Ding Xiaoxia
Ding Xiaoxia membagikan kisahnya dalam sebuah rapat umum yang menyerukan penghentian penganiayaan di Los Angeles (Juli 2021)
Ding Xiaoxia, seorang pendidik berbakat dan disegani, dipenjara selama sembilan tahun karena menolak melepaskan keyakinannya pada Falun Dafa. Dia adalah korban selamat dari penyiksaan mental dan fisik yang brutal.”
Dalam sebuah unjuk rasa di Los Angeles yang menyerukan penghentian penganiayaan, Ding membagikan kisahnya.
Sembilan Tahun Penyiksaan
Mengikuti prinsip “Sejati, Baik, dan Sabar” (prinsip-prinsip Falun Dafa) dalam kehidupan sehari-harinya, Ding sangat dicintai oleh semua muridnya. Ia juga seorang pendidik yang berbakat dan penerima penghargaan “Guru Berprestasi” di Provinsi Liaoning.
“Namun, karena menolak melepaskan keyakinannya pada Falun Dafa setelah penganiayaan dimulai pada Juli 1999, ia dipenjara berulang kali dengan total masa hukuman 9 tahun.”
“Polisi berulang kali menangkap saya. Saya dimasukkan ke pusat pencucian otak sebanyak dua kali, kamp kerja paksa selama hampir dua tahun, dan penjara selama tujuh tahun. Saya menderita penyiksaan mental dan fisik yang tak terbayangkan,” ujar Ding.
Para penjaga menyetrumnya dengan tongkat listrik bertegangan tinggi. “Dua penjaga menyetrum saya di area sensitif seperti leher dan ketiak. Kulit di leher saya sampai terbakar. Masih terasa sakit bahkan hanya dengan mengingatnya sekarang,” ucapnya.
“Selama sebulan penuh pada tahun 2005, saya disiksa secara intensif. Saya dipaksa menjalani siksaan peregangan tiga kali sehari, dengan durasi 90 menit setiap kalinya. Bahkan, satu kali siksaan itu berlangsung selama empat jam. Rasanya seperti anggota tubuh saya ditarik kuda ke arah yang berlawanan. Sebelas hari kemudian, daging di bagian tubuh saya yang diikat tali, robek, bernanah, dan berdarah.
Dia masih menderita akibat dampak dari siksaan itu.
Mengungkap Propaganda Palsu
Ding juga mengungkap bagaimana Partai Komunis Tiongkok (PKT) merekayasa narasi untuk mencemarkan nama baik Falun Dafa.
Salah satu contohnya adalah ketika pihak berwenang setempat menyuap keluarga dari seorang terpidana mati yang telah dieksekusi untuk mengatur posisi jenazahnya agar terlihat seolah-olah bunuh diri dengan gantung diri. Botol-botol anggur dan rokok diletakkan di samping jenazah tersebut. Media berita kemudian mengklaim bahwa narapidana yang meninggal tersebut adalah praktisi Falun Dafa.”.
“Saya melihat kejadian itu dengan mata kepala saya sendiri. Orang-orang yang saya kenal mengatakan bahwa mereka belum pernah melihat orang itu berlatih Falun Dafa,” katanya.
Ding secara pribadi mengenal 25 praktisi yang meninggal di Tiongkok karena mereka mengungkap propaganda keji yang menentang Falun Dafa. Dia mengatakan dia beruntung bisa datang ke masyarakat yang bebas untuk mengungkap kejahatan dari rezim totaliter itu.
Untuk mencegah tragedi lebih lanjut, Ding menyerukan kepada komunitas internasional untuk memperhatikan penganiayaan dan menuntut pertanggungjawaban para pemimpin Partai Komunis Tiongkok agar “mengembalikan keadilan ke dunia.”
Dikutip dari Minghui.org:
Los Angeles: Rally and Parade Draw Attention to 22 Years of Persecution | Falun Dafa – Minghui.org










