Mimpi Buruk Pengambilan Organ Manusia di Tiongkok

Jumlah transplantasi jauh melampaui jumlah resmi donor yang ada. Para tahanan hati nurani jelas menjadi sumber untuk menutupi perbedaan angka tersebut.

Tiongkok dituduh melakukan perdagangan organ manusia yang sangat mengerikan. Hal ini sulit dibuktikan karena jenazah para korban langsung dimusnahkan, dan satu-satunya saksi adalah para dokter, polisi, serta penjaga penjara yang terlibat. Meski demikian, bukti-bukti yang tersedia mengarah pada vonis yang sangat memberatkan.

Tuduhannya adalah banyak tahanan hati nurani—anggota Falun Gong, Muslim Uyghur, umat Buddha Tibet, dan umat Kristen “bawah tanah”—telah menjalani pemeriksaan medis dan organ mereka diambil secara paksa. Organ-organ ini menjadi sumber bagi perdagangan transplantasi organ yang sangat besar.

Pasien di Tiongkok—termasuk orang asing—dijanjikan kecocokan organ dalam hitungan hari. Mantan politisi dan jaksa Kanada David Kilgour, pengacara David Matas, jurnalis Amerika Ethan Gutmann, dan tim peneliti telah mengonfirmasi hal ini dengan menyamar sebagai pasien ke rumah sakit-rumah sakit di Tiongkok. Dr. Huang Jiefu, mantan wakil menteri kesehatan Tiongkok dan ketua komite transplantasi organ, pernah memesan dua hati cadangan untuk sebuah operasi medis tahun 2005. Organ-organ tersebut dikirim keesokan paginya. Di sebagian besar negara Barat yang maju, pasien harus menunggu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun untuk mendapatkan transplantasi.

Pada tahun 2016, Kilgour, Matas, dan Gutmann menerbitkan sebuah laporan berjudul “Bloody Harvest/the Slaughter: An Update,” yang dikembangkan berdasarkan penelitian sejak tahun 2006. Dalam versi terbaru ini, para penulis memperkirakan bahwa antara 60.000 hingga 100.000 organ ditransplantasikan setiap tahun di rumah sakit-rumah sakit di Tiongkok.

Dari mana organ-organ tersebut berasal? Tiongkok mengeklaim memiliki “sistem donor organ sukarela terbesar di Asia” dan telah berhenti menggunakan tahanan pada tahun 2015. Namun, negara tersebut tidak memiliki tradisi donor organ sukarela.

Pada tahun 2010, jumlah resmi donor sukarela di Tiongkok hanya 34 orang. Pada tahun 2018, Tiongkok masih hanya memiliki sekitar 6.000 donor organ resmi, yang dikatakan menyumbangkan lebih dari 18.000 organ. Namun, para peneliti “Bloody Harvest” menemukan bahwa angka tersebut “dengan mudah dilampaui hanya oleh beberapa rumah sakit saja.” Tianjin First Center saja melakukan lebih dari 6.000 transplantasi setahun, dan penulis laporan tersebut telah “memverifikasi dan mengonfirmasi 712 rumah sakit yang melakukan transplantasi hati dan ginjal.” Dr. Huang mengeklaim bahwa Tiongkok akan melakukan transplantasi terbanyak di dunia pada tahun 2020—lebih banyak dari Amerika yang berjumlah 40.000 per tahun.

Angka-angka dari Tiongkok tidak masuk akal. Untuk menyediakan organ yang sehat dan cocok dalam hitungan hari kepada pasien di ratusan rumah sakit, dengan hanya menggunakan beberapa ribu donor sukarela per tahun, berarti harus ada sumber organ tambahan yang tidak sukarela.

Narapidana hukuman mati tidak bisa menutupi semua jumlah ini. Tiongkok mengeksekusi lebih banyak orang daripada gabungan seluruh dunia, namun jumlahnya tetap hanya sekitar beberapa ribu orang per tahun. Selain itu, hukum Tiongkok mewajibkan tahanan yang dijatuhi hukuman mati untuk dieksekusi dalam waktu tujuh hari—waktu yang tidak cukup untuk mencocokkan organ mereka dengan pasien dan menyediakannya saat dibutuhkan, seperti yang menjadi praktik di Tiongkok.

Hal itu mengarahkan para penyelidik pada kesimpulan bahwa tahanan hati nurani adalah sumber dari sebagian besar organ misterius tersebut. Buktinya beragam: Mantan tahanan hati nurani telah berulang kali bersaksi bahwa mereka menjalani tes darah dan pemeriksaan medis yang tidak lazim di penjara. Laporan tersebut menyatakan bahwa hasil tes tersebut kemudian dimasukkan ke dalam basis data sumber organ hidup, yang memungkinkan transplantasi dilakukan sesuai permintaan—ketika seorang pasien membutuhkan organ, seorang tahanan hati nurani dari daftar tersebut akan diambil organnya.

Falun Gong, sebuah gerakan spiritual yang dianggap subversif oleh pemerintah Tiongkok, telah mengalami penganiayaan sejak penindasan pada tahun 1999. Pada tahun 2006, para peneliti yang fasih berbahasa Mandarin menyamar sebagai pembeli organ dan bertanya secara langsung apakah organ dari praktisi Falun Gong bisa diatur untuk transplantasi. Rumah sakit-rumah sakit di seluruh Tiongkok mengonfirmasi bahwa mereka memiliki organ tersebut dan tersedia tanpa masalah.

Kisah-kisahnya sangat kejam. Dr. Enver Tohti, mantan dokter bedah dari Xinjiang, memberikan kesaksian di parlemen Inggris, Irlandia, dan Eropa mengenai pengambilan organ dari seorang tahanan secara paksa pada tahun 1995. “Kami diperintahkan untuk menunggu di balik bukit, dan segera masuk ke lapangan begitu mendengar suara tembakan,” kenangnya. “Sesaat kemudian terdengar suara tembakan. Bukan satu, tapi banyak. Kami bergegas ke lapangan. Seorang petugas polisi bersenjata mendekati kami dan memberi tahu saya ke mana harus pergi. Dia membawa kami mendekat, lalu menunjuk ke sebuah tubuh, sambil berkata, ‘Ini orangnya.’ Saat itu kepala dokter bedah kami muncul entah dari mana dan menyuruh saya untuk mengambil hati dan kedua ginjalnya.” Menurut Dr. Tohti, luka pria tersebut belum tentu fatal. Namun Dr. Tohti tetap melanjutkan dan mengambil hati serta ginjal tersebut saat jantung pria itu masih berdetak.

Para ahli di seluruh dunia telah bersaksi mengenai kejahatan Tiongkok. Israel, Taiwan, dan Spanyol telah melarang “wisata organ” ke Tiongkok. Pelapor khusus PBB telah meminta Tiongkok untuk bertanggung jawab atas sumber organ mereka, namun tidak menerima tanggapan.

Tribunal Independen untuk Pengambilan Organ Secara Paksa dari Tahanan Hati Nurani di Tiongkok sedang menyelidiki masalah ini. Sir Geoffrey Nice, yang menuntut Slobodan Milosevic, memimpin panel ahli hukum dan pakar tersebut. Pada 10 Desember, mereka mengeluarkan keputusan sela yang jarang terjadi: Panel tersebut “yakin—secara bulat, dan yakin tanpa keraguan sedikit pun—bahwa di Tiongkok, pengambilan organ secara paksa dari tahanan hati nurani telah dilakukan dalam jangka waktu yang lama, serta melibatkan jumlah korban yang sangat banyak” oleh negara.

Keputusan sela ini dikeluarkan dengan harapan dapat “menyelamatkan orang-orang tidak bersalah dari bahaya.” Jika Tiongkok punya tanggapan, saya ingin mendengarnya.

Mr. Rogers adalah Pemimpin Tim Asia Timur di organisasi hak asasi manusia CSW, wakil ketua Komisi Hak Asasi Manusia Partai Konservatif Inggris, dan penasihat Koalisi Internasional untuk Mengakhiri Penyalahgunaan Transplantasi di Tiongkok.

Hak Cipta ©2019 Dow Jones & Company, Inc. Semua Hak Dilindungi Undang-Undang. 87990cbe856818d5eddac44c7b1cdeb8


Starting in 1999, the number of transplant centers in China increased by 300% in just 8 years, even though China has no effective national organ donation system. 1999 was the year the Chinese regime began persecuting adherents of the Falun Gong spiritual practice, sending hundreds of thousands to labor camps. Many of them were never seen again.
Share