Hari Lanjut Usia Tiongkok: Mengenang Para Lansia yang Mengalami Penganiayaan hingga Tewas
Beberapa warga lanjut usia di Tiongkok yang telah disiksa atau dibunuh karena keyakinan mereka pada Falun Gong.
Festival Sembilan Ganda, pada 4 Oktober 2022, merupakan hari raya tradisional tahunan yang menghormati dan merayakan kaum lansia di Tiongkok. Namun bagi banyak keluarga, hari itu menjadi pengingat menyedihkan lainnya bahwa penganiayaan terhadap Falun Gong masih terus berlanjut hingga hari ini, dan bahwa banyak lansia yang melakukan latihan Falun Gong masih belum bisa menikmati festival yang menghormati mereka tersebut.
Tanpa Makanan, Tanpa Akses ke Toilet, Tanpa Tidur
Li Guirong, Kepala Sekolah Dasar Hezuo di Kota Shenyang, Provinsi Liaoning, pernah diakui sebagai salah satu kepala sekolah terbaik di wilayah tersebut. Namun, karena ia melakukan latihan Falun Gong, ia ditangkap pada Oktober 2006 dan kemudian dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara.
Setelah ditangkap kembali pada Februari 2015, Li dijatuhi hukuman lima tahun oleh Pengadilan Hunnan dan dikirim ke Penjara Wanita Liaoning. Di Bangsal 5, yang dikhususkan untuk menahan lansia dan orang sakit, para penjaga dan narapidana memukulinya dengan kejam dan memukul tangannya dengan sepatu mereka. Li menderita luka lebam di sekujur tubuhnya.

Seorang narapidana pernah menjambak rambut Li dan menyeretnya di sekeliling ruangan. Rambutnya tercabut dalam proses tersebut. Penjaga dan narapidana juga memaksanya untuk jongkok tanpa bergerak, sekali selama 36 jam dan di lain waktu selama lebih dari 60 jam.
Demi memaksanya melepas keyakinan pada Falun Gong, mereka tidak memberinya makan dan tidak membolehkannya tidur, serta melarangnya menggunakan toilet selama waktu tersebut. Li meninggal dunia pada Januari 2020 di usia 78 tahun.
Narapidana: “Membuat Hidupmu Seperti Neraka”
Gong Piqi adalah mantan Wakil Kepala Staf Divisi Artileri Antipesawat Cadangan di Provinsi Shandong. Di bawah instruksi Komite Urusan Politik dan Hukum (PLAC) Qingdao, Kantor 610, dan Biro Keamanan Domestik Shibei, Kejaksaan Shibei dan Pengadilan Shibei menjatuhkan hukuman tujuh setengah tahun kepada Gong pada 20 Juli 2018. Ia diperintahkan untuk menjalani hukuman di Penjara Shandong di Jinan.
Ia meninggal dunia di penjara pada 12 April 2021 di usia 66 tahun. Keluarganya melihat luka-luka di kepalanya, yang juga dalam keadaan basah dan bengkak. Ada darah yang keluar dari telinganya.
Penjara Shandong dikenal kejam karena menyiksa praktisi Falun Gong. Banyak praktisi yang tewas, cacat, dan terluka di sana. Karena dipicu oleh para penjaga untuk menyiksa praktisi, beberapa narapidana mengatakan, “Kami diperintahkan untuk tidak membunuhmu, tetapi membuat hidupmu seperti neraka—sehingga kamu lebih memilih mati daripada hidup.”
Tidak Ada Pembebasan Kecuali Keyakinan Dilepaskan
Su Yunxia adalah seorang praktisi di Kota Harbin, Provinsi Heilongjiang. Ia dijatuhi hukuman lima tahun dan meninggal dunia dua hari sebelum jadwal pembebasannya pada 6 September 2021. Ia berusia 67 tahun.
Dikatakan bahwa bagi praktisi Falun Gong yang ditahan di Penjara Wanita Heilongjiang, agar bisa menerima surat pemberitahuan pembebasan, mereka harus menandatangani dokumen untuk melepaskan keyakinan mereka; jika tidak, mereka akan “didisiplinkan” oleh penjaga dan narapidana. Beberapa tahanan mengatakan mereka mendengar Su dipukuli di Bangsal 8 pada 4 September 2021, hari di mana ia meninggal dunia.
Seperti banyak praktisi lainnya, Su telah ditahan berkali-kali karena melakukan latihan Falun Gong. Setelah dimasukkan ke Kamp Kerja Paksa Wanjia pada tahun 2001, tangannya diborgol ke belakang pada tingkat atas tempat tidur susun. Kakinya nyaris tidak bisa menyentuh lantai dan mulutnya ditutup dengan lakban.
Metode Penyiksaan yang Tak Terhitung Jumlahnya
Chu Liwen, 65 tahun, adalah seorang asisten sukarelawan di tempat latihan Falun Gong setempat di Kota Changyi, Provinsi Shandong, sebelum penganiayaan dimulai pada Juli 1999. Di kemudian hari, ia dijebak dan dipenjara beberapa kali dengan total selama 11 tahun. Setelah ditangkap kembali pada 22 September 2019, ia dijatuhi hukuman delapan tahun, dua hari sebelum Tahun Baru Tiongkok 2021. Setelah dibebaskan karena kondisi medis yang kritis, ia meninggal dunia pada 1 Juli 2021.
Selama masa penahanannya di pusat penahanan, kamp kerja paksa, dan penjara, Chu menderita luar biasa demi mempertahankan keyakinannya. Ia diborgol ke belakang pada sebatang pohon di tengah musim dingin yang membeku, dipaksa mengangkat bangku dalam waktu lama, diborgol dengan kaki dirantai, dicekoki makan secara paksa, dipaksa melakukan kerja paksa tanpa bayaran, dibiarkan kedinginan, ditusuk dengan jarum, dipaksa berdiri tegak menghadap dinding, diikat, tubuhnya diregangkan dengan menarik keempat anggota badannya, dipukuli dengan selang karet, disetrum dengan tongkat listrik, lehernya dicekik, dan dimasukkan ke dalam sel isolasi. Selain itu, penjaga dan narapidana menginjak betisnya dan mengikatnya di area yang penuh nyamuk hingga wajahnya tidak bisa dikenali lagi.
Penjaga dan narapidana menyetrum Chu dengan tongkat listrik pada Desember 2003. Akibatnya, wajahnya menjadi cacat dan seluruh tubuhnya dipenuhi borok. Setelah dibawa ke pusat pencucian otak di Kota Weifang pada Agustus 2008, Chu diborgol ke pipa pemanas dan kursi besi. Dengan kepala tertutup, ia dipukuli oleh banyak narapidana. Penjaga dan narapidana juga mengikat Chu dengan tali tipis yang menyebabkan rasa sakit yang luar biasa baginya.
Kasus Tambahan
Liu Xiyong, 80 tahun, seorang warga Desa Shihe di Kota Dalian, Provinsi Liaoning, dijadwalkan akan dibebaskan pada 9 April 2021, setelah menjalani hukuman tiga tahun karena keyakinannya. Namun, polisi Jinzhou justru membawanya ke Pusat Penahanan Sanli pada hari itu. Pejabat dari kejaksaan dan pengadilan setempat menjebaknya kembali dan menjatuhkan hukuman empat tahun lagi. Liu berada dalam kondisi yang mengancam nyawa di Penjara Ketiga Dalian, tetapi para pejabat menolak untuk melepaskannya. “Dia akan tetap di sini selama dia masih hidup,” kata seorang pejabat. Akhirnya, Liu meninggal dunia di penjara pada 29 Desember 2021.
Wang Liuzhen, wanita pensiunan insinyur berusia 80-an, meninggal dunia pada 1 Januari 2022. Warga Chongqing ini dua kali dijatuhi hukuman kerja paksa dan tiga kali ditahan di rumah sakit jiwa, di mana ia disuntik paksa dengan obat-obatan yang merusak saraf dan dicekoki paksa dengan obat-obatan tidak dikenal lainnya. Hal ini merusak organ-organ dalamnya dengan parah. Selain itu, polisi mengawasinya dengan ketat 24 jam sehari selama lebih dari 10 tahun. Mereka membangun sebuah gubuk di dekat rumahnya untuk memantaunya, dan staf yang dikirim untuk mengawasinya sering memukuli serta memaki dirinya. Mereka pernah memukulnya dengan bangku kayu, yang melukai hidung dan kakinya.
Ji Yunzhi, seorang praktisi wanita dari Panji Kiri Bairin di Mongolia Dalam, ditangkap pada Tahun Baru Tiongkok 2022 (1 Februari). Kurang dari tiga bulan kemudian, ia meninggal dunia pada usia 66 tahun di Rumah Sakit Panji Kiri Bairin pada 21 Maret 2022. Informasi yang diperoleh Minghui menunjukkan bahwa penjaga dan narapidana telah memukuli Ibu Ji dengan kejam di pusat penahanan, hingga membuatnya berada di ambang kematian.
Banyak Lagi Tragedi Lainnya
Di atas hanyalah beberapa contoh bagaimana puluhan juta praktisi Falun Gong telah mengalami penganiayaan karena keyakinan mereka. Meskipun tidak ada hukum di Tiongkok yang pernah menyatakan Falun Gong sebagai tindak kriminal, mantan pemimpin PKT Jiang Zemin mengumumkan pelarangan Falun Gong pada Juli 1999 dan memerintahkan seluruh aparatur negara untuk menjalankan penganiayaan dalam upaya untuk melenyapkannya.
Namun, penindasan ini kini telah berlangsung selama 23 tahun. Dalam enam bulan pertama tahun 2022 saja, 92 praktisi kehilangan nyawa mereka dan 366 orang dijatuhi hukuman penjara. Di antara mereka, 107 orang berusia 60 tahun ke atas, dengan yang tertua berusia 85 tahun.
Sering kali para praktisi ini tidak tahu apa-apa ketika polisi, kejaksaan, dan pengadilan menjebak mereka.
Dong Shuxian, 73 tahun, perempuan berasal dari Kota Chaoyang, Provinsi Liaoning. Ketika enam pejabat dari Pengadilan Shuangta dan departemen kepolisian setempat mendatanginya pada 14 Juli 2020, Dong menyapa mereka, namun ia justru disodorkan surat putusan hukuman 7 tahun penjara. “Apa ini?” tanya Dong, “Saya hanya tinggal di rumah dan tidak melakukan apa pun.” Namun tidak ada yang menjawabnya.
Berdasarkan artikel asli dari Minghui.






