Warga Pro-Beijing Menghalangi Aksi Damai Falun Gong di Brasil Saat Pertemuan G20

Para praktisi Falun Gong Brasil (kiri) mengalami gangguan saat pengunjuk rasa tandingan asal Tiongkok menutupi spanduk kuning mereka dengan bendera selama KTT G20 pada 17 November 2024. Petugas polisi Brasil sudah memerintahkan warga negara Tiongkok tersebut untuk menjauh dari para praktisi, namun perintah itu tidak dipedulikan (kanan).

Para praktisi Falun Gong Brasil (kiri) mengalami gangguan saat pengunjuk rasa tandingan asal Tiongkok menutupi spanduk kuning mereka dengan bendera selama KTT G20 pada 17 November 2024. Petugas polisi Brasil sudah memerintahkan warga negara Tiongkok tersebut untuk menjauh dari para praktisi, namun perintah itu tidak dipedulikan (kanan).

Matahari mulai terbenam di Rio de Janeiro. Ratusan pagar besi berderet di pinggir jalan, membatasi kerumunan penonton dengan rombongan delegasi Tiongkok yang baru tiba untuk KTT G20. Di tengah kerumunan yang tidak terlalu padat, terlihat spanduk-spanduk kuning cerah yang mencolok dengan tulisan “Falun Dafa es bueno” (“Falun Dafa baik”) dan “O genocídio contra Falun Gong precisa parar” (“Genosida terhadap Falun Gong harus dihentikan”) dalam bahasa Portugis, Inggris, dan Mandarin.

Pada 17 November 2024, para praktisi Falun Gong di Brasil berdiri dengan damai sambil memegang spanduk mereka. Secara tiba-tiba, sekelompok warga negara Tiongkok datang menyerbu membawa bendera besar (RRT dan Brasil) untuk menutupi spanduk kuning milik praktisi. Mereka mengusir para praktisi dengan mengatakan, “Kalian tidak boleh ada di sini. Pergi.”

Para pengunjuk rasa tandingan asal Tiongkok mengejar dua orang praktisi Falun Gong Brasil untuk menghalangi spanduk mereka, saat iring-iringan mobil delegasi Tiongkok melintas di Rio de Janeiro pada 17 November 2024.

Para pengacau dari Tiongkok mengabaikan otoritas Brasil.

Menanggapi kejadian tersebut, para praktisi Falun Gong meminta bantuan polisi setempat agar mereka tetap aman. Alberto, seorang penganut Falun Gong asal Brasil, bercerita kepada wartawan bahwa ia mendengar seorang polisi wanita menegur warga Tiongkok tersebut dengan keras: “Ini Brasil, negara kami. Mereka punya hak untuk bicara. Berhenti menghalangi dan menindas mereka.”

Meskipun sudah diperingatkan oleh polisi wanita tersebut, warga negara Tiongkok itu tetap menghalangi spanduk dan mengganggu para praktisi. Keadaan semakin memanas hingga tentara Brasil turun tangan; mereka menutup jembatan dan memerintahkan semua orang untuk pergi. Namun, bahkan setelah pindah tempat, para pengunjuk rasa tandingan tersebut terus berteriak dan mengganggu para praktisi Falun Gong.

Sebuah spanduk bertuliskan “Dibunuh karena keyakinan mereka, genosida terhadap praktisi Falun Gong harus dihentikan” (tengah) dihalangi oleh spanduk merah besar yang mendukung Partai Komunis Tiongkok (PKT) (kanan).

Setelah campur tangan tersebut, sebuah kendaraan yang diduga terkait dengan delegasi Beijing muncul untuk memperkuat upaya para pengunjuk rasa tandingan.

Orang-orang pro-PKT meningkatkan gangguan mereka.

Mobil pertama yang tiba di jalan yang ditutup untuk delegasi Tiongkok berhenti di dekat para praktisi Falun Gong. Warga negara Tiongkok turun dari kendaraan tersebut dan memerintahkan para pengunjuk rasa tandingan untuk terus mengganggu aksi damai para praktisi.

Sebuah mobil hitam berhenti di dekat para praktisi Brasil, lalu beberapa orang Tiongkok turun dan menyuruh para pengunjuk rasa tandingan untuk terus mengganggu. Dalam rekaman itu, terdengar suara seorang wanita pro-Beijing sedang memaki praktisi Falun Gong pembawa ransel yang posisinya paling dekat dengan kamera.

Tangan Alberto dipukul, antaranya dengan beberapa tiang bendera saat pengunjuk rasa tandingan itu memaksa menurunkan spanduk. Rekan praktisinya juga mengalami gangguan yang sama. Menurut Alberto dan bukti video, ada lebih dari 80 pemuda-pemudi Tiongkok yang mengepung enam orang praktisi Falun Gong. Mereka berteriak-teriak dan menyodok para praktisi dengan bendera-bendera besar.

Saat para praktisi Falun Gong berusaha pergi, kelompok pro-pemerintah Tiongkok terus membuntuti mereka dan memotret mobil Uber serta pelat nomornya. Berkat bantuan polisi, para demonstran Brasil tersebut akhirnya bisa pulang dengan selamat.

Dikepung di Pantai Copacabana

Kurang dari 24 jam setelah kejadian tersebut, tujuh praktisi Brasil mendirikan gerai petisi sukarela yang biasa mereka gunakan di Pantai Copacabana yang ramai dikunjungi turis.

(Video: Sekelompok warga negara Tiongkok yang memakai topi putih seragam dengan gambar bendera RRT mengerumuni area pajangan Falun Gong. Seorang pria terlihat sedang menelepon, sepertinya memerintahkan seseorang untuk bergabung dengan mereka. Pria Tiongkok lainnya datang membawa dua bendera besar, yaitu bendera RRT dan Brasil, lalu mereka mulai membentangkannya.)

Namun, tak lama setelah mereka selesai bersiap, pajangan poster mereka yang sederhana langsung dikepung dari segala sisi oleh bendera RRT dan Brasil berukuran raksasa (sekitar 6 meter), sehingga menciptakan suasana yang mengintimidasi. Warga negara Tiongkok tersebut mencoba merusak pajangan, merampas pamflet, dan melontarkan ancaman lisan kepada para praktisi Brasil.

Melihat jumlah pendukung PKT makin banyak—dan kabarnya membawa pengawal pribadi bersenjata—polisi yang jumlahnya sedikit memutuskan untuk membuat barisan pelindung. Petugas berjaga di sekeliling para praktisi Brasil agar ada jarak dengan warga Tiongkok tersebut, supaya keributan tidak semakin parah.

Ketujuh praktisi Brasil itu dikepung oleh puluhan orang Tiongkok yang membawa banyak bendera. Orang-orang pro-PKT ini berusaha menghalangi turis dan warga agar tidak menandatangani petisi penghentian penganiayaan Falun Gong, serta mencegah mereka mengenal latihan tersebut.

Ketujuh praktisi itu memilih untuk bermeditasi daripada terlibat konfrontasi. Setelah sekitar satu jam, mereka merapikan barang-barang dan pergi dari pantai dengan dikawal polisi.

Ancaman penindasan lintas negara yang terus berlanjut

Berbagai peristiwa di KTT G20 ini menjadi bukti nyata adanya penindasan lintas negara. Warga Tiongkok pendukung Beijing mencoba membungkam suara-suara yang menentang mereka di luar negeri.

Falun Gong appeal during APEC in downtown San Francisco was blocked for most of the afternoon by CCP supporters on Wednesday, November 15.
Aksi damai Falun Gong saat pertemuan APEC di pusat kota San Francisco dihalang-halangi oleh para pendukung PKT hampir sepanjang sore pada hari Rabu, 15 November 2023.

Kejadian serupa juga terjadi pada November 2023 saat KTT APEC di San Francisco. Sasarannya adalah praktisi Falun Gong serta kelompok-kelompok lain yang dianiaya oleh Tiongkok. Di sana, spanduk-spanduk Falun Gong ditutupi dan dirusak oleh orang-orang yang berhubungan dengan konsulat Tiongkok. Seorang wartawan setempat yang meliput kejadian itu bahkan dipukul oleh seorang pemuda Tiongkok. Ini adalah bukti nyata bahwa PKT berusaha memata-matai dan membungkam suara-suara kritis meski di negara demokrasi sekalipun.

Pada tahun 2024, karena kasus penindasan lintas negara semakin parah, Pusat Informasi Falun Dafa mulai mendata kejadian-kejadian tersebut. Sampai sekarang, sudah ada puluhan kasus tercatat, seperti serangan terhadap praktisi saat parade di Brooklyn, banyaknya ancaman bom palsu, hingga upaya membongkar rumah Cheng Peiming di New York—seorang saksi kunci yang selamat dari praktik pengambilan organ.



Share