Penganiayaan Falun Gong Meningkat Menjelang Olimpiade Musim Dingin
Upacara pembukaan di Stadion Nasional di Beijing, 2008.
Menjelang Olimpiade Musim Dingin di Beijing yang kian dekat, Partai Komunis Tiongkok (PKT) telah memulai kembali putaran kampanye lain yang disebut oleh Partai sebagai “menjaga stabilitas sosial”. Praktisi Falun Gong di tiga wilayah penyelenggaraan Olimpiade, yaitu Beijing, Yanqing (sebuah distrik pinggiran di Beijing), dan Zhangjiakou di Provinsi Hebei, secara khusus menjadi sasaran.
Kondisi saat ini mencerminkan . Menyusul Olimpiade 2008, lebih dari 8.000 pengikut Falun Gong ditangkap karena keyakinan mereka dan setidaknya seratus orang meninggal dunia pada tahun yang sama.
Dampak setelah Olimpiade 2022 bisa jadi jauh lebih mengerikan jika tren ini terus berlanjut.
“[Menyusul Olimpiade 2008,] [Meningkatnya] penganiayaan terhadap Muslim Uyghur dan, dalam skala yang lebih kecil, umat Kristen yang taat, dilakukan oleh banyak orang yang sama, dengan taktik yang sama, yang telah dialami Falun Gong selama beberapa dekade: pemenjaraan massal, penyiksaan, kerja paksa, penghapusan keyakinan agama secara paksa, dan mungkin, pengambilan organ,” catat pembuat film Caylan Ford dan pengacara hak asasi manusia David Matas dalam sebuah artikel baru-baru ini.
Jutaan Dolar Mendanai Penindasan
Rencana untuk “keamanan Olimpiade” telah dimulai sejak tahun 2020, menurut Minghui.org, yang menerima bocoran informasi mengenai “Anggaran Departemen Kepolisian Zhangjiakou Tahun 2020”.

Dokumen ini memperkirakan pengeluaran sebesar 481 juta yuan ($72,3 juta USD) untuk tahun 2020. Ini merupakan peningkatan sebesar 5,1% dari tahun sebelumnya dan alasan utamanya adalah untuk mempersiapkan Olimpiade Musim Dingin 2022. Di antara pendanaan yang dialokasikan untuk biro keamanan domestik, Falun Gong terdaftar sebagai kelompok utama yang menjadi sasaran.
Dokumen tersebut lebih lanjut menjelaskan bahwa peningkatan anggaran tersebut harus mencakup biaya infrastruktur data besar (big data), pendanaan pengawasan video keamanan publik, dan biaya polisi pembantu. Secara khusus, 16 juta yuan ($2,47 juta) dialokasikan untuk infrastruktur data besar, sementara 18 juta yuan ($2,74 juta) dialokasikan untuk platform informasi video dengan kamera pengawas baru yang akan dipasang di 3.680 lokasi.
Dampak Saat Ini
Semakin banyak praktisi Falun Gong yang ditangkap atau diawasi dalam dua bulan terakhir.
Kasus terbaru menimpa Cao Wen, ibu dari seorang mahasiswa internasional bernama Jack Liu, yang tengah menempuh studi di Universitas Carleton di Kanada.
Jack memberi tahu The Epoch Times pada 29 Desember bahwa ibunya tetap berada di bawah pengawasan ketat polisi. Hal ini terjadi sejak ia dibebaskan setelah ditahan selama lima hari karena mengirimkan materi Falun Gong melalui Bluetooth di kereta bawah tanah Beijing. (Ini adalah salah satu cara praktisi Falun Gong di Tiongkok meningkatkan kesadaran masyarakat tentang penganiayaan tersebut).n).

Minghui.org juga menerima banyak laporan lain mengenai pelecehan atau penangkapan di Beijing dan Kota Zhangjiakou di Hebei.
Han Fei (wanita) dari distrik Chaoyang, tempat Stadion Nasional berada, telah diikuti dan dipantau sejak November. Dikatakan bahwa cukup banyak praktisi dari daerah tersebut yang telah ditangkap.

Petugas kepolisian dari Distrik Yanqing juga telah menangkap dan melecehkan pengikut Falun Gong.
Departemen Kepolisian Wilayah Wei di Kota Zhangjiakou juga telah mengadakan berbagai acara sejak awal Desember untuk memfitnah praktisi Falun Gong. Mereka juga menawarkan imbalan finansial kepada warga biasa yang melaporkan praktisi.
Beberapa praktisi Falun Gong telah ditangkap sejak saat itu, termasuk suami dari seorang wanita yang bukan seorang praktisi, mungkin menghadapi tuntutan karena membantu istrinya mengangkut materi yang akan digunakan untuk membuat kalender Tahun Baru dengan tulisan Falun Gong.
Pelajaran dari 2008: Pembiaran Menyuburkan Kekejaman
Olimpiade Musim Panas Beijing 2008 juga berlangsung di tengah latar belakang kekejaman massal. Keberhasilan olimpiade tersebut, serta tanggapan yang bungkam dari komunitas internasional terhadap pelanggaran hak asasi manusia di sekitarnya, dipahami oleh Beijing sebagai bentuk pembenaran atas pendekatannya, dan sebagai izin untuk mengulanginya kembali.
Pembuat film dokumenter Caylan Ford dan pengacara hak asasi manusia David Matas baru-baru ini menulis sebuah artikel berjudul, “Keeping Our Eyes Open to China’s Machinery of Repression” (Membuka Mata Kita terhadap Mesin Penindasan Tiongkok). Mereka mencatat bahwa setelah Olimpiade 2008, mesin penindasan yang dibangun untuk menghancurkan Falun Gong telah bermetastasis. Artinya, mesin tersebut telah menjadi fitur permanen dari aparatur pemerintahan Partai Komunis Tiongkok (PKT).
Dalam 20 tahun terakhir, para penganut Falun Gong merupakan kelompok tahanan hati nurani terbesar di Tiongkok, dengan ratusan ribu, dan kemungkinan jutaan korban. “Di dalam penjara, kamp kerja paksa, dan pusat-pusat indoktrinasi (transformasi), mereka menjadi sasaran taktik tekanan tinggi untuk secara paksa ‘mengubah’ pikiran mereka, termasuk pemukulan, perampasan tidur, penghinaan seksual dan pemerkosaan, digantung dalam posisi yang menyiksa, sengatan listrik dengan tongkat pemukul, dan suntikan obat-obatan psikotropika yang tidak diketahui,” demikian catatan dari keduanya.
Teknik penindasan yang sama ini sekarang sedang digunakan terhadap kelompok etnis dan agama lain, pembangkang politik, dan bahkan warga biasa di Tiongkok.
Meskipun Amerika Serikat, Kanada, Inggris, dan para pemain dunia lainnya telah mengumumkan boikot diplomatik terhadap Olimpiade Musim Dingin mendatang,
“Keberhasilan olimpiade tersebut [pada 2008], serta tanggapan yang bungkam dari komunitas internasional terhadap pelanggaran hak asasi manusia di sekitarnya, dipahami oleh Beijing sebagai bentuk pembenaran atas pendekatannya, dan sebagai izin untuk mengulanginya kembali.”
Berdasarkan laporan asli dari Minghui.org:








