Mengenal Sandra dari Prancis
Catatan Editor: Sandra, warga negara Prancis, adalah seorang ibu dari dua putra. Ia memiliki diploma bidang mode dan bekerja sebagai penata rias serta penjahit. Ia mulai berlatih Falun Gong pada 1999. Berikut adalah kisahnya dalam mengenal dan berlatih Falun Gong.
Bagaimana Anda pertama kali mengenal Falun Gong?
Sejak kecil, saya selalu tertarik pada pengalaman manusia, termasuk pemikiran dan dimensi spiritual keberadaan kita. Saya banyak membaca untuk memahami asal-usul manusia. Meski dibesarkan dalam lingkungan Kristen, saya tidak merasakan kehangatan atau keagungan ajaran tersebut selama masa katekismus, sehingga saya memutuskan untuk berhenti lebih awal.
Pada usia 22 tahun, musim panas 1999, saya pergi ke Paris untuk menempuh pendidikan tata rias. Untuk tugas pameran sekolah, saya memilih India sebagai subjek karena dianggap sebagai salah satu pusat spiritualitas dunia. Saat tinggal bersama nenek di dekat Paris, ia menyebutkan bahwa seorang sepupu yang sudah lama tidak saya temui tinggal di dekat sana dan berpengalaman langsung di India. Berharap ia dapat membantu tugas saya, saya pun menghubunginya.
Saat bertemu sepupu saya, saya melihat perubahan drastis pada dirinya; ia memancarkan ketenangan. Ia mengatakan bahwa dirinya adalah praktisi qigong asal Tiongkok dan ajaran Zhuan Falun telah mengubah pemahamannya secara mendalam. Perkataannya membuat saya tertarik, terutama mengenai buku ajarannya. Meskipun belum diterbitkan secara resmi, para praktisi Falun Dafa di Paris saat itu membuat salinannya sendiri. Sayangnya, saya tidak mendapatkannya hari itu, namun saya sudah bisa mulai berlatih.
Meski sempat frustrasi karena harus menunggu buku tersebut, saya mengikuti kelas Falun Dafa dan mempelajari gerakan latihan dari seorang praktisi asal Tiongkok. Sejak saat itu, saya rutin berlatih dan akhirnya mendapatkan buku tersebut—penyelamat hidup bagi saya. Panduan itu menjawab semua pertanyaan masa kecil saya dengan lugas dan jelas; segala hal yang saya cari tertuang dengan apik di dalamnya. Tak disangka, jawaban atas pencarian saya datang dari Tiongkok, bukan India.
Apa dampak Falun Dafa dalam hidup Anda?
Latihan ini memberi saya kesehatan fisik dan mental yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Saya merasakan dampak positifnya pada tubuh saya. Sakit punggung yang dulu sering saya alami kini mereda berkat latihan ini. Khasiatnya luar biasa; tidak perlu banyak berpikir, cukup komitmen untuk rutin berlatih setiap hari.
Namun, yang terpenting bagi saya adalah pemahaman bahwa kesehatan fisik dan mental harus dijaga secara bersamaan; keduanya tidak terpisahkan. Praktik Falun Dafa selaras dengan prinsip universal Sejati, Baik, dan Sabar. Ajaran ini mengajak kita kembali pada nilai-nilai mendasar yang mulai luntur di masyarakat modern.
Menerapkan prinsip Sejati, Baik, dan Sabar dalam keseharian adalah tantangan terbesar saya. Saya belajar untuk lebih toleran kepada orang lain, termasuk keluarga, serta menghadapi masalah dengan lebih santai dan tenang. Perubahan ini membuat hidup saya jauh lebih positif dan menyenangkan, bahkan di tengah situasi sulit.
Sebagai seorang Eropa, bagaimana Anda terhubung dengan latihan yang berakar pada budaya tradisional Tiongkok ini?
Sebelum mengenal Falun Dafa, saya tidak tertarik pada Tiongkok. Justru melalui latihan inilah saya memahami Tiongkok dan budaya tradisionalnya. Dulu, saya hanya tertarik pada sosok biksu Tibet; budaya tersebut terasa lebih hangat dibandingkan latar belakang Barat saya yang dingin. Saya bahkan pernah berujar bahwa jika ingin mencari ketenangan, saya lebih memilih suasana kuil daripada destinasi Barat mana pun untuk memulihkan diri.
Menerapkan prinsip Sejati, Baik, dan Sabar dalam keseharian adalah tantangan terbesar bagi saya.








