Unjuk Rasa dan Pawai di Washington D.C. Menandai 23 Tahun Keberanian Melawan Penganiayaan
Selama 23 tahun terakhir, pada pekan sekitar tanggal 20 Juli, orang-orang dari seluruh dunia melakukan aksi jalan santai dalam diam dari National Mall menuju Freedom Plaza dengan membawa spanduk besar, menyerukan penghentian penganiayaan Partai Komunis Tiongkok (PKT) terhadap latihan spiritual Falun Dafa (alias Falun Gong). Pada siang hari, mereka mengadakan unjuk rasa bagi para pejabat pemerintah dan organisasi non-pemerintah untuk menyuarakan dukungan mereka. Sementara pada malam hari, mereka mengadakan acara nyala lilin untuk mengenang para praktisi Falun Dafa yang tewas dianiaya karena keyakinan mereka, serta untuk memberikan keberanian bagi mereka di daratan Tiongkok yang masih menderita di bawah penindasan rezim tersebut.
Ini adalah sebuah peristiwa yang khidmat, menandai ambang penindasan PKT terhadap orang-orang yang meyakini sejati, baik, dan sabar—prinsip-prinsip utama Falun Dafa. Dua puluh tiga tahun yang lalu, pada 20 Juli 1999, aparat keamanan PKT menahan ratusan praktisi Falun Gong. Dua hari kemudian, pada 22 Juli 1999, rezim tersebut melarang Falun Dafa, dan secara terbuka melabeli sekitar 70 juta hingga 100 juta orang sebagai “ancaman terhadap ketertiban umum.”
Melanggar konstitusi Tiongkok dan hukum internasional, kampanye PKT untuk membasmi kelompok spiritual tersebut sejak saat itu telah membuat para praktisi menjadi sasaran penindasan, penyiksaan, kerja paksa, dan bentuk-bentuk pelecehan ekstrem lainnya. Sejumlah besar praktisi yang tidak terhitung jumlahnya telah tewas demi perampasan organ mereka di dalam tahanan untuk memasok industri transplantasi organ miliaran dolar yang disetujui negara.
Tahun ini, sekitar 15.000 praktisi Falun Gong berkumpul di National Mall, Washington D.C., untuk mengecam penindasan PKT dan mengenang sesama praktisi yang terus teguh mempertahankan keyakinan mereka
Mengeluarkan pernyataan menjelang unjuk rasa tersebut, Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa penindasan rezim Tiongkok terhadap Falun Gong adalah hal yang “tidak dapat diterima dan harus dihentikan.”
Dengan latar belakang Gedung Capitol AS, para pembicara dalam unjuk rasa tersebut menyoroti meningkatnya kesadaran akan perampasan organ secara paksa terhadap para praktisi Falun Gong yang ditahan serta ancaman rezim Tiongkok terhadap Amerika Serikat.
“Perampasan organ secara paksa adalah salah satu praktik paling biadab dalam sejarah manusia. Dan sudah saatnya ada pertanggungjawaban yang nyata,” kata Anggota Kongres Steve Chabot (R-Ohio), sembari mencatat bahwa Kongres harus mengambil “tindakan agresif” terhadap kejahatan tersebut. “Amerika akhirnya menyadari ancaman yang ditimbulkan oleh Tiongkok. Dan kita semua perlu mendengar kisah Anda, memahami betapa kejamnya PKT terhadap Anda, serta belajar dari pengalaman Anda.”
‘Kongres Harus Segera Mengambil Tindakan’
Para pembicara dalam aksi tersebut juga mendesak dukungan terhadap Undang-Undang Penghentian Paksa Perampasan Organ Tahun 2021 (Stop Forced Organ Harvesting Act of 2021). Peraturan ini akan menjatuhkan sanksi bagi pihak-pihak yang bertanggung jawab atas perampasan organ secara paksa, serta melarang ekspor perangkat medis yang digunakan dalam kejahatan kemanusiaan yang mengerikan tersebut.
Sebuah pengadilan independen pada tahun 2019 menemukan bahwa rezim Tiongkok telah selama bertahun-tahun membunuh tahanan hati nurani—terutama para praktisi Falun Gong—demi organ mereka untuk memasok pasar transplantasi organ dalam ‘skala besar’, sebuah latihan yang terus berlanjut hingga hari ini.
Duta Besar Andrew Bremberg, presiden Victims of Communism Memorial Foundation (VOC)—sebuah kelompok advokasi yang berbasis di Washington—mendesak Kongres untuk mengambil langkah terdepan dalam mengesahkan legislasi tersebut.
“Kini telah diketahui bahwa akibat kebijakan PKT, para ahli bedah yang sangat terlatih telah selama puluhan tahun diubah menjadi eksekutor bagi para tahanan di atas meja operasi,” ujarnya, merujuk pada temuan dalam makalah bulan April milik Matthew Robertson, seorang peneliti di VOC, yang diterbitkan dalam American Journal of Transplantation.
“Jutaan orang yang berlatih Falun Gong di Tiongkok telah dipenjara, disiksa, atau tewas,” ujar Anggota Kongres Gus Bilirakis (R-Fla.) dalam pesan videonya kepada para peserta aksi. “Jika kita tetap berdiam diri menghadapi pelanggaran ini, kita mengabaikan kewajiban moral tersebut dan melakukannya dengan mempertaruhkan masyarakat sipil.”
Dalam pidato videonya, Senator Ted Cruz (R-Texas) menyatakan: “Amerika memiliki kewajiban untuk menjunjung tinggi dan mempromosikan kemampuan untuk berlatih agama tanpa hambatan pemerintah. Membiarkan Partai Komunis Tiongkok melanjutkan siklus penganiayaan yang kejam ini tanpa konsekuensi adalah sebuah pengabaian tugas moral.”
Anggota Kongres Scott Perry (R-Pa.) juga mengirimkan pidato virtualnya: “Penganiayaan yang dilakukan Tiongkok terhadap Falun Gong—baik itu perampasan organ secara paksa, pemenjaraan yang tidak adil, maupun kerja paksa—adalah sebuah kejahatan. Hal itu sangat menyimpang.”
“Kongres mutlak harus segera bertindak, guna memastikan jutaan praktisi Falun Gong tidak dirampas kebebasannya untuk menjalankan keyakinan agama mereka.”
Perry juga mencatat bahwa ia telah memperkenalkan Undang-Undang Perlindungan Falun Gong (Falun Gong Protection Act/H.R.6319) pada Desember lalu.
Legislasi tersebut akan menjatuhkan sanksi bagi individu yang terlibat atau turut berkontribusi dalam perampasan organ secara paksa terhadap para praktisi Falun Gong, serta meminta Departemen Luar Negeri untuk mengevaluasi apakah penganiayaan tersebut dapat dikategorikan sebagai genosida.
Kebebasan Beragama di Tiongkok Semakin Memburuk
Komisioner Eric Ueland dari Komisi Amerika Serikat untuk Kebebasan Beragama Internasional (USCIRF) menyatakan bahwa kondisi kebebasan beragama di Tiongkok telah memburuk dengan cepat dalam satu dekade terakhir.
“Belum pernah terjadi sejak masa terburuk Revolusi Kebudayaan, Anda menyaksikan penganiayaan yang begitu meluas dan mengerikan terhadap komunitas agama di Tiongkok, termasuk Falun Gong,” ujar Ueland dalam aksi tersebut.
Ia menyatakan bahwa USCIRF telah berulang kali mencatat penganiayaan terhadap Falun Gong dan bahwa beberapa praktisi bahkan telah “tewas di tangan pejabat Tiongkok.”
“Ini mengguncang hati nurani dan seharusnya menggerakkan jiwa kita,” ujar Ueland.
Annie Boyajian, wakil presiden Freedom House—sebuah organisasi hak asasi manusia—menyatakan bahwa penganiayaan terhadap Falun Gong telah memburuk selama lima tahun terakhir, terutama selama pandemi COVID-19. Ia juga mengkhawatirkan para praktisi Falun Gong dan umat Katolik di Hong Kong mungkin akan menjadi sasaran pada tahun mendatang.
“Banyak yang mungkin tidak tahu bahwa sejumlah perancang penindasan di Xinjiang menerapkan juga penindasan tersebut terhadap warga Tibet dan mereka yang berlatih Falun Gong,” ujar Boyajian.
Undang-Undang Penghentian Perampasan Organ Paksa tahun 2021 harus disahkan tahun ini, atau jika tidak, rancangan tersebut harus diajukan kembali pada 2023. Pada Maret 2021, Senator Tom Cotton (R-Ark.) dan Christopher Coons (D-Del.) memperkenalkan versi Senat dari legislasi tersebut, sementara Anggota DPR Chris Smith (R-N.J.) dan Thomas Suozzi (D-N.Y.) memperkenalkan versi DPR.
Piero Tozzi, penasihat senior Smith, turut hadir dalam aksi tersebut. Ia mengecam kampanye brutal PKT dan memuji keberanian para praktisi yang telah berlatih serta bertahan selama bertahun-tahun di tengah tekanan.
“23 tahun lalu, ketika Anda hadir untuk berdemonstrasi dan membela hak asasi manusia—demi hak Anda untuk bebas berlatih agama Anda—Partai Komunis Tiongkok menyadari bahwa mereka tidak dapat mengendalikan Anda. Dan apa pun yang tidak dapat dikendalikan oleh partai komunis, akan mereka upayakan untuk dihancurkan,” ujarnya dalam sebuah pidato.
Sejumlah pembicara lain dalam aksi tersebut di antaranya adalah Sean Nelson, penasihat hukum di Alliance Defending Freedom International; Arielle Del Turco, asisten direktur Center for Religious Liberty di Family Research Council; dan Darren Spinck, peneliti pendamping di Henry Jackson Society. Hadir pula Christina Sturgeon, asisten direktur eksekutif Jubilee Campaign USA; Alan Adler, direktur eksekutif Friends of Falun Gong; Luna Lyu, seorang korban penganiayaan terhadap Falun Gong; Rong Yi, presiden Tuidang (Quit the Party) Center yang berbasis di New York; serta Wang Zhiyuan dari World Organization to Investigate the Persecution of Falun Gong. Selain itu, Delegasi Eleanor Holmes Norton (D-D.C.) juga mengirimkan salam melalui pesan video kepada para peserta aksi.
Aksi massa tersebut dilanjutkan dengan longmars dari National Mall menuju Freedom Plaza. Pada malam harinya, sebuah acara doa bersama dengan penyalaan lilin yang diikuti oleh hampir 2.000 peserta digelar di depan Monumen Washington.
Menjaga Kebebasan Berkeyakinan di Tiongkok dan AS
Arthur Zhang, seorang sersan staf Angkatan Udara AS yang bertugas di Florida, mengambil cuti untuk berpartisipasi dalam acara tersebut. Baginya, meningkatkan kesadaran publik atas penganiayaan terhadap Falun Gong di Tiongkok dan menjaga Amerika Serikat adalah dua sisi dari mata uang yang sama; keduanya berkaitan dengan upaya menjunjung tinggi kebajikan, yang merupakan “prioritas hidupnya”.
Ketika penganiayaan dimulai secara mendadak pada 20 Juli 1999, Zhang merupakan seorang siswa tingkat akhir sekolah menengah berusia 17 tahun di sebuah kabupaten kecil di Provinsi Hebei, Tiongkok. Ia telah mulai berlatih Falun Gong tiga tahun sebelumnya.
Akibat memegang teguh prinsip Falun Gong, yakni sejati, baik, dan sabar, serta menolak untuk mengecam ajaran tersebut di hadapan PKT, ia kehilangan kesempatan untuk menempuh pendidikan di sebuah universitas di Beijing dan kemudian kehilangan sekolah pascasarjana pilihannya. Ia juga mengalami penyiksaan selama masa penahanan satu tahun di sebuah kamp kerja paksa di Tiongkok.
Pada Februari 2001, di sebuah kantor pengiriman kamp reedukasi di pinggiran kota Beijing, belasan polisi menyetrum empat praktisi Falun Gong dengan tongkat listrik karena menyatakan bahwa “Falun Dafa baik”.
Zhang merupakan salah satu dari keempat orang tersebut. Giginya terkatup rapat saat tongkat listrik mendarat di wajah, mulut, dan lehernya. Ia tidak mampu membuka mulut dan kehilangan kendali atas otot-otot wajahnya. Saat suara dengungan tongkat listrik terdengar keras di dekat telinganya, ia berusaha keras mempertahankan kesadarannya sembari terus mengulang kalimat di dalam hati:
Saya belum mati. Saya belum mati, saya tidak akan mengatakan Falun Dafa buruk, bahkan jika saya harus mati sekalipun.
Pada Januari 2002, Zhang dibebaskan dari Kamp Kerja Paksa Tuanhe di Beijing.
Setelah lulus dari sebuah universitas di Provinsi Hebei, ia bekerja di sebuah korporasi AS di Shanghai, yang kemudian membantunya mendapatkan visa untuk mengunjungi Amerika Serikat. Menyusul pengajuan permohonan pada 2012, ia akhirnya mendapatkan status suaka pada 2014.
Sembari mencari cara untuk membalas budi kepada Amerika Serikat, ia menemukan informasi perekrutan Angkatan Udara AS pada 2016. Nilai-nilai seperti “integritas utama”, “pelayanan sebelum diri sendiri”, dan “keunggulan dalam segala hal” sangat menyentuh batinnya—sedemikian dalamnya hingga ia memutuskan menjadi anggota baru di usia 35 tahun, hampir dua kali lipat usia rekrutan termuda dalam kelompoknya yang beranggotakan 52 orang.
Nilai-nilai inti Angkatan Udara “serupa dengan prinsip-prinsip yang diajarkan oleh Falun Gong, seperti bersikap jujur, mengutamakan orang lain, berkorban, serta memikul tanggung jawab kita,” ujar Zhang kepada The Epoch Times.
Pria yang saat itu berusia 35 tahun tersebut belum pernah menginjakkan kaki di pusat kebugaran sebelum bergabung dengan Angkatan Udara. Namun dengan kegigihan, ia berhasil lulus tes fisik dan menyelesaikan pendidikan pada 2017 dengan meraih penghargaan siswa berprestasi.
Zhang menyatakan bahwa ia ingin menawarkan wawasan yang diperoleh dari pengalaman hidupnya untuk membantu menjaga Amerika Serikat, negara angkatnya yang ia yakini sedang berada di bawah serangan komunisme di berbagai lini.
Baginya, PKT memaksakan kehendaknya kepada rakyat, merampas kebebasan berkeyakinan mereka, serta melenyapkan kemampuan berpikir kritis dan kesempatan untuk menentukan pilihan mereka sendiri.
Dari semua orang yang kebebasannya telah dihancurkan oleh PKT, mereka cenderung mengikuti secara buta atau membencinya. Namun, mereka tetap berada di bawah kendali PKT. Falun Gong telah memampukan saya untuk melampaui hal tersebut dan melihat PKT lebih dari sekadar pengalaman penganiayaan yang saya alami.
Anggota militer tersebut menyatakan keinginannya untuk membantu lebih banyak orang menjalani kehidupan normal dengan membebaskan mereka dari kendali PKT serta memulihkan kebebasan mereka. Oleh karena itu, ia menyambut baik keputusan dewan juri federal yang baru-baru ini mendakwa lima orang—baik warga negara Tiongkok maupun non-Tiongkok—atas dugaan melakukan penindasan terhadap para aktivis pendukung demokrasi Tiongkok di wilayah AS.
Zhang menyatakan bahwa agen-agen Tiongkok telah melakukan tindakan serupa terhadap mereka yang berlatih Falun Gong di Amerika Serikat selama puluhan tahun. Ia menegaskan bahwa peningkatan kesadaran publik mengenai penganiayaan terhadap Falun Gong di Tiongkok akan membantu menjaga keamanan serta nilai-nilai yang diusung Amerika Serikat.






