Roy Manning
Dipaksa Keluar dari Pekerjaan Mengajar dan Masuk Kamp Kerja Paksa
Oleh Friends of Falun Gong | 12-05-2017
Roy Manning.
Nama saya Roy Manning, dan nama Tionghoa saya Ziqiang Yu. Saya lahir di Provinsi Shandong, Tiongkok, pada 8 Agustus 1971. Pada Juli 1996, saya lulus dari Universitas Keuangan Shandong dan dua bulan kemudian mulai mengajar ekonomi di Sekolah Tinggi Kejuruan Jinan, kemudian kuliah Bahasa Inggris dan IELTS antara tahun 2005 dan 2011.
Sebuah Latihan yang Mengubah Hidup
Saya mulai berlatih Falun Dafa pada Desember 1996. Berdasarkan prinsip-prinsip utama Sejati, Baik, dan Sabar, Falun Dafa adalah sebuah latihan kultivasi tingkat tinggi untuk jiwa dan raga. Latihan ini sangat efektif dalam penyembuhan dan menjaga kebugaran. Selama 20 tahun berkultivasi Falun Dafa, saya tidak pernah sakit, bahkan tidak pernah terserang flu. Oleh karena itu, saya selalu energik dan bersemangat dalam bekerja maupun kehidupan sehari-hari.
Yang lebih penting, Falun Dafa meningkatkan moral manusia. Falun Dafa telah mengungkapkan kepada saya tujuan sejati kehidupan manusia — untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih tanpa pamrih. Melalui kultivasi akhirnya kembali ke jati diri yang sejati, alih-alih mencari dan berjuang demi ketenaran dan kekayaan.
Sebelum berlatih Falun Dafa, saya sempat terjerumus dalam ideologi perjuangan dan kekerasan Partai Komunis. Sebagai praktisi Falun Dafa, saya telah meninggalkan mentalitas menyimpang itu dan memulai hidup dengan cara yang jauh lebih murni. Dibimbing oleh prinsip-prinsip Falun Dafa, saya menjadi karyawan yang unggul, baik hati kepada orang lain, tidak memiliki musuh dan tidak terlalu mementingkan kepentingan pribadi. Ketika saya mengajar di perguruan tinggi, sebagian besar mahasiswa menganggap saya sebagai guru yang baik dan kompeten.
Dianiaya Karena Keyakinan Saya
Partai Komunis Tiongkok muncul dan mempertahankan kekuasaannya berdasarkan kekerasan, kebohongan, dan perjuangan, yang sepenuhnya bertentangan dengan prinsip-prinsip Falun Dafa.
Pada tahun 1999, ketika kepala negara Tiongkok saat itu, Jiang Zemin berkuasa, statistik resmi memperkirakan terdapat sekitar 100 juta praktisi Falun Dafa—angka yang mencengangkan mengingat Falun Dafa baru diperkenalkan ke publik pada tahun 1992. Jumlah ini bahkan lebih besar daripada jumlah anggota PKT.
Melihat banyaknya pengikut Dafa yang dianiaya dan situasinya semakin memburuk, pada tanggal 1 Oktober 2000, saya pergi ke Beijing untuk memprotes penganiayaan tersebut. Hari itu, saya ditangkap secara ilegal di Lapangan Tiananmen dan ditahan di Kantor Polisi Fangshan di Beijing selama sehari, di mana saya diinterogasi beberapa kali.
Kemudian saya dipindahkan ke Kantor Polisi Qianfoshan dan selanjutnya ke Kantor Polisi Shunyunan di Jinan. Di sana, mereka menginterogasi saya tanpa henti. Pada tanggal 2 Oktober 2000, dua polisi pria dan seorang polisi wanita memborgol saya ke kursi di sebuah ruangan dan kemudian ke pagar kawat di halaman. Mereka terus memukuli saya dengan tongkat, hingga paha dan bokong saya memar di sekujur tubuh. Saya sangat kesakitan dan tidak pulih dalam waktu setengah bulan. Sambil memukuli saya, polisi wanita itu bahkan mengancam akan memukul alat kelamin saya dengan tongkat. Dan salah satu dari dua polisi pria itu terus memfitnah dan mengutuk Falun Dafa agar saya melepaskan keyakinan saya. Saat itu, saya berada dalam jurang penderitaan dan keputusasaan yang tak terlukiskan.
Mereka menahan saya selama dua minggu. Dan polisi beberapa kali mengganggu saya setelah saya pulang. Pengalaman itu meninggalkan kenangan yang sangat menyakitkan.
Musim panas 2011, saya memperoleh visa perjalanan AS dan berencana mengunjungi Amerika Serikat. Pada 12 Juli, saat bersiap-siap naik pesawat di Bandara Jinan, saya dan sembilan teman lainnya tiba-tiba dihentikan di bea cukai oleh polisi dan petugas dari Kantor 610 (kantor pemerintah yang dibentuk khusus untuk menganiaya Falun Gong).
Ternyata dengan menyadap panggilan telepon internasional dan cara lainnya, mereka memperoleh sejumlah informasi tentang rencana perjalanan kami dan takut bahwa kami, selama tinggal di AS, akan memberi tahu masyarakat internasional tentang apa yang mereka lakukan terhadap orang-orang di daratan Tiongkok.
Saya kembali ditahan secara ilegal, kali ini di sebuah pusat pelatihan hukum yang dulunya berfungsi sebagai pusat pencucian otak untuk menganiaya praktisi Dafa. Saya diinterogasi dan dipaksa mengakui bahwa niat saya pergi ke AS adalah untuk mengungkap penganiayaan. Namun, saya bersikeras bahwa itu hanya untuk bepergian, sehingga mereka tidak punya alasan selain membebaskan saya 13 hari kemudian.
Tepat sebelum melepaskan saya, sekelompok polisi menggeledah rumah saya secara ilegal dan menyita beberapa barang milik saya: sebuah laptop, dua printer, dan beberapa materi terkait Falun Dafa. Mengetahui betul bahwa tindakan mereka terhadap saya ilegal, mereka menolak memberikan bukti apa pun bahwa saya ditahan. Kantor 610 terus mengganggu saya, mencoba mengumpulkan lebih banyak informasi tentang rencana perjalanan kami. Di bawah tekanan PKT yang jahat, kampus tempat saya bekerja meminta saya untuk mengundurkan diri, tetapi saya menolak karena saya tidak melakukan kesalahan atau pelanggaran hukum. Namun, kampus tidak lagi menyediakan les untuk saya ajar, dan akibatnya saya kehilangan pekerjaan.
Pada 23 Oktober 2011, saat menjenguk seorang teman dan rekan praktisi, saya dibawa secara ilegal ke kantor polisi, diinterogasi, dan kemudian ditahan di Pusat Penahanan Changping Beijing selama 35 hari sebelum dijatuhi hukuman 2 tahun penjara di kamp kerja paksa. Pada 29 November 2011, saya ditempatkan di Kamp Kerja Paksa Xinan Beijing, dan kemudian pada 25 April 2012, dipindahkan ke Kamp Kerja Paksa Chaoyang Liaoning. Di bawah tekanan dari seluruh dunia, sistem kamp kerja paksa Tiongkok yang terkenal kejam di daratan Tiongkok harus dihapuskan pada awal 2013, sehingga saya dibebaskan tanpa syarat pada 27 April 2013 meskipun saya dengan tegas menolak untuk melepaskan keyakinan saya.
Selama satu setengah tahun di penjara, saya tidak diserang secara fisik, tetapi dipaksa duduk di bangku kecil yang keras, sekitar 15 jam sehari selama lebih dari setengah tahun, yang menyebabkan bokong saya terluka parah. Kemudian, saya dipaksa bekerja sebagai buruh, menenun kursi teras yang akan diekspor ke negara lain, termasuk Amerika Serikat.
Di pusat penahanan dan dua kamp kerja paksa tersebut, saya menjalani 4 kali tes darah, tanpa diberitahu tujuannya maupun hasilnya. Dan tes darah terakhir di Kamp Kerja Paksa Chaoyang diulang sebanyak 3 kali hanya dalam beberapa minggu karena alasan yang tidak saya ketahui. Mengingatnya kembali sekarang, saya masih merasa ngeri. Jika golongan darah saya adalah apa yang sangat diinginkan oleh rezim PKT, saya bisa saja dibunuh demi organ saya. Sejumlah besar praktisi Falun Dafa telah dibunuh demi organ mereka sesuai permintaan. Menilai dari skala pengambilan organ hidup secara paksa yang luar biasa besar dilakukan oleh rumah sakit-rumah sakit di Tiongkok terhadap para praktisi Dafa, golongan darah saya pasti sangat dibutuhkan. Alasan saya tidak dibunuh demi organ saya, saya sangat yakin, adalah karena ada banyak praktisi Falun Dafa lainnya yang dipenjara secara ilegal memiliki golongan darah yang sama dengan saya. Merekalah yang dibunuh demi organ mereka.
Di Amerika
Saya tiba di Amerika Serikat pada 15 Agustus 2013 dan mendapatkan status suaka pada April 2014. Di sini, saya dapat berkultivasi Falun Dafa dengan bebas tanpa rasa takut atau gangguan ilegal. Kini, saya menjalani kehidupan normal dan bekerja sebagai pemandu wisata di Salt Lake City.
Namun, di Tiongkok masih banyak praktisi Dafa secara ilegal dilecehkan, ditangkap, ditahan, dipenjara, disiksa dan dibunuh. Adik laki-laki saya ditangkap secara ilegal dan ditahan di Kota Jinan, Tiongkok selama sekitar 20 hari pada Oktober 2014. Waktu itu ia baru mulai serius berlatih Falun Dafa. Rekan praktisi Dafa yang ditangkap secara ilegal bersama saudara laki-laki saya telah ditahan di Jinan selama 2 tahun dan masih belum dibebaskan.
Di antara para praktisi Dafa yang dibunuh, jumlah yang telah diverifikasi sebagaimana dilaporkan di media dan disajikan dalam beberapa dokumen independen mungkin tidak seberapa dibandingkan kenyataan yang sebenarnya. Dibandingkan dengan mereka, dan di dalam penganiayaan skala besar serta genosida massal yang belum pernah terjadi sebelumnya ini, penderitaan yang telah saya lalui sebenarnya hanyalah setetes air di tengah lautan.
Sebagai salah satu penyintas, saya berkewajiban untuk mendorong orang-orang yang berhati nurani untuk melawan penganiayaan dan pembunuhan di Tiongkok. Semakin cepat kita dapat mengakhiri ketidakmanusiawian ini, semakin sedikit penyesalan yang akan kita rasakan, karena kita tahu bahwa kita telah melakukan hal yang benar.
Artikel asli dari Friends of Falun Gong dapat dilihat di : http://fofg.org/personal-stories/roys-story-forced-teaching-job-labor-camp/










