Sun Shuying
Wanita Berusia 64 Tahun Menceritakan Siksaan Mengerikan dan Pelanggaran Hak Asasi Manusia
Oleh Jack Phillips, The Epoch Times | 12-05-2017
Selama mendekam di penjara, Sun menjadi sasaran siksaan "Menerbangkan pesawat" (foto dari Minghui.org)
Seorang wanita usia 64 tahun disiksa sangat keji, menurut kisahnya yang mengerikan baru-baru ini. Ia berulang kali dibawa “ke ambang kematian” karena mempraktikkan bentuk meditasi yang dianiaya di Tiongkok.
Sun Shuying, seorang pekerja pabrik di Tiongkok utara, mengatakan dia mengalami penyiksaan ekstrem, pemukulan, dan bentuk perlakuan buruk lainnya selama periode 10 tahun karena kegigihannya dalam mempraktikkan Falun Gong, yang juga disebut Falun Dafa, suatu bentuk meditasi tradisional Tiongkok mirip qigong. Freedom House, dalam laporan terbarunya mengatakan, tingkat penganiayaan Falun Gong yang telah berlangsung selama 17 tahun masih “sangat tinggi,”. Tetapi perlu dicatat bahwa Partai Komunis Tiongkok, yang melancarkan kampanye brutal tersebut pada pertengahan tahun 1999, menghabiskan ratusan juta dolar untuk mempertahankan penganiayaan terhadap kelompok tersebut.
Sun mengingat bahwa pada tahun 1999, dia beberapa kali melakukan perjalanan ke Beijing untuk membentangkan spanduk di Lapangan Tiananmen, memprotes perlakuan buruk terhadap praktisi, tetapi dicegat dan ditangkap beberapa kali oleh polisi. Atas upayanya itu, dia ditendang di punggung oleh seorang petugas polisi tetapi berhasil melarikan diri. Setelah itu, Sun terpaksa bersembunyi di Mongolia Dalam.
Di seluruh Tiongkok, system rahasia “penjara hitam” digunakan oleh Partai Komunis Tiongkok untuk menahan warga negara tanpa tuduhan atau hukuman. Beberapa kemudian dikirim ke pusat “pendidikan ulang” di mana mereka disiksa, baik secara fisik maupun psikologis, dan dicekoki propaganda komunis untuk membuat mereka menandatangani surat pernyataan untuk melepas keyakinan mereka. Praktisi Falun Gong secara khusus menjadi sasaran.
Pada bulan Juni 2001, Sun ditangkap lagi, katanya kepada Minghui.org, sebuah situs web yang didedikasikan untuk memposting informasi tentang penganiayaan Falun Gong. Dia berkata:
“Di kantor polisi di Mongolia Dalam, saya tidak diizinkan duduk. Polisi menampar wajah saya, memukul kepala dan mata saya, dan menjambak rambut saya berulang kali membenturkan wajah saya ke dinding. Mereka tidak mengizinkan saya tidur selama delapan hari berturut-turut. Di akhir hari kedelapan, saya sangat lemah dan hampir tidak bisa membuka mata.
“Seorang petugas polisi melompat di udara dan menendang dada saya. Terengah-engah dan terbaring di tanah, saya tidak bisa merasakan anggota tubuh saya setelah tendangannya. Butuh beberapa saat bagi saya untuk bisa fokus.”
Sun, yang berada dalam kondisi kritis, dibawa ke Changchun, di Tiongkok utara, dan ditahan di pusat penahanan rahasia di mana polisi rahasia Tiongkok memukulinya “tanpa henti, siang dan malam.” Itu terjadi sebelum penyiksaan.
“Mereka mengikat tangan saya di belakang dan memaksa saya membungkuk sambil meluruskan kaki saya. Kemudian mereka mendorong tangan saya lurus ke atas, menyebutnya ‘menerbangkan pesawat’,” sebuah metode brutal yang digunakan di seluruh kamp penjara Tiongkok dan Korea Utara (Lihat foto atas).
Sun mengingat bahwa dia dibawa ke pusat penahanan lain dan dikurung di dalam sangkar. Penjaga memasang belenggu dan penahan seperti zaman abad pertengahan padanya, membuatnya tidak bisa bergerak.
Mereka juga berulang kali menyetrumnya dengan tongkat listrik, katanya.
Setelah dia dibebaskan beberapa tahun kemudian, Sun ditangkap pada tahun 2005.
Penyiksaan juga tidak berhenti kali itu. “Saya terus menerus dipukuli selama tiga hari di kantor polisi” di pabrik tempat dia bekerja, katanya. Setelah itu, dia dibawa ke rumah sakit, dipaksa makan dan diberi suntikan intravena yang mengandung “zat beracun.” Dia mengingat: “Banyak narapidana memohon kepada para penjaga untuk menghentikan suntikan intravena itu untuk saya, dan dokter polisi menghentikannya. Seluruh tubuh saya merah, bengkak dan sangat gatal.”
Kemudian, penjaga menempelkan lakban di mulutnya dan membawanya ke pengadilan, di mana dia secara ilegal dijatuhi hukuman 10 tahun penjara. Di penjara, para penjaga memerintahkan narapidana untuk memukulinya. “Mereka akhirnya berhenti setelah kelelahan,” katanya. Namun, keadaannya memburuk:
“Para narapidana tidak mengizinkan saya buang air selama lima hari. Kemudian mereka memaksa saya berdiri tegak selama 49 hari, dengan hanya satu jam tidur setiap hari. Pada akhirnya, saya tidak bisa membuka mata, otak saya berhenti bekerja, dan saya tidak bisa melihat sesuatu dengan jelas.
“Tubuh saya tertutup lepuh dan infeksi saat itu. Bahkan dokter penjara tidak tahu bagaimana mengobatinya. Dia memperingatkan saya bahwa saya bisa segera meninggal.
Akhirnya, setelah sekitar delapan tahun, dia dibebaskan dari penjara. Namun suaminya, setelah diancam dan diintimidasi oleh polisi, dipaksa menceraikannya. Mereka juga menyita properti dan uangnya.
Kisah Sun bukanlah kisah yang unik, menurut Freedom House.
“[Partai Komunis memulai] contoh terburuk penganiayaan agama sejak Revolusi Kebudayaan, melakukan tindakan keras terhadap Falun Gong,” kata André Laliberté, sarjana terkemuka tentang agama di Tiongkok dari Universitas Ottawa, mengacu pada kampanye komunis Tiongkok tahun 1966–1976 yang menyebabkan jutaan orang meninggal.
“Dan setiap hari, sejumlah besar hakim, jaksa, dan polisi memainkan peran aktif dalam penangkapan, pemenjaraan, dan penyiksaan warga negara Tiongkok yang gigih dalam pengabdian mereka pada Falun Gong,” tambah Freedom House.
Artikel asli dari The Epoch Times dapat dilihat di sini: http://www.theepochtimes.com/n3/2246337-human-rights-conference-in-india-highlights-chinese-organ-harvesting/










