Setelah 11 Tahun Dipenjara, Pria Guangdong Menghadapi Penuntutan karena Keyakinannya

Foto profil Wu Haibo, tanpa tanggal.

Foto profil Wu Haibo, tanpa tanggal.

Wu Haibo, seorang teknisi perusahaan farmasi berusia 57 tahun, dipecat dan dipaksa menjalani hukuman selama lebih dari 11 tahun di kamp kerja paksa dan penjara hanya karena mempertahankan keyakinannya dan mengajukan pengaduan hukum atas penganiayaan oleh rezim Tiongkok.

Wu adalah satu dari ribuan orang yang telah mengajukan tuntutan pidana terhadap Jiang Zemin, mantan kepala Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang memerintahkan penganiayaan terhadap Falun Gong. Pada tahun 2015, ia ditangkap dan dijatuhi hukuman 5 tahun di Penjara Sihui.

Para tahanan di sana mengancam Wu, “(Jika Anda tidak melepaskan keyakinan Anda), kami akan memukuli Anda hingga cacat, lalu menyembuhkan Anda, dan memukuli Anda hingga cacat lagi.” Bapak Wu disiksa hingga kepalanya berdarah, lengannya patah, dan kesepuluh kuku kakinya copot atau membusuk. Ia dibebaskan pada Desember 2020.

Namun, warga Kota Zhanjiang, Provinsi Guangdong ini sekali lagi menghadapi penuntutan karena keyakinannya pada Falun Gong. Pada 5 Maret 2022, Wu Haibo, ditangkap oleh petugas Kantor Keamanan Domestik Distrik Xiashan dan Kantor Polisi Xincun. Ia awalnya ditahan di Pusat Penahanan Kabupaten Suixi dan kemudian dipindahkan ke Pusat Penahanan Kota Zhanjiang. Pengadilan Distrik Chikan awalnya menjadwalkan persidangan pada 12 Agustus, tetapi memutuskan untuk menundanya karena merebaknya COVID-19 di daerah setempat.

Berikut adalah kutipan yang ditulis oleh Wu sendiri, yang merinci penganiayaan yang ia derita pada tahun-tahun sebelumnya.

Kesaksian oleh Wu Haibo

Sejak awal mula penganiayaan pada Juli 1999, saya sering diganggu oleh polisi dan pengawas di perusahaan farmasi tempat saya bekerja. Mereka mencoba menekan saya agar melepaskan Falun Gong dengan mengancam akan memecat saya atau menjebloskan saya ke penjara. Staf perumahan juga mengawasi saya dan sesekali datang ke rumah untuk mengganggu saya. Keluarga saya hidup dalam ketakutan selama bertahun-tahun. Penganiayaan ini telah menyebabkan trauma mental yang luar biasa bagi mereka.

Pada November 1999, saya membaca berita tentang Jiang Zemin yang memfitnah Falun Gong sebagai aliran sesat. Saya menulis surat untuk mengklarifikasi fakta tentang Falun Gong. Saya pergi ke Beijing dan menyerahkan surat tersebut ke Kantor Pengaduan Nasional, namun akhirnya saya justru ditangkap. Saya ditahan di Beijing selama tiga hari dan kemudian ditambah lima belas hari lagi setelah saya dibawa kembali ke Zhanjiang. Tempat kerja saya menurunkan jabatan saya dan menangguhkan sebagian besar gaji saya, hanya memberi saya jumlah minimum untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Pada Februari 2000, karena melakukan gerakan Falun Gong di tempat umum, saya ditangkap dan dijatuhi hukuman tiga bulan tahanan kriminal.

Saya ditangkap lagi pada Juli 2001 di apartemen yang diberikan oleh tempat kerja saya dan dibawa ke pusat pencucian otak. Meskipun saya berhasil melarikan diri dengan bantuan seorang rekan kerja, saya terpaksa hidup berpindah-pindah jauh dari rumah. Tempat kerja saya kemudian memecat saya.

Dua bulan kemudian, saya ditangkap dan dijatuhi hukuman dua tahun di Kamp Kerja Paksa Sanshui.

Pada akhir tahun 2001, saya dibawa ke kamp kerja paksa dan ditahan di tim kelima dari bangsal ketiga, sebuah tempat yang dikhususkan untuk melakukan penganiayaan terhadap praktisi Falun Gong. Selama waktu itu, saya dibawa ke sebuah bangunan kosong sebanyak dua kali untuk menjalani penyiksaan intensif oleh 4 hingga 8 tahanan.

Mereka memaksa saya berjongkok dan memborgol lengan saya ke penyangga di sisi tubuh saya. Mereka memukuli saya dan menarik borgol tersebut jika saya bergerak. Kadang-kadang mereka juga menyetrum saya dengan tongkat listrik. Saya tidak diperbolehkan tidur selama berhari-hari dan dilarang menggunakan toilet.

Sesekali, saya bisa mendengar teriakan praktisi lain yang sedang disiksa di gedung yang sama. Untuk menutupi penyiksaan tersebut, para penjaga mulai memutar musik yang keras di luar gedung.

Ketika saya dibawa kembali ke gedung tersebut beberapa bulan kemudian, dinding-dinding di ruangan itu telah dilapisi dengan panel isolasi yang tebal, serta semua jendela dikunci dan ditutup rapat. Hanya ada lampu redup di dalam ruangan sehingga sulit untuk mengetahui apakah itu siang atau malam. Mereka terus memukuli saya serta melarang saya tidur dan menggunakan toilet.

Sekelompok petugas polisi dan Chen Jun, kepala Kantor 610 Kota Zhanjiang, menerobos masuk ke rumah saya pada 17 April 2007. Mereka tidak hanya menggeledah rumah saya, tetapi juga rumah ibu mertua dan bibi saya. Dengan alasan bahwa saya memiliki buku-buku dan materi Falun Gong di rumah, saya ditahan sebagai pelaku kriminal. Pengadilan Distrik Xiashan menjatuhkan hukuman empat tahun penjara kepada saya pada 23 Januari 2008.

Saya ditahan di bangsal ke-13 di Penjara Yangjiang antara April 2008 dan Februari 2011. Kepala penjara, Cai Xipeng; wakil kepala penjara, Du Wentao; direktur Kantor 610 penjara, Liang, Chen, dan Fu; serta para penjaga yaitu Liufu Guofu, Shi Senhu, Feng Yihong, Wu, Xu Yun, Zeng Jianxing, Huang Jianyong, dan Wang Weiwei semuanya bertanggung jawab atas penganiayaan tersebut.

Atas hasutan para penjaga, para tahanan sering menyeret saya ke toilet atau kamar mandi untuk menyiksa saya, karena di sana tidak ada kamera pengawas. Ketika penganiayaan semakin meningkat, mereka memindahkan saya ke sel tanpa kamera pengawas, sehingga para tahanan bisa menyiksa saya di sana. Saya juga terus-menerus dilarang tidur dan menggunakan toilet.

Akibat pemukulan tersebut, sendi siku kiri saya bergeser dan belum pulih hingga sekarang. Mereka pernah menekan saya ke lantai lalu memelintir leher saya; rasa sakitnya begitu hebat sampai saya pingsan. Kadang-kadang mereka memelintir tangan dan jari-jari saya hingga persendiannya bengkak parah.

Dalam bentuk penyiksaan lainnya, saya dipaksa berdiri menghadap tembok, lalu lengan saya ditarik ke atas dari belakang. Siku dan bahu saya terasa sangat sakit seperti terkoyak. Mereka juga pernah menekan saya ke lantai dengan posisi tengkurap, lalu menarik lengan saya dari belakang punggung ke arah kepala, sementara tahanan lain menarik kaki saya ke bawah. Hal ini menimbulkan rasa sakit yang luar biasa.

Ketika mereka tidak ingin membuang terlalu banyak tenaga untuk memukuli saya, mereka memaksa saya berjongkok atau menjejalkan kepala saya ke dalam toilet. Kadang-kadang mereka meletakkan baskom berisi air dingin di atas kepala saya. Saat saya tidak bisa menjaga keseimbangan, baskom itu jatuh dan airnya membasahi seluruh tubuh saya.

Bentuk penyiksaan mengerikan lainnya adalah menempelkan kuku jari saya pada dupa yang menyala, sementara para tahanan meniupnya agar terbakar lebih cepat. Kuku saya berlubang di beberapa bagian setelah dibakar. Namun, lubang itu akan menghilang seiring kuku yang terus tumbuh, sehingga tidak meninggalkan bukti penyiksaan.

Informasi kontak pelaku:

He Jinchen (何金陈), kepala Kejaksaan Distrik Chikan: +86-13509936639, +86-759-3588901

Mo Wei (莫伟), wakil kepala Kejaksaan Distrik Chikan: +86-13702733728, +86-759-3588906

Du Bingcheng (杜炳成), wakil kepala Kejaksaan Distrik Chikan: +86-18820689892, +86-759-3588902

Ye Hui (叶辉), ketua Pengadilan Distrik Chikan: +86-13902507248

Mo Zhijun (莫志军), ketua Pengadilan Distrik Chikan: +86-13702733728

Berdasarkan laporan asli dari Minghui.org

Share