Xu Xinyang
Xu Xinyang di forum "Memburuknya Hak Asasi Manusia dan Gerakan Tuidang di Tiongkok" di Washington D.C. pada tahun 2018. Foto oleh Samira Bouaou/The Epoch Times
“Saya pertama kali berjumpa dengan ayah pada usia tujuh tahun, sebab beliau telah menjalani hukuman penjara delapan tahun sebelum saya lahir, hanya karena membuat informasi penganiayaan tentang Falun Gong,” ujar Xu Xinyang dalam forum itu pada 2018.
“Ayah sempat ingin memeluk saya, namun saya merasa takut lalu bersembunyi di balik ibu. Saya menolak pelukannya karena tidak pernah mengenal beliau sebelumnya. Hal itu menjadi penyesalan sepanjang hidup saya,” tuturnya.
Orang tua Ditahan, Ayah Berada di Penjara Selama Delapan Tahun.

Xu Xinyang merupakan putri dari Chi Lihua dan mendiang Xu Dawei. Xu Dawei bekerja sebagai koki di Shenyang, Provinsi Liaoning, tempat keluarga bermukim. Ia dikenal sebagai sosok ramah dan jujur, serta dihormati oleh masyarakat sekitar.
Kedua orang tua Xu Xinyang telah berlatih Falun Gong sebelum penindasan besar berlangsung pada 1999. Usai mencetak bahan informasi Falun Gong pasca penindasan dimulai, keduanya ditangkap pada Februari 2001.
Saat itu, ibu Xu tengah mengandung, namun tetap menerima tindak kekerasan dari polisi. Ayahnya pun dijatuhi hukuman penjara selama delapan tahun di empat penjara berbeda, serta mengalami berbagai tindak penyiksaan berat.
Xu Dawei menjalani hukuman di Penjara Dabei, Shenyang; Penjara Pertama, Kabupaten Lingyuan; Penjara Kedua, di Kota Fushun; serta Penjara Dongling, di Kota Shenyang.
Bertahan pada keyakinannya, Xu Dawei mengalami cuci otak paksa, diborgol dan dirantai dalam waktu lama, mendapat pukulan keras, digantung tangan, dipaksa mengonsumsi makanan lewat selang (cekok-paksa), dicambuk dengan selang karet, ditusuk jarum, mengalami kelaparan, serta disiksa dengan setrum listrik.
Ia sering ditempatkan di “tim pengawasan ketat” yang menerapkan metode penyiksaan lebih kejam di penjara.
Salah satu metode penyiksaan yang diterima adalah “peregangan ekstrem”: tangan dan kaki korban ditarik ke empat arah selama 24 jam penuh. Rata-rata tahanan tak sanggup lebih dari tiga hari, tetapi Xu Dawei sempat merasakan hingga tujuh hari, bahkan berulang kali setelah itu.
Walaupun menghadapi penderitaan berat serta menderita radang selaput paru, Xu Dawei terlihat sangat kurus namun masih menunjukkan kejernihan pikiran saat keluarga diberi izin menjenguk pada 14 Februari 2008.
Seratus Hari Tragedi Mendalam.
Keluarga dikejutkan kondisi Xu Dawei saat dijemput dari penjara sekitar setahun berikutnya, 3 Februari 2009. Rambut Xu Dawei memutih, tubuhnya sangat kurus, tatapannya kosong, dan ia tak mengenali keluarga.

Ketika keluarga bertanya, “Apa yang terjadi? Mengapa Xu Dawei tampak begitu kurus?”, petugas penjara bungkam tak memberi penjelasan.
Setibanya di rumah, keluarga mendapati Xu Dawei tak mampu makan, terus batuk, terlalu lemah bahkan untuk meludah. Tubuhnya penuh bekas luka setrum. Tangan dan kakinya terlihat bengkak. Luka juga ditemukan di lutut dan pergelangan kaki kanan. Kulit bokong menghitam serta nekrosis. Ia pun mengalami gangguan kejiwaan.
Saat masih dapat berpikir jernih, Xu Dawei mengungkapkan, “Petugas penjara menyuntikkan obat yang merusak saraf, menempatkan saya dalam sel isolasi, serta menendang dan memukuli saya”.
Keluarganya lalu membawa Xu Dawei ke rumah sakit, namun dokter menyatakan kondisinya sudah tidak tertolong. Ia meninggal dunia 13 hari setelahnya, pada usia 36 tahun.
Dalam rentang seratus hari, paman, kakek, dan nenek Xu Xinyang turut berpulang, baik karena dampak penindasan maupun tidak sanggup menerima kepergian Xu Dawei. Orang tua Xu Dawei menanti dengan harap selama delapan tahun untuk kepulangan putra mereka.
Pada usia delapan tahun, Xu Xinyang kehilangan empat anggota keluarga serta haknya untuk mengenyam pendidikan.
“Saya pernah dipaksa pindah ke tiga sekolah berbeda saat duduk di kelas tiga sekolah dasar,” ujarnya.
Di sekolah keempat, Xu Xinyang akhirnya meraih ketenangan dan kebahagiaan karena kepala sekolah beserta sebagian besar guru merupakan praktisi Falun Gong.
Namun, terjadi penangkapan massal tak lama setelahnya. Semua guru ditahan polisi. Xu Xinyang sempat melarikan diri bersama sejumlah teman, namun banyak siswa lain tak seberuntung itu dan ditangkap paksa oleh polisi.
Salah satu siswa laki-laki diinterogasi berjam-jam dan tidak diizinkan tidur selama empat malam berturut-turut. Polisi berusaha mengorek informasi tentang siapa saja yang berhubungan dengan para guru.
Akibat ketakutan yang amat sangat, bocah itu jatuh pingsan dan tutup usia tak lama setelah dibebaskan.
Pasca kejadian tersebut, Xu Xinyang juga menjadi incaran polisi. Ia kehilangan akses pendidikan dan harus hidup berpindah-pindah bersama sang ibu.
Keduanya akhirnya berhasil melarikan diri ke Thailand saat Xu berusia 12 tahun. Setelah memperoleh status pengungsi dari PBB, mereka kemudian bermukim di Amerika Serikat tahun lalu.
Kenangan
Xu Xinyang beserta ibunya menghadiri berbagai forum hak asasi manusia dan acara malam renungan memperingati praktisi Falun Gong. Mereka membagikan kisah mereka di sebuah forum di Kongres AS pada 2018, menyoroti beratnya penindasan di Tiongkok.


Dalam acara malam renungan lilin memperingati korban penindasan pada 2021, Xu mengatakan, “Ayah saya menjadi korban pembunuhan karena keyakinannya. Saya hadir hari ini untuk mengenang beliau”.
“Jika saya melihat masa lalu, saya bangga ayah tetap memegang teguh keyakinannya walaupun dipenjara dan menerima penyiksaan begitu lama… Hari ini, ketika menyaksikan banyak praktisi membawa foto korban, setiap wajah pasti memiliki kisah tersendiri—mereka semua mengalami kekejaman luar biasa. Mungkin penderitaan mereka bahkan melampaui saya, hanya saja hari ini saya punya kesempatan untuk menyuarakan dan berbuat sesuatu,” tutupnya.
Bacaan Lebih Lanjut:
Stories of Persecution Told on Capitol Hill Before Human Rights Day (theepochtimes.com)
Mr. Xu Dawei Dies after Suffering Eight Years of Abuse in Four Prisons | Falun Dafa – Minghui.org
Mr. Xu Dawei Cruelly Tortured in Prison Before He Died at Age 34 (Photo) | Falun Dafa – Minghui.org










