Qin Yueming, 47 tahun, Heilongjiang
(photo)
Qin Yueming sebelum masa penahanan
Nama: Qin Yueming (秦月明)
Jenis Kelamin: Laki-laki
Usia: 47 tahun
Tanggal Penangkapan Terakhir: April 2002
Tanggal Pembebasan Terakhir: Tewas dalam tahanan
Tanggal Kematian: 26 Februari 2011
Provinsi: Heilongjiang
Kota: Yishan
Alamat: Jalan Xiangyang, Area Jinshantun
Tempat Penahanan Terakhir: Penjara Jiamusi (佳木斯监狱) di Lianjiangkou, Heilongjiang
Rincian Kasus:
Qin Yueming diculik dari kediamannya pada April 2002. Ia dipukuli secara sadis dan mengalami penyiksaan di atas “bangku macan” (tiger bench), hingga mengakibatkan tulang rusuk dan kakinya patah serta membuatnya tidak mampu berjalan. Meski demikian, ia kemudian dijatuhi hukuman sepuluh tahun penjara dalam persidangan yang hasilnya telah ditentukan sebelumnya oleh pejabat Partai Komunis. Qin kemudian dibawa ke Penjara Jiamusi. Sebelum penahanan ini, ia telah menghabiskan waktu selama tiga tahun di Kamp kerja paksa (RTL) Yichun. Di sana, ia menjadi sasaran penyiksaan karena berlatih Falun Gong.
Pada malam hari tanggal 26 Februari 2011, istri Qin menerima panggilan telepon dari Penjara Jiamusi yang menginformasikan bahwa Qin telah tewas. Pihak penjara mengklaim bahwa penyebabnya adalah serangan jantung mendadak. Ia kemudian dipanggil untuk datang ke penjara guna menyelesaikan “prosedur yang diperlukan.” Keluarga Qin mendatangi penjara tersebut pada sore hari berikutnya.
Setibanya di lokasi, keluarga Qin meminta untuk melihat jenazahnya. Setelah didesak terus menerus, otoritas penjara akhirnya mengizinkan mereka. Keluarga menemukan luka memar dan bekas pukulan di sekujur tubuhnya, yang mengindikasikan bahwa ia telah mengalami penganiayaan berat. Mereka berhasil mengambil sebuah foto dan menyelundupkannya ke luar Tiongkok melalui internet. Darah keluar dari hidung dan mulutnya saat tubuhnya dibalikkan ke posisi telungkup. Keluarga Qin meminta penjelasan mengenai asal-usul luka memar tersebut, namun para penjaga hanya memberikan berbagai alasan dan menyuruh mereka menanyakannya ke Kejaksaan jika mereka keberatan.
Menurut sumber-sumber di dalam Tiongkok, setelah menerima instruksi untuk mengintensifkan penganiayaan terhadap para praktisi Falun Gong di kamp tersebut guna mencapai “tingkat transformasi” sebesar 85 persen, personel penjara membentuk sebuah “Tim Manajemen Ketat” pada 21 Februari. Beberapa praktisi dari berbagai bangsal dibawa ke bagian tersebut, termasuk Qin. Mereka tidak diizinkan membawa barang bawaan pribadi apa pun. Setiap praktisi diawasi oleh beberapa narapidana kriminal dan berada di bawah tekanan terus-menerus untuk menulis surat pernyataan melepaskan diri dari Falun Gong.
Menurut sumber yang dapat dipercaya, beberapa praktisi, termasuk Qin, dibawa ke rumah sakit penjara dan dicekoki makanan secara paksa pada 25 Februari 2011. Qin dibawa ke sebuah kamar mandi di lantai satu, di mana empat orang menahan tubuhnya dan satu orang lainnya memegang kepalanya. Ia dipaksa bersandar pada sandaran kursi. Mereka menjepit lidahnya dengan pinset dan menariknya keluar. Dua narapidana kemudian memasukkan selang hidung. Zhao Wei, dokter penjara; Yu Yifeng, kepala bangsal; serta beberapa penjaga lainnya dilaporkan hadir di lokasi. Mereka menuangkan susu dan garam melalui selang tersebut. Qin dilaporkan berteriak kesakitan, dan teriakan tersebut terus berlanjut bahkan setelah ia dibawa kembali ke bangsal. Dua narapidana yang mengawasinya tidak dapat tidur di malam hari karena tangisan Qin. Mereka memanggil dokter penjara, Zhao Wei, yang mengindikasikan bahwa penderitaan Qin kemungkinan disebabkan oleh selang makanan yang masuk ke paru-paru, bukan ke lambung. Namun, dokter tersebut tidak mengambil tindakan lebih lanjut untuk menolongnya. Qin akhirnya tewas keesokan paginya, hanya berselang lima hari setelah dipindahkan ke “Tim Manajemen Ketat.”
Mengingat sejumlah penjara di Tiongkok telah memasang kamera pengawas guna menekan praktik penyiksaan, keluarga Qin meminta untuk melihat rekaman video sejak saat Qin dipindahkan ke “Tim Manajemen Ketat” hingga saat ia tewas. Yu Yifeng, kepala bangsal, awalnya menyetujui permintaan tersebut, namun menyatakan bahwa ia perlu berkonsultasi terlebih dahulu dengan atasannya. Pada akhirnya, Yu hanya memberikan rekaman video yang menunjukkan saat Qin jatuh pingsan hingga ia tewas. Qin sama sekali tidak bergerak dari awal hingga akhir video, dan rekaman tersebut tidak memberikan kejelasan mengenai penganiayaan apa yang dilakukan terhadapnya hingga menyebabkan kematiannya. Pada awal Maret, pihak keluarga meminta laporan tertulis yang menjelaskan penyebab kematian, namun pihak penjara menolak permintaan tersebut.
Qin berusia 47 tahun saat ia tewas. Ia meninggalkan seorang istri dan dua anak perempuan yang masih remaja. Sejak tahun 1999, mereka juga telah menjadi sasaran penculikan dan pemukulan.










