Nenek di Shandong Divonis Tiga Tahun Penjara secara Rahasia, 13 Hari Setelah Ditangkap karena Berlatih Falun Gong
Penjara Wanita Provinsi Shandong (Minghui.org)
Liu Yulian (77), seorang wanita lansia praktisi Falun Gong asal Kota Linqing, Provinsi Shandong, ditangkap pada 12 Mei 2026. Hanya berselang 13 hari, ia dijebloskan ke Penjara Wanita Provinsi Shandong di Jinan sekitar tanggal 25 Mei, tanpa pemberitahuan kepada keluarga terkait dakwaan, proses persidangan, maupun pendampingan hukum. Kasusnya dilaporkan oleh Minghui.org pada 2 Juni dan Weiquanwang pada 3 Juni.
Saat keluarga menanyakan statusnya, polisi hanya mengatakan bahwa Liu “telah divonis tiga tahun” tanpa memberi keterangan lebih lanjut. Keluarga menduga ia tidak mendapatkan proses hukum yang adil—pola yang umum dalam kasus Falun Gong—serta tidak mengetahui apakah ia pernah didakwa secara resmi, didampingi pengacara, atau menjalani persidangan.
Penangkapan dan Vonis Rahasia
Pada 12 Mei 2026, saat hendak menuju ladang, Liu dicegat oleh Gao Haimin, Kepala Kantor Keamanan Domestik Kota Linqing, dan petugas dari Kantor Polisi Bachalu. Laporan menyebutkan, polisi memarkir sepeda roda tiga korban di sebuah apotek—diduga untuk menutupi penangkapan tersebut—sebelum membawanya ke Pusat Penahanan Kota Linqing. Keluarga yang diminta mengirimkan pakaian ke tempat itu tidak mendapatkan informasi apa pun mengenai kasusnya.
Keluarga memastikan Liu dipindahkan ke Penjara Wanita Provinsi Shandong di Jinan sekitar 25 Mei 2026, hanya 13 hari setelah ditangkap. Dalam waktu singkat tersebut, prosedur pidana standar—seperti penyidikan, peninjauan dakwaan, persidangan, hingga pembelaan hukum—diduga diabaikan sepenuhnya, dan keluarga hanya mengetahui vonis tersebut dari keterangan singkat petugas. Masa hukumannya dilaporkan akan berakhir pada 11 Mei 2029.
Dua Dekade Penganiayaan
Liu lahir pada Juni 1949 dan tinggal di Desa Panpengdian, Kota Bachalu, Kota Linqing. Sebelum berlatih Falun Gong, ia dilaporkan menderita berbagai penyakit seperti tumor, usus buntu, dan sakit kepala kronis. Setelah mulai berlatih pada 1998, kesehatannya dilaporkan membaik drastis. Suaminya, Pan Dongsheng, juga ikut berlatih. Sejak Partai Komunis Tiongkok (PKT) meluncurkan kampanye melawan Falun Gong pada Juli 1999, pasangan ini tetap teguh pada keyakinan mereka dan berulang kali menjadi target penganiayaan.
Pada 2001, Liu pergi ke Beijing untuk menuntut hak berlatih Falun Gong. Ia ditangkap, dibawa kembali ke Linqing, dan ditahan selama dua minggu. Pasca-pembebasan, polisi setempat terus mengganggunya hingga ia tidak dapat hidup dengan tenang.
Liu dan Pan ditangkap pada Maret 2001. Seorang petugas memukul kepala Pan dan menendangnya hingga pingsan. Pan kemudian ditahan di Pusat Penahanan Kabupaten Guan. Tiga bulan kemudian, ia dijebloskan ke Kamp Kerja Paksa Wangcun selama tiga tahun. Akibat penyiksaan, kesehatannya memburuk hingga ia sempat tidak bisa makan selama sembilan hari pada Juni 2002. Pihak kamp akhirnya memindahkan Pan ke Rumah Sakit Kota Linqing dan menyuruh keluarga menjemputnya karena ia tidak mampu membiayai pengobatan.
Pan kembali ditangkap pada musim gugur 2008 dan ditahan selama 10 hari di Pusat Penahanan Kota Linqing. Saat kedua anaknya menjemput, petugas memaksa mereka menyerahkan uang 200 yuan yang mereka bawa.
Pada 13 Mei 2022, seorang pejabat desa dan empat polisi dari Kantor Polisi Bachalu menggeledah rumah Liu dan bertanya apakah ia masih berlatih Falun Gong. Setelah Liu membenarkannya, mereka menyita buku, foto pendiri, pengeras suara, lukisan, dan kalender miliknya. Polisi memborgol Liu dan memaksanya berjalan mundur menuju mobil. Saat Liu menyatakan bahwa berlatih Falun Gong bukan kejahatan, petugas menuduhnya “bersikap buruk” dan mengencangkan borgol hingga melukai pergelangan tangannya. Di kantor polisi, Liu gemetar hebat dan tekanan darahnya melonjak, sehingga petugas melepas borgolnya. Ia dibebaskan sekitar pukul 19.00.
Pada 1 April 2024, Liu kembali ditangkap saat sedang belajar ajaran Falun Gong di rumah praktisi lain. Polisi menerobos masuk dan menggeledah lokasi. Saat Liu menolak memberikan sampel darah, petugas memotong sehelai rambutnya. Penggeledahan berlangsung hingga dini hari, dengan penyitaan uang 1.640 yuan dan lebih dari 40 buku Falun Gong. Dua hari kemudian, Liu dibawa ke Kantor Polisi Tangyuan. Ia pingsan saat polisi mencoba mengambil sidik jarinya, sehingga petugas memanggil keluarga untuk menjemputnya. Pasca-kejadian, ia terus diganggu hingga terpaksa hidup berpindah-pindah selama berbulan-bulan, termasuk melewati musim dingin.
Pada 13 November 2025, polisi dari Kantor Keamanan Domestik Kota Linqing dan Kantor Polisi Bachalu mendatangi rumah Liu dan memerintahkannya datang ke Kejaksaan untuk menandatangani dokumen kasus. Saat Liu menolak, mereka membawanya paksa. Ketika Liu gemetar, petugas memegang tangannya untuk memaksakan cap sidik jarinya pada dokumen tersebut. Setelah itu, polisi menyita empat buku Falun Gong dan pemutar media yang ia gunakan untuk berlatih.
Pola penahanan yang melanggar hukum
Kasus Liu mencerminkan pola sistematis di mana praktisi Falun Gong di Tiongkok dipenjara tanpa prosedur hukum dasar, seperti dakwaan resmi, akses pengacara, maupun pengadilan yang adil. Praktisi lanjut usia pun tetap menjadi target. Karena pihak keluarga tidak mendapatkan informasi mengenai kondisi dan lokasi penahanannya, muncul kekhawatiran serius terhadap keselamatannya.
Mengingat usianya yang lanjut dan riwayat penyiksaan dalam tahanan, ia berisiko tinggi mengalami cedera fisik atau tewas, seperti yang sering terjadi pada praktisi lain. Per 1 Juli, Minghui.org telah mencatat 5.359 praktisi Falun Gong tewas akibat penganiayaan yang terus berlangsung di Tiongkok.
Upaya paksa pengambilan sampel darah dari Liu pada penggerebekan 2024 menimbulkan kekhawatiran serius. Laporan Pusat Informasi Falun Dafa Juni 2026 mengungkapkan bahwa lebih dari separuh praktisi yang disurvei di 20 provinsi Tiongkok antara 1999–2024 mengaku dipaksa menjalani tes darah atau pemeriksaan medis yang tidak jelas saat ditahan. Praktik ini konsisten dengan temuan para ahli mengenai pemeriksaan sistematis skala besar untuk potensi perampasan organ—kejahatan yang menurut investigasi independen, termasuk China Tribunal di London, dilakukan terhadap praktisi Falun Gong. Perlakuan sewenang-wenang terhadap Liu—penangkapan tanpa prosedur, vonis rahasia, pengambilan paksa data biometrik dan darah, serta penutupan informasi bagi keluarga—menggambarkan kondisi yang memperkuat kekhawatiran tersebut.









