Ancaman Bom Tandai Peningkatan Ancaman dalam Kampanye Penindasan Terhadap Shen Yun
Selama lebih dari 15 tahun, Shen Yun telah menjadi sasaran upaya pembungkaman oleh rezim Tiongkok dan antek-anteknya, termasuk tindakan penyabotan seperti menyayat ban bus tur. Insiden terbaru terjadi pada 16 Maret di Costa Mesa, California, di tengah serangkaian ancaman bom yang muncul. (The Epoch Times)
Dalam beberapa pekan terakhir, Shen Yun Performing Arts—perusahaan seni pertunjukan yang dikenal secara global karena menampilkan budaya tradisional Tiongkok—kembali menjadi sasaran serangkaian ancaman bom dan aksi sabotase. Sebagian besar penari Shen Yun juga berlatih Falun Gong, banyak dari mereka telah melarikan diri dari Tiongkok untuk menghindari penganiayaan.
Aparat penegak hukum mengonfirmasi bahwa seluruh ancaman bom yang diterima adalah palsu, dan tidak ditemukan bahaya nyata di teater mana pun. Seluruh pertunjukan tetap berlangsung sesuai jadwal tanpa kendala.
Insiden-insiden terbaru ini merupakan peningkatan ancaman dalam kampanye penindasan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) untuk melemahkan dan membungkam kelompok yang berbasis di New York tersebut. Sejak awal berdirinya perusahaan ini, pejabat Tiongkok telah menggunakan tekanan diplomatik dan ekonomi terhadap teater serta pemerintah daerah di seluruh dunia dalam upaya untuk menghentikan pertunjukan Shen Yun.
Karena taktik-taktik tersebut sebagian besar menemui kegagalan, rezim tersebut tampaknya mulai menggunakan antek-antek mereka untuk melakukan aksi sabotase, seperti menyayat ban bus tur perusahaan. Ancaman bom terbaru ini menunjukkan tindakan yang paling keji dari rezim dan para pendukungnya dalam menyasar Shen Yun.
Serangkaian Ancaman Bom dan Aksi Sabotase
Insiden-insiden tersebut dimulai dengan serangkaian ancaman bom palsu dalam rentang waktu beberapa pekan, yang menargetkan markas besar Shen Yun di bagian utara New York maupun lokasi-lokasi yang dijadwalkan untuk menyelenggarakan pertunjukan.
Ancaman pertama dikirim melalui surel pada 14 Maret yang mengklaim bahwa sebuah “bom kendali jarak jauh” telah ditempatkan di Dragon Springs, lokasi fasilitas tempat Shen Yun berlatih. Namun, tidak ada bahan peledak yang ditemukan. Seorang perwakilan Shen Yun menyatakan bahwa FBI sedang menyelidiki insiden tersebut. Pengirim surel, yang akunnya menggunakan nama Tionghoa, hingga kini belum teridentifikasi.
Insiden ini diikuti ancaman terhadap teater-teater di California, Vancouver, dan Taiwan, berisi peringatan adanya bom untuk mengacaukan pertunjukan mendatang kecuali jika Shen Yun dilarang tampil.
“Kami menempatkan banyak bom secara acak di dalam teater,” bunyi surel yang dikirim ke teater di California tersebut. “Jika Anda tidak ingin kami meledakkan bom-bom itu, segera tolak penampilan Shen Yun Performing Arts di sini!”

Sekali lagi, pengirim menggunakan nama Tionghoa, namun berbeda dengan nama yang digunakan dalam ancaman terhadap Dragon Springs.
Bersamaan dengan ancaman ini, seseorang menyayat ban dua bus tur Shen Yun di Costa Mesa, California. Metode sabotase ini berulang di Amerika Serikat maupun Kanada, memaksa perusahaan menerapkan tindakan pengamanan 24 jam untuk kendaraan mereka.
Mulai tanggal 26 Maret, beberapa ancaman tambahan dikirim melalui surel dalam bahasa Tionghoa ke Dragon Springs. Salah satu surel berbunyi, “Kami dalam waktu dekat akan menyelinap ke Kuil Dragon Springs di Shawangunk Ridge, bagian utara New York, menembaki siapa pun yang kami lihat dengan senjata api dan melemparkan granat ke arah kerumunan!”
Kampanye Luas Membuktikan Ketakutan PKT terhadap Shen Yun
“Shen Yun menunjukkan kepada dunia betapa mendalam, menginspirasi, dan megahnya budaya Tiongkok asli sebelum PKT merebut kekuasaan. Bagi banyak orang, pertunjukan ini menawarkan gambaran memikat tentang betapa indahnya Tiongkok jika kembali tanpa PKT,” ujar konduktor Shen Yun, Ying Chen (wanita). “PKT sangat tidak ingin hal ini ditampilkan begitu jelas di panggung dunia, sehingga selama lebih dari 15 tahun mereka menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan Shen Yun ke mana pun kami pergi.”
“Pertama, mereka mengancam pemerintah agar tidak mengizinkan Shen Yun tampil. Ketika itu tidak berhasil, mereka mulai mengancam teater-teater. Ketika itu juga tidak membuahkan hasil, mereka mulai menyayat ban bus kami… Ketika hal itu tidak menghentikan kami, mereka memulai kampanye fitnah secara daring dan mengirimkan surel-surel gila kepada manajer teater. Kini, mereka telah bertindak jauh lebih rendah lagi, dengan mengirimkan surel yang mengancam penembakan massal dan bom ke markas besar serta teater tempat kami berlatih dan tampil.”
Pada bulan Januari, Pusat Informasi Falun Dafa menerbitkan sebuah laporan yang menganalisis kampanye selama hampir 20 tahun ini untuk membungkam dan memfitnah Shen Yun. Laporan tersebut mendokumentasikan lebih dari 130 insiden pelecehan, sabotase, disinformasi, dan serangan fisik oleh pejabat Tiongkok atau antek-antek mereka di 38 negara.
Faktanya, garda terdepan dalam kampanye sabotase Shen Yun adalah personel diplomatik Tiongkok di kedutaan dan konsulat PKT seluruh dunia. Mereka menggunakan disinformasi, paksaan ekonomi, serta ancaman lain untuk menekan teater lokal dan pemerintah setempat agar melarang pertunjukan Shen Yun. Skala upaya diplomatik ini saja—terlihat dalam 81 dari 135 insiden gangguan terdokumentasi—menunjukkan sifat kampanye Beijing terkendali dari pusat dan berskala besar.










