Penganiayaan Falun Gong Menjadi Topik Utama dalam KTT Kebebasan Beragama Internasional 2022

KTT Kebebasan Beragama Internasional diadakan di Washington, D.C. pada 28-30 Juni 2022 dengan topik diskusi utama mengenai penganiayaan terhadap Falun Gong yang masih berlangsung dan perampasan organ secara paksa.

Selama KTT tersebut, Falun Dafa Information Center mengadakan diskusi panel mengenai laporan pertama mereka yang menganalisis tren penganiayaan selama pandemi. Menurut para ahli panel, penganiayaan telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir meskipun terjadi penguncian wilayah (lockdown) COVID-19 yang ketat di Tiongkok. Penindasan yang meningkat ini disebabkan oleh para praktisi Falun Gong yang bertindak sebagai pembongkar fakta (whistleblower) atas kejahatan PKT. Peran ini telah membuat mereka menjadi target utama penindasan saat PKT berupaya mengendalikan narasi seputar pandemi COVID-19 di Tiongkok.

Diskusi panel kedua yang diselenggarakan oleh Hudson Institute membahas secara mendalam mengenai perampasan organ secara paksa. Para panelis terdiri dari Nina Shea, peneliti senior dan direktur Center for Religious Freedom di Hudson Institute; Nury Turkel, ketua Komisi Kebebasan Beragama Internasional Amerika Serikat & peneliti senior Hudson; Levi Browde, Direktur Eksekutif Falun Dafa Information Center; serta Ethan Gutman, penyelidik terkemuka dalam isu perampasan organ secara paksa.

Penganiayaan Selama Pandemi

Falun Gong, sebuah latihan spiritual berbasis Buddhis yang berlandaskan pada prinsip Sejati, Baik, dan Sabar, sangat populer di Tiongkok pada awal 1990-an. Survei pemerintah melaporkan bahwa terdapat 70 hingga 100 juta orang yang sedang berlatih tepat sebelum dimulainya penganiayaan pada tahun 1999.

Morning practice in Guangzhou, southern China, 1998.
Latihan pagi Falun Gong di Guangzhou, Tiongkok selatan, 1998.

Latihan ini tidak hanya populer di kalangan masyarakat umum, tetapi juga mendapat pujian dari para pejabat Tiongkok. Salah satu panelis, Larry Liu, menunjukkan bahwa ketika Falun Gong berpartisipasi dalam Parade Bunga Sakura Nasional di Washington D.C. pada April 1999, para pejabat dari Kedutaan Besar Tiongkok di Amerika Serikat datang untuk berterima kasih kepada Falun Gong karena telah mempromosikan budaya Tiongkok. Pada tahun 1995, Bapak Li Hongzhi, pendiri Falun Gong, bahkan diundang untuk memberikan ceramah di Kedutaan Besar Tiongkok di Paris.

Ketika Jiang Zemin secara sepihak memulai penganiayaan terhadap Falun Gong pada tahun 1999, enam anggota Komite Tetap Politbiro lainnya tidak setuju dengan keputusan tersebut. Namun, Jiang tetap melanjutkannya dan mengeluarkan perintah untuk “hancurkan reputasi mereka, bangkrutkan mereka secara finansial, dan hancurkan mereka secara fisik.”

Menanggapi penganiayaan tersebut, para praktisi Falun Gong telah melakukan upaya luar biasa untuk membantu orang-orang memahami sifat asli PKT, propaganda fitnah yang disebarkan oleh media milik pemerintah mengenai latihan tersebut, serta penganiayaan kejam yang sedang mereka alami saat ini.

da laporan yang menyebutkan terdapat sekitar 200.000 tempat cetak bawah tanah yang dikelola oleh para praktisi Falun Gong untuk menyebarkan informasi mengenai apa sebenarnya Falun Gong itu, penganiayaan yang sedang berlangsung, serta sejarah kejam PKT.

Menurut Levi Browde, upaya-upaya tersebut memang telah menghentikan banyak orang untuk ikut serta dalam penganiayaan. Beberapa pejabat lokal dan petugas polisi bahkan telah berhenti mengganggu Falun Gong setelah para praktisi berbicara langsung dengan mereka. Namun, upaya-upaya ini juga membuat mereka yang terus menganiaya Falun Gong menjadi lebih bersemangat untuk membungkam mereka, terutama karena seluruh mata tertuju pada Tiongkok saat pandemi COVID-19 dimulai.

COVID-19 whistleblower Fang Bin in 2020.
Pembongkar fakta COVID-19, Fang Bin, pada tahun 2020.

Seorang praktisi Falun Gong, Fang Bin, adalah orang pertama yang membagikan video jenazah-jenazah di rumah sakit Wuhan secara daring pada awal pandemi. Ia ditangkap beberapa hari kemudian setelah mengunggah video-video tersebut ke internet.

Seorang praktisi Falun Gong lainnya, Xu Na, dijatuhi hukuman hanya beberapa hari sebelum Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022 karena membagikan foto-foto jalanan yang kosong di Beijing di tengah penutupan wilayah (lockdown).

Sejak pandemi dimulai, jumlah laporan kasus pelecehan terhadap praktisi Falun Gong telah melonjak tajam. Kasus-kasus pelecehan ini mencakup pengenaan denda, penggeledahan rumah, kekerasan fisik, pengusiran paksa, pemecatan dari pekerjaan, atau pengeluaran dari sekolah. Sebanyak 3.582 kasus dilaporkan pada tahun 2019. Pada tahun 2020, jumlah ini meningkat hampir tiga kali lipat menjadi 9.159 kasus dan tetap tinggi pada tahun 2021 dengan 9.332 kasus yang dilaporkan.

Jumlah praktisi yang dijatuhi hukuman juga meningkat drastis. Pada tahun 2019, dilaporkan terdapat 775 kasus hukuman. Jumlah ini meningkat hampir dua kali lipat pada tahun 2021, dengan 1.372 kasus yang dilaporkan.

Praktisi Falun Gong Angkat Bicara

Selama diskusi panel tersebut, dua praktisi Falun Gong yang berhasil melarikan diri dari Tiongkok membagikan kisah tentang penganiayaan yang dialami oleh keluarga mereka.

Han Yu berusia 14 tahun ketika orang tuanya pertama kali ditangkap karena berlatih Falun Gong. Selama lima tahun berikutnya, ayahnya ditangkap dan ditahan berkali-kali serta mengalami penyiksaan di kamp kerja paksa. Ia terakhir kali ditangkap pada Februari 2004, saat Han Yu berusia 19 tahun. Hanya beberapa bulan kemudian, polisi mengabarkan kepada keluarga Han Yu bahwa ayahnya telah tewas dalam tahanan.

Video tentang kisah Han Yu ditayangkan pada sesi pleno KTT Kebebasan Beragama Internasional (IRF Summit).

Otoritas memberitahu pihak keluarga bahwa ia meninggal karena serangan jantung. Namun, ketika keluarga akhirnya diizinkan untuk melihat jenazahnya sebulan kemudian, mereka melihat tubuhnya penuh dengan luka memar dan luka robek akibat dipukuli, serta lengan kirinya patah.

Jenazahnya juga memiliki luka sayatan yang memanjang dari tenggorokan hingga perut bagian bawah. Ketika ditanya mengenai sayatan di tubuhnya tersebut, polisi mengatakan bahwa itu dilakukan untuk keperluan otopsi. Namun, pihak keluarga tidak pernah menyetujui adanya otopsi, dan polisi menolak untuk memberikan laporan otopsinya. Polisi segera mengkremasi jenazahnya tak lama kemudian tanpa izin dari pihak keluarga.

Beberapa tahun kemudian, laporan mengenai perampasan organ secara paksa mulai bermunculan. Mengenang kembali kejadian tersebut, Han Yu mencurigai bahwa ayahnya adalah korban dari penindasan yang mengerikan ini.

Seorang praktisi Falun Gong lainnya, Simon Zhang, membagikan kisah ibunya, yang tewas dalam tahanan polisi hanya beberapa bulan yang lalu pada Maret 2022.

Simon dan ibunya, Yunzhi Ji

Ibu Simon telah ditangkap berkali-kali sejak dimulainya penganiayaan pada tahun 1999. Ia pertama kali ditahan pada tahun 2001 dan dipukuli oleh polisi. Ia kemudian dikirim ke kamp kerja paksa di mana ia mengalami penyiksaan dengan tongkat listrik selama dua jam. Ia hampir tewas, dan untuk menghindari tanggung jawab atas kemungkinan kematiannya, ia dipulangkan ke rumah.

Ibu Simon pulih kembali, namun ia ditahan lagi pada tahun 2008, sesaat sebelum Olimpiade Musim Panas di Beijing. Ia dikirim ke kamp kerja paksa dan hampir tewas akibat penyiksaan untuk kedua kalinya. Saat berada di ambang kematian, ia dipulangkan kembali ke rumah.

Pada perayaan Tahun Baru Imlek yang lalu, ia ditahan untuk ketiga kalinya setelah polisi menerobos masuk ke rumahnya dan menemukan buku-buku Falun Gong serta materi yang ia bagikan untuk membantu orang-orang memahami penganiayaan tersebut. Ia mengalami penyiksaan dan dipukuli dalam tahanan sekali lagi.

Ia menolak mengakui telah melakukan kesalahan dan melakukan aksi mogok makan sebagai bentuk protes. Namun, polisi justru menyiksanya dengan lebih kejam. Setelah sebelas hari mengalami penganiayaan, ia dilarikan ke rumah sakit. Pada tanggal 20 Maret, polisi menghubungi ayah Simon dan mengabarkan bahwa istrinya dalam kondisi kritis. Mereka menolak memulangkannya, dan ia akhirnya tewas pada keesokan harinya.

Hudson Institute Menggelar Diskusi Panel mengenai Perampasan Organ Secara Paksa

Selama KTT tersebut, diadakan panel kedua mengenai perampasan organ secara paksa. Dipandu oleh Hudson Institute, panel ini membahas bukti-bukti inti dari perampasan organ secara paksa serta perluasan dari penindasan yang mengerikan ini hingga mencakup anggota minoritas agama lain dan kelompok etnis seperti warga Uyghur di Turkistan Timur, atau Xinjiang.

Perampasan organ secara paksa adalah penindasan yang berupa pembunuhan tahanan untuk menjual organ mereka demi transplantasi. Pada tahun 2006, pengacara hak asasi manusia David Matas dan mantan anggota parlemen Kanada David Kilgour mengonfirmasi tuduhan bahwa perampasan organ secara paksa terhadap para praktisi Falun Gong sedang terjadi.

Sejak saat itu, sejumlah besar bukti telah dikumpulkan yang terus memvalidasi temuan awal Kilgour dan Matas. Bukti ini mencakup investigasi rekaman telepon di mana para dokter dan staf rumah sakit Tiongkok secara eksplisit mengakui ketersediaan organ dari praktisi Falun Gong. Investigasi melalui telepon ini terus berlanjut dan pengakuan-pengakuan tersebut telah direkam bahkan hingga tahun 2020.

Ketidakkonsistenan yang mencolok antara jumlah transplantasi organ yang dilaporkan dengan jumlah donor organ juga turut memperkuat bukti-bukti yang ada. Meskipun pejabat Tiongkok tidak pernah memberikan angka yang pasti, mereka biasanya menyatakan bahwa Tiongkok melakukan sekitar 10.000 transplantasi organ per tahun, terkadang mencapai 20.000 per tahun (dilaporkan oleh China Daily pada tahun 2006). Namun, laporan Kilgour, Gutmann, dan Matas yang berjudul “Bloody Harvest/The Slaughter: An Update” menunjukkan bahwa angka tahunan ini dengan mudah dilampaui hanya oleh beberapa rumah sakit saja. Media Tiongkok maupun luar negeri melaporkan bahwa beberapa rumah sakit di Tiongkok melakukan ribuan transplantasi setiap tahunnya.

Melalui pemeriksaan yang teliti terhadap program transplantasi di ratusan rumah sakit di Tiongkok, Kilgour, Gutmann, dan Matas memperkirakan bahwa volume transplantasi aktual di Tiongkok mendekati 60.000 hingga 100.000 per tahun sejak tahun 2000. Hingga tahun 2009, hanya ada 120 transplantasi organ yang dilaporkan berasal dari pendonor. Menurut mantan wakil menteri kesehatan Huang Jiefu, sisa organ lainnya berasal dari para tahanan yang dieksekusi. Namun, menurut Amnesty International dan Dui Hua Foundation, jumlah eksekusi di Tiongkok hanya beberapa ribu setiap tahunnya. Dengan tingkat donor sukarela yang sangat rendah, kesenjangan yang sangat besar ini hanya dapat dijelaskan oleh keberadaan tahanan hati nurani.

Pada tahun 2015, pejabat Tiongkok mengeklaim bahwa para tahanan yang tewas karena dieksekusi tidak akan lagi digunakan sebagai sumber untuk transplantasi organ dan donor berbasis rumah sakit akan menjadi satu-satunya sumber. Namun, analisis terhadap pertumbuhan donor organ yang dilaporkan Tiongkok menunjukkan bahwa angka-angka yang dilaporkan tersebut dipalsukan. Jumlah donor tampaknya tumbuh menurut kurva parabola sederhana. Kemungkinan jumlah donor tumbuh dengan cara seperti itu adalah sekitar satu banding sejuta.

“Bahkan jika Anda memercayai kata-kata pemerintah Tiongkok dan memercayai jumlah donor yang dipalsukan, mereka menyebutkan angka 1 juta, dan hanya sedikit di atas 8.000 transplantasi organ yang dilakukan, ini berarti bahwa jaringan donor di dalam Tiongkok, secara persentase, 62x lebih efektif dalam menghasilkan donor dari kumpulan donor dibandingkan Amerika, yang telah memiliki pengalaman puluhan tahun lebih lama,” kata Levi Browde dalam panel tersebut.

Selama panel tersebut, Ethan Gutman juga menyebutkan sebuah artikel terbaru yang diterbitkan dalam American Journal of Transplant pada April 2022. Artikel itu menemukan 71 contoh pelanggaran aturan donor mati yang didokumentasikan dalam makalah penelitian medis Tiongkok mengenai transplantasi jantung dan paru-paru. Meskipun makalah tersebut tidak membahas dari mana organ-organ itu berasal, hal ini membuktikan bahwa dokter medis Tiongkok telah memainkan peran sebagai eksekutor.

Para panelis juga menunjukkan bahwa perampasan organ secara paksa terhadap praktisi Falun Gong tidak hanya terus berlanjut di Tiongkok saat ini, tetapi telah meluas hingga mencakup anggota kelompok lain seperti orang-orang Uyghur di Xinjiang.

Share