Winston Liu
Winston Liu dan istrinya sebelum penganiayaan.
Nama saya Winston Liu. Saya bekerja sebagai insinyur kendali komputer di sebuah pabrik kimia di Wyoming, Amerika Serikat. Perjalanan saya hingga sampai di sini penuh dengan tantangan dan mara bahaya.
Saya punya dua gelar master. Yang pertama dari Universitas Tsinghua di Beijing, yang sering dijuluki sebagai “MIT-nya Tiongkok”, dan yang kedua dari University of Calgary, Kanada, dengan tesis di bidang Teknik Kimia. Pada 2005, saya melarikan diri ke Kanada dan mendapat status pengungsi sebagai praktisi Falun Gong. Saya pun dilindungi oleh pemerintah Kanada. Kemudian, pada 2012, saya pindah ke AS dengan visa kerja.
Sejak 1997 hingga 2005, saya ikut program pascasarjana di Tsinghua. Bulan Mei 1999, saya baru saja memulai studi doktoral di Departemen Teknik Termal. Cita-cita saya kala itu sederhana: jadi profesor, mengajar sambil meneliti. Di bulan yang sama, Juni 1999, saya baru menikah. Hidup terasa sangat menjanjikan.
Namun, di bulan Juli 1999, nasib saya berubah total. Hidup saya penuh dengan ketakutan ekstrem, depresi, dan kepanikan yang datang silih berganti.
Hidup Saya Berbalik 180 Derajat.
Apa pemicunya? Tepat di musim panas 1999, Jiang Zemin, yang saat itu diktator Tiongkok, melarang keras Falun Gong, ajaran spiritual yang saya yakini. Dia mengerahkan seluruh kekuatan Komunis untuk ‘memberantas’ Falun Gong. Jiang membentuk biro khusus, yaitu Kantor 610, yang punya kekuasaan di atas lembaga penegak hukum manapun. Perintahnya jelas: ‘Hancurkan reputasi mereka, bangkrutkan secara finansial, dan lenyapkan secara fisik’.
Sejak saat itu, kami terus dicekoki propaganda kebencian yang menggambarkan kami seperti bukan manusia. Semua itu dilakukan untuk membenarkan penganiayaan Jiang terhadap Falun Gong di mata publik Tiongkok. Hak-hak dasar kami dirampas, termasuk hak berbicara, berkumpul, dan bebas berkeyakinan. Bahkan, banyak praktisi dilarang bersekolah atau melanjutkan pendidikan kecuali mereka mau meninggalkan Falun Gong.
Kapan saja, siapa pun dari kami bisa dijebloskan ke salah satu kamp kerja paksa atau penjara paling kejam di Tiongkok, tanpa proses pengadila. Demi mematahkan semangat kami dan demi imbalan dari atasan, para pejabat Tiongkok dengan semangatnya telah menyiksa ribuan praktisi hingga tewas.
Lebih parah lagi, di balik jeruji besi, banyak dari kami dipaksa menjadi donor organ hidup secara paksa. Itu adalah cara kami menemui ajal.
Menemukan Keyakinan Saya adalah sebuah Anugerah.
Setahun sebelumnya, tepatnya tahun 1998, saya beruntung menemukan keyakinan saya. Falun Gong adalah ajaran spiritual kultivasi yang meningkatkan raga, pikiran, dan jiwa. Melalui lima perangkat latihan lembut dan meditasi, praktisi diajarkan untuk selaras dengan prinsip universal Sejati, Baik, dan Sabar.
Guru kami, Li Hongzhi, tidak meminta uang, pemujaan, atau menetapkan berbagai larangan. Justru, saya mendapat bimbingan bagaimana menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab pada diri sendiri dan orang lain, serta bagaimana terus menerus menjadi orang yang lebih baik.
Falun Gong mengisi kekosongan besar di hati saya akibat penghancuran nilai-nilai budaya tradisional Tiongkok oleh rezim Komunis. Kesehatan saya membaik, dan saya memperoleh kedamaian batin.
Hidup saya sedang berada di titik terbaik saat menikah pada Juni 1999. Istri saya juga mahasiswa master di kampus saya dan praktisi Falun Gong. Pada momen damai ini, saya fokus total pada penelitian dan keluarga.
Kisah Saya Menjadi Buronan
Dalam beberapa tahun berikutnya, saya keluar-masuk tahanan sebanyak empat kali.
Penahanan pertama terjadi pada 20 Juli 1999, hari di mana rezim Komunis mulai menculik praktisi Falun Gong. Saya mendatangi Kantor Banding Nasional untuk meminta pihak berwenang menghentikan propaganda kebencian terhadap Falun Gong.
Alih-alih mendengarkan, pejabat-pejabat itu malah memanggil polisi dan memaksa kami masuk mobil. Karena saya menolak, saya dipukuli hingga jatuh lalu diseret sekitar 50 meter. Pakaian saya robek, lengan saya berdarah-darah. Polisi juga menendang kepala saya. Saya lalu ditahan selama 12 jam.
September 1999, pejabat Komunis menskors studi saya karena saya menolak meneken pernyataan yang mengutuk Falun Gong. Setelah itu, saya ditahan 15 hari di asrama kampus. Mereka mencoba menekan saya menggunakan mahasiswa, dosen, bahkan orang tua saya sendiri, demi mematahkan kemauan saya.
Orang tua saya dipaksa tinggal bersama saya di akomodasi asrama yang buruk. Mereka dijadikan alat untuk menekan saya agar berhenti berlatih. Orang tua saya sering menangis, sangat khawatir dengan masa depan dan keselamatan hidup saya.
Sejak saat itu, saya menjadi vokal. Saya membuka mata publik Tiongkok tentang kejahatan yang dilakukan oleh otoritas Komunis terhadap praktisi Falun Gong.
Di bulan Juni 2000, saya pergi ke Lapangan Tiananmen untuk unjuk rasa damai menuntut penghentian penganiayaan. Tapi, polisi malah menyerang saya di depan umum. Saya ditahan sebulan penuh dengan tuduhan “dugaan pertemuan ilegal Falun Gong.”
Di hari Tahun Baru 2001, pagi-pagi sekali, polisi mendobrak rumah dan menangkap saya beserta istri. Kami dijebloskan ke pusat penahanan, tampaknya menunggu untuk diadili.
Waktu Penjara Yang Panjang
Hari-hari berikutnya, seorang polisi berulang kali menyetrum saya dengan tongkat listrik. Dia mengancam akan membunuh saya jika berani memprotes penganiayaan Falun Gong lagi. Jantung saya seperti diremas, dan bau kulit terbakar tercium di ruangan itu. Itu adalah pengalaman yang tak mau saya kenang lagi. Kadang, mereka mengurangi waktu tidur saya berhari-hari di ruang interogasi demi menghancurkan mental saya.
Setelah hampir setahun ditahan, saya dan istri dituduh mengunduh dan menyebar informasi Falun Gong dari internet, memasang spanduk, dan lainnya. Hasil sidang: istri saya divonis 12 tahun penjara, dan saya 3 tahun. Istri saya menjalani 10 tahun hukuman di Penjara Wanita Beijing.
Selama saya di penjara, penyiksaan mental yang saya alami bahkan jauh lebih parah daripada kekerasan fisik.
Pertama, saya mendekam enam bulan di sel isolasi berukuran tujuh meter persegi, benar-benar terputus dari interaksi manusia. Polisi terang-terangan berkata, mereka akan membuat saya gila jika saya terus berlatih Falun Gong.
Kedua, saya rutin dipaksa membaca ulang materi propaganda kebencian buatan media Komunis. Menjelang bebas, rambut saya sudah memutih dan saya di ambang kehancuran mental.
Di titik ini, saya menyerah. Saya dibebaskan akhir Agustus 2003, tapi polisi tetap mengawasi saya dengan ketat. Setelah itu, saya diizinkan kembali ke kampus untuk melanjutkan penelitian.
Saya menderita karena kenangan penyiksaan itu, tapi yang lebih menyakitkan adalah perasaan saat mereka berhasil mematahkan semangat saya. Rasa bersalah ini masih menghantui saya sampai sekarang.
Pemeriksaan Medis Aneh, Ternyata untuk ‘Donor Organ’
Ketika saya menjadi tahanan nurani, saya dipaksa menjalani serangkaian pemeriksaan medis yang ekstensif. Saya baru sadar sekarang, tes-tes itu memberikan informasi lengkap kepada pejabat komunis tentang kondisi fisik saya agar dapat digunakan sebagai donor organ tanpa persetujuan.
Dua bulan setelah dipenjara pada tahun 2002, saya dan praktisi Falun Gong lain berbaris di halaman. Kami digiring polisi ke rumah sakit. Saya menjalani tes darah, rontgen, mata, urine, dan banyak lagi. Kami diberitahu itu pemeriksaan kesehatan rutin tahanan. Tapi, narapidana yang ditugaskan untuk mengawasi saya malah mengatakan mereka tak pernah diperiksa selengkap itu. Mereka tertawa saat saya cerita pejabat Komunis ‘peduli’ dengan kesehatan kami.
Jelas, pemeriksaan medis itu hanya untuk praktisi Falun Gong. Rezim Tiongkok memperlakukan kami seperti bukan manusia dan dijadikan objek cari untung. Karena pemeriksaan fisik ini, saya bisa dibunuh kapan saja jika data fisik saya cocok dengan pasien yang bersedia membayar untuk mendapatkan organ.
Menuju Dunia Bebas
Demi menghindari penganiayaan dan penahanan lagi, saya mencari cara pergi ke luar negeri. Pada 2005, saya diterima di University of Calgary, Kanada, lengkap dengan beasiswa.

Saat melihat praktisi Falun Gong di sana melakukan latihan bersama di Prince’s Island Park, saya tidak mampu menahan air mata. Sudah bertahun-tahun saya tak merasakan kebebasan seperti itu. Saya pun mulai berlatih lagi di tempat umum.
Di Kanada, saya berjuang keras membebaskan istri saya dari penjara. Saya bicara dengan pemerintah Kanada dan media, mengungkap pelanggaran HAM yang dilakukan Tiongkok.
Sayangnya, istri saya baru bebas pada akhir 2010, setelah 10 tahun dipenjara. Lebih parah lagi, Partai Komunis Tiongkok menolak memberi dia paspor selama tiga tahun karena takut dia akan membongkar apa yang terjadi padanya.
Tahun 2014, dia menyerah dan tak lagi berharap kami bisa hidup bersama. Dia akhirnya mengajukan permohonan cerai. Kami menikah selama 15 tahun, tapi waktu kebersamaan kami tak sampai setahun.
Hingga hari ini, kejahatan seperti ini masih terus berlangsung di dalam penjara dan kamp konsentrasi di Tiongkok. Sementara kita bicara, praktisi Falun Gong dijadikan donor organ hidup-hidup tanpa persetujuan, sementara militer dan rezim Tiongkok meraup keuntungan milyaran dollar dari praktik mengerikan ini.
Saya memohon kepada semua pihak yang menjunjung kebaikan dan keadilan, semua pemerintah dan organisasi, untuk tidak tinggal diam terhadap kejahatan kemanusiaan ini.
Awalnya diterbitkan di Friends of Falun Gong










