Pemerintah AS Mendakwa Agen PKT atas Skema Suap yang Menargetkan Falun Gong

Informasi terbaru (25 Juli 2024): Chen dan Feng telah mengaku bersalah dan dijadwalkan menjalani sidang vonis pada Oktober 2024, dengan ancaman hukuman maksimal 25 tahun penjara.

Pada 26 Mei 2023, sebuah pengadilan federal mendakwa dua agen Tiongkok atas keterlibatan mereka dalam kampanye penindasan lintas negara terhadap warga yang berlatih Falun Gong. Penindasan tersebut dilakukan melalui skema suap yang diarahkan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) di Orange County, New York.

Kedua agen tersebut mencoba menyuap seorang oknum pejabat publik sebesar puluhan ribu dolar di bawah arahan seorang pejabat PKT. Upaya suap ini dilakukan demi “menggulingkan” latihan spiritual Falun Gong yang selama ini menjadi sasaran penganiayaan di Amerika Serikat.

“Rincian dari kasus ini menunjukkan bagaimana para praktisi Falun Gong tetap menjadi target utama penindasan transnasional PKT. Mereka juga menunjukkan segala cara yang akan dilakukan PKT — menyuap seorang pejabat pajak untuk melanggar hukum AS dan memanfaatkan lembaga-lembaga AS sebagai senjata untuk melawan orang-orang yang tidak bersalah — demi mencoba memuluskan keinginan mereka.” – Levi Browde, direktur eksekutif Pusat Informasi Falun Dafa

“Kami mengapresiasi pemerintah AS atas tindakan ini, dan kami mendorong agar agen-agen PKT di seluruh AS ditindak dengan tegas karena mereka bukan hanya mengancam warga Amerika yang menyuarakan kekejaman di Tiongkok, tetapi juga mengancam pejabat pemerintah kita, bahkan sistem demokrasi kita sendiri, yang semuanya menjadi sasaran skema ilegal ini,” ujar Levi Browde, Direktur Eksekutif Pusat Informasi Falun Dafa.

Berdasarkan dokumen pengadilan, John Chen (alias “Chen Jun”), seorang warga negara AS berusia 70 tahun asal Tiongkok, dan Lin Feng, warga negara Tiongkok berusia 43 tahun yang menetap di Los Angeles, menargetkan sebuah entitas yang dikelola Falun Gong. Mereka bertujuan mencabut status bebas pajak entitas tersebut “melalui suap dan penipuan” serta manipulasi terhadap Program Pelapor Pelanggaran (Whistleblower Program) IRS.

Berdasarkan surat dakwaan, informasi yang dimasukkan oleh tersangka agen Chen dan Feng ke dalam basis data program tersebut pada Februari lalu senada dengan propaganda PKT. Informasi itu memuat retorika yang biasa digunakan rezim Tiongkok untuk “membenarkan penindasan dan pelecehan terhadap anggota Falun Gong.”

Berdasarkan ringkasan jaksa penuntut yang menolak jaminan bagi Lin Feng, Feng mengakui bahwa ia dan Chen “bepergian ke New York untuk mengintai warga Falun Gong di Orange County, New York. Mereka juga mengumpulkan informasi yang akan menjadi dasar bagi gugatan lingkungan hidup potensial guna menghambat pertumbuhan komunitas Falun Gong di wilayah tersebut.”

Chen dikenal sebagai loyalis partai yang fanatik dan salah satu tokoh masyarakat di Los Angeles yang paling vokal menentang Falun Gong. Sebelumnya, John Chen pernah bertemu dengan mantan pemimpin PKT Hu Jintao dan pemimpin PKT saat ini, Xi Jinping. Chen juga membanggakan kedekatannya dengan Konsulat Tiongkok di Los Angeles. Sejak tahun 2000, dalam berbagai kesempatan, ia kerap menggunakan forum publik seperti seminar konsulat Tiongkok dan jamuan makan siang VIP di All-China Federation of Returned Overseas Chinese (ACFROC) untuk memfitnah, mencemarkan nama baik, serta melontarkan pernyataan keliru mengenai Falun Gong.

PKT Targetkan Entitas Nirlaba Terkait Falun Gong

Sejak 21 Januari 2023, Chen mengindikasikan bahwa “tujuan pembayaran suap ini, yang diarahkan dan didanai oleh pemerintah RRT, adalah untuk menjalankan misi pemerintah RRT guna ‘menggulingkan’… Falun Gong.” Antara Januari hingga Mei, kedua agen tersebut beroperasi di Amerika Serikat di bawah arahan seorang pejabat Tiongkok untuk menjalankan skema suap ilegal, dengan menggunakan aplikasi pesan terenkripsi berbasis di Tiongkok untuk berkomunikasi.

Pejabat Tiongkok yang disebutkan dalam surat dakwaan tersebut adalah “sosok yang selalu bertanggung jawab atas urusan [Falun Gong] ini,” menurut keterangan Chen dalam percakapan telepon yang disadap dan tercatat dalam dokumen dakwaan. Dalam panggilan telepon terpisah pada 16 Mei, Chen memerintahkan Feng untuk mengantarkan uang suap yang telah disepakati ke New York, sembari menyatakan bahwa ia juga akan “menghubungi Tianjin lagi.”

Pada 14 Mei 2023, Chen dan Feng bertemu dengan seorang agen FBI yang menyamar sebagai pejabat IRS. Mereka menjanjikan pembayaran total sebesar 50.000 dolar AS kepada pejabat tersebut untuk membuka audit terhadap entitas terkait Falun Gong. Dalam pertemuan itu, Chen menyerahkan uang suap tunai sebesar 1.000 dolar AS kepada agen penyamar sebagai pembayaran awal, dengan janji pembayaran lebih lanjut pada pertemuan berikutnya, termasuk 60 persen dari imbalan pelapor pelanggaran (whistleblower award) IRS jika upaya mencabut hak entitas terkait Falun Gong tersebut berhasil.

Dalam pertemuan kedua di Bandara Internasional John F. Kennedy pada 18 Mei, Feng menyerahkan uang suap tunai sebesar 4.000 dolar AS kepada oknum pejabat IRS tersebut guna melanjutkan skema mereka. Berdasarkan surat dakwaan yang telah dibuka untuk umum, “Chen diduga memperoleh pendanaan dari pemerintah RRT untuk melakukan pembayaran suap selama perjalanannya ke RRT dalam menjalankan skema tersebut.”

Sekitar tanggal 18 Mei, jaminan pembayaran ketiga dan keempat masing-masing sebesar 25.000 dolar AS dijanjikan kepada agen penyamar tersebut. Chen berencana kembali ke “RRT dan mengumpulkan lebih banyak pendanaan untuk Skema Suap,” sementara Feng akan menyerahkan langsung uang suap tunai tersebut ke New York begitu Chen kembali.

Niat jahat serta kampanye terarah untuk menindas dan mengintimidasi warga yang berlatih Falun Gong di Amerika Serikat diuraikan oleh Chen dalam beberapa rekaman telepon. Saat Chen dan Feng menjalankan skema ini demi kepentingan PKT, ia menyatakan bahwa rekan-rekannya di Pemerintah RRT “sudah seperti saudara sedarah. Kami memulai perlawanan terhadap [pendiri Falun Gong] ini dua puluh, tiga puluh tahun yang lalu. Mereka selalu bersama kami.”

Chen dan Feng kini menghadapi dakwaan atas empat pasal terkait konspirasi, penyuapan, dan pencucian uang. Chen ditahan tanpa jaminan, dan U.S. Marshals Service akan memindahkannya dari California ke New York. Sementara itu, Feng akan tetap berada dalam tahanan hingga sidang penahanannya pada 1 Juni, menurut pernyataan juru bicara Kantor Kejaksaan AS di Los Angeles kepada The Epoch Times.

Puluhan Pejabat AS di Berbagai Tingkatan Angkat Bicara

Departemen Kehakiman AS merilis sebuah artikel yang memuat komentar tambahan dari para pejabat di setiap tingkatan sistem peradilan Amerika Serikat. Jaksa Agung Merrick B. Garland, Wakil Jaksa Agung Lisa O. Monaco, Direktur FBI Christopher Wray, serta Wakil Direktur FBI Paul Abbate, secara terbuka mengecam skema keji PKT untuk melakukan penindasan lintas negara terhadap mereka yang berlatih Falun Gong melalui upaya penyuapan pejabat federal.

“John Chen dan Lin Feng diduga melancarkan kampanye atas perintah Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok untuk memengaruhi pejabat Pemerintah AS guna memperkuat penindasan Pemerintah RRT terhadap warga yang berlatih Falun Gong,” ujar Jaksa AS Damian Williams dari Distrik Selatan New York. “Upaya untuk memanipulasi dan menggunakan tangan Pemerintah AS demi menjalankan tujuan otokratis Pemerintah RRT merupakan hal yang sangat mengejutkan sekaligus licik. Kantor saya akan bekerja keras untuk melindungi dari pengaruh asing yang jahat.”

Lembaga-lembaga yang terlibat dalam kasus ini meliputi Biro Investigasi Federal (FBI), Divisi Keamanan Nasional (NSD), Kantor Jaksa Agung, Kantor Wakil Jaksa Agung, serta Kantor Kejaksaan AS (USAO) untuk Distrik Selatan New York.

“Selama hampir 24 tahun, penganiayaan PKT terhadap Falun Gong di tanah asing tidak pernah melambat atau berhenti,” ujar Browde. “Sebaliknya, otoritas Tiongkok dan antek-antek mereka saat ini terus melakukan penindasan lintas negara secara merajalela terhadap Falun Gong. Insiden ini adalah contoh yang nyata, namun dalam banyak hal, ini hanyalah puncak gunung es.”

Kasus ini juga dilaporkan oleh Voice of America bahasa Mandarin, Radio Free Asia bahasa Mandarin, Bitter Winter, The Epoch Times, NTD News, AP, The Hill, Reuters, National Review, dan Fox News.

Share