124 Praktisi Falun Gong Dilaporkan Tewas Akibat Penganiayaan di Tiongkok Selama 2025
Foto sejumlah praktisi Falun Gong yang tewas akibat penganiayaan pada tahun 2025. Sumber: Minghui.org
Sepanjang 2025, sedikitnya 124 praktisi Falun Gong di Tiongkok dilaporkan tewas akibat penganiayaan yang terus berlanjut, menurut data yang dihimpun oleh Minghui.org. Dari jumlah tersebut, 62 kasus kematian terjadi pada tahun 2025, sementara korban lainnya tewas pada tahun-tahun sebelumnya namun baru dapat dikonfirmasi dan dilaporkan pada 2025. Keterlambatan ini disebabkan oleh sensor negara dan blokade informasi. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, jumlah kasus tambahan untuk tahun 2025 diperkirakan akan terus bertambah seiring waktu.

Para korban terdiri dari 85 wanita dan 39 pria, dengan rentang usia antara 35 hingga 94 tahun. Dari 120 kasus yang mencantumkan informasi usia, mayoritas korban merupakan lansia. Sebanyak 98 praktisi—lebih dari empat perlima—berusia 60 tahun atau lebih. Jumlah ini mencakup tiga orang berusia di atas 90 tahun, 24 orang antara 80 hingga 90 tahun, dan 40 orang antara 70 hingga 80 tahun. Selain itu, terdapat 31 korban yang berusia 60-an tahun. Hanya sebagian kecil korban yang berusia di bawah 50 tahun, yang menegaskan dampak buruk penganiayaan yang terus menyasar para praktisi lanjut usia. Sebelum tewas, sedikitnya 119 korban telah menjalani penahanan ilegal, pemenjaraan, atau pengurungan di berbagai fasilitas seperti penjara, pusat penahanan, pusat cuci otak, rumah sakit jiwa, atau panti jompo. Di tempat-tempat tersebut, mereka mengalami penyiksaan fisik dan psikologis yang berkepanjangan. Sebanyak 23 praktisi tewas saat berada dalam tahanan, dan laporan menunjukkan bahwa 13 orang di antaranya disuntik dengan zat beracun atau zat yang tidak dikenal.

Secara geografis, laporan kasus tewasnya praktisi pada tahun 2025 tersebar di 24 provinsi, daerah otonom, dan kota madya di seluruh Tiongkok, yang mencerminkan cakupan penindasan di tingkat nasional. Provinsi Heilongjiang mencatat jumlah kematian tertinggi dengan 18 kasus, diikuti oleh Jilin (15), Hebei (14), Liaoning (13), dan Shandong (12). Wilayah lain yang juga terdampak parah meliputi Sichuan (8), Jiangsu (7), dan Gansu (5), sementara Provinsi Hubei, Daerah Otonom Ningxia, dan Kota Madya Chongqing masing-masing melaporkan empat kasus kematian. Angka-angka ini menyoroti konsentrasi penganiayaan berat yang terus berlanjut di wilayah timur laut dan utara Tiongkok, meskipun penganiayaan tetap terjadi di seluruh negeri.
Hingga 31 Desember 2025, Minghui.org melaporkan bahwa sedikitnya 5.302 praktisi Falun Gong telah tewas akibat penganiayaan sejak Juli 1999. Angka kematian ini merupakan aspek paling ekstrem dari kampanye penindasan yang lebih luas yang dilakukan oleh aparat keamanan Tiongkok terhadap individu yang berlatih Falun Gong. Namun, jumlah korban tewas yang sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi, mengingat sulitnya mengumpulkan data yang komprehensif, terutama untuk kasus-kasus yang melibatkan perampasan organ.








