Semester Pertama Tahun 2022: 2.707 Praktisi Falun Gong Ditangkap atau Dilecehkan karena Keyakinan Mereka
Berdasarkan informasi yang dikumpulkan oleh Minghui.org, 2.707 insiden praktisi Falun Gong yang ditangkap atau dilecehkan karena keyakinan mereka dilaporkan pada semester pertama tahun 2022.
Falun Gong, yang juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah sebuah disiplin spiritual yang telah mengalami penindasan oleh rezim komunis Tiongkok sejak tahun 1999. Banyak praktisi yang tidak terhitung jumlahnya telah ditangkap, dilecehkan, dijatuhi hukuman, dan disiksa karena mempertahankan keyakinan mereka. Namun, karena sensor informasi yang ketat di Tiongkok, kasus-kasus penindasan tersebut tidak selalu dapat dilaporkan tepat waktu, dan tidak semua informasi tersedia secara langsung.
Di antara 1.447 penangkapan yang dilaporkan, sembilan terjadi pada tahun 2020, 245 pada tahun 2021, dan 1.193 pada tahun 2022. Dari 1.260 insiden pelecehan, satu terjadi pada tahun 2020, 241 pada tahun 2021, dan 1.018 pada tahun 2022. Sebanyak 662 praktisi masih berada dalam tahanan dan 943 lainnya mengalami penggeledahan rumah.
Beberapa minggu menjelang Olimpiade Musim Dingin Beijing pada Februari 2022, pihak berwenang secara khusus menargetkan praktisi di Beijing dan Kota Zhangjiakou, dua dari tiga zona penyelenggara cabang olahraga salju, untuk mencegah mereka menyuarakan penindasan hak asasi manusia di Tiongkok selama pertandingan berlangsung.
Kasus-kasus pelecehan lainnya dilaporkan menjelang Kongres Partai di Shanghai, yang diadakan antara tanggal 25 dan 27 Juni.
Para praktisi yang ditargetkan berasal dari 28 provinsi dan kota madya. Shandong (418), Sichuan (323), Hebei (297), Heilongjiang (222), dan Hubei (200) melaporkan gabungan kasus penangkapan dan pelecehan terbanyak. Jilin, Liaoning, dan Hunan juga melaporkan jumlah kasus dalam angka tiga digit. Delapan belas wilayah lainnya mencatat jumlah kasus dalam angka dua digit.

Para praktisi tersebut berasal dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk profesor perguruan tinggi, petugas polisi, manajer perusahaan, guru, dokter, akuntan, dan karyawan bank. Sebanyak 399 praktisi—241 ditangkap dan 158 dilecehkan—berusia 60 tahun ke atas, dengan tiga praktisi di antaranya berusia 90-an tahun.

Meskipun kampanye penindasan “Pemutihan” (Zero-out) yang menargetkan setiap praktisi dalam daftar hitam pemerintah—yang dimulai pada puncak pandemi—telah melambat pada tahun 2022, para praktisi sebenarnya diperlakukan lebih buruk dari sebelumnya, dan beberapa praktisi telah meninggal beberapa jam atau hari setelah penangkapan mereka. Seorang wanita meninggal dua jam setelah penangkapannya dan satu lagi 14 jam kemudian. Wanita ketiga meninggal tiga hari setelah ditangkap dan satu lagi delapan hari kemudian. Dua praktisi lainnya mengalami trauma akibat penindasan terbaru dan meninggal tak lama kemudian.
Praktisi lainnya juga melaporkan telah dipukuli oleh polisi setelah penangkapan mereka, yang mengakibatkan cedera serius, termasuk patah tulang, memar, dan pembengkakan.
Setelah seorang praktisi diserang oleh pria yang sama sebanyak dua kali dalam dua bulan saat membagikan materi Falun Gong, polisi melepaskan penyerang tersebut dan justru menginterogasi sang praktisi.
Pihak berwenang juga mengganggu kehidupan sehari-hari para praktisi, termasuk menerobos masuk ke kamar tidur seorang praktisi wanita di tengah malam untuk menangkapnya, menutupi lubang intip pada pintu dan kamera pengawas mereka, serta memutus aliran listrik dan internet ke rumah mereka. Beberapa praktisi melaporkan bahwa pihak berwenang memasang kamera pengintai di sekitar rumah untuk memantau mereka.
Di Provinsi Guangdong, polisi mengganti kunci pintu rumah seorang wanita berusia 84 tahun tanpa persetujuannya. Ketika ia terpaksa tinggal jauh dari rumah untuk menghindari penganiayaan, pihak berwenang terus menelepon tetangganya dan menanyakan apakah ia sudah kembali.
Dalam beberapa kasus, pihak berwenang menggunakan pandemi sebagai alasan untuk menangkap atau menindas para praktisi, dengan klaim bahwa mereka perlu memeriksa hasil tes korona atau memberikan vaksinasi. Saat menangkap enam praktisi di Provinsi Hebei karena membaca buku-buku Falun Gong bersama, polisi mengatakan, “Kita sedang dalam pandemi, dan kalian melanggar hukum karena mengadakan pertemuan ilegal.”
Selain polisi setempat dan komite lingkungan yang selama ini berada di baris terdepan dalam melaksanakan kebijakan penindasan, masyarakat umum juga dikerahkan untuk melaporkan para praktisi. Pada semester pertama tahun 2022, seorang guru menipu putra seorang praktisi agar memberitahukan alamat mereka dengan klaim perlu melakukan kunjungan rumah, dan mantan penyewa dari praktisi lainnya melaporkannya karena telah memberitahu mereka tentang Falun Gong.
Berikut adalah contoh dari berbagai jenis kasus penindasan yang dilaporkan pada semester pertama tahun 2022:
Wanita Berusia 88 Tahun Meninggal Dua Jam Setelah Penangkapan
Seorang wanita berusia 88 tahun di Kota Harbin, Provinsi Heilongjiang, meninggal dua jam setelah penangkapannya pada tanggal 13 April 2022, karena berlatih Falun Gong. Polisi menghalangi keluarganya untuk mengajukan autopsi independen dan menahan surat keterangan kematiannya. Jenazahnya kini berada di rumah duka.

Cui Jinshi sedang membaca buku Falun Gong di rumahnya pada tanggal 13 April 2022, ketika beberapa petugas menerobos masuk dan menangkapnya. Dua petugas menyeret Cui dari apartemennya di lantai dua ke lantai dasar. Kemudian mereka tiba-tiba melepaskannya hingga ia terjatuh.
Pada pukul 17.45, putra Cui, Piao Hu, menerima telepon dari polisi yang memberitahukan bahwa ibunya telah dibawa ke ruang gawat darurat Rumah Sakit 242. Sesaat setelah ia tiba, dokter menyatakan Cui telah meninggal. Piao masuk ke ruang operasi dan melihat jenazah ibunya. Wajahnya pucat, tenggorokannya tersayat terbuka, dan ia hanya mengenakan satu sepatu.
Polisi memerintahkan rumah duka setempat untuk membawa jenazah Cui dan tidak mengizinkan keluarganya untuk melihatnya hingga dua hari kemudian. Hampir empat bulan setelah kematian Cui, jenazahnya masih berada di rumah duka. Karena polisi menolak memberikan surat keterangan kematian dan dokumen lainnya, pihak keluarga tidak dapat mengajukan autopsi independen atau bahkan mengkremasinya agar ia dapat beristirahat dengan tenang. (Tautan)
Pihak Berwenang Memantau Seorang Pria setelah Bebas dari Hukuman Penjara 7 Tahun
Pada saat Zhou Xiangyang selesai menjalani hukuman tujuh tahun penjara, ia menjadi sangat lemah sehingga tidak bisa keluar dari mobil tanpa bantuan. Warga Tianjin tersebut kini tinggal bersama orang tuanya di Desa Matuo, Kabupaten Changli, Provinsi Hebei, namun pihak berwenang tetap tidak membiarkannya tenang. Untuk terus memantaunya, mereka memasang 12 kamera pengintai di sekitar rumah orang tua dan saudara laki-lakinya, serta rumah orang tua ipar perempuannya, yang semuanya tinggal di desa yang sama. Pihak berwenang juga menghentikan mobil yang masuk dan keluar desa setiap hari untuk diinterogasi.

Zhou, mantan insinyur berbasis modern, melakukan aksi mogok makan selama bertahun-tahun yang dimulai pada hari penangkapannya tanggal 2 Maret 2015, dan berlanjut hingga ia dibebaskan pada tanggal 1 Maret 2022. Pada satu titik organ-organnya mengalami kegagalan, namun ia bertahan hidup dan kembali ke rumah dalam keadaan hidup.
Di Penjara Binhai di Tianjin, para penjaga melakukan berbagai bentuk penyiksaan dan pelecehan seksual yang menjijikkan terhadap Zhou. Penjaga menyetrumnya dengan tongkat listrik dan menyemprot matanya dengan semprotan merica. Mereka juga menghasut narapidana untuk menyiksa dan melecehkan Zhou secara seksual, termasuk mencubit puting susunya, meremas alat kelaminnya, memasukkan jari ke anusnya, mencabut bulu matanya, menghancurkan kuku jarinya, menekan tulang rusuknya, mencongkel giginya, dan mencekokinya dengan air seni. (Tautan)
Guru Kesenian yang Ditahan Dilarang Dikunjungi Keluarga
Seorang guru kesenian di Kota Shijiazhuang, Provinsi Hebei, telah ditahan tanpa bisa dihubungi sejak penangkapannya pada tanggal 23 Januari 2022, karena berlatih Falun Gong.

Pu Xingchi, sekitar 45 tahun, meraih gelar sarjana seni rupa di Universitas Normal Hebei dan menjadi guru kesenian di Sekolah Seni Qingyun setelah lulus. Ia ditangkap di rumahnya pada tanggal 23 Januari saat sedang mengajar kelas daring. Polisi telah menindasnya sebelum penangkapan tersebut dilakukan.
Pu ditahan di Hotel Panlonghu, tetapi orang tuanya yang sudah lanjut usia dan putrinya yang berusia awal 20-an belum diizinkan untuk menjenguknya. Polisi juga memantau putrinya yang sedang menempuh pendidikan perguruan tinggi di Tianjin. (Tautan)
Wanita Heilongjiang Terancam Pengadilan setelah Dilaporkan oleh Mantan Penyewanya karena Memberitahu Mereka tentang Falun Gong
Ms. Sun Tairong, a 52-year-old Harbin City, Heilongjiang Province resident, was arrested on January 20, 2022, after being reported by her two former tenants for talking to them about Falun Gong. The two young men had rented her apartment in preparation for civil service exams required for government jobs, the most steady jobs in China with a decent income.

Berpikir bahwa tidak mudah bagi generasi muda untuk memulai karier mereka, Sun menawarkan banyak layanan tambahan kepada para penyewanya, termasuk menyediakan WiFi berkecepatan tinggi secara gratis dan membebaskan biaya pemutusan kontrak lebih awal jika mereka memutuskan untuk pindah sebelum masa sewa berakhir.
Selama mereka tinggal, Sun memberi tahu para penyewa tersebut tentang bagaimana ia merasakan manfaat dari latihan Falun Gong dan bahwa hal itu tidak seharusnya ditindas. Kedua pria muda itu melaporkannya ke Komite Urusan Politik dan Hukum Distrik Nangang, sebuah lembaga ekstra-yudisial yang bertugas mengawasi penindasan terhadap Falun Gong. Polisi membuntuti Sun selama beberapa waktu dan kemudian menangkapnya.
Polisi menginterogasi Sun selama 53 jam setelah penangkapannya dan memerintahkan keluarganya untuk membujuknya agar melepaskan Falun Gong. Ia menolak untuk menyerah dan juga meminta keluarganya untuk tidak menyalahkan kedua pria muda tersebut karena telah melaporkannya.
Sun kini berada di Pusat Penahanan Yaziquan. Pihak berwenang telah menghalangi pengacaranya untuk menjenguknya, dengan alasan pandemi sebagai dalih. Penangkapannya disetujui pada tanggal 16 Februari dan ia kini terancam pengadilan. (Tautan)
Berdasarkan laporan asli oleh Minghui.org






