis juga menceritakan bagaimana ia “dikepung dan hampir dipukuli” oleh kelompok agresif ini. Beberapa dari insiden ini juga didokumentasikan dalam sebuah laporan tahun 2024 yang diterbitkan oleh Hong Kong Democracy Council dan Students for a Free Tibet..


Images of CACWA and Li Huahong during Xi Jinping’s visit to San Francisco in November 2023. (Photo credit: Hong Kong Democracy Council and Students for a Free Tibet)46
3. Troll pro-Beijing anonim dan individu tidak dikenal lainnya
Hasil survei mengidentifikasi sedikitnya 85 insiden yang melibatkan individu anonim pro-Beijing. Mereka mengirimkan pesan ancaman lewat platform daring, melakukan perusakan kendaraan dengan maksud mengintimidasi atau memicu cedera serius, serta terlibat dalam pelecehan daring terkoordinasi yang jauh melampaui perilaku wajar dari orang awam yang sekadar salah menerima informasi. Ancaman kekerasan ini meliputi ancaman pembunuhan yang ditujukan kepada praktisi Falun Gong beserta keluarga mereka, hingga ancaman bom dan penembakan massal yang menyasar acara-acara Falun Gong serta gedung teater yang menggelar pertunjukan Shen Yun.
Para responden juga melaporkan maraknya kasus penyayatan ban bus Shen Yun di berbagai penjuru Amerika Serikat demi membahayakan keselamatan kendaraan. Selain itu, beberapa responden mencatat adanya orang-orang mencurigakan non-Tionghoa yang terlihat mondar-mandir dalam waktu lama—sering kali hingga berjam-jam—di dekat kendaraan Shen Yun pada larut malam.

Pada tanggal 15 Maret 2024, Departemen Kepolisian Costa Mesa merinci adanya “sayatan sekitar 7 inci” pada ban bus tur Shen Yun. Ban tersebut disayat sedemikian rupa sehingga tidak langsung mengempis, melainkan akan meledak saat dikendarai di jalan tol.47
4. Anggota diaspora Tiongkok yang teperdaya
Individu, pelaku usaha, dan asosiasi etnis Tionghoa lokal menjadi salah satu kategori pelaku terbesar yang dilaporkan oleh para responden. Tercatat ada 144 insiden spesifik di mana mereka diidentifikasi sebagai pelaku tindakan penindasan transnasional. Pihak-pihak atau entitas ini tidak memiliki hubungan terkonfirmasi dengan rezim tersebut, melainkan disinyalir teperdaya oleh propaganda PKT selama puluhan tahun terhadap Falun Gong. Sebagai contoh, pada 9 Juni 2025, saat seorang praktisi wanita tengah menyebarkan informasi tentang penganiayaan di dekat Konsulat Tiongkok di Los Angeles, seorang wanita Tiongkok berteriak, “Sebagai orang Tionghoa, tega-teganya kamu memperlakukan Partai Komunis Tiongkok seperti ini?” Wanita tersebut bertindak kian agresif dan mendorong sang praktisi sebanyak tiga kali.
Ini bukan sekadar insiden tunggal. Banyak responden melaporkan bahwa mereka kerap diteriaki sebagai “pengkhianat” oleh warga Tionghoa yang melintas atau dituduh “mencoreng nama baik Tiongkok.” Para responden juga mengutarakan rasa frustrasi mereka lantaran propaganda PKT telah membuat banyak warga negara Tiongkok menutup diri dari diskusi rasional mengenai kekejaman hak asasi manusia yang dilakukan PKT di Tiongkok.
5. Lembaga-lembaga Utama Amerika
Dalam 86 insiden, entitas yang berbasis di AS-lah yang terlibat dalam sensor atau pelecehan terhadap praktisi Falun Gong. Dari jumlah tersebut, 24 di antaranya merupakan pelaku usaha, organisasi, atau kamar dagang lokal Tionghoa. Sementara 62 sisanya melibatkan lembaga-lembaga utama, terutama gedung teater lokal (lihat Bab 4), penyelenggara pawai (lihat Bab 4), serta penyelenggara acara nasional dan komunitas seperti asosiasi puisi dan konferensi medis. Dalam banyak kasus, entitas tersebut sebelumnya dengan senang hati menyambut Falun Gong atau Shen Yun, namun berubah menjadi lebih tertutup di tengah maraknya informasi yang menyimpang dan negatif tentang komunitas ini, iming-iming ekonomi dari Beijing, atau setelah menerima ancaman kekerasan. Sebagai contoh, seorang responden yang merupakan guru bahasa Inggris dari Georgia mencatat bahwa setelah sebuah teater lokal menerima ancaman penembakan massal palsu, tempat tersebut memilih untuk tidak memesan pertunjukan Shen Yun pada musim berikutnya:
Sungguh menyedihkan, tempat pertunjukan tersebut … menolak memesan pertunjukan untuk tahun berikutnya. Ini adalah kerugian yang sangat disayangkan. Ancaman itu berhasil mencapai sebagian dari apa yang mereka incar. Sangat tragis melihat Partai Komunis Tiongkok, sebuah rezim yang kejam dan berdarah, dapat menggunakan disinformasi dan ancaman palsu untuk mengacaukan acara-acara budaya di Amerika.
Seperti yang dijabarkan dalam Bab 4, media massa di Amerika Serikat, baik media utama maupun lokal, telah memainkan peran kunci dalam menciptakan lingkungan informasi yang bias yang tercemar oleh narasi PKT serta klaim yang tidak akurat mengenai Falun Gong dan Shen Yun. Realitas inilah yang dicatat oleh banyak responden telah memicu beberapa keputusan organisasi lain di atas untuk menekan ruang bicara dan aktivitas para praktisi.
Bab 6
Bukti Ketangguhan dan Tantangan di Masa Depan
Meskipun penindasan yang didokumentasikan di atas terus meningkat, hasil survei ini tidak sepenuhnya suram. Mayoritas praktisi Falun Gong di Amerika Serikat mengaku masih bisa menjalankan latihan keyakinan mereka dan menyuarakan pendapat secara terbuka. Hal ini membuktikan keteguhan hati mereka sekaligus menjadi bukti nyata dari perlindungan yang diberikan oleh masyarakat Amerika. Namun, di balik ketangguhan tersebut, mereka juga menghadapi kerentanan nyata yang kian hari kian besar.
Meskipun ditekan, sebagian besar responden tetap teguh pada keyakinan mereka dan terus menyuarakan aspirasi mereka. Lebih dari 57 persen praktisi Falun Gong yang mengisi survei ini merasa “sangat aman” atau “cukup aman” untuk ikut serta dalam kegiatan Falun Gong di depan umum di Amerika Serikat. Selain itu, lebih dari 57 persen responden juga merasa “sangat yakin” atau “cukup yakin” bahwa kebebasan beragama dan hak-hak kebebasan mereka lainnya telah terlindungi dengan baik. Walau begitu, berbagai hambatan masih tetap ada.
“Tinggal di Amerika Serikat memberi saya rasa percaya diri dan kenyamanan yang belum pernah saya rasakan sebelumnya—karena di sini, saya bisa berbicara dengan bebas… Saya ingin menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada pemerintah AS. Amerika Serikat adalah mercusuar kebebasan. Jika negara ini runtuh, cahaya itu akan padam—dan bersamanya, sirna pula harapan bagi banyak orang di seluruh dunia. Itulah mengapa hal ini sangat krusial. Ini bukan sekadar urusan politik—ini adalah masalah moral, spiritual, dan kemanusiaan. Saya mungkin merasa aman sekarang, tetapi jika pemerintah dan masyarakat acuh tak acuh, rasa aman itu bisa lenyap. PKT memandang Amerika Serikat sebagai musuh utamanya—dan jika dibiarkan, mereka tidak akan berhenti sampai berhasil merusak kebebasan yang menjadi sandaran kita semua.”
—Praktisi Falun Gong di Massachusetts
Sepertiga dari responden masih merasa tidak aman, terutama mereka yang pernah mengalami penganiayaan di Tiongkok. Sebanyak 337 responden (31%) mengaku merasa tidak aman atau sangat tidak aman. Perasaan ini paling banyak dirasakan oleh para praktisi yang pernah menderita penganiayaan di Tiongkok (55% atau 184 orang). Pengalaman tersebut meninggalkan trauma mendalam, sehingga membuat kelompok ini lebih rentan merasa tidak aman meski sudah berada di Amerika Serikat.
“Meskipun saya tinggal di Amerika Serikat dan bersyukur atas kebebasan di sini, saya tidak merasa aman sepenuhnya. Ayah saya dibunuh di Tiongkok karena melakukan latihan Falun Gong. Masa lalu kelam itu tidak pernah bisa saya lupakan. Dalam beberapa tahun terakhir, saya melihat adanya ancaman bom yang ditujukan pada pertunjukan-pertunjukan, pelecehan di dunia maya, hingga upaya menyalahgunakan hukum demi merusak organisasi kami. Kenyataan bahwa pemerintah yang sama yang telah membunuh ayah saya masih aktif mencoba membungkam para praktisi di luar negeri, membuat saya sulit untuk merasa benar-benar tenang. Saya memang merasa terlindungi oleh hukum Amerika, tetapi secara emosional dan psikologis, saya tetap sadar bahwa ancaman tersebut belum hilang.”
—Penari wanita Shen Yun dari New York
Banyak korban kurang memahami cara menghadapi penindasan lintas negara. Tinjauan bukti dan wawancara lanjutan yang dilakukan oleh para peneliti mengungkapkan bahwa banyak praktisi Falun Gong asal Tiongkok, khususnya lansia, kurang memiliki kesadaran dan keterampilan untuk mendokumentasikan kejadian, melaporkan serangan ke penegak hukum, atau melindungi diri saat menghadapi kekerasan fisik, pelecehan, perusakan properti, penguntitan, hingga ancaman kekerasan.
Responden mengeluhkan kurangnya tindak lanjut dan penegakan hukum dari instansi terkait di AS. Beberapa responden mengaku telah melaporkan kejadian spesifik kepada polisi atau aparat penegak hukum AS lainnya—termasuk kasus kekerasan fisik dan ancaman pembunuhan. Namun, mereka tidak pernah mendengar kabar adanya tindak lanjut maupun sanksi bagi para pelaku. Dalam beberapa kasus, penegak hukum AS beralasan kesulitan melacak ancaman yang dikirim melalui email anonim. Sementara dalam kasus lain, laporan mengenai orang-orang yang memiliki hubungan dengan konsulat Tiongkok yang mengumpulkan data praktisi Falun Gong di New York, atau membayar orang untuk menyebarkan propaganda anti-Falun Gong—tindakan yang berpotensi melanggar Undang-Undang Pendaftaran Agen Asing (FARA)—tampaknya terus dibiarkan tanpa ada hukuman. Seperti yang ditunjukkan oleh hasil survei ini, kejadian-kejadian tersebut bukanlah kasus terpisah, melainkan bagian dari pola terencana yang digerakkan oleh PKT untuk melanggar hak-hak warga negara serta penduduk AS, sekaligus menciptakan preseden buruk di masa mendatang.
“Pada bulan Maret, di Perpustakaan Umum Queens di New York, ada seseorang yang memajang papan berisi fitnah terhadap pencipta [Falun Gong], Shen Yun, dan [Falun] Dafa. Dia mengaku disewa oleh Michael Chu dengan bayaran $20 per jam. Kami sudah melaporkannya ke polisi, tetapi tidak ada tindakan apa pun.”
—Mahasiswa laki-laki dari New York
Bab 7
Kesimpulan
Temuan dalam laporan ini memaparkan realitas yang seharusnya menjadi alarm peringatan bagi setiap warga Amerika yang peduli terhadap kebebasan sipil, kebebasan beragama, dan integritas lembaga-lembaga AS. Sebuah rezim asing—Partai Komunis Tiongkok—telah membangun sistematisasi aparatur untuk memata-matai, mengintimidasi, melecehkan, dan membungkam warga negara serta penduduk Amerika di tanah AS sendiri.
PKT beserta kaki tangannya telah melayangkan ancaman pembunuhan kepada pihak keluarga, menyabotase kendaraan, menekan gedung pertunjukan dan universitas, membayar sejumlah orang untuk menyebarkan disinformasi, serta menyalahgunakan keterbukaan lembaga-lembaga Amerika untuk berbalik menyerang komunitas keyakinan yang tertindas ini. Ini bukanlah isu hak asasi manusia yang jauh di seberang sana. Hal ini sedang terjadi di sini, di berbagai kota besar maupun kota kecil Amerika, di 30 negara bagian, saat ini juga.
Hal yang membuat situasi saat ini sangat mendesak adalah karena kampanye ini tidak dilakukan secara asal-asalan, melainkan sengaja ditingkatkan secara terencana. Seperti yang didokumentasikan dalam laporan ini, Xi Jinping secara pribadi memerintahkan penguatan upaya untuk membungkam praktisi Falun Gong di seluruh dunia pada tahun 2022, dengan fokus utama di Amerika Serikat. Data survei memperlihatkan dampak nyata dari perintah tersebut melalui lonjakan laporan kasus penindasan transnasional yang menargetkan para praktisi Falun Gong di Amerika Serikat, di mana jumlahnya melonjak lebih dari sepuluh kali lipat antara tahun 2020 hingga 2025. Taktik yang digunakan kini jauh lebih canggih, lebih terkoordinasi, dan semakin berani. PKT tidak sedang tes ombak; mereka sedang mengeksekusi sebuah strategi. Dan dalam beberapa aspek, strategi mereka berhasil.
Bukti dari keberhasilan parsial ini sungguh memprihatinkan. Gedung pertunjukan yang dulunya menyambut hangat Shen Yun kini menjadi ragu-ragu atau bahkan membatalkan kontrak secara sepihak. Pejabat daerah yang dulunya merupakan sekutu tepercaya kini mulai menarik diri, dengan alasan terpengaruh oleh pemberitaan media yang—seperti dipaparkan dalam laporan ini—menyesatkan dan membeo narasi Beijing. Jurnalis Amerika, penyelenggara acara, pihak kampus, hingga tokoh masyarakat—sering kali tanpa disadari—telah menjadi perantara penyebaran propaganda pemerintah asing. Hampir dua pertiga praktisi Falun Gong yang disurvei mengaku mengalami tekanan emosional akibat maraknya disinformasi tersebut. Lebih dari sepertiga merasa didiskriminasi di tempat kerja, sekolah, maupun di lingkungan tempat tinggal mereka. Tujuan akhir dari rezim ini bukan sekadar membungkam para praktisi di luar negeri secara langsung, melainkan menyetir masyarakat Amerika agar melakukan pembungkaman itu demi kepentingan mereka.
Namun, salah satu temuan paling mencolok dari laporan ini bukan sekadar skala penindasannya, melainkan ketangguhan dari mereka yang menjadi sasaran. Meskipun harus menghadapi peningkatan pelecehan, ancaman kekerasan, pengawasan, dan stigma sosial selama bertahun-tahun, mayoritas praktisi Falun Gong di Amerika Serikat mengaku masih bisa menjalankan latihan keyakinan mereka dan menyuarakan aspirasi secara terbuka demi mereka yang sedang mengalami penganiayaan di Tiongkok. Mereka terus berorganisasi, mengadakan pertunjukan, mendokumentasikan fakta, dan bersuara—yang sering kali menuntut pengorbanan pribadi yang tidak sedikit..
Kegigihan mereka bukan hanya patut diacungi jempol, melainkan juga membawa dampak besar. Selama lebih dari 26 tahun, upaya para praktisi untuk membangun kesadaran publik telah berkontribusi besar dalam memperluas pemahaman masyarakat Amerika mengenai kekejaman PKT; mulai dari kerja paksa, penyiksaan, hingga pengambilan organ paksa yang direstui oleh negara. Setiap upaya untuk membungkam mereka sejatinya adalah upaya untuk menutupi rekam jejak kelam tersebut dan mencegah pembongkaran kasus-kasus serupa di masa mendatang.
Namun, ketangguhan saja tidak cukup menjadi strategi. Komunitas ini tidak akan bisa meneruskan perjuangan ini sendirian.
Kampanye PKT dalam melawan para praktisi Falun Gong di Amerika harus dilihat sebagai apa yang sebenarnya terjadi: sebuah gambaran awal. Infrastruktur berupa kaki tangan, disinformasi, tekanan diplomatik, hingga penyalahgunaan hukum yang hari ini menargetkan komunitas Falun Gong, sewaktu-waktu siap dikerahkan untuk menyerang kelompok mana pun yang dianggap mengancam oleh rezim tersebut—baik warga Uighur, Tibet, aktivis Hong Kong, warga Amerika keturunan Taiwan, pembangkang Tiongkok, maupun pihak lain yang suaranya berseberangan dengan narasi Beijing, termasuk para pembuat kebijakan di AS. Jika sistem penindasan tersebut dibiarkan berjalan tanpa hukum terhadap para praktisi Falun Gong, Beijing tidak akan berhenti sampai di sini. Pertanyaan mendasar yang diajukan oleh laporan ini kepada lembaga-lembaga Amerika adalah: apakah mereka rela membiarkan pemerintah otoriter asing mendikte siapa saja yang boleh berpartisipasi dalam kehidupan publik di Amerika?.
Jawabannya sudah pasti tidak, tetapi untuk mencapai titik itu dibutuhkan tindakan nyata. Aparat penegak hukum harus memperlakukan penindasan lintas negara terhadap para praktisi Falun Gong sebagai ancaman serius bagi hak-hak sipil serta keamanan nasional, dan benar-benar menindaklanjuti setiap laporan yang masuk alih-alih mengabaikannya begitu saja. Media massa harus menerapkan standar editorial yang ketat, bukan malah ikut menyebarkan klaim sepihak atau narasi bias yang menguntungkan kepentingan Beijing. Gedung pertunjukan, universitas, serta organisasi masyarakat perlu dibekali kesiapan dan sarana untuk mengenali sekaligus menolak tekanan asing. Para pembuat kebijakan juga harus menutup segala celah yang memungkinkan kaki tangan PKT beroperasi secara terang-terangan. Selain itu, masyarakat Amerika secara luas harus berani bersikap kritis ketika melihat suatu komunitas keyakinan dikucilkan, diancam, dan difitnah secara sistematis.
PKT menganggap Amerika Serikat beserta pemerintahannya sebagai batu sandungan utama dalam ambisi mereka untuk membasmi dan membungkam Falun Gong. Di satu sisi, pandangan tersebut sebenarnya menjadi sebuah pujian atas nilai-nilai luhur yang dijunjung oleh Amerika. Hak kebebasan yang tertanam kuat di sini—mulai dari kebebasan berkeyakinan, berbicara, hingga berkumpul—justru menjadi alasan mengapa negara ini menjadi tempat bernaung yang aman bagi mereka yang melarikan diri dari penganiayaan, sekaligus menjadi wadah bagi mereka yang bertekad untuk mendokumentasikannya. Melindungi hak kebebasan tersebut bagi semua orang bukan sekadar kewajiban moral. Di tengah gempuran asing yang disengaja dan kian gencar terhadap masyarakat sipil Amerika, situasi ini juga menjadi ujian nyata apakah Amerika mampu membela dirinya sendiri—bukan di medan perang yang jauh di seberang sana, melainkan di dalam ruang sidang, ruang redaksi berita, gedung pertunjukan, hingga platform media sosial mereka sendiri, yang kini sedang dipersenjatai oleh Beijing untuk menyerang rakyat dan organisasi di Amerika.
Bab 8
Rekomendasi
Berbagai kejadian dan tren yang dipaparkan dalam laporan ini sangatlah serius. Namun, semua itu—setidaknya sebagian—masih dapat dicegah. Untuk mengatasinya, dibutuhkan tindakan nyata dari berbagai pihak. Instansi pemerintah, organisasi media, lembaga kemasyarakatan, hingga warga Amerika biasa masing-masing memiliki peran penting. Rekomendasi di bawah ini dirancang untuk memperbesar risiko dan kerugian bagi PKT dalam melancarkan penindasan transnasional, melindungi mereka yang menjadi sasaran, serta menutup celah agar manipulasi asing tidak berakar di dalam masyarakat Amerika..
Langkah yang dapat diambil oleh pemerintah AS:
Langkah yang dapat diambil oleh masyarakat sipil dan warga Amerika:
Catatan Akhir
[1] “China: Transnational Repression Origin Country Case Study,” Freedom House, diakses 8 Mei 2026, https://freedomhouse.org/report/transnational-repression/china
[2] “What is Falun Gong?” Falun Dafa Information Center, diakses 8 Mei 2026, https://faluninfo.net/what-is-falun-gong-falun-dafa/
[3] Sarah Cook, “Falun Gong: Religious Freedom in China,” Freedom House, diakses 8 Mei 2026, https://freedomhouse.org/report/2017/battle-china-spirit-falun-gong-religious-freedom
[4] “Death Cases,” Minghui, diakses 8 Mei 2026, https://en.minghui.org/emh/special_column/death_cases/ True figures are likely much larger due to the regime’s censorship
[5] “Peaceful Resistance,” Falun Dafa Information Center, diakses 8 Mei 2026, https://faluninfo.net/falun-gong-story-peaceful-resistance/
[6] “2024 Year in Review: Five Key Developments in the Chinese Regime’s Persecution of Falun Gong,” Falun Dafa Information Center, January 15, 2025, https://faluninfo.net/2024-year-in-review-five-key-developments-in-the-chinese-regimes-persecution-of-falun-gong/
[7] “An Unprecedented CCP Campaign to Sabotage Shen Yun, Eliminate Falun Gong Globally,” Falun Dafa Information Center, December 16, 2024, https://faluninfo.net/launching-a-knockout-punch-ccp-campaign-to-sabotage-shen-yun-falun-gong/
[8] Tasnim Nazeer, “Leaked CCP Files Expose Global Crackdown on Dissent,” The Diplomat, February 24, 2025, https://thediplomat.com/2025/02/leaked-ccp-files-expose-global-crackdown-on-dissent/
[9] “The Chinese Communist Party’s Top Leadership Intensifies Secret Plans to Attack Overseas Falun Gong, Shen Yun, and The Epoch Times,” The World Organization to Investigate the Persecution of Falun Gong, December 12, 2024, https://www.upholdjustice.org/node/664 & “Weaponizing Social Media,” Falun Dafa Information Center, August 7, 2024, https://faluninfo.net/weaponizing-social-media/
[10] “An Unprecedented CCP Campaign to Sabotage Shen Yun, Eliminate Falun Gong Globally,” Falun Dafa Information Center, December 16, 2024, https://faluninfo.net/launching-a-knockout-punch-ccp-campaign-to-sabotage-shen-yun-falun-gong/
[11] Ibid
[12] “Criminal Complaint by Telephone or Other Electronic Means,” U. S. Department of Justice, accessed May 9, 2026, https://www.justice.gov/archives/opa/media/1381256/dl; “California Man Sentenced for Acting as an Illegal Agent of the People’s Republic of China Government and Bribery,” U. S. Department of Justice, November 19, 2024, https://www.justice.gov/opa/pr/california-man-sentenced-acting-illegal-agent-peoples-republic-china-government-and-bribery
[13] “Monitoring the CCP’s Latest Transnational Repression and Disinformation Campaign against Falun Gong, Shen Yun,” Falun Dafa Information Center, last modified June 13, 2026, https://faluninfo.net/incident-tracker-monitoring-the-ccps-latest-transnational-repression-and-disinformation-campaign-against-falun-gong/
[14] “An Unprecedented CCP Campaign to Sabotage Shen Yun, Eliminate Falun Gong Globally,” Falun Dafa Information Center, December 16, 2024, https://faluninfo.net/launching-a-knockout-punch-ccp-campaign-to-sabotage-shen-yun-falun-gong/
[15] “Updates on the Overseas Criminal Activities of the Chinese Communist Party Persecuting Falun Gong,” The World Organization to Investigate the Persecution of Falun Gong, June 29, 2021, https://www.upholdjustice.org/node/530
[16] “New York Times Continues Unfounded Attack on Falun Gong Beliefs, Community,” Falun Dafa Information Center, December 30, 2024, https://faluninfo.net/new-york-times-continues-unfounded-attack-on-falun-gong-shen-yun/
[17] For example, among the independent investigations include the “Bloody Harvest/The Slaughter: An Update” by Ethan Gutmann, David Kilgour, and David Matas, and the China Tribunal, an independent tribunal in London led by Sir Geoffrey Nice. Additionally, eight countries have passed binding legislations decrying the atrocity and proscribing actions to curtail it. David Kilgour, Ethan Gutmann, and David Matas, “Bloody Harvest/The Slaughter: An Update,” International Coalition to End Transplant Abuse in China, June 22, 2016, https://endtransplantabuse.org/an-update/; “Final Judgement,” China Tribunal, June 19, 2019, https://chinatribunal.com/final-judgment/; “Legislations,” International Coalition to End Transplant Abuse in China, 2025, https://endtransplantabuse.org/legislation/
[18] “12 Things to Know About The New York Times’ “Investigation” of Shen Yun, Falun Gong,” Falun Dafa Information Center, last modified January 2, 2025, https://faluninfo.net/key-things-to-know-about-the-new-york-times-investigation-of-shen-yun-falun-gong/
[19] “January 2026 Transnational Repression Update,” Falun Dafa Information Center, January 18, 2026, https://faluninfo.net/january-2026-transnational-repression-update/
[20] “X Takes Down Bot Accounts Attacking Falun Gong,” Falun Dafa Information Center, March 12, 2025, https://faluninfo.net/x-takes-down-bot-accounts-attacking-falun-gong/
[21] Margot Fulde-Hardy et al, “Glass Onion,” Graphika, January 13, 2026, https://graphika.com/reports/glass-onion
[22] Falun Dafa associations, while they are the local presenters of the Shen Yun Performing Arts, are not financially affiliated with Shen Yun or other institutions established by Falun Gong practitioners, like the The Epoch Times.
[23] Falun Dafa Associations do not maintain detailed membership lists. However, based on attendance at meditation sites, conferences and other activities, the Falun Dafa Information Center estimates that there are at least 10,000 people that practice Falun Gong in the United States.
[24] The remaining one percent of respondents expressed “prefer not to say.”
[25] “FDIC Brings New Evidence on CCP’s Forced Organ Harvesting as Congress Weighs Fresh Sanctions ,” Falun Dafa Information Center, May 15, 2026, https://faluninfo.net/fdic-brings-new-evidence-on-ccps-forced-organ-harvesting-as-congress-weighs-fresh-sanctions/
[26] “Forced Organ Harvesting Survivor in the U.S. Faces Threats, Suspected Break-in,” Falun Dafa Information Center, November 4, 2024, https://faluninfo.net/forced-organ-harvesting-survivor-in-the-u-s-faces-threats-suspected-break-in/
[27] Ibid
[28] “New Threats and Impersonations Target Falun Gong and U.S. Institutions (May 29–June 17),” Falun Dafa Information Center, June 25, 2025, https://faluninfo.net/new-threats-and-impersonations-target-falun-gong-and-u-s-institutions-may-29-june-17/
[29] Out of respect for privacy and the sensitive nature of the topic, the FDIC gave survey participants an option “Prefer Not to Say,” should they feel uncomfortable disclosing the specifics of transnational repression incidents that they experienced. The cases included in specific counts are only those that were found by researchers to be credible and well-documented.
[30] Yuefeng Wu, “The real reason communist China is afraid of Shen Yun,” The Hill, March 5, 2024, https://thehill.com/opinion/international/4500639-the-real-reason-communist-china-is-afraid-of-shen-yun/
[31] “Diplomatic Disruptions and Disinformation,” Falun Dafa Information Center, January 8, 2024, https://faluninfo.net/diplomatic-disruptions-and-disinformation-beijings-global-drive-to-stop-shen-yun/
[32] Kim Leoffler, “Falun Dafa Association reports threat to Shen Yun Performing Arts show in Atlanta,” Fox 5 Atlantic, last modified December 13, 2024, https://www.fox5atlanta.com/news/falun-dafa-association-reports-threat-shen-yun-performing-arts-show-atlanta; Dorocy Li, “New Threats Made Against Theaters Ahead of Shen Yun Performances,” The Epoch Times, last modified December 16. 2024, https://www.theepochtimes.com/us/new-mass-shooting-threats-made-against-us-arts-group-shen-yun-5776682
[33] Ian Johnson, Wild Grass: Three Portraits of Change in Modern China (Vintage, Reprint edition, 2005)
[34] David Ownby, Falun Gong and the Future of China (Oxford University Press, 2008)
[35] “Monitoring the CCP’s Latest Transnational Repression and Disinformation Campaign against Falun Gong, Shen Yun,” Falun Dafa Information Center, last modified April 30, 2026, https://faluninfo.net/incident-tracker-monitoring-the-ccps-latest-transnational-repression-and-disinformation-campaign-against-falun-gong/
[36] “Death threat sent to Falun Dafa Information Center Staff,” Falun Dafa Information Center, August 1, 2024, https://faluninfo.net/incident-tracker-monitoring-the-ccps-latest-transnational-repression-and-disinformation-campaign-against-falun-gong/#august-1-2024
[37] A full analysis of The New York Times’ reporting is beyond the scope of this report. However, the FDIC’s investigations have found numerous inaccuracies and biases. See FDIC’s full analysis at: https://faluninfo.net/key-things-to-know-about-the-new-york-times-investigation-of-shen-yun-falun-gong; https://faluninfo.net/new-york-times-falun-gong-distortion/
[38] “Popular YouTuber Exposes the CCP’s Covert Influence Operations Against Falun Gong,” Falun Dafa Information Center, March 27, 2025, https://faluninfo.net/popular-youtuber-exposes-the-ccps-covert-influence-operations-against-falun-gong/
[39] “X Takes Down Bot Accounts Attacking Falun Gong,” Falun Dafa Information Center, March 12, 2025, https://faluninfo.net/x-takes-down-bot-accounts-attacking-falun-gong/
[40] Margot Fulde-Hardy et al, “Glass Onion,” Graphika, January 13, 2026, https://graphika.com/reports/glass-onion
[41] Tian Guo Band, accessed May 8, 2026, http://tianguo.band/wp-content/uploads/2018/07/ED16902-1600×1067.jpg
[42] Frank Tian Xie. “Beijing Dance Academy Dances to the Tune of Zhongnanhai,” Jamestown China Brief, no. 25(2025):22, https://jamestown.org/beijing-dance-academy-dances-to-the-tune-of-zhongnanhai/
[43] “Marking 26 Years of Persecution: U.S. Officials Stand with Falun Gong,” Falun Dafa Information Center, July 21, 2025, https://faluninfo.net/marking-26-years-of-persecution-u-s-officials-stands-with-falun-gong/
[44] Human Rights Law Foundation staff, “Overseas Influence Operations of the Chinese Communist Party:Furthering the Crackdown on Falun Gong in the United States,” Falun Dafa Information Center, Human Rights Law Foundation, accessed May 8, 2026, https://faluninfo.net/wp-content/uploads/2022/09/2022_09_08_PRIV-Overseas-Influence-Operations-of-CCP.pdf
[45] “Anti-Shen Yun Protesters Tied to Notorious CCP-Linked Figure in New York,” Falun Dafa Information Center, May 7, 2025, https://faluninfo.net/anti-shen-yun-protesters-tied-to-notorious-ccp-linked-figure-in-new-york/
[46] “Exporting Repression: Attacks on Protesters During Xi Jinping’s Visit to San Francisco in November 2023,” Hong Kong Democracy Council and Students for a Free Tibet, accessed May 8, 2026, https://ccpexportingrepression.com
[47] Leeshai Lemish, “Tire Slashing is Back!” leeshailemish.com, March 17, 2024, https://leeshailemish.com/on-shen-yun/2024/03/17/tire-slashing-is-back/
[48] “S.4009 – Falun Gong and Victims of Forced Organ Harvesting Protection Act,” Congress.gov, March 5, 2026, https://www.congress.gov/bill/119th-congress/senate-bill/4009/text
Temuan dalam laporan ini didasarkan pada survei daring yang diadakan oleh Falun Dafa Information Center (FDIC). Survei ini bertujuan untuk mendokumentasikan pengalaman praktisi Falun Gong yang tinggal di Amerika Serikat terkait penindasan lintas negara oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT). Studi ini menggunakan pendekatan metode campuran untuk analisisnya, yaitu menggabungkan temuan kuantitatif dengan data kualitatif pilihan serta studi kasus yang diambil dari kutipan para responden dan narasumber wawancara.
Desain Survei
Survei ini terdiri dari 43 pertanyaan yang memadukan bentuk pilihan ganda atau ya/tidak dengan pertanyaan terbuka. Kuesioner disebarkan dalam versi bahasa Inggris dan bahasa Mandarin agar mudah dipahami dan meningkatkan partisipasi dari komunitas Falun Gong yang menguasai dua bahasa tersebut. Topik yang dibahas meliputi demografi responden, riwayat penganiayaan di Tiongkok, pengalaman langsung terkait penindasan lintas negara di Amerika Serikat, serta rasa aman dan nyaman para praktisi saat melakukan latihan Falun Gong. Kuesioner lengkapnya dilampirkan kembali di sini.
Pada halaman pengantar, para peserta diberikan informasi mengenai tujuan survei, sifatnya yang sukarela, risiko potensial yang terkait dengan topik sensitif ini, serta langkah-langkah perlindungan data sebelum memulai; persetujuan ditunjukkan dengan melanjutkan pengisian survei. Survei ini secara standar bersifat anonim, tetapi para responden diberikan pilihan di bagian akhir untuk memberikan informasi kontak jika ada pertanyaan tindak lanjut.
Tujuan utama dari survei ini adalah untuk:
- Mendokumentasikan profil demografi komunitas Falun Gong: Mengumpulkan data mengenai suku bangsa (termasuk apakah mereka mengidentifikasi diri sebagai etnis Tionghoa atau non-Tionghoa), jenis kelamin, negara bagian tempat tinggal, rentang usia, kewarganegaraan, dan pekerjaan responden. Hal ini bertujuan untuk memahami dan menggambarkan kondisi sosial-ekonomi komunitas Falun Gong di Amerika Serikat secara lebih akurat.
- Mendokumentasikan dampak penganiayaan di Tiongkok terhadap komunitas Falun Gong di AS: Mengumpulkan informasi dasar mengenai latar belakang responden, seperti apakah mereka pernah ditahan, dipenjara, atau disiksa secara fisik di Tiongkok; apakah ada anggota keluarga inti yang saat ini masih dipenjara; apakah ada anggota keluarga yang meninggal dunia akibat penganiayaan; serta apakah responden pernah dipaksa menjalani tes darah atau pemeriksaan medis yang mencurigakan selama berada dalam tahanan.
- Menyelidiki skala dan sifat penindasan lintas negara: Mengumpulkan informasi langsung mengenai seberapa sering dan dalam bentuk apa anggota komunitas Falun Gong di Amerika Serikat mengalami taktik penindasan lintas negara yang digerakkan oleh Beijing, baik secara langsung maupun tidak langsung. Survei ini juga mengidentifikasi dan mendokumentasikan berbagai insiden yang terjadi di Amerika Serikat, termasuk pelecehan, pengawasan, ancaman, gangguan terhadap jalannya acara, atau taktik lain yang termasuk dalam penindasan lintas negara. Jawaban dari bagian ini digunakan untuk memetakan pola tekanan atau paksaan dari pihak luar yang menyasar para praktisi di Amerika Serikat, termasuk mengidentifikasi aktor-aktor yang menjalankan taktik dan terlibat dalam insiden tersebut.
- Menilai dampak dari narasi yang bias dan menyesatkan akhir-akhir ini: Mengumpulkan kisah dan pengalaman pribadi mengenai sejauh mana upaya disinformasi serta kampanye pencemaran nama baik akhir-akhir ini telah memengaruhi kehidupan sehari-hari, reputasi, pekerjaan, atau rasa aman para praktisi. Hal ini mencakup contoh-contoh tindakan diskriminasi, pelecehan verbal, atau sikap bermusuhan—seperti insiden yang terjadi di tempat latihan meditasi atau di lokasi kegiatan sosialisasi masyarakat..
Perekrutan Peserta
Survei daring ini disebarkan dengan bantuan asosiasi Falun Dafa daerah di seluruh Amerika Serikat. Asosiasi-asosiasi ini merupakan organisasi nirlaba yang dijalankan oleh sukarelawan untuk mengajarkan dan memperkenalkan latihan ini kepada masyarakat luas, serta mengoordinasikan sesi membaca kitab suci dan berbagi pengalaman bagi para praktisi Falun Gong setempat. Jalur ini memastikan bahwa para responden adalah praktisi Falun Gong yang sebenarnya, sekaligus memanfaatkan hubungan saling percaya yang telah lama terjalin antara pihak asosiasi, Falun Dafa Information Center, dan komunitas praktisi. Perlu dicatat bahwa meskipun asosiasi-asosiasi ini sering kali bertindak sebagai penyelenggara lokal yang independen untuk pertunjukan Shen Yun Performing Arts, mereka tidak memiliki afiliasi secara organisatoris maupun finansial dengan Shen Yun atau lembaga lain yang didirikan oleh praktisi Falun Gong, termasuk Epoch Times.
Setiap asosiasi diminta secara terbuka untuk mengundang seluruh praktisi di wilayah mereka—baik yang pernah mengalami penindasan maupun yang tidak—supaya sampel data yang terkumpul tidak timpang dan hanya berpusat pada mereka yang pernah mengalami insiden saja. Draf email yang disiapkan oleh Falun Dafa Information Center dikirimkan oleh pihak asosiasi ke daftar kontak lokal mereka, dan survei ini juga dibagikan dalam sesi belajar kitab suci setempat. Setiap pertanyaan atau kekhawatiran dari calon peserta langsung ditanggapi dengan cepat.
Pendekatan yang luas dan inklusif ini berhasil mengumpulkan 1.080 tanggapan yang valid, yang mewakili sekitar 10% dari perkiraan total populasi praktisi Falun Gong di Amerika Serikat. Karena Asosiasi Falun Dafa tidak menyimpan daftar keanggotaan yang rinci, Falun Dafa Information Center memperkirakan bahwa setidaknya ada 10.000 orang yang melakukan latihan Falun Gong di Amerika Serikat, berdasarkan jumlah kehadiran di tempat latihan meditasi, konferensi, serta kegiatan lainnya.
Penyebaran survei ini dimulai pada 4 September 2025. Sebelum kuesioner disebarkan ke seluruh negeri, sebuah uji coba awal sempat dijalankan di satu kota melalui Asosiasi Falun Dafa Negara Bagian New York. Masukan dari kelompok uji coba kecil ini digunakan untuk memperjelas pilihan kata, menghilangkan bagian yang ambigu, serta memperbaiki alur logika pertanyaan. Hingga 1 November 2025, Falun Dafa Information Center telah menerima sebagian besar dari total 1.080 tanggapan tersebut, sementara formulir pengisian tetap dibuka hingga penyusunan draf akhir laporan pada awal Maret untuk menjaring peserta sebanyak mungkin.
Wawancara Tindak Lanjut
Tim peneliti juga mengirimkan email tindak lanjut opsional atau mengadakan wawancara dengan 31 peserta yang bersedia dihubungi. Percakapan ini membantu peneliti untuk memperjelas detail dan mendapatkan gambaran konteks yang lebih utuh mengenai insiden-insiden tertentu. Semua kutipan yang termuat dalam laporan ini diambil dari hasil wawancara tersebut maupun dari jawaban tertulis dalam survei.
Analisis Data
Seluruh tanggapan ditinjau secara saksama oleh tim peneliti Falun Dafa Information Center. Tanggapan yang ganda atau tidak lengkap dieliminasi demi menjaga integritas data. Hanya laporan yang jelas, spesifik, dan tepercaya yang dipertahankan untuk dianalisis.
Data kuantitatif ditabulasi untuk mengidentifikasi pola dan tingkat kekerapan insiden. Sementara itu, tanggapan kualitatif diperiksa melalui analisis tematik, di mana setiap keputusan dan aturan pengodean didokumentasikan dengan rinci. Analisis ini memadukan pengodean dari topik survei serta bentuk-bentuk penindasan lintas negara yang telah dipetakan sebelumnya, ditambah dengan tema-tema baru yang muncul langsung dari penuturan para peserta. Setidaknya dua peneliti dan penasihat dilibatkan untuk meninjau proses pengodean serta proses analisis ini guna memastikan konsistensi dan akurasi hasilnya.
Perlindungan Privasi dan Jaminan Etis
Melindungi keamanan dan privasi para peserta merupakan prioritas utama. Survei ini dijalankan di server aman milik Falun Dafa Information Center, di mana seluruh tanggapan dianonimkan dan disimpan dalam basis data awan (cloud) privat. Informasi identitas pribadi (PII) dihapus dari setiap jawaban kualitatif untuk menghilangkan detail yang berpotensi digunakan untuk tindakan balas dendam. Tidak ada nama, lokasi spesifik, atau identitas lainnya yang dimuat dalam laporan ini, kecuali jika peserta secara eksplisit memberikan izin tertulis setelah memahami seluruh risikonya.
Wawancara tindak lanjut hanya dilakukan melalui platform dengan enkripsi ujung ke ujung (end-to-end encrypted, terutama Signal). Semua rekaman serta transkrip wawancara disimpan di ruang penyimpanan awan yang terenkripsi dengan kontrol akses yang ketat. Data tidak akan pernah dibagikan kepada pihak ketiga mana pun, kecuali jika peserta memberikan wewenang secara khusus dan memahami segala konsekuensinya..
Keterbatasan
Mengingat sensitivitas topik yang diangkat, keikutsertaan dalam survei ini sepenuhnya bersifat sukarela. Oleh karena itu, ada kemungkinan munculnya bias seleksi mandiri (self-selection bias), di mana orang-orang yang memiliki perhatian besar pada isu ini cenderung lebih terdorong untuk mengisi survei. Meski demikian, partisipasi sukarela ini sangat penting, baik demi alasan etis maupun untuk mendapatkan jawaban yang jujur. Dengan aktif mendorong seluruh anggota komunitas praktisi Falun Gong untuk berpartisipasi (bukan hanya mereka yang pernah menjadi sasaran), tim peneliti berupaya meminimalkan ketimpangan hasil data.
Kami meyakini bahwa perpaduan antara perekrutan praktisi yang terverifikasi, perlindungan privasi yang ketat, metode yang transparan, serta analisis yang saksama memberikan validitas yang kuat pada hasil survei ini. Hal ini menjadikannya sebagai sumber rujukan yang andal untuk memahami komunitas Falun Gong di Amerika Serikat beserta penindasan lintas negara yang mereka hadapi.
Langkah-Langkah yang Harus Dilakukan
1. Jika Anda berada dalam bahaya: Segera selamatkan diri dan hubungi 9-1-1.
Utamakan keselamatan Anda; segera cari bantuan medis jika diperlukan.
2. Laporkan kejadian tersebut ke FBI.
• Kirimkan laporan melalui situs tips.fbi.gov atau hubungi nomor telepon 1-800-CALL-FBI (225-5324).
• Sebutkan frasa “suspected transnational repression” (dugaan penindasan lintas negara)
• Anda bisa melampirkan bukti berupa tangkapan layar, rekaman suara, video, maupun dokumen pendukung.
• Layanan pengaduan (hotline) FBI ini menerima informasi dalam 60 bahasa, termasuk bahasa Inggris, bahasa Mandarin, dan bahasa Vietnam.
3. Buat laporan di kepolisian setempat. Mintalah nomor laporan kejadian—ini akan sangat berguna untuk mengurus surat perintah perlindungan, meningkatkan keamanan di kampus atau tempat kerja, serta keperluan tindak lanjut.
4. Laporkan insiden tersebut ke Falun Dafa Information Center melalui email [email protected]. Anda juga bisa meminta bantuan untuk menyusun laporan informasi serta bentuk bantuan tambahan lainnya.
Amankan Barang Bukti
Simpan semua bukti yang ada, termasuk pesan teks, DM (direct message), email (beserta bagian header-nya), pesan suara, log panggilan, surat, hingga kiriman paket.
- Ambil tangkapan layar (screenshot) dan simpan seluruh alur percakapan; foto juga tampilan ID penelepon serta catatan fisik yang Anda terima.
- Dokumentasikan tindakan doxxing: Simpan tautan URL, unggahan, nama akun (handle), stempel waktu (timestamp), serta tautan arsipnya.
- Buat catatan harian yang mencantumkan tanggal, waktu, kronologi kejadian, serta siapa saja yang menyaksikannya.
- Kirimkan seluruh informasi tersebut ke email [email protected].
Amankan Kehidupan Digital Anda
- Aktifkan autentikasi dua faktor (MFA) pada akun email, media sosial, dan perbankan Anda.
- Ganti kata sandi Anda secara berkala, dan jangan pernah menggunakan kata sandi yang sama untuk beberapa akun yang berbeda. Simpan kata sandi Anda secara luring (offline) di buku catatan fisik, serta hindari penggunaan aplikasi penyimpan kata sandi digital.
- Perketat pengaturan privasi; hapus alamat rumah, alamat tempat kerja, dan informasi kontak pribadi dari profil publik Anda..
- Simpan perangkat elektronik Anda di dalam kantong Faraday (faraday bag) untuk mencegah pelacakan sinyal.
Informasikan kepada Pihak Terkait
- Pihak keamanan tempat kerja/sekolah/kampus: Mintalah fasilitas penunjang keselamatan, seperti pengawalan saat berjalan, pengetatan kontrol akses masuk, lokasi parkir yang lebih aman, atau pemeriksaan khusus pada surat dan paket yang datang.
- Keluarga/teman sekamar: Bagikan rencana keselamatan singkat agar mereka tahu apa yang harus dilakukan dalam situasi darurat.
- Jika Anda sedang berada di luar negeri: Segera laporkan kejadian tersebut ke kepolisian setempat serta kedutaan besar atau konsulat Amerika Serikat terdekat..
Hal-Hal yang Harus Dimuat dalam Laporan ke FBI/Polisi Setempat
- Insiden-insiden yang pernah terjadi sebelumnya, saksi mata yang ada, atau nomor kasus kepolisian lain yang saling berkaitan
- Siapa yang menjadi target utama; cantumkan informasi kontak Anda beserta cara aman jika mereka ingin menghubungi Anda kembali
- Kronologi kejadian menggunakan bahasa Anda sendiri, lengkap dengan tanggal, jam, beserta zona waktu terjadinya insiden
- Alasan atau bukti kuat mengapa Anda meyakini adanya keterlibatan dari aktor negara asing atau perpanjangan tangan (proxy) mereka
- Semua barang bukti yang Anda miliki (baik berupa file maupun tautan) beserta langkah-langkah pengamanan bukti yang sudah Anda lakukan



