Lilin Melawan Kegelapan: Falun Gong Peringati 27 Tahun Penganiayaan di Seluruh Dunia
Pada 23 Juli, para praktisi Falun Gong menggelar aksi nyala lilin di National Mall untuk mengenang para praktisi yang tewas akibat penindasan PKT. (Foto: Seorang praktisi Falun Gong anonim)
Pada 20 Juli 1999, Partai Komunis Tiongkok (PKT) bertekad memusnahkan Falun Gong. 27 tahun berselang, upaya itu gagal—dan pada Juli ini, kegagalan tersebut tampak nyata di berbagai kota di seluruh dunia.
Dari Washington hingga Kuala Lumpur, dari depan Lincoln Memorial hingga trotoar di luar Kedutaan Besar Tiongkok di London, para praktisi berkumpul sepanjang akhir Juli untuk memperingati awal kampanye yang menargetkan untuk membungkam Falun Gong. Mereka menyalakan lilin bagi para korban yang tewas, mengangkat foto-foto mereka, dan menceritakan kepada para pejalan kaki—yang banyak di antaranya baru pertama kali mendengar—tentang kekejaman yang menimpa orang-orang yang tidak punya kesalahan lain selain meyakini Sejati, Baik, dan Sabar. Aksi peringatan ini melintasi berbagai benua, dengan laporan dari Amerika Serikat, Kanada, Korea Selatan, Malaysia, Britania Raya, Jepang, Australia, hingga negara lainnya. Di mana pun aksi itu digelar, pesannya satu: penganiayaan belum usai, dan tekad untuk menghentikannya tidak akan pernah surut.

Latihan meditasi Falun Dafa diperkenalkan di Tiongkok pada 1992 dan, dalam kurun waktu tujuh tahun, berhasil menarik sekitar 100 juta pengikut. Lebih dari seperempat abad setelah rezim berkuasa berupaya memusnahkannya, korban jiwa terus bertambah: banyak praktisi masih ditahan dan mengalami penyiksaan hanya karena bermeditasi atau berbicara tentang latihan Falun Gong kepada orang orang; lebih dari 5.300 kasus kematian dalam tahanan telah didokumentasikan, dengan angka korban yang sebenarnya diyakini jauh lebih tinggi; serta aksi perampasan organ tubuh praktisi yang disetujui oleh negara terus berlangsung.
Washington, DC

Sekitar 2.000 praktisi melakukan aksi damai dan berpawai melewati ibu kota pada 23 Juli, lalu berkumpul pada malam harinya di depan Lincoln Memorial, dengan Monumen Washington menjulang di kejauhan.
Saat senja perlahan berubah menjadi kelam, mereka duduk berbaris rapi dalam balutan busana kuning dan putih, masing-masing memegang sebatang lilin, sementara ratusan lilin di hadapan mereka membentuk aksara Tionghoa untuk “Falun Dafa” di atas alun-alun dan potret para korban berjejer di bagian depan.
Marina Vassong dari Philadelphia, yang meninggalkan Uni Soviet puluhan tahun lalu dan kehilangan keluarganya dalam Holocaust, mengatakan bahwa dunia pernah berikrar “Jangan Pernah Terulang Lagi”, namun horor serupa justru tengah berlangsung di Tiongkok tanpa dihentikan. Colleen Thiel, yang menyaksikan dari antara para wisatawan, tidak dapat memahami kekejaman tersebut jika disandingkan dengan keyakinan yang mendasarinya. “Menyiksa dan memenjarakan orang-orang yang keyakinan intinya adalah kebaikan sungguh di luar akal sehat saya,” ujarnya.
Toronto, Canada

Hujan tidak pernah reda di Toronto pada 18 Juli, namun para praktisi tetap melangkah tanpa henti—latihan pagi di luar Gedung Legislatif Ontario, unjuk rasa, pawai siang hari, dan aksi nyala lilin malam hari di Konsulat Tiongkok.
Ketenangan suasana tersebut menarik perhatian orang-orang. Zelia, yang sedang berlibur dari Turki, berhenti berlari untuk menonton, lalu ikut mencoba latihan tersebut dan duduk bermeditasi selama setengah jam di tengah cuaca basah. Marvin, yang baru pertama kali melihat acara seperti itu, terkejut mendengar tentang perampasan organ paksa dan menyebutnya sangat mengerikan karena telah menjadi “praktik yang dijalankan secara resmi oleh pihak berwenang di Tiongkok”. Saat menyaksikan aksi malam itu, seorang wanita bernama Lori berkata bahwa keheningannya membuat pesan tersebut lebih mudah tersampaikan: “Tempat ini sangat indah karena damai dan memberi ruang untuk merenung.”
Seoul, Korea Selatan
Hujan juga turun seharian di Seoul, namun para praktisi tetap menjalani latihan di tengah derasnya air hujan sebelum menggelar unjuk rasa, acara tabur bunga, dan pawai sejauh dua kilometer melewati pusat kota pada 20 Juli.
Asosiasi Falun Dafa Korea Selatan memperingatkan bahwa kampanye Beijing tidak lagi berhenti di perbatasan Tiongkok, melainkan merangsek ke dalam berbagai institusi Korea melalui tekanan dan taktik front persatuan. Sutradara film Heo Eun-do, yang tahun lalu membuka Seoul Larkspur International Film Festival dengan film dokumenter tentang perampasan organ State Organs, mengatakan kepada massa bahwa berdiam diri di tengah pelanggaran semacam itu sama saja dengan mendukungnya. Yang paling mengharukan adalah kesaksian seorang pengunjung asal Provinsi Jilin, Tiongkok, yang mengatakan bahwa pemandangan seperti itu mustahil terjadi di kampung halamannya—ibunya, seorang praktisi, tidak pernah berani melakukan latihan di siang hari, “hanya secara sembunyi-sembunyi di malam hari.”
Kuala Lumpur, Malaysia

Para praktisi memperingati hari tersebut dalam dua agenda berbeda. Pada pagi hari, mereka berkumpul di luar Kedutaan Besar Tiongkok, membacakan pernyataan dalam bahasa Mandarin, Melayu, dan Inggris, serta—tanpa gentar menghadapi misi diplomatik tempat mereka berdiri—menyerahkan surat protes ke pintu masuknya untuk mendesak agar penganiayaan tersebut diakhiri. Menjelang sore hari, mereka berpindah ke Taman Titiwangsa, tempat para praktisi melakukan latihan meditasi dan alunan musik latihan menarik minat para pejalan kaki yang lewat secara bergantian di tempat tersebut.
Bibbo, pengelola pusat meditasi setempat, berhenti karena pemandangan itu terasa tidak asing—lalu terkejut mengetahui bahwa para praktisi dianiaya hingga organ mereka dirampas saat masih hidup. “Hal ini layak diketahui dunia agar bisa dihentikan,” ujarnya. Seorang penyintas bernama Li, yang kini tinggal di Malaysia, menceritakan pengalamannya disiksa di penjara Tiongkok: kukunya ditusuk jarum, dua kuku kakinya dicabut, dan ia tidak boleh tidur selama dua puluh dua hari.
London, United Kingdom
Dari pukul tujuh hingga sepuluh malam, para praktisi mengambil posisi di trotoar seberang Kedutaan Besar Tiongkok—rangkaian penutup yang lebih tenang dari pawai dua hari pada akhir pekan sebelumnya. Mengenakan pakaian kuning, mereka duduk bermeditasi di hadapan spanduk bertuliskan “Hentikan Penganiayaan Falun Gong” dan “Dunia Membutuhkan Sejati-Baik-Sabar”, masing-masing memegang lilin dan potret seseorang yang telah tewas, yang dikelilingi oleh bunga.
Orang orang yang melintas dan wisatawan yang lewat didepan para praktisi tertarik melihat papan pajangan yang diterangi lampu; beberapa di antara mereka, setelah mengetahui bahwa orang-orang damai telah tewas demi organ tubuh mereka, bereaksi dengan keterkejutan yang nyata dan menandatangani petisi yang mendesak pemerintah Inggris untuk bertindak. Sesekali seorang pengemudi yang lewat membunyikan klakson—sebuah penghormatan kecil di tengah kegelapan.
Terpisah oleh samudra dan waktu, para praktisi berkumpul untuk menyuarakan satu hal, mereka berkumpul untuk mengenang yang tewas, mengungkap apa yang ditutupi PKT, dan meminta dunia tidak menutup mata. Tahun demi tahun, di berbagai kota dan bahasa, makin banyak orang berhenti mendengarkan—serta mendesak agar penindasan yang telah memasuki tahun ke-27 ini segera diakhiri.
Artikel ini merujuk pada beberapa laporan dari Minghui.org, sebuah situs web resmi Falun Dafa yang mempublikasikan kisah langsung dari para praktisi di Tiongkok dan seluruh dunia. Laporan asli dapat ditemukan di Minghui.org.









