Penindasan Lintas Negara Terkini Mei 2026

Intimidasi Fisik, Kampanye Penyamaran, dan Ancaman Bom Terkoordinasi Targetkan Komunitas Falun Gong (per 20 Mei 2026)

Petugas NYPD menahan seorang pria yang mengacaukan perayaan Hari Falun Dafa Sedunia di Union Square di Manhattan pada 9 Mei 2026. (NTDTV.com)

Petugas NYPD menahan seorang pria yang mengacaukan perayaan Hari Falun Dafa Sedunia di Union Square di Manhattan pada 9 Mei 2026. (NTDTV.com)

Insiden penindasan lintas negara yang menargetkan para praktisi Falun Gong dan Shen Yun Performing Arts terus berlanjut sepanjang Mei 2026. Setidaknya ada 16 kasus yang terdokumentasi di Amerika Serikat, Kanada, dan Jepang. Pada bulan Mei ini, pola penindasan tersebut terlihat jelas melalui taktik baru, yaitu penyamaran. Para pelaku menyamar sebagai organisasi yang terkait dengan Falun Gong, kepala pemerintahan, bahkan sebagai personel Falun Dafa Information Center. Hal ini dilakukan untuk menyebarkan ancaman dan memfitnah dengan narasi palsu (false-flag).

Intimidasi Fisik

Dua insiden pelecehan secara langsung telah terdokumentasi pada bulan Mei.

Pada 3 Mei di Santa Monica, California, seorang praktisi Falun Gong dibuntuti dan difoto di sebuah lokasi informasi publik di Dermaga Santa Monica, tempat ia menjadi sukarelawan untuk membagikan materi tentang penganiayaan Falun Gong serta membantu orang-orang yang ingin keluar dari organisasi yang terkait dengan Partai Komunis Tiongkok. Seorang pria tidak dikenal berusia sekitar 50 tahun memfotonya dalam waktu yang lama dan terus menguntitnya di sepanjang dermaga. Ketika praktisi tersebut menegurnya dan meminta agar foto-foto itu dihapus, pria tersebut hanya menggumamkan satu kata yang tidak jelas lalu pergi. Praktisi yang sama juga pernah mengalami insiden serupa di lokasi tersebut pada 15 Februari, saat ia difoto oleh pria lain yang tampaknya merupakan keturunan Tionghoa.

Pada 9 Mei di Manhattan, New York, seseorang mengacaukan perayaan publik Hari Falun Dafa Sedunia di Union Square. Orang tersebut menerobos ke atas panggung serta merusak hiasan bunga teratai dan dekorasi lainnya, sebelum akhirnya diringkus oleh para peserta yang hadir dan ditangkap oleh petugas kepolisian di lokasi. Para saksi mata menyatakan bahwa serangan ini sengaja menargetkan acara Falun Gong dan bukan merupakan aksi acak. Salah seorang pengamat bahkan menilai kejadian ini sebagai serangan bermotif kebencian terhadap keyakinan tertentu.

Pelecehan online dan penyamaran

Ciri khas dari aksi penindasan sepanjang bulan Mei ini adalah penggunaan taktik penyamaran secara sistematis—baik menyamar sebagai organisasi yang terkait dengan Falun Gong, pejabat publik, maupun personel Falun Gong sendiri—untuk menyembunyikan asal-usul pesan yang berisi ancaman atau pencemaran nama baik.

  • Penyamaran sebagai organisasi Falun Gong yang ditujukan ke fasilitas di luar negeri. Antara tanggal 7 dan 9 Mei, seorang oknum tidak dikenal mengirimkan setidaknya empat pesan ancaman bom melalui formulir kontak publik milik Shinjuku Cultural Center, sebuah gedung pertemuan pemerintah kota di Tokyo, Jepang. Pengirim pesan tersebut memalsukan identitas dengan menggunakan alamat email Dragon Springs, yaitu kompleks di New York yang menjadi tempat fasilitas pelatihan Shen Yun. Salah satu pesan, yang ditandatangani atas nama Perdana Menteri Australia Anthony Albanese, mengklaim bahwa bahan peledak telah dipasang di Kuil Yasukuni dan menuntut uang sepuluh juta dolar AS. Pesan lainnya pada 9 Mei, yang menyamar sebagai penulis keturunan Tionghoa-Kanada Sheng Xue (盛雪), mengancam akan meledakkan Istana Kekaisaran Tokyo, Ginza, dan Bandara Haneda kecuali ada pembayaran sebesar ¥100 juta.

  • Penyamaran sebagai The Epoch Times. Pada 12 dan 13 Mei, tiga pesan yang hampir sama dikirim dari alamat Proton Mail palsu ([email protected]) yang menyamar sebagai The Epoch Times, sebuah media yang didirikan oleh para praktisi Falun Gong. Pesan-pesan tersebut ditujukan kepada Fei Tian Academy of the Arts, Dragon Springs, dan Himpunan Falun Dafa Kanada. Setiap pesan memberikan peringatan palsu bahwa PKT telah “berkolusi dengan orang dalam” di lembaga tersebut dan ada bahan peledak yang telah dipasang (sementara untuk kasus di Kanada, disebutkan bahwa “operasi peracunan” akan segera terjadi). Pesan itu juga mendesak penerima untuk “segera melapor ke FBI dan lembaga penegak hukum lainnya.” Taktik ini sengaja memanfaatkan kredibilitas media yang terkait dengan Falun Gong agar aparat penegak hukum bertindak berdasarkan laporan palsu tersebut.

  • Penanaman narasi palsu (false-flag) sejak awal. Beberapa pesan yang masuk melalui formulir kontak publik Falun Dafa Information Center tidak berisi ancaman kekerasan secara langsung. Pesan-pesan tersebut justru memprediksi bahwa aksi kejahatan dengan kekerasan akan segera dilakukan oleh orang-orang yang berpura-pura sebagai praktisi Falun Gong. Pada 1 Mei, sebuah pesan yang menyamar sebagai NTD Television—media yang didirikan oleh para praktisi Falun Gong (pengirim: [email protected], IP: 154.81.15.198)—mengklaim bahwa “kejayaan tragedi 9/11 akan terulang kembali” dan serangan yang “dilakukan oleh orang-orang yang berpura-pura sebagai praktisi Falun Gong” akan segera menyasar Gedung Putih, Mar-a-Lago, Trump Tower, dan Pentagon. Kemudian pada 15 Mei, sebuah pesan yang ditandatangani atas nama Presiden Taiwan Lai Ching-te (IP: 165.154.112.56) memprediksi bahwa orang-orang yang “mengenakan pakaian Falun Dafa” akan mendobrak masuk ke rumah-rumah “di tengah malam untuk merampok dan membunuh—lalu meninggalkan pakaian tersebut di lokasi kejadian.” Pola penggiringan opini dalam kedua pesan ini sengaja dirancang sejak awal untuk memfitnah dan melimpahkan kesalahan kepada para praktisi Falun Gong atas kekerasan apa pun yang mungkin terjadi di masa depan.

  • Penyamaran sebagai personel Falun Dafa Information Center. Pada 15 Mei, seorang pengirim tidak dikenal mengirimkan pesan ancaman bom melalui formulir kontak milik National Association of Free & Charitable Clinics, sebuah LSM di Virginia yang sama sekali tidak terkait dengan Falun Gong. Pesan tersebut mencatut nama Direktur Eksekutif Falun Dafa Information Center, Levi Browde, dan menggunakan alamat email palsu [email protected]. Isinya mengklaim bahwa bom amonium nitrat telah dipasang dengan pemicu jarak jauh, serta menuntut uang sepuluh juta dolar dalam waktu delapan jam. Insiden ini menunjukkan perluasan dari pola narasi palsu (false-flag), di mana ancaman bom sengaja diarahkan seolah-olah berasal dari pihak Falun Gong dan ditujukan kepada lembaga Amerika yang tidak memiliki hubungan apa pun.

Ancaman Bom dan Pembunuhan

Ancaman Pembunuhan yang menargetkan Shen Yun, Falun gong dan para pendukungnya (20 Mei 2026)

Ancaman kekerasan secara langsung pada bulan Mei ditujukan kepada para penari Shen Yun beserta keluarga mereka, kompleks Dragon Springs, dan seorang juru bicara Falun Dafa Information Center.

  • Pada malam hari tanggal 7 Mei, dua pesan dikirim secara berturut-turut dalam waktu singkat ke [email protected] dari alamat [email protected]. Pesan pertama mengancam bahwa para penari wanita Shen Yun beserta keturunan perempuan mereka akan diculik dan diperkosa. Pesan kedua, yang dikirim empat menit kemudian, mengancam bahwa anak cucu dari staf Shen Yun akan ditemukan “dengan leher digorok, tubuh dimutilasi, dan organ mereka dirampas di jalanan pusat kota yang ramai.”

  • Pada 8 Mei, sebuah ancaman bom dikirimkan melalui formulir kontak Shinjuku Cultural Center dengan menyamar sebagai Perdana Menteri Kanada Mark Carney, menggunakan email palsu yang dirancang menyerupai Canadian Opera Company. Pesan tersebut mengklaim bahwa bom yang dikendalikan jarak jauh telah dipasang di Four Seasons Centre di Toronto dan menuntut pembatalan pertunjukan Shen Yun pada sore hari berikutnya.

  • Pada 12 Mei, sebuah pesan yang masuk ke formulir kontak Falun Dafa Information Center yang ditandatangani atas nama Donald Trump (IP 165.154.110.87) memperingatkan bahwa “C4, bahan peledak, dan jebakan bom” telah dipasang di sepanjang rute pawai Hari Falun Dafa Sedunia pada 13 Mei di New York City.

  • Pada 17 Mei, sebuah pesan yang ditandatangani atas nama Chiang Kai-shek (IP 45.124.27.150) melontarkan ancaman pembunuhan terhadap Zhang Erping, seorang juru bicara senior Falun Dafa Information Center, beserta keluarganya: “Seluruh keluarga akan segera berkumpul kembali di hadapan Raja Neraka. Tidak akan lama lagi.”

  • Pada 19 Mei, dua ancaman telah menargetkan Dragon Springs dalam satu siklus berita yang sama. Ancaman pertama, dikirim atas nama “Li Yun” dengan alamat email palsu [email protected] (IP 165.154.112.34), memperingatkan bahwa “sejumlah besar ranjau darat bersensor tekanan telah dipasang di kawasan pegunungan sekitar Kuil Longquan.” Beberapa jam kemudian, pesan kedua yang ditandatangani atas nama Donald Trump (IP 154.81.15.111) mengklaim bahwa bahan peledak telah ditanam di dekat toko buku Dragon Springs dan asrama penari, serta menuntut uang tebusan sebesar dua puluh juta dolar sebelum jam 3 sore pada hari itu.

Secara keseluruhan, rangkaian insiden ini menambah jumlah total ancaman pembunuhan anonim menjadi 282 kasus sejak Maret 2024. Ancaman-ancaman tersebut sengaja dilakukan untuk mengintimidasi para praktisi Falun Gong serta menghalangi dukungan bagi Falun Gong dan Shen Yun, berdasarkan pusat data pelacakan insiden Falun Dafa Information Center yang diperbarui pada 16 Mei. Meskipun tidak ada korban fisik yang jatuh hingga saat ini, skala yang besar, aksi yang berulang, dan sifat lintas batas dari ancaman-ancaman tersebut menegaskan adanya kampanye intimidasi yang terus berlanjut. Semua insiden ini telah dilaporkan kepada aparat penegak hukum dan saat ini masih dalam proses investigasi.

Konteks dan Pola yang Terus Berlanjut

Ciri-ciri yang terus berulang dari rentetan insiden pada bulan Mei ini—seperti penggunaan kembali rentang IP yang sama (154.81.x.x, 165.154.x.x), kesamaan pilihan kata dalam bahasa Mandarin, serta kesengajaan mencatut nama-nama tokoh terkenal seperti Donald Trump, Mark Carney, Anthony Albanese, Lai Ching-te, Chiang Kai-shek, dan Sheng Xue sebagai pengirim palsu—menunjukkan adanya sebuah kampanye yang terorganisasi, bukan sekadar aksi dari pelaku tunggal yang terpisah.

Taktik penyamaran yang terlihat pada bulan Mei ini juga memperluas dampak kampanye tersebut di luar intimidasi langsung. Dengan memalsukan alamat email Dragon Springs, The Epoch Times, NTD, dan Falun Dafa Information Center itu sendiri, para pelaku berusaha mengaitkan Falun Gong dengan ancaman bom dan kejahatan kekerasan di mata pengelola gedung di luar negeri, aparat penegak hukum AS, serta masyarakat luas. Pola ini berjalan beriringan dengan fitnah di tingkat diplomatik oleh perwakilan pemerintah Tiongkok yang telah terdokumentasi pada bulan-bulan sebelumnya.

Untuk informasi lebih lanjut atau bantuan, silakan hubungi kami di [email protected].

Share