Guru Berprestasi dan Istrinya Mengungsi karena Keyakinan, Keluarganya Dilecehkan dan Mengalami Kesulitan Keuangan yang Parah

Suasana di dalam rumah seorang praktisi Falun Gong setelah digeledah oleh polisi.

Suasana di dalam rumah seorang praktisi Falun Gong setelah digeledah oleh polisi.

Berdasarkan laporan asli dari Minghui.org

Zhou Qing adalah seorang guru yang dihormati dan secara konsisten menerima evaluasi pengajaran terbaik serta tidak pernah ragu untuk membantu orang lain. Namun, dalam 22 tahun terakhir, Zhou berulang kali dipaksa keluar dari pekerjaannya dan harus hidup sebagai gelandangan untuk menghindari penganiayaan karena keyakinannya pada Falun Gong.

Baru-baru ini, Zhou dan istrinya, yang juga seorang praktisi Falun Gong, bersembunyi untuk menghindari penangkapan dan polisi mengganggu anggota keluarga pasangan tersebut dalam upaya untuk menemukan keberadaan mereka.

Juni 2021, tiga petugas dari Kota Guiyang, Provinsi Guizhou—tempat Zhou tinggal sebelum bersembunyi—datang ke kampung halamannya di Kota Luodian, Kota Jingshan, Provinsi Hubei untuk memburunya. Setelah menginterogasi ibu Zhou yang berusia 80 tahun yang menolak untuk mengungkapkan keberadaan putranya, polisi pergi ke Kota Xinshi untuk meneror putra dan ayah mertua Zhou.

Putra Zhou terbaring sakit dan sedang memulihkan diri dari operasi besar. Namun, pemuda itu dan kakeknya dipaksa untuk menyerahkan ponsel mereka dan memberikan sidik jari untuk catatan interogasi. Ponsel mereka baru dikembalikan setelah berjam-jam diperiksa.

Setelah polisi pergi pukul 10 malam, ayah mertua Zhou menderita insomnia. Keesokan harinya ia jatuh dan akhirnya harus menggunakan kursi roda. Namun, polisi Guiyang terus mengganggu dia dan cucunya.

Guru yang Luar Biasa dan Teliti

Zhou adalah seorang guru fisika di Sekolah Menengah Pertama Kota Jingshan. Ia mulai berlatih Falun Gong pada tahun 1996 dan setelah itu pengajarannya meningkat secara signifikan. Ia dengan teliti memeriksa pekerjaan rumah siswa, menjelaskan soal-soal dengan cermat, dan memberi semangat kepada murid-muridnya.

Di salah satu kelas yang diajarnya, semua 76 siswa memberinya nilai evaluasi terbaik di akhir semester.

Zhou juga dikenal karena ketelitiannya.

Suatu kali Zhou menggantikan seorang guru yang sakit. Ketika sekolah memberitahunya bahwa ia akan dibayar untuk kelas tersebut dan gaji guru yang sakit akan dipotong, ia menolak untuk mengambil uang tersebut.

Beberapa hari kemudian, pengawas sekolah tetap membayarnya, dengan bonus tambahan. Ia mengembalikan bonus tersebut dan ia tidak bermaksud untuk mendapatkan imbalan karena membantu rekan kerjanya.

Pemenjaraan dan Peningkatan Penganiayaan di Tempat Kerja

Pada tahun 2000, ketika direktur biro pendidikan setempat mengunjungi sekolah Zhou dan mengetahui bahwa Zhou masih mempraktikkan Falun Gong, ia bersekongkol dengan kepala sekolah dan menahan Zhou di dalam sekolah.

Selama waktu itu, sekolah melakukan survei tentang kinerja guru, dan banyak orang tua menuntut agar Zhou kembali mengajar.

Dengan tuntutan kuat dari murid-muridnya dan orang tua mereka, Zhou dibebaskan sebulan kemudian.

Namun, kepala sekolah terus melecehkan Zhou dan keluarganya. Ia menghasut petugas keamanan untuk memanggil petugas dari Kantor Polisi Xinshi dan menangkap Zhou pada tanggal 10 Juli 2000. Terlepas dari protes keras para murid dan orang tua, Zhou dikurung di pusat penahanan selama 16 bulan dan dipukuli dengan brutal.

Selama penahanan, gaji Zhou juga ditangguhkan. Hal ini menyebabkan kesulitan bagi keluarganya karena ia adalah satu-satunya pencari nafkah mereka. Selain itu, ketika Zhou dibebaskan pada November 2001, kepala sekolahnya menolak untuk mengizinkannya kembali bekerja.

Sebulan setelah Zhou dibebaskan, kepala sekolah meminta Zhou untuk mengajar kelas remedial bagi siswa yang gagal ujian masuk perguruan tinggi, dengan menjanjikan gaji dan bonus. Setelah ujian diadakan pada Juli 2002, Zhou dibayar jauh lebih sedikit daripada jumlah yang dijanjikan.

Kepala sekolah juga membatasi kebebasan Zhou dan keluarganya di kampus, tempat mereka tinggal di perumahan yang disediakan sekolah di kampus. Seorang petugas keamanan akan menghalangi keluarga tersebut untuk meninggalkan kampus, bahkan untuk membeli makanan. Di lain waktu, ketika kepala sekolah memenjarakan Zhou, ia juga segera mengirim petugas keamanan untuk mengunci rumah Zhou, bahkan tidak mengizinkan istri dan anak Zhou masuk untuk mengemasi pakaian mereka.

Keluarga Ditolak Kunjungan Meskipun Telah Berjalan Kaki Selama 16 Jam

Zhou ditangkap pada 8 Juli 2004 dan ditahan di Pusat Penahanan Xiaogan. Para penjaga menyiksanya hingga ia lumpuh dan tidak dapat berbicara. Sekitar waktu yang sama, polisi juga menangkap istrinya dan menahannya di Pusat Pencucian Otak Kota Jingmen.

Meskipun istrinya kemudian dibebaskan setelah sakit, Zhou dijatuhi hukuman empat tahun penjara. Pihak berwenang kemudian secara sewenang-wenang memperpanjang masa hukumannya selama delapan bulan dan mengirimnya ke pusat pencucian otak setelah itu.

Selama empat tahun Zhou dikurung di Penjara Fanjiatai di Kabupaten Shayang, istri dan putranya harus berjalan kaki selama 16 jam di jalan pegunungan untuk menemuinya. Seringkali, putra Zhou akan membawa mainan kesayangannya, berharap dapat bermain dengan ayahnya, tetapi setiap kali permintaan mereka ditolak.

Terkadang anak laki-laki itu tidak akan pergi dan menunggu di luar penjara selama dua atau tiga jam, berharap para penjaga akan berubah pikiran. Ketika anak kecil itu dengan putus asa berteriak, “Ayah, ayah…,” para penjaga akan keluar dan membawa ibu dan anak itu pergi.

Setelah kembali ke rumah dari penjara, istri Zhou pergi ke Kantor 610 setempat untuk meminta izin mengunjunginya, tetapi tidak berhasil.

Lebih menyedihkan, ia tertabrak truk besar dalam perjalanan pulang dan menderita patah tulang remuk dan patah otot paha belakang di kakinya. Meskipun ia terhindar dari amputasi kaki, ia tidak dapat bekerja lagi. Dengan gaji Zhou yang ditangguhkan, cedera tersebut menyebabkan istri dan anaknya semakin menderita.

Suami Istri Mengungsi dan Anak Laki-Laki Membutuhkan Operasi, Keluarga Mengalami Kesulitan Keuangan

Setelah Zhou dibebaskan, keluarganya memutuskan untuk pindah ke Kota Guiyang di Provinsi Guizhou untuk menghindari penganiayaan. Di Kota Guiyang, ia memberikan bimbingan privat kepada siswa untuk mencari nafkah. Karena kemampuan mengajarnya yang luar biasa dan kepribadiannya yang jujur, ia diberi banyak kesempatan mengajar.

Zhou kemudian mampu membeli rumah, tetapi ketika polisi mengetahui keberadaannya pada tahun 2013, pusat bimbingan belajar yang ia miliki bersama terpaksa ditutup. Ia kemudian mulai bekerja di sebuah sekolah swasta.

Pada suatu pagi di musim panas tahun 2019, Zhou pergi ke kantor polisi setempat untuk mengurus dokumen pendaftaran rumah untuk anaknya, ia ditahan di kantor polisi selama berjam-jam. Zhou mencoba menghubungi seorang kerabat di AS untuk meminta bantuan, tetapi polisi menyita ponselnya dan memaksanya untuk mengungkapkan kata sandinya.

Polisi kemudian mengancam akan menutup sekolah swasta tempat Zhou mengajar jika kepala sekolah terus mempekerjakannya, memaksa Zhou untuk berhenti dari pekerjaannya. Kemudian, ketika Zhou pindah tempat tinggal ke Distrik Biayun, para pejabat kembali mengganggunya dan memaksa pemilik rumahnya untuk mengusirnya.

Polisi dari Distrik Biayun juga mengirimkan mobil polisi untuk membuntuti Zhou dan memanggilnya setiap dua hari sekali. Ini untuk mencegahnya memberikan kelas dan menghancurkannya secara finansial.

Komite perumahan Distrik Biayun memerintahkan keluarganya untuk pindah lagi. Pada saat itu, tuberkulosis tulang anaknya sangat parah sehingga anak itu kesulitan bernapas dan berjalan. Karena terus-menerus berpindah tempat untuk menghindari penganiayaan, anak itu tidak dapat menerima perawatan yang layak.

Setelah keluarga pindah dari Kota Guiyang, anak itu kembali ke Provinsi Hubei untuk tinggal bersama kakek dari pihak ibunya. Tak lama kemudian anak itu lumpuh dan menjalani operasi besar pada tulang belakangnya. Ia hampir meninggal selama operasi.

Zhou dan istrinya tidak tinggal bersama putra mereka karena mereka tidak ingin anak mereka terlibat dalam penganiayaan tersebut. Setelah mereka terpaksa mengungsi, polisi dari Guiyang pergi ke Provinsi Hubei dan mengganggu anak laki-laki itu tentang keberadaan orang tuanya. Meskipun anak laki-laki itu tidak tahu, polisi terus menghubunginya dan memberinya tekanan yang sangat besar.

Selain itu, dengan biaya operasi anak laki-laki itu yang telah mencapai lebih dari 200.000 yuan dan masih harus menjalani operasi lain, keluarga tersebut berada dalam kesulitan keuangan yang parah.

Artikel Asli: https://en.minghui.org/html/articles/2021/8/27/194808.html

Share