Penyiksaan Psikiatris terhadap Praktisi Falun Gong Marak Terjadi, Menurut Pengajuan PBBP
Delegasi Tiongkok untuk Dewan Hak Asasi Manusia berusaha bungkam kesaksian tentang Falun Gong
New York—Sebuah laporan yang diajukan minggu lalu kepada pakar independen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk masalah penyiksaan dan pernyataan-pernyataan berikutnya yang disampaikan dalam sesi ke-13 Dewan Hak Asasi Manusia menyoroti tingkat keparahan dan skala penyiksaan psikiatris yang digunakan terhadap para praktisi Falun Gong di Tiongkok. Penyiksaan semacam itu secara rutin mencakup pemberian zat-zat kimia yang menyebabkan kerusakan pada sistem saraf pusat.
Kelompok Kerja Hak Asasi Manusia Falun Gong (FGHRWG) yang berbasis di San Diego mengajukan sebuah kompilasi terperinci hari Selasa lalu mengenai 1.089 insiden praktisi Falun Gong yang menjadi sasaran berbagai bentuk pelecehan psikiatris, yang menyebabkan halusinasi, rasa sakit yang parah, kelumpuhan, dan terkadang kematian.
Selain rumah sakit yang berpartisipasi dalam penggunaan obat-obatan psikiatris terhadap para pengikut Falun Gong, para praktisi juga secara teratur disuntik dengan obat-obatan di kamp-kamp “re-edukasi melalui kerja paksa” dan kamp penjara. Laporan tersebut diajukan ke mandat Pelapor Khusus PBB tentang Penyiksaan, Pelapor Khusus tentang Kebebasan Beragama, dan lainnya.
“Gagal mematahkan keteguhan hati para praktisi Falun Gong dengan penyiksaan fisik, otoritas Tiongkok meningkatkan penggunaan bahan kimia perusak saraf untuk secara langsung menghancurkan kemampuan mereka dalam berpikir dan [bertindak sesuai dengan] hati nurani,” kata Shizhong Chen, perwakilan dari FGHRWG dan Asosiasi PBB San Diego, dalam sebuah konferensi pers minggu lalu untuk mempublikasikan pengajuan kasus-kasus tersebut ke Perserikatan Bangsa-Bangsa.
“Penyiksaan psikiatris yang mengerikan dan merusak pikiran ini telah menyebabkan ratusan orang menjadi gila. Inilah kejahatan yang kami kutuk di sini, dan inilah kejahatan yang membuat kami meminta dunia di sini untuk membantu menghentikannya.”
Amnesty International dan Human Rights Watch telah mendokumentasikan pelecehan psikiatris terhadap para praktisi Falun Gong di Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir. Ini merupakan perpanjangan dari praktik yang telah digunakan selama beberapa dekade terhadap mereka yang memiliki pandangan yang tidak sejalan dengan Partai Komunis Tiongkok (PKT).
Banyak pekerjaan terobosan dalam membongkar pelecehan semacam itu telah dilakukan oleh Robin Munro dengan memanfaatkan dokumentasi kasus dari rumah sakit itu sendiri. Dalam bukunya yang terbit tahun 2006, China’s Psychiatric Inquisition: Dissent, Psychiatry and the Law in Post-1949 China, Munro mendedikasikan satu bab untuk masalah penganiayaan psikiatris terhadap Falun Gong di Tiongkok (untuk informasi lebih lanjut, lihat di sini).
Dalam pernyataan publiknya, FGHRWG menekankan perlunya komunitas medis internasional untuk merespons dengan tepat penyalahgunaan psikiatri dalam skala besar tersebut.
“Kami telah mengidentifikasi para dokter yang menggunakan keahlian yang mereka pelajari untuk melakukan hal-hal yang sama sekali bertentangan dengan etika profesi mereka,” kata Chen. “Kami meminta dunia untuk pertama-tama mencekal para dokter ini karena secara sadar berpartisipasi dalam kejahatan tersebut.”
“Kedua, dalam laporan kami, kami telah mencantumkan lebih dari 200 rumah sakit yang telah berpartisipasi dalam penyiksaan psikiatris ini. Kami akan meminta jurnal-jurnal bereputasi untuk menolak publikasi dari rumah sakit-rumah sakit tersebut. Kami harus memastikan bahwa para individu, termasuk dokter yang berpartisipasi dalam penyiksaan semacam itu dan direktur rumah sakit, dimintai pertanggungjawaban secara pribadi atas apa yang telah mereka lakukan.”
Delegasi Tiongkok Berusaha Bungkam Kesaksian
Dalam sebuah insiden tidak biasa yang menarik perhatian besar selama sesi Dewan Hak Asasi Manusia hari Senin lalu, perwakilan rezim Tiongkok melakukan upaya keras untuk menghalangi kesempatan Chen bersaksi di hadapan badan tersebut.
Delegasi Tiongkok mengajukan beberapa keberatan untuk memblokir kesaksian itu, menyebabkan penundaan selama lebih dari satu jam. Akhirnya, seorang anggota delegasi Amerika Serikat, yang menyebut tindakan licik tersebut tidak masuk akal, tidak berdasar, dan membuang-buang waktu semua orang, mendesak agar persidangan dilanjutkan. (tonton interupsi online bagian 1 / bagian 2) Chen akhirnya dapat membacakan pernyataannya, yang kemudian menimbulkan ketertarikan besar di antara para hadirin, baik dari pihak pemerintah maupun non-pemerintah, dalam sesi tersebut (kesaksian lengkap).
Korban Pelecehan Sampaikan Pengalaman kepada Pakar PBB
Turut hadir dalam sesi Dewan Hak Asasi Manusia tersebut adalah lima praktisi Falun Gong yang secara pribadi pernah dipenjarakan dan menjadi sasaran penyiksaan, termasuk pelecehan psikiatris. Para korban menyampaikan pengalaman mereka dalam pertemuan dengan para pakar PBB dan dalam sebuah konferensi pers untuk mempublikasikan pengajuan laporan mengenai penyiksaan psikiatris tersebut.
“Pada bulan April 2001, para pejabat dari Biro Keamanan Negara Jilin, Kantor 610, dan Tentara [unit] 465 menangkap saya secara rahasia dan membawa saya ke [tempat] Tentara [unit] 465, di mana mereka terus-menerus menyiksa saya dengan obat-obatan,” kata Fang Siyi, yang saat ini menjadi pengungsi di Finlandia, dalam konferensi pers hari Selasa.
“Lima dokter militer menekan saya ke tempat tidur dengan lengan dan kaki terbentang. Kemudian mereka menyuntik lengan dan kaki saya dengan obat-obatan. Setelah penyuntikan, saya merasa kembung, dingin, dan rasa sakit yang parah [mengalir] ke seluruh tubuh saya. Seketika jempol kaki kiri saya mulai berubah menjadi ungu tua. Karena saya menggerakkan kaki untuk menolak suntikan, mereka menusukkan jarum ke dalam daging saya dan memutarnya. Rasa sakitnya begitu tak tertahankan hingga saya membenturkan kepala ke dinding.”
“Setelah keluarga saya mengetahui bahwa saya ditangkap, para petugas dari Kantor 610 dan para dokter menjadi cemas. Mereka takut keluarga saya akan melihat betapa parahnya saya telah dianiaya…, jadi mereka mulai menyuntik saya dengan obat-obatan lain,” kata Fang. “Warna ungu di kaki saya mulai memudar, tetapi halusinasi terus berlanjut dan saya mengalami vertigo serta penglihatan kabur. Saya tetap begitu lemas hingga tidak bisa berjalan.”






