Seorang Tahanan Nurani Terkemuka Ditangkap karena Mengungkap Keparahan Pandemi
Pada tanggal 2 April 2021, Xu Na didakwa bersama sepuluh praktisi Falun Gong Beijing lainnya karena menerbitkan foto dan artikel daring yang mengungkap parahnya pandemi di Tiongkok.
Selama berbulan-bulan setelah penangkapannya pada Juli 2020, keberadaan Xu tidak diketahui karena ia menghilang ke dalam aparat keamanan Tiongkok.
Xu adalah seorang seniman peraih penghargaan dan tahanan politik terkemuka. Suaminya yang telah meninggal, Yu Zhou, adalah alumni Universitas Beijing yang bergengsi dan musisi dari grup musik rakyat populer, meninggal dalam tahanan polisi pada tahun 2008 karena keyakinan yang mereka anut bersama.
Laporan Penganiayaan
Penangkapan pertama Xu terjadi pada tahun 2001, setelah ia menyediakan tempat bernaung bagi para praktisi Falun Gong dari luar kota yang datang ke Beijing untuk melakukan permohonan damai demi keyakinan mereka.
Ia dijatuhi hukuman lima tahun penjara pada November 2001 dan menjalani masa hukumannya di Penjara Wanita Beijing. Di sana, ia ditempatkan di sel isolasi, tidak diperbolehkan tidur, tidak diizinkan mandi, dan dilarang dikunjungi oleh keluarga.
Pada 26 Januari 2008, saat Xu dan suaminya dalam perjalanan pulang dari sebuah konser, mereka ditangkap oleh polisi. Yu meninggal dalam tahanan 11 hari kemudian pada usia 42 tahun. Keluarganya tidak diizinkan untuk melihat jenazahnya, dan kasusnya diberitakan secara luas oleh media Barat, termasuk New York Times, Associated Press, dan media lainnya.

Karena berita kematian Yu yang tersebar luas, aparat sering kali mengintimidasi orang tua Xu dan mengancam mereka agar tidak berbicara dengan jurnalis asing.
Sementara itu, Xu terus mendekam di tahanan sebelum akhirnya dijatuhi hukuman tiga tahun penjara pada 25 November 2008. Ia kemudian dipindahkan ke Pusat Penahanan Kota Beijing, yang dikenal sebagai “Cabang ke-7” Kepolisian Kota Beijing yang terkenal kejam, tempat para “tahanan penting” ditahan.
Penangkapan dan Dakwaan Terbaru
Xu ditangkap bersama sepuluh praktisi Falun Gong lainnya pada 20 Juli 2020, peringatan ke-21 penganiayaan Falun Gong oleh Partai Komunis Tiongkok.
Banyak dari mereka yang ditangkap adalah anak muda berusia 20-an yang berprofesi sebagai seniman dan musisi, serta lulusan dari beberapa universitas bergengsi. Mereka menjadi sasaran karena menerbitkan artikel daring untuk mengungkap parahnya pandemi di Tiongkok.
Kasus para praktisi tersebut dikembalikan dua kali oleh jaksa penuntut karena kurangnya bukti, sebelum akhirnya diadili untuk ketiga kalinya oleh Protektorat Distrik Dongcheng.
Dalam persidangan, hakim ketua memutuskan bahwa dokumen kasus hanya dapat ditinjau jika semua pengacara yang mewakili para terdakwa hadir di pengadilan pada waktu yang bersamaan. Selain itu, pengacara tidak diperbolehkan membuat salinan atau mengambil foto dokumen, dan pengadilan juga tidak akan memberikan salinan berkas tersebut.
Beberapa pengacara mengajukan pengaduan terhadap putusan tersebut, karena hukum Tiongkok memberikan hak kepada pengacara untuk meninjau dan membuat salinan berkas perkara sesuai keinginan mereka dan melarang kejaksaan dan pengadilan untuk membatasi durasi atau jumlah kali pengacara dapat meninjau berkas perkara.
Namun, keluhan para pengacara tersebut tidak ditanggapi oleh lembaga-lembaga terkait dan sebelas praktisi tersebut didakwa pada tanggal 2 April 2021, dengan tuduhan “merusak penegakan hukum dengan organisasi sesat” — sebuah undang-undang yang dirumuskan secara samar dan sering digunakan untuk memenjarakan praktisi Falun Gong.
Para terdakwa kini menghadapi persidangan di Pengadilan Kota Dongcheng.
Sikap yang Benar
Pada tanggal 22 April 2021, pengacara hak asasi manusia, Liang Xiaojun, mengunjungi Xu di Pusat Penahanan Distrik Dongcheng.
Menurut Liang, Xu berkata: “Saya menanggung sebelas jenis penyiksaan dan keluar dari penjara hidup-hidup. Dalam 22 tahun terakhir, berapa banyak istri yang telah dipisahkan dari suami mereka dan berapa banyak keluarga yang telah hancur. Dan berapa banyak yang telah disiksa, dilukai, atau dipukuli hingga cacat. [Semua penderitaan mereka] hanya karena kami memiliki sebuah buku [ajaran Falun Gong], sebuah DVD, sebuah perangkat lunak untuk menembus sensor internet di Tiongkok, atau daftar nama orang-orang yang telah disiksa hingga mati karena keyakinan mereka. Pemerintahan macam apa ini? Apa yang ditakutkannya?”
Selain suami Xu, lima temannya yang juga berlatih Falun Gong juga disiksa hingga tewas. Mereka termasuk Peng Min. dari Kota Wuhan, Provinsi Hubei; Huang Xiong dari Provinsi Hunan; Shen Jianli; Li Li; and Dong Cuifang, Seorang dokter berusia 29 tahun yang meninggal di penjara.
Xu juga menyampaikan kepada pengacaranya, “Saya tidak bisa tinggal diam untuk melindungi kepentingan saya sendiri. Setiap orang dalam masyarakat harus memiliki penilaian moral terhadap hal-hal yang tidak adil yang tidak terkait dengan mereka. Ini adalah tanggung jawab dasar untuk menjadi orang yang baik. Jika saya mengidentifikasi diri dengan pemerintah seperti itu (rezim komunis Tiongkok), maka saya bukanlah orang yang baik.”
Juga dilaporkan oleh Minghui pada bulan Februari dam Mei 2021.






