Setelah Kehilangan Janin, Guru Bahasa Inggris Meninggal Akibat Penganiayaan Selama Bertahun-tahun

Mendiang Li Fengmei

Mendiang Li Fengmei

Menjadi Sasaran karena Vokal, Guru Berusia 53 Tahun Wafat Usai 10 Tahun Mengalami Penyiksaan, Aborsi Paksa, dan Injeksi Zat Perusak Saraf.

Li Fengmei, mantan guru Bahasa Inggris dari Kota Yingkou, Provinsi Liaoning, Tiongkok, dilaporkan meninggal dunia pada 11 Desember 2019 di usia 53 tahun. Selama lebih dari dua dekade, ia berulang kali ditangkap, ditahan secara ilegal, dan disiksa karena keyakinannya pada latihan spiritual Falun Gong.

Falun Gong, atau dikenal juga sebagai Falun Dafa, adalah latihan spiritual dan meditasi kuno yang telah dianiaya oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) sejak tahun 1999.

Menurut laporan Minghui.org, ketika Li ditangkap pada Juli 2002 dan dibawa ke Pusat Penahanan Yingkou, diketahui bahwa ia tengah hamil dua bulan. Polisi pun segera memerintahkan dokter untuk melakukan aborsi paksa.

Demi menyelamatkan diri dan janin yang dikandungnya, ia terpaksa melarikan diri. Namun, kondisi hidup yang keras di jalanan membuatnya keguguran dan kehilangan janinnya.

Setelah itu, ia dipecat dari pekerjaan, diceraikan suaminya hingga tak punya uang, dan divonis hukuman empat tahun penjara.

Saat penangkapan, petugas kepolisian yang membawanya masuk mengatakan bahwa Li ditangkap karena kemahirannya berbicara dan reputasi baiknya.

Petugas tersebut menjelaskan bahwa jika Li dapat dipaksa untuk meninggalkan keyakinannya pada Falun Gong, pihak rezim komunis dapat memanfaatkan “transformasi” tersebut untuk memaksa orang lain melakukan hal serupa.

Ketika Li melarikan diri untuk melindungi janinnya, polisi tidak berhasil menemukannya. Sebagai gantinya, mereka menangkap kedua saudara perempuannya yang juga berlatih Falun Gong.

Trauma akibat penangkapan tiga putri mereka, sang ibu, Wang Fuqin, terserang stroke dan meninggal pada Maret 2004 di usia 69 tahun.

Setelah ibunya wafat, ayah Li, Li Kunlian, mengalami gangguan mental. Setiap hari setelah senja, ia keluar rumah sambil membawa pisau dan berteriak pada “orang jahat” yang ia yakini akan datang membawa pergi orang-orang yang dicintainya. Ia meninggal lima tahun kemudian di usia 71 tahun.

Mendiang Wang Fuqin dan Li Kunlian

Li kembali ditahan oleh polisi pada 21 Agustus 2003.

Memprotes penahanan ilegal itu, ia menolak menjawab pertanyaan petugas polisi kecuali borgolnya dilepas. Polisi merespons dengan menutupinya menggunakan selimut, lalu tiga petugas memukulinya secara brutal.

Seorang petugas melaporkan kepada wakil direktur bahwa tidak ada catatan interogasi yang dibuat. Direktur kemudian menjawab, “Kasus-kasus yang berkaitan dengan Falun Gong mudah ditangani. Kamu bisa menuliskan apa pun yang ingin Kamu karang.”

Li kemudian ditahan di Pusat Penahanan Bayujuan selama 13 bulan.

Sebagai bentuk protes terhadap penahanan sewenang-wenang dan karena tidak adanya jalur hukum lain, Li melakukan aksi mogok makan menuntut pembebasannya.

Minghui.org melaporkan, Kepala Ahli Bedah Pusat Penahanan, Gao Rizheng, dengan brutal mencekok-makan paksa Li, dibantu beberapa penjaga, sambil sengaja menyiksanya. Akibatnya, Li mengalami muntah, pendarahan internal, dan sakit perut parah.

Setelah kejadian itu, Li demam, tubuhnya gemetar, dan berkeringat hebat karena rasa sakit akibat penyiksaan. Seorang dokter di Rumah Sakit Bayujuan menyatakan kondisinya mengancam nyawa, namun kepala ahli bedah yang menyiksanya menolak untuk memberitahu keluarganya.

Kemudian, saat “merawat kondisinya” dengan suntikan intravena, Kepala Ahli Bedah Gao menyuntiknya dengan obat-obatan misterius yang menyebabkan Li mengalami kehilangan ingatan.

Ketika praktik penyiksaan terhadap Li terungkap di Minghui.org, sebagai aksi balas dendam, para penjaga memerintahkan narapidana untuk terus menyiksanya. Pada 24 September 2003, seorang narapidana bernama Sheng Ying memukul Li secara brutal hingga menyebabkan gendang telinga kirinya pecah.

Pemukulan dan penyiksaan berulang dari kepala ahli bedah, penjaga, dan narapidana menyebabkan pembengkakan pada kepala, wajah, dan sistem limfatik Li. Ia mengalami demam terus-menerus disertai mual, batuk, dan pusing. Cekok-makan paksa juga mengakibatkan cedera organ pada sistem pencernaannya, yang menyebabkan penyumbatan usus, bahkan nyawanya hampir melayang beberapa kali.

Meskipun Li telah dikirim ke Rumah Sakit Bayujuan empat kali untuk mendapat pertolongan, para pejabat memblokir informasi dan melarang kunjungan keluarga.

Selama sepuluh tahun berikutnya, Li berulang kali disiksa oleh Kepala Ahli Bedah Gao Rizheng yang menambahkan obat-obatan perusak saraf ke dalam makanan dan infus, menyebabkan Li mengalami hilang ingatan, kerontokan rambut, kesulitan bernapas, ketidakmampuan berjalan, dan kerusakan organ sensorik.

Beberapa kali saat Li berada di ambang kematian, pejabat rumah tahanan dan dokter memerintahkan pembebasan bersyarat medis. Namun, Kepala Ahli Bedah Gao memblokir keputusan itu dan mencoba memindahkannya ke Penjara Wanita Liaoning. Setelah beberapa kali gagal, pada 22 September 2014, Gao berhasil memenjarakannya melalui koneksi pribadi.

Penyiksaan parah terhadap Li terus berlanjut di penjara selama beberapa tahun. Menurut Minghui.org, ia disetrum dengan tongkat listrik, kedua lengannya patah, dan lehernya terinfeksi parah hingga mengeluarkan nanah dan darah dalam waktu lama. Ia juga dipaksa menjalani kerja paksa meskipun kesulitan berjalan dan tubuhnya dipenuhi luka.

Ketika Li akhirnya dibebaskan dari penjara, majikannya menolak mempekerjakan kembali dirinya. Ia terpaksa bergantung pada sanak saudara untuk bertahan hidup. Setelah bertahun-tahun hidup dalam penderitaan luar biasa akibat penyiksaan dan penganiayaan, Li meninggal pada akhir tahun 2019.

Li Fengmei dulunya merupakan guru Bahasa Inggris yang bertanggung jawab mengajar kelas yang akan lulus di Sekolah Menengah Xiongyue, Kota Gaizhou, Provinsi Liaoning.

Sebelum penganiayaan terhadap Falun Gong dimulai pada tahun 1999, Li sangat populer di kalangan siswa. Bahkan, beberapa siswa sampai pindah sekolah demi mengikuti kelasnya.

Untuk informasi lebih lanjut tentang kematian Li, kunjungi reportase Minghui:
https://en.minghui.org/html/articles/2020/4/16/184066.html

Share