Bagaimana Saya Belajar Berhenti Membenci Falun Gong
Tumbuh besar di Tiongkok, saya diperingatkan bahwa itu adalah "aliran sesat". Sekarang saya tahu bahwa itu adalah kebohongan. (sebuah kutipan)
Oleh Anastasia Lin , Wall Street Journal | 26-01-2020
Saya adalah seorang pemimpin organisasi muda Komunis Tiongkok saat saya masih duduk di bangku sekolah menengah. Saya ditugaskan untuk mengatur pemutaran film di kelas dan memimpin diskusi mengenai film-film yang mengecam musuh-musuh partai. Salah satu targetnya adalah Falun Gong, yang dalam film-film propaganda digambarkan sebagai “aliran sesat”. Namun saat saya berusia 14 tahun, setahun setelah saya berimigrasi ke Kanada bersama ibu saya, ia memberikan saya sebuah selebaran yang ditulis oleh seorang praktisi. Informasi tanpa sensor tersebut membuka mata saya.
Falun Gong diperkenalkan pada tahun 1992, namun akarnya tertanam jauh dalam filosofi spiritual tradisional Tiongkok. Revolusi Kebudayaan mencoba menghapus kepercayaan tradisional Tiongkok dan berhasil menciptakan kekosongan spiritual—serta rasa lapar untuk mengisinya. Pada tahun 1990-an, ratusan sekolah yang mengajarkan qigong, atau “pengolahan energi kehidupan,” telah bermunculan. Qigong pada dasarnya adalah yoga versi Tiongkok, yang melibatkan latihan pernapasan, postur tubuh, dan meditasi. Untuk menghindari label “takhayul” dari partai, sekolah-sekolah tersebut biasanya kurang menonjolkan sisi spiritual dari latihan tersebut dan lebih menekankan pada manfaat kesehatan.
Namun Falun Gong—yang mencakup lima perangkat latihan meditasi gerakan lambat—tetap mempertahankan unsur spiritual. Prinsip utamanya adalah sejati, baik, dan sabar—yang masing-masing merupakan ajaran inti dari Taoisme, Buddhisme, dan Konfusianisme. Setelah puluhan tahun menjalani ateisme dan materialisme yang dipaksakan negara, banyak warga Tiongkok tertarik pada latihan ini, yang awalnya didukung oleh pemerintah karena manfaat kesehatannya. Hingga awal 1999, Beijing memperkirakan ada 70 juta rakyat Tiongkok yang berlatih Falun Gong.
Kemudian dimulailah penindasan. Pemerintah, yang menganggap komunitas independen apa pun sebagai ancaman potensial, telah berupaya menekan sekolah-sekolah qigong besar selama beberapa tahun. Hanya praktisi Falun Gong yang keberatan secara terbuka. Pada 25 April 1999, sekitar 10.000 praktisi berkumpul di dekat kompleks kepemimpinan Zhongnanhai di Beijing dalam aksi protes damai terbesar sejak demonstrasi Lapangan Tiananmen satu dekade sebelumnya.
Pada 20 Juli 1999, pemerintah secara resmi melabeli Falun Gong sebagai “aliran sesat” dan memulai kampanye penganiayaan yang berlanjut hingga hari ini. Media resmi memfitnah Falun Gong dan merendahkan martabat para praktisi. Pemimpin mahasiswa seperti saya mencekoki rekan-rekan mahasiswa dengan propaganda kebencian. Ratusan ribu orang dipenjara dan menjalani proses penyiksaan yang disebut “transformasi”, yang tujuannya adalah memaksa mereka melepaskan keyakinan mereka. Ribuan orang tidak selamat.
…
Saat saya mendapatkan pencerahan pada usia 14 tahun, saya merasa ngeri ketika mengetahui bahwa seluruh sistem keyakinan saya adalah sebuah kebohongan. Saya merasa geram karena telah dijadikan kaki tangan dalam menyebarkan kebencian dan menjelek-jelekkan orang-orang yang tidak bersalah. Saya juga merasa bebas, jadi saya mulai membaca buku-buku Falun Gong. Awalnya itu hanya karena rasa ingin tahu. Namun filosofi kuno ini membantu saya mendisiplinkan watak saya. Saya menjadi lebih berempati dan tidak cepat menghakimi. Saya mulai memahami cara menenangkan gangguan dari luar, mendengarkan hati saya, dan menemukan keberanian untuk menghadapi dunia.
…
Lin, seorang aktris, merupakan Miss World Canada 2015. Ia adalah duta urusan Tiongkok untuk Macdonald-Laurier Institute dan peneliti senior di Raoul Wallenberg Centre for Human Rights.
Teks di atas adalah kutipan dari artikel Wall Street Journal tanggal 18 Juli 2019. Artikel lengkapnya tersedia di sini.










