Dilaporkan pada Mei 2022: 17 Praktisi Falun Gong Meninggal Akibat Penganiayaan

Wu Daxing dari Kota Shenyang, Provinsi Liaoning, berulang kali ditangkap, diganggu, dan disiksa hingga ia menderita kondisi jantung yang parah. Ia meninggal dunia pada 4 Februari 2021.

Wu Daxing dari Kota Shenyang, Provinsi Liaoning, berulang kali ditangkap, diganggu, dan disiksa hingga ia menderita kondisi jantung yang parah. Ia meninggal dunia pada 4 Februari 2021.

Pada Mei 2022, 17 praktisi Falun Gong dilaporkan meninggal dunia akibat penganiayaan, sehingga menambah total kasus kematian yang terkonfirmasi tahun ini menjadi 81 orang. Dari kasus yang dilaporkan pada bulan Mei: 1 praktisi meninggal pada tahun 2018, 1 pada tahun 2020, 4 pada tahun 2021, dan 11 pada tahun 2022.

Falun Gong, yang juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah sebuah latihan spiritual jiwa dan raga berdasarkan prinsip Sejati, Baik, dan Sabar. Sejak diperkenalkan ke publik pada tahun 1992, banyak orang telah tertarik pada prinsip-prinsip dan manfaatnya yang mendalam. Karena takut akan popularitasnya yang semakin meningkat, rezim komunis Tiongkok melancarkan kampanye nasional pada Juli 1999 dengan tujuan untuk memberantas latihan tersebut.

Ke-17 praktisi yang meninggal (8 wanita, 9 pria) berasal dari 11 provinsi dan kota setingkat provinsi. Liaoning memiliki 6 kasus, Beijing memiliki 2 kasus, dan wilayah lainnya—termasuk Heilongjiang, Hubei, Hunan, Jilin, Jiangsu, Shandong, Shanxi, Anhui, dan Hebei—masing-masing memiliki 1 kasus.

Di antara 14 praktisi yang usianya diketahui, 9 orang berusia 50-an, 2 orang berusia 60-an, dan 3 orang berusia 70-an. Praktisi tertua adalah Shao Guoying (p) yang berusia 77 tahun dari Provinsi Hubei, yang meninggal pada 6 Januari 2022.

Tiga dari praktisi tersebut meninggal saat berada dalam tahanan, termasuk seorang wanita yang meninggal 14 jam setelah ditangkap, seorang duda yang meninggal saat menjalani hukuman 10 tahun, dan pria lainnya yang sempat dinyatakan meninggal padahal masih hidup, namun kemudian benar-benar meninggal dunia.

Sebagian besar praktisi meninggal setelah bertahan selama dua dekade penganiayaan. Seorang pria meninggal setahun setelah menjalani hukuman 19 tahun penjara karena menyadap sinyal TV untuk menyiarkan program yang membongkar propaganda kebencian Partai Komunis Tiongkok (PKT) terhadap Falun Gong. Seorang guru les matematika yang dijatuhi hukuman 2 tahun saat masih dalam kondisi koma, tidak pernah sadarkan diri dan akhirnya meninggal dunia.

Meskipun seorang praktisi berhasil lolos dari penangkapan, ia ditemukan meninggal dunia beberapa minggu kemudian di rumah praktisi lain, tempat ia menginap sebelumnya. Polisi menyatakan bahwa kematiannya tidak wajar, namun mereka menolak memberikan rincian apa pun mengenai hal tersebut.

Berikut adalah ringkasan dari beberapa kasus kematian tersebut. Daftar lengkap dari ke-81 kasus kematian yang terkonfirmasi antara Januari dan Mei 2022 dapat diunduh di sini (PDF).

Wanita Disiksa dan Dicekoki Obat hingga Meninggal Dunia Saat Berada dalam Tahanan

Wang Chaohui, dari Kota Shenyang, Provinsi Liaoning, meninggal dunia pada 29 Desember 2021, akibat penderitaan mental dan fisik jangka panjang karena dianiaya. Ia berusia 53 tahun.

Wang pertama kali ditangkap pada Juli 1999 ketika ia membawa putranya yang berusia 13 bulan ke Beijing untuk memohon hak berlatih Falun Gong. Ia ditahan selama dua minggu dan disetrum dengan tongkat listrik. Ia ditangkap lagi pada tahun 2000 karena memfotokopi artikel dari Minghui.org dan ditahan selama 15 hari. Untuk bersembunyi dari polisi, ia berpindah-pindah tempat bersama putranya pada akhir tahun 2000.

Wang Chaohui, dari Kota Shenyang, Provinsi Liaoning, meninggal dunia pada 29 Desember 2021. Ia berusia 53 tahun.

Wang dimasukkan ke dalam daftar pencarian orang oleh polisi pada Agustus 2008 karena memasang spanduk berisi informasi tentang Falun Gong. Ketika ia ditangkap pada 9 September 2009, putranya yang berusia 11 tahun menyaksikan seluruh proses tersebut, termasuk bagaimana polisi memasangkan penutup kepala hitam di kepalanya dan memukulinya. Anak laki-laki itu juga dibawa ke kantor polisi dan ditahan sebentar.

Wang kemudian dijatuhi hukuman empat tahun di Penjara Wanita Provinsi Liaoning. Setelah ia menderita radang selaput dada, dokter memberinya obat-obatan yang tidak diketahui jenisnya, yang menyebabkan gangguan hati parah padanya. Ia berada di ambang kematian dan dibebaskan pada Oktober 2010. Selama bertahun-tahun, ia berjuang melawan asites hepatik, serta gagal jantung dan ginjal, yang akhirnya merenggut nyawanya.

Selain penganiayaan yang ia alami, keluarganya juga menanggung tekanan yang sangat besar. Baik ia maupun suaminya kehilangan pekerjaan mereka. Orang tuanya meninggal satu per satu antara tahun 2003 dan 2004. Putranya mengalami trauma setelah menyaksikan penganiayaan yang dialami keluarga tersebut selama bertahun-tahun.

Wanita asal Shanxi Meninggal Dunia 14 Jam Setelah Ditangkap

Niu Lanyun ditangkap pada pagi hari tanggal 28 Maret 2022. Menjelang malam pada hari yang sama, polisi memberi tahu keluarganya bahwa ia telah meninggal dunia.

Niu telah tinggal jauh dari rumahnya di Kota Datong, Provinsi Shanxi sejak awal tahun 2021 untuk menghindari penganiayaan karena melakukan latihan Falun Gong. Seorang saksi melihatnya turun menggunakan tali dari unit apartemen sementara di lantai tiga di Area Residensial Heng’an di kota yang sama sekitar pukul 06.00 pagi pada 28 Maret. Ketika ia sudah dekat dengan lantai satu, talinya putus dan ia terjatuh. Ia segera berdiri dan berjalan ke arah saksi tersebut.

Saksi tersebut menawarkan untuk memanggil ambulans. Niu menolak, namun saksi tetap melakukan panggilan tersebut. Ketika ambulans tiba, Niu menolak untuk masuk ke dalam. Seorang teknisi medis darurat mencoba menyeretnya ke dalam ambulans. Saat mereka sedang bersitegang, polisi datang. Mereka mendorongnya ke dalam mobil polisi dan pergi.

Sesaat kemudian, polisi menangkap pemilik rumah kontrakan Niu. Menurut seorang sumber, ketika polisi masuk ke dalam kediaman sewaan Niu, mereka menemukan adonan segar di dapurnya, yang mengindikasikan bahwa ia mungkin sedang menyiapkan sarapan saat tiba-tiba terpaksa melarikan diri.

Pada pukul 20.00, keluarga Niu menerima telepon dari polisi yang mengabarkan kematiannya. Mereka juga diminta untuk mengonfirmasi identitas Niu di Rumah Duka Datong.

Keluarga masih terkejut dengan kematian misterius Niu dan menuntut untuk mengetahui bagaimana ia bisa meninggal dunia dalam tahanan polisi.

Pria Meninggal Dunia Setahun Setelah Menjalani Hukuman 19 Tahun Penjara

Zhang Yaoming, warga Kota Hegang, Provinsi Heilongjiang, menjalani hukuman 19 tahun penjara karena telah menyadap sinyal TV untuk menyiarkan program yang membongkar propaganda terhadap Falun Gong. Ketika dibebaskan, kondisinya sangat lemah dan kurus kering. Ia meninggal dunia setahun kemudian pada usia 59 tahun. Ia meninggalkan istrinya, Fan Fengzhen, dan anak mereka.

Ketika Partai Komunis Tiongkok (PKT) mengumumkan keputusannya untuk melakukan penganiayaan terhadap Falun Gong pada 20 Juli 1999, seluruh media yang dikendalikan negara dipenuhi dengan program-program propaganda yang memfitnah latihan spiritual tersebut. Dalam semalam, sekitar 100 juta praktisi Falun Gong menjadi musuh utama negara.

Untuk mengungkap fakta tentang Falun Gong, Zhang, seorang guru matematika sekolah menengah, dan empat praktisi lainnya mempertaruhkan nyawa mereka dengan menyadap sinyal TV lokal pada 20 April 2002 dan memutar video berdurasi 20 menit yang menyangkal hoaks Bakar Diri Tiananmen yang memfitnah Falun Gong. (Bukti di sini.) Zhang Xingfu, sekretaris Partai Kota Hegang, sangat marah. Ia memerintahkan polisi untuk menangkap para praktisi yang terlibat, dengan menyatakan, “Bahkan jika kalian menangkap 1.000 orang yang salah, jangan sampai melewatkan satu pun orang yang melakukannya!”

Dalam beberapa hari, lebih dari 500 praktisi Falun Gong setempat di Kota Hegang ditangkap. Zhang dan Fan ditangkap di tengah malam pada tanggal 24 April di rumah seorang kerabat. Tiga praktisi lainnya juga ditangkap sesaat kemudian.

Pengadilan Distrik Gongnong menjatuhkan hukuman berat kepada keempat praktisi tersebut pada Oktober 2002: Zhang mendapatkan hukuman terlama yaitu 19 tahun, dan tiga lainnya dijatuhi hukuman 13 hingga 18 tahun. Praktisi kelima yang awalnya melarikan diri, ditangkap pada 7 September 2005, dijatuhi hukuman 17 tahun pada tahun 2006.

Zhang awalnya ditahan di Penjara No.3 Harbin dan kemudian dipindahkan ke Penjara Tailai pada 30 Juni 2014. Otoritas penjara menjanjikan imbalan sebesar 2.000 yuan kepada kepala setiap bangsal dan imbalan 1.000 yuan kepada setiap penjaga jika ada bangsal yang berhasil memaksa seluruh praktisi di bangsal tersebut untuk melepaskan Falun Gong. Setiap kepala bangsal atau penjaga yang gagal mencapai tingkat transformasi 100% akan menghadapi pemotongan gaji, penurunan pangkat, atau bahkan pemutusan hubungan kerja. Pejabat Komunis memerintahkan para penjaga untuk menggunakan metode penyiksaan apa pun yang diperlukan demi mematahkan tekad para praktisi.

Para praktisi sering kali digantung pada borgol mereka atau diikat pada alat penyiksaan peregangan. Mereka tidak diperbolehkan tidur di malam hari. Ketika mereka tertidur pulas, para penjaga akan menyiramkan air dingin ke tubuh mereka. Terkadang mereka digantung dan ditempatkan di bawah terik matahari yang menyengat (saat suhu di atas 40°C). Beberapa orang ditempatkan di dalam lubang sedalam tiga kaki selama berhari-hari dengan anggota tubuh terikat. Para penjaga juga meletakkan dua bola baja di bawah bokong seorang praktisi selama tujuh hari. Selain penyiksaan tersebut, para praktisi juga dipaksa melakukan kerja paksa tanpa bayaran.

Zhang menderita anemia parah, penyakit kulit, dan ambeien akibat penyiksaan tersebut. Meskipun ia sempat dibebaskan dengan jaminan medis, ia dibawa kembali ke penjara pada 17 Agustus 2015.

Ketika masa hukumannya berakhir pada 23 April 2021, alih-alih memberi tahu keluarganya untuk menjemputnya, otoritas penjara justru menyerahkannya kepada pejabat Komite Urusan Politik dan Hukum Kota Hegang, Kantor 610, dan Kantor Polisi Hongjun. Mereka membawanya ke Kantor Polisi Hongjun dan memaksa keluarganya untuk menulis pernyataan melepaskan Falun Gong atas namanya, sebelum mengizinkannya pulang ke rumah.

Akibat kerusakan parah pada kesehatannya setelah masa penjara yang panjang dan penyiksaan yang terus-menerus, Zhang tidak pernah pulih dan meninggal dunia pada awal April 2022.

Guru Matematika Dijatuhi Hukuman Penjara Saat Sedang Koma dan Meninggal Dunia

Ding Guochen masih dalam keadaan koma ketika ia dijatuhi hukuman dua tahun penjara karena melakukan latihan Falun Gong. Guru matematika dari Kota Dalian, Provinsi Liaoning tersebut meninggal dunia dua bulan kemudian, pada 30 April 2022. Ia berusia 51 tahun.

Ding dan istrinya, Yan Qinghua, ditangkap dalam sebuah aksi pembersihan oleh polisi di seluruh provinsi pada 11 Juli 2019. Penangkapan massal tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya Partai Komunis Tiongkok (PKT) untuk “menjaga stabilitas” menjelang peringatan 70 tahun perebutan kekuasaan di Tiongkok.

Yan dibebaskan di hari yang sama, namun Ding dibawa ke Pusat Penahanan Jinzhou pada malam harinya. Ia melakukan mogok makan selama empat minggu untuk memprotes penahanan sewenang-wenang tersebut dan dicekok paksa makan. Ia kehilangan pendengarannya dan mengalami stroke. Ia kemudian dibebaskan dengan jaminan pada 19 Oktober 2019.

Ding kembali melakukan latihan Falun Gong setelah pulang ke rumah. Ia berhasil memulihkan sebagian kemampuan geraknya, namun pendengarannya tetap terganggu.

Saat Ding masih ditahan, Yan pergi ke kantor polisi setempat untuk menuntut pembebasannya. Petugas Li sempat mencengkeram lehernya dan mendorongnya ke dalam sebuah ruangan untuk diinterogasi. Ketika ia kembali pada 10 September 2019, petugas yang sama menjambak rambutnya dan mendorong-dorongnya. Akibatnya, banyak rambutnya yang rontok. Polisi juga mengancam akan menangkap kedua anaknya ketika mereka mencapai usia 18 tahun.

Ding mengalami stroke lagi pada 27 Januari 2021 dan jatuh koma. Ia tidak pernah sadar kembali dan tetap dalam kondisi vegetatif. Terlepas dari kondisinya tersebut, Pengadilan Distrik Jinzhou menjatuhkan vonis bersalah yang tidak adil kepada pasangan ini pada 23 Februari. Ding dijatuhi hukuman dua tahun penjara dan denda 5.000 yuan. Yan dijatuhi hukuman tiga setengah tahun dan denda 8.000 yuan.

Pada satu titik, tiga anggota staf Pengadilan Distrik Jinzhou mendatangi rumah pasangan tersebut untuk memverifikasi kesehatan Ding. Yan menunjuk suaminya yang sedang koma dan menggunakan alat bantu oksigen, lalu berkata, “Dia berakhir seperti ini karena penganiayaan. Lihatlah sendiri. Kami tidak mampu membiayai pengobatannya di rumah sakit, jadi saya harus merawatnya di rumah.”

Melihat situasi keluarga yang memprihatinkan tersebut, staf pengadilan berkata kepadanya, “Anda boleh tetap di rumah untuk merawatnya.”

Yan menghabiskan seluruh tabungan keluarga untuk biaya pengobatan Ding dan meminjam lebih banyak lagi dari kerabat serta teman-teman mereka. Kini, hidup dalam kondisi serba kekurangan, ia juga berjuang untuk mengatasi kekosongan yang ditinggalkan oleh meninggalnya Ding sambil merawat kedua anak mereka.

Pria Dianiaya hingga Meninggal Dunia karena Keyakinannya

Selama 23 tahun penganiayaan terhadap Falun Gong oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT), Wu Daxing dari Kota Shenyang, Provinsi Liaoning, berulang kali ditangkap dan diganggu.

Saat menjalani hukuman tiga tahun antara tahun 2007 dan 2009, ia mengalami penyiksaan yang kejam. Ia dicambuk dengan ikat pinggang kulit, dipukul wajahnya dan diinjak-injak, menjadi sasaran sengatan listrik selama berjam-jam, dan dipaksa duduk di atas bangku dengan permukaan bergerigi. Selain penyiksaan fisik, ia juga dipaksa melakukan kerja paksa yang intens tanpa bayaran, serta dicaci maki secara verbal dan dipaksa menonton video yang menjelek-jelekkan Falun Gong.

Ilustrasi metode penganiayaan: Dipaksa duduk di atas bangku dengan permukaan bergerigi.

Setelah ia dibebaskan pada 13 Desember 2009, ia berjuang keras untuk pulih.

Karena takut menjadi sasaran lagi, ia pindah rumah pada tahun 2010, namun polisi menemukannya tak lama kemudian. Ketika seorang petugas mengetuk pintunya suatu hari pada pukul 19.00, ia melompat keluar jendela dan melarikan diri. Polisi kemudian mengganggu putranya di sekolah untuk mencoba mencari tahu keberadaannya. Anak laki-laki tersebut, yang saat itu masih di sekolah dasar, terpaksa berhenti bersekolah selama beberapa bulan. Gangguan polisi terus berlanjut selama bertahun-tahun.

Penangkapan Wu pada tahun 2007 memberikan pukulan yang begitu berat bagi ibunya hingga ia tiba-tiba menjadi buta. Meskipun ia mencoba memberikan perawatan yang baik kepada ibunya setelah dibebaskan, kesehatan ibunya terus menurun, dan kemudian meninggal dunia. Kepergian ibunya serta gangguan polisi sangat menyiksa batin Wu. Ia memutuskan untuk pindah lagi pada tahun 2019, tetapi polisi masih berhasil menemukannya dan mulai mengganggunya kembali.

Setiap kali ia diganggu, Wu menjadi semakin tertekan. Kesehatannya semakin memburuk, dan ia menderita kondisi jantung yang parah. Ia meninggal dunia pada 4 Februari 2021 dalam usia yang baru 52 tahun.

Wanita Meninggal Dunia Setelah Mengalami Gangguan dan Penangkapan Selama Puluhan Tahun

Kuang Changyun, seorang warga Kota Hengyang, Provinsi Hunan, meninggal dunia pada 6 Maret 2022, akibat penganiayaan terhadap keyakinannya pada Falun Gong. Ia berusia 68 tahun.

Setelah penganiayaan dimulai, Kuang ditangkap setidaknya sepuluh kali. Rumahnya digeledah sebanyak tujuh kali. Ia dijatuhi hukuman kamp kerja paksa selama satu tahun pada tahun 2000 dan masa hukumannya diperpanjang selama satu tahun karena tidak melepaskan Falun Gong. Ia ditahan di sel isolasi dan dipaksa duduk di atas bangku kecil. Para penjaga juga memerintahkan narapidana lain untuk menyiksanya.

Bahkan ketika masa perpanjangan hukumannya berakhir pada tahun 2002, pihak berwenang tetap menolak untuk membebaskannya dan malah membawanya ke Pusat Penahanan Nanyue, tempat ia ditahan selama enam bulan lagi. Setelah dibebaskan, ia pergi ke Changsha untuk mengunjungi pamannya dan tinggal di sana selama lima hari. Ketika kembali ke rumah, ia terkejut melihat tempat tinggalnya berantakan karena digeledah. Agen Kantor 610 kemudian menangkapnya dengan alasan bahwa ia pergi ke luar kota tanpa mendapatkan izin dari mereka. Ia ditahan di Pusat Penahanan Nanyue selama hampir dua minggu. Ia melakukan mogok makan selama seminggu untuk memprotes penahanan tersebut.

Pihak berwenang terus memantau kehidupan sehari-harinya sejak saat itu, dan mereka tidak mengizinkannya pindah ke luar kota untuk mencari pekerjaan. Untuk memantau dirinya dengan lebih baik, Yue Donghua, direktur Kantor 610, mengaturnya untuk bekerja sebagai petugas kebersihan kota. Ia diperintahkan untuk bekerja setiap hari tanpa ada hari libur dan hanya dibayar 250 yuan sebulan. Jika ia harus mengambil cuti satu hari saja, maka gajinya akan dipotong.

Penganiayaan tersebut berdampak buruk pada kesehatan Kuang. Ia meninggal dunia pada 6 Maret 2022. Ia berusia 68 tahun.

Pria Meninggal Mendadak Saat Berupaya Menyelamatkan Istrinya yang Ditangkap karena Keyakinannya

Wang Lianyi dari Beijing meninggal mendadak di halaman depan rumahnya pada 25 April 2022. Karena ia tidak menjawab panggilan telepon saudaranya selama dua hari, saudaranya memanjat pagar rumah Wang untuk masuk ke dalam dan menemukan mayatnya. Ia berusia 56 tahun.

Hanya sehari sebelum kematiannya, Wang masih mencari pengacara untuk mewakili istrinya, Lang Dongyue, yang ditangkap pada 14 Desember 2021 karena melakukan latihan Falun Gong dan kini tengah menghadapi persidangan.

Setelah dirinya sendiri mengalami penangkapan dan gangguan yang berulang kali, Wang merasa ketakutan saat melihat dua mobil polisi yang terparkir di depan firma hukum tersebut dan ia pingsan di jalan. Setelah beristirahat sejenak, ia mengumpulkan kekuatannya dan masuk ke dalam firma hukum bersama temannya. Ia memberi tahu pengacara tersebut bahwa ia adalah seorang petani dan kondisi keuangannya sedang tidak baik, tetapi ia bersedia melakukan apa pun yang ia bisa untuk menyelamatkan istrinya. Ia meninggal dunia keesokan harinya, bahkan sebelum pengacara tersebut sempat menghubunginya kembali.

Pada tahun-tahun awal penganiayaan, Wang dijatuhi hukuman kamp kerja paksa pada tahun 2002. Ia ditahan selama 14, tujuh, dan 15 hari menyusul penangkapannya masing-masing pada 5 Mei 2016, 21 Oktober 2016, dan 19 Mei 2017.

Karena menuntut pembebasan istrinya, Wang ditangkap lagi pada 19 Juli 2017 dan ditahan di pusat penahanan selama sebulan, diikuti dengan empat belas hari di pusat pencucian otak.

Polisi terus mengganggu pasangan tersebut setelahnya, termasuk menangkapnya di acara pernikahan putrinya pada 22 Maret 2018.

Berdasarkan laporan asli oleh Minghhttps://en.mhttps://en.minghui.org/inghui.org/ui.org

Share