KTT IRF 2024: Rangkuman Pusat Informasi Falun Dafa

Ketua bersama KTT IRF, Dr. Katrina Lantos Swett, berbicara mengenai penganiayaan yang sedang berlangsung dalam sebuah wawancara dengan Lynn Feng, koordinator acara Pusat Informasi Falun Dafa. (Sumber: Pusat Informasi Falun Dafa)

Ketua bersama KTT IRF, Dr. Katrina Lantos Swett, berbicara mengenai penganiayaan yang sedang berlangsung dalam sebuah wawancara dengan Lynn Feng, koordinator acara Pusat Informasi Falun Dafa. (Sumber: Pusat Informasi Falun Dafa)

Pada 30 dan 31 Januari 2024, tim Pusat Informasi Falun Dafa mengikuti KTT Kebebasan Beragama Internasional (IRF) di DC, yang diadakan di Washington Hilton dan Institut Perdamaian Amerika Serikat. Pertemuan perdana KTT ini pertama kali dibentuk pada Juli 2021. Konferensi tahun ini merupakan KTT IRF yang keempat.

KTT tersebut mengadakan diskusi dan sesi interaktif mengenai tanggung jawab perusahaan dalam mendukung inklusi beragama, alat pencegahan serta pelaporan genosida, hingga kisah para penyintas penganiayaan agama seperti Holokaus.

Di acara tersebut, para praktisi berdiskusi tentang kebebasan beragama dan berbagi pengalaman dalam meningkatkan kesadaran kepada sesama peserta KTT.

KTT IRF dipimpin oleh Sam Brownback, mantan Duta Besar Luar Biasa untuk Kebebasan Beragama Internasional, dan Katrina Lantos Swett, Presiden Lantos Foundation untuk Hak Asasi Manusia dan Keadilan. Keduanya mendukung penghentian penganiayaan Falun Gong oleh PKT di Tiongkok, terutama terkait masalah pengambilan organ paksa.

Solidaritas Selama KTT

Berbagai pidato membahas kekejaman yang dialami Falun Gong, termasuk pidato dari Ketua DPR Mike Johnson, aktivis Komite Kebebasan di Hong Kong (CFHK) Frances Hui, dan pengacara hak asasi manusia Kanada Sarah Teich.

“Umat Buddha Tibet dan praktisi Falun Gong dijebloskan ke kamp kerja paksa, dan organ tubuh mereka diambil oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT). Saat ini, Amerika Serikat memiliki kesempatan dan kewajiban untuk mencegah genosida serta menghukum mereka yang melakukannya.” — Speaker of the House Mike Johnson

Beberapa pelapor khusus PBB mengunjungi stan untuk mempelajari penganiayaan terhadap Falun Gong di Tiongkok serta penindasan transnasional terhadap para praktisi di luar Tiongkok. Salah satu pelapor khusus tersebut memiliki pengalaman mengajar bahasa Inggris di Tiongkok dan langsung mengenali nama ‘Falun Gong’. Murid-muridnya melakukan latihan Falun Gong pada awal 1990-an, sebelum penganiayaan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) terhadap praktik spiritual tersebut dimulai.

Profesor, mahasiswa, peneliti, jurnalis, pejabat pemerintah, pengamat Tiongkok, pemimpin agama, dan peserta KTT lainnya juga mendatangi stan Pusat Informasi Falun Dafa untuk mempelajari lebih lanjut tentang latihan ini serta tren penganiayaan terbaru yang dihadapi para pengikutnya.

Seorang peserta KTT dari India terkejut saat mengetahui bahwa penahanan dan penindasan terhadap Falun Gong masih terjadi dalam skala besar di tahun 2024. Saat meninggalkan stan, ia menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para peneliti dari Pusat Informasi tersebut, “Terima kasih telah memberikan pencerahan kepada saya.”

Dalam banyak percakapan, pengamat hak asasi manusia dan pengacara mengangkat masalah penindasan transnasional dan campur tangan PKT yang menghambat banyak orang untuk memahami Falun Gong dan penganiayaan terhadap praktisinya secara jelas. Namun, mereka merasa optimis bahwa seiring meningkatnya kesadaran masyarakat akan sifat kebohongan yang disebarkan oleh PKT, kebingungan seputar masalah hak asasi ini akan hilang.

Share