Sampel Darah Dikumpulkan Secara Paksa dari 129 Praktisi Falun Gong pada Paruh Pertama Tahun 2021

Berdasarkan laporan asli dari Minghui.org

Menurut Minghui.org, di antara 9.470 praktisi Falun Gong yang ditangkap atau dilecehkan karena keyakinan mereka pada paruh pertama tahun 2021, setidaknya 129 di antaranya diambil sampel darah dan DNA-nya. Shanghai melaporkan kasus terbanyak (55), diikuti oleh 20 kasus di Provinsi Hubei, 14 kasus di Provinsi Shandong, 10 kasus di Provinsi Hunan, dan 6 kasus di Provinsi Sichuan. Tiga belas provinsi dan kota lainnya masing-masing memiliki antara 1 dan 3 kasus.

Peningkatan pengumpulan data biometrik dan sampel darah dari para praktisi baru-baru ini merupakan bagian dari kampanye “Zero Out“, yang bertujuan untuk memaksa setiap praktisi Falun Gong yang masuk dalam daftar hitam pemerintah untuk meninggalkan keyakinan mereka. Mereka yang menolak untuk mematuhi telah dikumpulkan informasi pribadinya tanpa persetujuan mereka, sehingga dapat meningkatkan pengawasan terhadap para praktisi melalui jaringan pemantauan China yang luas.

Beberapa praktisi juga menduga bahwa, mengingat praktik pengambilan organ secara paksa masih berlanjut di Tiongkok, pihak berwenang menggunakan informasi biometrik para praktisi untuk basis data pencocokan DNA dan organ secara besar-besaran.

Selain itu, informasi pribadi lainnya juga telah dikumpulkan oleh polisi, termasuk tulisan tangan praktisi, sidik jari, tinggi badan, foto, dan nomor telepon.

Gambaran Singkat Kasus-Kasus Penganiayaan

Shanghai: Sekitar Sepuluh Praktisi Falun Gong Diambil Sampel Darahnya Secara Paksa di Satu Kantor Polisi

Polisi dari Polsek Ganquan di Distrik Putuo secara paksa mengambil sampel darah dari sekitar sepuluh praktisi antara bulan April dan Mei 2021. Berikut beberapa kasusnya.

Wu Yuqin adalah korban pertama yang menjadi sasaran, pada tanggal 26 April 2021. Polisi secara paksa menyeretnya keluar dari rumahnya, bahkan tidak mengizinkannya memakai sepatu. Setelah membawanya ke kantor polisi, empat petugas pria menahannya dan melukainya hingga berdarah. Kekerasan tersebut menyebabkan memar besar di tangan dan kakinya. Sekitar pukul 8 malam, Wu dibebaskan.

Keesokan harinya, empat petugas lainnya mengetuk pintu rumah Wu Xiaojie (Perempuan). Karena lumpuh setahun yang lalu, ia tidak dapat membuka pintu untuk polisi. Akibatnya, polisi memerintahkan seorang tukang kunci untuk membuka pintunya. Polisi secara paksa mengambil sampel darah dan mengancam akan melakukan hal yang sama kepada putranya.

Pada tanggal 29 April, polisi mendobrak masuk ke rumah seorang praktisi wanita berusia 90-an. Meskipun ia menolak dengan keras, polisi menusuk jarinya dan mengambil sampel darah.

Kota Changsha, Provinsi Hunan: Seorang Wanita Jatuh Koma Setelah Ditangkap untuk Kedua Kalinya dalam Dua Bulan, Sampel Darah Diambil Berkali-kali

He Xianggu

He Xianggu, 60 tahun, ditangkap pada 15 Maret 2021, setelah diperhatikan polisi karena mendistribusikan materi informasi tentang Falun Gong di sebuah pusat perbelanjaan. Petugas dari Kantor Polisi Sifangping menginterogasinya hingga tengah malam sebelum membawanya pulang untuk menggeledah rumahnya. Mereka membobol lemari logam yang digunakannya untuk menyimpan buku-buku Falun Gong dan menyita semua buku tersebut.

Keesokan harinya, polisi secara paksa mengambil sampel darah, sidik jari, dan jejak kaki He. Ia dijatuhi hukuman penahanan administratif selama sepuluh hari dan dibawa ke Penjara Kota Changsha sekitar pukul 20.00.

He memulai mogok makan beberapa hari kemudian untuk memprotes penahanan sewenang-wenang tersebut. Lima hari kemudian, ia mulai kesulitan bernapas. Wajahnya pucat dan ia sangat lemah. Saat meremas rahang bawahnya sambil memaksanya minum air, seorang petugas laki-laki mematahkan salah satu giginya dan melukai bibirnya, menyebabkan mulutnya penuh darah.

Di ambang kematian, He dibebaskan dua minggu kemudian pada tanggal 28 Maret. Seorang teman terkejut melihat betapa cepatnya He menua selama masa penahanannya yang singkat—wajahnya yang dulunya merah muda dan berseri-seri kini dipenuhi kerutan dan rambutnya telah beruban.

Namun, begitu He pulih, ia ditangkap kembali oleh petugas dari Kantor Polisi Jiucaiyuan pada tanggal 15 Mei. Ia ditahan di Pusat Penahanan Kota Changsha No. 1, tempat ia jatuh koma sebulan kemudian.

Pusat penahanan tidak segera membawa He ke rumah sakit, tetapi menunggu beberapa hari untuk melakukannya dan memberi tahu keluarganya. Ketika keluarganya pergi ke unit perawatan intensif untuk menemuinya pada tanggal 12 Juli, mereka sangat terpukul melihatnya dalam keadaan koma yang dalam. Masih belum jelas apa yang terjadi pada He selama dalam tahanan yang menyebabkan dia kehilangan kesadaran.

Kota Wuhan, Provinsi Hubei: Enam Praktisi Falun Gong, Termasuk Seorang Wanita Berusia 83 Tahun, Diambil Darahnya

Yin Guixiang dan Huang Yongmei, 83 tahun, ditangkap oleh dua petugas polisi berpakaian preman dari Kantor Polisi Pameran Taman Zhongshan pada tanggal 17 April 2021. Kemudian pada hari yang sama, empat praktisi Falun Gong lainnya juga ditangkap dan dibawa ke kantor polisi yang sama.

Enam praktisi tersebut diinterogasi dan tidak diberi makanan atau air. Polisi mengambil foto mereka, mencatat tinggi dan berat badan mereka, mengambil sidik jari mereka, dan mengambil sampel darah.

Yin, Huang, dan dua praktisi lainnya dibawa ke Pusat Pencucian Otak Distrik Qiaokou Ertouwan keesokan harinya. Yin dibebaskan pada 28 April 2021, tetapi dipaksa meninggalkan rumahnya untuk menghindari penganiayaan lebih lanjut.

Kota Suining, Provinsi Sichuan: Tiga dari Lima Praktisi yang Ditangkap Diambil Darahnya

Lima perempuan praktisi Falun Gong, yaitu Pu Zexiu, Chen Weixing, Yang Shengzhen, Li Yulian, dan Chen Xiurong, diikuti dan ditangkap oleh petugas polisi dari Kantor Polisi Nanjinqiao pada tanggal 31 Maret 2021. Rumah mereka digeledah.

Pu dan Chen Weixing dibebaskan pukul 19.00. Yang dan Li dibebaskan sekitar pukul 21.00, setelah diambil sampel darahnya. Chen Xiurong juga diambil sampel darahnya dan sekarang ditahan di Pusat Penahanan Yongxing.

Kota Dongying, Provinsi Shandong: Sampel Darah Dua Praktisi Diambil

Polisi dari Departemen Kepolisian Binbei Kota Dongying, Provinsi Shandong, menangkap dan menggerebek rumah Tian Yuping, Li Xuerong, dan Li Aifang pada tanggal 24 April 2021. Ke tiganya perempan. Mereka menyita buku-buku Falun Gong dan materi terkait milik mereka.

Li Xuerong dan Li Aifang dibebaskan tak lama kemudian karena masalah kesehatan, tetapi Tian dibawa ke Departemen Kepolisian Binbei untuk diinterogasi, dan sidik jarinya, foto, sampel darah, DNA, dan informasi lainnya diambil.

Tiga petugas polisi dari Kantor Polisi Ducun Kota Jiaozhou, Provinsi Shandong, juga menerobos masuk ke rumah Lu Guoyao (L), 70 tahun, pada tanggal 26 Juni 2021. Lu sedang beristirahat dan sebelum ia sempat bereaksi, polisi telah menusuk salah satu jarinya dan mengambil sampel darah.

Tianjin: Seorang Wanita Dipaksa Diambil Darahnya Bersama Suaminya yang Bukan Penganut Agama, Kemudian Disiksa di Pusat Cuci Otak

Guo Yonghong ditangkap oleh staf komite perumahan dan polisi dari Kantor Polisi Banchang di pintu masuk gedung apartemennya pada dini hari tanggal 29 Mei 2021, bersama suaminya yang tidak mempraktikkan Falun Gong. Mereka dibawa ke kantor komite perumahan dan diperintahkan untuk menandatangani pernyataan yang menyatakan penolakan terhadap keyakinannya. Guo menolak untuk menandatangani. Empat petugas polisi bertubuh besar dengan kasar mencengkeram lengan dan tangannya, dan menempelkan sidik jarinya pada pernyataan tersebut.

Pasangan itu dibawa ke kantor polisi pada sore hari, di mana darah mereka diambil secara paksa.

Suami Guo dibebaskan sekitar pukul 1:00 pagi. Namun, Guo dibawa ke pusat pencucian otak sekitar pukul 2:00 pagi. Para petugas merampas tidurnya dengan menarik tangan dan lengannya. Kedua tangannya membengkak dan lengannya memar di mana-mana.

Kota Ningxiang, Provinsi Hunan: Banyak Praktisi Dilecehkan dan Dipaksa Memberikan Sidik Jari dan Sampel Darah Mereka

Banyak praktisi Falun Gong di Kota Ningxiang, Provinsi Hunan, baru-baru ini dilecehkan oleh anggota komite perumahan setempat dan polisi. Para petugas mendatangi rumah-rumah untuk melecehkan dan mengambil foto para praktisi. Beberapa praktisi dipaksa dibawa ke kantor polisi untuk diambil sidik jari, sampel darah, dan tanda tangan mereka.

Dua korban perempuan adalah Li Wei, 74 tahun, dan Zhang Yulan, 84 tahun, yang dipaksa dibawa ke Kantor Polisi Yutan, tempat data pribadi mereka dikumpulkan.

Artikel asli: https://en.minghui.org/html/articles/2021/8/9/194526.html  

Share