Dunia Mendukung Falun Gong Melalui Peringatan 25 April
Para praktisi Falun Gong mengikuti pawai di Flushing, New York, pada 19 April 2025. Acara ini diadakan untuk memperingati 26 tahun peristiwa permohonan damai 25 April. (Larry Dye/The Epoch Times)
Tanggal 25 April menandai tahun ke-26 sejak permohonan damai di luar Kantor Permohonan Dewan Negara di Beijing. Saat itu, 10.000 praktisi berkumpul untuk meminta pembebasan 45 praktisi yang ditahan secara ilegal di Tianjin, serta menuntut hak untuk bebas menjalankan keyakinan mereka sebagai tanggapan atas meningkatnya pembatasan dari pemerintah.
Perdana Menteri Tiongkok saat itu, Zhu Rongji, bertemu dengan beberapa perwakilan Falun Gong di Dewan Negara untuk berdiskusi. Menjelang malam, masalah tersebut tampaknya telah terselesaikan dengan dikeluarkannya perintah untuk membebaskan para praktisi yang ditahan. Saat kerumunan membubarkan diri sambil membersihkan area yang mereka tempati, para pengamat memuji perkumpulan tersebut sebagai “permohonan warga yang paling rasional, damai, dan tertib dalam sejarah moderen Tiongkok.”
Namun, beberapa bulan setelahnya, Jiang Zemin selaku pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT) membatalkan cara damai yang dilakukan Zhu Rongji. Jiang malah menganggap aksi damai tersebut sebagai ancaman bagi pemerintah. Rezim PKT kemudian memakai peristiwa itu sebagai alasan untuk memulai penganiayaan yang kejam pada 20 Juli 1999. Mereka membohongi masyarakat dengan menyebut aksi damai itu sebagai sebuah “pengepungan” agar ada alasan untuk menghancurkan Falun Gong.
Secara global, para praktisi Falun Gong di kota-kota seperti New York, Toronto, London, Yokohama, Taipei, Sydney, dan kota lainnya, berkumpul untuk memperingati hari ini. Melalui berbagai acara dan orasi, mereka menyuarakan dukungan terhadap kebebasan berkeyakinan, perdamaian, dan hak asasi manusia.
Solidaritas Global untuk Falun Gong
Banyak anggota parlemen, pejabat pemerintah, dan tokoh hak asasi manusia di seluruh dunia telah menyatakan sikap menentang penganiayaan terhadap Falun Gong. Mereka mengutuk kejahatan yang dilakukan oleh PKT dan memuji keteguhan para praktisi yang terus mengungkap kebenaran dengan cara damai.
Berikut ini adalah beberapa surat, pernyataan, dan pidato dari para pemimpin dunia untuk memperingati peristiwa 25 April tahun ini.
Britania Raya


Jim Shannon, Anggota Parlemen dan Ketua Kelompok Parlemen Lintas Partai (APPG) untuk Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan, menyatakan dalam suratnya: “Sebagai pembela setia hak asasi manusia dan kebebasan berkeyakinan, saya mendesak pemerintah Inggris untuk bersolidaritas dengan para aktivis internasional dan mengambil sikap tegas melawan pelanggaran hak asasi manusia yang sangat berat oleh PKT, termasuk praktik keji pengambilan organ secara paksa yang menargetkan para praktisi Falun Gong.”
“Penganiayaan dan penindasan yang terencana terhadap kelompok spiritual yang damai ini harus dihentikan dengan sikap yang tegas dan bersatu. Hal ini penting untuk menegakkan keadilan, melindungi kebebasan berkeyakinan, dan menuntut tanggung jawab PKT atas segala kekejaman yang telah mereka lakukan.”


Bell Ribeiro-Addy menulis, “Saya menentang penganiayaan terhadap siapa pun. Ini termasuk penganiayaan karena alasan agama maupun gender. Sangat mengerikan mendengar betapa kejamnya penganiayaan agama yang dilakukan oleh PKT terhadap para praktisi Falun Gong.”
“Kebebasan beragama adalah hal yang beruntung bisa kami nikmati di Inggris, namun sayangnya tidak bagi banyak orang di belahan dunia lain. Sebagai sebuah bangsa, kita harus menentang segala bentuk penganiayaan, termasuk penindasan agama, dan bekerja sama dengan komunitas global untuk memastikan semua orang bebas menjalankan keyakinan mereka tanpa takut disakiti.”
“Saya sangat yakin Inggris harus tegas mengecam negara dan rezim yang melakukan penganiayaan karena alasan agama. Saya akan terus berjuang melindungi kebebasan beragama, baik di Inggris maupun di luar negeri. Saya percaya negara kita harus berbuat lebih banyak untuk memperjuangkan kebebasan beragama.”

Benedict Rogers, salah satu pendiri dan pengawas Hong Kong Watch serta wakil ketua komite hak asasi manusia partai konservatif, menulis: “Saya sangat mendukung hak para praktisi Falun Gong di Tiongkok untuk menjalankan keyakinan mereka dan menerapkan nilai-nilai ‘Sejati, Baik, dan Sabar’. Ini bukan hanya nilai-nilai Falun Gong semata – ini adalah nilai-nilai universal yang bisa dan seharusnya diterima oleh semua orang, baik yang beragama maupun yang tidak.”
“Namun, permohonan damai 26 tahun lalu itu malah dibalas oleh PKT dengan kampanye penganiayaan yang kejam dan brutal dan masih berlanjut sampai sekarang. Akibatnya, ribuan orang telah ditangkap, disiksa, dipenjara, bahkan dibunuh.”
“Hal ini telah memicu penindasan lintas negara. Korbannya bukan hanya praktisi Falun Gong, tapi juga warga Hong Kong, etnis Uyghur, Tibet, serta orang-orang yang berani mengkritik pemerintah Tiongkok. PKT bahkan melakukan kampanye jahat untuk menjelek-jelekkan, mengancam, dan mencoba membatalkan pertunjukan Shen Yun di berbagai negara.”
“Oleh karena itu, sangat penting untuk menggunakan peringatan seperti ini bukan hanya untuk mengenang ribuan praktisi Falun Gong yang berani dan damai saat menuntut hak untuk menjalankan keyakinan mereka, tetapi juga untuk terus bersuara bagi mereka yang saat ini masih menghadapi penganiayaan, pemenjaraan, penyiksaan, kerja paksa, eksekusi, serta pelanggaran hak asasi manusia berat lainnya.”
“Saya menantikan hari di mana nilai-nilai ‘Sejati, Baik, dan Sabar’ bisa dijalankan tanpa rasa takut di seluruh Tiongkok.”
New York

Martha Flores-Vazquez (kiri), pemimpin distrik Majelis Negara Bagian New York untuk wilayah Flushing, dan Samuel Ortiz (kanan).
Martha Flores-Vazquez, pemimpin distrik Majelis Negara Bagian New York untuk wilayah Flushing, hadir dalam aksi tersebut bersama Samuel Ortiz, seorang asisten jaksa wilayah. Flores-Vazquez mengawali sambutannya dengan berterima kasih kepada Kepolisian New York (NYPD) dan Polsek 109 yang telah menjaga keamanan selama acara berlangsung.
“Orang-orang menyebut saya pemimpin yang berani karena saya membela Anda, percaya pada Anda, dan akan melindungi Anda. Saya tidak menoleransi penganiayaan sama sekali,” kata Flores-Vazquez. “Saya tidak terima perilaku tidak manusiawi atau siapa pun yang menyakiti Anda. Falun Gong dan Shen Yun—pertunjukan terbaik di New York—sedang diancam, dan kami tidak akan membiarkannya. Komitmen saya adalah bersama Anda selamanya.”

Wei Libin, direktur Aliansi Demokrasi dan Hak Asasi Manusia Tiongkok untuk New York, menyampaikan pidatonya dalam aksi tersebut.
Wei Libin, direktur Aliansi Demokrasi dan Hak Asasi Manusia Tiongkok wilayah New York, berbicara dalam aksi tersebut. Ia menceritakan bahwa saat tiba di Amerika Serikat tujuh tahun lalu, hal pertama yang ia lakukan adalah menyatakan keluar dari PKT melalui Pusat Layanan Global untuk Keluar dari Partai. Pada tahun yang sama, ia ikut serta dalam pawai dan rapat umum untuk memperingati permohonan damai 25 April serta diwawancarai oleh The Epoch Times.
Wei mengatakan bahwa ia baru mengetahui tentang penganiayaan terhadap Falun Gong pada tahun 2011 setelah berhasil menembus sensor internet PKT. “Rakyat Tiongkok berutang maaf kepada Falun Gong,” ujarnya, sambil menunjukkan bahwa rasa takut, ketidaktahuan, dan prasangka telah membuat banyak orang tetap diam, bahkan turut terlibat dalam penganiayaan oleh PKT. Namun, para praktisi Falun Gong terus menunjukkan kebaikan dengan membantu rakyat Tiongkok dan dunia mengetahui kebenaran. Mulai dari mengembangkan perangkat lunak untuk menembus sensor hingga mendirikan media independen seperti The Epoch Times dan NTDTV, para praktisi telah memberikan udara segar bagi dunia dan membantu jutaan rakyat Tiongkok keluar dari PKT serta organisasi afiliasinya.
Wei berharap agar masyarakat dapat memahami dan menerima Falun Gong, benar-benar menyadari sifat jahat PKT, berani menolak rezim tersebut, sehingga rakyat Tiongkok dapat hidup bahagia, bebas, dan bermartabat.
Los Angeles

Dr. Zheng Cunzhu, Ketua Markas Besar Bersatu Partai Demokrat Tiongkok, berbicara dalam aksi tersebut.
“Jika kita tidak waspada dan membiarkan kekuasaan otoriter PKT meluas ke seluruh dunia, jika negara-negara Barat tidak mengubah strategi mereka yang berkompromi dengan PKT dan membiarkan kekuatan jahat itu tetap ada, maka pada akhirnya, hal ini akan menyebar ke seluruh dunia seperti COVID-19,” kata Dr. Zheng Cunzhu.
“Setiap orang yang memperjuangkan demokrasi, kebebasan, dan keyakinan menyalakan sebatang lilin. Cahaya ini tidak akan padam bahkan di saat tergelap sekalipun.” Dr. Zheng menyatakan bahwa di bawah kendali PKT, acara nyala lilin tahunan untuk memperingati tragedi 4 Juni tidak lagi diizinkan di Victoria Park, Hong Kong. Kebebasan dan keadilan harus dilindungi. Dr. Zheng berharap, “Cahaya lilin ini bersatu layaknya matahari yang mengusir kegelapan, sehingga rakyat Tiongkok bisa bebas menjalankan latihan dan keyakinan mereka di tanah air mereka sendiri.”
Yokohama, Jepang

Hirosato Nakatugawa, mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Jepang.
Nakatugawa telah berkomitmen mengungkap penganiayaan terhadap Falun Gong oleh PKT selama lebih dari 20 tahun. Ia mencatat bahwa Kongres Amerika Serikat telah mengajukan Undang-Undang Perlindungan Falun Gong, yang akan menjatuhkan sanksi—termasuk larangan masuk dan pembekuan aset—bagi individu yang bertanggung jawab atas penganiayaan praktisi. Ia mendesak parlemen Jepang untuk segera mengesahkan undang-undang serupa, dimulai dengan resolusi yang mengecam pelanggaran hak asasi manusia di Tiongkok, terutama praktik pengambilan organ paksa dari praktisi Falun Gong.
Nakatugawa menyatakan komitmennya untuk membela para praktisi Falun Gong dan mengecam kekejaman PKT. Ia menyemangati para praktisi untuk terus bekerja sama, serta menekankan bahwa upaya mereka sedang membantu mengubah Tiongkok dan memberikan kontribusi besar bagi perdamaian dunia.
Taipei, Taiwan

Shu Mei dari Asosiasi Taiwan untuk Kepedulian Internasional terhadap Transplantasi Organ.
Shu Mei, ketua Asosiasi Taiwan untuk Kepedulian Internasional terhadap Transplantasi Organ, menyatakan kegembiraannya melihat banyaknya praktisi yang hadir. “Tanpa slogan atau kekerasan, para praktisi berkumpul di Beijing 26 tahun lalu dengan damai, bermartabat, dan penuh tekad. Keteguhan itu lahir dari keberanian hati nurani mereka,” ungkapnya.
Namun, hanya tiga bulan kemudian, PKT meluncurkan penganiayaan brutal di seluruh negeri, yang diwarnai dengan penahanan, penyiksaan, pembunuhan, dan pengambilan organ paksa. Shu menekankan bahwa pengambilan organ paksa telah menjadi krisis etika yang sangat berat bagi komunitas medis global. “Bukannya tetap diam, kita harus mengikuti hati nurani kita untuk mendukung yang benar,” kata Shu. “Sejarah akan mengingat pilihan dan tindakan yang kita ambil. Mari kita dukung mereka yang tidak bersalah dan jaga prinsip moral kita.”
Toronto, Kanada

Lai Jianping memberikan pujian kepada Falun Gong.
Lai Jianping, mantan pengacara di Beijing dan komentator independen, menyatakan bahwa prinsip Sejati, Baik, dan Sabar dalam Falun Gong-lah yang memungkinkan permohonan damai bersejarah itu terjadi. Ia berkata, “Mereka memegang teguh keyakinan pada Sejati, Baik, dan Sabar di dalam hati mereka, sehingga mereka melakukan perlawanan damai, dan mereka selalu bersikeras menggunakan metode yang damai, rasional, dan tanpa kekerasan dalam memprotes penganiayaan.”

Zhang Ke, anggota Komite Partai Demokrat Tiongkok Kanada, berpidato dalam aksi tersebut.
“Anggota Partai Demokrat hadir di sini hari ini untuk mengikuti rapat umum Falun Gong ini,” kata Zhang Ke. “Mengapa saya di sini? Karena penganiayaan oleh PKT terhadap Falun Gong dimulai sejak permohonan damai oleh 10.000 praktisi pada 25 April, 26 tahun yang lalu. Praktik pengambilan organ paksa oleh PKT pun berawal dari penganiayaan terhadap praktisi Falun Gong. Kami berdiri di sini hari ini untuk mendukung Falun Gong. Falun Gong adalah adil, baik, dan indah. Sejati, Baik, dan Sabar adalah prinsip dari latihan Falun Gong. Falun Dafa baik!”






