15.235 Praktisi Falun Gong Dijadikan Target karena Keyakinan Mereka pada 2020

Sebuah laporan Minghui

Ketika Tiongkok dihantam keras oleh pandemi virus corona pada tahun 2020, partai penguasanya, Partai Komunis Tiongkok (PKT), terus melanjutkan penganiayaan terhadap Falun Gong, sebuah disiplin spiritual yang juga dikenal sebagai Falun Dafa yang berdasarkan pada prinsip Sejati, Baik, dan Sabar.

Pandemi Tidak Menghentikan PKT untuk Menganiaya Falun Gong

Menurut informasi yang dikumpulkan oleh Minghui.org, 6.659 praktisi ditangkap dan 8.576 dilecehkan pada tahun 2020. Meskipun jumlah penangkapan tetap serupa dengan jumlah tahun sebelumnya yaitu 6.109, tahun 2020 mengalami peningkatan kasus pelecehan sebesar 2,4 kali lipat dibandingkan dengan jumlah 3.582 pada tahun 2019.

Di antara total 15.235 praktisi yang dijadikan target pada tahun 2020, 3.588 rumahnya digeledah dan 537 dibawa ke pusat pencucian otak.

Ada juga 622 praktisi yang divonis penjara karena keyakinan mereka (beberapa di antaranya merupakan bagian dari 6.659 orang yang ditangkap pada tahun 2020) dan 83 orang lainnya dianiaya hingga tewas pada tahun 2020, yang keduanya telah dibahas secara terperinci dalam laporan terpisah.

Januari 2020 melaporkan insiden penganiayaan paling sedikit. Namun, selama beberapa bulan berikutnya, insiden penganiayaan terus meningkat secara stabil, dengan puncak kecil pada bulan April dan puncak yang lebih besar pada bulan Juli.

Puncak pada bulan April dan Juli telah menjadi tren selama bertahun-tahun, karena otoritas sering kali mengintensifkan penindasan di sekitar dua tanggal sensitif – 25 April dan 20 Juli. Sekitar 10.000 praktisi Falun Gong melakukan aksi permohonan damai dengan duduk di luar Kantor Permohonan Nasional di Beijing pada 25 April 1999, dan PKT secara resmi memulai penganiayaan terhadap Falun Gong kurang dari tiga bulan kemudian, pada 20 Juli.

Selama karantina wilayah pada paruh pertama tahun 2020, banyak praktisi yang dijadikan target karena meningkatkan upaya mereka untuk mengungkap bagaimana PKT telah menggunakan taktik penutupan informasi yang serupa dengan yang digunakan dalam penganiayaan untuk menangani wabah virus corona.

Seorang wanita di Provinsi Hunan terpaksa tinggal jauh dari rumah setelah pihak berwenang mengetahui bahwa dia telah menempelkan poster dengan kode QR yang dapat terhubung ke situs web luar negeri yang berisi informasi tanpa sensor tentang pandemi. Seorang dokter di Provinsi Ningxia ditangkap dua kali, pertama pada bulan Maret dan kemudian pada bulan Juni, karena membagikan materi informasi. Bahkan seorang anak perempuan berusia sembilan tahun di Provinsi Hubei tidak luput dari pelecehan setelah polisi menangkapnya saat sedang menempelkan informasi di lingkungan tempat tinggalnya.

Kampanye Pelecehan Skala Besar “Zero-out” (Penghapusan Total)

Memasuki paruh kedua tahun ini, kasus pelecehan mulai melebihi jumlah penangkapan karena adanya kampanye “Zero-out” (Penghapusan Total) di seluruh negeri. Mirip dengan kampanye pelecehan “mengetuk pintu” pada tahun 2017 dan kampanye yang disebut penindasan geng pada tahun 2018 yang menjadikan para praktisi sebagai target karena keyakinan mereka, pihak berwenang mendatangi setiap praktisi yang ada dalam daftar hitam pemerintah dan mencoba memaksa mereka untuk melepaskan Falun Gong dalam kampanye “Zero-out” yang baru ini.

Kasus pelecehan paling awal dalam upaya “Zero-out” yang melanda seluruh negeri ini tercatat pada Maret 2020 di Provinsi Guizhou. Dilaporkan bahwa Komite Urusan Politik dan Hukum (PLAC) di Guizhou mengeluarkan perintah untuk sepenuhnya “mengubah” semua praktisi antara tahun 2020 dan 2023. Perintah mereka didasarkan pada sebuah dokumen (No. 101) yang dirilis oleh PLAC pusat di Beijing, yang berjudul “Mengenai Masalah Pengurangan Jumlah Praktisi Falun Gong.”

Dalam penganiayaan terhadap Falun Gong, PLAC—sebuah lembaga ekstra-yudisial yang mengawasi keamanan negara, kejaksaan, dan sistem pengadilan—telah memainkan peran sentral dalam menjembatani program penganiayaan.

Dalam penganiayaan terhadap Falun Gong, PLAC—sebuah lembaga ekstra-yudisial yang mengawasi keamanan negara, kejaksaan, dan sistem pengadilan—telah memainkan peran sentral dalam menjembatani rencana penganiayaan.

Kantor 610 setempat dan PLAC, yang keduanya ditugaskan untuk mengawasi penganiayaan, memerintahkan petugas komunitas lokal dan polisi untuk menekan para praktisi agar tunduk. Ketika para praktisi menolak, pihak berwenang memasukkan para praktisi ke pusat pencucian otak dan mengancam anggota keluarga mereka dengan pemecatan dari pekerjaan jika mereka tidak membujuk para praktisi untuk melepaskan latihan mereka. Di Provinsi Guangdong dan Hainan, pihak berwenang memasang hadiah sebesar 100.000 yuan bagi siapa saja yang melaporkan seorang praktisi Falun Gong.

Beberapa petugas polisi melecehkan anggota keluarga praktisi dan mengancam akan menolak pendidikan perguruan tinggi anak-anak mereka demi menghasut mereka agar berbalik melawan para praktisi.

Pelecehan semakin meningkat dalam dua bulan terakhir tahun 2020. Meskipun rata-rata 706 insiden per bulan dilaporkan antara bulan Maret dan Oktober, jumlah itu naik hampir dua kali lipat pada bulan November dan Desember, masing-masing menjadi 1.285 dan 1.358 insiden. Hal ini juga mengakibatkan lebih banyak praktisi yang dibawa ke pusat pencucian otak pada bulan November dan Desember, dengan rata-rata bulanan melonjak dari 40 pada bulan Maret dan Oktober menjadi 110 dalam dua bulan terakhir tahun tersebut.

Kasus pelecehan pada bulan November dan Desember 2020 menunjukkan peningkatan masing-masing sebesar 5 dan 6,7 kali lipat dibandingkan tahun 2019.

Penganiayaan Menyeluruh

Insiden penganiayaan pada tahun 2020 terjadi di 304 kota yang tersebar di 29 provinsi dan kotamadya yang dikendalikan langsung oleh pemerintah pusat. Hebei menduduki posisi teratas dengan jumlah praktisi terbanyak yang dijadikan target (2.373 orang), diikuti oleh Heilongjiang, Shandong, Jilin, Sichuan, dan Liaoning. Provinsi ketujuh, Hubei, yang merupakan pusat penyebaran pandemi, mencatat total 589 kasus. Delapan belas provinsi lainnya juga mencatat jumlah kasus penganiayaan mencapai tiga digit (dari 105 hingga 480 kasus). Sementara empat provinsi yang tersisa melaporkan antara 4 hingga 87 insiden.

Di tahun 2020 lebih banyak praktisi lansia dijadikan target. Sebanyak 1.188 (7,8%) praktisi berusia di atas 65 tahun yang ditangkap atau dilecehkan pada tahun 2020 adalah dua kali lipat dari jumlah 583 orang pada tahun 2019. Pada kelompok usia 70 hingga 80 tahun, 419 praktisi ditangkap pada tahun 2020. Tujuh belas orang berusia 90-an, tertua berumur 94 tahun.

Pada tahun 2020, banyak praktisi yang ditangkap disiksa secara brutal dan setidaknya enam orang tewas akibat penyiksaan tersebut. Seorang wanita tewas dalam tahanan polisi empat hari setelah penangkapannya pada tanggal 13 Mei. Wanita lainnya tewas hanya beberapa jam setelah dia ditangkap pada tanggal 18 Juni. Dua praktisi wanita lainnya dipukuli hingga tewas beberapa hari setelah penangkapan mereka pada akhir Juni.

Pernah dipenjara selama 11 tahun, seorang praktisi pria tewas satu setengah bulan setelah penangkapannya pada bulan Agustus. Praktisi pria lainnya tewas pada bulan Oktober akibat disiksa dalam tahanan, dua bulan setelah dia ditangkap dalam sebuah penangkapan massal.

Sebanyak 15.235 praktisi yang dijadikan target berasal dari semua lapisan masyarakat, termasuk 320 profesional, seperti profesor perguruan tinggi, guru sekolah menengah, pengacara, dokter, insinyur, seniman, jurnalis, penerjemah, penulis, dan penari.

Seorang fotografer berusia 25 tahun yang baru saja mulai belajar Falun Gong belum lama ini, ditangkap karena membagikan selebaran Falun Gong. Seorang wanita berusia 77 tahun ditangkap setelah terekam di dalam bus saat sedang berbicara kepada orang-orang tentang Falun Gong. Yang lainnya ditangkap karena mempelajari ajaran Falun Gong bersama-sama.

Selain pelecehan, ada puluhan kasus penangkapan massal dilaporkan sepanjang tahun tersebut, termasuk 18 praktisi di Kota Jieyang, Provinsi Guangdong, yang ditangkap pada 14 Juni; lebih dari 10 praktisi di Kota Xi’an, Provinsi Shaanxi, ditangkap pada 26 Juli; 21 praktisi di Kota Changsha, Provinsi Hunan, ditangkap pada 27 Oktober; dan lebih dari 80 praktisi di Kota Hegang, Provinsi Heilongjiang, ditangkap antara 11 dan 13 Desemeber.

Perlu diperhatikan, tiga dari praktisi yang ditangkap di Xi’an pada 26 Juli berusia 80-an tahun, empat orang berusia akhir 70-an tahun, dan satu orang berusia sekitar 60 tahun.

Satu keluarga besar di Kota Kunming, Provinsi Yunnan, ditangkap dua kali dalam waktu tujuh hari di sekitar Festival Pertengahan Musim Gugur pada 1 Oktober, yang merupakan hari libur tradisional untuk berkumpulnya keluarga.

Selain penangkapan dan penyiksaan dalam tahanan, banyak praktisi kehidupan sehari-harinya terganggu, serta keselamatan pribadi, bisnis, dan kesehatan mereka terancam.

Seorang insinyur yang dipecat dari pekerjaannya karena keyakinannya, ditolak untuk mendapatkan tempat tinggal dan terpaksa berpindah-pindah tempat tidak lama setelah dia dibebaskan dari hukuman dua tahun penjara. Seorang dokter pensiunan masih tetap ditahan dalam tahanan meskipun dia telah didiagnosis menderita kanker paru-paru.

Dalam beberapa kasus, bukan hanya para praktisi itu sendiri yang dijadikan target karena keyakinan mereka, tetapi anggota keluarga mereka juga ikut dilecehkan, ditangkap, dan diinterogasi. Cucu laki-laki seorang praktisi yang berusia empat tahun ditolak masuk taman kanak-kanak karena sang nenek menolak untuk melepaskan Falun Gong.

Anak laki-laki seorang wanita disandera di kantor polisi setelah wanita tersebut lolos dari penangkapan, dan klinik anak laki-laki dari praktisi lainnya ditutup secara paksa setelah praktisi tersebut menolak menandatangani surat pernyataan untuk melepaskan Falun Gong.

Setelah tumbuh besar menyaksikan penganiayaan terhadap orang tuanya, seorang pemuda sangat terpukul karena kehilangan ayahnya akibat penganiayaan tersebut, menyusul penangkapan terbaru sang ayah bersama ibunya. Kini, pemuda tersebut sedang memperjuangkan keadilan bagi ibunya, yang sejak saat itu masih terus ditahan dan menghadapi hukuman penjara.

Beberapa praktisi telah menderita penahanan dan penyiksaan selama satu dekade sebelum kembali dijadikan target karena keyakinan mereka. Seorang wanita di Kota Yinchuan, Provinsi Ningxia, ditangkap lagi setelah sempat ditahan selama 13 tahun. Pria lainnya di Kota Hegang, Provinsi Heilongjiang, yang telah menghabiskan waktu 15 tahun dalam penahanan, ditangkap dalam sebuah operasi pembersihan oleh polisi pada pertengahan Desember.

Penganiayaan Finansial

Sebanyak 7.284.097,56 yuan diperas atau disita dari 401 praktisi selama penangkapan mereka, dengan rata-rata 18.165 yuan per orang. Sebanyak 161 praktisi lainnya ditangguhkan dana pensiunnya pada tahun 2020. Sebagian besar dari mereka dipaksa untuk mengembalikan dana pensiun yang telah mereka terima selama masa penahanan karena keyakinan mereka, meskipun baik Undang-Undang Ketenagakerjaan maupun Undang-Undang Asuransi Sosial Tiongkok tidak menetapkan bahwa dana pensiun harus ditangguhkan saat menjalani hukuman.

Ketika Ibu Zhang Wenqing yang sedang terluka kembali ke rumah pada bulan Juni setelah menjalani hukuman empat tahun penjara karena keyakinannya pada Falun Gong, warga Kota Fushun, Provinsi Liaoning ini sangat terpukul saat mengetahui bahwa ayahnya telah meninggal dunia setahun sebelumnya. Dia kembali menerima pukulan berat ketika mendapati bahwa masa kerjanya selama 27 tahun telah dihapus oleh tempatnya bekerja, sehingga dia tidak mendapatkan tunjangan pensiun sama sekali. Kini, mantan guru musik berusia 52 tahun tersebut, yang tinggal bersama ibunya yang berusia 80-an tahun, menghadapi kesulitan finansial yang sangat besar untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Ren Haifei (L) dari Kota Dalian, Provinsi Liaoning, mendapati uang tunai sebesar 500.000 yuan dan perlengkapan komputer senilai lebih dari 200.000 yuan disita darinya saat ditangkap pada tanggal 26 Juni. Dia mengalami gagal jantung dan gagal ginjal setelah mengalami penyiksaan dalam tahanan.

Zhao Xiqing (P), 85 tahun, dari Kota Wuhan, Provinsi Hubei, ditangkap di rumahnya pada tanggal 14 Juli. Polisi menggeledah rumahnya dan menyita uang tabungannya sebesar 250.000 yuan tunai. Meskipun dia dibebaskan keesokan harinya, polisi menolak untuk mengembalikan uang tersebut kepadanya.

Lansia Dijadikan Target

Penganiayaan terhadap praktisi lansia sangat marak terjadi pada tahun 2020. Terlepas dari usia mereka yang sudah lanjut, beberapa di antaranya masih tetap dipukuli dan disiksa setelah ditangkap.

Penyiksaan Fisik dan Penahanan Tanpa Akses Komunikasi

Ketika Chen Guifen yang berusia 80 tahun memeluk erat kitab Zhuan Falun—teks utama Falun Gong—di dadanya saat ditangkap pada 14 Agustus 2020, polisi mencengkeram tangan dan kaki wanita asal Kota Pengzhou, Provinsi Sichuan tersebut, menyeretnya ke mobil polisi, lalu membawanya ke kantor polisi. Dia dibebaskan sekitar jam 6 sore. Dua minggu kemudian, tangannya masih berbekas akibat dicengkram oleh petugas.

Setelah Lei Zhengxia usia 74 tahun asal Chongqing ditangkap di rumah anak perempuannya di Kota Xi’an, Provinsi Shaanxi pada 4 September 2020, seorang petugas polisi mendorongnya ke sudut ruang interogasi, meninju dadanya, memukul lehernya dengan sisi luar telapak tangan, dan membenturkan kepalanya ke dinding. Petugas lainnya mencoba menghantam kaki Lei dengan lututnya, tetapi istri Lei, yang ikut ditangkap bersamanya, berhasil menghentikan petugas tersebut.

Zhao Fenglan, perempuan lansia berusia 82 tahun dari Kota Benxi, Provinsi Liaoning, ditangkap di rumahnya pada tanggal 21 Juni 2020. Karena dia sudah kesulitan berjalan dan berbicara, polisi menggotongnya secara paksa untuk dibawa turun dari rumahnya. Sesampainya di kantor polisi, petugas mendudukkannya di kursi lalu menggotongnya ke lantai atas menuju ruang interogasi.

Polisi menginterogasi Zhao dari jam 10 pagi sampai jam 4 sore. Mereka berdalih sempat mencari Zhao di rumahnya tetapi tidak bertemu. Atas dasar itu, polisi menuduhnya telah melanggar ketentuan jaminan dari penangkapan sebelumnya dan memasukkan namanya ke dalam daftar buronan. Interogasi ini membuat Zhao sangat ketakutan, dan kondisinya tetap sangat lemah setelah dipulangkan pada hari yang sama.

Sementara itu, Yan Yixue, seorang perempuan lansia berusia 90 tahun dari Kota Shihezi, Provinsi Xinjiang, ditangkap menjelang konferensi politik PKT pada tanggal 22 Mei. Dia ditahan tanpa akses komunikasi sama sekali hingga awal Agustus. Saat akhirnya dibebaskan, kondisinya sudah kurus kering dan mengalami sakit punggung yang parah.

Zhou Shanhui, seorang wanita berusia 73 tahun dari Kota Pengzhou, Provinsi Sichuan, juga ditahan tanpa akses komunikasi setelah penangkapannya yang ke-13 karena latihan Falun Gong pada 8 September 2020.

Dana Pensiun Ditangguhkan

Selain penyiksaan fisik, taktik lain yang sangat menghancurkan yang digunakan untuk menganiaya para praktisi lansia adalah penangguhan dana pensiun mereka.

You Xiuying, perempuan usia 76 tahun dari Shanghai menerima surat pemberitahuan dari Kantor Jaminan Sosial pada akhir November 2020. Surat itu memintanya untuk melapor dalam waktu lima hari dengan membawa dokumen terkait hukuman penjara yang pernah dijalaninya dahulu karena latihan Falun Gong. Surat tersebut memperingatkan bahwa dana pensiunnya akan dihentikan jika dia tidak datang tepat waktu untuk memverifikasi hukuman satu tahun penjara yang diterimanya pada tahun 2016.

Meski tahu bahwa batas waktu lima hari itu hanyalah alasan dan pihak berwenang mungkin akan tetap menangguhkan dana pensiunnya entah dia datang atau tidak, You tetap mendatangi kantor jaminan sosial tersebut. Dia mengatakan kepada mereka, “Saya sedang menghadapi rantai penganiayaan yang sistematis. Anda menangkap saya secara ilegal, menghukum saya secara ilegal, dan sekarang Anda akan merampas dana pensiun saya secara ilegal.”

Terlepas dari pembelaan You, staf kantor jaminan sosial tetap bersikeras bahwa mereka harus mengikuti perintah atasan mereka dan akhirnya menangguhkan dana pensiunnya.

Meskipun ada banyak kasus di mana praktisi ditangguhkan dana pensiunnya untuk mengembalikan dana yang mereka terima selama menjalani masa tahanan, You adalah kasus kedua yang terkonfirmasi dalam beberapa bulan terakhir di mana kantor jaminan sosial menangguhkan dana pensiun seseorang murni karena mereka pernah dihukum karena keyakinan mereka di masa lalu. Praktisi lainnya, Yang Hejiang, pria usia 82 tahun dari Kota Suining, Provinsi Sichuan, dana pensiunnya telah ditahan sejak September 2020.

Dalam kasus Wei Xiuying (perempuan), meskipun dia memenangkan gugatan hukum melawan biro jaminan sosial setempat atas penahanan dana pensiunnya, biro tersebut tetap menolak untuk melanjutkan pembayarannya. Sebaliknya, mereka terus melecehkan dan menekannya untuk mengembalikan uang lebih dari 100.000 yuan yang telah dia terima selama masa hukuman penjara yang tidak sah karena latihan Falun Gong. Kini, dia menghadapi tekanan yang jauh lebih besar setelah pengadilan setempat memihak biro tersebut dan membekukan rekening banknya demi memaksanya mengembalikan jumlah uang tersebut.

Dampak Penganiayaan terhadap Keluarga

Bagi banyak praktisi lansia, mereka dan pasangan mereka saling mengandalkan satu sama lain untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Ketika mereka ditangkap atau dilecehkan karena keyakinan mereka, anggota keluarga mereka menghadapi kesulitan yang sangat besar.

Chen Lanzhi (perempuan), 85 tahun, dari Kota Jinan, Provinsi Shandong, ditangkap pada tanggal 20 Februari 2020 setelah dia memberikan sebuah buku kecil tentang Falun Gong kepada seorang pemuda. Polisi menggeledah rumahnya dan menyita buku-buku serta barang-barang pribadi miliknya.

Meskipun Chen dibebaskan pada hari yang sama, suaminya sangat ketakutan akibat penggerebekan polisi tersebut dan segera jatuh sakit. Dia terbaring di tempat tidur selama beberapa bulan dan meninggal dunia sekitar bulan September 2020.

Cheng Defu, seorang veteran berusia 73 tahun di Chongqing, berulang kali ditampar wajahnya hingga dua giginya tanggal dan lengannya terluka setelah ditangkap pada 7 Maret 2020. Polisi menyerahkan kasusnya ke kejaksaan, yang kemudian mendakwanya. Dua hari sebelum pertemuannya dengan hakim pada 3 Desesmber, polisi menangkap istrinya dan mengancamnya agar meninggalkan Cheng. Karena takut ikut terseret, sang istri kembali ke tempat tinggalnya sebelum menikah, meninggalkan Cheng yang harus berjuang sendirian untuk merawat dirinya sendiri.

Cao Yueling (perempuan), 40 tahun, dan ibunya, Chen Yan, 71 tahun, dijatuhi hukuman penjara terpisah dua tahun, masing-masing pada tahun 2016 dan 2018, karena keyakinan yang sama pada Falun Gong. Pada 10 Mei 2020, yaitu 18 bulan setelah Cao kembali ke rumah, Chen dibebaskan. Namun baru tiga bulan berselang, Cao kembali ditangkap dalam perjalanan mengunjungi anak-anak lelakinya. Karena berupaya meminta pembebasan putrinya, Chen kembali ditangkap pada 21 September. Kini, suaminya yang berusia 78 tahun tinggal sebatang kara dan harus berjuang sendiri untuk merawat dirinya.

Tragedi Keluarga Lainnya dan Dampak Penganiayaan terhadap Anak-Anak

Ketika PKT memerintahkan penganiayaan terhadap Falun Gong pada tahun 1999, mereka tidak hanya menyasar sekitar 100 juta praktisi, tetapi juga anggota keluarga mereka. Dalam 22 tahun terakhir, di saat banyak praktisi ditangkap, disiksa, dan dipenjarakan, keluarga mereka juga harus menanggung penderitaan dan rasa sakit yang tak terbayangkan. Beberapa dari mereka akhirnya memilih untuk meninggalkan para praktisi, beberapa mengalami penurunan kesehatan akibat tekanan yang berat, dan beberapa lainnya berani membela keadilan serta mendukung orang-orang yang mereka cintai untuk mempertahankan keyakinan mereka.

Setelah Jin Min perempuan dari Kota Jilin, Provinsi Jilin, ditangkap pada tanggal 11 September karena berbicara kepada seorang sopir taksi tentang Falun Gong, ayahnya yang berusia 80-an tahun berkeliling kota untuk mencari tahu keberadaannya. Namun, dia hanya dipingpong ke sana kemari dan ditolak saat ingin menjenguk putrinya.

Bu Rumei (perempuan), ayahnya yang tinggal bersamanya, sangat ketakutan ketika polisi datang menggeledah rumah mereka pada tanggal 16 April 2020. Akibatnya, penyakit mematikan yang diidapnya memburuk dan dia meninggal dunia sebulan kemudian. Meskipun Bu dari Kota Changzhou, Provinsi Jiangsu, dibebaskan keesokan harinya, pihak berwenang terus melecehkannya. Anak perempuan bungsunya yang berusia 12 tahun pernah berkata kepada seorang jaksa yang datang untuk menginterogasi mereka, “Ibu saya tidak melakukan kesalahan apa pun, dia juga tidak pernah menyakiti siapa pun. Saya tidak sanggup jika Anda menghukum ibu saya.”

Polisi mendobrak masuk ke rumah Yu Aili (perempuan) sekitar jam 6 pagi pada tanggal 15 Juli 2020 dan menangkapnya. Penangkapan Yu dan penahanan yang mengikutinya menyebabkan kesulitan yang sangat besar bagi suaminya, yang hanya bisa terbaring di tempat tidur setelah menderita stroke beberapa tahun lalu.

Yu bukanlah satu-satunya anggota keluarga yang menjadi sasaran karena keyakinannya. Ibu kandungnya, Liang Deqin, beserta saudara perempuannya, Yu Aiji, juga telah dianiaya. Setelah Liang yang sudah lansia dibebaskan dari penangkapan pada tahun 2015, dia merasa sangat ketakutan hingga selalu jatuh pingsan setiap kali mendengar langkah kaki di lorong rumah atau ketukan di pintu.

Yu Aiji dijatuhi hukuman tiga tahun penjara pada 21 Januari 2016. Ayahnya menderita stroke setelah mengetahui hukuman tersebut dan meninggal dunia. Hanya satu minggu kemudian, suaminya menceraikannya untuk menghindari ikut terseret dalam penganiayaan, dan sang suami mengambil alih seluruh harta milik mereka sendirian. Yu menerima pukulan telak lainnya ketika tidak lama setelah perceraiannya, perusahaan tempatnya bekerja memberi tahu bahwa dia telah dipecat. Dia mulai mengalami depresi dan tetap menarik diri sejak dibebaskan. Dia tidak mampu berinteraksi dengan orang lain ataupun bekerja.

Di saat orang dewasa kesulitan untuk bertahan, anak-anak mereka pun tidak luput dari penderitaan.

Setelah tiga warga Kota Shihezi, Wilayah Otonomi Uighur Xinjiang, ditangkap dan dibawa ke pusat pencucian otak pada November 2020, keluarga dan anak-anak mereka ditinggalkan dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.

Unterhaltung mit Gemini
While China was hit hard by the coronavirus pandemic in 2020, its ruling party, the Chinese Communist Party (CCP), has continued its persecution of Falun Gong, a spiritual discipline also known as Falun Dafa that is based on the principles of Truthfulness, Compassion, and Forbearance.

Ketika Tiongkok dihantam keras oleh pandemi virus corona pada tahun 2020, partai penguasanya, Partai Komunis Tiongkok (PKT), terus melanjutkan penganiayaan terhadap Falun Gong, sebuah disiplin spiritual yang juga dikenal sebagai Falun Dafa yang berdasarkan pada prinsip Sejati, Baik, dan Sabar.

Pandemic Didn’t Stop the CCP from Persecuting Falun Gong

Pandemi Tidak Menghentikan PKT untuk Menganiaya Falun Gong

According to information collected by Minghui.org, 6,659 practitioners were arrested and 8,576 were harassed in 2020. While the number of arrests remained similar to that of 6,109 the year before, 2020 saw a 2.4-fold increase in harassment cases compared to that of 3,582 in 2019.

Among the total 15,235 practitioners that were targeted in 2020, 3,588 had their homes ransacked and 537 were taken to brainwashing centers.

There were also 622 practitioners sentenced to prison for their faith (some of whom were part of the 6,659 arrested in 2020) and another 83 persecuted to death in 2020, both of which have been covered in detail in separate reports.

Menurut informasi yang dikumpulkan oleh Minghui.org, 6.659 praktisi ditangkap dan 8.576 dilecehkan pada tahun 2020. Meskipun jumlah penangkapan tetap serupa dengan jumlah tahun sebelumnya yaitu 6.109, tahun 2020 mengalami peningkatan kasus pelecehan sebesar 2,4 kali lipat dibandingkan dengan jumlah 3.582 pada tahun 2019.

Di antara total 15.235 praktisi yang dijadikan target pada tahun 2020, 3.588 rumahnya digeledah dan 537 dibawa ke pusat pencucian otak.

Ada juga 622 praktisi yang divonis penjara karena keyakinan mereka (beberapa di antaranya merupakan bagian dari 6.659 orang yang ditangkap pada tahun 2020) dan 83 orang lainnya dianiaya hingga tewas pada tahun 2020, yang keduanya telah dibahas secara terperinci dalam laporan terpisah.

Due to the nationwide lockdown after the outbreak of the coronavirus pandemic, January 2020 reported the fewest incidents of persecution. Over the next few months, however, the incidents of persecution steadily increased, with a small peak in April and a bigger peak in July.

The April and July peaks have been a trend over the years, as the authorities often intensify the suppression around two sensitive dates – April 25 and July 20. About 10,000 Falun Gong practitioners staged a peaceful sit-in appeal outside of the National Appeals Office in Beijing on April 25, 1999, and the CCP formally started the persecution of Falun Gong less than three months later, on July 20.

During the lockdown in the first half of 2020, many practitioners were targeted for stepping up their efforts to expose how the CCP has been using similar cover-up tactics used in the persecution to handle the coronavirus outbreak.

Karena karantina wilayah (lockdown) di seluruh negeri setelah pecahnya pandemi virus corona, Januari 2020 melaporkan insiden penganiayaan paling sedikit. Namun, selama beberapa bulan berikutnya, insiden penganiayaan terus meningkat secara stabil, dengan puncak kecil pada bulan April dan puncak yang lebih besar pada bulan Juli.

Puncak pada bulan April dan Juli telah menjadi tren selama bertahun-tahun, karena otoritas sering kali mengintensifkan penindasan di sekitar dua tanggal sensitif – 25 April dan 20 Juli. Sekitar 10.000 praktisi Falun Gong melakukan aksi permohonan damai dengan duduk di luar Kantor Permohonan Nasional di Beijing pada 25 April 1999, dan PKT secara resmi memulai penganiayaan terhadap Falun Gong kurang dari tiga bulan kemudian, pada 20 Juli.

Selama karantina wilayah pada paruh pertama tahun 2020, banyak praktisi yang dijadikan target karena meningkatkan upaya mereka untuk mengungkap bagaimana PKT telah menggunakan taktik penutupan informasi yang serupa dengan yang digunakan dalam penganiayaan untuk menangani wabah virus corona.

One woman in Hunan Province was forced to live away from home after the authorities found out that she had put up posters with QR codes that could connect to overseas websites with uncensored information about the pandemic. A physician in Ningxia Province was arrested twice, first in March and then in June, for handing out informational materials. Even a nine-year-old girl in Hubei Province wasn’t spared harassment after the police caught her putting up information in her neighborhood.

Seorang wanita di Provinsi Hunan terpaksa tinggal jauh dari rumah setelah pihak berwenang mengetahui bahwa dia telah menempelkan poster dengan kode QR yang dapat terhubung ke situs web luar negeri yang berisi informasi tanpa sensor tentang pandemi. Seorang dokter di Provinsi Ningxia ditangkap dua kali, pertama pada bulan Maret dan kemudian pada bulan Juni, karena membagikan materi informasi. Bahkan seorang anak perempuan berusia sembilan tahun di Provinsi Hubei tidak luput dari pelecehan setelah polisi menangkapnya saat sedang menempelkan informasi di lingkungan tempat tinggalnya.

The Massive “Zero-out” Harassment Campaign

Kampanye Pelecehan Skala Besar “Zero-out” (Penghapusan Total)

Entering the second half of the year, harassment cases began to outnumber the arrests, due to the nationwide “Zero-out” campaign. Similar to the “knocking on the door” harassment campaign in 2017 and the so-called gang cracking down campaign in 2018 that targeted the practitioners for their faith, the authorities visited every practitioner on the government’s blacklist and attempted to force them to renounce Falun Gong in the new “Zero-out” campaign.

The earliest harassment cases in the “Zero-out” effort that has swept the country were recorded in March 2020 in Guizhou Province. It was reported that the Political and Legal Affairs Committee (PLAC) in Guizhou issued an order to completely “transform” all practitioners between 2020 and 2023. Their order was based on a document (No. 101) released by the central PLAC in Beijing, titled “On the Issue of Reducing the Number of Falun Gong Practitioners.”

In the persecution of Falun Gong, the PLAC—an extra-judiciary agency that oversees state security, the procuratorate and court system—has played a central role in mediating persecution policy.

Memasuki paruh kedua tahun ini, kasus pelecehan mulai melebihi jumlah penangkapan karena adanya kampanye “Zero-out” (Penghapusan Total) di seluruh negeri. Mirip dengan kampanye pelecehan “mengetuk pintu” pada tahun 2017 dan kampanye yang disebut penindasan geng pada tahun 2018 yang menjadikan para praktisi sebagai target karena keyakinan mereka, pihak berwenang mendatangi setiap praktisi yang ada dalam daftar hitam pemerintah dan mencoba memaksa mereka untuk melepaskan Falun Gong dalam kampanye “Zero-out” yang baru ini.

Kasus pelecehan paling awal dalam upaya “Zero-out” yang melanda seluruh negeri ini tercatat pada Maret 2020 di Provinsi Guizhou. Dilaporkan bahwa Komite Urusan Politik dan Hukum (PLAC) di Guizhou mengeluarkan perintah untuk sepenuhnya “mengubah” semua praktisi antara tahun 2020 dan 2023. Perintah mereka didasarkan pada sebuah dokumen (No. 101) yang dirilis oleh PLAC pusat di Beijing, yang berjudul “Mengenai Masalah Pengurangan Jumlah Praktisi Falun Gong.”

Dalam penganiayaan terhadap Falun Gong, PLAC—sebuah lembaga ekstra-yudisial yang mengawasi keamanan negara, kejaksaan, dan sistem pengadilan—telah memainkan peran sentral dalam menjembatani kebijakan penganiayaan.

tolong tidak menterjemahkan policy dengan kebijakan. Kebijakan artinya positif, wisdom. Untuk PKT yang brutal, istilah kebijakan tidak cocok.

Baik, saya mengerti. Mulai sekarang saya tidak akan menggunakan kata “kebijakan” untuk menerjemahkan kata policy yang berkaitan dengan PKT.

Jika kata “kebijakan” kurang cocok karena memiliki konotasi positif (wisdom), saya akan menggantinya dengan istilah yang lebih netral atau sesuai konteks tindakan mereka, seperti “rencana”, “aturan”, “taktik”, atau “program”.

Berikut adalah perbaikan untuk paragraf terakhir berdasarkan masukan Anda:

Dalam penganiayaan terhadap Falun Gong, PLAC—sebuah lembaga ekstra-yudisial yang mengawasi keamanan negara, kejaksaan, dan sistem pengadilan—telah memainkan peran sentral dalam menjembatani rencana penganiayaan.

The local 610 Office and the PLAC, both tasked with overseeing the persecution, ordered local community officials and police to pressure the practitioners into submission. When challenged, the authorities put the practitioners in brainwashing centers and threatened their family members with the loss of their jobs if they didn’t talk the practitioners into giving up their practice. In Guangdong and Hainan Provinces, the authorities posted 100,000-yuan rewards for reporting a Falun Gong practitioner.

Some police officers harassed the practitioners’ family members and threatened to deny their children a college education in order to turn them against the practitioners.

The harassment further intensified in the last two months of 2020. While an average of 706 incidents per month were reported between March and October, that nearly doubled in November and December, at 1,285 and 1,358, respectively. It also resulted in more practitioners being taken to brainwashing centers in November and December, with the monthly average jumping from 40 in March and October to 110 in the last two months of the year.

Kantor 610 setempat dan PLAC, yang keduanya ditugaskan untuk mengawasi penganiayaan, memerintahkan petugas komunitas lokal dan polisi untuk menekan para praktisi agar tunduk. Ketika ditentang, pihak berwenang memasukkan para praktisi ke pusat pencucian otak dan mengancam anggota keluarga mereka dengan pemecatan dari pekerjaan jika mereka tidak membujuk para praktisi untuk melepaskan latihan mereka. Di Provinsi Guangdong dan Hainan, pihak berwenang memasang hadiah sebesar 100.000 yuan bagi siapa saja yang melaporkan seorang praktisi Falun Gong.

Beberapa petugas polisi melecehkan anggota keluarga praktisi dan mengancam akan menolak pendidikan perguruan tinggi anak-anak mereka demi menghasut mereka agar berbalik melawan para praktisi.

Pelecehan semakin meningkat dalam dua bulan terakhir tahun 2020. Meskipun rata-rata 706 insiden per bulan dilaporkan antara bulan Maret dan Oktober, jumlah itu naik hampir dua kali lipat pada bulan November dan Desember, masing-masing menjadi 1.285 dan 1.358 insiden. Hal ini juga mengakibatkan lebih banyak praktisi yang dibawa ke pusat pencucian otak pada bulan November dan Desember, dengan rata-rata bulanan melonjak dari 40 pada bulan Maret dan Oktober menjadi 110 dalam dua bulan terakhir tahun tersebut.

Ketika ditentang?

Mohon maaf atas ketidaktelitian saya. Kata “challenged” dalam konteks tersebut lebih tepat diartikan ketika para praktisi menolak atau tidak mau tunduk pada tekanan aparat.

Berikut adalah perbaikan kalimatnya agar lebih lugas dan mudah dimengerti:

Ketika para praktisi menolak, pihak berwenang memasukkan mereka ke pusat pencucian otak…

The cases of harassment in November and December 2020 represented 5- and 6.7 fold increases over 2019.

Kasus pelecehan pada bulan November dan Desember 2020 menunjukkan peningkatan masing-masing sebesar 5 dan 6,7 kali lipat dibandingkan tahun 2019.

The All-around Persecution

Penganiayaan Menyeluruh

Incidents of persecution in 2020 took place in 304 cities in 29 provinces and centrally-controlled municipalities. Hebei topped the list with the most practitioners (2,373) targets, followed by Heilongjiang, Shandong, Jilin, Sichuan, and Liaoning. The seventh province Hubei, the epicenter of the pandemic, recorded a total of 589 cases. Eighteen other provinces also registered triple-digit persecution cases (from 105 to 480). The remaining four provinces reported between 4 and 87 incidents.

Insiden penganiayaan pada tahun 2020 terjadi di 304 kota yang tersebar di 29 provinsi dan kotamadya yang dikendalikan langsung oleh pemerintah pusat. Hebei menduduki posisi teratas dengan jumlah praktisi terbanyak yang dijadikan target (2.373 orang), diikuti oleh Heilongjiang, Shandong, Jilin, Sichuan, dan Liaoning. Provinsi ketujuh, Hubei, yang merupakan pusat penyebaran pandemi, mencatat total 589 kasus. Delapan belas provinsi lainnya juga mencatat jumlah kasus penganiayaan mencapai tiga digit (dari 105 hingga 480 kasus). Sementara empat provinsi yang tersisa melaporkan antara 4 hingga 87 insiden.

2020 also saw more elderly practitioners being targeted. The 1,188 (7.8%) practitioners older than 65 arrested or harassed in 2020 was double that of 583 in 2019. In the 70 to 80 age group, 419 practitioners were arrested in 2020. Seventeen were in their 90s, with the oldest being 94.

Tahun 2020 juga menyaksikan lebih banyak praktisi lansia yang dijadikan target. Sebanyak 1.188 (7,8%) praktisi berusia di atas 65 tahun yang ditangkap atau dilecehkan pada tahun 2020 adalah dua kali lipat dari jumlah 583 orang pada tahun 2019. Pada kelompok usia 70 hingga 80 tahun, 419 praktisi ditangkap pada tahun 2020. Tujuh belas orang berada di usia 90-an, dengan yang tertua berusia 94 tahun.

In 2020, many arrested practitioners were brutally tortured and at least six died as a result. One woman died in police custody four days after her arrest on May 13. Another woman died hours after she was arrested on June 18. Two more female practitioners were beaten to death days after their arrests in late June.

Pada tahun 2020, banyak praktisi yang ditangkap disiksa secara brutal dan setidaknya enam orang tewas akibat penyiksaan tersebut. Seorang wanita tewas dalam tahanan polisi empat hari setelah penangkapannya pada tanggal 13 Mei. Wanita lainnya tewas hanya beberapa jam setelah dia ditangkap pada tanggal 18 Juni. Dua praktisi wanita lainnya dipukuli hingga tewas beberapa hari setelah penangkapan mereka pada akhir Juni.

Once imprisoned for 11 years, one male practitioner died a month and a half after his arrest in August. Another male practitioner died in October from being tortured in custody, two months after he was seized in a group arrest.

The 15,235 targeted practitioners came from all walks of life, including 320 professionals, such as college professors, high school teachers, lawyers, doctors, engineers, artists, journalists, interpreters, authors, and dancers.

A 25-year-old photographer who had just taken up Falun Gong not long ago was arrested for distributing Falun Gong flyers. A 77-year-old woman was arrested after being recorded on a bus for talking to people about Falun Gong. Others were arrested for studying the Falun Gong teachings together.

Pernah dipenjara selama 11 tahun, seorang praktisi pria tewas satu setengah bulan setelah penangkapannya pada bulan Agustus. Praktisi pria lainnya tewas pada bulan Oktober akibat disiksa dalam tahanan, dua bulan setelah dia ditangkap dalam sebuah penangkapan massal.

Sebanyak 15.235 praktisi yang dijadikan target berasal dari semua lapisan masyarakat, termasuk 320 profesional, seperti profesor perguruan tinggi, guru sekolah menengah, pengacara, dokter, insinyur, seniman, jurnalis, penerjemah, penulis, dan penari.

Seorang fotografer berusia 25 tahun yang baru saja mulai belajar Falun Gong belum lama ini, ditangkap karena membagikan selebaran Falun Gong. Seorang wanita berusia 77 tahun ditangkap setelah terekam di dalam bus saat sedang berbicara kepada orang-orang tentang Falun Gong. Yang lainnya ditangkap karena mempelajari ajaran Falun Gong bersama-sama.

Other than harassment, there were dozens of groups arrests reported throughout the year, including 18 practitioners in Jieyang City, Guangdong Province, arrested on June 14; over 10 practitioners in Xi’an City, Shaanxi Province, arrested on July 26; 21 practitioners in Changsha City, Hunan Province, arrested on October 27; and over 80 practitioners in Hegang City, Heilongjiang Province, arrested between December 11 and 13.

Notably, three of the practitioners arrested in Xi’an on July 26 were in their 80s, four were in their late 70s, and one was around 60.

A large family in Kunming City, Yunnan Province was arrested twice in seven days around the Mid-Autumn Festival on October 1, which is a traditional holiday for family reunions.

Selain pelecehan, ada puluhan kasus penangkapan massal yang dilaporkan sepanjang tahun tersebut, termasuk 18 praktisi di Kota Jieyang, Provinsi Guangdong, yang ditangkap pada 14 Juni; lebih dari 10 praktisi di Kota Xi’an, Provinsi Shaanxi, ditangkap pada 26 Juli; 21 praktisi di Kota Changsha, Provinsi Hunan, ditangkap pada 27 Oktober; dan lebih dari 80 praktisi di Kota Hegang, Provinsi Heilongjiang, ditangkap antara 11 dan 13 Desemeber.

Yang perlu diperhatikan, tiga dari praktisi yang ditangkap di Xi’an pada 26 Juli berusia 80-an tahun, empat orang berusia akhir 70-an tahun, dan satu orang berusia sekitar 60 tahun.

Satu keluarga besar di Kota Kunming, Provinsi Yunnan, ditangkap dua kali dalam waktu tujuh hari di sekitar Festival Pertengahan Musim Gugur pada 1 Oktober, yang merupakan hari libur tradisional untuk berkumpulnya keluarga.

In addition to the arrests and torture in custody, many practitioners had their day-to-day lives disrupted, as well as personal safety, business, and health compromised.

Selain penangkapan dan penyiksaan dalam tahanan, banyak praktisi yang kehidupan sehari-harinya terganggu, serta keselamatan pribadi, bisnis, dan kesehatan mereka terancam.

One engineer fired from his job due to his faith was denied housing and forced into displacement shortly after he was released from a two-year term. A retired physician is still detained in custody even though she has been diagnosed with lung cancer.

In some cases, it’s not only the practitioners themselves that were targeted for their faith, but their family members, who were also harassed, arrested, and interrogated. One practitioner’s four-year-old grandson was denied admission to kindergarten because she refused to renounce Falun Gong.

One woman’s son was held hostage in the police station after she escaped arrest and another practitioner’s son’s clinic was forcibly shut down after she refused to sign a statement to renounce Falun Gong.

Seorang insinyur yang dipecat dari pekerjaannya karena keyakinannya, ditolak untuk mendapatkan tempat tinggal dan terpaksa berpindah-pindah tempat tidak lama setelah dia dibebaskan dari hukuman dua tahun penjara. Seorang dokter pensiunan masih tetap ditahan dalam tahanan meskipun dia telah didiagnosis menderita kanker paru-paru.

Dalam beberapa kasus, bukan hanya para praktisi itu sendiri yang dijadikan target karena keyakinan mereka, tetapi anggota keluarga mereka juga ikut dilecehkan, ditangkap, dan diinterogasi. Cucu laki-laki seorang praktisi yang berusia empat tahun ditolak masuk taman kanak-kanak karena sang nenek menolak untuk melepaskan Falun Gong.

Anak laki-laki seorang wanita disandera di kantor polisi setelah wanita tersebut lolos dari penangkapan, dan klinik anak laki-laki dari praktisi lainnya ditutup secara paksa setelah praktisi tersebut menolak menandatangani surat pernyataan untuk melepaskan Falun Gong.

Having grown up witnessing the persecution of his parents, a young man was devastated to lose his father due to the persecution, following his latest arrest with his mother. Now the young man is seeking justice for his mother, who has remained in custody since and faces prison time.

Setelah tumbuh besar menyaksikan penganiayaan terhadap orang tuanya, seorang pemuda sangat terpukul karena kehilangan ayahnya akibat penganiayaan tersebut, menyusul penangkapan terbaru sang ayah bersama ibunya. Kini, pemuda tersebut sedang memperjuangkan keadilan bagi ibunya, yang sejak saat itu masih terus ditahan dan menghadapi hukuman penjara.

Some practitioners have suffered decade-long incarceration and torture before being targeted for their faith again. A woman in Yinchuan City, Ningxia Province, was arrested again after having been detained for 13 years. Another man in Hegang City, Heilongjiang Province, who has spent 15 years in detention, was arrested in a police sweep in mid-December.

Beberapa praktisi telah menderita penahanan dan penyiksaan selama satu dekade sebelum kembali dijadikan target karena keyakinan mereka. Seorang wanita di Kota Yinchuan, Provinsi Ningxia, ditangkap lagi setelah sempat ditahan selama 13 tahun. Pria lainnya di Kota Hegang, Provinsi Heilongjiang, yang telah menghabiskan waktu 15 tahun dalam penahanan, ditangkap dalam sebuah operasi pembersihan oleh polisi pada pertengahan Desember.

Financial Persecution

Penganiayaan Finansial

A total of 7,284,097.56 yuan was extorted or confiscated from 401 practitioners during their arrests, averaging 18,165 yuan per person. Another 161 practitioners had their pensions suspended in 2020. Most of them were forced to pay back pensions that they had received during their imprisonment because of their faith, even though neither the Labor Law nor the Social Insurance Law of China stipulates that pensions should be suspended while serving a sentence.

When an injured Ms. Zhang Wenqing returned home in June after serving four years in prison for her faith in Falun Gong, the Fushun City, Liaoning Province resident was devastated to learn that her father had passed away a year before. She was dealt another heavy blow when she discovered that her 27 years of service had been cleared by her employer, resulting in no pension benefits. Now the 52-year-old former music teacher, who lives with her mother in her 80s, is facing tremendous financial difficulty to make ends meet.

Sebanyak 7.284.097,56 yuan diperas atau disita dari 401 praktisi selama penangkapan mereka, dengan rata-rata 18.165 yuan per orang. Sebanyak 161 praktisi lainnya ditangguhkan dana pensiunnya pada tahun 2020. Sebagian besar dari mereka dipaksa untuk mengembalikan dana pensiun yang telah mereka terima selama masa penahanan karena keyakinan mereka, meskipun baik Undang-Undang Ketenagakerjaan maupun Undang-Undang Asuransi Sosial Tiongkok tidak menetapkan bahwa dana pensiun harus ditangguhkan saat menjalani hukuman.

Ketika Ibu Zhang Wenqing yang sedang terluka kembali ke rumah pada bulan Juni setelah menjalani hukuman empat tahun penjara karena keyakinannya pada Falun Gong, warga Kota Fushun, Provinsi Liaoning ini sangat terpukul saat mengetahui bahwa ayahnya telah meninggal dunia setahun sebelumnya. Dia kembali menerima pukulan berat ketika mendapati bahwa masa kerjanya selama 27 tahun telah dihapus oleh tempatnya bekerja, sehingga dia tidak mendapatkan tunjangan pensiun sama sekali. Kini, mantan guru musik berusia 52 tahun tersebut, yang tinggal bersama ibunya yang berusia 80-an tahun, menghadapi kesulitan finansial yang sangat besar untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Mr. Ren Haifei of Dalian City, Liaoning Province, had 500,000 yuan in cash and computer supplies worth more than 200,000 yuan confiscated from him during his arrest on June 26. He developed heart and kidney failure after being abused in custody.

Ms. Zhao Xiqing, 85, from Wuhan City, Hubei Province, was arrested at home on July 14. The police ransacked her home and confiscated her savings of 250,000 yuan in cash. Although she was released the next day, the police refused to return the money to her.

Bapak Ren Haifei dari Kota Dalian, Provinsi Liaoning, mendapati uang tunai sebesar 500.000 yuan dan perlengkapan komputer senilai lebih dari 200.000 yuan disita darinya saat ditangkap pada tanggal 26 Juni. Dia mengalami gagal jantung dan gagal ginjal setelah mengalami penyiksaan dalam tahanan.

Ibu Zhao Xiqing, 85 tahun, dari Kota Wuhan, Provinsi Hubei, ditangkap di rumahnya pada tanggal 14 Juli. Polisi menggeledah rumahnya dan menyita uang tabungannya sebesar 250.000 yuan tunai. Meskipun dia dibebaskan keesokan harinya, polisi menolak untuk mengembalikan uang tersebut kepadanya.

Elderly Targeted

Lansia Dijadikan Target

The persecution of elderly practitioners was especially rampant in 2020. Despite their advanced age, some were still beaten and abused after being arrested.

Penganiayaan terhadap praktisi lansia sangat marak terjadi pada tahun 2020. Terlepas dari usia mereka yang sudah lanjut, beberapa di antaranya masih tetap dipukuli dan disiksa setelah ditangkap.

Physical Abuse and Held Incommunicado Detention

Penyiksaan Fisik dan Penahanan Tanpa Akses Komunikasi

When 80-year-old Ms. Chen Guifen held her copy of Zhuan Falun, the main text of Falun Gong, tightly to her chest during her arrest on August 14, 2020, the police grabbed the Pengzhou City, Sichuan Province, woman’s hands and feet, dragged her to the police car, and took her to the police station. She was released at around 6 p.m. Two weeks later, her hands still had marks where the officers pinched her.

After 74-year-old Mr. Lei Zhengxia of Chongqing was arrested at his daughter’s home in Xi’an City, Shaanxi Province on September 4, 2020, a police officer pushed him into a corner of the interrogation room, punched him in the chest, hit his neck with the edge of his hand, and slammed his head against the wall. Another officer attempted to strike Mr. Lei’s legs with his knees, but Mr. Lei’s wife, who was arrested with him, stopped the officer.

Ketika Ibu Chen Guifen yang berusia 80 tahun memeluk erat kitab Zhuan Falun—teks utama Falun Gong—di dadanya saat ditangkap pada 14 Agustus 2020, polisi mencengkeram tangan dan kaki wanita asal Kota Pengzhou, Provinsi Sichuan tersebut, menyeretnya ke mobil polisi, lalu membawanya ke kantor polisi. Dia dibebaskan sekitar jam 6 sore. Dua minggu kemudian, tangannya masih berbekas akibat dicubit oleh petugas.

Setelah Bapak Lei Zhengxia yang berusia 74 tahun asal Chongqing ditangkap di rumah anak perempuannya di Kota Xi’an, Provinsi Shaanxi pada 4 September 2020, seorang petugas polisi mendorongnya ke sudut ruang interogasi, meninju dadanya, memukul lehernya dengan sisi luar telapak tangan, dan membenturkan kepalanya ke dinding. Petugas lainnya mencoba menghantam kaki Bapak Lei dengan lututnya, tetapi istri Bapak Lei, yang ikut ditangkap bersamanya, berhasil menghentikan petugas tersebut.

Ms. Zhao Fenglan, 82, of Benxi City, Liaoning Province, was arrested at home on June 21, 2020. As she was having trouble walking and talking, the police forcibly carried her downstairs. At the police station, the police put her in a chair and carried her upstairs to the interrogation room.

The police interrogated Ms. Zhao from 10 a.m. to 4 p.m. They claimed that they had attempted to look for her at home, but couldn’t find her. They accused her of violating conditions of her bail from a previous arrest and put her on the wanted list. Ms. Zhao was terrified by the interrogation and she remained very weak after she was taken home later that day.

Ms. Yan Yixue, 90, of Shihezi City, Xinjiang Province, was arrested prior to the CCP’s political conference on May 22 and held in incommunicado detention until early August. She was emaciated and had severe back pain when she was released.

Ibu Zhao Fenglan, 82 tahun, dari Kota Benxi, Provinsi Liaoning, ditangkap di rumahnya pada tanggal 21 Juni 2020. Karena dia mengalami kesulitan berjalan dan berbicara, polisi menggotongnya secara paksa ke lantai bawah. Di kantor polisi, polisi mendudukkannya di sebuah kursi lalu menggotongnya ke lantai atas menuju ruang interogasi.

Polisi menginterogasi Ibu Zhao dari jam 10 pagi hingga jam 4 sore. Mereka mengeklaim bahwa mereka sempat mencoba mencarinya di rumah tetapi tidak dapat menemukannya. Mereka menuduhnya telah melanggar ketentuan jaminan dari penangkapan sebelumnya dan memasukkannya ke dalam daftar buronan. Ibu Zhao merasa sangat ketakutan akibat interogasi tersebut dan kondisinya tetap sangat lemah setelah dia dibawa pulang pada hari yang sama.

Ibu Yan Yixue, 90 tahun, dari Kota Shihezi, Provinsi Xinjiang, ditangkap sebelum konferensi politik PKT pada tanggal 22 Mei dan ditahan tanpa akses komunikasi hingga awal Agustus. Dia menjadi sangat kurus kering dan mengalami sakit punggung yang parah saat dibebaskan.

ulang

Ibu Zhao Fenglan, seorang lansia berusia 82 tahun dari Kota Benxi, Provinsi Liaoning, ditangkap di rumahnya pada tanggal 21 Juni 2020. Karena dia sudah kesulitan berjalan dan berbicara, polisi menggotongnya secara paksa untuk dibawa turun dari rumahnya. Sesampainya di kantor polisi, petugas mendudukkannya di kursi lalu menggotongnya ke lantai atas menuju ruang interogasi.

Polisi menginterogasi Ibu Zhao dari jam 10 pagi sampai jam 4 sore. Mereka berdalih sempat mencari Ibu Zhao di rumahnya tetapi tidak bertemu. Atas dasar itu, polisi menuduhnya telah melanggar ketentuan jaminan dari penangkapan sebelumnya dan memasukkan namanya ke dalam daftar buronan. Interogasi ini membuat Ibu Zhao sangat ketakutan, dan kondisinya tetap sangat lemah setelah dipulangkan pada hari yang sama.

Sementara itu, Ibu Yan Yixue, seorang lansia berusia 90 tahun dari Kota Shihezi, Provinsi Xinjiang, ditangkap menjelang konferensi politik PKT pada tanggal 22 Mei. Dia ditahan tanpa akses komunikasi sama sekali hingga awal Agustus. Saat akhirnya dibebaskan, kondisinya sudah kurus kering dan mengalami sakit punggung yang parah.

Zhou Shanhui, a 73-year-old Pengzhou City, Sichuan Province, woman was also detained incommunicado following her 13th arrest for practicing Falun Gong on September 8, 2020.

Zhou Shanhui, seorang wanita berusia 73 tahun dari Kota Pengzhou, Provinsi Sichuan, juga ditahan tanpa akses komunikasi setelah penangkapannya yang ke-13 karena latihan Falun Gong pada 8 September 2020.

Pensions Suspended

Dana Pensiun Ditangguhkan

In addition to physical abuse, another devastating tactic used to persecute elderly practitioners was the suspension of their pensions.

Selain penyiksaan fisik, taktik lain yang sangat menghancurkan yang digunakan untuk menganiaya para praktisi lansia adalah penangguhan dana pensiun mereka.

Ms. You Xiuying, 76, from Shanghai received a notice from the Social Security Office in late November 2020 to report to them within five days with documents of her previous imprisonment for practicing Falun Gong. The notice warned that her pension would be stopped if she failed to come on time to verify her one-year prison sentence in 2016.

Knowing that the five-day deadline was only an excuse and that the authorities might just suspend her pension whether she showed up or not, Ms. You still went to the social security office. She told them, “I am facing an assembly line of persecution. You illegally arrested me, illegally sentenced me, and now you are going to illegally take away my pension.”

Ibu You Xiuying, 76 tahun, dari Shanghai menerima surat pemberitahuan dari Kantor Jaminan Sosial pada akhir November 2020. Surat itu memintanya untuk melapor dalam waktu lima hari dengan membawa dokumen terkait hukuman penjara yang pernah dijalaninya dahulu karena latihan Falun Gong. Surat tersebut memperingatkan bahwa dana pensiunnya akan dihentikan jika dia tidak datang tepat waktu untuk memverifikasi hukuman satu tahun penjara yang diterimanya pada tahun 2016.

Meski tahu bahwa batas waktu lima hari itu hanyalah alasan dan pihak berwenang mungkin akan tetap menangguhkan dana pensiunnya entah dia datang atau tidak, Ibu You tetap mendatangi kantor jaminan sosial tersebut. Dia mengatakan kepada mereka, “Saya sedang menghadapi rantai penganiayaan yang sistematis. Anda menangkap saya secara ilegal, menghukum saya secara ilegal, dan sekarang Anda akan merampas dana pensiun saya secara ilegal.”

Despite Ms. You’s appeal, the social security office staff insisted that they had to follow their supervisor’s orders and suspended her pension.

While there have been many instances of practitioners having their pensions suspended to pay back the funds they received while serving time, Ms. You is the second confirmed case in recent months in which the social security office suspended the person’s pension simply because they had been sentenced for their faith in the past. Another practitioner, Mr. Yang Hejiang, 82, from Suining City, Sichuan Province, has had his pension withheld since September 2020.

Terlepas dari pembelaan Ibu You, staf kantor jaminan sosial tetap bersikeras bahwa mereka harus mengikuti perintah atasan mereka dan akhirnya menangguhkan dana pensiunnya.

Meskipun ada banyak kasus di mana praktisi ditangguhkan dana pensiunnya untuk mengembalikan dana yang mereka terima selama menjalani masa tahanan, Ibu You adalah kasus kedua yang terkonfirmasi dalam beberapa bulan terakhir di mana kantor jaminan sosial menangguhkan dana pensiun seseorang murni karena mereka pernah dihukum karena keyakinan mereka di masa lalu. Praktisi lainnya, Bapak Yang Hejiang, 82 tahun, dari Kota Suining, Provinsi Sichuan, dana pensiunnya telah ditahan sejak September 2020.

In the case of Ms. Wei Xiuying, even though she won the lawsuit against her local social security bureau for withholding her pension, the bureau still refused to resume her payments. Instead, they kept harassing her and pressing her to return the over 100,000 yuan she had received during her wrongful prison term for practicing Falun Gong. She is now faced with even more pressure after the local court sided with the bureau and froze her bank account in order to force her to repay the amount.

Dalam kasus Ibu Wei Xiuying, meskipun dia memenangkan gugatan hukum melawan biro jaminan sosial setempat atas penahanan dana pensiunnya, biro tersebut tetap menolak untuk melanjutkan pembayarannya. Sebaliknya, mereka terus melecehkan dan menekannya untuk mengembalikan uang lebih dari 100.000 yuan yang telah dia terima selama masa hukuman penjara yang tidak sah karena latihan Falun Gong. Kini, dia menghadapi tekanan yang jauh lebih besar setelah pengadilan setempat memihak biro tersebut dan membekukan rekening banknya demi memaksanya mengembalikan jumlah uang tersebut.

Impact of the Persecution on Families

Dampak Penganiayaan terhadap Keluarga

For many of the elderly practitioners, they and their spouses rely on each other to manage day-to-day. When they are arrested or harassed for their faith, their family members face tremendous difficulties.

Ms. Chen Lanzhi, 85, from Jinan City, Shandong Province, was arrested on February 20, 2020, after she gave a young man a booklet about Falun Gong. The police ransacked her home and confiscated her books and other personal items.

Although Ms. Chen was released the same day, her husband was terrified by the police raid and soon fell ill. He was bedridden for a few months and passed away around September 2020.

Bagi banyak praktisi lansia, mereka dan pasangan mereka saling mengandalkan satu sama lain untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Ketika mereka ditangkap atau dilecehkan karena keyakinan mereka, anggota keluarga mereka menghadapi kesulitan yang sangat besar.

Ibu Chen Lanzhi, 85 tahun, dari Kota Jinan, Provinsi Shandong, ditangkap pada tanggal 20 Februari 2020 setelah dia memberikan sebuah buku kecil tentang Falun Gong kepada seorang pemuda. Polisi menggeledah rumahnya dan menyita buku-buku serta barang-barang pribadi miliknya.

Meskipun Ibu Chen dibebaskan pada hari yang sama, suaminya sangat ketakutan akibat penggerebekan polisi tersebut dan segera jatuh sakit. Dia terbaring di tempat tidur selama beberapa bulan dan meninggal dunia sekitar bulan September 2020.

Mr. Cheng Defu, a 73-year-old veteran in Chongqing, was repeatedly slapped in the face and had two of his teeth knocked out and his arm injured after he was arrested on March 7, 2020. The police submitted his case to the prosecutor, who indicted him. Two days before his meeting with the judge on December 3, the police arrested his wife and threatened her to leave him. Fearful of being implicated, she went back to where lived before she married, leaving Mr. Cheng struggling to care for himself on his own.

Ms. Cao Yueling, 40, and her mother, Ms. Chen Yan, 71, were sentenced to prison for their shared faith in Falun Gong two years apart, in 2016 and 2018, respectively. On May 10, 2020, 18 months after Ms. Cao returned home, Ms. Chen was released. Only three months later, Ms. Cao was arrested again on her way to visit her sons. For seeking her daughter’s release, Ms. Chen was arrested again on September 21. Now her 78-year-old husband is on his own, struggling to care for himself.

Bapak Cheng Defu, seorang veteran berusia 73 tahun di Chongqing, berulang kali ditampar wajahnya hingga dua giginya tanggal dan lengannya terluka setelah ditangkap pada 7 Maret 2020. Polisi menyerahkan kasusnya ke kejaksaan, yang kemudian mendakwanya. Dua hari sebelum pertemuannya dengan hakim pada 3 Desesmber, polisi menangkap istrinya dan mengancamnya agar meninggalkan Bapak Cheng. Karena takut ikut terseret, sang istri kembali ke tempat tinggalnya sebelum menikah, meninggalkan Bapak Cheng yang harus berjuang sendirian untuk merawat dirinya sendiri.

Ibu Cao Yueling, 40 tahun, dan ibunya, Ibu Chen Yan, 71 tahun, dijatuhi hukuman penjara terpisah dua tahun, masing-masing pada tahun 2016 dan 2018, karena keyakinan yang sama pada Falun Gong. Pada 10 Mei 2020, yaitu 18 bulan setelah Ibu Cao kembali ke rumah, Ibu Chen dibebaskan. Namun baru tiga bulan berselang, Ibu Cao kembali ditangkap dalam perjalanan mengunjungi anak-anak lelakinya. Karena berupaya meminta pembebasan putrinya, Ibu Chen kembali ditangkap pada 21 September. Kini, suaminya yang berusia 78 tahun tinggal sebatang kara dan harus berjuang sendiri untuk merawat dirinya.

Ibu Cao Yueling, 40 tahun, dan ibunya, Ibu Chen Yan, 71 tahun, dijatuhi hukuman penjara terpisah dua tahun, masing-masing pada tahun 2016 dan 2018, karena keyakinan yang sama pada Falun Gong. Pada 10 Mei 2020, yaitu 18 bulan setelah Ibu Cao kembali ke rumah, Ibu Chen dibebaskan. Namun baru tiga bulan berselang, Ibu Cao kembali ditangkap dalam perjalanan mengunjungi anak-anak lelakinya. Karena berupaya meminta pembebasan putrinya, Ibu Chen kembali ditangkap pada 21 September. Kini, suaminya yang berusia 78 tahun tinggal sebatang kara dan harus berjuang sendiri untuk merawat dirinya.

Teks yang Anda kirimkan sudah dalam bahasa Indonesia hasil terjemahan sebelumnya. Apakah Anda ingin saya menerjemahkan ulang teks tersebut agar tata bahasanya menjadi lebih luwes, lugas, dan lebih mudah dimengerti?

More Family Tragedies and the Impact of Persecution on Children

Tragedi Keluarga Lainnya dan Dampak Penganiayaan terhadap Anak-Anak

When the CCP ordered the persecution of Falun Gong in 1999, they didn’t only target the estimated 100-million practitioners, but also their family members. In the past 22 years, while many of the practitioners were arrested, tortured and imprisoned themselves, their families also endured unspeakable agony and pain. Some of them later chose to leave the practitioners, some saw their health deteriorated due to the pressure, and some others stood up for justice and supported their loved ones in upholding their faith.

After Ms. Jin Min from Jilin City, Jilin Province, was arrested on September 11 for talking to a taxi driver about Falun Gong. Her father, in his 80s, went around town asking about her, only to be given run-arounds and denied a visit to her.

Ketika PKT memerintahkan penganiayaan terhadap Falun Gong pada tahun 1999, mereka tidak hanya menyasar sekitar 100 juta praktisi, tetapi juga anggota keluarga mereka. Dalam 22 tahun terakhir, di saat banyak praktisi ditangkap, disiksa, dan dipenjarakan, keluarga mereka juga harus menanggung penderitaan dan rasa sakit yang tak terbayangkan. Beberapa dari mereka akhirnya memilih untuk meninggalkan para praktisi, beberapa mengalami penurunan kesehatan akibat tekanan yang berat, dan beberapa lainnya berani membela keadilan serta mendukung orang-orang yang mereka cintai untuk mempertahankan keyakinan mereka.

Setelah Ibu Jin Min dari Kota Jilin, Provinsi Jilin, ditangkap pada tanggal 11 September karena berbicara kepada seorang sopir taksi tentang Falun Gong, ayahnya yang berusia 80-an tahun berkeliling kota untuk mencari tahu keberadaannya. Namun, dia hanya dipingpong ke sana kemari dan ditolak saat ingin menjenguk putrinya.

Ms. Bu Rumei’s father, who lived with Ms. Bu, was so terrified when the police came to ransack their place on April 16, 2020, that his terminal illness took a turn for the worse and he died a month later. Although Ms. Bu of Changzhou City, Jiangsu Province, was released the next day, the authorities kept harassing her. Her 12-year-old younger daughter once said to a prosecutor who came to ask them questions, “My mom didn’t do anything wrong, nor has she harmed anyone. I couldn’t take it if you sentence my mom.”

The police broke into Ms. Yu Aili’s home at around 6 a.m. on July 15, 2020, and arrested her. Ms. Yu’s arrest and subsequent detention caused tremendous difficulty for her husband, who is bedridden after suffering a stroke years ago.

Ms. Yu wasn’t the only one in her family who has been targeted for her faith. Both her mother, Ms. Liang Deqin, and her sister, Ms. Yu Aiji, have been persecuted. After the elderly Ms. Liang was released after an arrest in 2015, she was so terrified that she collapsed whenever she heard footsteps in the hallway or a knock on the door.

Ayah Ibu Bu Rumei, yang tinggal bersamanya, sangat ketakutan ketika polisi datang menggeledah rumah mereka pada tanggal 16 April 2020. Akibatnya, penyakit mematikan yang diidapnya memburuk dan dia meninggal dunia sebulan kemudian. Meskipun Ibu Bu dari Kota Changzhou, Provinsi Jiangsu, dibebaskan keesokan harinya, pihak berwenang terus melecehkannya. Anak perempuan bungsunya yang berusia 12 tahun pernah berkata kepada seorang jaksa yang datang untuk menginterogasi mereka, “Ibu saya tidak melakukan kesalahan apa pun, dia juga tidak pernah menyakiti siapa pun. Saya tidak sanggup jika Anda menghukum ibu saya.”

Polisi mendobrak masuk ke rumah Ibu Yu Aili sekitar jam 6 pagi pada tanggal 15 Juli 2020 dan menangkapnya. Penangkapan Ibu Yu dan penahanan yang mengikutinya menyebabkan kesulitan yang sangat besar bagi suaminya, yang hanya bisa terbaring di tempat tidur setelah menderita stroke beberapa tahun lalu.

Ibu Yu bukanlah satu-satunya anggota keluarga yang menjadi sasaran karena keyakinannya. Ibu kandungnya, Ibu Liang Deqin, beserta saudara perempuannya, Ibu Yu Aiji, juga telah dianiaya. Setelah Ibu Liang yang sudah lansia dibebaskan dari penangkapan pada tahun 2015, dia merasa sangat ketakutan hingga selalu jatuh pingsan setiap kali mendengar langkah kaki di lorong rumah atau ketukan di pintu.

Ms. Bu Rumei’s father, who lived with Ms. Bu, was so terrified when the police came to ransack their place on April 16, 2020, that his terminal illness took a turn for the worse and he died a month later. Although Ms. Bu of Changzhou City, Jiangsu Province, was released the next day, the authorities kept harassing her. Her 12-year-old younger daughter once said to a prosecutor who came to ask them questions, “My mom didn’t do anything wrong, nor has she harmed anyone. I couldn’t take it if you sentence my mom.”

The police broke into Ms. Yu Aili’s home at around 6 a.m. on July 15, 2020, and arrested her. Ms. Yu’s arrest and subsequent detention caused tremendous difficulty for her husband, who is bedridden after suffering a stroke years ago.

Ms. Yu wasn’t the only one in her family who has been targeted for her faith. Both her mother, Ms. Liang Deqin, and her sister, Ms. Yu Aiji, have been persecuted. After the elderly Ms. Liang was released after an arrest in 2015, she was so terrified that she collapsed whenever she heard footsteps in the hallway or a knock on the door.

Ayah Ibu Bu Rumei, yang tinggal bersamanya, sangat ketakutan ketika polisi datang menggeledah rumah mereka pada tanggal 16 April 2020. Akibatnya, penyakit mematikan yang diidapnya memburuk dan dia meninggal dunia sebulan kemudian. Meskipun Ibu Bu dari Kota Changzhou, Provinsi Jiangsu, dibebaskan keesokan harinya, pihak berwenang terus melecehkannya. Anak perempuan bungsunya yang berusia 12 tahun pernah berkata kepada seorang jaksa yang datang untuk menginterogasi mereka, “Ibu saya tidak melakukan kesalahan apa pun, dia juga tidak pernah menyakiti siapa pun. Saya tidak sanggup jika Anda menghukum ibu saya.”

Polisi mendobrak masuk ke rumah Ibu Yu Aili sekitar jam 6 pagi pada tanggal 15 Juli 2020 dan menangkapnya. Penangkapan Ibu Yu dan penahanan yang mengikutinya menyebabkan kesulitan yang sangat besar bagi suaminya, yang hanya bisa terbaring di tempat tidur setelah menderita stroke beberapa tahun lalu.

Ibu Yu bukanlah satu-satunya anggota keluarga yang menjadi sasaran karena keyakinannya. Ibu kandungnya, Ibu Liang Deqin, beserta saudara perempuannya, Ibu Yu Aiji, juga telah dianiaya. Setelah Ibu Liang yang sudah lansia dibebaskan dari penangkapan pada tahun 2015, dia merasa sangat ketakutan hingga selalu jatuh pingsan setiap kali mendengar langkah kaki di lorong rumah atau ketukan di pintu.

Yu Aiji was sentenced to three years on January 21, 2016. Her father suffered a stroke after learning about her sentencing and passed away. Only one week later, her husband divorced her to avoid being implicated in the persecution and he took sole possession of all of their property. Ms. Yu was dealt another blow when, not long after her divorce, her employer informed her that she had been fired. She began to suffer depression and remains withdrawn since her release. She is unable to interact with people or work.

While adults have trouble coping, their children do not remain unscathed.

After three residents of Shihezi City, Xinjiang Uyghur Autonomous Region, were arrested and taken to a brainwashing center in November 2020, their families and children were left in dire straits.

Yu Aiji dijatuhi hukuman tiga tahun penjara pada 21 Januari 2016. Ayahnya menderita stroke setelah mengetahui hukuman tersebut dan meninggal dunia. Hanya satu minggu kemudian, suaminya menceraikannya untuk menghindari ikut terseret dalam penganiayaan, dan sang suami mengambil alih seluruh harta milik mereka sendirian. Ibu Yu menerima pukulan telak lainnya ketika tidak lama setelah perceraiannya, perusahaan tempatnya bekerja memberi tahu bahwa dia telah dipecat. Dia mulai mengalami depresi dan tetap menarik diri sejak dibebaskan. Dia tidak mampu berinteraksi dengan orang lain ataupun bekerja.

Di saat orang dewasa kesulitan untuk bertahan, anak-anak mereka pun tidak luput dari penderitaan.

Setelah tiga warga Kota Shihezi, Wilayah Otonomi Uighur Xinjiang, ditangkap dan dibawa ke pusat pencucian otak pada November 2020, keluarga dan anak-anak mereka ditinggalkan dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.

The police harassed Ms. Zhan Ying’s daughter, Ms. Zou Xiaoyu, who had also been arrested and detained for her shared faith in the past. The younger woman was beaten and forced to stand for long hours during her detention in a brainwashing center. Unable to bear the pressure, she inflicted harm on herself several times. She was unable to move and became mute for a period of time. Although she gradually recovered after being released, she would still become mute, shake involuntarily, and feel weakness in her legs when she was distressed.

After the arrests of Ms. Wang Xiaoying and her husband Mr. Bao Feng, their child went to the police station at 9 p.m. to look for the father, but was stonewalled. The child burst into tears and stayed at the police station until 2 a.m. The police had to take the child home to pack up clothes for the couple. The child often had nightmares about the arrests and woke up crying.

Polisi melecehkan putri Zhan Ying, yaitu Zou Xiaoyu, yang juga pernah ditangkap dan ditahan di masa lalu karena keyakinan yang sama. Wanita yang lebih muda itu dipukuli dan dipaksa berdiri selama berjam-jam selama penahanannya di sebuah pusat pencucian otak. Karena tidak sanggup menahan tekanan tersebut, dia menyakiti dirinya sendiri beberapa kali. Dia sempat tidak bisa bergerak dan menjadi bisu untuk beberapa waktu. Meskipun dia berangsur-angsur pulih setelah dibebaskan, dia masih bisa mendadak bisu, gemetar tanpa kendali, dan merasa lemas di kakinya setiap kali dia merasa stres.

Setelah penangkapan Wang Xiaoying dan suaminya, Bao Feng, anak mereka pergi ke kantor polisi pada jam 9 malam untuk mencari ayahnya, tetapi malah dipingpong. Anak tersebut menangis histeris dan tetap bertahan di kantor polisi hingga jam 2 pagi. Polisi akhirnya terpaksa mengantarkan anak itu pulang untuk mengemas pakaian bagi kedua orang tuanya. Anak tersebut sering mengalami mimpi buruk tentang penangkapan itu dan terbangun sambil menangis.

Yu Minghui, seorang desainer busana yang saat ini tinggal di Inggris, tumbuh besar dengan menyaksikan penganiayaan terhadap kedua orang tuanya. Ayahnya, Yu Zonghai, seorang pustakawan, dijatuhi hukuman 15 tahun penjara pada tahun 2001 karena membentangkan spanduk bertuliskan “Falun Dafa baik.” Ibunya, Wang Meihong, seorang insinyur senior di Institut Eksplorasi Geologi Heilongjiang, dijatuhi hukuman 11 tahun penjara pada tahun 2003 dan disiksa tanpa henti sebelum akhirnya ditangkap kembali pada tanggal 23 November.

Yu Minghui dan ibunya, Wang Meihong, sebelum penganiayaan dimulai pada tahun 1999

Di saat Huang Zhufeng, seorang mantan insinyur di Kota Maoming, Provinsi Guangdong, masih ditahan dan menghadapi penuntutan karena keyakinannya, pihak berwenang memaksa pemilik kontrakan untuk membatalkan sewa rumah keluarganya dan memerintahkan istrinya, Xie Yuezhen, bersama putra mereka yang berusia 15 tahun untuk pindah dalam waktu beberapa hari. Kini, putra mereka yang duduk di kelas sembilan menolak untuk pergi ke sekolah lagi.

Dalam insiden lain, polisi memasukkan cucu laki-laki Kong Lingpo yang berusia sepuluh tahun ke dalam mobil patroli mereka dan memerintahkannya untuk menunjukkan jalan menuju rumah pamannya (putra bungsu Kong). Anak laki-laki tersebut mengalami trauma berat akibat kejadian itu.

Baca artikel selengkapnya di sini: https://en.minghui.org/html/articles/2021/1/18/189976.html

Share