Pengambilan Organ: Penindasan Terus Berlanjut

Oleh  David T. Jones for The Epoch Times | 04-06-2017

Sebuah cuplikan dari "Davids and Goliath," sebuah film dokumenter tentang pengambilan organ dari tahanan hati nurani yang masih hidup. Film ini memenangkan kategori dokumenter terbaik di Festival Film Hamilton di Kanada pada 9 Nov 2014. (Flying Cloud Productions)

Sebuah cuplikan dari "Davids and Goliath," sebuah film dokumenter tentang pengambilan organ dari tahanan hati nurani yang masih hidup. Film ini memenangkan kategori dokumenter terbaik di Festival Film Hamilton di Kanada pada 9 Nov 2014. (Flying Cloud Productions)

Saya dan istri pertama kali mengetahui tentang pengambilan organ (pengambilan organ vital dari korban hidup yang tidak bersedia dan dibunuh dalam prosesnya) pada musim panas 2006 saat mengunjungi teman kami, David Kilgour, di Ottawa. Kilgour, bersama rekan-rekannya, sedang mengumpulkan bukti mengenai penyimpangan ini—yang secara khusus ditujukan terhadap praktisi Falun Gong oleh pejabat Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Kami merasa ngeri dan awalnya sempat ragu. Sebab, laporan tentang penganiayaan ini awalnya terdengar lebih seperti cerita horor fiksi ilmiah yang penuh propaganda, daripada sebuah prosedur medis biasa. Sulit dipercaya bahwa ahli bedah yang terampil bisa membuang etika medis mereka yang seharusnya ‘paling utama, jangan mencelakakan’.

Namun, saat memberikan bantuan penyuntingan, kami menjadi yakin bahwa hal mengerikan tersebut benar-benar terjadi. Hal ini diatur dan diarahkan oleh para pemimpin Tiongkok yang tidak mungkin mengaku tidak tahu. Logikanya sangat kuat: jumlah transplantasi yang ada terlalu banyak jika hanya berasal dari eksekusi tahanan atau keluarga yang secara sukarela menyerahkan kerabat mereka yang mengalami mati otak.

Logikanya tidak bisa dibantah: jumlah transplantasi yang ada terlalu banyak jika hanya mengandalkan eksekusi tahanan atau keluarga yang secara sukarela menyerahkan kerabat mereka yang mati otak

Bukti untuk penganiayaan yang mengerikan ini bersifat (dan tetap) tidak langsung; bukti fisik secara langsung sangat sulit didapat. Sebab, hampir tidak mungkin ada korban Falun Gong yang bisa hidup kembali untuk menunjukkan bagian tubuh yang kosong karena organ mereka diambil saat masih hidup

Kilgour dan rekan-rekannya melakukan tindakan keadilan eksistensial yang sangat berharga dalam membawa perhatian global terhadap pengambilan organ dan keterlibatan pejabat Partai Komunis Tiongkok (PKT). Penganiayaan ini telah dan terus menjadi masalah yang diidentifikasi untuk diselidiki dalam laporan tahunan hak asasi manusia Departemen Luar Negeri AS.
Bahkan pejabat Beijing pun tidak dapat dengan santai menyangkal bahwa hal itu sedang terjadi. Praktisi Falun Gong yang dibunuh adalah sumber utama bagi organ-organ ini.

Tentu saja, mereka membantahnya.

Namun, besarnya perhatian dunia dan rasa malu yang ditimbulkannya memaksa petinggi komunis untuk mengambil tindakan.

Mereka melarang transplantasi organ bagi warga asing. Selain itu, mereka dikabarkan telah menghentikan penggunaan organ dari tahanan yang dieksekusi. Muncul berbagai tumpukan dokumen yang menjanjikan adanya reformasi.

Selain itu, setelah konferensi transplantasi organ internasional di Hong Kong pada bulan Juli, pejabat Beijing mengklaim bahwa sistem transplantasi organ Tiongkok saat ini sudah diakui secara internasional.

Para pengamat independen dengan tegas menolak klaim tersebut. Mereka berargumen antara lain bahwa jumlah transplantasi tahunan di Tiongkok jauh lebih tinggi daripada yang diumumkan pejabat Tiongkok (60.000–100.000 dibandingkan 10.000). Pernyataan hambar dari pejabat Tiongkok juga tidak bisa ditelan mentah-mentah mengingat catatan sejarah Beijing tentang kebohongan yang sistematis.

Yang lebih penting lagi, tidak ada transparansi dalam sistem transplantasi Tiongkok yang memungkinkan adanya penyelidikan atau pembuktian atas klaim Beijing tersebut.

Namun, masalah utamanya tetap jelas: bagaimana kita bisa menghentikan penganiayaan ini. Beribu-ribu orang Falun Gong, Uyghur, Tibet, dan Kristen Rumahan telah dibunuh demi organ mereka. Ini adalah sebuah pelanggaran yang dimensinya memang tidak sebesar Holocaust, namun jelas tidak dapat diterima dalam hubungan luar negeri abad ke-21. Ini harus dihentikan.

Pendekatan yang berpotensi paling efektif—terlepas dari kegagalan sebelumnya—tetaplah melalui diskusi pribadi yang intens dengan para pejabat tinggi Tiongkok. Prosedur diplomatik (demarche) yang terkoordinasi dan berulang oleh negara-negara yang peduli telah diterapkan pada topik-topik lain. Tiongkok adalah masyarakat yang diatur dari atas ke bawah; perubahan datang melalui perintah pemerintah pusat, bukan persuasi pribadi. Strategi “mempermalukan di depan publik” justru lebih cenderung memicu pembelaan yang keras terhadap hal yang tidak dapat dibela—serta penyangkalan mutlak.

Akan lebih efektif jika kita menghubungkan para pelaku penganiayaan secara individu dengan kasus-kasus pembunuhan transplantasi tertentu (serta pembayaran korup untuk memuluskan proses tersebut). Presiden Xi Jinping menjadikan pemberantasan korupsi sebagai obsesi pribadinya. Pembunuhan demi uang organ adalah topik yang sangat sesuai untuk Xi. Langkah ini akan populer sekaligus memiliki alasan yang kuat, terutama karena saat ini orang-orang kaya di Tiongkok adalah pihak yang diuntungkan.

Orang bisa membayangkan sebuah pasar organ dunia yang akan membantu mengatasi kekurangan organ. Dalam bursa seperti itu, calon donor (atau keluarga dari seseorang yang hampir meninggal) akan didaftarkan beserta rincian organ dan perkiraan harga. Para sukarelawan akan diperiksa dengan cermat untuk memastikan hubungan pembeli/penjual yang jujur.
Pada akhirnya, jawabannya mungkin terletak pada kloning organ yang ditumbuhkan secara biologis, namun hal itu kemungkinan baru tersedia dalam 50 tahun ke depan, sementara transplantasi adalah jawaban sementara saat ini.

David T. Jones adalah seorang purnawirawan pejabat karier senior dinas luar negeri Departemen Luar Negeri AS yang telah menerbitkan beberapa ratus buku, artikel, kolom, dan ulasan mengenai masalah bilateral AS–Kanada dan kebijakan luar negeri umum. Selama karier yang membentang lebih dari 30 tahun, ia berkonsentrasi pada masalah politik-militer, menjabat sebagai penasihat untuk dua kepala staf Angkatan Darat. Di antara buku-bukunya adalah “Alternative North Americas: What Canada and the United States Can Learn From Each Other.”

Baca artikel asli yang diterbitkan oleh The Epoch Times di sinihttp://www.theepochtimes.com/n3/2147077-organ-harvesting-the-abuse-continues/


Mulai tahun 1999, jumlah pusat transplantasi di Tiongkok meningkat sebesar 300% hanya dalam waktu 8 tahun, meskipun Tiongkok tidak memiliki sistem donor organ nasional yang efektif. 1999 adalah tahun ketika rezim Tiongkok mulai melakukan penganiayaan terhadap para pengikut latihan spiritual Falun Gong, dan mengirim ratusan ribu orang ke kamp kerja paksa. Banyak dari mereka yang tidak pernah terlihat lagi.

Share