Praktisi Falun Dafa Mengadakan Kelas Meditasi di Fiji
Para guru dan praktisi berfoto bersama
Pada Maret 2024, dua puluh praktisi dari Selandia Baru berkunjung ke Fiji untuk memberikan kelas latihan meditasi Falun Dafa secara gratis kepada para siswa. Selain mengajar, mereka juga meningkatkan kesadaran mengenai pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di Tiongkok. Kedatangan mereka disambut dengan hangat oleh para praktisi lokal di Fiji.
Dalam kunjungan delapan hari tersebut, mereka menyebarkan informasi di berbagai kota seperti Nadi, Lautoka, dan Suva. Mereka mengunjungi puluhan sekolah, gereja, organisasi pemerintah, perusahaan, dan lembaga kesehatan yang tertarik untuk mempelajari latihan ini.




Siswa dari berbagai usia, termasuk anak-anak sekolah dasar, diajarkan lima perangkat latihan utama dari meditasi ini.
Kelompok praktisi yang beragam ini disambut dengan rasa ingin tahu dan keramahan di mana pun mereka berada. Mereka berbagi manfaat Falun Dafa dengan penduduk setempat, serta mengadakan sesi di berbagai sekolah dan universitas. Di sana, para siswa maupun guru menemukan ketenangan melalui latihan tersebut.



Dalam presentasi edukatif mereka di berbagai universitas dan lembaga medis, para praktisi mengungkap praktik mengerikan mengenai pengambilan organ paksa di Tiongkok. Hal ini mengejutkan para profesional medis dan pejabat pemerintah di berbagai kota di Fiji.
“Kerabat saya pernah pergi ke Beijing dan bekerja di sana selama beberapa bulan dalam sebuah proyek kerja sama,” ujar seorang karyawan di sebuah organisasi pemerintah setelah presentasi tersebut. “Dia mengatakan itu sangat mengerikan; mereka memang mengambil organ dari orang-orang yang masih hidup. Banyak orang yang mengetahui kebenaran ini takut untuk membicarakannya!”
Upaya para praktisi tersebut mendorong para pendengar untuk mengambil tindakan melawan pelanggaran hak asasi manusia yang masih berlangsung di Tiongkok hingga saat ini.

Sekitar 200 petugas polisi di Suva juga menunjukkan ketertarikan pada perjuangan mereka. Setelah bertemu dengan para praktisi secara kebetulan, para polisi tersebut menyatakan dukungan untuk mengakhiri penganiayaan terhadap Falun Gong. Hampir semua petugas mengambil selebaran, bahkan beberapa di antaranya meminta materi tambahan.
Saat meninggalkan Fiji, para praktisi tidak hanya meninggalkan pengenalan tentang Falun Dafa, tetapi juga seruan kepada ribuan orang untuk bertindak melawan ketidakadilan.










