Siapa yang Berlatih Falun Gong?
Meskipun Falun Gong pertama kalinya diperkenalkan kepada publik di Tiongkok, saat ini orang-orang di lebih dari 100 negara telah melakukan latihan ini — mulai dari Boston hingga Berlin; Moskow hingga Mumbai; Yerusalem hingga Jacksonville.
Di seluruh dunia, latihan ini telah merambah ke berbagai kalangan tanpa memandang kelas sosial, suku, maupun tingkat pendidikan. Tempat-tempat latihan sukarela—tempat orang-orang berkumpul untuk melakukan gerakan lembut perlahan dan meditasi duduk Falun Gong—bisa ditemukan mulai dari area kampus universitas ternama di Amerika Serikat hingga ke pelosok desa pertanian di Afrika sub-Sahara. Setiap Minggu pagi, ada kelompok yang berkumpul untuk bermeditasi di bawah Menara Eiffel di Paris. Sementara itu, di belahan bumi lainnya, kelompok lain menutup hari mereka dengan melakukan gerakan lembut Falun Gong di taman Jepang yang asri dengan pemandangan Gunung Fuji di kejauhan.
Siapakah orang-orang ini? Apa yang memotivasi mereka untuk melakukan latihan ini, dan terlepas dari perbedaan negara, bahasa, etnis, serta pengalaman hidup, apa kesamaan yang mereka miliki?
Wajah-wajah Falun Gong
Tatiana Skoulkina 🇷🇺🇺🇦
Tatiana adalah seorang Manajer Produksi TV dengan gelar Magister Ekonomi. Lahir di Rusia, ia kini telah menikah dan tinggal bersama keluarganya di Ukraina.
“Sebelum mengenal Falun Dafa, saya tidak begitu tertarik dengan hal-hal yang berbau Asia, dan saya tidak memiliki kedekatan dengan budaya Asia. Namun, saat saya mulai mengenal Falun Dafa, saya segera menyadari bahwa latihan ini diperuntukkan bagi orang-orang dari kebangsaan apa pun, karena Sejati, Baik, dan Sabar adalah nilai kemanusiaan yang universal. Oleh karena itu, saya tidak merasa bahwa ini adalah sesuatu yang asing bagi saya.”
Yoshihiro Ishige 🇯🇵
Tn. Ishige tinggal di Jepang dan bekerja di sebuah perusahaan IT.
“Saya sedang mencari kelas qigong untuk meningkatkan kesehatan saya. Lalu, saya menemukan tempat latihan Falun Gong di sebuah pusat komunitas dekat rumah saya. Saya telah melakukan latihan ini selama hampir dua tahun. Perilaku saya sehari-hari dan latihan rutin berdasarkan pada filosofi Falun Dafa serta Sejati, Baik, Sabar (Zhen, Shan, Ren) telah menjadi bagian dari hidup saya yang menstabilkan serta memperkaya jiwa dan raga saya.”
Jamil Lawrence J.D. 🇺🇸
Jamil adalah seorang pengacara sekaligus musisi rekaman yang dikenal dengan nama panggung “Rise-Ascend”. Ia tinggal bersama keluarganya di Washington D.C.
“Saya pertama kali mengenal Falun Dafa pada musim gugur tahun 2000, yang juga merupakan tahun pertama saya di sekolah hukum. Saat itu saya berada di Washington, D.C., dan menemukan latihan ini di National Mall. Waktu itu, saya sedang mencari sesuatu yang bisa membantu mengatasi stres di tahun pertama kuliah hukum. Saya sangat bersyukur bisa mengenal Falun Dafa saat itu. Latihan ini telah menjadi bagian yang sangat penting dan memberikan semangat dalam hidup saya.”
Dana Churchill, NMD 🇺🇸
Seorang dokter, telah menikah selama 20 tahun, ayah dari satu anak, dan kakek dari dua cucu.
“Falun Gong mengubah seluruh hidup saya: tekanan darah tinggi saya kembali normal, dan kesehatan saya secara keseluruhan menjadi lebih baik dibandingkan saat saya masih berusia 20-an. Saya berhenti minum alkohol… Saya belajar untuk peduli kepada orang lain, dan hubungan keluarga saya semuanya membaik. Saya berganti karier dan masuk sekolah kedokteran pada usia 40 tahun hingga lulus. Dalam hidup, saya berhenti menyerah hanya karena takut gagal. Saya menemukan harga diri dan martabat yang baru dalam hidup saya. Saya menemukan tujuan hidup yang baru, dan mengetahui alasan mengapa saya ada di sini.”
Veronika Pasdar 🇦🇹
Guru sekolah menengah, tinggal di Austria.
“Falun Gong telah benar-benar mengubah arah hidup saya, tidak hanya hidup saya tetapi juga seluruh keluarga saya. Tumbuh besar di lingkungan sosialis di antara dua saudara laki-laki membuat saya menjadi wanita muda yang cukup kompetitif dan suka bertengkar. Setelah menikah dan memiliki dua anak, saya sempat merasa sangat sulit menerima peran saya tersebut. Namun, setelah bertahun-tahun mempelajari ajaran Falun Dafa, saya mampu mendalami prinsip Sejati, Baik, dan Sabar secara lebih mendalam. Saya menjadi lebih tenang dan toleran. Sekarang saya bisa menghadapi segala sesuatu dengan lebih ringan dan mudah, dan hati saya menjadi lebih lapang.”
Yukari Werrell 🇯🇵🇬🇧
Yukari, lahir di Jepang, adalah seorang pensiunan penerjemah yang tinggal di Inggris. Foto: Yukari bersama putrinya
“Tepat setelah penganiayaan [di Tiongkok] dimulai, kami menemukan sebuah stan di Festival Tubuh dan Pikiran setempat di Inggris. Suami saya yang berkebangsaan Inggris berkata, ‘Jika Partai Komunis Tiongkok (PKT) mengatakan itu buruk, pastinya hal itu sebenarnya sangat baik,’ lalu kami pun mengambil buku-buku dan rekaman kaset [ajaran] di sana. Putri saya yang saat itu berusia 10 tahun dan saya sendiri mulai menekuni latihan ini, dan secara bertahap mulai memahami makna dari latihan tersebut. [Misalnya,] saat saya merasa kesal, saya mengamati reaksi saya sendiri untuk mencari tahu penyebabnya, bukannya menyalahkan orang lain atau situasi di luar. Hal ini membantu saya untuk menenangkan diri dan lingkungan sekitar saya. Dengan pola pikir seperti ini, saya merasa bahagia hampir setiap saat. Ajaran Falun Dafa [juga] telah membantu saya melewati masa sulit saat kehilangan anggota keluarga dekat.”
Sandra Genin 🇫🇷
Sandra adalah seorang penata rias (make-up artist) dan ibu dari dua orang anak, yang kini tinggal di Prancis.
“Hal terpenting bagi saya adalah melalui ajaran Falun Dafa, saya belajar bahwa untuk memiliki jiwa dan raga yang sehat, Anda harus melatih keduanya secara bersamaan. [Saya belajar] bahwa jiwa dan raga tidak dapat dipisahkan untuk mendapatkan hasil yang nyata.”
Lior Bromberg 🇮🇱
Lior adalah seorang insinyur perangkat lunak. Ia tinggal bersama istri dan putrinya di Israel.
“Dulu saya mencari dan terus mencari makna hidup ke mana saja. Selalu ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa saya jawab. Ketika saya pertama kali membaca ajaran Falun Dafa, semua pertanyaan saya terjawab. Setelah menjalani latihan Falun Gong, saya merasa bugar, kuat, dan sehat—sangat berbeda dari apa yang saya rasakan saat masih muda. Selain itu, hidup saya kini penuh dengan makna. Saya merasa utuh dan tenang. Saya merasa telah menjadi pribadi yang lebih baik.”
Judith & Kacey Cox 🇨🇦🇭🇰🇬🇾
Kacey adalah seorang produser film dan TV keturunan Guyana. Judith adalah seorang direktur kreatif dan pemasaran di industri film dan gim. Mereka tinggal bersama kedua putri mereka di Kanada.
“Dalam pencarian makna hidup yang lebih mendalam, saya membaca berbagai buku dari budaya Barat maupun Timur. Ketika saya menemukan Falun Gong, banyak dari pertanyaan saya tersebut terjawab. Meskipun saya besar di Amerika Utara dengan pengetahuan yang terbatas tentang tradisi Timur, saya mendapati bahwa Falun Gong dapat diterapkan secara universal tanpa memandang latar belakang budaya saya.” —Kacey
“Orang tua saya berasal dari Hong Kong. Setelah ayah saya mendengar kabar tentang penganiayaan [di Tiongkok], beliau ingin mempelajari lebih lanjut tentang Falun Gong. Beliau selalu mengatakan bahwa apa pun yang dianiaya oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) kemungkinan besar adalah hal yang baik. Beliau dan ibu saya mulai melakukan latihan ini saat saya masih remaja, tetapi saya baru mulai ikut berlatih pada usia 18 tahun ketika saya menginginkan lebih banyak jawaban tentang kehidupan. Ajaran ini mengajarkan saya untuk mencari ke dalam diri sendiri setiap kali menghadapi masalah, dan itu sangat memberdayakan—karena pada akhirnya, Anda tidak bisa mengendalikan dunia di sekitar Anda atau orang lain, tetapi Anda bisa mengendalikan bagaimana Anda bereaksi terhadap suatu peristiwa, pikiran, dan emosi Anda sendiri.” —Judith
Falun Gong di Seluruh Dunia
Meskipun latihan ini pertama kalinya diperkenalkan kepada publik di Tiongkok, saat ini Falun Gong telah dilakukan di lebih dari 100 negara dan buku-bukunya telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 40 bahasa. Falun Gong selalu diajarkan secara gratis oleh para sukarelawan di seluruh dunia. Banyak orang mempelajari latihan ini di tempat-tempat latihan yang dikelola oleh sukarelawan di taman-taman kota atau ruang publik lainnya. Selain itu, video instruksi dan buku-buku Falun Gong juga tersedia secara gratis di internet.




















Falun Gong: Dalam Kata-Kata Mereka Sendiri
Sekelompok praktisi Falun Gong dari berbagai negara mendiskusikan alasan mereka menekuni latihan ini, dampaknya terhadap kehidupan mereka, dan bagaimana prinsip-prinsip di dalamnya melandasi upaya mereka dalam menghentikan penganiayaan terhadap Falun Gong di Tiongkok secara damai.
Keyakinan dan Perlawanan Sipil di Dalam Tiongkok
Selama lebih dari 20 tahun, Partai Komunis Tiongkok (PKT) telah berupaya “memusnahkan” Falun Gong melalui kampanye kekerasan di seluruh negeri. Menghadapi hal tersebut, para praktisi Falun Gong menggalang gerakan perlawanan sipil terbesar di dunia saat ini. Gerakan akar rumput ini melibatkan puluhan juta praktisi di seluruh Tiongkok yang berani mempertaruhkan segalanya demi membongkar kebohongan serta propaganda media pemerintah komunis.
Berikut adalah beberapa kisah mereka.
Dari tahun 2008 hingga 2020, Xu Na telah dipenjara dan disiksa selama beberapa tahun. Suaminya meninggal dunia akibat disiksa saat berada dalam tahanan. Keduanya dipenjara karena keyakinan mereka terhadap Falun Gong. Pada Juli 2020, Xu ditangkap bersama sepuluh jurnalis warga lainnya di Beijing karena mengunggah foto-foto kondisi Beijing selama pandemi COVID-19 ke internet. Pada Januari 2022, ia dijatuhi hukuman 8 tahun penjara.
Pang Xun, seorang mantan penyiar Radio Rakyat Sichuan, tewas akibat dipukuli di Penjara Jiazhou, Leshan. Pang ditangkap setelah ia membagikan selebaran yang membongkar pelanggaran HAM yang dilakukan oleh PKT di pusat-pusat komunitas setempat. Ia meninggal dunia pada 2 Desember 2022 di usia 30 tahun.
Ma Weishan, 82 tahun (kiri), saat ini sedang menjalani hukuman lima tahun penjara karena aksi perlawanan sipil. Ma sebelumnya bekerja sebagai pejabat desa dan manajer di sebuah perusahaan swasta. Ia ditangkap pada 22 April 2014 karena mengirimkan pesan singkat (SMS) berisi informasi tentang Falun Gong. Kemudian, ia dijatuhi hukuman lima tahun penjara oleh Pengadilan Kota Sanhe pada 5 November 2015. Ma sempat bebas bersyarat, namun kembali ditangkap pada 28 September 2018 setelah dilaporkan karena berbicara kepada orang-orang mengenai Falun Gong di sebuah pasar tradisional.
Ketika Partai Komunis Tiongkok meremehkan situasi pandemi di Wuhan pada awal 2020, Fang Bin justru membongkar kenyataan yang sebenarnya di lapangan. Lewat video-videonya, ia memperlihatkan kondisi rumah sakit di Wuhan yang sangat penuh, lengkap dengan tumpukan kantong jenazah yang berjejer di lorong-lorong sejak 25 Januari 2020. Video-videonya sempat ditayangkan oleh beberapa media besar di Barat. Setelah itu, Fang menghilang. Baru setelah lebih dari satu tahun, keberadaannya terkonfirmasi bahwa ia sedang dipenjara. Ia akhirnya dibebaskan pada April 2023.
Menyelamatkan Orang-orang Tercinta
Penganiayaan terhadap Falun Gong menyasar 100 juta orang di Tiongkok dan menghancurkan banyak keluarga serta komunitas di seluruh negeri tersebut. Dalam kasus-kasus tertentu di mana anggota keluarga tinggal di Amerika Serikat atau di berbagai negara lain di seluruh dunia, banyak dari mereka yang telah menggalang kampanye penyelamatan keluarga untuk membebaskan orang-orang tercinta mereka dari pemenjaraan sewenang-wenang, pelecehan, hingga penyiksaan.
Berikut adalah beberapa kisah mereka.
Saat baru berusia empat tahun, Lucy Liu diculik dari tempat penitipan anak dan dijadikan sandera oleh polisi Tiongkok. Mereka berniat mencari ibunya, Ny. Yan Liu, untuk melakukan penganiayaan hingga sang ibu melepaskan keyakinannya pada Falun Gong. Kini, Lucy telah berusia 24 tahun dan menjadi mahasiswa animasi berprestasi di Kanada. Ibunya sempat dijatuhi hukuman 3,5 tahun penjara karena keyakinan yang dianutnya. Ny. Yan Liu akhirnya dibebaskan pada Juli 2022.
Steven Wang, seorang warga negara AS, kehilangan ayahnya akibat penganiayaan. Kini, ibunya baru saja dijatuhi hukuman 4 tahun penjara karena keyakinan yang dianutnya. Sebelumnya, sang ibu telah berulang kali ditangkap dan dipenjara. Steven dan saudara perempuannya yang kini tinggal di New York terus berupaya aktif demi membebaskan ibu mereka.
Iris Lu menetap di Florida. Ibunya pernah disiksa selama tiga tahun di penjara Tiongkok, dan kemudian dijatuhi hukuman enam tahun penjara karena keyakinannya. Sebuah artikel yang merinci penderitaan ibunya pernah diterbitkan di USA Today menjelang Hari Ibu tahun 2017. Pada 2019, Komisi Eksekutif-Kongres AS untuk Tiongkok menuntut pembebasannya. Ibu Iris baru-baru ini telah dibebaskan.
Pada 1 Desember 2020, saudara perempuan Wendy Zhao, Zhao Renyuan, dan iparnya, Tn. Xie Jianxin, dijatuhi hukuman tiga tahun penjara serta denda 10.000 yuan. Keduanya dituduh “menggunakan ajaran sesat untuk merusak penegakan hukum”—sebuah tuduhan standar yang digunakan PKT untuk memenjarakan para praktisi Falun Gong karena keyakinan mereka. Tn. Xie baru saja dibebaskan.
Pengungsi yang Tangguh
Meski saat ini banyak praktisi Falun Gong yang masih dipenjara karena keyakinan mereka di Tiongkok (jutaan orang telah dipenjara selama 23 tahun terakhir), banyak pula yang telah berhasil melarikan diri dari Tiongkok. Dengan memberikan kesaksian di hadapan anggota Kongres dan parlemen, lembaga hak asasi manusia, serta menulis berbagai artikel, mereka dengan berani menceritakan kisah mereka untuk bersaksi atas krisis yang terus berlangsung di Tiongkok.
Berikut adalah beberapa kisah mereka.
Crystal Chen berusia 27 tahun saat ia dan ibunya pertama kali ditahan karena keyakinan mereka. Keduanya disiksa—ibunya menggunakan tongkat listrik, sementara Crystal dicekok paksa dengan garam, sebuah metode penyiksaan yang telah menewaskan banyak orang. Ia juga menyaksikan penyiksaan terhadap wanita lain di penjara tersebut, di mana kekerasan seksual sering terjadi. Melalui perjalanan yang mengerikan melewati Thailand, ia akhirnya berhasil melarikan diri dan mendapatkan perlindungan di AS.
Mr. Dongwei Bu was imprisoned multiple times for his faith, including in forced labor camps. Amnesty International took on Bu’s case, launching a campaign for his release, which occurred four months before the end of his term. Afterwards, he gained safe passage to the U.S., where he joined his wife and child.
Tn. Dongwei Bu dipenjara berkali-kali karena keyakinannya, termasuk di kamp kerja paksa. Amnesty International menangani kasus Bu dan meluncurkan kampanye untuk pembebasannya, yang akhirnya terlaksana empat bulan sebelum masa hukumannya berakhir. Setelah itu, ia mendapatkan jalur aman ke AS dan berkumpul kembali dengan istri serta anaknya.
Weiyu Wang dulunya adalah mahasiswa muda berprestasi di program PhD Universitas Tsinghua (setara dengan MIT di Tiongkok). Ia kehilangan segalanya ketika PKT memulai kampanye untuk “memusnahkan” Falun Gong. Setelah diburu oleh teman sekelasnya dan akhirnya dikeluarkan dari kampus, Weiyu menghabiskan bertahun-tahun di penjara dan mengalami penyiksaan sebelum akhirnya berhasil melarikan diri ke AS bersama istri dan putrinya.
Liping Yin dipenjara karena keyakinannya dan menjalani kerja paksa serta penyiksaan yang mengerikan, termasuk kekerasan seksual, di Kamp Kerja Paksa Masanjia yang terkenal kejam di Tiongkok. Setelah melarikan diri ke AS, Yin dengan berani menceritakan perjalanan mengerikannya tersebut di hadapan Komisi Eksekutif-Kongres untuk Tiongkok.
Perspektif tentang Falun Gong
“Dalam penilaian saya, Falun Gong adalah gerakan spiritual tunggal terbesar di Asia saat ini. Tidak ada yang bisa menandingi keberanian dan signifikansinya.”
Mark Palmer
Mantan Duta Besar AS, pendiri National Endowment for Democracy
“Melalui perkenalan saya dengan para [praktisi Falun Gong] ini, saya sangat terenyuh oleh ketenangan mereka saat menceritakan musibah yang belum pernah terjadi sebelumnya, belas kasih mereka terhadap orang-orang yang menyiksa mereka, dan optimisme mereka terhadap masa depan bangsa kita. Orang-orang ini tidak memandang ketenaran dan keuntungan… Sungguh luar biasa bagaimana keyakinan seseorang dapat memberikan pengaruh yang begitu kuat terhadap jiwa dan moralitasnya.”
Gao Zhisheng
Pengacara HAM ternama Tiongkok, yang dipenjara dan disiksa karena membela para praktisi Falun Gong.
“Siapa pun yang memahami agama Asia akan segera melihat bahwa Falun Gong selaras dengan tradisi yang sudah ada sebelum sejarah tercatat. Hal yang membuat Falun Gong menonjol dari latihan qigong dan meditasi lainnya adalah sistem moralnya—belas kasih, kejujuran, dan kesabaran—yang jelas berakar dari ajaran Buddha.”
Arthur Waldron
Profesor Universitas Pennsylvania, salah satu pakar terkemuka Amerika Serikat mengenai Tiongkok.
“Saya telah mengenal dan bekerja sama secara erat dengan para anggota komunitas Falun Gong di kota kami selama lebih dari satu dekade. Selama bertahun-tahun, seiring pertumbuhan komunitasnya, mereka memainkan peran yang semakin berharga di kota kami dengan menjadi sukarelawan di tengah masyarakat.”
Joe DeStefano
Walikota Middletown, New York.
“Falun Gong merepresentasikan nilai-nilai dan budaya Tiongkok yang terbaik.”
Irwin Cotler
Mantan Jaksa Agung, Kanada.
“Falun Gong adalah sebuah sistem kepercayaan yang sepenuhnya damai dan mendorong standar perilaku moral tertinggi.”
Lord Avebury
House of Lords (Majelis Tinggi), Inggris Raya.
BACA BERIKUTNYA


