Lonjakan Akun Troll Twitter Sebarkan Konten Berbahaya Terkait Falun Gong
Dalam beberapa bulan terakhir, Pusat Informasi Falun Dafa mendokumentasikan lonjakan akun troll yang mengkhawatirkan di Twitter. Akun-akun tersebut dikhususkan untuk menyebarkan konten palsu mengenai Falun Gong, guna melanggengkan narasi Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang bertujuan memfitnah serta melemahkan dukungan terhadap latihan spiritual tersebut. Akun-akun tidak autentik ini berperan dalam kampanye global PKT terkait penindasan lintas negara terhadap Falun Gong, yang menggunakan berbagai taktik termasuk memengaruhi media global.
Antara April dan Mei, Pusat Informasi Falun Dafa mendeteksi lebih dari 200 akun Twitter yang dikhususkan untuk menyebarkan konten negatif mengenai Falun Gong. Lembaga tersebut menemukan akun-akun ini setelah mereka secara aktif menargetkan cuitannya dan membanjiri unggahan dengan tanggapan berbahaya.
Pemeriksaan sekilas terhadap akun-akun tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa akun tersebut palsu. Dalam kebanyakan kasus, akun-akun tersebut hanya mengunggah cuitan mengenai Falun Gong, dan pengikut mereka terdiri dari akun-akun lain yang membagikan konten serupa.
“Kami mengetahui bahwa PKT mempekerjakan ratusan ribu orang untuk menyerang para pengkritik PKT di internet – sebuah kelompok daring yang biasa disebut sebagai ‘pasukan 50 sen’,” ujar Direktur Eksekutif Levi Browde. “Fakta bahwa mereka meningkatkan kehadiran dan pesan mereka di Twitter sangatlah signifikan, karena ini menunjukkan bahwa mereka memandang media sosial sebagai ruang yang layak untuk memengaruhi opini publik mengenai Falun Gong.”
Taktik yang Teramati
Akun-akun tersebut menggunakan berbagai taktik untuk memengaruhi persepsi publik mengenai Falun Gong secara daring dan menampilkan diri mereka sebagai pengguna sah.
Akun-akun tersebut mengulangi poin-poin propaganda yang digunakan oleh PKT sebagai pembenaran atas penindasan mereka terhadap Falun Gong, seperti menggambarkan para praktisi sebagai sosok yang berafiliasi dengan kekerasan atau bunuh diri. Mereka mencuitkan ratusan ilustrasi yang masing-masing membutuhkan waktu berjam-jam untuk diproduksi, hal ini menunjukkan adanya tenaga kerja yang signifikan di balik upaya tersebut. Beberapa akun bahkan membagikan video yang mengulangi narasi-narasi ini.
Selain itu, akun-akun tersebut secara rutin menanggapi penyebutan Falun Gong atau penganiayaan, melakukan pelecehan terhadap para pendukung, serta memperluas penyebaran konten mereka.
Meskipun sebagian besar akun ini dibuat dalam beberapa bulan terakhir, beberapa di antaranya tercatat telah bergabung dengan Twitter sejak tahun 2009. Sebagian besar memiliki sedikit atau tanpa pengikut, sementara akun-akun tertentu telah mengumpulkan pengikut yang relatif besar dengan membagikan konten viral dan vulgar. Beberapa akun bahkan menyamar sebagai kantor berita seperti “News Wire” atau “American political express” dan menyebarkan konten anti-Falun Gong di sela-sela unggahan mengenai politik Amerika Serikat atau internasional.
Banyak dari akun tersebut menggunakan nama-nama yang terdengar kebarat-baratan serta foto curian atau gambar generik pada profil mereka. Hal ini diduga sebagai upaya untuk menarik audiens Barat, atau memberikan kesan kepada pengguna Tiongkok di luar negeri (maupun pengguna di dalam negeri yang berhasil menembus Firewall Tiongkok) bahwa pandangan pemerintah Tiongkok terhadap Falun Gong didukung secara global.
Meskipun menggunakan nama-nama yang terdengar kebarat-baratan dan foto profil non-Asia, mayoritas unggahan dari akun-akun tersebut menggunakan bahasa Mandarin. Saat mengunggah dalam bahasa Inggris, pilihan kata yang digunakan sering kali kaku dan diunggah secara berulang-ulang oleh akun tersebut.
Akun-akun tersebut secara rutin berinteraksi satu sama lain dengan cara mengikuti, menyukai, atau mengunggah ulang (retweet) konten satu sama lain guna memperkuat kesan popularitas. Selain itu, akun-akun ini sering kali membagikan grafis yang sama dan bahkan mengunggah balasan (reply) yang identik dari berbagai akun yang berbeda.
Perlu Tindakan Segera.
Pusat Informasi Falun Dafa menyerukan kepada para peneliti disinformasi untuk menyelidiki lebih lanjut jaringan akun ini dan meminta Twitter serta platform media sosial lainnya tempat akun tersebut muncul untuk menghapus akun-akun tersebut, sebagaimana telah dilakukan sebelumnya dalam kampanye disinformasi terkait PKT lainnya yang menargetkan komunitas yang mengalami penganiayaan. Selain itu, tindakan pencegahan harus diambil untuk mencegah kemunculan kembali akun-akun tersebut.
Akun-akun ini merupakan bagian dari kampanye penindasan lintas negara yang luas terhadap Falun Gong, mulai dari pengaruh media hingga kekerasan fisik. Untuk wawasan lebih lanjut mengenai penindasan lintas negara yang dilakukan PKT terhadap Falun Gong, silakan merujuk pada kesaksian Direktur Eksekutif Levi Browde kepada Komisi Kebebasan Beragama Internasional AS dan laporan terbaru kami mengenai situasi di kampus-kampus universitas AS.










